Blog

Santapan Harian Keluarga, 1 – 7 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Ingatlah Kasih Setia Tuhan Dalam Penderitaan

Minggu, 1 Maret 2026

bahan bacaan : Ratapan 3 : 19 – 33 (TB2)

19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan racun pahit dan kepahitan." 20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 21 Tetapi, inilah yang kuperhatikan, sebab itu berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 24 "TUHANlah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 TUHAN itu baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Baiklah menanti dengan diam pertolongan TUHAN. 27 Baiklah bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. 28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau kuk ditaruh padanya. 29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. 30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan. 31 Karena tidak untuk selamanya Tuhan menolak. 32 Walaupun Ia mendatangkan kesusahan, Ia juga berbelas kasihan menurut kebesaran kasih setia-Nya. 33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan menyusahkan anak-anak manusia.

Jika Menderita, Ingatlah Kasih Setia Tuhan!

Perjalanan hidup kita selalu penuh dengan warna, mulai dari meringis karena kesakitan, menangis karena bersedih, dan tertawa karena kegirangan. Semua itu terjadi agar kita selalu merasakan campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bangsa Israel, karena kedegilan hatinya harus mengalami penderitaan, ditaklukkan musuh dan ditawan sebagai budak. Meski keadaan sangat terpuruk, namun Yeremia melihat dari sisi imannya bahwa di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Dalam keadaan terpuruk sekalipun ia tetap memandang kepada kasih setia Tuhan dan kebaikan Tuhan yang tak berkesudahan. Di minggu sengsara ketiga ini, kita belajar untuk mengingat kasih setia Tuhan bila keadaan kita sedang terpuruk. Bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ketika kita terpuruk akibat berbagai persoalan hidup seperti umat Israel, bagaimana kita menanggapi? Stres, depresi, atau putus asa? Di sinilah sebagai seorang percaya diajak untuk menanggapi segala sesuatu dari segi iman. Bila persoalan menghampiri kita, bukan berarti kasih Tuhan telah berakhir. “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi”. Artinya Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi. Ingatlah terus kebaikan Tuhan dan selalu berharap bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini karena Tuhan itu baik dan pengasih.

Doa: Kepada kasih setiaMulah aku percaya, ya Tuhan. Amin.

Senin, 2 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 86 : 8 – 13 (TB2)

8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaulakukan. 9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. 10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. 11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. 12 Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; 13 sebab besarlah kasih setia-Mu kepadaku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari lubuk dunia orang mati.

Kasih Setia Tuhan Melepaskan Dari Lubuk Orang Mati

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali diperhadapkan dengan situasi yang menekan. Masalah dan pergumulan itu adakalanya menghimpit iman dan membuat kita berada dalam kesesakan. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang putus asa. Apakah yang harus dilakukan supaya kesesakan tidak membuat kita putus asa?. Pesan Tuhan ini menjadi kekuatan bagi kita untuk tidak perlu takut karena mengalami situasi yang semakin suram. Kesetiaan Tuhan menopang kita untuk mampu menanggung segala perkara. Kita Adalah orang percaya kepada Kristus yang memiliki iman yang mampu mengalahkan dunia. Jiwa kita akan tetap kuat di tengah guncangan dan krisis global karena pengharapan kita hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kadang Tuhan ijinkan kita mengalami lembah kekelaman, situasi yang sulit dan mustahil dan penuh dengan gejolak, tapi justru di situlah kesempatan Tuhan menunjukkan kasih setia dan menyatakan kemuliaanNya. Kita tidak akan dibiarkan berjalan sendiri menghadapi segala tantangan. Tuhan akan melindungi, memelihara dan melepaskan kita dari penderitaan yang berupa lubuk orang-orang mati. Dia adalah tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Olehnya teruslah berharap kepada kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan.

Doa: Terima kasih untuk kasih setiaMu ya Tuhan. Amin.

Selasa, 3 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur  69 : 14 – 19  (TB2)

14 Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia! 15 Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari mereka yang membenci aku, dan dari air yang dalam! 16 Janganlah biarkan arus banjir menghanyutkan aku, atau air yang dalam menelan aku, dan jangan biarkan sumur menutup mulutnya mengurung aku. 17 Jawablah aku, ya TUHAN, sebab sungguh baik kasih setia-Mu, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar! 18 Janganlah sembunyikan wajah-Mu dari hamba-Mu, sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku! 19 Datanglah kepadaku, tebuslah aku, oleh karena musuh-musuhku bebaskanlah aku.

Kasih Setia Tuhan Melepaskan Dari Kesesakan

Kesulitan dan penindasan terjadi dalam bacaan ini dan itu digambarkan oleh penulis Mazmur. Ia berbicara tentang kesesakan hatinya, caci maki yang dia alami, dan ketidakmampuannya untuk menemukan pertolongan. Ia meminta pertolongan dan belas kasihan Tuhan dan dia berharap kepada Tuhan sebagai satu-satunya tempat perlindungan dan pertolongan. Dari permohonan Pemazmur ini, menandakan ungkapan kepercayaan dan ketergantungan kepada Tuhan dalam situasi yang sulit, bahwa Tuhan pasti menjawab doa dan mengampuni dia dari penindasan yang dia alami. Ya, adalah tepat dan sangat bijaksana untuk datang kepada Tuhan dalam doa dan mengandalkan-Nya dalam masa-masa kesulitan yang membuat kita sesak. Seringkali kita juga berada dalam kesesakan, kesulitan dan penindasan. Baiknya kita bertindak seperti Pemazmur yang memohon kepada Allah untuk melepaskan kita. Di sini kita mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan memberi pertolongan dalam situasi tersebut karena kasih setiaNya yang besar. Menjadikan Allah sebagai sumber harapan, pertolongan, dan penyelamatan adalah ungkapan iman yang kuat. Ingatlah saat penuh kesesakan, kita dapat berharap kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan dan penghiburan sebab hanya Dialah yang mampu melepaskan kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur walau hidup kami menderita, namun kasih setiaMu tak pernah berkesudahan, amin.

Rabu, 4 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 94 : 16 – 23 (TB2)

16 Siapakah yang akan bangkit membela aku terhadap orang-orang jahat, siapakah yang akan tampil mendampingi aku terhadap orang yang melakukan kejahatan? 17 Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku berdiam di alam kesunyian. 18 Ketika aku berpikir: "Kakiku sudah goyah," kasih setia-Mu, ya TUHAN, menopang aku. 19 Ketika bathinku kalut oleh pikiran-pikiran, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. 20 Bagaimana mungkin Engkau bersekongkol dengan kebusukan peradilan, yang merancangkan bencana berdasarkan peraturan? 21 Mereka bersekongkol melawan orang benar, dan menghukum mati orang tidak bersalah. 22 Tetapi, TUHAN adalah kota bentengku, Allahku gunung batu perlindunganku. 23 Ia akan membalas perbuatan jahat mereka, dan karena kejahatan mereka Ia akan membinasakan mereka; TUHAN, Allah kita, akan membinasakan mereka.

Kasih Setia Tuhan Yang Menopang, Menghibur dan Membela

Kita masih hidup dan tentu saja masih menghadapi berbagai masalah yang membawa penderitaan kepada hati. Bagaimana cara kita mengatasi masalah tersebut, tergantung kepada setiap pribadi. Sebagian orang memandang masalah sebagai situasi hidup yang buruk. Sedangkan sebagian lagi memandang masalah sebagai cara Tuhan menunjukan kasih setiaNya. Nas kita pada hari ini menyerukan bahwa Allah pembela keadilan dan kebenaran sebab itu Pemazmur berkata: Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.

Pada saat kita terbebani masalah yang besar dan ketidakmampuan kita menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidup ini, hendaklah kita selalu mengandalkan Tuhan, berpengharapan kepada Tuhan sebab Dia adalah sumber kekuatan yang tidak pernah musnah, sebab kebaikan Allah bagi kita itu abadi. Pengharapan dan penghiburan yang datangnya dari Tuhan memberikan kekuatan dan memampukan kita menghadapi kesulitan. Tuhan tidak pernah berdiam diri ketika kita menderita karena tertindas atau tertekan dalam hidup. Tuhan sanggup membela kita berdasarkan kasih setiaNya.

Doa: Atas kasih setiaMu yang menopang, menghibur dan membela kami, terima kasih ya Tuhan. Amin.

Kamis, 5 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 136 : 23 – 26 (TB2)

23 Dia yang mengingat kita ketika direndahkan, sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 24 Dan membebaskan kita dari pada para lawan kita; sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 25 Dia yang memberikan makanan kepada segala makhluk; sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 26 Bersyukurlah kepada Allah Semesta Langit! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Ingatlah Kasih Setia Tuhan Ketika Direndahkan

Semua kita pasti pernah melewati masa-masa sulit. Entah di saat kita mampu atau tidak; situasi tersebut bisa membuat kita hilang harapan. Apalagi ketika kita merasa sendirian dalam menyikapinya. Tiada yang peduli kepada kita. Tiada yang menaruh perhatian atau belas kasih kepada kita. Penderitaan semacam ini terasa sangat menyakitkan. Kita bisa hilang arah dan bahkan kemudian melakukan hal yang bukan saja membahayakan diri sendiri tetapi juga orang lain. Tetapi sebagai orang percaya, kita diingatkan  teks hari ini. Sebagai suatu kitab yang berisikan pujian dan doa, Mazmur mengajak kita untuk tetap mengingat kasih setia Tuhan. Sesungguhnya ada banyak kebaikan yang Tuhan buat dalam kehidupan umat. Pemazmur secara berulang mengajak umat untuk bersyukur atas kasih setia Tuhan. Umat tidak boleh melupakan bahwa di saat umat direndahkan justru Allah menyatakan kuasa-Nya. Tuhan mengingat kesusahan umat dan Tuhan yang membebaskan umat. Karena itu, kita diajak untuk tetap ingat kasih setia Tuhan dalam penderitaan. Percayalah di saat kita direndahkan Tuhan tidak membiarkannya. Tuhan menolong kita melewati segala kesukaran. Kasih setia Tuhan menyelamatkan kita.

Doa: ya Allah, mampukanlah kami mempercayai kasih setia-Mu, ,Amin.

Jumat, 6 Maret 2026

Bahan bacaan : Mazmur 90 : 13 – 17 (TB2)

13 Kembalilah, ya TUHAN! Berapa lama lagi? Sayangilah hamba-hamba-Mu! 14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami. 15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami sengsara. 16 Biarlah perbuatan-Mu terlihat oleh hamba-hamba-Mu, dan semarak-Mu oleh anak-anak mereka. 17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, turun ke atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, teguhkanlah perbuatan tangan kami.

Tuhan  Mengenyangkan Hidup

Waktu kecil ketika ayah saya sakit, ia meminta saya untuk berdoa baginya. Saya malu sekali waktu itu. Entah bagaimana kejadiannya saya kemudian berdoa, tapi malamnya saya bermimpi. Tuhan Yesus membawa saya dengan sebuah kapal kecil. Sejak kecil saya menyebut kapal itu bahtera. Tuhan Yesus membawa saya ke gereja dan disana saya bersama orang-orang bernyanyi memuji Tuhan. Setelah itu, Tuhan Yesus bertanya kepada saya, apakah saya lapar?  Saya pun dengan semangat menjawab : Tidak Tuhan Yesus. Saya tidak lapar lagi. Ternyata Tuhan Yesus membuat saya kenyang. Saya terbangun dari tidur dan menceritakan mimpi itu kepada ayah saya. Saya mengingat mimpi itu sampai saat ini dan membuat kedekatan dengan Tuhan menjadi rutinitas saya. Apa yang saya alami tidak berbeda jauh dengan apa yang diungkapkan Pemazmur. Ia merasakan bahwa Tuhan tempat perteduhan yang kekal. Hanya kepada Tuhan, ia menaruh doa: ”Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami.” Pemazmur menyatakan Tuhan saja yang membuatnya bersukacita. Ini pula keyakinan saya. Tuhan mengenyangkan kita dengan kasih setia-Nya.

Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami percaya Dikau sanggup kenyangkan kami, Amin.

Sabtu, 7 Maret 2026

bana bacaan : Mazmur 143 : 5 – 8 (TB2)

5 Aku teringat pada hari-hari di masa lampau, aku menuturkan segala pekerjaan-Mu, aku merenungkan perbuatan tangan-Mu. 6 Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela 7 Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur. 8 Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.

Kasih Setia Tuhan Diberikan Kepada Orang Yang Percaya Kepada-Nya

Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah orang yang memiliki keyakinan sungguh akan kuasa Tuhan. Meskipun mereka berada dalam persoalan yang berat, tetapi iman mereka tidak mudah goyah. Sebutlah Beny dan Maria. Keduanya adalah pelayan Tuhan. Mereka telah menikah delapan tahun. Karena belum memiliki anak, mereka berdoa meminta petunjuk Tuhan. Setelah melalui banyak pergumulan, mereka kemudian mengambil keputusan untuk mengadopsi anak. Sekalipun hanya anak angkat tetapi mereka menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka percaya akan kuasa Tuhan dalam hidup rumah tangga mereka. Teks hari ini menceritakan ungkapan doa seorang yang memintakan pertolongan dan pengajaran Tuhan. Ia tertekan dengan situasi hidupnya. Namun ia mengingat campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Oleh karena itu, dengan penyerahan diri, ia meminta Tuhan mengajarinya. Ia pun akhirnya meyakini bahwa kasih setia Tuhan akan tetap berlaku atas hidupnya bahkan persoalannya. Dengan kepasrahan ia menjalani semuanya. Beny dan Maria telah menjalaninya. Mereka percaya akan kasih setia Tuhan walaupun hanya harus memiliki anak angkat.

Doa: ya Tuhan Yesus, tetaplah berikan kasih setia-Mu kepada kami, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Tuhan Menjawab Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya

Minggu, 22 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 22 : 20 – 25 (TB2)

19 (22-20) Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! 20 (22-21) Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing. 21 (22-22) Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku! 22 (22-23) Maka aku mau menceritakan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah: 23 (22-24) kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel! 24 (22-25) Sebab Ia tidak memandang hina ataupun menganggap sepi kesengsaraan orang yang tertindas, Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya terhadap orang itu, dan Ia mendengarkan seruannya minta tolong.

Tuhan Menjawab Seruan Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya

Bacaan hari ini lahir dari jeritan seorang yang terhimpit, yang nyaris kehilangan daya, bahkan merasa seolah-olah ditinggalkan. Namun dari kedalaman penderitaan itu, pemazmur tidak berhenti pada ratapan. Ia berani berseru, memohon pertolongan, dan akhirnya bersaksi tentang Allah yang tidak menolak seruan orang yang tertindas. Tuhan tidak memalingkan wajah-Nya. Tuhan tidak menutup telinga-Nya. Tuhan hadir, mendengar, dan menyelamatkan. Inilah iman yang hidup di tengah sengsara iman yang tidak menyangkal penderitaan, tetapi tetap menggantungkan harap sepenuhnya kepada Allah. Karena itu, memasuki Minggu Sengsara kedua ini, merupakan suatu masa perenungan yang mengajak kita untuk kembali menatap dengan jujur realitas penderitaan, pergumulan, luka, dan jeritan hati manusia. firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk melihat kembali hidup kita: di tengah tekanan, luka, ketidakpastian, dan pergumulan yang mungkin masih kita tidak mengerti, apakah kita masih memilih untuk berseru kepada Tuhan? Dan sebagai orang-orang pilihan yang hidup dalam anugerah-Nya, apakah kita masih percaya bahwa Tuhan sungguh mendengar, menjawab, dan tidak pernah meninggalkan kita?

Doa: Tuhan, terima kasih karena menjawab seruanku kepadaMU. Amin.

Senin, 23 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 34 : 16 – 23 (TB2)

15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; 16 (34-17) wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. 17 (34-18) Orang-orang benar berseru-seru, dan TUHAN mendengarkan, Ia melepaskan mereka dari segala kesesakannya. 18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat. 19 (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; 20 (34-21) Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun akan patah. 21 (34-22) Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. 22 (34-23) TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Tuhan Mendengar Seruan Orang Benar yang Menderita

Sepanjang hidup di dunia ini kita akan berhadapan dan menjumpai orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kita. Seperti juga yang pernah dialami para nabi atau tokoh-tokoh penting di dalam Alkitab. Meskipun demikian, satu hal yang dapat dipelajari dari mereka yaitu bahwa mereka selalu melakukan kebenaran dan dekat kepada Tuhan. Hanya dengan melakukan kebenaran, seruan permohonan minta pertolongan kepada Tuhan akan terjawab. Mengapa demikian?, Menurut pemazmur, mata Tuhan itu tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga Tuhan selalu mendengar teriak mereka minta pertolongan (ay.16). Tertuju artinya doa orang benar menjadi perhatian tersendiri dari Tuhan. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Jadi, Tuhan akan selalu mendengar suara permohonan minta pertolongan dari kita, yang penting dalam hidup ini kita melakukan kebenaran. Tuhan Yesus, yang paling benar dari semua orang benar, juga menangis dan berseru kepada Bapa.Karena itu ketika kita berseru dalam penderitaan, kita tidak berseru kepada Allah yang jauh, tetapi kepada Juruselamat yang mengerti dari pengalaman. Ia menjadi jaminan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan seruan orang benar dalam penderitaan.

Doa: Tuhan, mampukan kami hidup dalam kebenaran, supaya doa kami didengar olehMU. Amin.

Selasa, 24 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 86 : 1 – 7 (TB2)

Doa memohon kasih setia
Doa Daud. Arahkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. 2 Jagalah hidupku, sebab aku setia, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. 3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. 4 Buatlah hati hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat hatiku. 5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. 6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku. 7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.

Tuhan Mendengar dan Menjawab pada Hari Kesesakan

Bacaan hari ini menceritakan tentang Daud yang percaya bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi memperhatikan setiap kata dalam doanya. Ia berkata, “pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.” Inilah iman yang lahir dari pengalaman berjalan bersama Tuhan. ketika badai masalah datang, ketika hati gentar dan takut, ketika menemui jalan buntu, Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan selalu dekat kepada orang yang berseru kepada-Nya. Kita pun sering datang dengan berbagai pergumulan, ketakutan, tekanan atau kebingungan. Seringkali kita diperhadapkan dengan situasi yang sulit. Masalah dan tantangan hidup silih berganti menghimpit dan membuat kita merasa sesak. Hal ini membuat tidak sedikit orang mengalami kekecewaan dan putus asa dalam hidup. Namun Mazmur ini mengingatkan bahwa kita memiliki Allah yang menyendengkan telingaNya untuk mendengar seruan kita. Dia adalah Allah yang menjawab doa pada waktuNya. Sebab itu,apabila kita  berada dalam kesesakan, janganlah putus asa.  Teguhkanlah hati untuk tetap berharap hanya kepada Tuhan dan Berserulah dalam doa, IA akan menjawab.

Doa: Tuhan, dalam kesesakanku, Dengarkanlah seruan doaku. Amin.

Rabu, 25 Februari 2026

bahan bacaan : Kejadian 21 : 14 – 21 (TB2)

14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekantong air, memberikannya kepada Hagar, dan meletakkannya di atas bahunya. Lalu bersama anak itu disuruhnya Hagar pergi. Hagar kemudian pergi dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air yang dikantong itu habis, anak itu ditinggalkannya di bawah semak-semak, 16 Lalu ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Aku tidak tahan melihat anak itu mati." Sementara duduk di situ, Hagar menangis dengan suara nyaring. 17 Allah mendengar suara anak laki-laki itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar. Ia berkata kepadanya: "Apa yang terjadi padamu, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah dia erat-erat, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur. Ia pergi mengisi kantong airnya, lalu memberi anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu. Ia bertambah besar dan menetap di padang gurun serta menjadi seorang pemanah. 21 Ia tinggal di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Tuhan Mendengar Suara Tangisan Kesusahan

Kisah Hagar dan Ismael di padang gurun adalah salah satu potret paling menyentuh tentang Allah yang mendengar tangisan manusia. Hagar diusir, kehabisan makanan, kehilangan arah dan akhirnya meletakkan Ismael di bawah semak-semak karena tidak sanggup melihat anaknya mati kehausan. Ia menangis jauh dari anaknya, menangis dalam keputusasaan dan ketakutan. Tetapi Alkitab mencatat sesuatu yang indah: Allah mendengar suara anak itu (ay.17). bukan hanya suara  tangisan Hagar melainkan juga Ismael, seorang anak yang tidak mampu menolong dirinya sendiri. Bacaan ini hendak mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan tangisan kita. Saat kita merasa seperti Hagar: hilang arah, merasa sendirian, tertekan dengan banyak masalah dan tidak kuat hadapi penderitaan, airmata adalah doa yang didengar oleh Tuhan.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu mendengar suara tangisan kesusahanku, Amin.

Kamis, 26 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 120 : 1 – 7 (TB2)

Doa orang yang tinggal di tengah-tengah musuh
Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: 2 "Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari bibir dusta, dari lidah penipu." 3 Apakah yang akan diberikan-Nya kepadamu dan apakah yang masih akan ditambahkan-Nya kepadamu, hai lidah penipu? 4 Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar. 5 Celakalah aku, karena harus tinggal sebagai pendatang di Mesekh, karena harus menetap di antara kemah-kemah Kedar! 6 Lama sudah aku menetap bersama orang-orang yang membenci perdamaian. 7 Ketika aku berbicara tentang damai, mereka tentang perang.

Tuhan Mendengar seruan dan Membebaskan dari Tipu daya

Perjumpaan dengan orang lain di sekitar kita adalah realitas hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Suka atau tidak suka, perjumpaan itu membuat kita mengalami berbagai hal yang menyenangkan tetapi juga menyakitkan. Terhadap kenyataan yang demikian, apakah yang akan dilakukan menyikapi semua hal yang menyakitkan itu? Hari ini kita belajar dari pemazmur, karena dalam kesesakan yang di alami ia tetap berseru kepada Tuhan. Pemazmur mengalami kesesakan karena ia harus berhadapan dengan bibir dusta dan lidah penipu. Atau dengan kata lain orang-orang yang menyerangnya dengan tuduhan palsu dan penghianatan. Karena itu, pemazmur berseru dalam doanya agar Tuhan membebaskan jiwanya dari pengaruh buruk mereka. Pengalaman pemazmur yang berhadapan dengan orang-orang yang demikian tidak jarang dialami juga oleh kita di masa kini. Banyak yang suka menebar fitnah dengan bibirnya dan tipu muslihat dengan lidahnya. Hal semacam ini dapat saja kita alami tidak hanya di lingkungan masyarakat secara umum tetapi juga  dalam keluarga dan tempat kita bekerja atau melayani. Menghadapi kenyataan yang demikian maka kita diajarkan untuk selalu menyerukannya kepada Tuhan. Sebab hanya dengan berseru kepada Tuhan, kita akan dimampukan menghadapi berbagai fitnah dan kata-kata menipu yang bertujuan untuk menjatuhkan.

Doa: bebaskanlah kami dari tipu dan dusta, ya Allah yang mendengarkan seruan, Amin.

Jumat, 27 Februari 2026

bahan bacaan : Matius 20 : 29 – 34 (TB2)

Yesus memulihkan penglihatan dua orang buta
29 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 30 Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 31 Orang banyak itu menegur mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 32 Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: "Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?" 33 Jawab mereka: "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat." 34 Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, dan Ia menyentuh mata mereka. Seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Jangan Berhenti Berseru Kepada Tuhan

Banyaknya persoalan dan tantangan kehidupan yang datang silih berganti cukup berpengaruh melemahkan iman kita. Ini dapat saja terjadi ketika doa dan harapan kita belum dijawab oleh Tuhan. Situasi seperti ini mungkin saja membuat kita merasa lelah untuk terus meminta dan berharap padaNya. Terhadap hal itu, kisah dua orang buta yang duduk di pinggir jalan pada bacaan saat ini mau mengingatkan kita supaya tidak berhenti berseru pada Tuhan. Kedua orang buta tersebut  tetap berseru pada Tuhan Yesus sekalipun berada dalam kondisi fisik yang terbatas tetapi juga ketika ditegor oleh banyak orang supaya mereka diam. Ini menunjukkan pengharapan mereka yang besar kepada Tuhan Yesus dan kuasaNya yang melakukan banyak mujizat. Kegigihan hati dan mulut mereka untuk tetap berseru dan tidak menyerah, akhirnya membuahkan hasil yaitu memperoleh kesembuhan. Pengalaman hidup kedua orang buta yang disembuhkan oleh Yesus memberikan motivasi dan dorongan kepada kita sebagai orang-orang percaya di zaman ini. Memang benar akan ada tantangan dan hambatan tetapi juga terkesan Tuhan lambat atau tidak menjawab doa-doa kita. Akan tetapi janganlah lelah apalagi berhenti berseru padaNya, sebab cepat atau lambat Tuhan akan menjawab tepat pada waktunya. Ingatlah senantiasa bahwa Tuhan akan menjawab, karena itu janganlah berhenti berseru padaNya.

Doa: Tuhan, dengarkanlah seruan kami yang buta dan lemah ini, Amin.

Sabtu, 28 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 30 : 1 – 4 (TB2)

Nyanyian syukur karena selamat dari bahaya
Mazmur. Nyanyian untuk penahbisan Bait Suci. Dari Daud. (30-2) Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. 2 (30-3) TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. 3 (30-4) TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menyelamatkan hidupku sehingga aku tidak turun ke liang kubur.

Diselamatkan Saat Berseru

Bacaan ini menggambarkan pengalaman pribadi Daud yang merasakan pertolongan Tuhan secara nyata. Ia mengangkat pujian karena Tuhan telah menyelamatkannya dari keadaan yang hampir merenggut hidup. Daud berseru, dan Tuhan menjawab. Ia bersaksi bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi juga bertindak dengan kuasa yang memulihkan hidup mengangkatnya dari jurang keputusasaan dan menyembuhkan luka-luka yang dialaminya. Ayat-ayat ini menolong kita melihat bahwa Tuhan dekat dengan orang yang berseru kepada-Nya. Seruan kita, entah dalam kesedihan, sakit, atau tekanan hidup, bukanlah teriakan yang hilang di udara. Tuhan mendengar dengan penuh perhatian. Ia tidak membiarkan kita tergeletak dalam pergumulan, tetapi mengulurkan tangan untuk mengangkat dan memulihkan. Pemazmur mengajak orang percaya untuk memuji Tuhan, sebab kemurahan-Nya jauh lebih besar daripada pergumulan yang kita hadapi. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita merasa doa tidak segera dijawab. Namun Mazmur ini menegaskan bahwa Tuhan bekerja dengan cara dan waktu yang terbaik. Kesembuhan yang Dia berikan bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga bagi hati yang letih dan jiwa yang hampir menyerah. Karena itu, kita diajak untuk tetap percaya dan tetap berseru kepada-Nya. Tuhan yang menyelamatkan Daud adalah Tuhan yang sama yang menyelamatkan kita hari ini.

Doa: Tuhan, yakinkan hati kami untuk tetap percaya dan mau berseru kepadaMu. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 15 – 21 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Jadilah Bagiku Gunung Batu Keselamatan

Minggu, 15 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 31 : 1 – 9 (TB2)

Aman dalam tangan TUHAN
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (31-2) Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku dipermalukan. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, 2 (31-3) arahkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! 3 (31-4) Sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku, dan demi nama-Mu tuntunlah dan bimbinglah aku. 4 (31-5) Keluarkanlah aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. 5 (31-6) Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; tebuslah aku, ya TUHAN, Allah yang setia. 6 (31-7) Engkau membenci orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN. 7 (31-8) Aku hendak bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah mengetahui kesesakan jiwaku, 8 (31-9) Engkau tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.

Dalam Tuhan Ada Perlindungan dan Keselamatan

Hari ini kita memasuki minggu sengsara I (Dalam bahasa Latin disebut estomihi  yang berarti “Jadilah bagiku…”). Dalam tradisi gereja,  perayaan minggu sengsara yang pertama mengingatkan kita bahwa kita mulai memasuki masa perenungan tentang penderitaan Tuhan Yesus menuju salib. Perenungan ini didasarkan pada nas Alkitab  Mazmur 31:3, yang berbunyi: “Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku”. Ayat ini menjelaskan situasi sulit yang dialami oleh Daud, yakni tekanan, ketakutan dan ancaman para musuh, sehingga Daud memohon perlindungan dari Tuhan. Baginya, hanya Tuhan yang sanggup menolong dan menyelamatkan hidupnya karena Tuhan adalah Gunung Batu Keselamatan. Saat kita memasuki minggu sengsara Tuhan Yesus yang pertama, kita percaya bahwa Tuhan Yesus “Gunung Batu” telah menderita  dan mati di salib untuk menyelamatkan kita. Sebab itu di tengah tekanan hidup, pergumulan atau penderitaan, bukan kekuatan diri, bukan orang lain, tetapi Tuhan yang melindungi dan menyelamatkan. Berlindunglah padaNya!.

Doa : Tuhan, jadilah Gunung batu keselamatan dalam pergumulan dan penderitaan hidup kami. amin.

Senin, 16 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 18 : 31 – 36 (TB2)

30 (18-31) Jalan Allah itu sempurna; janji TUHAN adalah teruji; Dia perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. 31 (18-32) Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita? 32 (18-33) Dialah Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku sempurna; 33 (18-34) yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di tempat tinggi; 34 (18-35) yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga. 35 (18-36) Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku, pertolongan-Mu membuat aku perkasa.

Jadilah Perisai dan Gunung Batuku ya Tuhan!

Bayangkan seorang pendaki yang mendaki tebing yang sangat curam. Ia mempersiapkan tubuh, melatih kekuatan tangan dan memakai tali pengaman yang kuat. Saat mendaki, ada saat dimana tangannya menjadi lelah dan lemah, batu pijakan kakinya terlepas atau kakinya terpeleset. Tetapi ada satu hal yang membuat dia tidak takut jatuh, tali pengaman yang menahannya. Tali itu melakukan dua hal sekaligus: melindunginya agar tidak jatuh dan mendorongnya naik sampai puncak gunung.Kasih Tuhan adalah “tali pengaman” itu. Pengalaman ini yang menjadi kesaksian iman Daud saat Tuhan melepaskannya dari kejaran raja Saul. Ia berkata, Allah adalah Gunung Batu, Ia mengikat pinggangku dengan keperkasaan”. Kemenangan Daud bukan karena dirinya kuat, tetapi karena Allah yang menguatkannya.  Demikian pun kita yang memaknai kesengsaraan Tuhan Yesus di minggu pertama ini. Seperti Daud, kita tetap membangun pengharapan kepada Allah dalam Kristus. Terkadang kita tergelincir, kadang kita lelah dan lemah, kadang kita menderita dan hampir menyerah. Tetapi kasih Tuhan tidak pernah melepaskan kita. Ia menahan kita, Ia menopang dan melindungi kita. seperti pendaki yang bergantung pada tali pengaman, marilah kita bergantung pada kasih Tuhan Yesus Juruselamat kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas perlindungan-Mu bagi kami. Amin

Selasa, 17 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 18 : 47 – 51 (TB2)

46 (18-47) TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, mulialah Allah Penyelamatku, 47 (18-48) Dialah Allah, yang mengadakan pembalasan bagiku, dan menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 48 (18-49) dialah yang meluputkan aku dari musuhku. Bahkan, Engkau membuat aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau melepaskan aku dari orang yang melakukan kekerasan. 49 (18-50) Sebab itu aku hendak menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. 50 (18-51) Ia mengaruniakan kemenangan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan keturunannya untuk selamanya."

Tuhan Hidup! Terpujilah Gunung Batu Keselamatan Kita

Daud menutup mazmur ini dengan seruan penuh iman: Tuhan hidup!. Ini bukan hanya deklarasi imannya tetapi kesaksian nyata bahwa Allah yang dipercayainya benar-benar menyatakan kuasa-Nya dalam hidup. Ada perlindungan, kemenangan dan penyelamatan. Pengalaman itu juga kita punya, ketika diselamatkan dari musibah dan bahaya, ketika doa kita dijawab, ketika kuat menghadapi kekecewaan dan kenyataan pahit, terbebas dari masalah dalam keluarga, kuat tahan tekanan dalam pekerjaan,  sadar dari kelemahan diri atau bertobat dari dosa yang terus menghantui.  Semua itu kita tanggung karena ada Tuhan dalam hidup kita. Jika dengan yakin Daud dapat menyatakan bahwa Tuhan hidup! Tuhan sebagai Gunung Batu tempat perlindungan disaat ia mengalami kesesakan. Demikian pun kita sekeluarga saat bergantung dan meyakini kuasa Tuhan, maka Tuhan akan bertindak untuk menuntun, melindungi dan menyelamatkan kita Jadilah kuat karena Tuhan dan ini akan menjadi kesaksian iman bagi banyak orang. 

Doa: Tuhan, Engkaulah Allah kami yang hidup. Jadilah Gunung Batu perlindungan kami, Amin.

Rabu, 18 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 73 : 21 – 28 (TB2)

21 Ketika hatiku pedih dan buah pinggangku seperti tertusuk-tusuk, 22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 24 Dengan menuntun aku dengan nasihat-Mu, hingga akhirnya Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. 25 Siapa yang kumiliki di sorga kecuali Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kudambakan di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang tidak lagi setia kepada Engkau. 28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; Tuhan ALLAH kutetapkan sebagai tempat perlindunganku, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Mu.

Sekalipun Dagingku Habis, Allah Tetap Gunung Batuku

Pengalaman pemazmur dalam menghadapi penderitaan menjadi teladan bagi kita. Ada harapan yang kokoh dari pemazmur untuk tetap dekat dengan Tuhan, sekalipun penderitaan membuat daging di tubuhnya habis lenyap. Harapannya hanya pada Tuhan. Pemazmur merasakan cinta kasih Tuhan yang besar melebihi masalah yang dihadapinya. Hal ini membuatnya bersyukur dan bersaksi tentang kebesaran kuasa Tuhan itu bagi semua orang. Pengalaman ini nyata dihadapi oleh teman sekantor, berulang kali dagingnya habis karena proses pengobatannya dari sakit. Tetapi ia selalu menggantungkan harapannya pada Tuhan. Daging tubuhnya dipulihkan dan ia selamat. Ada banyak orang yang juga bergumul dengan kenyataan yang sama. Daging di tubuh kian habis, semangat menjadi lemah, hati kian tersiksa. Namun, kita percaya dan bersyukur bahwa Tuhan mengijinkan setiap masalah dan penderitaan sebagai cara Tuhan untuk membentuk kita menjadi anak-anak yang selalu mencari-Nya dan disitulah kita menikmati kasih-Nya. Bersaksilah tentang kebaikan Tuhan ini, Allah tetap Gunung Batu sekalipun daging dan hati habis lenyap!.

Doa : Ya Tuhan kami meyakini akan kebesaran kuasa-Mu sekalipun daging dan hati habis lenyap. Amin

Kamis, 19 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 19 : 13 – 15 (TB2)

12 (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kekeliruannya sendiri? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. 13 (19-14) Lindungilah hamba-Mu dari sikap angkuh; jangan sampai aku dikuasai olehnya! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. 14 (19-15) KIranya ucapan mulutku dan renungan hatiku berkenaan kepada-Mu, ya TUHAN, Gunung Batuku dan Penebusku.

Ya Tuhan, Gunung Batuku dan Penebusku

Daud menyebut Tuhan sebagai “Gunung Batuku”. Ini berarti ia mengakui bahwa Tuhan adalah tempat yang kokoh, tidak tergoyahkan, tempat untuk berlindung dari segala badai kehidupan, dari dosa-dosa yang tidak disadari dan dari godaan yang mencoba menguasainya. Ia juga menyebut Tuhan sebagai “Penebusku”. Penebus adalah seseorang yang membayar harga untuk membebaskan atau menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk, seperti hutang, perbudakan atau hukuman. Itu berarti Daud sadar, hanya Tuhan yang dapat menyelamatkannya dari kekeliruan dan dosanya. Dalam iman kita mengakui, Tuhan Yesus Kristus adalah Penebus. Ia telah membayar lunas dosa-dosa kita dengan pengorbananNya di kayu salib, membebaskan kita dari belenggu dosa dan memberikan hidup yang kekal. Kita membutuhkan Tuhan sebagai kekuatan kita, perlindungan kita dan sebagai Penebus yang menolong.  Mari kita belajar untuk rendah hati mengakui kekeliruan kita dan ketika menghadapi masalah atau godaan, kita selalu datang kepada Tuhan dalam doa. Ingatlah bahwa Tuhan adalah “Gunung Batu” kita yang kokoh.

Doa: Tuhan Penebus, ampuni kami dari segala kekeliruan dan selamatkanlah, Amin.

Jumat, 20 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 22 : 1 – 3 (TB2)

Nyanyian syukur Daud
Daud melantunkan syair nyanyian ini kepada TUHAN sesudah TUHAN melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. 2 Ia berkata: "Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, 3 Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

Tuhan, Engkaulah Gunung batu dan Kubu Pertahanan

Gambaran “gunung batu” dan “kubu pertahanan” adalah metafora yang sangat kuat dalam budaya Timur Tengah kuno. Gunung batu adalah tempat yang tidak tergoyahkan, tinggi, sulit dijangkau musuh dan menawarkan perlindungan dari bahaya. Kubu pertahanan atau benteng adalah bangunan tembok yang dibangun untuk memberikan keamanan maksimal, tempat di mana seseorang merasa aman dari serangan. Daud dengan pengalamannya yang luas sebagai prajurit dan raja, sangat memahami nilai dari perlindungan seperti itu. Itulah sebabnya Daud menyanyi memuji Tuhan sebagai tanda ungkapan syukurnya bahwa Tuhan satu-satunya sumber keamanan dan keselamatan dalam perjalanan hidupnya. Dalam setiap ancaman, badai kehidupan, pengambilan keputusan, dan sebagainya,Tuhanlah yang menjadi tempat ia berpaling. Renungan hari ini mengajak kita untuk merenungkan siapa atau apa yang menjadi gunung batu dan kubu pertahanan kita. Ketika badai kehidupan menerpa, baik itu masalah, penyakit, kehilangan atau tekanan pekerjaan, dimanakah kita mencari perlindungan?. Angkatlah pandangan kita kepada Tuhan, Sang Gunung Batu yang tak tergyahkan, Sang Kubu Pertahanan yang tak tertembus. Dalam Dia, kita menemukan kekuatan untuk menghadapi setiap masalah dan tantangan dalam perjalanan hidup ini.

Doa: Tuntun kami sekeluarga Tuhan agar selalu bergantung dan berharap kepadaMu, Amin

Sabtu, 21 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 22 : 47 – 51 (TB2)

47 TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Gunung Batu Penyelamatku, 48 Dialah Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang membawa bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 49 dan yang membebaskan aku dari  musuh-musuhku. Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau melepaskan aku dari orang yang melakukan kekerasan. 50 Sebab itu aku hendak bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa Ya TUHAN, dan bermazmur bagi nama-Mu. 51 Ia mengaruniakan kemenangan-kemenangan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan keturunannya."

Nyanyikanlah Syukur Kepada Tuhan Penyelamat

Apa yang kita perbuat setelah keluar dari permasalahan hidup atau terbebas dari ancaman kematian? Masing-masing orang memiliki respons tersendiri, dan pastinya berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Daud memiliki respons yang khas ketika ia keluar dari permasalahan hidup atau terbebas dari ancaman kematian. Bacaan ini secara umum mengungkapkan respons Daud ketika terbebas dari ancaman kematian dari musuhnya. Daud menaikkan nyanyian syukur kepada Tuhan setelah terbebas dari ancaman kematian oleh Saul. Dalam nyanyian syukur itu Daud mengagungkan Tuhan yang hidup, sebab Tuhan telah menjadi “Gunung Batu” yang melindunginya. Tuhan pula yang membebaskan Daud dari para musuh. Atas kehidupan yang Tuhan telah karuniakan sehingga memberi keselamatan yang besar, Daud meninggikan Tuhan; ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku, demikian kata Daud (ay.47). Pesan terdalam dari firman Tuhan ini adalah tantangan dan ancaman apapun dalam hidup ini, jadikanlah Tuhan pelindung dan gunung batu keselamatan, pasti Tuhan yang hidup akan melindungi, menolong dan menyelamatkan kita.  

Doa: Ya Tuhan, hanya Engkaulah Penyelamat dan Pembela kehidupan kami. Amin

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 08 – 14 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Dipilih Untuk Memuliakan Tuhan

Minggu, 08 Februari 2026

bahan bacaan : Efesus 1 : 3 – 14 (TB2)

Kekayaan orang-orang yang terpilih
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 7 Sebab, di dalam Dia kita beroleh penebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan atas pelanggaran, menurut kekayaan anugerah-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. 9 Sebab, Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. 11 Di dalam Dialah kami diberi warisan - kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah yang mengerjakan segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 13 Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. 14 Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Berkat Rohani

Efesus 1:3–14 menampilkan satu kalimat panjang dalam bahasa Yunani yang oleh banyak penafsir disebut sebagai “berkat rohani”, yang menegaskan prakarsa Allah dalam keselamatan. Paulus menyatakan bahwa Allah memilih orang percaya sebelum dunia dijadikan bukan terutama untuk keselamatan individual semata, melainkan untuk hidup dalam kekudusan dan tak bercacat di hadapan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan selalu memiliki orientasi etis dan relasional, yakni membawa umat kembali pada rancangan semula yang memantulkan karakter Allah di bumi. Paulus menegaskan bahwa tujuan pemilihan itu diarahkan kepada pujian bagi kemuliaan-Nya (Ef. 1:6, 12, 14). Tindakan memuliakan Tuhan bukan hanya tindakan pribadi, tetapi keterlibatan dalam pemulihan relasi diri, komunitas, dan ciptaan. Untuk itu, Roh Kudus menjadi jaminan yang berperan sebagai kekuatan transformasi, guna memampukan umat mempraktikkan kehidupan yang memuliakan Allah. Dalam konteks pekerjaan, studi, keluarga, dan pelayanan, orang percaya menjadi representasi kemuliaan Allah ketika integritas, kejujuran, dan kasih menjadi pola hidup sehari-hari. Dalam keluarga, suami menyatakan hal tersebut kepada istri dan sebaliknya, serta orang tua kepada anak dan sebaliknya. Kita harus memulainya dari keluarga kita yang senantiasa membina spiritualitas orang percaya untuk mewujudkan tindakan nyata yang memiliki dampak perubahan yang luas sebagai berkat rohani.

Doa: Tuhan, kami mau menghadirkan berkat rohani bagi semua. Amin

Senin, 09 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 146 : 1 – 10 (TB2)

TUHAN memerintah selama-lamanya
Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! 2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. 3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. 4 Apabila nafasnya berhenti, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah segala rencananya. 5 Berbahagialah orang yang menerima pertolongan dari Allah Yakub, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: 6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, 7 yang menegakkan keadilan untuk orang yang tertindas, yang memberi makanan kepada orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang yang terkurung, 8 TUHAN membuka mata orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang benar. 9 TUHAN menjaga para pendatang, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik digagalkan-Nya. 10 TUHAN memerintah untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!

Memuji Tuhan Seumur Hidup

Mazmur 146 dibuka dengan deklarasi personal: “Aku hendak memuji Tuhan seumur hidupku.” Ini menunjukkan bahwa memuliakan Tuhan bukan aktivitas sesaat, tetapi respons eksistensial umat pilihan terhadap karya dan karakter Allah selamanya. Seruan untuk tidak mengandalkan “para pemimpin” atau manusia fana bukan sekadar peringatan moral, tetapi pilihan untuk mengarahkan kepercayaannya hanya kepada Allah. Memuji Tuhan berarti terus mengakui karya-Nya di balik realitas hidup sehari-hari. Tindakan-tindakan Allah nampak ketika Ia membela orang tertindas, memberi roti kepada lapar, membebaskan orang hukuman, menopang yatim dan janda menjadi gambaran karakter Allah yang harus diwujudkan umat pilihan. Hal ini menunjukkan bahwa keadilan sosial merupakan bagian integral dari etika hidup. Memuliakan Tuhan tidak hanya dalam nyanyian, tetapi dalam tindakan yang mencerminkan keadilan dan belas kasih Allah. Ketika kita membantu mereka yang lemah secara ekonomi berarti kita sementara membuka kesempatan bagi orang lain untuk pulih dan bertumbuh. Dengan cara hidup seperti ini, kita melihat hidup bukan hanya dari perspektif jangka pendek, tetapi dari perspektif kekekalan, yang mana menilai keputusan berdasarkan nilai Kerajaan Allah yakni keadilan, kasih, dan kebenaran. Kita tetap setia melayani meski hasilnya belum tampak, karena Allah tetap memerintah dalam kehidupan kita.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi terang bagi yang lain. Amin

Selasa, 10 Februari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 42 – 49 (TB2)

42 Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara lagi tentang hal-hal itu pada hari Sabat berikutnya. 43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam anugerah Allah. 44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. 45 Tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. 46 Namun dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. 47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." 48 Mendengar itu bergembiralah semua orang dari bangsa-bangsa lain dan mereka memuliakan firman Tuhan. Semua orang yang ditentukan untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. 49 Lalu firman Tuhan disebarkan di seluruh daerah itu.

Terang Bagi Yang Lain

Teks Kisah Para Rasul 13:42–49 menampilkan bahwa dalam karya penyelamatan Allah, pemilihan selalu hadir bersama dengan proses penolakan dan penerimaan terhadap firman. Ketika Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di Antiokhia, sebagian orang Yahudi menolak pesan itu karena iri dan keras hati. Namun penolakan tersebut justru membuka ruang bagi bangsa-bangsa lain untuk menerima terang keselamatan. Secara teologis, dinamika ini menegaskan bahwa pemilihan Allah tidak bersifat eksklusif melainkan memilih untuk tujuan tertentu yakni menjadi saluran berkat dan cahaya keselamatan bagi banyak orang (bdk. Yes. 49:6). Pemilihan itu bukan semata status, tetapi penugasan yang menuntut kesetiaan, keberanian, dan ketekunan dalam menyampaikan firman, bahkan ketika respons yang muncul adalah penolakan. Hal ini tidak pernah membatalkan rencana Allah, namun justru dalam konteks penolakan itulah Injil meluas, dan bangsa-bangsa lain “bersukacita serta memuliakan firman Tuhan” karena mereka pun diikutsertakan dalam karya keselamatan. Teks ini menolong kita untuk memahami bahwa ketika dipilih oleh Allah, kita tidak dipanggil untuk mencari penerimaan manusia, melainkan untuk setia menjadi terang melalui perkataan, karakter, dan kesaksian hidup. Dalam pelayanan, pekerjaan, maupun relasi sosial, mungkin akan muncul sikap penolakan terhadap kebenaran yang dinyatakan, tetapi hal itu tidak boleh memadamkan komitmen untuk tetap menghadirkan kasih, keadilan, dan hikmat Allah. Sebaliknya, setiap kesempatan penerimaan terhadap firman harus dipandang sebagai karya Roh Kudus yang menggenapi maksud Allah untuk menjangkau lebih banyak orang.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk senantiasa hidup memuliakan-Mu. Amin

Rabu, 11 Februari 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 10 : 27 – 33 (TB2)

27 Kalau kamu diundang makan oleh seseorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. 28 Namun kalau seorang berkata kepadamu, "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. 29 Yang aku maksudkan dengan keberatan bukanlah keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan hati nurani orang lain itu. Lalu, "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan hati nurani orang lain? 30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang mencela aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?" 31 Jadi, baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 32 Janganlah membuat orang tersandung, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. 33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka diselamatkan.

Hidup Yang Tidak Menjadi Batu Sandungan

Menjadi  orang percaya bukan hanya soal menerima anugerah Allah, tetapi tentang bagaimana kita dipilih untuk hidup sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan melalui cara hidup yang benar. Kita dipilih bukan hanya untuk diberkati, tetapi juga untuk menjadi berkat dengan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 23 “ Jangan membuat orang tersandung…”. Ayat ini berisi nasehat Paulus kepada jemaat Korintus yang telah dewasa dalam iman agar mereka tidak membuat saudara seiman, baik orang Yahudi maupun orang Yunani jatuh dalam dosa karena ikut makan makanan yang dipersembahkan kepada dewa, sebab hal itu menentang Allah (ay.20). Hidup sebagai orang percaya tidak boleh menjadi “batu sandungan” bagi sesama. Hal ini dapat diwujudkan, misalnya, dengan menjaga cara berbicara, cara bersikap,  dan tidak mengajak orang lain melakukan hal-hal yang tidak benar, seperti perilaku yang merugikan orang lain atau bertentangan dengan firman Tuhan ( okultisme, mabuk, narkoba, selingkuh, judi online, penipuan, pencurian, dll). Tidak menjadi “batu sandungan” alah sikap memuliakan Tuhan.

Doa: Roh Kudus tuntun kami supaya tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Amin.

Kamis, 12 Februari 2026

bahan bacaan : Yesaya  43 : 1 – 7 (TB2)

TUHAN Juruselamat dan Penebus Israel
Namun sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel, "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini milik-Ku. 2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, nyala api tidak akan membakar engkau. 3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku memberikan Mesir sebagai tebusan bagimu, dan Etiopia serta Syeba sebagai gantimu. 4 Oleh karena engkau berharga dan mulia di mata-Ku dan Aku mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. 5 Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan menghimpun engkau dari barat. 6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Jangan ditahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung bumi, 7 semua orang yang disebut dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan juga Kujadikan!"

Dipilih Untuk Hidup Memuliakan Tuhan

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan. Hidup kita bukan sekedar untuk diri sendiri atau untuk mengejar kesenangan duniawi, tetapi untuk menjadi saksi kasih, kebaikan, dan kebenaran Allah di tengah dunia. Allah telah menciptakan, menebus, dan memanggil kita bukan untuk sesuatu yang sia-sia, melainkan agar nama-Nya dimuliakan. Nas bacaan kita menjelaskan tentang panggilan Allah bagi Israel sebagai umat pilihan-Nya, supaya mereka hidup benar dihadapan Allah dan menjadi berkat bagi bangsa lain, meskipun mereka hidup menderita di pembuangan. Tuhan telah memanggil kita dengan maksud untuk memuliakan-Nya, sebagaimana firman Tuhan: “Segala sesuatu yang dilakukan untuk kemuliaan Tuhan” (Band.1 Kor.10:31), melalui apa pun profesi, kemampuan, atau peran kita, baik di rumah, di sekolah, di kampus, maupun di tempat kerja. Ketika kita memahami identitas dan panggilan kita ini, kita dapat berjalan tanpa takut, sebab Allah berkata: “ janganlah takut..Aku menyertai engkau”.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk hidup memuliakan Tuhan Amin.

Jumat, 13 Februari 2026

bahan bacaan : 1 Korintus  6 : 12 – 20 (TB2)

Nasihat terhadap percabulan
12 "Segala sesuatu diperbolehkan bagiku", tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu diperbolehkan bagiku, tetapi aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apapun. 13 "Makanan untuk perut dan perut untuk makanan" tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. 14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. 15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuh kamu semua adalah anggota Kristus? Jadi akan kuambilkah anggota Kristus dan menjadikannya anggota tubuh pelacur? Sekali-kali tidak! 16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, telah dikatakan, "Keduanya akan menjadi satu daging." 17 namun, siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. 18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Namun orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap tubuhnya sendiri. 19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Muliakan Tuhan Dengan Tubuhmu

Paus Leo Agung pernah berkata: “Umat Kristiani, ingatlah akan siapa dirimu, kamu telah ditebus mahal dengan darah Kristus, maka jangan berbuat jahat tapi muliakan Tuhan dengan tubuhmu”. Perkataan ini sama dengan yang dinasehatkan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Di tengah maraknya paktek percabulan sebagai bentuk penyembahan kepada dewi Aprhodite kala itu. Paulus menegaskan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus, tempat kediaman Roh kudus. Itu berarti tubuh kita adalah sesuatu yang kudus dan dihargai Tuhan. Ia memberi kita tubuh bukan hanya untuk bekerja dan bergerak, tetapi untuk menjadi alat memuliakan Dia. Maka kita tidak bebas memperlakukan tubuh sembarangan. Cara kita makan, bekerja, beristirahat, menjaga kesehatan dan memakai anggota tubuh menunjukkan bagaimana kita menghormati Tuhan. jadi ketika kita memakai tubuh untuk hal-hal yang merusak diri, menyakiti orang lain, memuaskan dosa, kita sedang menyalahgunakan sesuatu yang Tuhan tebus dengan darah-Nya.Tubuh ini milik Tuhan, mari menggunakannya untuk hormat dan kemuliaan-Nya.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kami, Amin

Sabtu, 14 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Tesalonika 1 : 3 – 12 (TB2)

Ucapan syukur dan doa
3 Kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu, 4 sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita. 5 Itu adalah  bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu. 6 Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu 7 dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya yang penuh kuasa, di dalam api yang bernyala-nyala, 8 dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. 9 Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya, 10 apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai. 11 Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, 12 sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut anugerah Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.

Kuat Dalam Iman, Kaya Dalam Kasih Di Tengah Derita

Film animasi “The 21” menceritakan kisah nyata para Kristen Koptik yang diculik oleh kelompok teroris dan dipaksa untuk melepaskan iman mereka kepada Yesus Kristus. Ketika mereka menolak, mereka disiksa. Tetapi mereka tetap setia pada sampai akhir hidup. Mereka tidak membenci penyiksa, malah berdoa supaya para penyiksa diampuni. Selain itu, mereka saling berdoa dan saling menguatkan meskipun mereka kuat menghadapi penganiayaan secara brutal dan ancaman eksekusi. Film ini memperlihatkan keberanian iman yang berakar pada kasih yang sejati, sebagaimana Paulus menasehati jemaat di Tesalonika agar  bertumbuh dalam iman, sabar menanggung penderitaan, dan bertambah dalam kasih meski ditindas. Kenyataan ini bukan sesuatu yang mudah dihadapi.  Hal ini menjadi teladan bagi kita saat ini untuk tetap  kuat dalam iman dan mengasihi sesama, termasuk mereka yang membenci atau membuat menderita.  Kasih di tengah penderitaan hanya bisa dilakukan dengan kuasa Kristus. Sebab itu berdoalah agar kita memperoleh kuasa itu dari Tuhan.

Doa: Tuhan, penuhi kami dengan Roh Kudus supaya kami kuat dalam iman, kaya dalam kasih sekalipun menderita, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 01 – 07 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Dipilih Untuk Teguh Mengasihi

Minggu, 01 Februari 2026

bahan bacaan : Yohanes 15 : 9 – 17 (TB2)

Perintah supaya saling mengasihi
9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya. Namun, Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi."

Kasih yang Teguh

Yesus mengasihi murid-murid-Nya sama seperti Bapa mengasihi-Nya. Kasih ini adalah standar dan sumber kasih kita, untuk tetap tinggal di dalam kasih-Nya. Kita harus menaati perintah-Nya, sama seperti Yesus menaati Bapa-Nya. Ketaatan bukanlah beban, melainkan respons alami terhadap kasih yang telah kita terima, memungkinkan kita untuk hidup dalam suasana kasih Kristus yang konsisten. Inti dari bagian ini adalah perintah eksplisit untuk “saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Ini bukan sekadar saran, melainkan perintah yang diulang kembali di ayat terakhir (ayat 17) sebagai penekanan. Kasih ini harus terlihat secara nyata di antara sesama orang percaya, menjadi kesaksian bagi dunia luar. Kasih yang teguh dan terbesar ditunjukkan dengan kerelaan untuk memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Yesus sendiri adalah teladan sempurna dari kasih ini melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Kasih ini bersifat tanpa pamrih dan rela berkorban.  Seorang hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi sebagai sahabat, Yesus memberitahukan segala sesuatu yang Dia dengar dari Bapa-Nya. Ini menunjukkan hubungan yang intim dan penuh kepercayaan, untuk mengasihi dengan teguh, kita perlu secara konsisten memelihara hubungan pribadi dengan Yesus melalui doa dan perenungan firman, menaati perintah-Nya untuk saling mengasihi secara praktis, dan membiarkan Roh Kudus menolong kita menghasilkan buah kasih dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan membawa sukacita yang penuh dan menjadi kesaksian akan kasih Kristus di dunia.

Doa: Tuhan, bantu kami punya kasih yang teguh sepertiMu. Amin.

Senin, 02 Februari 2026

bahan bacaan : Yohanes 13 : 34 – 35 (TB2)

34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi."

Saling mengasihi, Identitas Murid Sejati

Yesus tidak hanya memerintahkan kasih secara abstrak, tetapi memberikan standar yang baru dan lebih tinggi: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Tuhan memilih para murid-Nya agar melalui kehidupan mereka, dunia dapat melihat manifestasi kasih Allah. Ayat 35 dengan jelas menyatakan: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”. Kasih ini berfungsi sebagai “seragam” atau lencana pengenal komunitas Kristen yang membedakan mereka dari dunia di sekitar mereka. Tujuan pemilihan murid adalah agar mereka menjadi saksi Injil. Kesaksian mereka tidak hanya melalui kata-kata, tetapi yang lebih kuat lagi, melalui cara hidup mereka yang dipenuhi kasih. Ketika orang-orang di luar melihat kasih yang tulus dan mendalam di antara sesama orang percaya, mereka akan tertarik dan tahu bahwa Yesus berasal dari Allah. Mengasihi sesama orang percaya bukanlah pilihan opsional atau sekadar sarana moral, melainkan perintah yang mengikat dan mutlak dari Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup di bawah perintah kasih ini. hidup saling mengasihi agar kasih-Nya yang transformatif dapat terus mengalir melalui kita kepada dunia. Itulah tanda hidup baru yang Tuhan minta dari kita setiap waktu.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami saling mengasihi setiap hari. Amin.

Selasa, 03 Februari 2026

bahan bacaan : Lukas 6 : 31 – 32 (TB2)

31 Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 32 Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Sebab orang berdosa pun mengasihi orang yang mengasihi mereka.

Mengasihi Musuh

Ayat 31 menyatakan Hukum Emas (Golden Rule): “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Ini adalah prinsip universal untuk interaksi sosial, tetapi Yesus menggunakannya sebagai landasan untuk melangkah lebih jauh lagi melampaui interaksi yang mudah, menuju interaksi yang sulit dengan musuh. Kita ingin diperlakukan dengan baik bahkan ketika kita salah, jadi kita harus memperlakukan musuh kita dengan baik. Ayat 32 menyoroti tantangan utama: Orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda dari “orang-orang berdosa”. Jika kasih kita hanya terbatas pada lingkaran sosial yang aman dan saling menguntungkan, kita tidak menunjukkan nilai tambah dari Injil Kristus. Kita dipilih untuk menunjukkan kasih yang tidak termotivasi oleh potensi keuntungan atau balasan. Kasih kepada musuh adalah kasih yang murni karena tidak mengharapkan imbalan duniawi. Sebagai orang percaya yang dipilih, kita adalah duta besar kerajaan Allah. Kita mengasihi musuh bukan karena musuh itu layak dikasihi, tetapi karena Allah yang kita layani itu mengasihi mereka, dan kita mencerminkan karakter-Nya. Orang percaya dipilih untuk mengasihi musuh bukan karena kita lebih kuat atau lebih baik dari orang lain, tetapi karena kita telah menerima kasih karunia Allah yang tidak layak kita terima.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu hidup berbeda dengan dunia. Amin.

Rabu, 04 Februari 2026

bahan bacaan : 1 Yohanes 2 : 7 – 11 (TB2)

Perintah yang baru
7 Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang kamu miliki sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. 8 Namun, kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu. Sebab, kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. 9 Siapa yang berkata, bahwa ia ada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia ada di dalam kegelapan sampai sekarang. 10 Siapa yang mengasihi saudaranya, ia tetap tinggal di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. 11 Namun, siapa yang membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

Mengasihi Saudara

Status “anak terang” tidak ditentukan oleh klaim verbal, “saya sudah diselamatkan”, tetapi oleh bukti nyata dari kasih. Kebencian adalah bukti bahwa seseorang masih hidup di dalam kegelapan, terlepas dari pengakuan iman mereka. Kasih membuat pijakan rohani kita kokoh. Tidak ada “sandungan” atau kesempatan untuk jatuh ke dalam dosa yang disebabkan oleh konflik internal atau dendam. Kasih mempersatukan dan memelihara komunitas orang percaya. Kita dipilih sebagai anak-anak terang. Identitas baru ini menuntut perilaku yang konsisten dengan terang itu sendiri. Sebagaimana terang menghilangkan kegelapan, kasih harus menghilangkan kebencian di hati kita. Membenci saudara adalah pengkhianatan terhadap identitas ilahi kita yang baru. Kasih kepada saudara seiman adalah tanda otentik bahwa terang Kristus berdiam di dalam kita, memandu langkah kita dan membedakan kita dari dunia yang masih berjalan dalam kegelapan. Mengasihi saudara berarti menerjemahkan iman kita ke dalam tindakan nyata. Rasul Yohanes menantang kita untuk tidak hanya mengasihi dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran Jika kita melihat saudara kita membutuhkan bantuan, namun menutup pintu belas kasihan kita, kasih Allah tidak mungkin tinggal di dalam hati kita. Kasih persaudaraan menuntut kedermawanan, pelayanan, dan kesediaan untuk berbagi beban. Dunia tidak akan mengenali kita dari teologi kita yang rumit, gedung gereja yang megah, atau kefasihan kita berbicara, melainkan dari cara kita memperlakukan satu sama lain dengan penuh kasih.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu mengasihi saudara kami. Amin.

Kamis, 05 Februari 2026

bahan bacaan : Yunus 3 : 1-10 (TB2)

Niniwe bertobat dan diampuni
Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, 2 "Pergilah segera ke Niniwe, kota yang besar itu, dan serukanlah kepadanya pesan yang Kufirmankan kepadamu." 3 Yunus pun segera pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman TUHAN. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 4 Yunus mulai masuk ke dalam kota dan berjalan sepanjang hari. Ia berseru, "Empat puluh hari lagi Niniwe akan dijungkirbalikkan." 5 Lalu orang Niniwe percaya kepada Allah. Mereka mengumumkan puasa dan mereka, dan semuanya, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 6 Setelah kabar itu sampai kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya. Ia menanggalkan jubahnya, menyelubungi dirinya dengan kain kabung, lalu duduk di abu. 7 Atas perintah raja dan para pembesarnya diserukanlah di Niniwe maklumat ini, "Manusia dan ternak, lembu dan kambing domba, tidak boleh makan apa-apa; tidak boleh makan rumput atau minum air. 8 Semuanya, manusia dan ternak harus berselubungkan kain kabung dan berseru sekuat-kuatnya kepada Allah. Masing-masing harus berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 9 Siapa tahu, Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala, sehingga kita tidak binasa." 10 Ketika Allah melihat apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, menyesallah Allah atas malapetaka yang akan dibuat-Nya terhadap mereka seperti yang telah disampaikan-Nya. Ia pun tidak jadi melakukannya.

Kasih Tuhan yang Nyata

Meskipun Yunus gagal dan melarikan diri pada panggilan pertama, Allah tidak meninggalkannya. Firman Tuhan datang untuk kedua kalinya. Allah itu sabar. Dia memilih Yunus, bukan karena Yunus sempurna atau antusias, tetapi karena Allah berdaulat atas rencana penyelamatan-Nya. Jika Allah bergantung pada kesempurnaan kita, tidak ada seorang pun yang akan diutus.Yunus menyampaikan pesan penghakiman yang singkat: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan”. Pesan ini sepertinya keras, tetapi ada implikasi tersembunyi: Allah memberikan tenggat waktu 40 hari. Kasih Allah dapat menjangkau hati yang paling keras sekalipun. Niniwe adalah ibu kota kerajaan Asyur yang terkenal kejam, musuh Israel. Namun, mereka merendahkan diri. Ini mengingatkan kita bahwa tidak ada bangsa atau individu yang berada di luar jangkauan kasih dan anugerah Allah. Allah ingin menyatakan sifat-Nya yang pemaaf, bukan penghukum. Dia mengutus Yunus untuk menunjukkan bahwa belas kasihan-Nya tersedia bagi siapa saja yang berseru dan berbalik dari jalan jahat mereka. Allah lebih bersukacita melihat pertobatan daripada penghukuman. Kisah Niniwe mengajarkan kita bahwa fokus utama pemilihan kita sebagai orang percaya adalah untuk menjadi saluran kasih dan pengampunan Allah kepada dunia yang terhilang, bahkan kepada “musuh” kita. Allah rindu agar semua orang bertobat dan diselamatkan.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk kasih-Mu yang tak bersyarat untuk kami. Amin.

Jumat, 06 Februari 2026

bahan bacaan : Yohanes 15 : 18 – 19 (TB2)

Dunia membenci Yesus dan murid-murid-Nya
18 "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. 19 Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi, karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.

Kasih Yang Tidak Dibalas

Yohanes 15:18–19 menegaskan bahwa tindakan pemilihan oleh Kristus bukan sekadar penetapan identitas rohani, melainkan penugasan etis yang menempatkan murid dalam posisi sebagai wakil-Nya di tengah dunia. Frasa “Aku telah memilih kamu dari dunia” (ay. 19), harus dipahami sebagai panggilan relasional yang menuntut respons ketaatan konkret. Dengan kata lain, seorang murid harus mampu mengenal dirinya dalam hubungan dengan Kristus secara benar. Pemilihan dalam Injil Yohanes memang mengandung dimensi misi yakni para murid dipanggil keluar dari pola duniawi agar dapat memperlihatkan karakter Kristus melalui tindakan yang memuliakan Allah dan menghormati sesama. Tindakan itu berwujud dalam hidup yang penuh kasih, keterbukaan, dan kesediaan merendahkan diri, sehingga hubungan dengan orang lain menjadi ruang manifestasi ketaatan kepada Yesus. Dengan demikian, pemilihan bukanlah dasar superioritas atau membuat kita berbangga diri dan merasa hebat. Tetapi panggilan untuk menjalankan peran yang memperlihatkan kesetiaan dan integritas dalam komunitas. Bahkan, sekalipun karena ketaatan itu, harus mengalami penolakan dunia (ay. 18). Di tengah-tengah tantangan tersebut, kita harus tetap tetap mempertahankan etos kasih dan penghormatan terhadap sesama sebagai wujud kesetiaan kepada Sang Pemilih.. Ada ungkapan seperti ini : “Kasih menjalankan tugasnya bukan kepada mereka yang membalas, tetapi kepada mereka yang tidak membalas”. Hanya dengan demikian, kasih yang kita lakukan sebagai penyataan kasih Allah dapat dilihat, disadari dan membawa perubahan.

Doa: Tuhan, kuatkan kami untuk tetap mengasihi sekalipun dibenci. Amin.

Sabtu, 07 Februari 2026

bahan bacaan : Efesus 6 : 1-3 (TB2)

Taat dan kasih
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena demikianlah yang benar. ​2 Hormatilah bapakmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Kasih Anak Kepada Orang Tua

Penelitian perkembangan moral menunjukkan bahwa penghargaan dan kepatuhan dalam keluarga berkontribusi besar terhadap internalisasi nilai kasih, empati, dan tanggung jawab sosial. Ketaatan anak kepada orang tua bukan lagi dipahami sebagai mekanisme kontrol, tetapi sebagai latihan spiritual untuk membentuk karakter yang menghargai otoritas, relasi, dan komitmen. Paulus mengaitkan ketaatan anak dengan janji Allah, memperlihatkan bahwa relasi keluarga yang ditata dengan hormat merupakan bagian dari visi Allah untuk kesejahteraan umat. Dengan kata lain, penghormatan kepada orang tua sebagai tindakan yang memelihara shalom dalam keluarga dan dalam komunitas yang lebih luas. Bagi orang tua, khususnya ayah yang disebut Paulus dalam ayat lanjutannya, peran mereka sebagai pendidik rohani juga merupakan panggilan yang dipilih, bukan sekadar posisi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa relasi keluarga yang saling menghormati lahir ketika orang tua menjalankan otoritas dengan kasih, bukan dengan dominasi. Dengan demikian, penerapan Efesus 6:1–3 menuntut kedua pihak menjalankan perannya masing-masing sebagai respon terhadap kasih Allah, bukan tuntutan sepihak. Dalam kehidupan jemaat, pemahaman ini menolong komunitas Kristen membangun budaya saling menghormati antar generasi. Kita memulainya dari keluarga sebagai basis pembinaan iman yang menekankan kasih.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami sebagai anak-anak untuk setia mengasihi orang tua. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 25 – 31 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Pemeliharaan Tuhan atas Semua Ciptaan

Minggu, 25 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 147 : 1-20

Kekuasaan dan kemurahan TUHAN
Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. 2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. 5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi. 7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! 8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. 12 Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! 13 Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. 14 Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. 15 Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. 16 Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu. 17 Ia melemparkan air batu seperti pecahan-pecahan. Siapakah yang tahan berdiri menghadapi dingin-Nya? 18 Ia menyampaikan firman-Nya, lalu mencairkan semuanya, Ia meniupkan angin-Nya, maka air mengalir. 19 Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. 20 Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!

Pemeliharan Tuhan untuk Semua Ciptaan

Hidup kita hari ini sering diwarnai kekhawatiran mulai dari kesehatan hingga keuangan. Di saat yang sama, kita menyadari keagungan alam semesta, yang kadang terasa tak terjangkau. Mazmur 147 menghubungkan kedua hal ini: Allah yang mengurus alam semesta juga peduli pada detail kehidupan kita. Mazmur ini berisikan pujian sebagai respons tepat terhadap pemeliharaan Tuhan bagi semesta. Ia menutupi langit dengan awan, menyediakan hujan dan membuat rumput tumbuh di gunung. Dia juga memberi makan binatang liar dan anak burung gagak. Keseimbangan alam, yang begitu kompleks, adalah bukti dari manajemen sumber daya Allah yang sempurna. Jika Allah mengatur awan yang bergerak, salju yang turun, dan angin yang bertiup dengan hikmat-Nya yang sempurna, maka Dia pasti mengatur setiap elemen dalam hidup kita. Kita tidak perlu cemas. Kekuatan kita tidak terletak pada kegagahan kuda atau kaki manusia, tetapi pada Tuhan. Itulah kekuatan orang-orang yang takut akan Dia, orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Percayalah bahwa Allah yang menata seluruh ciptaan di semesta ini dengan detail, telah menata masa depan kita dengan kebaikan yang jauh lebih besar, syukurilah!

Doa: Tuhan, Engkau sungguh berkuasa dan berdaulat atas semesta ciptaanMu, amin.

Senin, 26 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 37 : 1-13

Kemuliaan Allah di alam semesta
"Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya. 2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya. 3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi. 4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran. 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya. 8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya. 9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara. 10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku. 11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya, 12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya. 13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia.

Kedaulatan Allah Dalam Kekacauan Semesta

Manusia modern berjuang untuk mengendalikan segalanya,  seperti mengendalikan cuaca melalui modifikasi iklim, mengendalikan informasi dan waktu. Namun, melalui fenomena yang tak terhindarkan seperti ketika penerbangan dibatalkan karena hujan dan badai, atau ketika bencana alam menghentikan seluruh aktivitas, itu adalah panggilan berhenti paksa agar kita merenungkan kebesaran-Nya, bukan kehebatan kita. Jika Allah mengatur petir, angin, salju, dan es dengan bijaksana, baik untuk mengingatkan atau demi kemurahanNya bagi alam semesta, maka tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang luput dari kendaliNya. Dalam nas ini Elihu mengajak Ayub untuk melihat kembali kepada alam semesta sebagai cermin kemuliaan dan pemeliharaan Allah. Ketika manusia tidak memahami jalan Tuhan, ciptaan menjadi pengingat bahwa Sang Pencipta tetap berkuasa dan memelihara segala yang ada. Ini mengingatkan kita untuk mengangkat kepala dan mengagumi Arsitektur yang agung dan jauh lebih canggih. Jika alam semesta yang begitu besar saja diatur-Nya, bagaimana mungkin hidup kita yang dikasihi-Nya, tidak Tuhan pelihara?

Doa: Terima kasih atas pemeliharaanMu yang sempurna bagi semesta ini, Tuhan. Amin.

Selasa, 27 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 37 : 14-24

14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. 15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? 16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, 17 hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? 18 Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? 19 Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan. 20 Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan? 21 Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca. 22 Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat. 23 Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. 24 Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya."

Allah, Penata Semesta

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, seringkali kita merasa cemas dan bertanya-tanya: Apakah ada rencana di balik kekacauan? Apakah ada kontrol di balik peristiwa yang tak terduga?. Elihu dalam nas ini menantang Ayub: “Dengarkanlah ini, hai Ayub, berdirilah dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah!” Ini adalah ajakan untuk Ayub menghentikan fokusnya pada penderitaannya dan merenungkan kemahakuasaan Allah yang memimpin alam semesta. Keagungan Tuhan melampaui batas pemikiran manusia. Jika Allah menata setiap detail formasi awan, kilat, dan cuaca dengan hikmat yang sempurna, maka Dia pasti menata setiap detail kehidupan dan masa depan kita dengan kebijaksanaan yang jauh lebih besar. Jangan biarkan ketidakpastian dunia membuat kita ragu akan kendali Tuhan. Tugas kita bukanlah memahami bagaimana Dia melakukannya, melainkan memercayai bahwa Dia melakukannya dengan adil dan hikmat. Bersandarlah pada kedaulatan-Nya, sebab Allah yang menata jagat raya tidak pernah membuat kesalahan dalam menata hidup anak-anak-Nya.

Doa Tuhan, kami percaya, tangan-Mu yang memegang alam semesta dan memeliharanya, juga memegang dan memelihara hidup kami, Amin.

Rabu, 28 Januari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 17 : 22 – 28

22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. 23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. 24 Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, 25 dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. 26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, 27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. 28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

 Allah Berkuasaatas Hidup Ciptaan-Nya

Paulus berbicara kepada orang-orang Atena tentang Allah yang berkuasa, Allah yang tidak tinggal dalam kuil buatan tangan manusia, tetapi Dia yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya. Paulus menegaskan bahwa Allah  yang memberi nafas hidup, dan segala sesuatu kepada manusia. Tidak ada satu pun  yang hidup di luar kuasa dan pemeliharaan Tuhan.  Ayat 28 adalah pengakuan iman yang mendalam: sebab seluruh ciptaan bergantung sepenuhnya kepada kekuasaan Allah. Ketika kita menyadari bahwa hidup kita ada dalam tangan Allah, kita diajak untuk hidup dengan rasa syukur dan hormat kepada-Nya. Hidup yang kita miliki dan seluruh ciptaan ada dalam genggaman kasih Allah. Karena itu, marilah kita hidup dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Jangan sombong dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Segala yang ada, nafas kita, kesehatan, berkat dan kesempatan adalah tanda bahwa Tuhan terus memelihara semesta. Tanpa pemeliharaanNya, keberadaan kita rapuh seperti debu. Maka, biarlah kita terus mensyukuri pemeliharaan-Nya dan memuliakan Tuhan karena Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Berdoa bukan memanggil Allah yang jauh, tetapi membuka hati kepada Dia yang sudah ada bersama kita.

Doa: Tuhan, Kami mengagumi kuasa dan pemeliharaan-Mu dalam hidup kami tiap hari, amin

Kamis, 29 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya  45 : 9 – 13

TUHAN adalah Pencipta
9 Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: "Apakah yang kaubuat?" atau yang telah dibuatnya: "Engkau tidak punya tangan!" 10 Celakalah orang yang berkata kepada ayahnya: "Apakah yang kauperanakkan?" dan kepada ibunya: "Apakah yang kaulahirkan?" 11 Beginilah firman TUHAN, Yang Mahakudus, Allah dan Pembentuk Israel: "Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepada-Ku mengenai anak-anak-Ku, atau memberi perintah kepada-Ku mengenai yang dibuat tangan-Ku? 12 Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya; tangan-Kulah yang membentangkan langit, dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya. 13 Akulah yang menggerakkan Koresh untuk maksud penyelamatan, dan Aku akan meratakan segala jalannya; dialah yang akan membangun kota-Ku dan yang akan melepaskan orang-orang-Ku yang ada dalam pembuangan, tanpa bayaran dan tanpa suap," firman TUHAN semesta alam.

Tangan Tuhan Berdaulat

Apakah hidup kita sudah mencerminkan rasa hormat dan tanggung jawab terhadap pemeliharaan ciptaan Tuhan?. Melalui firman hari ini, Tuhan menegur umat-Nya agar menyadari bahwa hanya Ialah Sang Pencipta dan Pemelihara sejati. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada di bawah kuasa-Nya. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta, tetapi jugaterus memeliharanya dengan kasih dan hikmat. Setiap matahari terbit, setiap tetes hujan, dan setiap hembusan angin adalah bukti bahwa tangan Tuhan masih bekerja dan tidak pernah meninggalkan kita. Manusia yang adalah ciptaanNya, hidup bukan untuk melawan Sang Pencipta, melainkan hidup selaras dengan kehendak-Nya. menjaga dan memelihara alam sebagai wujud syukur atas pemeliharaan Tuhan. Tuhan bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pemelihara yang setia. Jangan melawan kehendak-Nya, tetapi percayalah bahwa segala sesuatu berada dalam rancangan kasih-Nya. Mari kita jaga ciptaan Tuhan dengan rasa hormat dan tanggung jawab, sebab melalui kita, dunia dapat terus mencerminkan kemuliaan Sang Pencipta. Mari bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan ikut memelihara alam semesta yang dipercayakan kepada kita.

Doa: Tolong kami merawat ciptaan-Mu sebagai wujud syukur atas kasih-Mu. Amin

Jumat, 30 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 45 : 14 – 19

14 Beginilah firman TUHAN: "Hasil tanah dari Mesir dan segala laba dari Etiopia dan orang-orang Syeba, orang-orang yang tinggi perawakannya, akan pindah kepadamu dan menjadi kepunyaanmu, mereka akan berjalan di belakangmu dengan dirantai; mereka akan sujud kepadamu dan akan membujuk engkau, katanya: Hanya di tengah-tengahmu ada Allah, dan tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Allah! 15 Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat. 16 Tetapi tukang-tukang berhala harus mundur dengan penuh noda, semuanya akan mendapat malu dan kena noda juga. 17 Sedangkan Israel diselamatkan oleh TUHAN dengan keselamatan yang selama-lamanya; kamu tidak akan mendapat malu dan tidak akan kena noda sampai selamanya dan seterusnya." 18 Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, --Dialah Allah--yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, --dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami--:"Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain. 19 Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus."

Bumi Milik Tuhan 

Pemeliharaan Tuhan nyata dalam tatanan alam yang harmonis: matahari yang terbit setiap pagi, hujan yang menyuburkan tanah, dan udara yang memberi kehidupan bagi semua makhluk. Semua itu bukan kebetulan, tetapi tanda kasih dan kesetiaan Tuhan terhadap ciptaan-Nya. Sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya, kita dipanggil untuk menjaga dan merawat bumi ini sebagai bentuk partisipasi dalam karya pemeliharaan Allah. Dengan menghargai alam, kita sedang menghormati Sang Pencipta yang membuat dunia ini baik adanya. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta, tetapi juga terus memeliharanya agar menjadi tempat yang layak bagi kehidupan. Tuhan menciptakan bumi bukan untuk kehancuran, tetapi untuk kehidupan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kesadaran bahwa kita adalah bagian dari ciptaan yang dijaga oleh kasih Allah. Mari kita pelihara alam, bersyukur atas segala anugerah kehidupan, dan ikut menjadi alat Tuhan dalam menjaga keseimbangan ciptaan-Nya. Dengan demikian, dunia akan tetap menjadi tempat yang baik untuk didiami oleh kita sebagaimana kehendak Tuhan sejak semula.

Doa Tuhan Ajarlah kami untuk menghargai dan menjaga karya tangan-Mu dengan setia. Amin.

Sabtu, 31 Januari 2026

bahan bacaan : Nehemia 9 : 6 – 8

6 "Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu. 7 Engkaulah TUHAN, Allah yang telah memilih Abram dan membawanya keluar dari Ur-Kasdim dan memberikan kepadanya nama Abraham. 8 Engkau dapati bahwa hatinya setia terhadap-Mu dan Engkau mengikat perjanjian dengan dia untuk memberikan tanah orang Kanaan, tanah orang Het, tanah orang Amori, tanah orang Feris, tanah orang Yebus dan tanah orang Girgasi kepada keturunannya. Dan Engkau telah menepati janji-Mu, karena Engkau benar.

Bersyukurlah! Tuhan Memelihara Kehidupan Semesta

Bacaan ini merupakan bagian dari doa umat Israel yang dipimpin oleh Nehemia setelah mereka kembali dari pembuangan. Dalam doa itu, umat mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh ciptaan. Bukan hanya manusia, tetapi seluruh alam semesta  langit, bumi, laut, dan segala isinya  berada di bawah kasih dan pemeliharaan Tuhan. Nehemia menegaskan bahwa Allah bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pemberi hidup. Ia tidak meninggalkan ciptaan-Nya begitu saja, melainkan terus bekerja menjaga keseimbangan kehidupan. Matahari yang terbit setiap pagi, udara yang kita hirup, hujan yang menyuburkan bumi  semuanya adalah bukti kasih setia Tuhan yang terus bekerja tanpa henti bagi kehidupan ini. Pemeliharaan Tuhan terlihat bukan hanya dalam ciptaan alam, tetapi juga dalam perjalanan umat-Nya. Kepada Abraham, Tuhan berjanji dan menepati janji itu. Ia menuntun langkah Abraham dan keturunannya. Demikian pula kepada kita hari ini, Tuhan tetap setia memelihara kehidupan kita  dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan. Satu bulan telah kita lalui dalam pemeliharaan-Nya, mari datang bersyukur kepada Tuhan. Jangan biarkan kekhawatiran dunia membuat kita lupa akan tangan Tuhan yang bekerja diam-diam memelihara segalanya. Pujilah Tuhan!.

Doa Tuhan, terima kasih atas pemeliharaan-Mu di bulan Januari ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Percayalah Kepada Tuhan, Engkau dan Seisi  Rumahmu Selamat

Minggu, 18 Januari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 16 : 19 – 34 

Kepala penjara Filipi
19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa. 20 Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: "Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, 21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya." 22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. 23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. 24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. 25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. 26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. 27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. 28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!" 29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. 30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" 31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." 32 Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. 33 Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. 34 Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.

Hanya Tuhan Sumber Selamat bagi Seisi Rumah

Nas bacaan hari ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya Tuhan yang mengalir dari iman seseorang dan berdampak pada seluruh isi rumah. Penjaga penjara hampir bunuh diri karena mengira para tahanan melarikan diri. Namun paulus menahannya, ”jangan celakakan dirimu”. Kebaikan itu membuka pintu pertobatan dan keselamatan. Melalui Paulus dan Silas yang memberitakan firman kepada penjaga penjara dan semua orang yang di rumahnya, malam itu juga mereka dibaptis dan mengalami sukacita besar. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga pemulihan keluarga. Firman ini mengingatkan kita, Tuhan menginginkan rumah-rumah kita menjadi tempat dimana kita berdoa, mendengarkan firman dan sukacita Kristus berlangsung, sehingga setiap anggota keluarga mengalami damai sejahtera dan keselamatan.  Apapun keadaan keluarga kita saat ini, bahagia, bermasalah, lemah dan retak atau jauh dari Tuhan, firman Tuhan ini berkata: selama ada yang percaya, selalu ada harapan bagi seisi rumah. Jadilah alat keselamatan bagi keluarga kita melalui kesaksian hidup, kasih dan doa. Ingatlah selalu, Tuhan sanggup menyelamatkan setiap rumah yang percaya kepada-Nya.

Doa: Terima kasih Tuhan untuk keselamatan bagi seisi keluargaku, Amin.

Senin, 19 Januari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 6 : 6 – 14

6 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. 7 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. 8 Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. 9 Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" 10 Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. 11 Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. 12 Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. 13 Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. 14 Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.

Mengalami Berkat Tuhan Karena Menopang Pelayanan

Dalam pengalaman melayani, ada saja orang baik yang turut menopang tugas pelayanan. Mereka mengorbankan waktu, pikiran,tenaga dan apapun talenta yang dimiliki. Seperti Obed-Edom yang tidak menolak ketika daud menitipkan Tabut Allah-simbol kehadiran Allah di rumahnya. Ia menjaga dan merawat Tabut Allah itu selama tiga bulan. Ketaatan dan kesetiaan dalam menunaikan kepercayaan yang diberikan Daud telah menggerakan Allah untuk mengaruniakan berkat keselamatan bagi Obed-Edom dan seisi rumahnya. Dalam 1 Tawarikh 15 dikatakan, anak-anak Obed-edom aktif menjadi pelayan di rumah Tuhan sebagai penyanyi, penjaga pintu gerbang dan pemain alat musik. Di sinilah  kita belajar bahwa rumah yang terbuka bagi pekerjaan Tuhan adalah rumah yang akan menikmati berkat Tuhan. Bukan hanya berkat materi, tetapi damai dan sukacita serta pemeliharaan Tuhan. Keluarga yang menyediakan diri menopang pekerjaan Tuhan apapun bentuknya, adalah keluarga yang melihat tangan Tuhan bekerja dalam hidup mereka. Jadi selagi masih ada kesempatan layanilah Tuhan dengan terus menopang tugas- tugas pelayanan yang dipercayakan.

Doa: Tuhan, kiranya rumah kami terbuka untuk menopang pelayanan, Amin.

Selasa, 20 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 19 : 15 – 23

15 Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: "Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini." 16 Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. 17 Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." 18 Kata Lot kepada mereka: "Janganlah kiranya demikian, tuanku. 19 Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku. 20 Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara." 21 Sahut malaikat itu kepadanya: "Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan. 22 Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana." Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar. 23 Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar.

Tuhan Memelihara Keluarga yang Beriman

Lot bukanlah orang yang sempurna. Dia memiliki banyak kelemahan, termasuk keputusan awalnya untuk tinggal di lingkungan Sodom yang tidak benar. Namun, Tuhan menyelamatkannya karena “mengasihani dia” dan Ia mengingat Abraham. Pemeliharaan Tuhan datang dengan syarat ketaatan yang jelas dan mendesak. Malaikat-malaikat Tuhan memerintahkan Lot dan keluarganya untuk segera keluar dari Sodom dan tidak menoleh ke belakang. Ancaman kematian menjadi nyata jika mereka melanggar perintah tersebut dan itulah yang dialami oleh isteri Lot. Ketaatan menjadi jalan keselamatan. Kisah ini bukan sekedar cerita tentang pelarian sebuah keluarga dari kota yang binasa, tetapi ini kesaksian iman bagaimana Allah menopang dan memelihara keluarga dari ancaman kematian. Jika keluarga terus berjalan bersama Tuhan, mendengarkan suaraNya dengan taat, maka apapun yang terjadi pemeliharaan Tuhan akan dinikmati. Banyak keluarga mengalami kehancuran karena memilih menoleh ke belakang, kembali ke kebiasaan lama, kehidupan lama yang penuh dosa. Kiranya setiap keluarga akan hidup dalam kesadaran ini, Tuhan sendiri yang akan menjadi pemelihara keluarga kita. Taatlah kepadaNya!

Doa: Tuhan, keluarga kami mau hidup selalu dalam iman dan ketaataan kepada-Mu. Amin.

Rabu, 21 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 26 : 23-33

23 Dari situ ia pergi ke Bersyeba. 24 Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu." 25 Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. 26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" 28 Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN." 30 Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. 31 Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. 32 Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air." 33 Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.

Tuhan Memberkati Keluarga Turun-temurun

Kehadiran Tuhan adalah jaminan pemeliharaan tertinggi. Ketika Ishak pindah ke Bersyeba, Tuhan menampakkan diri kepadanya pada malam hari dan berkata, “Akulah Allah ayahmu Abraham. Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan memperbanyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.” Tuhan menegaskan kembali perjanjian yang dibuat-Nya dengan Abraham berlaku juga untuk Ishak dan keturunannya. Abimelekh, raja orang Filistin, datang menemui Ishak dan mengakui, “Memang kami lihat, bahwa Tuhan menyertai engkau”. Pengakuan ini menunjukkan berkat dan pemeliharaan Tuhan atas Ishak terlihat nyata oleh bangsa-bangsa di sekitarnya. Ishak dan Abimelekh mengikat perjanjian damai, yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memelihara Ishak dalam konflik, tetapi juga memberinya kedamaian dan keamanan di negeri asing tersebut dan memastikan kelangsungan hidup keluarganya.  Pengalaman iman yang dijalani hari ini dalam keluarga, adalah pupuk bagi iman generasi berikutnya. Tuhan yang memelihara dan memberkati kita, juga rindu memelihara dan memberkati anak cucu kita. Ceritakanlah kepada anak-anak apa yang Tuhan sudah lakukan, sebab itu meneguhkan iman generasi berikutnya. Kesetiaan Tuhan adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan dalam keluarga.

Doa: Tuhan, berkatilah keluarga kami turun temurun, Amin.

Kamis, 22 Januari 2026

bahan bacaan : Keluaran 2 : 1-10

Musa lahir dan diselamatkan
Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; 4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. 5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. 6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani." 7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" 8 Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. 10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."

Tuhan memeliharaKeluarga yang Saling Menolong

Orangtua Musa, Amram dan Yokhebed, menunjukkan iman yang besar dengan menyembunyikan bayi Musa selama tiga bulan. Mereka menentang perintah Firaun untuk membunuh semua bayi laki-laki Ibrani. Ketika tidak bisa menyembunyikannya lagi, mereka membuat rencana dengan iman, yaitu meletakkan bayi itu dalam peti pandan di sungai Nil, mempercayakan nasibnya kepada Tuhan. Miryam, kakak perempuan Musa, memainkan peran penting dalam pemeliharaan ini. Ia tidak hanya mengawasi peti berisi adiknya dari kejauhan, tetapi juga bertindak cepat dan bijaksana ketika putri Firaun menemukan bayi itu. Miryam dengan berani menawarkan untuk memanggilkan seorang inang penyusu dari kalangan perempuan Ibrani. Tawaran Miryam diterima, ibu kandung Musa sendiri akhirnya dipekerjakan untuk menyusui dan merawat anaknya dengan upah dari putri Firaun. Ketika kita sebagai keluarga, suami istri, orang tua anak, atau adik kakak bekerja sama, saling mendukung, dan bertindak dengan iman di tengah tantangan hidup, kita membuka jalan bagi pemeliharaan Tuhan untuk bekerja dengan cara yang ajaib. Tuhan memberkati persatuan dan kasih dalam keluarga. Dia memakai ikatan tersebut sebagai alat-Nya untuk melindungi dan memberkati semua ciptaan-Nya di bumi.

Doa: Tuhan, Terima kasih untuk pemeliharaan-Mu bagi keluarga kami. Amin.

Jumat, 23 Januari 2026

bahan bacaan : Ulangan 12 : 1-7

Satu tempat ibadah
"Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi. 2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. 3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu. 4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. 5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. 6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. 7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

Tuhan Menaungi Keluarga yang Taat dan Setia

Nas bacaan ini merupakan pengingat bagi umat Israel ketika mereka akan memasuki tanah perjanjian. Tuhan menegaskan bahwa berkat yang akan mereka terima sangat berkaitan dengan ketaatan dan kesetiaan untuk hidup sesuai kehendak-Nya. ada tiga hal yang berkaitan dengan hal itu: umat harus menghancurkan berhala, mau menyembah Tuhan dan menguduskan persembahan bagi-Nya. Semua itu bersumber pada satu hal: hidup yang setia kepada Tuhan.Di zaman skarang, berhala tidak selalu berupa patung, tetapi hal-hal yang mendominasi hati dan gaya hidup yang membuat Tuhan tersisih.  Keluarga yang taat dan setia memilih untuk tetap fokus kepada Tuhan, menggunakan segala sesuatu dengan bijak tanpa diperbudak olehnya. Marilah kita berkomitmen untuk membangun keluarga yang demikian. Jujur dalam melakukan apapun, menghindari tindakan yang kurang baik atau merusak, menjaga hati dari keinginan tercela dan sebagainya. Ketika keluarga mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan, maka Tuhan sendiri yang akan memelihara, menguatkan dan memberkati. Kesetiaan membawa damai, keutuhan dan sukacita yang tidak bisa diberikan dunia.

Doa: Tuhan, tolong keluarga kami hidup taat dan setia kepadaMu. Amin.

Sabtu, 24 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 35 : 1-5

Yakub di Betel untuk kedua kalinya
Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." 2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. 3 Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." 4 Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. 5 Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar.

Tuhan Tempat Perlindungan

Keluarga-keluarga kita hari ini menghadapi banyak krisis, mulai dari pengaruh digital negatif hingga tekanan kebutuhan ekonomi. Seperti keluarga Yakub yang baru saja melalui krisis di Sikhem. Ia takut diserang bangsa-bangsa sekitar karena tindakan anak-anaknya. Allah menegur dan memanggil Yakub untuk kembali ke Betel, tempat perjanjian. Yakub meresponsnya dengan bijaksana. Ia memerintahkan pemurnian total seisi rumah tangganya: menjauhkan dewa asing dan mentahirkan diri. Seluruh keluarga, termasuk anak-anak, berpartisipasi dalam menguburkan patung dewa-dewa di bawah pohon.Tindakan kolektif ini menegaskan bahwa takut akan Tuhan adalah komitmen yang harus dipegang seluruh keluarga. Apa hasil dari ketaatan keluarga ini? Pemeliharaan dan kedahsyatan dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Esau tidak berani mengejar anak-anak Yakub.” Firman ini mengingatkan kita sebagai keluarga, ketika hidup mengalami banyak masalah dan krisis. Tuhan mengundang kita untuk kembali kepada-Nya. Untuk itu, ada hal-hal yang perlu “dikubur” agar hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan dan dijaga: kebiasaan yang buruk, hati yang kera atau dosa yang kita simpan diam-diam. Saat melangkah dalam ketaatan, Tuhan sendiri menjaga dan menuntun langkah kita dan seisi keluarga.

Doa: Tuhan, pagarilah keluarga kami dalam kasihMu, amin

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Aku adalah Aku: Kemuliaan Allah Membebaskan Hidupmu

Minggu, 11 Januari 2026

bahan bacaan : Keluaran 3 : 1 – 15

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." 5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." 6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." 11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" 12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." 13 Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?" 14 Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." 15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Aku adalah Aku: Kemuliaan Allah Membebaskan Hidupmu

Musa tidak sedang mencari Tuhan ketika semak itu menyala. Ia hanya menjalani hari-hari biasa sebagai gembala, di padang gurun yang sunyi. Namun justru di ruang keseharian yang tampak berulang itu Tuhan memanggil. Banyak orang mengira kemuliaan Allah hadir dalam peristiwa besar. Padahal sering kali Ia menyentuh kita melalui ruang keseharian kita: kelelahan yang kita rasakan, pergumulan yang kita pendam, atau rasa tidak mampu yang kita sembunyikan. Di sanalah Tuhan menyatakan diri-Nya. Ketika Ia berfirman, “Aku adalah Aku,” itu berarti Allah hadir bukan karena keadaan kita, tetapi karena sifat-Nya yang setia. Kemuliaan Allah bukan sekadar cahaya surgawi, tetapi kesediaan-Nya turun tangan membebaskan manusia dari penindasan dan tekanan hidup. Jika hari ini hidup terasa berat, ingatlah: Allah yang memanggil Musa adalah Allah yang memanggil kita. Ia mendengar, Ia peduli, Ia bertindak. Ia mengutus kita membebaskan kehidupan orang lain pula dari berbagai belenggu yang membuatnya tidak dapat menikmati kehidupan ini secara baik dan berkualitas. Ketika Allah mengutus, Ia menyertai.

Doa: Tuhan, Hadirlah dan Tolonglah Kami. Amin.

Senin, 12 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 116 : 6 – 7 

6 TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. 7 Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.

Tuhan Memelihara Orang yang Sederhana

Pemazmur menyebut dirinya “orang sederhana,” bukan karena ia kurang kemampuan, tetapi karena ia memilih hidup jujur dan apa adanya di hadapan Tuhan. Ia tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dunia menuntut kita untuk selalu tampak kuat, tetapi Mazmur ini mengingatkan bahwa justru ketika kita mengakui ketidakberdayaan, Tuhan bertindak. Kesederhanaan hati bukan kelemahan, melainkan ruang yang memungkinkan kasih Tuhan bekerja. Sebab itu seperti pemazmur, kita dapat berkata kepada diri kita: “Kembalilah tenang, hai jiwaku.” Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, tenang bukan berarti tidak ada persoalan, atau masalah hilang, tetapi karena kita tahu kepada siapa kita bersandar. Tuhan tetap sama. Hari ini, mari bekerja dengan meminta kekuatan dari Tuhan, dan bila malam telah tiba bersyukur serta beristirahatlah dalam pemeliharaan Tuhan. Kita tidak perlu kuat setiap waktu. Cukuplah hidup jujur di hadapan Tuhan. Ia tidak mengecewakan hati yang jujur. Tuhan ingin kita selalu mengingat kebaikanNya, agar hati kita kembali tenang.

Doa: Terima kasih Tuhan karena Engkau memelihara orang lemah dan sederhana, Jiwaku sungguh tenang Tuhan. Amin.

Selasa, 13 Januari 2026

bahan bacaan : 1 Raja – Raja 17 : 1 – 6

Elia di tepi sungai Kerit
Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan." 2 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: 3 "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 4 Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana." 5 Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

Tuhan Menyediakan Kebutuhanmu

Eia berada di tengah masa krisis. Namun Tuhan memeliharanya melalui cara yang tidak terduga: burung gagak mengantarkan roti dan daging setiap hari. Tuhan sering bekerja melalui jalan yang tidak kita bayangkan. Hal itu terjadi melalui kesempatan kecil yang tiba-tiba muncul, seseorang yang menolong tanpa alasan, atau kekuatan hati yang tiba tanpa kita sadari. Pemeliharaan Allah tidak selalu megah, tetapi selalu cukup. Dalam hidup kita, ada masa ketika sumber daya tampak menipis dan harapan terasa jauh. Teks ini mengingatkan kita bahwa Tuhan menyediakan secukupnya setiap hari. Ia tidak pernah kehabisan cara untuk menolong. Tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Cukup untuk hari ini. Itu pun adalah anugerah yang limpah. Bersyukurlah atas limpahnya pemeliharaan Tuhan dan ingatlah ketika keadaan hidup menjadi sulit, percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan. Tidak ada masalah tanpa pemeliharaanNya.

Doa: Cukupkan keperluan kami hari ini Tuhan. Amin.

Rabu, 14 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 46 : 3 – 4

3 "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. 4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Tuhan Memelihara Sampai Masa Putih Rambut

Firman ini sungguh menyentuh: Tuhan memikul kita sejak dalam kandungan, dan menggendong sampai masa rambut memutih. Ini bukan janji yang bersyarat. Ini pernyataan kasih yang berlangsung seumur hidup. Tidak ada musim hidup, masa muda, sibuk bekerja, menjadi orang tua, atau memasuki lanjut usia, di mana Tuhan berhenti memelihara. Kita sering cemas tentang masa depan. Tentang kesehatan, anak, biaya hidup, atau hari tua. Namun Tuhan mengingatkan bahwa pemeliharaan-Nya bukan hanya hari ini, tetapi sampai akhir perjalanan hidup. Jika rambut memutih menandai waktu yang berjalan, maka itu juga menandai kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berkurang. Di saat kita mudah berubah, kasih Tuhan tidak pernah bergeser dan berubah. Bersyukurlah jika kita masih diberi waktu hingga memutih rambut, sebab itu bukti kasih Tuhan yang menanggung, memikul, menggendong dan menyelamatkan. Percayakan kendali hidup kita kepada Allah yang lebih tahu jalan-jalan hidup ke depan. Dalam gendongan Tuhan kita aman dan selamat.

Doa: Tuhan, terima kasih, Engkau Setia Selalu sepanjang hidup kami. Amin.

Kamis, 15 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 55 : 23 – 24

22 (55-23) Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. 23 (55-24) Tetapi Engkau, ya Allah, akan menjerumuskan mereka ke lubang sumur yang dalam; orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya. Tetapi aku ini percaya kepada-Mu.

Jangan Khawatir, Tuhan Memeliharamu

Pemazmur mengajak kita menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan. Kekhawatiran sering membuat kita merasa harus mengendalikan segalanya. Namun iman mengajak kita untuk membiarkan Tuhan menopang hidup kita. Menyerahkan kekhawatiran bukan berarti pasrah tanpa upaya. Itu adalah keberanian untuk percaya bahwa kita tidak berjalan sendiri. Pemeliharaan Tuhan berarti Ia tidak membiarkan kita jatuh sampai tergeletak. Setiap langkah kita ditopang tangan-Nya. Ia menanggung dan memastikan kita tetap berdiri. Kita mungkin tidak selalu melihatnya, tetapi kita hidup di dalam penjagaan-Nya. Hari ini, kita cukup mengatakan: “Tuhan, aku percaya Engkau memegang dan memeliharaku, bahkan melepaskanku dari orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan bagiku.” Itu wujud percaya kita untuk melanjutkan kehidupan ini.

Doa: Kuserahkan Hidupku padaMu, Tuhan yang mengasihi dan memeliharaku, Amin.

Jumat, 16 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 45 : 20 – 21

Seruan kepada bangsa-bangsa supaya kembali kepada TUHAN
20 "Berhimpunlah dan datanglah, tampillah bersama-sama, hai kamu sekalian yang terluput di antara bangsa-bangsa! Tiada berpengetahuan orang-orang yang mengarak patung dari kayu dan yang berdoa kepada allah yang tidak dapat menyelamatkan. 21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!

Jangan Gantikan Allah Dengan Baal

Sampai saat ini masih banyak orang yang menggantungkan pertolongan kepada kuasa yang berasal dari dalam dunia. Berbagai macam syarat dan ritual harus dipenuhi sebagai jalan untuk memperoleh apa yang diidamkan. Mereka beranggapan bahwa semua itu memiliki kuasa yang dapat dijadikan sebagai berhala. Tapi mereka lupa bahwa tindakan ini dapat menyeret mereka masuk dalam kesesakan. Pada kenyataannya sejak bumi dan segala isinya dijadikan Allah telah menyatakan kemuliaanNya bahkan lebih dari pada itu kemuliaan Allah dinyatakan melalui kedatangan Yesus Kristus yang olehnya manusia diselamatkan.Terhadap mereka yang membuat patung berhala dan menyembah kepadanya Allah menyebut mereka sebagai yang tidak berpengetahuan karena sesungguhnya patung kayu buatan manusia tidak memiliki kuasa unutuk menyelamatkan. Allah tidak menghendaki kebinasaan sebab itu Ia menghendaki mereka kembali. Tindakan Allah ini mendorong semua kita mengaktakan iman percaya yang teguh kepada Allah dan selamanya tak akan tergantikan dengan baal–baal zaman ini. Ingatlah bahwa sejak zaman purbakala dan memberitahukannya sejak zaman dahulu  bahwa tidak ada Allah selain daripadaku Allah yang adil dan juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Pantaskah kita ragu dan mencari penolong yang lain, selain Allah Pencipta dan Pemelihara hidup ini? 

Doa: Tuhan aku tetap percaya hanya Engkau Allah Sumber selamat yang mulia, Amin.

Sabtu, 17 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 10 : 8 – 12 

8 Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? 9 Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali? 10 Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju? 11 Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat. 12 Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.

Pemeliharaan-Mu sempurna, Aku tetap bertahan

Diam dan merenung, pergi dan  berlari sejauh mungkin, merintih dan menangis, bahkan tidak sedikit yang larut dalam kekecewaan, putus asa dan hilang pengharapan saat kesukaran dan penderitaan menerpa kehidupan. Ketika membaca nas ini, kita dibawa masuk ke dalam pergumulan hati Ayub. Ia sedang berada dalam titik gelap hidupnya: kehilangan, kesakitan dan kesunyian. Namun, diantara keluh kesahnya, terselip satu pengakuan iman: Ayub tahu bahwa hidupnya berasal dari Allah. Sebab itu ia melihat kembali pemeliharaan Tuhan sejak awal hidupnya. Meski penuh airmata, Ayub melihat satu fakta yang tidak berubah: hidup adalah anugerah dan kasih setia Tuhan tidak berubah. Pengakuan iman bahwa hidup adalah anugerah dan kasih setia Tuhan tidak berubah akan membuat kita senantiasa bersyukur. Termasuk bersyukur dikala kita ada dalam penderitaan. Setiap penderitaan dalam hidup dapat menjadi cara Tuhan membentuk kita untuk semakin bertumbuh dewasa di dalam iman. Oleh karena itu tetaplah percaya Tuhan sebab Ia setia menopang dan menolong.

Doa : Terima kasih telah membuatku bertahan dan kuat di tengah penderitaan, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 04 – 10 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Tuhan Mengasihi dan Memelihara Orang Benar, Bersukacitalah!

Minggu, 04 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 97 : 1-12

TUHAN adalah Raja
TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! 2 Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. 3 Api menjalar di hadapan-Nya, dan menghanguskan para lawan-Nya sekeliling. 4 Kilat-kilat-Nya menerangi dunia, bumi melihatnya dan gemetar. 5 Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. 6 Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. 7 Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepada-Nya. 8 Sion mendengarnya dan bersukacita, puteri-puteri Yehuda bersorak-sorak, oleh karena penghukuman-Mu, ya TUHAN. 9 Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah. 10 Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik. 11 Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. 12 Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.

Kasih dan Pemeliharaan Tuhan Menghadirkan Sukacita

Apa yang membuat orang percaya kuat dalam menjalani hidup sehari-hari? Sukacita! Ya, sukacita harus menjadi bagian dari hidup kita. Ini mungkin terasa sulit bagi kita karena ada begitu banyak masalah yang terkadang membuat sukacita menjadi hilang. Jadi, bagaimana kita dapat bersukacita? Jawabannya ada pada ayat terakhir bacaan ini; “Bergembiralah karena Tuhan, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus”. Tuhan adalah sumber sukacita kita. Pemazmur menyatakan bahwa ketika Tuhan memerintah, seluruh bumi dipanggil untuk bersukacita. Namun sukacita itu bukan karena keadaan dunia yang selalu baik, melainkan karena Pribadi yang memerintah: Allah yang adil, kudus dan setia. Oleh karena itu, kepada Allah saja kita patut bersyukur. Jika tahun yang lalu pemeliharaan Tuhan sempurna atas hidup kita, atas pelayanan gereja ini. Itu semua karena kasih Tuhan. Maka kita pun yakin, di tahun yang baru ini kasih Tuhan pun akan menyertai kita. Kekuatan baru dan sukacita telah kita miliki dari Tuhan Yesus yang rela berkorban demi kita. Mantapkan langkah, bencilah kejahatan dan teruslah setia.

Doa: Terima kasih Tuhan buat kasih dan pemeliharaanMu bagi hidup kami. Amin.

Senin, 05 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 1-6

Puji-pujian atas segala perbuatan Allah di masa lampau
Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! 2 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! 3 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! 4 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! 5 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, 6 hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!

Bersyukur dan Memuji Tuhan Karena PemeliharaanNya

Mazmur 105:1-6 berisikan ajakan untuk bersyukur yang lahir dari ingatan akan karya Allah. Bangsa Israel mengalami pemeliharaan Allah dari perbudakan di Mesir sampai masuk ke tanah perjanjian. Pemazmur mengundang umat untuk memuji Tuhan, bersyukur dan menceritakan perbuatanNya yang ajaib. Perbuatan Allah layak diceritakan: kasih-Nya, pemeliharaan-Nya, penyertaan-Nya, kuasa-Nya. Ketika kita bercerita tentang Tuhan, sebenarnya kita sedang meneguhkan diri sendiri dan menguatkan orang lain. Itulah yang harus kita lakukan, menjadi pembawa kabar baik karena kita pun telah mengalami karya Allah dalam hidup. Karena itu, tidak ada kata lain yang terucap dari mulut kita selain “Syukur kepada Tuhan”. Sepanjang tahun ini tentu akan ada banyak hal kita alami, namun yang pasti mengingat perbuatan Tuhan adalah fondasi iman kita. Ketika kita mengingat bagaimana Tuhan menolong kita, bagaimana Tuhan mengampuni, bagaimana Tuhan membuka jalan, bagaimana Tuhan memelihara, maka kita kembali diteguhkan bahwa Allah yang menolong dahulu, adalah Allah yang sama hari ini. Maka tanpa dipaksa, dengan hati yang penuh syukur, ceritakanlah kebaikan Tuhan sepanjang hidup kita.

Doa: Syukur dan terima kasih ya Tuhan atas kasih dan pemeliharaanMu. Amin.

Selasa, 06 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 7-11

7 Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. 8 Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, 9 yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak; 10 diadakan-Nya hal itu menjadi ketetapan bagi Yakub, menjadi perjanjian kekal bagi Israel, 11 firman-Nya: "Kepadamu akan Kuberikan tanah Kanaan, sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu."

 Allah Pelihara

Kita masuk di awal tahun ini dengan membawa banyak pertanyaan. Seperti apakah hidup kita di tahun ini? Mungkinkah kita bahagia? Mungkinkah masalah kita terselesaikan? Mungkinkah rumah tangga kita bersatu kembali? Mungkinkah masa depan anak-anak kita menjadi jauh lebih baik? dan sejumlah pertanyaan lain. Kita harus mengakui bahwa tidak ada hal apapun yang bisa dijadikan sebagai pegangan kita dalam menjawab semua pertanyaan itu. Namun sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa Tuhan pasti pelihara kita. Kita tahu dalam satu perjanjian Allah berjanji untuk memberi Abraham banyak keturunan dan tanah yang dapat menjadi milik pusaka mereka. Janji ini diulangi lagi kepada Ishak dan kepada Yakub. Dalam perjanjian yang kedua, Allah memberi Hukum Taurat kepada Musa dan orang Israel di Sinai. Sebagai bagian dari ikatan perjanjian itu, Israel harus taat dan hanya menyembah kepada Tuhan Allah. Kita pun diajak melalui teks ini untuk mengingat pemeliharaan Allah yang setia pada perjanjian-Nya bagi sekian generasi. Maka, masuki tahun baru ini dengan sukacita karena ada jaminan pemeliharaan Tuhan. Bangunlah hidup yang bersandar pada janji Tuhan, bukan pada perasaan atau keadaan. Ingat kembali karya Tuhan dalam hidup pribadi, keluarga dan jemaat dan teruskan warisan iman itu kepada generasi anak cucu kita. Jangan mudah lupa atau berubah. Responilah kesetiaan Tuhan dengan ketaatan.

Doa: Tuhan Yesus pelihara dan berkatilah hidup kami di tahun yang baru ini, Amin

Rabu, 07 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 12-15

12 Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, 13 dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain, 14 Ia tidak membiarkan seorangpun memeras mereka, raja-raja dihukum-Nya oleh karena mereka: 15 "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku!"

Tuhan Pembela yang Setia

Pernahkah kita merasa terpojok karena diperlakukan tidak baik oleh orang lain? Pastinya perasaan kita sangat tidak enak. Kita merasa dipermalukan, tetapi juga  bingung sebab kita tidak tahu kemana harus mengadu. Hal yang lebih menyakitkan dari situasi ini adalah ketika tidak ada seorangpun yang bersama kita. Tidak ada yang membela kita. Hari ini ada kabar sukacita yang disampaikan kepada kita. Bacaan ini memberikan kepada kita pengharapan. Tuhanlah pembela kita. Allah memerintahkan Abraham meninggalkan rumahnya sehingga ia dan keturunannya tidak mempunyai tempat tinggal sampai mereka memasuki tanah Kanaan. Perlindungan Allah sangat terlihat dalam cerita Abraham dan raja Abimelek. Allah tampil sebagai Pembela dan tidak membiarkan umat pilihan-Nya diperlakukan sewenang-wenang. Walau jumlah tidak seberapa dan harus mengembara awalnya, namun Allah bersama mereka. Allah membela mereka dengan cara-Nya. SabdaNya: ”jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku.” Kita juga adalah orang-orang yang diurapi Tuhan. Kita beroleh kemurahan hati Tuhan.Hidup yang berubah-ubah, tidak membatalkan penyertaan Tuhan.  Atas dasar itu maka jangan takut ketika merasa kecil dan tidak dianggap atau dibela. Kita mempunyai pembela yang tidak bisa dikalahkan. Namanya adalah Tuhan.

Doa: Tuhan Yesus jadilah Pembela bagi kami, Amin

Kamis, 08 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 16-22

16 Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, 17 diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. 18 Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, 19 sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. 20 Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. 21 Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya, 22 untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya.

Tangan Tuhan Pelihara

Hari ini adalah batas akhir pengumpulan uang semester Jefry. Ia telah menyampaikan informasi itu pada hari Selasa kepada kedua orangtuanya. Tetapi papa dan mamanya berkata bahwa keuangan mereka tidak cukup untuk membayar. Uang mereka telah terpakai untuk membayar angsuran motor pada hari Senin. Jefry kecewa dan mulai putus asa tetapi ia berusaha menenangkan diri. Ia berdoa memohon pertolongan Tuhan. Ayah dan ibunya menyarankan ia meminta keringanan dari kampus. Tiba-tiba Jefry dihubungi oleh dosennya. Rupanya dosennya meminta Jefry untuk datang ke rumahnya agar mengecat rumah dosennya dan ia diberi uang yang dapat membantunya membayar uang kuliah. Pemeliharaan Tuhan memang kadangkala tidak dapat kita bayangkan. Mazmur ini memperlihatkan kebenaran itu. Tuhan memelihara hidup umat di waktu kesusahan dengan cara-Nya. Salah satunya adalah Tuhan memakai orang lain sebagai tangan-Nya untuk menolong. Teks hari ini mengingatkan umat akan peristiwa kelaparan dan kehadiran Yusuf di Mesir sebagai penyelamat mereka. Yusuf sebelumnya dijual oleh saudara-saudaranya. Ia juga mendapatkan fitnah dari istri Potifar. Tetapi ternyata Tuhan menyiapkan Yusuf untuk menolong umat Israel ketika kelaparan melanda. Jefry ditolong Tuhan melalui dosennya. Ia akhirnya bisa membayar uang semester. Maka ingatlah, Tuhan dapat memakai orang lain menjadi tangan-Nya untuk memelihara hidup kita. Bersyukur dan bersukacitlah!.

Doa: Terima kasih Tuhan karena ada oranglain yang jadi tanganMu untuk menolongku, Amin

Jumat, 09 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 23-36

23 Demikianlah Israel datang ke Mesir, dan Yakub tinggal sebagai orang asing di tanah Ham. 24 TUHAN membuat umat-Nya sangat subur, dan menjadikannya lebih kuat dari pada para lawannya; 25 diubah-Nya hati mereka untuk membenci umat-Nya, untuk memperdayakan hamba-hamba-Nya. 26 Diutus-Nya Musa, hamba-Nya, dan Harun yang telah dipilih-Nya; 27 keduanya mengadakan tanda-tanda-Nya di antara mereka, dan mujizat-mujizat di tanah Ham: 28 dikirim-Nya kegelapan, maka hari menjadi gelap, tetapi mereka memberontak terhadap firman-Nya; 29 diubah-Nya air mereka menjadi darah, dan dimatikan-Nya ikan-ikan mereka. 30 Katak-katak berkeriapan di negeri mereka, bahkan di kamar-kamar raja mereka; 31 Ia berfirman, maka datanglah lalat pikat, dan nyamuk-nyamuk di seluruh daerah mereka; 32 dicurahkan-Nya hujan es ganti hujan mereka, dan api yang menyala-nyala di negeri mereka; 33 dirubuhkan-Nya pohon anggur dan pohon ara mereka, dan ditumbangkan-Nya pohon di daerah mereka; 34 Ia berfirman, maka datanglah belalang dan belalang pelompat tidak terbilang banyaknya, 35 yang memakan segala tumbuh-tumbuhan di negeri mereka, dan memakan hasil tanah mereka; 36 dibunuh-Nya semua anak sulung di negeri mereka, mula segala kegagahan mereka:

Tuhan Pembuat Mujizat

Kita pasti pernah mengalami situasi dimana kita merasa tidak ada jalan. Seolah berhadapan dengan kemalangan yang tidak dapat dihindari. Namun kita pun tentu mengalami apa yang disebut sebagai mujizat. Jalan terbuka dan kita diluputkan karena mujizat. Seluruh kesaksian Alkitab mengisahkan banyak mujizat yang dibuat oleh Allah. Bacaan ini mengingatkan umat melalui cerita tentang apa yang terjadi atas keturunan Yakub ketika menetap di Mesir sebagai orang asing.Ketika orang Israel makin berkembang, orang Mesir menjadi musuh dan memperbudak  mereka. Sebagai tanggapan atas penindasan, Tuhan memilih Musa dan Harun untuk berbicara kepada Firaun agar ia membebaskan bangsa Israel. Penolakan Firaun membuatnya mendapatkan serangkaian malapetaka sebagai bentuk mujizat Tuhan. Itulah perbuatan tangan Tuhan yang layak dikagumi dan diceritakan. Sepanjang bulan Januari ini kita belajar memahami anugerah Allah yang dinyatakan melalui pemeliharaan kehidupan semesta. Karya Allah itu membuat kita bersukacita sebab mujizat-Nya memelihara hidup kita. Marilah hadapi hari-hari hidup dengan penuh pengharapan. Bila kita benar-benar tidak berdaya, percayalah Tuhan sanggup membuat mujizat terjadi dalam hidup kita. Ia sanggup menolong kita.

Doa: Tuhan Yesus kami perlu mujizat-Mu. Amin.

Sabtu, 10 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 37-45

37 Dituntun-Nya mereka keluar membawa perak dan emas, dan di antara suku-suku mereka tidak ada yang tergelincir. 38 Orang Mesir bersukacita, ketika mereka keluar, sebab orang-orang Mesir itu ditimpa ketakutan terhadap mereka. 39 Dibentangkan-Nya awan menjadi tudung, dan api untuk menerangi malam. 40 Mereka meminta, maka didatangkan-Nya burung puyuh, dan dengan roti dari langit dikenyangkan-Nya mereka. 41 Dibuka-Nya gunung batu, maka terpancarlah air, lalu mengalir di padang-padang kering seperti sungai; 42 sebab Ia ingat akan firman-Nya yang kudus, akan Abraham, hamba-Nya. 43 Dituntun-Nya umat-Nya keluar dengan kegirangan dan orang-orang pilihan-Nya dengan sorak-sorai. 44 Diberikan-Nya kepada mereka negeri-negeri bangsa-bangsa, sehingga mereka memiliki hasil jerih payah suku-suku bangsa, 45 agar supaya mereka tetap mengikuti ketetapan-Nya, dan memegang segala pengajaran-Nya. Haleluya!

Tuhan Memimpin Tiap Langkah

Lirik lagu KJ No.408” di jalanku ku diiring”, kesukaan teman saya. Ketika saya bertanya alasan ia menyukainya, maka ini yang ia sampaikan: Lagu ini membuat saya terhibur dan dikuatkan. Walau dalam situasi apapun saya percaya Tuhan akan tetap iring langkah saya”. Memang seharusnya demikianlah keyakinan kita sebagai orang percaya. Pemazmur mengungkapkannya secara jelas di dalam teks ini. Ingatan akan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir menjadi bagian yang kembali diceritakan pemazmur. Tuhan menuntun mereka keluar dengan membawa emas dan perak bangsa Mesir. Awan dan api sebagai lambang penyertaan. Burung puyuh dan air disediakan secara ajaib dalam pengembaraan mereka. Tuhan memimpin mereka dan karena itu mereka keluar dengan kegembiraan dan sorak-sorai. Sebagaimana Tuhan memimpin umat Israel dahulu, maka kita pun diharapkan memberi diri dipimpin Tuhan. Tahun ini penuh rahasia. Kita tidak tahu apakah yang akan terjadi. Tetapi satu yang pasti yakni Tuhan tidak tinggalkan kita. Tuhan pasti memimpin tiap langkah  dalam perjalanan kita di tahun 2026.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu hidup dalam Iman. Amin

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 28 Des 2025 – 03 Januari 2026

Tema Bulanan : Menjadi Gereja yang Teguh Memberitakan Cinta Kasih Tuhan bagi Semua

Tema Mingguan : Carilah Perdamaian dan Berusaha Mendapatkannya

Minggu 28 Desember 2025

bahan bacaan : Mazmur 34 : 12-15

11 (34-12) Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! 12 (34-13) Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? 13 (34-14) Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; 14 (34-15) jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

Carilah Damai dan Kejarlah Ia

Kehidupan modern terasa begitu cepat dan penuh tekanan. Kita dikejar target dan tuntutan yang tidak pernah berhenti. Persaingan, konflik, dan perselisihan seakan menjadi bumbu kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun pergaulan sosial. Akibatnya, banyak orang merasa stres, cemas, dan kehilangan kedamaian batin. Di tengah hiruk pikuk ini, Mazmur 34:12-15 mengaitkan pencarian damai dengan tindakan-tindakan konkret. Bukan sekadar menunggu damai datang, tetapi kita harus mencari dan mengejarnya. Langkah pertama adalah menjaga lidah dari kejahatan dan tipu daya—kata-kata kita memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan. Selanjutnya, kita harus menjauhkan diri dari kejahatan dan melakukan kebaikan—tindakan kita harus selaras dengan kata-kata kita. Sikap dan tindakan inilah yang menjadi kunci untuk meraih damai, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Ayat ini juga menjanjikan berkat bagi mereka yang mencari damai: Tuhan akan memperhatikan mereka dan melindungi mereka. Ada kalanya kita akan menghadapi tantangan dan rintangan. Namun, kita harus tetap teguh dalam komitmen untuk mencari damai, karena Allah selalu menyertai kita dalam perjalanan ini. Ia akan memberikan kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan untuk mengatasi segala kesulitan. Dengan demikian, kita dapat mengalami shalom—kedamaian yang melampaui segala situasi dan pengertian.

Doa: Kristus, mampukanlah kami menjadi saksi setiaMu di Bumi, amin.

Senin, 29 Desember 2025

bahan bacaan : Yesaya 48 : 17 – 18

17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. 18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,

Jalan Damai Sejahtera

Allah bukan hanya memberikan perintah, tetapi juga mengajar dan menuntun umat-Nya menuju jalan yang benar. Bagaimana kita bisa berjalan pada  Jalan yang benar? Kita mesti taat;merespon dengan tulus perintah dan Ajaran Allah. Hasilnya adalah damai sejahtera yang melimpah—seperti sungai yang meluap dan gelombang laut yang tak putus-putusnya. Pesan Yesaya 48:17-18 sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Mencari damai tidak cukup hanya dengan usaha manusia. Kita perlu mencari tuntunan Allah melalui doa, renungankan Firman-Nya, dan beribadah. Allah memberikan hikmat dan kekuatan untuk menghadapi konflik dan perselisihan. Ia juga memberikan kemampuan untuk mengampuni, memahami, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Jalan menuju damai mungkin tidak selalu mudah. Kita akan menghadapi tantangan dan rintangan. Namun, dengan tetap berpegang pada tuntunan Allah, kita akan menemukan kekuatan dan kedamaian yang melampaui segala pengertian. Damai sejahtera yang dijanjikan bukanlah kedamaian duniawi yang rapuh, melainkan kedamaian yang berasal dari hati yang diubahkan oleh kasih Allah. Ini adalah kedamaian yang berkelanjutan, yang membawa kebahagiaan dan kepuasanyang sejati.

Doa: Hanya Engkau, Tuhan, Jalan Damai Sejahtera, kami, amin   

Selasa, 30 Desember 2025

bahan bacaan : Mazmur 85 : 1 – 14

Doa mohon Israel dipulihkan
Untuk pemimpin biduan. Mazmur bani Korah. (85-2) Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, ya TUHAN, telah memulihkan keadaan Yakub. 2 (85-3) Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Sela 3 (85-4) Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala. 4 (85-5) Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. 5 (85-6) Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? 6 (85-7) Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? 7 (85-8) Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu! 8 (85-9) Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? 9 (85-10) Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. 10 (85-11) Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. 11 (85-12) Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. 12 (85-13) Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. 13 (85-14) Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

BersamaNya Semua Hal Menjadi Bermakna

Dunia saat ini menghadapi krisis kemanusiaan yang kompleks dan multi-faceted. Konflik bersenjata, ketidakadilan sosial, dan bencana alam telah menciptakan penderitaan yang meluas dan mengancam perdamaian global. Di tengah gejolak ini, banyak orang merasa kehilangan harapan dan sulit menemukan kedamaian batin. Kecemasan, ketakutan, dan keputusasaan menjadi hal yang umum. Namun, di tengah krisis ini, Mazmur 85:1-14 menawarkan sebuah pesan pengharapan: bahwa kedamaian sejati dapat dicapai melalui pertobatan, pemulihan hubungan dengan Allah, dan tindakan nyata untuk membangun perdamaian. Pemazmur menggambarkan keadaan umat Allah yang sedang menderita akibat perpecahan dan konflik. Ia memohon kepada Allah untuk menunjukkan belas kasihan, mengampuni dosa, dan memulihkan hubungan yang rusak. Mencari kedamaian di tengah krisis kemanusiaan bukanlah tugas yang mudah. Ia membutuhkan komitmen, kesabaran, dan ketekunan. Namun, dengan berpegang teguh pada Allah dan mengikuti tuntunan-Nya, kita dapat menemukan kekuatan dan pengharapan. Ini adalah kedamaian yang membawa harapan, kesejahteraan, dan kehidupan yang penuh makna, bahkan di tengah krisis yang paling berat sekalipun.

Doa: Kami percaya, bersamaMu Tuhan, semua hal menjadi bermakna, amin 

Rabu, 31 Desember 2025

bahan bacaan : Mazmur 66 : 1 – 20

Nyanyian syukur karena orang Israel tertolong
Untuk pemimpin biduan. Nyanyian Mazmur. Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, 2 mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! 3 Katakanlah kepada Allah: "Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. 4 Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." Sela 5 Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia: 6 Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, 7 yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri. Sela 8 Pujilah Allah kami, hai bangsa-bangsa, dan perdengarkanlah puji-pujian kepada-Nya! 9 Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak membiarkan kaki kami goyah. 10 Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. 11 Engkau telah membawa kami ke dalam jaring, mengenakan beban pada pinggang kami; 12 Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami, kami telah menempuh api dan air; tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas. 13 Aku akan masuk ke dalam rumah-Mu dengan membawa korban-korban bakaran, aku akan membayar kepada-Mu nazarku, 14 yang telah diucapkan bibirku, dan dikatakan mulutku pada waktu aku susah. 15 Korban-korban bakaran dari binatang gemuk akan kupersembahkan kepada-Mu, dengan asap korban dari domba-domba jantan; aku akan menyediakan lembu-lembu dan kambing-kambing jantan. Sela 16 Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku. 17 Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian. 18 Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar. 19 Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. 20 Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

Merayakan Kesetiaan Tuhan

Puji Tuhan! Kita telah sampai di penghujung tahun 2025. Sepanjang tahun ini, kita telah mengalami berbagai peristiwa, tantangan, dan anugerah. Ada moment-moment penuh sukacita dan keberhasilan, tetapi juga ada masa-masa sulit yang menguji iman dan ketabahan kita. Di tengah arus kehidupan yang serba cepat dan penuh perubahan, sangat penting bagi kita untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup kita, dan mensyukuri kesetiaan Tuhan yang tak pernah berakhir. Sejalan dengan itu, teks Mazmur 66:1-20 hendak mengajak seluruh ciptaan untuk memuji Allah, menyatakan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Pemazmur menekankan pentingnya mempersembahkan pujian dan syukur kepada Allah sebagai respons atas kesetiaan-Nya. Teks ini memberi pesan penting bagi kita ketika hendak mengakhiri 2025  bahwa kesetiaan Tuhan adalah harta yang tak ternilai. Ia menyertai kita dalam setiap langkah kehidupan, memberikan kekuatan di saat kita lemah, dan memberikan pengharapan di saat kita putus asa. Di penghujung tahun ini, marilah kita merenungkan perjalanan hidup kita. Marilah kita mengingat kembali semua berkat yang telah Tuhan berikan, baik yang besar maupun yang kecil. Marilah kita menyadari bagaimana kesetiaan Tuhan telah menyertai kita dalam suka dan duka, menuntun kita melalui jalan yang benar, dan melindungi kita dari bahaya. Syukurilah kesetiaan Tuhan itu dan mari kita memasuki tahun baru 2026 dengan semangat untuk terus hidup dalam kesetiaan bagiNya.

Doa: Tuhan, kami sungguh bersyukur atas kasihMu hingga di  hari terakhir tahun 2025 ini, amin 

Kamis, 01 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 121 : 1-8

TUHAN, Penjaga Israel
Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? 2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 3 Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. 4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. 5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. 6 Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. 7 TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. 8 TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Berjalan Bersama Allah Yang Setia

Kita telah memasuki tahun yang baru, tahun anugerah pemberian Tuhan. Kita bersyukur karena Tuhan setia menjaga dan menolong. Memasuki tahun baru berarti memasuki jalan yang belum pernah kita tempuh. Kita tidak tahu apa yang menanti, berkat, tantangan, perubahan, bahkan mungkin pergumulan baru. Firman Tuhan hari ini mengajak kita memulai perjalanan ini dengan satu sikap: mengangkat mata kepada Tuhan dan berjalan bersamaNya karena Tuhanlah satu-satunya Penolong. Kekuatan kita bisa saja melemah menjalani hidup ini, namun Tuhan tetap akan menjaga. Ia tidak akan membiarkan kaki kita goyah. Ini bukanlah janji bahwa kita tidak akan mengalami kesulitan, tetapi janji bahwa dalam ketidakpastian pun, langkah kita ditopang oleh tanganNya. Kita hanya perlu menyerahkan hidup bagi Tuhan kendalikan, sebab hidup ini adalah ‘peziarahan iman’ bersamaNya. Jangan mengurung diri dengan kehendak dan kekuatan diri sendiri. Yakinlah, jika kita mengandalkan Tuhan, Ia menjaga keluar-masuk kita, maka masa depan pun ada dalam tanganNya dan kita aman terpelihara. 

Doa: Terima Kasih Tuhan untuk tahun yang baru. Berjalanlah bersama kami sehingga kami terus menikmati kemuliaanMu. Amin.

Jumat, 02 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 25 : 8-12

8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. 9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. 10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya. 11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu. 12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.

Berjalanlah Dalam Jalan Tuhan Dan Nikmati Kasih Setia-Nya

Sering ku tak mengerti  jalan-jalanMu, Tuhan. Bagai di belantara yang kelam. Tanpa seribu tanya namun tetap percaya, jejakMu Tuhan sungguh sempurna….” Sepenggal syair lagu ini mengajak kita untuk mengerti dan memahami bahwa hidup dalam jalan Tuhan adalah yang terbaik dan seharusnya menjadi pilihan setiap manusia. Namun adakalanya kita tidak memahami jalan-jalan Tuhan. Kita tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan tantangan atau pergumulan terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi pemazmur mengatakan: segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran bagi yang berpegang pada janji dan peringatanNya. Artinya, setiap tantangan ada tujuannya, setiap pergumulan ada maksudnya. Karena itu, orang yang berpegang pada kasih setia Tuhan, akan tetap kuat, meskipun banyak badai yang datang karena Ia berpegang pada Tuhan. Sebagai orang percaya kita harus meyakinkan hidup untuk tetap berjalan sesuai dengan jalan Tuhan. Kita tidak akan pernah kecewa ketika berjalan bersamaNya. Dia akan terus menopang dan meneguhkan kita dalam perjalanan kehidupan.Untuk itu tetaplah berpegang pada perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya agar kita beroleh hikmat. Mintalah TuntunanNya hari demi hari dengan penuh kerendahan hati. Tunduklah kepada firmanNya dan biarkan Tuhan membentuk pikiran, keputusan dan rencana kita dalam menempuh perjalanan di tahun baru ini.

Doa: Ya Tuhan, arahkanlah kami untuk berpegang pada perjanjian dan peringatanMu agar kami selalu berjalan dalam kasihMu. Amin..

Sabtu, 03 Januari 2026

bahan bacaan : Ulangan 5 : 32-33

32 Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. 33 Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki."

Ikuti Jalan Tuhan dan Jangan Menyimpang Ke Kiri Dan Ke Kanan

Setiap transportasi yang beroperasi memiliki jalur yang telah ditetapkan. Baik itu di darat, laut dan udara. Semisal, kita amati pesawat yang sedang terbang, sepertinya pesawat itu bisa bergerak bebas ke mana saja. Namun, pesawat itu sebetulnya terbang sesuai dengan jalurnya. Meleset satu derajat saja, bisa terjadi kecelakaan.  Bangsa Israel dalam firman Tuhan hari ini juga telah ditetapkan berjalan dengan jalur atau rute perjalanan yang mereka harus tempuh. Perjalanan itu menuntut mereka untuk taat dan patuh. Tidak boleh menyimpang ke kiri atau ke kanan tetapi tetap di jalan yang ditentuka. Mereka diingatkan untuk tetap setia dalam iman dan percaya, tetap bersandar dan mengandalkan Tuhan, tetap berpegang teguh pada petunjuk dan perintah di dalam Firman Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan telah melengkapi mereka dengan petunjuk dan arah perjalanan yang akan dilalui. Tuhan juga memberi semangat agar tetap berjalan di jalan Tuhan. Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Tuhan menyatakan peraturan dan perintahnya melalui firman-Nya dalam Alkitab. Jika kita mengikuti peraturan dan perintah Tuhan, kita bukan hanya akan hidup dan mengalami keadaan yang baik, tapi akan menikmati anugerahNya.  Maka, ikutilah jalan Tuhan, jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri.

Doa: Tuntun jalan hidup kami Tuhan, sehingga tidak menyimpang dari jalanMu. Amin.

*SUMBER : SHK DES 2026 & JAN 2026, LPJ-GPM