Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga Menjadi Basis Misi

Minggu, 12 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 1 – 8 (TB2)

Paulus di Korintus
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. 2 Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus dan baru datang dari Italia, dan dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah di rumah mereka. 3 Karena memiliki pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. 4 Setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. 5 Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman, dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah Mesias. 6 Ketika orang-orang itu melawan dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: "Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain." 7 Ia keluar dari situ, lalu pergi ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang takur akan Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. 8 Namun Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan dibaptis.

Rumah Tangga Tempat Persemaian Injil  

Ketika Paulus tiba di Korintus, ia bertemu dengan Akwila dan Priskila. Menariknya, titik temu mereka bukan hanya karena panggilan pelayanan, tetapi juga sama-sama  kerja: Mereka semua tukang kemah. Rumah tangga Akwila dan Priskila menjadi ruang kerja sekaligus ruang kesaksian. Ketika paulus setia mengajar di rumah ibadat, ia menghadapi penolakan keras dan hujatan, namun ia tidak berhenti. Paulus kemudian menumpang di rumah Titius Yustus, seorang yang takut akan Allah, yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Hasilnya luar biasa: Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya, ia beserta dengan seluruh seisi rumahnya. Dalam budaya Alkitab, ketika kepala keluarga percaya, seluruh ekosistem rumah tangga (keluarga, hamba, sahabat) ikut terpapar kebenaran. Rumah Yustus menjadi basis misi Kerajaan Allah yang strategis. Hal ini mau menegaskan bahwa Gereja rumah tangga adalah basis atau tempat di mana nilai-nilai iman, karakter dan moral diajarkan dan dipraketkkan dalam keseharian hidup. Mari jadikan rumah tangga, keluarga kita tempat dimana Injil Kristus dihidupi  dan disaksikan agar orang lain pun dapat menikmati anugerah keselamatan dari Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami ladang Injil dan berbias keluar bagi kemuliaan namaMu. Amin.

Senin, 13 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 18 – 23 (TB2)

Paulus kembali ke Antiokhia
18 Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. 19 Sampailah mereka di Efesus, dan Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi. 20 Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya. 21 Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus. 22 Ia sampai di Kaisarea dan setelah pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada jemaat, ia berangkat ke Antiokhia. 23 Setelah tinggal beberapa hari lama di situ, ia berangkat lagi, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk menguatkan hati semua murid.

Rumah Tangga Sebagai Alat Menopang Misi Tuhan

Aquila dan Priskila adalah pasangan suami istri sekaligus rekan kerja dan sahabat yang  setia menemani Rasul Paulus dalam melakukan tugas memberitakan injil. Mereka sungguh-sungguh telah memberikan kehidupan pribadi dan keluarganya, pekerjaannya menjadi ruang persekutuan dan tugas- tugas pengutusan. ​Ketika Paulus tiba di Efesus dan memulai diskusi di rumah ibadat, jemaat di sana memintanya untuk tinggal lebih lama, namun Paulus menolak. Ia berkata, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.” Paulus tidak didorong oleh “perasaan tidak enak” kepada orang lain, melainkan oleh kehendak Tuhan. Ia tahu kapan harus tinggal dan kapan harus pergi. Ia meninggalkan Akwila dan Priskila di sana. Ini adalah strategi misi yang baik. Paulus tidak menjadi “pusat” dari segala sesuatu. Ia melatih orang lain agar pekerjaan Tuhan tetap berjalan meski dia tidak ada.Adalah sukacita besar saat rumah tangga kita tidak sekedar dijadikan sebagai tempat kumpul keluarga namun sukacita itu akan menjadi sempurna saat rumah tangga kita dijadikan sebagai ruang persekutuan dan pengutusan misi Kristus. Tempat di mana kita mengkaderkan anak-anak kita untuk melanjutkan misi pelayanan ke depan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami  alat untuk menopang misi Tuhan, Amin.

Selasa, 14 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 15 – 16 (TB2)

Pertemuan Paulus dengan Yakobus di Yerusalem
15 Sesudah tinggal beberapa hari di Kaisarea, berkemaslah kami, lalu berangkat ke Yerusalem. 16 Bersama kami turut juga beberapa murid dari Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason. Ia dari Siprus dan sudah lama menjadi murid. Kami akan menumpang di rumahnya.

Topanglah Pelayanan Dengan Keramahtamahan

Pekerjaan apapun  dapat berjalan dengan baik bukan semata-mata karena sang pekerja itu memiliki keahlian yang mumpuni. Harus diakui bahwa dibalik  setiap kesuksesan yang diraih, ada orang lain  yang ikut menopang, termasuk dalam tugas-tugas pelayanan. Ayat 16 nas bacaan hari ini menyebutkan bahwa beberapa murid dari Kaisarea ikut pergi bersama Paulus ke Yerusalem. Mereka tidak membiarkan Paulus pergi sendirian menghadapi ketidakpastian. Ini memberi pesan, dalam masa-masa sulit ketika bekerja atau melayani, kehadiran sahabat atau sesama orang percaya sangatlah menguatkan kita. Di Yerusalem, kehadiran Manason seorang murid lama dari Siprus turut menguatkan Paulus dan rombongannya. Manason menunjukkan kesediaan untuk membuka pintu rumahnya bagi para pelayan Tuhan meskipun situasi saat itu kurang baik bagi pengikut Kristus. Sungguh membuat hati bersukacita, saat rumah tangga kita dapat menjadi sarana untuk menopang pekerjaan pelayanan dan membantu tugas-tugas para pelayan. Keluarga yang ramah dan mau terbuka bagi orang lain, menjadi tempat berteduh bagi yang sedang dalam perjalanan atau suatu tugas tertentu adalah tindakan iman yang  mulia. Semoga keluarga kita semua dapat berlaku demikian.

Doa: Tuhan, kiranya rumah tangga kami terbuka, penuh keramahan bagi orang lain, Amin. 

Rabu, 15 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 13 – 16 (TB2)

13 Lagi pula, dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga suka bergunjing dan mencampuri urusan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, melahirkan anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Sebab beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Peduli dan Saling Membantu

Dalam nas 1 Timotius 5:13-16, Rasul Paulus menekankan pentingnya perempuan, khususnya yang lebih muda, untuk menjalani hidup yang produktif dan disiplin agar tidak terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti bermalas-malasan atau menjadi pengumpat. Semangat ini bertujuan agar setiap perempuan mampu mengelola rumah tangga dengan baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan bekerja keras dan memiliki karakter yang takut akan Tuhan, perempuan dipanggil untuk saling membantu dalam meringankan beban hidup satu sama lain, sehingga energi yang dimiliki tidak habis untuk hal-hal yang sia-sia, melainkan untuk membangun komunitas iman yang solid. Paulus menegaskan tanggung jawab keluarga untuk menyokong anggota mereka yang berkekurangan agar tidak menjadi beban bagi jemaat secara keseluruhan. Hal ini mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi dan solidaritas dalam keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata. Ketika setiap perempuan yang mampu turut mengambil bagian dalam meringankan kesulitan keluarga/saudaranya, jemaat memiliki sumber daya yang cukup untuk memfokuskan bantuan kepada mereka yang benar-benar lemah dan membutuhkan.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk peduli dan saling membantu. Amin.  

Kamis, 16 April 2026

bahan bacaan : Kisah  Para Rasul 20 : 7 – 12 (TB2)

7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. 8 Di ruang atas, tempat kami berkumpul, ada banyak lampu. 9 Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. 10 Paulus turun ke bawah, lalu merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan khawatir, ia masih hidup." 11 Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. 12 Sementara itu mereka membawa pemuda itu dalam keadaan hidup, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Rumah Tangga Menjadi Ruang Pemulihan

Dalam Kisah Para Rasul 20:7-12, persekutuan di Troas berlangsung di sebuah rumah. Ini menunjukkan bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang suci untuk bersekutu dan mencari solusi atas persoalan hidup melalui Firman Tuhan. Eutikhus yang terjatuh dan mati di tengah ibadah mencerminkan kerentanan manusia yang sering kali merasa lelah atau “terlelap”  saat menghadapi beban masalah. Namun, respon jemaat dan pelayanan Paulus menegaskan bahwa dalam persekutuan yang didasari kasih, maut dan kegelisahan dapat diatasi oleh kuasa Allah. Melalui doa dan kebersamaan di dalam rumah, situasi yang tampak mustahil dapat dipulihkan, memberikan kelegaan nyata bagi setiap anggota keluarga yang sedang berbeban berat.  Eutikhus yang hidup kembali menjadi kesaksian bagi banyak orang, membuktikan bahwa mukjizat Allah bekerja secara hebat di dalam rumah-rumah yang terbuka bagi hadirat-Nya. Kesaksian ini bukan hanya tentang pemulihan fisik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas iman yang dibangun dalam rumah tangga mampu menjadi ruang pemulihan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika sebuah masalah diselesaikan di dalam persekutuan doa di rumah, hal itu menjadi bukti nyata bagi orang luar bahwa Tuhan benar-benar hidup dan peduli pada pergumulan umat-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, biarlah dengan tuntunan kuasa Roh KudusMu keluarga kami hadir sebagai penopang pelayanan di jemaat. Amin.

Jumat, 17 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 8 (TB2)

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Namun jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Namun seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Namun, jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Memperhatikan Sanak Saudara

Dalam 1 Timotius 5:3-8, Rasul Paulus memberikan penekanan bahwa kasih yang sejati harus dibuktikan melalui tindakan nyata di dalam keluarga sendiri. Memelihara seisi rumah dan sanak saudara, terutama mereka yang sudah lanjut usia atau menjanda, bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah yang menghormati Allah. Dengan saling menanggung beban hidup di lingkaran keluarga, kita belajar untuk membalas budi orang tua dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang terabaikan. Prinsip tanggung jawab domestik ini menjadi pondasi bagi karakter seorang beriman. Paulus memberikan peringatan keras bahwa mengabaikan kebutuhan sanak saudara sendiri setara dengan menyangkal iman dan lebih buruk daripada orang yang tidak percaya. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari aktivitas gereja semata, melainkan dari sejauh mana kita bersedia berbagi beban dan menyediakan kebutuhan bagi keluarga terdekat. Solidaritas keluarga ini bertujuan agar jemaat secara luas tidak terbebani secara finansial, sehingga sumber daya gereja dapat dialokasikan bagi mereka yang benar-benar sebatang kara dan tanpa dukungan sama sekali. Oleh karena itu, berbagi berkat dengan sanak saudara adalah kesaksian hidup yang menyatakan bahwa kasih Kristus nyata ditengah pergumulan ekonomi keluarga.

Doa: Tuhan, kiranya kami dapat terus saling menopang sebagai sanak saudara,  amin  

Sabtu, 18 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 7 – 9 (TB2)

7 Dari Tirus kami tiba di Ptolemais dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari di antara mereka. 8 Keesokan harinya kami berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, salah satu dari ketujuh pelayan, dan kami tinggal di rumahnya. 9 Filipus mempunyai empat anak gadis yang memiliki karunia bernubuat.

Keluarga yang Saling Mendukung

Dalam Kisah Para Rasul 21:7-9, kita melihat teladan baik dari keluarga Filipus sang pemberita Injil di Kaisarea. Filipus tidak hanya melayani sendirian, tetapi ia membangun suasana rohani di rumahnya sedemikian rupa sehingga keempat anak perempuannya pun memiliki karunia bernubuat. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang sehat adalah keluarga yang saling mendukung dalam pertumbuhan karunia masing-masing, sehingga rumah tangga berubah menjadi pusat misi yang efektif. Ketika setiap anggota keluarga bersedia dipakai oleh Tuhan, pelayanan tidak lagi menjadi beban individu, melainkan sinergi kasih yang memperkuat kesaksian jemaat. Lebih dari sekadar memendam karunia untuk kepentingan pribadi, keluarga Filipus membuka pintu rumah mereka untuk menyambut Paulus dan kawan-kawannya, ini menunjukkan bahwa keramahtamahan adalah bagian integral dari misi. Kehadiran empat anak perempuan yang bernubuat menunjukkan bahwa Tuhan tidak membatasi usia atau gender dalam memberikan karunia-Nya demi pembangunan tubuh Kristus. Keluarga ini menjadi bukti nyata bahwa rumah tangga yang berfokus pada pelayanan akan menjadi tempat di mana visi Tuhan dinyatakan dan dikerjakan bersama-sama. Melalui keterbukaan hati dan kerelaan memberi diri, keluarga kita pun dapat menjadi alat misi yang kuat bagi lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami saling mendukung dan ramah kepada yang lain. Amin.   

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Kebangkitan Kristus Memberdayakan Gereja Rumah Tangga, Semakin Beriman dan Sejahtera

Minggu, 5 April 2026

bahan bacaan :

Keluaran 12 : 24 – 28; (TB2)

24 Kamu harus melaksanakan hal itu sebagai ketetapan sampai selama-lamanya, bagimu dan bagi anak-anakmu. 25 Apabila kamu tiba di negeri yang akan TUHAN berikan kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, kamu harus melaksanakan ibadah ini. 26 Apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah arti ibadah ini bagimu? 27 maka kamu harus berkata: Itulah kurban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Lalu berlututlah umat itu dan sujud menyembah. 28 Orang Israel pergi dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun. Demikian mereka lakukan.

1 Korintus 15 : 1 – 11  (TB2)

Kebangkitan Kristus
Sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 2 Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. 3 Sebab, yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 8 Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 9 Sebab akulah yang paling hina dari semua rasul, bahakan tidak layak disebut rasul, karena aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10 Namun karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukan aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku. 11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Kebangkitan Kristus Membuat Hidup Berdaya dan Sejahtera

Siapakah yang tidak kenal dengan Rasul Paulus?. Setiap orang pasti memiliki pandangan sendiri tentangnya. Mungkin ada yang berangggapan bahwa ia adalah seorang penganiaya jemaat yang telah diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Mungkin juga ada yang berpandangan bahwa ia adalah seorang rasul besar malah lebih dari Simon Petrus murid Tuhan Yesus. Apapun pandangan kita, teks hari ini berbicara tentang sosok seorang Paulus sebagai seorang yang dikasihani Allah melalui anugerah-Nya. Pernyataan ini bukan tanpa alasan sebab hal inilah yang ditekankan oleh Paulus dalam suratnya ini. Di dalam teks Paulus menuturkan tokoh-tokoh yang kepadanya Tuhan Yesus saat bangkit menampakan diri. Mereka adalah Kefas (Simon Petrus), 12 murid, lebih dari 500 saudara seiman, Yakobus, semua rasul dan Paulus menyebutkan dirinya yang paling hina yang juga mendapatkan kemurahan penampakan diri Tuhan Yesus itu. Kesaksian Paulus harus juga menjadi bagian dari kesaksian kita dalam menghadapi kehidupan. Kita mungkin bukan siapa-siapa dalam kehidupan ini. Kita hanya orang biasa tapi yang harus kita yakini sungguh bahwa kebangkitan Kristus memberdayakan kita sebagai gereja rumah tangga untuk semakin beriman dan sejahtera. Karena itu mari hadapi hidup dengan pengharapan. 

Doa:  Ya Tuhan kuatkan iman percaya kami. Amin.

Senin, 6 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 12 -19 (TB2)

Kebangkitan kita
12 Jadi, bilamana diberitakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? 13 Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. 14 Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. 15 Lebih dari pada itu, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andai kata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. 16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, Kristus juga tidak dibangkitkan. 17 Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. 19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Kristus Bangkit, Iman Kita Berarti

Bayangkan jika Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit. Paulus berkata dengan tegas: jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga iman kita. Semua doa, ibadah, dan pengharapan kita hanya akan menjadi rutinitas kosong tanpa makna kekal. Tanpa kebangkitan, iman Kristen hanyalah cerita moral tanpa kuasa yang menyelamatkan. Namun syukur bagi Allah, Kristus sungguh bangkit! Kebangkitan-Nya menjadi dasar iman kita yang paling kokoh. Ia hidup, dan karena itu iman kita bukan ilusi, melainkan kebenaran yang memberi hidup. Mari kita jalani hari ini dengan keyakinan dan semangat, sebab iman kita berdiri di atas kemenangan Kristus atas maut.

Namun persoalannya bukan hanya apakah Kristus bangkit, melainkan apakah kebangkitan itu sungguh mengubah hidup kita. Sebab ada orang yang mengaku percaya, tetapi hidupnya tetap dikuasai ketakutan, keputusasaan, dan kekosongan. Kebangkitan bukan sekadar doktrin yang diakui, tetapi realitas yang harus dialami. Jika Kristus benar-benar hidup, maka hidup kita tidak boleh lagi dijalani dengan cara yang lama.

Doa:  Kami sungguh meyakini kebangkitan-Mu ya Tuhan, ,Amin.

Selasa, 7 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 23 – 31 (TB2)

23 Namun tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. 24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. 25 Sebab Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. 26 Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. 27 Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", teranglah bahwa Ia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. 28 Namun kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. 29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? 30 Kami juga--mengapa kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.

Maut Kalah, Keluarga Kita Berdaya

Kematian adalah musuh terbesar manusia, sumber ketakutan dan keputusasaan. Namun melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan maut secara tuntas. Artinya, kuasa kematian tidak lagi memegang kata terakhir atas hidup kita. Di dalam Kristus, ketakutan digantikan oleh pengharapan, dan keputusasaan digantikan oleh keberanian. Karena maut telah dikalahkan, keluarga Kristen dipanggil untuk hidup berdaya dan tangguh. Tantangan boleh datang, tetapi kita tidak menyerah pada rasa takut. Kita merawat kesehatan jiwa dan raga, saling menguatkan, dan menjalani hidup dengan penuh syukur sebagai keluarga yang percaya kepada Tuhan yang hidup.Namun seringkali kita masih hidup seolah-olah maut masih berkuasa. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut masa depan. Kita mengaku percaya kepada Kristus yang bangkit, tetapi hati kita tetap dikuasai kecemasan dan ketakutan. Kebangkitan Kristus menantang kita untuk hidup dengan cara yang berbeda: bukan lagi sebagai orang yang dikendalikan oleh ketakutan, tetapi sebagai orang yang dikuatkan oleh pengharapan. Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk memeriksa dasar pengharapan kita. Jika kita percaya pada kebangkitan Kristus, kita tidak perlu takut terhadap maut. Kita memiliki kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan, dan pelayanan serta kasih yang kita lakukan hari ini memiliki nilai kekekalan.

Doa:  Syukur kepadaMu Tuhan yang telah memberikan kepada kami kemenangan oleh Yesus Kristus, amin..

Rabu, 8 April 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 15 : 35 – 49 (TB2)

Kebangkitan tubuh
35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau tidak mati dahulu. 37 Yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi bijinya saja, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Namun Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 yang ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; yang ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alami, yang dibangkitkan adalah tubuh rohani. Jika ada tubuh alami, ada pula tubuh rohani. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohani, tetapi yang alami; kemudian barulah datang yang rohani. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah, manusia kedua berasal dari surga. 48 Mereka yang dari debu sama dengan dia yang dari debu dan orang-orang surgawi sama dengan Dia yang sorgawi. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa yang dari debu, demikian pula kita akan memakai rupa yang surgawi.

Menanti Tubuh Sorgawi yang Baru

Tubuh kita saat ini rapuh: bisa sakit, lelah, dan menua. Namun kebangkitan Yesus memberi kita janji yang melampaui keterbatasan ini. Tuhan menyiapkan bagi kita tubuh sorgawi yang mulia, tubuh yang tidak lagi dikuasai penderitaan, air mata, dan kematian. Karena itu, jangan biarkan kelemahan fisik membuat kita kehilangan harapan. Apa yang kita alami sekarang bersifat sementara. Masa depan kita di dalam Tuhan adalah pemulihan yang sempurna dan kemuliaan yang kekal. Pengharapan ini memberi kekuatan bagi kita untuk tetap setia dan bersukacita hari demi hari. Namun pengharapan akan tubuh yang mulia bukan alasan untuk meremehkan hidup saat ini. Justru sebaliknya, pengharapan itu mengubah cara kita menjalani hidup sekarang. Kita tidak hidup untuk mengejar kesenangan sesaat, tetapi untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan kekal. Tubuh yang rapuh ini adalah tempat kita belajar setia sebelum kita menerima yang mulia. Jangan menyerah pada keadaan tubuh fisik kita yang lemah atau keadaan keluarga yang sulit. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa dari tempat yang gelap (kubur/masalah), Tuhan bisa memunculkan kehidupan yang baru dan penuh kemuliaan.

Doa:  Terima kasih Tuhan Yesus, atas kekuatan bagi kami sekeluarga,  Amin.

Kamis, 9 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 50 – 58 (TB2)

50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mewarisi apa yang tidak binasa. 51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, 52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. 53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. 54 Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, akan digenapi firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. 55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" 56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. 57 Namun syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. 58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Teguh Beriman dan Giat Melayani

Kebangkitan Kristus bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi. Paulus mengingatkan bahwa iman kepada Kristus yang bangkit harus mendorong jemaat di Korintus dan kita  di saat ini untuk berdiri teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Keluarga yang percaya pada kuasa Paskah seharusnya menjadi keluarga yang aktif mengasihi dan melayani. Jangan goyah oleh ajaran sesat atau penderitaan. Fokuskan energi pada hal yang baik atau positif. Yakinlah, setiap jerih payah dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap kebaikan kecil, setiap pelayanan sederhana, setiap kasih yang kita taburkan dan setiap doa yang kita sampaikan. Mari terus melangkah dengan setia, menjadikan keluarga kita alat berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita. Namun seringkali kita mudah lelah, kecewa, bahkan berhenti melayani karena merasa tidak dihargai. Kita mengukur pelayanan dengan hasil yang terlihat. Padahal kebangkitan Kristus mengingatkan kita bahwa yang tidak terlihat pun berharga di mata Tuhan. Kesetiaan tidak diukur dari besar kecilnya hasil, tetapi dari ketekunan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami agar tidak goyah dan lemah dalam melayaniMu, . Amin.

Jumat, 10 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 11 : 17 – 32 (TB2)

17 Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Namun Maria tinggal di rumah. 21 Lalu kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Namun sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Kata Yesus kepadanya: "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia." 28 Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi menemui Dia. 30 Namun waktu itu Yesus belum sampai di kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

Percaya Tuhan, Hidup Penuh Harapan

Pernahkah kita merasa Tuhan terlambat menolong? Maria dan Marta pernah merasakan hal itu. mereka berada dalam kesedihan mendalam saat Lazarus saudara laki-laki merea meninggal. Dalam situasi itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Ia menunjukkan bahwa di tengah keadaan paling gelap sekalipun, kuasa Allah sanggup menghadirkan kehidupan baru. Begitu juga dalam kehidupan keluarga kita. Masalah boleh terasa buntu, harapan boleh tampak mati, tetapi Tuhan tidak pernah kehabisan jalan. Selama kita percaya dan mengandalkan-Nya, selalu ada pengharapan yang hidup dan masa depan yang dipulihkan oleh kasih-Nya.Namun iman seringkali diuji justru ketika Tuhan tampak terlambat. Maria dan Marta percaya, tetapi mereka juga kecewa: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Kalimat itu adalah suara banyak orang percaya. Kita percaya, tetapi kita juga bertanya mengapa Tuhan terlambat menolong. Tapi di sini kita belajar, waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Itu juga bukan berarti Tuhan tidak peduli. Justru di tangan Tuhan, “terlambat” merupakan persiapan untuk mujizat yang lebih besar. Tetaplah percaya pada perkataan Tuhan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup”!.

Doa:  Tuhan, beri kami kekuatan  dan percaya pada waktu-Mu yang tepat dalam bekerja Amin.

Sabtu, 11 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 11 : 33 – 44 (TB2)

33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan begitu juga orang-orang Yahudi yang datang bersama dia, kesallah hati-Nya. Ia terguncang dan berkata: 34 "Di manakah kamu baringkan dia?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Lalu menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!" 37 Namun beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang mencelikkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?" 38 Yesus sekali lagi kesal, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." 40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" 41 Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." 43 Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah keluar!" 44 Orang yang telah mati itu keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Kemuliaan Allah Nyata, Tetaplah Percaya!

Kisah tentang kebangitan Lazarus, bukan sekedar tentang kekuatan kuasa Allah dalam Kristus yang bangkit. Kisah ini adalah kisah tentang kedalaman kasih Allah bagi kita manusia, sebab kita melihat Yesus yang tersentuh hatinya dan bahkan menangis. Itu artinya Tuhan Yesus tidak pernah jauh atau dingin dan tidak peduli dengan penderitaan kita. Apa yang dilakukan-Nya dengan membangkitkan Lazarus memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus juga merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Maria dan Marta, saudara perempuan Lazarus. Ketika Ia berkata, Akulah kebangkitan dan hidup. Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengubah duka menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya ada kehidupan bagi orang percaya. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk percaya pada-Nya, pada semua rencana-Nya dalam kehidupan kita, bahkan saat kita berada di ”depan kubur” persoalan dan pergumulan kita. Jangan biarkan keraguan ada dalam hati sehingga iman dan percaya kita menjadi goyah kepada Tuhan. Kemuliaan Allah nyata, jadi tetaplah percaya!

Doa:  Tuhan, teguhkanlah iman dan percaya kami bahwa Engkaulah kebangkitan dan Hidup Amin.

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 29 Maret – 4 April 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia!

Minggu, 29 Maret 2026

bahan bacaan : Markus 11 : 8 – 11 (TB2)

8 Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. 9 Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, 10 terpujilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" 11 Ia masuk ke Yerusalem, ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Namun, karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia

Ketika Yesus memasuki Yerusalem, banyak orang menyambut-Nya dengan sorak sorai dan daun palma. Mereka memuji dan mengagungkan Dia sebagai Raja. Namun, di kemudian hari, banyak dari mereka yang sama justru menolak dan membiarkan Dia disalibkan. Sambutan yang semula penuh sukacita berubah menjadi penolakan karena mereka tidak memahami arti sebenarnya dari kehadiran Yesus. Yesus datang bukan untuk mencari kemuliaan dunia, melainkan untuk menebus dosa manusia melalui pengorbanan di salib. Dari salib itu, kita melihat kasih yang sempurna kasih yang rela menderita demi keselamatan dunia. Hari ini ada banyak anak Tuhan yang mengaku untuk menyambut Yesus dan mengikuti-Nya. Menyambut Yesus berarti bukan hanya bersorak ketika keadaan baik, tetapi mengikut Dia dengan setia di jalan penderitaan, ketaatan, dan kasih. Mengikut Yesus berarti membiarkan hati kita dibentuk oleh kasih yang rela berkorban, dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.Jangan hanya menyambut Yesus dengan kata dan seruan, tetapi sambutlah Dia dengan hati yang mau taat dan setia mengikuti jalan-Nya, sekalipun itu jalan salib.

Doa Tuhan, teguhkanlah pengakuan iman kami untuk menyambut-Mu dan setia mengikuti-Mu, Amin

Senin, 30 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 23 – 27 (TB2)

Syarat-syarat mengikut Yesus
23 Yesus berkata kepada mereka semua: "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; Tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 26 Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus. 27 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mengalami kematian sebelum mereka melihat Kerajaan Allah."

Ikut Yesus Membutuhkan Pengorbanan

Perkataan Yesus dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus bukan sekadar mengikuti dari jauh, tetapi keputusan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dengan segala konsekuensi yang menyertai. Mengikut Yesus berarti menyangkal diri, melepaskan keinginan pribadi yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ini bukan hal mudah, sebab dunia menawarkan kenyamanan dan kebanggaan diri. Namun, Yesus mengajar bahwa hidup yang sejati justru ditemukan saat kita berani kehilangan diri karena Dia. Syarat berikutnya ialah memikul salib setiap hari. Akhirnya, mengikut Yesus berarti berjalan di jejak Kristus dan hidup dalam kasih, kebenaran, dan pengorbanan. Jalan ini bukan jalan mudah, tetapi inilah jalan menuju kehidupan yang kekal. Yesus memanggil setiap kita bukan hanya untuk menyambut-Nya, tetapi juga mengikut Dia dengan kesetiaan. Mengikut Yesus tidak cukup hanya dengan kata-kata atau perasaan kagum, melainkan dengan ketaatan dan pengorbanan setiap hari sepanjang hidup. Ada harga yang harus dibayar, tetapi di dalamnya ada sukacita sejati, karena kita berjalan bersama Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk rela berkorban, taat dan setia mengikuti-Mu, Amin

Selasa, 31 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 57 – 58 (TB2)

Mengikut Yesus
57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada-Nya, "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 58 Yesus berkata kepadanya: "Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

Ikut Yesus Rela Melepaskan Zona Nyaman

Bayangkan seekor anak burung yang sudah nyaman di sarangnya. Ia diberi makan oleh induknya setiap hari, hangat dan aman. Namun suatu hari, induknya mendorongnya keluar dari sarang. Awalnya ia takut, tapi ketika sayapnya mulai mengepak, ia menemukan bahwa ia bisa terbang! Demikian juga dengan kita Tuhan sering “mendorong” kita keluar dari kenyamanan agar kita belajar percaya dan mengalami kuasa-Nya. Yesus tidak memanggil kita untuk hidup mudah, tetapi untuk hidup bermakna. Ketika seorang datang kepada Yesus dan berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Tetapi Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Perkataan ini bukan sekadar penolakan, tetapi sebuah pengingat bahwa mengikut Yesus berarti siap meninggalkan kenyamanan duniawi. Yesus tidak menjanjikan kemudahan, tetapi memanggil kita untuk hidup dalam kesetiaan dan pengorbanan. Ia ingin pengikut yang tidak hanya ikut ketika keadaan baik, tetapi juga ketika jalan menjadi sempit dan penuh tantangan. Mengikut Yesus berarti siap beranjak dari “zona nyaman” tempat di mana kita merasa aman, mapan, dan tidak terganggu. Namun, di luar zona itu, ada pertumbuhan iman, ketaatan yang lebih dalam, dan pengalaman akan kasih Tuhan yang nyata. Mengikut Yesus bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang komitmen. Di mana pun Dia memimpin, di situlah tempat terbaik untuk kita berada.

Doa Ya Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk melepaskan zona nyaman dan setia mengikuti Engkau. Amin

Rabu, 1 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 59 – 60 (TB2)

59 Ia berkata kepada seorang yang lain: "Ikutlah Aku!" Namun orang itu berkata: "Tuhan, Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." 60 Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; Namun engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah."

Yesus yang Terutama

Hidup selalu memberikan berbagai pilihan namun setiap keputusan sangat tergantung pada cara pandang kita tentang hidup itu sendiri. Di bulan April kita belajar mengenali kehendak Tuhan dengan menjadi gereja rumah tangga yang bermisi melalui pelayanan sosial. Inilah tema pembinaan sepanjang bulan April. Adapun gereja rumah tangga itu  adalah keluarga Kristen yang menampilkan wajah dan karakter Kristus di dalam kehidupannya. Pelayanan sosial menjadi salah satu bentuk misi gereja rumah tangga. Penulis injil Lukas menekankannya saat menceritakan respon Yesus terhadap orang yang meminta ijin untuk menguburkan ayahnya. Baginya ada hal yang utama yakni keluarganya dan keinginan mengikut Yesus hanya sampingan. Menghormati orang yang meninggal dengan penguburan yang pantas merupakan suatu kewajiban dalam tradisi Israel dan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat Kuno. Karena iklim di Palestina cukup panas, orang yang meninggal harus segera dikuburkan paling lambat 24 jam sejak kematiannya. Penguburan diprioritaskan ketimbang mengikut Yesus. Respon yang Yesus berikan mengandung pesan bahwa untuk mengikut-Nya, apapun harus ditinggalkan. Siapapun yang telah berkomitmen menjadi pengikut Tuhan harus bisa merubah cara pandangnya. Ia harus bisa membuat keputusan  memprioritaskan Tuhan  di atas semua kepentingan apapun.

Doa:  Ajar kami untuk tidak menoleh ke belakang ya Tuhan,  Amin.

Kamis, 2 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 61 – 62 (TB2)

61 Seorang yang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."62 Yesus berkata kepadanya: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

Pegang Janji untuk Tuhan

Perjalanan mengiring Tuhan memang hal yang tidak mudah. Tetapi kita harus mempertahankan komitmen itu sekalipun berhadapan dengan sejumlah tantangan. Sebut saja namanya Berty. Ia seorang pecandu alkohol.  Suatu ketika Berty jatuh sakit. Ginjalnya bermasalah dan Berty ketakutan. Di saat pendeta datang berdoa, ia membuat  janji akan menjadi pengasuh bila sembuh. Ia juga  berjanji tidak akan mengkonsumsi minuman keras. Bila sebelumnya ia malas beribadah, dalam kesakitannya, Berty mulai mengikuti ibadah-ibadah. Ia juga rajin memberi sumbangan untuk kegiatan gereja. Hanya saja semua berubah ketika ia sembuh. Ia mendapatkan kenaikan jabatan dan sering menghadiri rapat di cafe-cafe. Ia mulai mengkonsumsi minuman keras dan jarang mengikut ibadah. Ia bahkan menolak ketika diminta untuk menjadi pengasuh. Berty melupakan kebaikan Tuhan yang menolongnya melewati kesakitannya. Ia menganggap sepele keputusannya  mengikuti Tuhan. Sikap Berty adalah seperti seorang yang berkata “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Teks ini mengajarkan bahwa mengikut Yesus berarti menuntut adanya komitmen penuh, tidak menoleh ke belakang. Kalau kita menoleh, maka kepada kita akan dikatakan : ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

Doa:  ya Tuhan Yesus, tolong kami tetap pada komitmen mengikut-Mu,  Amin.

Jumat, 3 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 19 : 28 – 30 (TB2)

Yesus mati
28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!" 29 Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka menlilitkan suatu bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. 30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Kematian Yesus demi Selamatkan Hidup

Semua orang berdosa dan tidak ada seorangpun yang mampu menyelamatkan dirinya. Dosa membuat hidup kita terjebak dalam ketidakpastian tetapi juga kebinasaan. Kita sangat membutuhkan penyelamatan dari Alah sebab hanya Allah yang sanggup lepaskan kita dari jerat dosa. Hari ini sebagai gereja kita memperingati kematian Tuhan Yesus. Ia mati demi menyelamatkan kita yang berdosa. Peristiwa kematian-Nya sebagaimana yang ditulis Injil Yohanes memberikan gambaran dalamnya kasih-Nya kepada kita. Injil Yohanes menulis “Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah selesai, berkatalah Ia, – supaya digenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci – Aku haus” (Yohanes 19:28). Kematian-Nya di tiang kayu salib mempertontonkan kasih Allah yang agung itu. Allah pengasih merasakan setiap sisi kelemahan manusia.  Saat berada di salib, Tuhan Yesus menderita kehausan. Bukan air yang diberikan kepada-Nya melainkan anggur asam. Ia pun berkata “sudah selesai”. Cerita ini  memberikan kesaksian adanya kejahatan yang begitu menguasai kehidupan kita. Dosa membuat kita  kehilangan akal sehat dan hati nurani. Kita menyalibkan dan membunuh Pencipta. Kematian Tuhan yang kita peringati hari ini membuat kita mesti melakukan evaluasi diri. Transformasi hidup harus kita kerjakan. Sebagai gereja rumah tangga kita terpanggil bermisi melalui pelayanan sosial. Hidup kita tidak boleh terus berkanjang dalam dosa.

Doa:  YTuhan Yesus, terima kasih karena kematian-Mu, kami diselamatkan, Amin.

Sabtu, 4 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 19 : 38 – 42 (TB2)

Yesus dikuburkan
38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus,supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada para pemuka Yahudi. Pilatus mengabulkan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 39 Datanglah juga Nikodemus, orang yang dahulu pernah datang kepada Yesus pada malam hari. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira tigapuluh kilogram beratnya. 40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengafani-Nya dengan kain linen dan membubuhi-Nya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 41 Dekat tempat Yesus disalibkan ada taman dan dalam taman itu ada kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 42 Karena hari itu Hari Persiapan orang Yahudi, sedangkan kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan Yesus di situ.

Kasih akan Dia yang Tersalib

Alkitab menceritakan dua tokoh yang berperan dalam proses penguburan Tuhan Yesus : Yusuf dari Arimatea  dan Nikodemus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang yang kaya dan ia telah menjadi murid Tuhan Yesus pula (Matius 27:57). Di saat Tuhan Yesus mati, ia yang berinsiatif meminta kepada Pilatus agar bisa menurunkan mayat Tuhan Yesus dan menguburkannya. Sebagai murid, ia menyatakan kasih kepada Tuhan. Walau ia tidak mengerti bahkan mungkin merasa hancur karena kematian Sang Guru, tetapi ia tetap memberanikan diri meminta mayat Tuhan. Ini tindakan berani sebab ia akan berhadapan dengan pemuka Yahudi (Yohanes 19:38). Kasihnya mendorongnya memakamkan Tuhan Yesus di kuburan miliknya yang baru. Nikodemus adalah tokoh yang pernah bercakap dengan Tuhan Yesus (Yohanes 3). Ia juga menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus dengan cara bersama Yusuf dari Arimatea memakamkan tubuh Tuhan. ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu kira-kira 30 kilogram beratnya. Baik Yusuf atau Nikodemus, kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan ketika Tuhan masih hidup. Mereka tetap menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus. Pelayanan itu mereka wujudkan dengan cara memakamkan Tuhan Yesus.  Pelayanan sosial yang mereka lakukan merupakan teladan bagi gereja sepanjang masa.

Doa:  Ya Tuhan Yesus, terimalah seluruh tanda kasih kami akan Dikau, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET-APRIL 2026, LPJ-GPM

 

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Bertanggungjawablah demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan!

Minggu, 22 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 27 : 11 – 26 (TB2)

Yesus di hadapan Pilatus
11 Ketika Yesus berdiri di hadapan gubernur, gubernur itu bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 12 Ketika tuduhan terhadap Dia diajukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua, Ia tidak menjawab sepatah kata pun. 13 Lalu kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 14 Namun, Ia tidak menjawab sepatah kata pun, sehingga gubernur itu sangat heran. 15 Telah menjadi kebiasaan bagi gubernur untuk membebaskan satu orang tahanan pada tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Pada waktu itu ada seorang tahanan yang terkenal bernama Yesus Barabas. 17 Ketika mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" 18 Ia sudah mengetahui, bahwa mereka menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." 20 Namun, imam-imam kepala dan tua-tua menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Gubernur itu berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." 22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" 23 Katanya: "Namun kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Mereka malahan semakin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" 24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, bahkan sudah timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" 25 Seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" 26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Bertanggungjawablah demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan!

Yesus dibawa ke hadapan Pilatus, Gubernur Romawi. Pilatus sendiri, setelah menginterogasi Yesus, yakin bahwa Yesus tidak bersalah dan tidak menemukan alasan untuk menghukum mati-Nya. Ia memiliki otoritas untuk membebaskan-Nya, terutama melalui adat membebaskan seorang tahanan pada perayaan Paskah. Namun, ia dihadapkan pada tekanan massa yang dihasut oleh para imam kepala dan tua-tua Yahudi yang menuntut agar Barabas, seorang penjahat, yang dibebaskan, dan Yesus disalibkan. Puncak dari drama ini adalah tindakan simbolis Pilatus: ia mengambil air dan mencuci tangannya di hadapan orang banyak. Tindakan ini, yang dimaksudkan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab dan rasa bersalah, justru menyoroti kelemahan karakternya dan kegagalannya sebagai pemimpin yang seharusnya menegakkan keadilan. Meskipun Pilatus mencuci tangan secara fisik, tindakan itu tidak menghapus tanggung jawab moralnya. Kita tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab moral kita dengan sekadar “melempar” masalah atau kesalahan kepada orang lain. Sebagai orang percaya, di minggu sengsara Tuhan Yesus keenam ini, kita dipanggil untuk berani berdiri di sisi kebenaran dan keadilan, bahkan ketika itu sulit. Keadilan harus diperjuangkan, bukan dihindari. Marilah kita belajar dari kegagalan Pilatus. Jangan biarkan rasa takut, tekanan sosial, atau keinginan untuk menyenangkan orang lain membungkam suara hati kita yang mengetahui kebenaran. Bertanggung jawablah demi keadilan, dengan berani membela apa yang benar, mengikuti teladan Mesias.

Doa: Tuhan, bantu kami tetap melakukan keadilan ditengah ketidakadilan. Amin.

Senin, 23 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 27 : 27 – 31 (TB2)

Yesus diolok-olok
27 Kemudian serdadu-serdadu gubernur membawa Yesus masuk ke istana gubernur, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah merah kepada-Nya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" 30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. 31 Sesudah mengolok-olok Dia mereka menanggalkan jubah dari-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya. Serdadu-serdadu membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Mahkota Duri dan Tugas Manusia kini

Sering kita melihat baik melalui berita atau secara langsung, mereka yang memiliki kekuasaan dan otoritas menggunakannya bukan hanya untuk keadilan, tetapi untuk menghina dan menyakiti yang lemah. Kekerasan fisik, bullying, dan penyiksaan yang dilakukan atas nama hukum atau otoritas merupakan rahasia umum. Peristiwa yang dialami Yesus di tangan para serdadu Romawi adalah cerminan abadi dari kekejaman manusia yang dilegalkan. Teks  ini mencatat tiga adegan yang memilukan yang dilakukan oleh para serdadu Romawi kepada Yesus: pertama, mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu untuk mengejek Yesus. Kedua Mereka mengenakan mahkota duri dan meletakkan tongkat/buluh di tangan kanan-Nya. Tindakan ini adalah gabungan antara kekerasan fisik (duri menusuk kepala) dan kekerasan psikologis (ejekan, meludah). Ketiga, mereka berlutut dan menghormati-Nya, lalu memukul kepala-Nya dengan tongkat. Kekerasan yang dialami Yesus adalah simbol penderitaan semua orang yang diperlakukan tidak adil oleh struktur kekuasaan. Firman ini mengajak kita untuk berpihak pada korban ketidakadilan. Ketika kita melihat bullying, pelecehan, atau penyalahgunaan kekuasaan hari ini, kita harus melawannya dan menyuarakannya.

Doa: Sanggupkan kami dengan kuasaMu untuk menyuarakan keadilan untuk dunia. Amin.

Selasa, 24 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 23 : 1 – 7 (TB2)

Yesus di hadapan Pilatus
Seluruh sidang itu bangkit dan membawa Yesus menghadap Pilatus. 2 Mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Kami mendapati bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Dialah Mesias, Raja." 3 Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 4 Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini." 5 Namun, mereka makin kuat mendesak, katanya: "Ia menghasut rakyat dengan ajaran-Nya di seluruh tanah orang Yahudi, mulai di Galilea dan sampai ke sini." 6 Ketika Pilatus mendengar itu ia menanyakan apakah orang itu seorang Galilea. 7 Ketika ia tahu, bahwa Yesus seorang dari wilayah Herodes, dikirimnya Dia menghadap Herodes, yang pada hari-hari itu ada juga di Yerusalem.

Suara Rakyat dan Kegagalan Keadilan

Di era media sosial, opini publik dan framing narasi memiliki kekuatan luar biasa untuk mempengaruhi keputusan yang seringkali mengarah pada ketidakadilan. Terlepas dari fakta, politik modern sering menggunakan penghasutan massal untuk menghancurkan reputasi seseorang.. Peristiwa dalam Lukas 23:1-7 menunjukkan bagaimana suara yang diorganisir oleh kepentingan tertentu dapat menenggelamkan kebenaran hukum. Kisah ini menggambarkan proses yang penuh manipulasi tentang tuduhan palsu, Keputusan Pilatus yang goyah dan tekanan masa menuntut pembebasan Barabas dan penyaliban Yesus. Kisah ini mengingatkan kita tentang bahaya hukum rimba opini publik. Ketika kita menerima informasi (terutama politik) tanpa diverifikasi dan ikut menyebarkannya, kita berisiko menjadi bagian dari kelompok yang menghasut ketidakadilan. Hati-hati terhadap suara yang paling keras. Kita dipanggil untuk menjadi pembela kebenaran hukum dan moral, bukan sekadar pengikut arus. Jangan biarkan penghasutan massa mengubur suara hati nurani dan keadilan di dalam diri kita.

Doa: Ya Roh Kudus, kiranya kami dapat menggunakan hak suara untuk keadilan dunia, amin.

Rabu, 25 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 23 : 8 – 12 (TB2)

Yesus di hadapan Herodes
8 Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab, sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia, dan berharap melihat Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat. 9 Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apapun. 10 Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. 11 Bahkan Herodes dan pasukannya menghina dan mengolok-olok Dia. Ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. 12 Pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan.

Keheningan adalah Jawaban Terbaik

Dalam masyarakat saat ini, kita sering menyaksikan orang benar atau mereka yang mencoba berbicara tentang kebenaran,  dihina, diremehkan atau dijadikan tontonan oleh orang-orang berkuasa. Kisah Yesus di hadapan Herodes dalam nas ini adalah contoh klasik dimana otoritas disalahgunakan untuk menghina seorang yang tidak bersalah. Dalam teks ini kita dapat mengetahui tiga hal penting yang terjadi: pertama, pengabaian Kebenaran: Herodes mengajukan banyak pertanyaan, tetapi Yesus menolak untuk berpartisipasi dalam drama yang bertujuan merendahkan-Nya. Kedua, Penghinaan Massa: Para imam kepala dan ahli Taurat, yang seharusnya menjunjung hukum, justru berdiri di sana dan menuduh Yesus dengan keras. Ketiga, hinaan dan kekerasan. Mereka mengenakan pakaian kebesaran untuk-Nya, menjadikan-Nya badut. Ini adalah sungguh-sungguh ketidakadilan. Kehormatan seorang raja ditukar dengan ejekan. Di tengah penghinaan, keheningan-Nya adalah jawaban terkuat bagi ketidakadilan yang dangkal dan picik. Ketika kita dihina atau diremehkan karena menjunjung kebenaran, ingatlah martabat ilahi Yesus. Jangan biarkan penghinaan orang lain menentukan nilai diri kita. Terkadang, jawaban terbaik terhadap ketidakadilan dan cemoohan bukanlah membela diri, melainkan menjaga keheningan, bermartabat dan membiarkan kebenaran sejati berbicara pada waktunya.

Doa: Tuhan, ajarkan kami untuk tetap hening menghadapi ketidakadilan, amin

Kamis, 26 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 26 : 57 – 68 (TB2)

Yesus di hadapan Mahkamah Agama
57 Orang-orang yang telah menangkap Yesus membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua. 58 Petrus mengikuti Yesus dari jauh sampai ke halaman Imam Besar. Setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat bagaimana akhir semuanya itu. 59 Imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu melawan Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, 60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Akhirnya tampillah dua orang, 61 yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat meruntuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." 62 Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawaban atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 63 Namun, Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah." 64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." 65 Lalu Imam Besar itu mengoyak pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat itu. 66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab, "Ia harus dihukum mati!" 67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain menampar Dia, 68 dan berkata: "Bernubuatlah kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"

Kedaulatan Yesus ditengah Pengadilan Dunia

Ketika kita menghadapi kritik yang tidak adil atau fitnah, reaksi pertama kita adalah membela diri dengan keras. Kita kesulitan menerima penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan orang lain. Namun, peristiwa di hadapan Mahkamah Agama menunjukkan Yesus tidak hanya menderita, tetapi memilih menderita dengan kedaulatan. 3 hal penting yang terjadi di hadapan Mahkamah Agama adalah: pengadilan ini sepenuhnya dipenuhi ketidakadilan, keheningan Yesus yang berdaulat dan jawaban yang menetapkan takdir. Ketika Kayafas memaksanya bersumpah, Yesus akhirnya berbicara. Pembicaraan itu menegaskan identitas-Nya sebagai Kristus, Anak Allah. Jawaban Yesus ini kemudian menjadi alasan mereka menjatuhkan hukuman mati, namun secara ironis, itu adalah penegasan kedaulatan-Nya atas takdir mereka. Yesus tahu bahwa penderitaan saat ini adalah jalan menuju kemuliaan. Kekuatan kita terletak pada kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Ketika kita difitnah, biarkan keheningan yang berdaulat menjadi respons pertama kita dan penegasan iman menjadi jawaban terakhirnya. Maka kita akan dapat tenang, pada akhirnya kita akan menunjukan kebenaran muncul seperti rembang tengah hari.

Doa: Tuhan, jadikanlah ajaranMu memenuhi hidupku setiap waktu, amin

Jumat, 27 Maret 2026

bahan bacaan : Yohanes 19 : 1 – 16a (TB2)

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang mencambuk Dia. 2 Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, 3 dan terus-menerus maju mendekati-Nya dan berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya. 4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." 5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Kemudian kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" 6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya." 7 Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." 8 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu ia makin takut, 9 lalu ia masuk pula ke dalam isatana gubernur dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Namun, Yesus tidak memberi jawab kepadanya. 10 Karena itu, kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" 11 Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: Dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." 12 Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan orang ini, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." 13 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. 14 Hari itu hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Lihatlah rajamu!" 15 Lalu berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!"16a Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.

Yesus Korban Ketidakadilan

Saat ini, kita dapat melihat bagaimana tekanan massa dan opini publik dapat memutarbalikkan kebenaran. Teriakan sekelompok orang yang diikuti dengan share atau bagikan pada kolom media sosial, seringkali lebih didengar daripada fakta itu sendiri. Ketidakadilan sering lahir bukan karena tidak adanya bukti tapi dari keberanian untuk tunduk pada desakan banyak orang. Realita sosial ini, kurang lebih adalah realita yang pernah alami Yesus ketika berada di depan Pilatus. Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah. Ia mencoba membebaskanNya sebanyak tiga kali. Tetapi karena Pilatus berada dibawah tekanan masa   untuk menyalibkan Yesus.  Apalagi ketika para pemimpin Yahudi mengancam status Pilatus bahwa jika Pilatus membebaskan Yesus maka Pilatus bukan sahabat kaisar. Ditengah situasi demikian, Pilatus mengorbankan keadilan dan hati nuraninya demi mempertahankan kedudukan dan menghindari konflik dengan kerumunan orang yang mengancam untuk salibkan Yesus. Kisah ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan kebenaran seringkali membutuhkan pengorbanan yang besar.  Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tidak menyatakan kebenaran secara tegas bahkan jika karenanya kita harus melawan banyak orang. Jangan biarkan tekanan sosial menumpulkan suara kebenaran.

Doa: Kami percaya, Tuhan menolong kami menyatakan kebenaran, sekalipun didalam tekanan, amin

Sabtu, 28 Maret 2026

bahan bacaan : Yesaya 32 : 1 – 6 (TB2)

Pemerintahan yang adil
Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan, 2 mereka masing-masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus. 3 Mata orang yang melihat tidak akan tertutup lagi, dan telinga orang yang mendengar akan menyimak. 4 Hati orang yang terburu-buru akan tahu menimbang-nimbang, dan lidah orang yang gagap akan dapat berbicara lancar dan jelas. 5 Orang bebal tidak akan disebut lagi orang berbudi luhur, dan penipu tidak akan dikatakan orang terhormat. 6 Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan kejahatan, ia melakukan kefasikan dan mengatakan hal yang menyesatkan tentang TUHAN, membiarkan perut orang lapar tetap kosong dan orang haus tanpa minuman.

 Pemimpin yang Adil, Tempat Perlindungan Bagi Sesama

Nabi Yesaya menubuatkan tentang hadirnya seorang raja yang memerintah dengan keadilan dan para pemimpin yang bertindak dengan kebenaran. Dalam pemerintahan seperti itu, umat Tuhan hidup dengan aman, seperti berlindung di tempat yang teduh dari angin kencang dan badai. Gambaran ini menegaskan bahwa pemimpin yang adil bukan hanya mengatur dengan kekuasaan, tetapi menjadi tempat perlindungan bagi rakyatnya tempat di mana mereka merasa aman, didengar, dan dihargai. Di zaman ini, tanggung jawab kepemimpinan bukan hanya bagi para pemimpin bangsa atau gereja saja, tetapi juga bagi setiap kita dalam peran masing-masing di keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Tuhan memanggil kita untuk tidak “mencuci tangan” atau lari dari tanggung jawab terhadap keadilan. Diam terhadap ketidakbenaran sama dengan ikut membiarkan ketidakadilan bertumbuh. Oleh sebab itu Jadilah pemimpin yang adil dan benar di mana pun Tuhan tempatkan kita, baik di gereja, baik di pemerintahan atau dalam kehidupan berkeluarga. Dengan hidup dalam kebenaran dan menegakkan keadilan, kita menjadi tempat perlindungan bagi sesama dan menghadirkan kasih Allah di tengah dunia yang haus akan keadilan.

Doa Mampukan kami Tuhan, menjadi pemimpin yang adil sehingga menjadi tempat perlindungan bagi sesama, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 25 – 31 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Pemeliharaan Tuhan atas Semua Ciptaan

Minggu, 25 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 147 : 1-20

Kekuasaan dan kemurahan TUHAN
Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. 2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. 5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi. 7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! 8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. 12 Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! 13 Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. 14 Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. 15 Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. 16 Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu. 17 Ia melemparkan air batu seperti pecahan-pecahan. Siapakah yang tahan berdiri menghadapi dingin-Nya? 18 Ia menyampaikan firman-Nya, lalu mencairkan semuanya, Ia meniupkan angin-Nya, maka air mengalir. 19 Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. 20 Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!

Pemeliharan Tuhan untuk Semua Ciptaan

Hidup kita hari ini sering diwarnai kekhawatiran mulai dari kesehatan hingga keuangan. Di saat yang sama, kita menyadari keagungan alam semesta, yang kadang terasa tak terjangkau. Mazmur 147 menghubungkan kedua hal ini: Allah yang mengurus alam semesta juga peduli pada detail kehidupan kita. Mazmur ini berisikan pujian sebagai respons tepat terhadap pemeliharaan Tuhan bagi semesta. Ia menutupi langit dengan awan, menyediakan hujan dan membuat rumput tumbuh di gunung. Dia juga memberi makan binatang liar dan anak burung gagak. Keseimbangan alam, yang begitu kompleks, adalah bukti dari manajemen sumber daya Allah yang sempurna. Jika Allah mengatur awan yang bergerak, salju yang turun, dan angin yang bertiup dengan hikmat-Nya yang sempurna, maka Dia pasti mengatur setiap elemen dalam hidup kita. Kita tidak perlu cemas. Kekuatan kita tidak terletak pada kegagahan kuda atau kaki manusia, tetapi pada Tuhan. Itulah kekuatan orang-orang yang takut akan Dia, orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Percayalah bahwa Allah yang menata seluruh ciptaan di semesta ini dengan detail, telah menata masa depan kita dengan kebaikan yang jauh lebih besar, syukurilah!

Doa: Tuhan, Engkau sungguh berkuasa dan berdaulat atas semesta ciptaanMu, amin.

Senin, 26 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 37 : 1-13

Kemuliaan Allah di alam semesta
"Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya. 2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya. 3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi. 4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran. 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya. 8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya. 9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara. 10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku. 11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya, 12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya. 13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia.

Kedaulatan Allah Dalam Kekacauan Semesta

Manusia modern berjuang untuk mengendalikan segalanya,  seperti mengendalikan cuaca melalui modifikasi iklim, mengendalikan informasi dan waktu. Namun, melalui fenomena yang tak terhindarkan seperti ketika penerbangan dibatalkan karena hujan dan badai, atau ketika bencana alam menghentikan seluruh aktivitas, itu adalah panggilan berhenti paksa agar kita merenungkan kebesaran-Nya, bukan kehebatan kita. Jika Allah mengatur petir, angin, salju, dan es dengan bijaksana, baik untuk mengingatkan atau demi kemurahanNya bagi alam semesta, maka tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang luput dari kendaliNya. Dalam nas ini Elihu mengajak Ayub untuk melihat kembali kepada alam semesta sebagai cermin kemuliaan dan pemeliharaan Allah. Ketika manusia tidak memahami jalan Tuhan, ciptaan menjadi pengingat bahwa Sang Pencipta tetap berkuasa dan memelihara segala yang ada. Ini mengingatkan kita untuk mengangkat kepala dan mengagumi Arsitektur yang agung dan jauh lebih canggih. Jika alam semesta yang begitu besar saja diatur-Nya, bagaimana mungkin hidup kita yang dikasihi-Nya, tidak Tuhan pelihara?

Doa: Terima kasih atas pemeliharaanMu yang sempurna bagi semesta ini, Tuhan. Amin.

Selasa, 27 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 37 : 14-24

14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. 15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? 16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, 17 hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? 18 Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? 19 Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan. 20 Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan? 21 Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca. 22 Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat. 23 Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. 24 Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya."

Allah, Penata Semesta

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, seringkali kita merasa cemas dan bertanya-tanya: Apakah ada rencana di balik kekacauan? Apakah ada kontrol di balik peristiwa yang tak terduga?. Elihu dalam nas ini menantang Ayub: “Dengarkanlah ini, hai Ayub, berdirilah dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah!” Ini adalah ajakan untuk Ayub menghentikan fokusnya pada penderitaannya dan merenungkan kemahakuasaan Allah yang memimpin alam semesta. Keagungan Tuhan melampaui batas pemikiran manusia. Jika Allah menata setiap detail formasi awan, kilat, dan cuaca dengan hikmat yang sempurna, maka Dia pasti menata setiap detail kehidupan dan masa depan kita dengan kebijaksanaan yang jauh lebih besar. Jangan biarkan ketidakpastian dunia membuat kita ragu akan kendali Tuhan. Tugas kita bukanlah memahami bagaimana Dia melakukannya, melainkan memercayai bahwa Dia melakukannya dengan adil dan hikmat. Bersandarlah pada kedaulatan-Nya, sebab Allah yang menata jagat raya tidak pernah membuat kesalahan dalam menata hidup anak-anak-Nya.

Doa Tuhan, kami percaya, tangan-Mu yang memegang alam semesta dan memeliharanya, juga memegang dan memelihara hidup kami, Amin.

Rabu, 28 Januari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 17 : 22 – 28

22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. 23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. 24 Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, 25 dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. 26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, 27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. 28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

 Allah Berkuasaatas Hidup Ciptaan-Nya

Paulus berbicara kepada orang-orang Atena tentang Allah yang berkuasa, Allah yang tidak tinggal dalam kuil buatan tangan manusia, tetapi Dia yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya. Paulus menegaskan bahwa Allah  yang memberi nafas hidup, dan segala sesuatu kepada manusia. Tidak ada satu pun  yang hidup di luar kuasa dan pemeliharaan Tuhan.  Ayat 28 adalah pengakuan iman yang mendalam: sebab seluruh ciptaan bergantung sepenuhnya kepada kekuasaan Allah. Ketika kita menyadari bahwa hidup kita ada dalam tangan Allah, kita diajak untuk hidup dengan rasa syukur dan hormat kepada-Nya. Hidup yang kita miliki dan seluruh ciptaan ada dalam genggaman kasih Allah. Karena itu, marilah kita hidup dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Jangan sombong dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Segala yang ada, nafas kita, kesehatan, berkat dan kesempatan adalah tanda bahwa Tuhan terus memelihara semesta. Tanpa pemeliharaanNya, keberadaan kita rapuh seperti debu. Maka, biarlah kita terus mensyukuri pemeliharaan-Nya dan memuliakan Tuhan karena Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Berdoa bukan memanggil Allah yang jauh, tetapi membuka hati kepada Dia yang sudah ada bersama kita.

Doa: Tuhan, Kami mengagumi kuasa dan pemeliharaan-Mu dalam hidup kami tiap hari, amin

Kamis, 29 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya  45 : 9 – 13

TUHAN adalah Pencipta
9 Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: "Apakah yang kaubuat?" atau yang telah dibuatnya: "Engkau tidak punya tangan!" 10 Celakalah orang yang berkata kepada ayahnya: "Apakah yang kauperanakkan?" dan kepada ibunya: "Apakah yang kaulahirkan?" 11 Beginilah firman TUHAN, Yang Mahakudus, Allah dan Pembentuk Israel: "Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepada-Ku mengenai anak-anak-Ku, atau memberi perintah kepada-Ku mengenai yang dibuat tangan-Ku? 12 Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya; tangan-Kulah yang membentangkan langit, dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya. 13 Akulah yang menggerakkan Koresh untuk maksud penyelamatan, dan Aku akan meratakan segala jalannya; dialah yang akan membangun kota-Ku dan yang akan melepaskan orang-orang-Ku yang ada dalam pembuangan, tanpa bayaran dan tanpa suap," firman TUHAN semesta alam.

Tangan Tuhan Berdaulat

Apakah hidup kita sudah mencerminkan rasa hormat dan tanggung jawab terhadap pemeliharaan ciptaan Tuhan?. Melalui firman hari ini, Tuhan menegur umat-Nya agar menyadari bahwa hanya Ialah Sang Pencipta dan Pemelihara sejati. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada di bawah kuasa-Nya. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta, tetapi jugaterus memeliharanya dengan kasih dan hikmat. Setiap matahari terbit, setiap tetes hujan, dan setiap hembusan angin adalah bukti bahwa tangan Tuhan masih bekerja dan tidak pernah meninggalkan kita. Manusia yang adalah ciptaanNya, hidup bukan untuk melawan Sang Pencipta, melainkan hidup selaras dengan kehendak-Nya. menjaga dan memelihara alam sebagai wujud syukur atas pemeliharaan Tuhan. Tuhan bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pemelihara yang setia. Jangan melawan kehendak-Nya, tetapi percayalah bahwa segala sesuatu berada dalam rancangan kasih-Nya. Mari kita jaga ciptaan Tuhan dengan rasa hormat dan tanggung jawab, sebab melalui kita, dunia dapat terus mencerminkan kemuliaan Sang Pencipta. Mari bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan ikut memelihara alam semesta yang dipercayakan kepada kita.

Doa: Tolong kami merawat ciptaan-Mu sebagai wujud syukur atas kasih-Mu. Amin

Jumat, 30 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 45 : 14 – 19

14 Beginilah firman TUHAN: "Hasil tanah dari Mesir dan segala laba dari Etiopia dan orang-orang Syeba, orang-orang yang tinggi perawakannya, akan pindah kepadamu dan menjadi kepunyaanmu, mereka akan berjalan di belakangmu dengan dirantai; mereka akan sujud kepadamu dan akan membujuk engkau, katanya: Hanya di tengah-tengahmu ada Allah, dan tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Allah! 15 Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat. 16 Tetapi tukang-tukang berhala harus mundur dengan penuh noda, semuanya akan mendapat malu dan kena noda juga. 17 Sedangkan Israel diselamatkan oleh TUHAN dengan keselamatan yang selama-lamanya; kamu tidak akan mendapat malu dan tidak akan kena noda sampai selamanya dan seterusnya." 18 Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, --Dialah Allah--yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, --dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami--:"Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain. 19 Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus."

Bumi Milik Tuhan 

Pemeliharaan Tuhan nyata dalam tatanan alam yang harmonis: matahari yang terbit setiap pagi, hujan yang menyuburkan tanah, dan udara yang memberi kehidupan bagi semua makhluk. Semua itu bukan kebetulan, tetapi tanda kasih dan kesetiaan Tuhan terhadap ciptaan-Nya. Sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya, kita dipanggil untuk menjaga dan merawat bumi ini sebagai bentuk partisipasi dalam karya pemeliharaan Allah. Dengan menghargai alam, kita sedang menghormati Sang Pencipta yang membuat dunia ini baik adanya. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta, tetapi juga terus memeliharanya agar menjadi tempat yang layak bagi kehidupan. Tuhan menciptakan bumi bukan untuk kehancuran, tetapi untuk kehidupan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kesadaran bahwa kita adalah bagian dari ciptaan yang dijaga oleh kasih Allah. Mari kita pelihara alam, bersyukur atas segala anugerah kehidupan, dan ikut menjadi alat Tuhan dalam menjaga keseimbangan ciptaan-Nya. Dengan demikian, dunia akan tetap menjadi tempat yang baik untuk didiami oleh kita sebagaimana kehendak Tuhan sejak semula.

Doa Tuhan Ajarlah kami untuk menghargai dan menjaga karya tangan-Mu dengan setia. Amin.

Sabtu, 31 Januari 2026

bahan bacaan : Nehemia 9 : 6 – 8

6 "Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu. 7 Engkaulah TUHAN, Allah yang telah memilih Abram dan membawanya keluar dari Ur-Kasdim dan memberikan kepadanya nama Abraham. 8 Engkau dapati bahwa hatinya setia terhadap-Mu dan Engkau mengikat perjanjian dengan dia untuk memberikan tanah orang Kanaan, tanah orang Het, tanah orang Amori, tanah orang Feris, tanah orang Yebus dan tanah orang Girgasi kepada keturunannya. Dan Engkau telah menepati janji-Mu, karena Engkau benar.

Bersyukurlah! Tuhan Memelihara Kehidupan Semesta

Bacaan ini merupakan bagian dari doa umat Israel yang dipimpin oleh Nehemia setelah mereka kembali dari pembuangan. Dalam doa itu, umat mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh ciptaan. Bukan hanya manusia, tetapi seluruh alam semesta  langit, bumi, laut, dan segala isinya  berada di bawah kasih dan pemeliharaan Tuhan. Nehemia menegaskan bahwa Allah bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pemberi hidup. Ia tidak meninggalkan ciptaan-Nya begitu saja, melainkan terus bekerja menjaga keseimbangan kehidupan. Matahari yang terbit setiap pagi, udara yang kita hirup, hujan yang menyuburkan bumi  semuanya adalah bukti kasih setia Tuhan yang terus bekerja tanpa henti bagi kehidupan ini. Pemeliharaan Tuhan terlihat bukan hanya dalam ciptaan alam, tetapi juga dalam perjalanan umat-Nya. Kepada Abraham, Tuhan berjanji dan menepati janji itu. Ia menuntun langkah Abraham dan keturunannya. Demikian pula kepada kita hari ini, Tuhan tetap setia memelihara kehidupan kita  dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan. Satu bulan telah kita lalui dalam pemeliharaan-Nya, mari datang bersyukur kepada Tuhan. Jangan biarkan kekhawatiran dunia membuat kita lupa akan tangan Tuhan yang bekerja diam-diam memelihara segalanya. Pujilah Tuhan!.

Doa Tuhan, terima kasih atas pemeliharaan-Mu di bulan Januari ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Percayalah Kepada Tuhan, Engkau dan Seisi  Rumahmu Selamat

Minggu, 18 Januari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 16 : 19 – 34 

Kepala penjara Filipi
19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa. 20 Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: "Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, 21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya." 22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. 23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. 24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. 25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. 26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. 27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. 28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!" 29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. 30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" 31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." 32 Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. 33 Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. 34 Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.

Hanya Tuhan Sumber Selamat bagi Seisi Rumah

Nas bacaan hari ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya Tuhan yang mengalir dari iman seseorang dan berdampak pada seluruh isi rumah. Penjaga penjara hampir bunuh diri karena mengira para tahanan melarikan diri. Namun paulus menahannya, ”jangan celakakan dirimu”. Kebaikan itu membuka pintu pertobatan dan keselamatan. Melalui Paulus dan Silas yang memberitakan firman kepada penjaga penjara dan semua orang yang di rumahnya, malam itu juga mereka dibaptis dan mengalami sukacita besar. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga pemulihan keluarga. Firman ini mengingatkan kita, Tuhan menginginkan rumah-rumah kita menjadi tempat dimana kita berdoa, mendengarkan firman dan sukacita Kristus berlangsung, sehingga setiap anggota keluarga mengalami damai sejahtera dan keselamatan.  Apapun keadaan keluarga kita saat ini, bahagia, bermasalah, lemah dan retak atau jauh dari Tuhan, firman Tuhan ini berkata: selama ada yang percaya, selalu ada harapan bagi seisi rumah. Jadilah alat keselamatan bagi keluarga kita melalui kesaksian hidup, kasih dan doa. Ingatlah selalu, Tuhan sanggup menyelamatkan setiap rumah yang percaya kepada-Nya.

Doa: Terima kasih Tuhan untuk keselamatan bagi seisi keluargaku, Amin.

Senin, 19 Januari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 6 : 6 – 14

6 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. 7 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. 8 Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. 9 Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" 10 Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. 11 Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. 12 Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. 13 Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. 14 Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.

Mengalami Berkat Tuhan Karena Menopang Pelayanan

Dalam pengalaman melayani, ada saja orang baik yang turut menopang tugas pelayanan. Mereka mengorbankan waktu, pikiran,tenaga dan apapun talenta yang dimiliki. Seperti Obed-Edom yang tidak menolak ketika daud menitipkan Tabut Allah-simbol kehadiran Allah di rumahnya. Ia menjaga dan merawat Tabut Allah itu selama tiga bulan. Ketaatan dan kesetiaan dalam menunaikan kepercayaan yang diberikan Daud telah menggerakan Allah untuk mengaruniakan berkat keselamatan bagi Obed-Edom dan seisi rumahnya. Dalam 1 Tawarikh 15 dikatakan, anak-anak Obed-edom aktif menjadi pelayan di rumah Tuhan sebagai penyanyi, penjaga pintu gerbang dan pemain alat musik. Di sinilah  kita belajar bahwa rumah yang terbuka bagi pekerjaan Tuhan adalah rumah yang akan menikmati berkat Tuhan. Bukan hanya berkat materi, tetapi damai dan sukacita serta pemeliharaan Tuhan. Keluarga yang menyediakan diri menopang pekerjaan Tuhan apapun bentuknya, adalah keluarga yang melihat tangan Tuhan bekerja dalam hidup mereka. Jadi selagi masih ada kesempatan layanilah Tuhan dengan terus menopang tugas- tugas pelayanan yang dipercayakan.

Doa: Tuhan, kiranya rumah kami terbuka untuk menopang pelayanan, Amin.

Selasa, 20 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 19 : 15 – 23

15 Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: "Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini." 16 Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. 17 Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." 18 Kata Lot kepada mereka: "Janganlah kiranya demikian, tuanku. 19 Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku. 20 Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara." 21 Sahut malaikat itu kepadanya: "Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan. 22 Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana." Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar. 23 Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar.

Tuhan Memelihara Keluarga yang Beriman

Lot bukanlah orang yang sempurna. Dia memiliki banyak kelemahan, termasuk keputusan awalnya untuk tinggal di lingkungan Sodom yang tidak benar. Namun, Tuhan menyelamatkannya karena “mengasihani dia” dan Ia mengingat Abraham. Pemeliharaan Tuhan datang dengan syarat ketaatan yang jelas dan mendesak. Malaikat-malaikat Tuhan memerintahkan Lot dan keluarganya untuk segera keluar dari Sodom dan tidak menoleh ke belakang. Ancaman kematian menjadi nyata jika mereka melanggar perintah tersebut dan itulah yang dialami oleh isteri Lot. Ketaatan menjadi jalan keselamatan. Kisah ini bukan sekedar cerita tentang pelarian sebuah keluarga dari kota yang binasa, tetapi ini kesaksian iman bagaimana Allah menopang dan memelihara keluarga dari ancaman kematian. Jika keluarga terus berjalan bersama Tuhan, mendengarkan suaraNya dengan taat, maka apapun yang terjadi pemeliharaan Tuhan akan dinikmati. Banyak keluarga mengalami kehancuran karena memilih menoleh ke belakang, kembali ke kebiasaan lama, kehidupan lama yang penuh dosa. Kiranya setiap keluarga akan hidup dalam kesadaran ini, Tuhan sendiri yang akan menjadi pemelihara keluarga kita. Taatlah kepadaNya!

Doa: Tuhan, keluarga kami mau hidup selalu dalam iman dan ketaataan kepada-Mu. Amin.

Rabu, 21 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 26 : 23-33

23 Dari situ ia pergi ke Bersyeba. 24 Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu." 25 Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. 26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" 28 Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN." 30 Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. 31 Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. 32 Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air." 33 Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.

Tuhan Memberkati Keluarga Turun-temurun

Kehadiran Tuhan adalah jaminan pemeliharaan tertinggi. Ketika Ishak pindah ke Bersyeba, Tuhan menampakkan diri kepadanya pada malam hari dan berkata, “Akulah Allah ayahmu Abraham. Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan memperbanyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.” Tuhan menegaskan kembali perjanjian yang dibuat-Nya dengan Abraham berlaku juga untuk Ishak dan keturunannya. Abimelekh, raja orang Filistin, datang menemui Ishak dan mengakui, “Memang kami lihat, bahwa Tuhan menyertai engkau”. Pengakuan ini menunjukkan berkat dan pemeliharaan Tuhan atas Ishak terlihat nyata oleh bangsa-bangsa di sekitarnya. Ishak dan Abimelekh mengikat perjanjian damai, yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memelihara Ishak dalam konflik, tetapi juga memberinya kedamaian dan keamanan di negeri asing tersebut dan memastikan kelangsungan hidup keluarganya.  Pengalaman iman yang dijalani hari ini dalam keluarga, adalah pupuk bagi iman generasi berikutnya. Tuhan yang memelihara dan memberkati kita, juga rindu memelihara dan memberkati anak cucu kita. Ceritakanlah kepada anak-anak apa yang Tuhan sudah lakukan, sebab itu meneguhkan iman generasi berikutnya. Kesetiaan Tuhan adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan dalam keluarga.

Doa: Tuhan, berkatilah keluarga kami turun temurun, Amin.

Kamis, 22 Januari 2026

bahan bacaan : Keluaran 2 : 1-10

Musa lahir dan diselamatkan
Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; 4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. 5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. 6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani." 7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" 8 Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. 10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."

Tuhan memeliharaKeluarga yang Saling Menolong

Orangtua Musa, Amram dan Yokhebed, menunjukkan iman yang besar dengan menyembunyikan bayi Musa selama tiga bulan. Mereka menentang perintah Firaun untuk membunuh semua bayi laki-laki Ibrani. Ketika tidak bisa menyembunyikannya lagi, mereka membuat rencana dengan iman, yaitu meletakkan bayi itu dalam peti pandan di sungai Nil, mempercayakan nasibnya kepada Tuhan. Miryam, kakak perempuan Musa, memainkan peran penting dalam pemeliharaan ini. Ia tidak hanya mengawasi peti berisi adiknya dari kejauhan, tetapi juga bertindak cepat dan bijaksana ketika putri Firaun menemukan bayi itu. Miryam dengan berani menawarkan untuk memanggilkan seorang inang penyusu dari kalangan perempuan Ibrani. Tawaran Miryam diterima, ibu kandung Musa sendiri akhirnya dipekerjakan untuk menyusui dan merawat anaknya dengan upah dari putri Firaun. Ketika kita sebagai keluarga, suami istri, orang tua anak, atau adik kakak bekerja sama, saling mendukung, dan bertindak dengan iman di tengah tantangan hidup, kita membuka jalan bagi pemeliharaan Tuhan untuk bekerja dengan cara yang ajaib. Tuhan memberkati persatuan dan kasih dalam keluarga. Dia memakai ikatan tersebut sebagai alat-Nya untuk melindungi dan memberkati semua ciptaan-Nya di bumi.

Doa: Tuhan, Terima kasih untuk pemeliharaan-Mu bagi keluarga kami. Amin.

Jumat, 23 Januari 2026

bahan bacaan : Ulangan 12 : 1-7

Satu tempat ibadah
"Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi. 2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. 3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu. 4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. 5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. 6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. 7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

Tuhan Menaungi Keluarga yang Taat dan Setia

Nas bacaan ini merupakan pengingat bagi umat Israel ketika mereka akan memasuki tanah perjanjian. Tuhan menegaskan bahwa berkat yang akan mereka terima sangat berkaitan dengan ketaatan dan kesetiaan untuk hidup sesuai kehendak-Nya. ada tiga hal yang berkaitan dengan hal itu: umat harus menghancurkan berhala, mau menyembah Tuhan dan menguduskan persembahan bagi-Nya. Semua itu bersumber pada satu hal: hidup yang setia kepada Tuhan.Di zaman skarang, berhala tidak selalu berupa patung, tetapi hal-hal yang mendominasi hati dan gaya hidup yang membuat Tuhan tersisih.  Keluarga yang taat dan setia memilih untuk tetap fokus kepada Tuhan, menggunakan segala sesuatu dengan bijak tanpa diperbudak olehnya. Marilah kita berkomitmen untuk membangun keluarga yang demikian. Jujur dalam melakukan apapun, menghindari tindakan yang kurang baik atau merusak, menjaga hati dari keinginan tercela dan sebagainya. Ketika keluarga mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan, maka Tuhan sendiri yang akan memelihara, menguatkan dan memberkati. Kesetiaan membawa damai, keutuhan dan sukacita yang tidak bisa diberikan dunia.

Doa: Tuhan, tolong keluarga kami hidup taat dan setia kepadaMu. Amin.

Sabtu, 24 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 35 : 1-5

Yakub di Betel untuk kedua kalinya
Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." 2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. 3 Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." 4 Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. 5 Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar.

Tuhan Tempat Perlindungan

Keluarga-keluarga kita hari ini menghadapi banyak krisis, mulai dari pengaruh digital negatif hingga tekanan kebutuhan ekonomi. Seperti keluarga Yakub yang baru saja melalui krisis di Sikhem. Ia takut diserang bangsa-bangsa sekitar karena tindakan anak-anaknya. Allah menegur dan memanggil Yakub untuk kembali ke Betel, tempat perjanjian. Yakub meresponsnya dengan bijaksana. Ia memerintahkan pemurnian total seisi rumah tangganya: menjauhkan dewa asing dan mentahirkan diri. Seluruh keluarga, termasuk anak-anak, berpartisipasi dalam menguburkan patung dewa-dewa di bawah pohon.Tindakan kolektif ini menegaskan bahwa takut akan Tuhan adalah komitmen yang harus dipegang seluruh keluarga. Apa hasil dari ketaatan keluarga ini? Pemeliharaan dan kedahsyatan dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Esau tidak berani mengejar anak-anak Yakub.” Firman ini mengingatkan kita sebagai keluarga, ketika hidup mengalami banyak masalah dan krisis. Tuhan mengundang kita untuk kembali kepada-Nya. Untuk itu, ada hal-hal yang perlu “dikubur” agar hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan dan dijaga: kebiasaan yang buruk, hati yang kera atau dosa yang kita simpan diam-diam. Saat melangkah dalam ketaatan, Tuhan sendiri menjaga dan menuntun langkah kita dan seisi keluarga.

Doa: Tuhan, pagarilah keluarga kami dalam kasihMu, amin

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Aku adalah Aku: Kemuliaan Allah Membebaskan Hidupmu

Minggu, 11 Januari 2026

bahan bacaan : Keluaran 3 : 1 – 15

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." 5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." 6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." 11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" 12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." 13 Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?" 14 Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." 15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Aku adalah Aku: Kemuliaan Allah Membebaskan Hidupmu

Musa tidak sedang mencari Tuhan ketika semak itu menyala. Ia hanya menjalani hari-hari biasa sebagai gembala, di padang gurun yang sunyi. Namun justru di ruang keseharian yang tampak berulang itu Tuhan memanggil. Banyak orang mengira kemuliaan Allah hadir dalam peristiwa besar. Padahal sering kali Ia menyentuh kita melalui ruang keseharian kita: kelelahan yang kita rasakan, pergumulan yang kita pendam, atau rasa tidak mampu yang kita sembunyikan. Di sanalah Tuhan menyatakan diri-Nya. Ketika Ia berfirman, “Aku adalah Aku,” itu berarti Allah hadir bukan karena keadaan kita, tetapi karena sifat-Nya yang setia. Kemuliaan Allah bukan sekadar cahaya surgawi, tetapi kesediaan-Nya turun tangan membebaskan manusia dari penindasan dan tekanan hidup. Jika hari ini hidup terasa berat, ingatlah: Allah yang memanggil Musa adalah Allah yang memanggil kita. Ia mendengar, Ia peduli, Ia bertindak. Ia mengutus kita membebaskan kehidupan orang lain pula dari berbagai belenggu yang membuatnya tidak dapat menikmati kehidupan ini secara baik dan berkualitas. Ketika Allah mengutus, Ia menyertai.

Doa: Tuhan, Hadirlah dan Tolonglah Kami. Amin.

Senin, 12 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 116 : 6 – 7 

6 TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. 7 Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.

Tuhan Memelihara Orang yang Sederhana

Pemazmur menyebut dirinya “orang sederhana,” bukan karena ia kurang kemampuan, tetapi karena ia memilih hidup jujur dan apa adanya di hadapan Tuhan. Ia tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dunia menuntut kita untuk selalu tampak kuat, tetapi Mazmur ini mengingatkan bahwa justru ketika kita mengakui ketidakberdayaan, Tuhan bertindak. Kesederhanaan hati bukan kelemahan, melainkan ruang yang memungkinkan kasih Tuhan bekerja. Sebab itu seperti pemazmur, kita dapat berkata kepada diri kita: “Kembalilah tenang, hai jiwaku.” Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, tenang bukan berarti tidak ada persoalan, atau masalah hilang, tetapi karena kita tahu kepada siapa kita bersandar. Tuhan tetap sama. Hari ini, mari bekerja dengan meminta kekuatan dari Tuhan, dan bila malam telah tiba bersyukur serta beristirahatlah dalam pemeliharaan Tuhan. Kita tidak perlu kuat setiap waktu. Cukuplah hidup jujur di hadapan Tuhan. Ia tidak mengecewakan hati yang jujur. Tuhan ingin kita selalu mengingat kebaikanNya, agar hati kita kembali tenang.

Doa: Terima kasih Tuhan karena Engkau memelihara orang lemah dan sederhana, Jiwaku sungguh tenang Tuhan. Amin.

Selasa, 13 Januari 2026

bahan bacaan : 1 Raja – Raja 17 : 1 – 6

Elia di tepi sungai Kerit
Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan." 2 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: 3 "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 4 Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana." 5 Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

Tuhan Menyediakan Kebutuhanmu

Eia berada di tengah masa krisis. Namun Tuhan memeliharanya melalui cara yang tidak terduga: burung gagak mengantarkan roti dan daging setiap hari. Tuhan sering bekerja melalui jalan yang tidak kita bayangkan. Hal itu terjadi melalui kesempatan kecil yang tiba-tiba muncul, seseorang yang menolong tanpa alasan, atau kekuatan hati yang tiba tanpa kita sadari. Pemeliharaan Allah tidak selalu megah, tetapi selalu cukup. Dalam hidup kita, ada masa ketika sumber daya tampak menipis dan harapan terasa jauh. Teks ini mengingatkan kita bahwa Tuhan menyediakan secukupnya setiap hari. Ia tidak pernah kehabisan cara untuk menolong. Tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Cukup untuk hari ini. Itu pun adalah anugerah yang limpah. Bersyukurlah atas limpahnya pemeliharaan Tuhan dan ingatlah ketika keadaan hidup menjadi sulit, percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan. Tidak ada masalah tanpa pemeliharaanNya.

Doa: Cukupkan keperluan kami hari ini Tuhan. Amin.

Rabu, 14 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 46 : 3 – 4

3 "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. 4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Tuhan Memelihara Sampai Masa Putih Rambut

Firman ini sungguh menyentuh: Tuhan memikul kita sejak dalam kandungan, dan menggendong sampai masa rambut memutih. Ini bukan janji yang bersyarat. Ini pernyataan kasih yang berlangsung seumur hidup. Tidak ada musim hidup, masa muda, sibuk bekerja, menjadi orang tua, atau memasuki lanjut usia, di mana Tuhan berhenti memelihara. Kita sering cemas tentang masa depan. Tentang kesehatan, anak, biaya hidup, atau hari tua. Namun Tuhan mengingatkan bahwa pemeliharaan-Nya bukan hanya hari ini, tetapi sampai akhir perjalanan hidup. Jika rambut memutih menandai waktu yang berjalan, maka itu juga menandai kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berkurang. Di saat kita mudah berubah, kasih Tuhan tidak pernah bergeser dan berubah. Bersyukurlah jika kita masih diberi waktu hingga memutih rambut, sebab itu bukti kasih Tuhan yang menanggung, memikul, menggendong dan menyelamatkan. Percayakan kendali hidup kita kepada Allah yang lebih tahu jalan-jalan hidup ke depan. Dalam gendongan Tuhan kita aman dan selamat.

Doa: Tuhan, terima kasih, Engkau Setia Selalu sepanjang hidup kami. Amin.

Kamis, 15 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 55 : 23 – 24

22 (55-23) Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. 23 (55-24) Tetapi Engkau, ya Allah, akan menjerumuskan mereka ke lubang sumur yang dalam; orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya. Tetapi aku ini percaya kepada-Mu.

Jangan Khawatir, Tuhan Memeliharamu

Pemazmur mengajak kita menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan. Kekhawatiran sering membuat kita merasa harus mengendalikan segalanya. Namun iman mengajak kita untuk membiarkan Tuhan menopang hidup kita. Menyerahkan kekhawatiran bukan berarti pasrah tanpa upaya. Itu adalah keberanian untuk percaya bahwa kita tidak berjalan sendiri. Pemeliharaan Tuhan berarti Ia tidak membiarkan kita jatuh sampai tergeletak. Setiap langkah kita ditopang tangan-Nya. Ia menanggung dan memastikan kita tetap berdiri. Kita mungkin tidak selalu melihatnya, tetapi kita hidup di dalam penjagaan-Nya. Hari ini, kita cukup mengatakan: “Tuhan, aku percaya Engkau memegang dan memeliharaku, bahkan melepaskanku dari orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan bagiku.” Itu wujud percaya kita untuk melanjutkan kehidupan ini.

Doa: Kuserahkan Hidupku padaMu, Tuhan yang mengasihi dan memeliharaku, Amin.

Jumat, 16 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 45 : 20 – 21

Seruan kepada bangsa-bangsa supaya kembali kepada TUHAN
20 "Berhimpunlah dan datanglah, tampillah bersama-sama, hai kamu sekalian yang terluput di antara bangsa-bangsa! Tiada berpengetahuan orang-orang yang mengarak patung dari kayu dan yang berdoa kepada allah yang tidak dapat menyelamatkan. 21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!

Jangan Gantikan Allah Dengan Baal

Sampai saat ini masih banyak orang yang menggantungkan pertolongan kepada kuasa yang berasal dari dalam dunia. Berbagai macam syarat dan ritual harus dipenuhi sebagai jalan untuk memperoleh apa yang diidamkan. Mereka beranggapan bahwa semua itu memiliki kuasa yang dapat dijadikan sebagai berhala. Tapi mereka lupa bahwa tindakan ini dapat menyeret mereka masuk dalam kesesakan. Pada kenyataannya sejak bumi dan segala isinya dijadikan Allah telah menyatakan kemuliaanNya bahkan lebih dari pada itu kemuliaan Allah dinyatakan melalui kedatangan Yesus Kristus yang olehnya manusia diselamatkan.Terhadap mereka yang membuat patung berhala dan menyembah kepadanya Allah menyebut mereka sebagai yang tidak berpengetahuan karena sesungguhnya patung kayu buatan manusia tidak memiliki kuasa unutuk menyelamatkan. Allah tidak menghendaki kebinasaan sebab itu Ia menghendaki mereka kembali. Tindakan Allah ini mendorong semua kita mengaktakan iman percaya yang teguh kepada Allah dan selamanya tak akan tergantikan dengan baal–baal zaman ini. Ingatlah bahwa sejak zaman purbakala dan memberitahukannya sejak zaman dahulu  bahwa tidak ada Allah selain daripadaku Allah yang adil dan juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Pantaskah kita ragu dan mencari penolong yang lain, selain Allah Pencipta dan Pemelihara hidup ini? 

Doa: Tuhan aku tetap percaya hanya Engkau Allah Sumber selamat yang mulia, Amin.

Sabtu, 17 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 10 : 8 – 12 

8 Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? 9 Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali? 10 Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju? 11 Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat. 12 Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.

Pemeliharaan-Mu sempurna, Aku tetap bertahan

Diam dan merenung, pergi dan  berlari sejauh mungkin, merintih dan menangis, bahkan tidak sedikit yang larut dalam kekecewaan, putus asa dan hilang pengharapan saat kesukaran dan penderitaan menerpa kehidupan. Ketika membaca nas ini, kita dibawa masuk ke dalam pergumulan hati Ayub. Ia sedang berada dalam titik gelap hidupnya: kehilangan, kesakitan dan kesunyian. Namun, diantara keluh kesahnya, terselip satu pengakuan iman: Ayub tahu bahwa hidupnya berasal dari Allah. Sebab itu ia melihat kembali pemeliharaan Tuhan sejak awal hidupnya. Meski penuh airmata, Ayub melihat satu fakta yang tidak berubah: hidup adalah anugerah dan kasih setia Tuhan tidak berubah. Pengakuan iman bahwa hidup adalah anugerah dan kasih setia Tuhan tidak berubah akan membuat kita senantiasa bersyukur. Termasuk bersyukur dikala kita ada dalam penderitaan. Setiap penderitaan dalam hidup dapat menjadi cara Tuhan membentuk kita untuk semakin bertumbuh dewasa di dalam iman. Oleh karena itu tetaplah percaya Tuhan sebab Ia setia menopang dan menolong.

Doa : Terima kasih telah membuatku bertahan dan kuat di tengah penderitaan, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 04 – 10 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Tuhan Mengasihi dan Memelihara Orang Benar, Bersukacitalah!

Minggu, 04 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 97 : 1-12

TUHAN adalah Raja
TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! 2 Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. 3 Api menjalar di hadapan-Nya, dan menghanguskan para lawan-Nya sekeliling. 4 Kilat-kilat-Nya menerangi dunia, bumi melihatnya dan gemetar. 5 Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. 6 Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. 7 Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepada-Nya. 8 Sion mendengarnya dan bersukacita, puteri-puteri Yehuda bersorak-sorak, oleh karena penghukuman-Mu, ya TUHAN. 9 Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah. 10 Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik. 11 Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. 12 Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.

Kasih dan Pemeliharaan Tuhan Menghadirkan Sukacita

Apa yang membuat orang percaya kuat dalam menjalani hidup sehari-hari? Sukacita! Ya, sukacita harus menjadi bagian dari hidup kita. Ini mungkin terasa sulit bagi kita karena ada begitu banyak masalah yang terkadang membuat sukacita menjadi hilang. Jadi, bagaimana kita dapat bersukacita? Jawabannya ada pada ayat terakhir bacaan ini; “Bergembiralah karena Tuhan, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus”. Tuhan adalah sumber sukacita kita. Pemazmur menyatakan bahwa ketika Tuhan memerintah, seluruh bumi dipanggil untuk bersukacita. Namun sukacita itu bukan karena keadaan dunia yang selalu baik, melainkan karena Pribadi yang memerintah: Allah yang adil, kudus dan setia. Oleh karena itu, kepada Allah saja kita patut bersyukur. Jika tahun yang lalu pemeliharaan Tuhan sempurna atas hidup kita, atas pelayanan gereja ini. Itu semua karena kasih Tuhan. Maka kita pun yakin, di tahun yang baru ini kasih Tuhan pun akan menyertai kita. Kekuatan baru dan sukacita telah kita miliki dari Tuhan Yesus yang rela berkorban demi kita. Mantapkan langkah, bencilah kejahatan dan teruslah setia.

Doa: Terima kasih Tuhan buat kasih dan pemeliharaanMu bagi hidup kami. Amin.

Senin, 05 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 1-6

Puji-pujian atas segala perbuatan Allah di masa lampau
Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! 2 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! 3 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! 4 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! 5 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, 6 hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!

Bersyukur dan Memuji Tuhan Karena PemeliharaanNya

Mazmur 105:1-6 berisikan ajakan untuk bersyukur yang lahir dari ingatan akan karya Allah. Bangsa Israel mengalami pemeliharaan Allah dari perbudakan di Mesir sampai masuk ke tanah perjanjian. Pemazmur mengundang umat untuk memuji Tuhan, bersyukur dan menceritakan perbuatanNya yang ajaib. Perbuatan Allah layak diceritakan: kasih-Nya, pemeliharaan-Nya, penyertaan-Nya, kuasa-Nya. Ketika kita bercerita tentang Tuhan, sebenarnya kita sedang meneguhkan diri sendiri dan menguatkan orang lain. Itulah yang harus kita lakukan, menjadi pembawa kabar baik karena kita pun telah mengalami karya Allah dalam hidup. Karena itu, tidak ada kata lain yang terucap dari mulut kita selain “Syukur kepada Tuhan”. Sepanjang tahun ini tentu akan ada banyak hal kita alami, namun yang pasti mengingat perbuatan Tuhan adalah fondasi iman kita. Ketika kita mengingat bagaimana Tuhan menolong kita, bagaimana Tuhan mengampuni, bagaimana Tuhan membuka jalan, bagaimana Tuhan memelihara, maka kita kembali diteguhkan bahwa Allah yang menolong dahulu, adalah Allah yang sama hari ini. Maka tanpa dipaksa, dengan hati yang penuh syukur, ceritakanlah kebaikan Tuhan sepanjang hidup kita.

Doa: Syukur dan terima kasih ya Tuhan atas kasih dan pemeliharaanMu. Amin.

Selasa, 06 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 7-11

7 Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. 8 Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, 9 yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak; 10 diadakan-Nya hal itu menjadi ketetapan bagi Yakub, menjadi perjanjian kekal bagi Israel, 11 firman-Nya: "Kepadamu akan Kuberikan tanah Kanaan, sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu."

 Allah Pelihara

Kita masuk di awal tahun ini dengan membawa banyak pertanyaan. Seperti apakah hidup kita di tahun ini? Mungkinkah kita bahagia? Mungkinkah masalah kita terselesaikan? Mungkinkah rumah tangga kita bersatu kembali? Mungkinkah masa depan anak-anak kita menjadi jauh lebih baik? dan sejumlah pertanyaan lain. Kita harus mengakui bahwa tidak ada hal apapun yang bisa dijadikan sebagai pegangan kita dalam menjawab semua pertanyaan itu. Namun sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa Tuhan pasti pelihara kita. Kita tahu dalam satu perjanjian Allah berjanji untuk memberi Abraham banyak keturunan dan tanah yang dapat menjadi milik pusaka mereka. Janji ini diulangi lagi kepada Ishak dan kepada Yakub. Dalam perjanjian yang kedua, Allah memberi Hukum Taurat kepada Musa dan orang Israel di Sinai. Sebagai bagian dari ikatan perjanjian itu, Israel harus taat dan hanya menyembah kepada Tuhan Allah. Kita pun diajak melalui teks ini untuk mengingat pemeliharaan Allah yang setia pada perjanjian-Nya bagi sekian generasi. Maka, masuki tahun baru ini dengan sukacita karena ada jaminan pemeliharaan Tuhan. Bangunlah hidup yang bersandar pada janji Tuhan, bukan pada perasaan atau keadaan. Ingat kembali karya Tuhan dalam hidup pribadi, keluarga dan jemaat dan teruskan warisan iman itu kepada generasi anak cucu kita. Jangan mudah lupa atau berubah. Responilah kesetiaan Tuhan dengan ketaatan.

Doa: Tuhan Yesus pelihara dan berkatilah hidup kami di tahun yang baru ini, Amin

Rabu, 07 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 12-15

12 Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, 13 dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain, 14 Ia tidak membiarkan seorangpun memeras mereka, raja-raja dihukum-Nya oleh karena mereka: 15 "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku!"

Tuhan Pembela yang Setia

Pernahkah kita merasa terpojok karena diperlakukan tidak baik oleh orang lain? Pastinya perasaan kita sangat tidak enak. Kita merasa dipermalukan, tetapi juga  bingung sebab kita tidak tahu kemana harus mengadu. Hal yang lebih menyakitkan dari situasi ini adalah ketika tidak ada seorangpun yang bersama kita. Tidak ada yang membela kita. Hari ini ada kabar sukacita yang disampaikan kepada kita. Bacaan ini memberikan kepada kita pengharapan. Tuhanlah pembela kita. Allah memerintahkan Abraham meninggalkan rumahnya sehingga ia dan keturunannya tidak mempunyai tempat tinggal sampai mereka memasuki tanah Kanaan. Perlindungan Allah sangat terlihat dalam cerita Abraham dan raja Abimelek. Allah tampil sebagai Pembela dan tidak membiarkan umat pilihan-Nya diperlakukan sewenang-wenang. Walau jumlah tidak seberapa dan harus mengembara awalnya, namun Allah bersama mereka. Allah membela mereka dengan cara-Nya. SabdaNya: ”jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku.” Kita juga adalah orang-orang yang diurapi Tuhan. Kita beroleh kemurahan hati Tuhan.Hidup yang berubah-ubah, tidak membatalkan penyertaan Tuhan.  Atas dasar itu maka jangan takut ketika merasa kecil dan tidak dianggap atau dibela. Kita mempunyai pembela yang tidak bisa dikalahkan. Namanya adalah Tuhan.

Doa: Tuhan Yesus jadilah Pembela bagi kami, Amin

Kamis, 08 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 16-22

16 Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, 17 diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. 18 Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, 19 sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. 20 Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. 21 Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya, 22 untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya.

Tangan Tuhan Pelihara

Hari ini adalah batas akhir pengumpulan uang semester Jefry. Ia telah menyampaikan informasi itu pada hari Selasa kepada kedua orangtuanya. Tetapi papa dan mamanya berkata bahwa keuangan mereka tidak cukup untuk membayar. Uang mereka telah terpakai untuk membayar angsuran motor pada hari Senin. Jefry kecewa dan mulai putus asa tetapi ia berusaha menenangkan diri. Ia berdoa memohon pertolongan Tuhan. Ayah dan ibunya menyarankan ia meminta keringanan dari kampus. Tiba-tiba Jefry dihubungi oleh dosennya. Rupanya dosennya meminta Jefry untuk datang ke rumahnya agar mengecat rumah dosennya dan ia diberi uang yang dapat membantunya membayar uang kuliah. Pemeliharaan Tuhan memang kadangkala tidak dapat kita bayangkan. Mazmur ini memperlihatkan kebenaran itu. Tuhan memelihara hidup umat di waktu kesusahan dengan cara-Nya. Salah satunya adalah Tuhan memakai orang lain sebagai tangan-Nya untuk menolong. Teks hari ini mengingatkan umat akan peristiwa kelaparan dan kehadiran Yusuf di Mesir sebagai penyelamat mereka. Yusuf sebelumnya dijual oleh saudara-saudaranya. Ia juga mendapatkan fitnah dari istri Potifar. Tetapi ternyata Tuhan menyiapkan Yusuf untuk menolong umat Israel ketika kelaparan melanda. Jefry ditolong Tuhan melalui dosennya. Ia akhirnya bisa membayar uang semester. Maka ingatlah, Tuhan dapat memakai orang lain menjadi tangan-Nya untuk memelihara hidup kita. Bersyukur dan bersukacitlah!.

Doa: Terima kasih Tuhan karena ada oranglain yang jadi tanganMu untuk menolongku, Amin

Jumat, 09 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 23-36

23 Demikianlah Israel datang ke Mesir, dan Yakub tinggal sebagai orang asing di tanah Ham. 24 TUHAN membuat umat-Nya sangat subur, dan menjadikannya lebih kuat dari pada para lawannya; 25 diubah-Nya hati mereka untuk membenci umat-Nya, untuk memperdayakan hamba-hamba-Nya. 26 Diutus-Nya Musa, hamba-Nya, dan Harun yang telah dipilih-Nya; 27 keduanya mengadakan tanda-tanda-Nya di antara mereka, dan mujizat-mujizat di tanah Ham: 28 dikirim-Nya kegelapan, maka hari menjadi gelap, tetapi mereka memberontak terhadap firman-Nya; 29 diubah-Nya air mereka menjadi darah, dan dimatikan-Nya ikan-ikan mereka. 30 Katak-katak berkeriapan di negeri mereka, bahkan di kamar-kamar raja mereka; 31 Ia berfirman, maka datanglah lalat pikat, dan nyamuk-nyamuk di seluruh daerah mereka; 32 dicurahkan-Nya hujan es ganti hujan mereka, dan api yang menyala-nyala di negeri mereka; 33 dirubuhkan-Nya pohon anggur dan pohon ara mereka, dan ditumbangkan-Nya pohon di daerah mereka; 34 Ia berfirman, maka datanglah belalang dan belalang pelompat tidak terbilang banyaknya, 35 yang memakan segala tumbuh-tumbuhan di negeri mereka, dan memakan hasil tanah mereka; 36 dibunuh-Nya semua anak sulung di negeri mereka, mula segala kegagahan mereka:

Tuhan Pembuat Mujizat

Kita pasti pernah mengalami situasi dimana kita merasa tidak ada jalan. Seolah berhadapan dengan kemalangan yang tidak dapat dihindari. Namun kita pun tentu mengalami apa yang disebut sebagai mujizat. Jalan terbuka dan kita diluputkan karena mujizat. Seluruh kesaksian Alkitab mengisahkan banyak mujizat yang dibuat oleh Allah. Bacaan ini mengingatkan umat melalui cerita tentang apa yang terjadi atas keturunan Yakub ketika menetap di Mesir sebagai orang asing.Ketika orang Israel makin berkembang, orang Mesir menjadi musuh dan memperbudak  mereka. Sebagai tanggapan atas penindasan, Tuhan memilih Musa dan Harun untuk berbicara kepada Firaun agar ia membebaskan bangsa Israel. Penolakan Firaun membuatnya mendapatkan serangkaian malapetaka sebagai bentuk mujizat Tuhan. Itulah perbuatan tangan Tuhan yang layak dikagumi dan diceritakan. Sepanjang bulan Januari ini kita belajar memahami anugerah Allah yang dinyatakan melalui pemeliharaan kehidupan semesta. Karya Allah itu membuat kita bersukacita sebab mujizat-Nya memelihara hidup kita. Marilah hadapi hari-hari hidup dengan penuh pengharapan. Bila kita benar-benar tidak berdaya, percayalah Tuhan sanggup membuat mujizat terjadi dalam hidup kita. Ia sanggup menolong kita.

Doa: Tuhan Yesus kami perlu mujizat-Mu. Amin.

Sabtu, 10 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 105 : 37-45

37 Dituntun-Nya mereka keluar membawa perak dan emas, dan di antara suku-suku mereka tidak ada yang tergelincir. 38 Orang Mesir bersukacita, ketika mereka keluar, sebab orang-orang Mesir itu ditimpa ketakutan terhadap mereka. 39 Dibentangkan-Nya awan menjadi tudung, dan api untuk menerangi malam. 40 Mereka meminta, maka didatangkan-Nya burung puyuh, dan dengan roti dari langit dikenyangkan-Nya mereka. 41 Dibuka-Nya gunung batu, maka terpancarlah air, lalu mengalir di padang-padang kering seperti sungai; 42 sebab Ia ingat akan firman-Nya yang kudus, akan Abraham, hamba-Nya. 43 Dituntun-Nya umat-Nya keluar dengan kegirangan dan orang-orang pilihan-Nya dengan sorak-sorai. 44 Diberikan-Nya kepada mereka negeri-negeri bangsa-bangsa, sehingga mereka memiliki hasil jerih payah suku-suku bangsa, 45 agar supaya mereka tetap mengikuti ketetapan-Nya, dan memegang segala pengajaran-Nya. Haleluya!

Tuhan Memimpin Tiap Langkah

Lirik lagu KJ No.408” di jalanku ku diiring”, kesukaan teman saya. Ketika saya bertanya alasan ia menyukainya, maka ini yang ia sampaikan: Lagu ini membuat saya terhibur dan dikuatkan. Walau dalam situasi apapun saya percaya Tuhan akan tetap iring langkah saya”. Memang seharusnya demikianlah keyakinan kita sebagai orang percaya. Pemazmur mengungkapkannya secara jelas di dalam teks ini. Ingatan akan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir menjadi bagian yang kembali diceritakan pemazmur. Tuhan menuntun mereka keluar dengan membawa emas dan perak bangsa Mesir. Awan dan api sebagai lambang penyertaan. Burung puyuh dan air disediakan secara ajaib dalam pengembaraan mereka. Tuhan memimpin mereka dan karena itu mereka keluar dengan kegembiraan dan sorak-sorai. Sebagaimana Tuhan memimpin umat Israel dahulu, maka kita pun diharapkan memberi diri dipimpin Tuhan. Tahun ini penuh rahasia. Kita tidak tahu apakah yang akan terjadi. Tetapi satu yang pasti yakni Tuhan tidak tinggalkan kita. Tuhan pasti memimpin tiap langkah  dalam perjalanan kita di tahun 2026.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu hidup dalam Iman. Amin

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 28 Des 2025 – 03 Januari 2026

Tema Bulanan : Menjadi Gereja yang Teguh Memberitakan Cinta Kasih Tuhan bagi Semua

Tema Mingguan : Carilah Perdamaian dan Berusaha Mendapatkannya

Minggu 28 Desember 2025

bahan bacaan : Mazmur 34 : 12-15

11 (34-12) Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! 12 (34-13) Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? 13 (34-14) Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; 14 (34-15) jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

Carilah Damai dan Kejarlah Ia

Kehidupan modern terasa begitu cepat dan penuh tekanan. Kita dikejar target dan tuntutan yang tidak pernah berhenti. Persaingan, konflik, dan perselisihan seakan menjadi bumbu kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun pergaulan sosial. Akibatnya, banyak orang merasa stres, cemas, dan kehilangan kedamaian batin. Di tengah hiruk pikuk ini, Mazmur 34:12-15 mengaitkan pencarian damai dengan tindakan-tindakan konkret. Bukan sekadar menunggu damai datang, tetapi kita harus mencari dan mengejarnya. Langkah pertama adalah menjaga lidah dari kejahatan dan tipu daya—kata-kata kita memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan. Selanjutnya, kita harus menjauhkan diri dari kejahatan dan melakukan kebaikan—tindakan kita harus selaras dengan kata-kata kita. Sikap dan tindakan inilah yang menjadi kunci untuk meraih damai, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Ayat ini juga menjanjikan berkat bagi mereka yang mencari damai: Tuhan akan memperhatikan mereka dan melindungi mereka. Ada kalanya kita akan menghadapi tantangan dan rintangan. Namun, kita harus tetap teguh dalam komitmen untuk mencari damai, karena Allah selalu menyertai kita dalam perjalanan ini. Ia akan memberikan kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan untuk mengatasi segala kesulitan. Dengan demikian, kita dapat mengalami shalom—kedamaian yang melampaui segala situasi dan pengertian.

Doa: Kristus, mampukanlah kami menjadi saksi setiaMu di Bumi, amin.

Senin, 29 Desember 2025

bahan bacaan : Yesaya 48 : 17 – 18

17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. 18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,

Jalan Damai Sejahtera

Allah bukan hanya memberikan perintah, tetapi juga mengajar dan menuntun umat-Nya menuju jalan yang benar. Bagaimana kita bisa berjalan pada  Jalan yang benar? Kita mesti taat;merespon dengan tulus perintah dan Ajaran Allah. Hasilnya adalah damai sejahtera yang melimpah—seperti sungai yang meluap dan gelombang laut yang tak putus-putusnya. Pesan Yesaya 48:17-18 sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Mencari damai tidak cukup hanya dengan usaha manusia. Kita perlu mencari tuntunan Allah melalui doa, renungankan Firman-Nya, dan beribadah. Allah memberikan hikmat dan kekuatan untuk menghadapi konflik dan perselisihan. Ia juga memberikan kemampuan untuk mengampuni, memahami, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Jalan menuju damai mungkin tidak selalu mudah. Kita akan menghadapi tantangan dan rintangan. Namun, dengan tetap berpegang pada tuntunan Allah, kita akan menemukan kekuatan dan kedamaian yang melampaui segala pengertian. Damai sejahtera yang dijanjikan bukanlah kedamaian duniawi yang rapuh, melainkan kedamaian yang berasal dari hati yang diubahkan oleh kasih Allah. Ini adalah kedamaian yang berkelanjutan, yang membawa kebahagiaan dan kepuasanyang sejati.

Doa: Hanya Engkau, Tuhan, Jalan Damai Sejahtera, kami, amin   

Selasa, 30 Desember 2025

bahan bacaan : Mazmur 85 : 1 – 14

Doa mohon Israel dipulihkan
Untuk pemimpin biduan. Mazmur bani Korah. (85-2) Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, ya TUHAN, telah memulihkan keadaan Yakub. 2 (85-3) Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Sela 3 (85-4) Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala. 4 (85-5) Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. 5 (85-6) Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? 6 (85-7) Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? 7 (85-8) Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu! 8 (85-9) Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? 9 (85-10) Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. 10 (85-11) Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. 11 (85-12) Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. 12 (85-13) Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. 13 (85-14) Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

BersamaNya Semua Hal Menjadi Bermakna

Dunia saat ini menghadapi krisis kemanusiaan yang kompleks dan multi-faceted. Konflik bersenjata, ketidakadilan sosial, dan bencana alam telah menciptakan penderitaan yang meluas dan mengancam perdamaian global. Di tengah gejolak ini, banyak orang merasa kehilangan harapan dan sulit menemukan kedamaian batin. Kecemasan, ketakutan, dan keputusasaan menjadi hal yang umum. Namun, di tengah krisis ini, Mazmur 85:1-14 menawarkan sebuah pesan pengharapan: bahwa kedamaian sejati dapat dicapai melalui pertobatan, pemulihan hubungan dengan Allah, dan tindakan nyata untuk membangun perdamaian. Pemazmur menggambarkan keadaan umat Allah yang sedang menderita akibat perpecahan dan konflik. Ia memohon kepada Allah untuk menunjukkan belas kasihan, mengampuni dosa, dan memulihkan hubungan yang rusak. Mencari kedamaian di tengah krisis kemanusiaan bukanlah tugas yang mudah. Ia membutuhkan komitmen, kesabaran, dan ketekunan. Namun, dengan berpegang teguh pada Allah dan mengikuti tuntunan-Nya, kita dapat menemukan kekuatan dan pengharapan. Ini adalah kedamaian yang membawa harapan, kesejahteraan, dan kehidupan yang penuh makna, bahkan di tengah krisis yang paling berat sekalipun.

Doa: Kami percaya, bersamaMu Tuhan, semua hal menjadi bermakna, amin 

Rabu, 31 Desember 2025

bahan bacaan : Mazmur 66 : 1 – 20

Nyanyian syukur karena orang Israel tertolong
Untuk pemimpin biduan. Nyanyian Mazmur. Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, 2 mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! 3 Katakanlah kepada Allah: "Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. 4 Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." Sela 5 Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia: 6 Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, 7 yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri. Sela 8 Pujilah Allah kami, hai bangsa-bangsa, dan perdengarkanlah puji-pujian kepada-Nya! 9 Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak membiarkan kaki kami goyah. 10 Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. 11 Engkau telah membawa kami ke dalam jaring, mengenakan beban pada pinggang kami; 12 Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami, kami telah menempuh api dan air; tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas. 13 Aku akan masuk ke dalam rumah-Mu dengan membawa korban-korban bakaran, aku akan membayar kepada-Mu nazarku, 14 yang telah diucapkan bibirku, dan dikatakan mulutku pada waktu aku susah. 15 Korban-korban bakaran dari binatang gemuk akan kupersembahkan kepada-Mu, dengan asap korban dari domba-domba jantan; aku akan menyediakan lembu-lembu dan kambing-kambing jantan. Sela 16 Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku. 17 Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian. 18 Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar. 19 Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. 20 Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

Merayakan Kesetiaan Tuhan

Puji Tuhan! Kita telah sampai di penghujung tahun 2025. Sepanjang tahun ini, kita telah mengalami berbagai peristiwa, tantangan, dan anugerah. Ada moment-moment penuh sukacita dan keberhasilan, tetapi juga ada masa-masa sulit yang menguji iman dan ketabahan kita. Di tengah arus kehidupan yang serba cepat dan penuh perubahan, sangat penting bagi kita untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup kita, dan mensyukuri kesetiaan Tuhan yang tak pernah berakhir. Sejalan dengan itu, teks Mazmur 66:1-20 hendak mengajak seluruh ciptaan untuk memuji Allah, menyatakan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Pemazmur menekankan pentingnya mempersembahkan pujian dan syukur kepada Allah sebagai respons atas kesetiaan-Nya. Teks ini memberi pesan penting bagi kita ketika hendak mengakhiri 2025  bahwa kesetiaan Tuhan adalah harta yang tak ternilai. Ia menyertai kita dalam setiap langkah kehidupan, memberikan kekuatan di saat kita lemah, dan memberikan pengharapan di saat kita putus asa. Di penghujung tahun ini, marilah kita merenungkan perjalanan hidup kita. Marilah kita mengingat kembali semua berkat yang telah Tuhan berikan, baik yang besar maupun yang kecil. Marilah kita menyadari bagaimana kesetiaan Tuhan telah menyertai kita dalam suka dan duka, menuntun kita melalui jalan yang benar, dan melindungi kita dari bahaya. Syukurilah kesetiaan Tuhan itu dan mari kita memasuki tahun baru 2026 dengan semangat untuk terus hidup dalam kesetiaan bagiNya.

Doa: Tuhan, kami sungguh bersyukur atas kasihMu hingga di  hari terakhir tahun 2025 ini, amin 

Kamis, 01 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 121 : 1-8

TUHAN, Penjaga Israel
Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? 2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 3 Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. 4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. 5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. 6 Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. 7 TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. 8 TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Berjalan Bersama Allah Yang Setia

Kita telah memasuki tahun yang baru, tahun anugerah pemberian Tuhan. Kita bersyukur karena Tuhan setia menjaga dan menolong. Memasuki tahun baru berarti memasuki jalan yang belum pernah kita tempuh. Kita tidak tahu apa yang menanti, berkat, tantangan, perubahan, bahkan mungkin pergumulan baru. Firman Tuhan hari ini mengajak kita memulai perjalanan ini dengan satu sikap: mengangkat mata kepada Tuhan dan berjalan bersamaNya karena Tuhanlah satu-satunya Penolong. Kekuatan kita bisa saja melemah menjalani hidup ini, namun Tuhan tetap akan menjaga. Ia tidak akan membiarkan kaki kita goyah. Ini bukanlah janji bahwa kita tidak akan mengalami kesulitan, tetapi janji bahwa dalam ketidakpastian pun, langkah kita ditopang oleh tanganNya. Kita hanya perlu menyerahkan hidup bagi Tuhan kendalikan, sebab hidup ini adalah ‘peziarahan iman’ bersamaNya. Jangan mengurung diri dengan kehendak dan kekuatan diri sendiri. Yakinlah, jika kita mengandalkan Tuhan, Ia menjaga keluar-masuk kita, maka masa depan pun ada dalam tanganNya dan kita aman terpelihara. 

Doa: Terima Kasih Tuhan untuk tahun yang baru. Berjalanlah bersama kami sehingga kami terus menikmati kemuliaanMu. Amin.

Jumat, 02 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 25 : 8-12

8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. 9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. 10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya. 11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu. 12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.

Berjalanlah Dalam Jalan Tuhan Dan Nikmati Kasih Setia-Nya

Sering ku tak mengerti  jalan-jalanMu, Tuhan. Bagai di belantara yang kelam. Tanpa seribu tanya namun tetap percaya, jejakMu Tuhan sungguh sempurna….” Sepenggal syair lagu ini mengajak kita untuk mengerti dan memahami bahwa hidup dalam jalan Tuhan adalah yang terbaik dan seharusnya menjadi pilihan setiap manusia. Namun adakalanya kita tidak memahami jalan-jalan Tuhan. Kita tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan tantangan atau pergumulan terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi pemazmur mengatakan: segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran bagi yang berpegang pada janji dan peringatanNya. Artinya, setiap tantangan ada tujuannya, setiap pergumulan ada maksudnya. Karena itu, orang yang berpegang pada kasih setia Tuhan, akan tetap kuat, meskipun banyak badai yang datang karena Ia berpegang pada Tuhan. Sebagai orang percaya kita harus meyakinkan hidup untuk tetap berjalan sesuai dengan jalan Tuhan. Kita tidak akan pernah kecewa ketika berjalan bersamaNya. Dia akan terus menopang dan meneguhkan kita dalam perjalanan kehidupan.Untuk itu tetaplah berpegang pada perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya agar kita beroleh hikmat. Mintalah TuntunanNya hari demi hari dengan penuh kerendahan hati. Tunduklah kepada firmanNya dan biarkan Tuhan membentuk pikiran, keputusan dan rencana kita dalam menempuh perjalanan di tahun baru ini.

Doa: Ya Tuhan, arahkanlah kami untuk berpegang pada perjanjian dan peringatanMu agar kami selalu berjalan dalam kasihMu. Amin..

Sabtu, 03 Januari 2026

bahan bacaan : Ulangan 5 : 32-33

32 Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. 33 Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki."

Ikuti Jalan Tuhan dan Jangan Menyimpang Ke Kiri Dan Ke Kanan

Setiap transportasi yang beroperasi memiliki jalur yang telah ditetapkan. Baik itu di darat, laut dan udara. Semisal, kita amati pesawat yang sedang terbang, sepertinya pesawat itu bisa bergerak bebas ke mana saja. Namun, pesawat itu sebetulnya terbang sesuai dengan jalurnya. Meleset satu derajat saja, bisa terjadi kecelakaan.  Bangsa Israel dalam firman Tuhan hari ini juga telah ditetapkan berjalan dengan jalur atau rute perjalanan yang mereka harus tempuh. Perjalanan itu menuntut mereka untuk taat dan patuh. Tidak boleh menyimpang ke kiri atau ke kanan tetapi tetap di jalan yang ditentuka. Mereka diingatkan untuk tetap setia dalam iman dan percaya, tetap bersandar dan mengandalkan Tuhan, tetap berpegang teguh pada petunjuk dan perintah di dalam Firman Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan telah melengkapi mereka dengan petunjuk dan arah perjalanan yang akan dilalui. Tuhan juga memberi semangat agar tetap berjalan di jalan Tuhan. Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Tuhan menyatakan peraturan dan perintahnya melalui firman-Nya dalam Alkitab. Jika kita mengikuti peraturan dan perintah Tuhan, kita bukan hanya akan hidup dan mengalami keadaan yang baik, tapi akan menikmati anugerahNya.  Maka, ikutilah jalan Tuhan, jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri.

Doa: Tuntun jalan hidup kami Tuhan, sehingga tidak menyimpang dari jalanMu. Amin.

*SUMBER : SHK DES 2026 & JAN 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Desember 2025

Tema Bulanan : Menjadi Gereja yang Teguh Memberitakan Cinta Kasih Tuhan bagi Semua

Tema Mingguan : Menanti Tuhan dalam Kedamaian

Minggu, 21 Desember 2025

bahan bacaan : Mazmur 24 : 1 – 10

Kedatangan Raja Kemuliaan dalam Bait Allah
Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. 2 Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. 3 "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" 4 "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. 5 Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. 6 Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub." Sela 7 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! 8 "Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!" 9 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! 10 "Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" Sela

Menjaga Hati, Mulut dan Tingkah Laku

Mazmur 24:1-10 termasuk kumpulan mazmur Daud, dan merupakan Madah pujian yang memuliakan Tuhan sebagai Raja. Kidung ini dipakai dalam ibadah berupa arak arakan yang mengantar Tabut perjanjian masuk kedalam Bait Allah, seperti yang terjadi waktu Tabut itu oleh Daud dipindahkan ke Yerusalem. Dalam mazmur ini Daud memuji Allah sebagai Raja yang kekal, Tuhan semesta Alam. Dialah pencipta, pemilik serta penguasa atas dunia dan hidup manusia. Raja kemuliaan yaitu Tuhan Yesus Kristus itulah yang membedakan Dia dengan allah-allah lain. Pengakuan kita harus nampak dalam perbuatan, cara berpikir dan perilaku kita, keseharian kita di tengah keluarga, gereja dan masyarakat, sebab hanya orang-orang yang tidak melakukan kejahatan dengan tangannya, murni hatinya dan pikirannya serta hidup kudus, merekalah yang dapat berjumpa dengan dengan Allah dalam Bait-Nya. Dia datang sebagai Raja kemuliaan yang hadir dalam Bait Allah mengangkat. membangkitkan kita dan memulihkan kita dari segala kesedihan, ketakutan, kebodohan, penipuan yang menawan hidup orang percaya dan membuat kita tidak berdaya, tetapi la sendiri telah datang sebagai Raja Kemuliaan yang mengangkat dan mentranformasi hidup kita menjadi lebih baik, nantikanlah Tuhan dengan kedamaian sambil tetap menjaga hati, menjaga pikiran, menjaga mulut, dan menjaga tingkah laku kita agar layak dan pantas didalam menyambut kedatangan-Nya.

Doa: Tuhan, bantu kami menjaga hati, pikiran, mulut dan tingkah laku kami, Amin.  

Senin, 22 Desember 2025

bahan bacaan : Yesaya 26 : 12

12 Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.

Damai Sejahtera Sejati

Damai sejahtera dari Tuhan mengalir dari dalam hati (internal), tidak terpengaruh oleh situasi kondisi, dan bersifat kekal. Sekalipun diterpa masalah, sekalipun situasi sedang tidak baik, hati tetap dipenuhi oleh damai sejahtera. Damai sejahtera bersumber dari hubungan yang karib antara kita dengan Tuhan dan dampak dari ketaatan kita melakukan firman Tuhan. Ada tertulis: “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,” Dengan cara inilah Tuhan akan melimpahkan damai sejahtera-Nya kepada kita. Ketika kita berserah dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal, Dia yang akan mengerjakan segala sesuatu melalui kita. Bukan karena kekuatan kita, tetapi karena anugerah dan kuasa-Nya. Saat kita berjalan bersama Tuhan, ada jaminan bahwa Dia akan menyediakan apa yang kita butuhkan. (ay 12). Damai sejahtera sudah ada di dalam hati kita masing-masing, hanya tinggal kita mau atau tidak mengalahkan kedagingan kita dan mengaplikasikan damai sejahtera tersebut dalam hidup kita sehari-hari. Dunia bisa saja memberikan damai, tetapi belum tentu menghasilkan sejahtera bagi seluruh manusia. Sumber utama damai sejahtera kita adalah Yesus. Kita harus memandangNya sebagai sumber kekuatan, hikmat, dan kemampuan untuk mencapai damai sejahtera yang Ia sediakan.

Doa: Tuhan, biarlah damaiMu selalu ada di hati kami. Amin.

Selasa, 23 Desember 2025

bahan bacaan : 1 Petrus 3 : 8 – 12

Kasih dan damai
8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, 9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: 10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. 11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. 12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."

Sebagai “Batu Hidup”

Kita adalah ” batu hidup ” yang sedang dibangun menjadi rumah rohani karena kita adalah bagian dari bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah sendiri. Karena itu, kita juga orang asing dan perantau di dunia ini, dan hamba Yesus. Petrus menunjukkan dalam bagian ini bahwa sikap dan tindakan kita haruslah benar dalam ketundukan kepada Allah, yang akan menghasilkan kita menjadi berkat bagi orang lain dan menerima berkat perkenanan Allah. kita akan hidup sesuai dengan panggilan Allah untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus dalam segala situasi kehidupan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan sebagai orang percaya. Seia sekata, seperasaan, mengasihi, rendah hati, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki dan hidup untuk menjadi berkat. Jika kita mengimani sang Mesias, maka karakterNya harus tampak dalam hidup kita. Indah jika kita mau mencintai hidup yang Tuhan anugerahkan dan hidup sesuai dengan tingkah laku yang diajarkanNya. Kita pasti mampu menerapkannya selama Tuhan yang menjadi andalan hidup kita. Lakukanlah yang Tuhan mau maka hidupmu akan penuh damai selama menanti kedatanganNya.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu mendapatkan perkenananMu setiap hari. Amin. 

Rabu, 24 Desember 2025

bahan bacaan : Yesaya 52 : 7 – 10

7 Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!" 8 Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion. 9 Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem. 10 TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.

 Anak Kecil itu adalah Tangan Tuhan

Yesaya memberi tahu kita apa yang sebenarnya kita lihat di sini: Tuhan menyingkapkan tangan-Nya yang kudus di hadapan segala bangsa, dan segala ujung bumi akan melihat keselamatan dari Allah kita. Anak kecil yang tak berdaya ini adalah tangan Tuhan, kekuatan Allah, yang dinyatakan kepada semua orang. Allah yang menyingsingkan lengan baju-Nya, menggali karya yang dijanjikan-Nya, karya-Nya untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal. Natal adalah langkah pertama dari rencana-Nya yang akan membawa Yesus ke kayu salib untuk mati menebus dosa-dosa kita dan kemudian kepada kebangkitan-Nya yang akan membuktikan kemenangan-Nya bagi kita. Betlehem, tempat Allah mulai melakukan apa yang telah Ia janjikan. Juruselamat dunia yang telah lama dijanjikan telah tiba. Allah Tritunggal berkata, “Sekarang saatnya untuk mulai bekerja.” Dan pekerjaan-Nya difokuskan pada kita, penyelamatan kita, keselamatan kekal, dan kesejahteraan kita. Tidak ada yang penting bagi-Nya selain kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan maut. Dia akan melakukan segala yang kita butuhkan untuk menyelamatkan kita.  Firman telah menjadi manusia bagimu. Bayi ini lahir di lingkungan yang sederhana untukmu. Tangan Tuhan telah terbuka bagimu. Tuhan sedang menggunakan kuasa-Nya yang mahakuasa untuk menyelamatkanmu. Natal adalah bukti nyata bahwa Tuhan mengasihi, mengasihimu tanpa pamrih, mengasihimu dengan rela berkorban. Selamat Menyambut Natal Kristus.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk cinta kasihMu bagi kami. Amin.  

Kamis, 25 Desember 2025

bahan bacaan : Yesaya 9 : 1 – 6 & Lukas 2 : 1 – 7

Yesaya 9 : 1 – 6

(9-1) Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. 3 (9-2) Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. 4 (9-3) Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. 5 (9-4) Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. 6 (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Lukas 2 : 1 – 7

Kelahiran Yesus
Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. 2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. 4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, --karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-- 5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. 6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Yesus Lahir Membawa Damai

Yesaya 9:1-6 sering disebut sebagai nubuat lahirnya Mesias. Sebab dalam ayat ini gambaran Mesias sebagai pembawa damai dan memulihkan kehidupan umat dinampakkan secara gamblang. Mesias yang digambarkan dalam Yesaya ini adalah seorang penguasa pemerintahan dan memiliki sisi keilahian yaitu Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal dan Raja Damai (ay. 5). Lukas 2:1-7 memulai kisah kelahiran Yesus dengan mengkaitkan perintah Kaisar Agustus supaya setiap penduduk di wilayah Romawi mendaftarkan diri. Kaisar Agustus adalah pemimpim tertinggi kekaisaran Romawi sedangkan Kirenius adalah pejabat daerah di wilayah Siria. Artinya keduanya adalah pejabat politik yang memiliki kuasa kepada rakyat yang dikuasainya termasuk Yusuf dan Maria. Sementara itu, Yusuf dan Maria adalah rakyat biasa, bukan pejabat atau orang yang memiliki kekuasaan. Dalam konteks Yusuf dan Maria melakukan perintah penguasa itulah Yesus lahir. Yesus ditampilkan sebagai rakyat kecil yang juga terdampak pada kebijakan penguasa. Lahirnya Yesus adalah lahirnya kesatuan dari antara yang tercerai-berai. Yesus yang adalah Tuhan, bersedia menyapa dan hadir bagi dunia serta memihak kepada orang yang lemah yang selama ini menjadi korban dan diabaikan dari lingkungan sosial, ekonomi maupun politik. Menyambut kedatangan Yesus, Mari kita membawa kedamaian dengan membela kaum tertindas dan mewujudkan perdamaian dalam kehidupan.

Doa: Kristus, kami menanti kedatanganMu dalam damai, amin.   

Jumat, 26 Desember 2025

bahan bacaan : Lukas 2 : 21 – 38

Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan -- Simeon dan Hana
21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. 22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. 25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." 36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Menanti Tuhan dalam Damai

Natal, perayaan kelahiran Yesus Kristus, bukan sekadar peristiwa historis yang terjadi dua ribu tahun lalu dan berhenti begitu saja. Natal menjadi peristiwa yang terus ditunggu-tunggu dan dampaknya akan terus berlanjut hingga selama-lamanya. Kisah Simeon dan Hana dalam Lukas 2:21-38 menggambarkan bagaimana menanti Tuhan dalam damai. Mereka bukanlah orang-orang yang pasif menunggu, tetapi mereka adalah orang-orang yang hidup dalam ketaatan dan iman yang teguh. Simeon, dipimpin Roh Kudus, telah menantikan penghiburan Israel (ayat 25-26). Ia tahu bahwa janji Allah akan digenapi. Penantiannya bukan penantian yang cemas, tetapi penantian yang penuh harapan dan keyakinan. Begitu pula Hana, yang melayani Allah siang dan malam (ayat 37), ia hidup dalam penantian yang senantiasa berfokus pada Tuhan. Mereka tidak terganggu oleh hiruk-pikuk dunia, tetapi tetap teguh dalam iman dan doa. Teks ini mengingatkan kita untuk tetap fokus menanti Tuhan di tengah hiruk-pikuk dunia ini. Damai sejahtera bukanlah ketiadaan masalah, tetapi ketenangan hati di tengah badai kehidupan. Ia adalah buah dari hubungan kita yang intim dengan Allah.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk damai sejahtera yang Engkau bawa ke dunia. Amin. 

Sabtu, 27 Desember 2025

bahan bacaan : Yesaya 32 : 17 – 18

17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. 18 Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman.

Saksi Damai di Bumi

Kelahiran Yesus Kristus di Betlehem merupakan penggenapan janji Allah akan kedamaian sejati. Yesus datang bukan sebagai penguasa duniawi yang menggunakan kekerasan, tetapi sebagai Raja Damai yang menawarkan kedamaian. Namun, visi damai yang digambarkan dalam Yesaya 32:17-18 bahwa akan ada masa depan yang dipenuhi dengan keadilan, kebenaran, damai sejahtera, keamanan, dan kemakmuran belum sepenuhnya terwujud di dunia ini. Konflik, kekerasan, penindasan, ketidakadilan masih ada di mana-mana. Karena itulah, Natal mengingatkan kita bahwa kedamaian sejati itu mungkin. Kasih Kristus adalah kekuatan yang mampu mengubah hati manusia yang keras dan menciptakan kedamaian di tengah-tengah perselisihan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi saluran damai sejahtera Allah di dunia ini. Kita harus menjadi agen perubahan, menunjukkan kasih dan pengampunan kepada semua orang, tanpa memandang latar belakang atau perbedaan. Kita harus berani melawan ketidakadilan dan memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas. Kita harus berani bersuara untuk sebuah kedamaian kendati kita tahu bahwa ada harga mahal yang harus dibayar untuknya. Marilah kita merayakan Natal dengan hati yang penuh sukacita dan komitmen untuk menjadi saksi damai Kristus di dunia ini.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk terus Mencari dan Mengejar Damai, amin  

*SUMBER : SHK BULAN DESEMBER 2025, LPJ-GPM