Santapan Harian Keluarga, 27 Sept – 03 Okt 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Bekerja dengan Tekun, Jujur dan Bertanggungjawab

Minggu, 27 September 2026

bahan bacaan : Lukas 16 : 1 – 13 (TB2)

Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada orang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. 2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. 3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. 4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. 5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah utangmu kepada tuanku? 6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. 7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah utangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. 8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. 9 Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
10 "Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar. Siapa yang tidak benar dalam hal kecil, tidak benar juga dalam hal besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu? 13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

 Tekun, Jujur Dan Bertanggung Jawab

Setiap pekerjaan pasti membutuhkan ketekunan, kejujuran dan tanggung jawab tinggi dalam menjalaninya. Kalau kita pahami lebih dalam sesungguhnya wujud dari tanggung jawab itu dinyatakan melalui ketekunan dan kejujuran dimana ada  penghargaan atas hidup dan kerja  itu sendiri. Marcus Aurelius pernah berkata : “tanggung jawab adalah milikmu, tidak ada yang bisa menghentikan anda dari bersikap jujur atau berterus terang”. Ungkapan ini memberi makna bahwa bagaimanapun kita adanya nanti sangat bergantung pada pilihan dan keputusan kita sendiri. Oleh karena itu baik tekun, jujur dan bertanggung jawab adalah sebetulnya pilihan dan keputusan kita. Hal ini sejalan dengan kisah bendahara yang tidak jujur dalam bacaan ini sebab ketidakjujurannya adalah pilihannya sendiri dan ia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya yaitu dipecat oleh tuannya. Kisah ini memang menarik karena di satu sisi tentu kita pun belajar bahwa ketidakjujuran dapat menimbulkan banyak dampak baik bagi diri sendiri tapi juga orang lain. Oleh karena itu ketika kita berkomitmen pada kejujuran, kita sedang membantu mengurangi tingkat kesalahpahaman, keraguan dan ketakutan di masyarakat. Perbuatan bendahara yang tidak jujur dan menyalahgunakan uang tuannya tidak harus menjadi perilaku kita baik dalam kehidupan keluarga, gereja, dunia kerja kita dan masyarakat. Kejujuran harus tetap menjadi warisan nilai iman yang terpelihara dari genarasi ke genarasi sebab membawa dampak besar bagi hidup yang penuh damai Sejahtera.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami bekerja denan tekun, jujur dan bertanggungjawab. Amin

Senin, 28 September 2026

bahan bacaan : Ayub 8 : 1 – 7 (TB2)

Bildad membela keadilan Allah
Berbicaralah Bildad, orang Suah: 2 "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu? 3 Mungkinkah Allah membengkokkan keadilan? Mungkinkah Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? 4 Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka. 5 Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, 6 kalau engkau bersih dan jujur, tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu. 7 Kedudukanmu yang dahulu akan terlihat kecil, tetapi keadaanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.

 Hidup Bersih dan Jujur

Suatu ketika, seorang ibu kehilangan anaknya. Dalam duka yang begitu dalam, bukannya mendapatkan penghiburan, ia justru mendengar perkataan yang melukai: “Mungkin ini hukuman Tuhan karena kesalahanmu.” Perkataan itu seakan-akan menambah beban di atas luka yang sudah terbuka. Alih-alih menguatkan, perkataan ini membuatnya semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan kehilangan. Hal ini mengingatkan kita kepada Bildad yang menilai penderitaan Ayub sebagai akibat dosa. Padahal, tidak semua penderitaan adalah hukuman atas dosa. Namun di balik pemahaman yang keliru itu, ada suatu kebenaran: hidup yang bersih dan jujur di hadapan Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat hati yang tulus dan setia. Ia tidak menutup mata terhadap pergumulan umat-Nya. Karena itu tetaplah hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Percayalah, Tuhan sanggup memulihkan “rumah” kita  baik kehidupan keluarga, maupun masa depan sesuai dengan kehendak-Nya. Pemulihan Tuhan mungkin tidak selalu cepat, tetapi pasti dan penuh kasih.

Doa: Tuhan, ajar kami hidup bersih dan jujur. Pulihkan kehidupan keluarga kami. Amin.

Selasa, 29 September 2026

bahan bacaan : 2 Raja-raja 12 : 9 – 16 (TB2)

9 Lalu Imam Yoyada mengambil sebuah peti, membuat lobang pada tutupnya. Ia  menaruhnya di samping mezbah, di sebelah kanan apabila orang masuk ke rumah TUHAN. Para imam penjaga pintu menaruh ke dalamnya semua uang yang dibawa orang ke dalam rumah TUHAN. 10 Ketika mereka melihat bahwa uang dalam peti itu sudah banyak, sekretaris raja datang bersama imam besar, lalu membungkus dan menghitung uang yang terkumpul dalam rumah TUHAN. 11 Mereka menyerahkan jumlah uang yang ditetapkan ke tangan para pekerja yang dijadikan pengawas rumah TUHAN. Mereka ini kemudian membayarkannya kepada tukang-tukang kayu, tukang-tukang bangunan yang mengerjakan rumah TUHAN, 12 tukang-tukang tembok dan para pemotong batu; juga membeli kayu  dan potongan batu untuk memperbaiki kerusakan Rumah TUHAN dan segala pengeluaran untuk perbaikan rumah itu. 13 Tetapi untuk rumah TUHAN tidak dibuat bejana perak, pisau, bokor penyiraman, nafiri, perlengkapan apapun dari emas atau perak, dengan uangnya yang dibawa ke dalam rumah TUHAN. 14 Sebab mereka menyerahkannya kepada para pekerja, untuk dipakai memperbaiki rumah TUHAN. 15 Mereka tidak meminta perhitungan dengan orang-orang yang diserahi uang untuk diberikan kepada para pekerja, sebab mereka itu bekerja dengan jujur. 16 Tetapi uang kurban penebus salah dan uang kurban penghapus dosa tidak dibawa ke dalam rumah TUHAN; semuanya itu adalah bagian para imam.

Mengutamakan Kejujuran

Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelayanan, kita sering diperhadapkan pada hal-hal kecil yang menguji hati: bagaimana kita mengelola kepercayaan, menjalankan tanggung jawab, dan bersikap tulus pada apa yang dipercayakan kepada kita. Terkadang hal-hal sederhana ini luput dari perhatian, padahal justru di sanalah karakter kita dibentuk. Firman Tuhan dalam 2 Raja-raja 12:9-16 menceritakan bagaimana Imam Yoyada menata kembali pengelolaan persembahan dengan cara yang terbuka. Uang yang terkumpul dipergunakan untuk memperbaiki Bait Tuhan, dan para pekerja melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Bahkan mereka tidak diawasi secara ketat, karena mereka dikenal sebagai orang-orang yang dapat dipercaya. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan berkenan bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya. Kejujuran dan ketulusan menjadi dasar yang memampukan pemulihan terjadi baik dalam pelayanan, keluarga, maupun kehidupan pribadi.

Doa: Tuhan, mampukan kami bekerja dengan rajin dan jujur. Amin.

Rabu, 30 September 2026

bahan bacaan : Amsal 21 : 5 – 6 (TB2)

5 Rancangan orang rajin pasti mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa pasti mengalami kekurangan. 6 Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah uap yang lenyap dari orang yang mencari maut.

Kerja Jujur Mendatangkan Berkat

Di tengah realitas hidup saat ini, tidak sedikit orang yang tergoda untuk menjalani hidup dengan cara yang kurang bertanggung jawab, seperti enggan bekerja dengan sungguh-sungguh, terlalu tergantung pada bantuan, atau mencari jalan pintas melalui pinjol, praktik judi, maupun cara lain yang tidak tepat. Tekanan ekonomi yang semakin meningkat juga sering membuat sebagian orang tergoda untuk mengabaikan nilai kejujuran demi memperoleh keuntungan dengan cepat. Namun, Kitab Amsal 21:5-6 mengingatkan bahwa rancangan orang yang tekun akan membawa kelimpahan, sedangkan keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar hanya bersifat sementara dan pada akhirnya mendatangkan kesulitan. Firman Tuhan ini menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya dilihat dari hasil, tetapi dari proses yang dijalani dengan benar. Oleh karena itu, kita diajak untuk hidup dengan disiplin, bekerja dengan penuh tanggung jawab, menggunakan setiap kesempatan dengan bijaksana, serta tetap menjujung tinggi kejujuran. Dengan demikian kita mempercayakan hidup kepada Tuhan melalui proses yang benar,  sehingga berkat yang kita terima menjadi berkat yang membawa kebaikan dan damai sejahtera bagi diri sendiri maupun sesama.

Doa: Tuhan, kami percaya berkatMu ada bagi kami yang bekerja dengan jujur, Amin.

Kamis, 01 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 11 : 1 – 4 (TB2)

Neraca yang curang menjijikkan bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat. 2 Bila keangkuhan tiba, datang juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati. 3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya. 4 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.

Jadilah Pribadi yang Jujur

Di dunia dewasa ini, kejujuran merupakan hal yang sangat penting. Tanpa kejujuran, seseorang tidak akan mudah dipercaya. Kita mungkin pernah diperhadapkan dengan situasi seperti ini. Kita mengalami kekurangan dan tiba-tiba kita menemukan barang  berharga milik orang lain. Apakah yang menjadi pilihan sikap kita? Sebagai orang percaya kita takut Tuhan dan karena itu kita diajak untuk bersikap jujur. Inilah yang ditekankan dalam teks bacaan hari ini. Kejujuran adalah karakter yang dibentuk dalam kesadaran mengatakan benar terhadap yang benar dan salah terhadap yang salah. Kejujuran adalah juga soal mengakui milik dan mengatakan dengan berani tentang yang buka milik. Hidup orang bijak adalah hidup yang bersesuaian dengan kehendak Tuhan. Menjadi pribadi yang jujur itu adalah kewajiban. Orang jujur hidupnya diberkati Tuhan. Marilah kita menjadi pribadi yang jujur sebab dengan kejujuran, kita memperlihatkan kehidupan sebagai orang berhikmat.

Doa: Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap jujur, Amin.

Jumat, 02 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 12 : 24 – 28 (TB2)

24 Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa. 25 Kekhawatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. 26 Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri. 27 Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga. 28 Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut.

Janganlah Malas, Rajinlah Bekerja

Perkembangan harga barang dan tuntutan hidup membuat perjalanan kita di saat-saat sekarang menjadi tidak mudah. Kita dituntut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan. Demi kehidupan, kita tidak bisa berpangku tangan. Pekerjaan apa saja akan ditekuni  demi kelanjutan hidup. Tetapi  kesadaran ini ternyata hanya dimiliki oleh orang yang rajin. Bagi orang malas, mereka hanya mau hidup senang tanpa harus mengeluarkan keringat. Di saat orang lain sementara berjuang memenuhi hidup, mereka justru malah menunjukkan kemalasan. Amsal menggambarkan mereka sebagai orang yang berhati bebal. Adapun karakteristik utama orang bebal adalah orang yang tidak takut Tuhan. Kebebalan membuat  mereka tidak mau mendengarkan nasihat. Karakter hidup seperti ini hanya akan membuat mereka mengalami kesusahan. Amsal menyebutkan bahwa bila orang rajin menikmati kesenangan, mereka sebaliknya yaitu kesusahan. Kita tentu tidak mau hidup susah. Karena itu, marilah kita rajin bekerja. Jangan malas, sebab kemalasan hanya akan membuat hidup kita susah. Ingatlah “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga”.

Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap rajin dalam berusaha, Amin.

Sabtu, 03 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 13 : 4 – 5 (TB2)

4 Hati orang malas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. 5 Orang benar benci kepada dusta, tetapi orang fasik busuk dan memalukan.

Jangan Kerja Baku Harap

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan dan bila diitekuni dengan kesungguhan hati merupakan wujud pengucapan syukur dan pertanggungjawaban kita kepada-Nya. Hanya saja terkadang ditemukan pribadi-pribadi yang tidak maksimal melakukannya. Satu bentuk kecendrungan perilaku itu nampak melalui model kerja yang hanya bisa mengharapkan kerja keras orang lain atau yang dikenal dengan istilah “kerja baku harap”.. Gaya hidup macam ini dikritik oleh teks kita hari ini. Sebagai kitab pengajaran hikmat, Amsal menekankan pentingnya tidak bermalas-malasan sebab  mengakibatkan kesia-siaan. Bila kita menginginkan sesuatu, kita harus mengusahakannya dengan sungguh-sungguh dan bukan atas dasar “baku harap”. Selagi sesuatu hal bisa kita kerjakan, kita harus bisa melakukannya sendiri tanpa harus menunggu. Hikmat dari Tuhan menolong kita memahami betul apa yang harus kita kerjakan. Benar, kita perlu kerjasama sebab semua hal tidak bisa kita kerjakan sendiri. Tetapi yang terlebih penting adalah kita harus tahu bahwa jangan membawa kerja baku harap dalam suatu pencapaian tujuan. Kita tidak akan pernah mencapai apapun bila itu menjadi prinsip kerja kita.

Doa: Tuhan Yesus,tolonglah kami untuk rajin bekerja dan tidak kerja baku harap, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT & OKT 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 20 – 26 September 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Tekun Melayani Dengan Rendah Hati

Minggu, 20 September 2026

bahan bacaan : Yohanes 13 : 1 – 20 (TB2)

Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. 2 Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas, anak Simon Iskariot, untuk menyerahkan Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain linen dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Lalu sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak." 8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata Yesus kepadanya: "Siapa yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Kamu sudah bersih, tetapi tidak semua." 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. 16 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada orang yang mengutusnya. 17 Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. 18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. 19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. 20 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."

Melayani dengan Rendah Hati

Saat ini, seakan kerendahan hati menjadi barang langka. Akibatnya, hubungan dalam keluarga atau masyarakat sering retak karena ego yang terlalu tinggi dan keengganan untuk mengalah. Teks Yohanes 13:1-20 memberikan teladan yang sangat kontras melalui tindakan Yesus mencuci kaki murid-murid-Nya. Secara teologis, tindakan ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan yang paling tinggi justru dinyatakan melalui pelayanan yang paling rendah. Mencuci kaki adalah tugas seorang budak, namun Yesus, Sang Guru, melakukannya untuk mengajarkan tentang kerendahan hati da menghapus kesombongan para murid-Nya. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati di dalam keluarga dimulai dari kesediaan untuk menjadi “hamba” bagi anggota keluarga yang lain. Gereja wajib membimbing orang tua dan anak-anak untuk memiliki hati yang tulus dalam membantu sesama tanpa mengharap imbalan. Jangan biarkan pelayanan kita di gereja berbeda dengan sikap kita di rumah yang mungkin masih kasar atau egois. Mari kita belajar untuk tekun melayani Tuhan dengan cara merendahkan hati di hadapan sesama manusia.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk melayaniMu dengan rendah hati, amin  

Senin, 21 September 2026

bahan bacaan : Amsal 15 : 33 (TB2)

33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kehormatan didahului kerendahan hati.

Rendah Hati: Jalan menuju Hikmat dan Kehormatan

Kerendahan hati diletakkan sebagai syarat mutlak yang harus ada sebelum seseorang menerima hikmat dan kehormatan. Tuhan tidak dapat mengisi hati yang sudah penuh dengan keakuan; karena itu, kerendahan hati merupakan pengakuan jujur atas keterbatasan diri yang membutuhkan bimbingan Ilahi. Alkitab menetapkan pola yang tegas bahwa kerendahan hati adalah pintu masuk, sementara hikmat dan kehormatan adalah hasil akhirnya. Kehormatan yang dimaksud di sini bukanlah penghormatan duniawi yang dikejar melalui materi atau jabatan, melainkan pengakuan tulus dari Tuhan yang lahir karena karakter yang telah teruji, bukan karena paksaan atau sekadar pencitraan. Berdasarkan kebenaran ini, mari kita berhenti mengejar pengakuan dunia yang semu dan mulai membangun hidup di atas dasar rasa hormat kepada Tuhan. Jangan biarkan diri kita dikuasai oleh ego atau haus akan jabatan, karena kehormatan yang bernilai kekal lahir dari karakter yang teruji di hadapan Allah, bukan dari pencitraan di mata manusia. Milikilah keberanian untuk mengakui keterbatasan diri dan tunduklah pada otoritas Tuhan, sebab saat kita memilih untuk tetap rendah hati, saat itulah Tuhan sendiri yang akan mengangkat dan melimpahkan hikmat-Nya bagi kita.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami, pribadi yang rendah hati, amin

Selasa, 22 September 2026

bahan bacaan : Matius 18 : 1 – 5 (TB2)

Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 2 Yesus memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka 3 dan berkata: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 4 Oleh sebab itu, siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 5 Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

 Menjadi Besar dengan Merendah

Pertanyaan para murid tentang siapa yang terbesar di Surga menunjukkan bahwa mereka masih terjebak dalam ambisi duniawi. Mereka mengira Surga memiliki hierarki kekuasaan yang sama dengan kerajaan di bumi. Namun, Yesus justru menghadirkan seorang anak kecil sebagai teladan. Di masa itu, anak kecil tidak memiliki status sosial atau kekuatan apa pun. Dengan ini, Yesus menegaskan bahwa syarat utama masuk Kerajaan Surga adalah bertobat dan menjadi “kecil” dalam ego. Menjadi seperti anak kecil bukan berarti tidak dewasa, melainkan melepaskan ambisi berkuasa dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kebesaran di mata Tuhan berbanding terbalik dengan dunia; yang terbesar adalah mereka yang paling rendah hati dan rela melayani orang-orang yang dianggap remeh. Mari kita berhenti mengejar pengakuan atau jabatan yang hanya memicu persaingan. Nilai diri kita di hadapan Tuhan tidak diukur dari hebatnya prestasi, tetapi dari ketulusan hati untuk bergantung pada bimbingan-Nya. Milikilah hati yang jujur dan tidak menyimpan dendam. Percayalah, saat kita berani melepaskan gengsi dan tulus melayani sesama, di situlah kita benar-benar menjadi besar dalam pandangan Tuhan. Jalan menuju Surga bukanlah melalui tangga kekuasaan, melainkan melalui pintu kerendahan hati.

Doa: Menjadi besar dengan merendah adalah harapan kami, Tuhan, dengarkanlah, amin  

Rabu, 23 September 2026

bahan bacaan : Yohanes 12 : 1 – 8 (TB2)

Yesus diurapi di Betania
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. 2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 3 Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. 4 Namun Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 5 "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" 6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. 7 Lalu kata Yesus: "Biarkanlah dia, supaya ia melakukannya untuk hari penguburan-Ku. 8 Sebab orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu."

Melayani Yesus Dengan Tulus Dan Penuh Kerendahan Hati

Tindakan Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu murni menggambarkan puncak pelayanan yang tulus. Tulus dalam melayani berarti memberikan yang terbaik, tanpa pamrih dan berpusat pada kasih Kristus, bukan pada penilaian manusia. Maria menggunakan minyak narwastu yang sangat mahal untuk membasuh kaki Yesus dalam kesadarannya untuk memberikan yang terbaik sebagai bentuk persembahan kasih. Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya menyatakan ia merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Yesus. Maria mengajarkan tulus melayani tidak berarti mencari panggung atau pengakuan manusia melainkan fokus menghormati Tuhan. Kontras dengan Maria, Yudas mengkritik pengurapan tersebut dengan alasan ekonomi padahal motivasinya palsu untuk mencari keuntungan diri sendiri. Dari sini kita belajar ketulusan diuji dari motivasi hati apakah untuk kemuliaan Tuhan atau kepentingan diri sendiri. Kisah Maria memberikan motivasi benar bagi kita yang terpanggil untuk melayani dalam ruang-ruang hidup dan kerja kita sebab semua itu pun kita lakukan untuk Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk melayaniMu dengan tulus dan rendah hati dalam setiap peran dan fungsi setiap hari. Amin.

Kamis, 24 September 2026

bahan bacaan : Ulangan 8 : 11 – 20 (TB2)

11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 12 Jangan sampai, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 13 dan apabila lembumu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 14 engkau menjadi tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, 15 dan memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan mengerikan, dengan ular ganas serta kalajengking dan tanah gersang tanpa air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, 16 Dia yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, dengan maksud merendahkan hatimu dan menguji engkau, supaya mendatangkan kebaikan kepadamu pada akhirnya. 17 Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu: Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. 19 Tetapi jika engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti ilah-ilah lain, beribadah kepada mereka dan sujud menyembah mereka, aku memperingatkan kamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; 20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu."

Bersyukur Dan Jangan Melupakan Tuhan

Teks bacaan hari ini merupakan teguran  sekaligus peringatan penting dari Musa kepada bangsa Israel sebelum memasuki tanah Kanaan. Teguran dan peringatan tersebut menekankan bahwa bersyukur bukan hanya ucapan melainkan tindakan mengingat, taat dan kerendahan hati untuk mengakui Tuhan sebagai sumber segala berkat. Musa memperingatkan agar bangsa Israel tetap mengingat segala kebaikan dan tidak melupakan Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir. Hal ini pun harus menjadi pengingat dalam hidup kita  bahwa orang yang tahu bersyukur tidak lupa diri saat sukses. Kemakmuran seringkali membuat manusia sombong dan merasa berhasil karena usahanya sendiri. Syukur yang benar berarti secara sadar mengingat masa-masa padang gurun dan mengakui bahwa semua kelimpahan saat ini adalah berkat Tuhan. Orang yang tahu bersyukur mengerti bahwa bahwa kecerdasan, kesehatan dan kesempatan kerja berasal dari Allah bukan sekedar hasil jeri payah sendiri. Mengucap syukur pun tidak cukup dengan kata-kata saja tetapi tindakan nyata dari rasa syukur adalah taat dan setia kepada kehendak Tuhan. Bersyukur adalah perintah Tuhan, maka bersyukurlah dalam segala hal.

Doa: Ya Tuhan, jadikan kami orang-orang yang tahu bersyukur. Amin

Jumat, 25 September 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 4 : 6 – 13 (TB2)

Rendahkanlah dirimu
6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apa artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. 7 Sebab siapa yang menganggap engkau begitu penting? apa yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? 8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu. 9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. 11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, 12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; 13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.

Rendahkanlah Dirimu Dalam Pelayanan

Kesombongan sering menjadi akar pahit dalam kehidupan orang percaya. Sadar atau tidak, kesombongan membuat seseorang lupa bahwa semua yang dimiliki adalah anugerah Allah. Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang mengalami perpecahan dan kesombongan rohani. Ada yang mereka merasa lebih tinggi dan lebih baik daripada yang lain. Paulus mengingatkan bahwa kedewasaan rohani tidak diukur dari status, pengetahuan, atau pujian manusia, melainkan melalui pelayanan yang rela berkorban dan hidup dalam kerendahan hati. Kerendahan hati dimulai dengan menaati firman Tuhan, bukan mengandalkan hikmat manusia yang membuat seseorang merasa paling benar. Orang yang rendah hati menyadari dirinya masih perlu terus belajar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Paulus memberi teladan melalui pelayanannya yang rela dihina dan dipandang rendah demi Kristus. Sikap itu juga diteladankan Yesus dalam hidup-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup rendah hati dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Dengan kerendahan hati, hidup kita dapat menjadi berkat, kesaksian, dan memancarkan kasih Kristus bagi sesama dalam setiap tindakan dan perkataan sehari-hari.

Doa: Ajarlah kami Tuhan untuk tidak hidup dalam kesombongan diri Amin.

Sabtu, 26 September 2026

bahan bacaan : Matius 20 : 25 – 28 (TB2)

25 Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. 26 Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27 Siapa saja yang ingin menjadi pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Yesus Teladan Kerendahan dalam Pelayanan

Kepemimpinan yang menghamba merupakan salah satu ajaran penting yang diteladankan oleh Yesus. Pemimpin sejati bukanlah pribadi yang memerintah dengan keras dan menindas seperti cara dunia, melainkan seseorang yang melayani sesama dengan kasih dan kerendahan hati. Melalui ajaran-Nya, Yesus mengubah cara pandang tentang jabatan dan kekuasaan. Otoritas yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk membawa dampak positif melalui pelayanan, bukan untuk menguasai atau mencari keuntungan pribadi. Karena itu, seseorang yang dipercaya memegang jabatan tidak boleh merasa bebas bertindak sesuka hati. Kenyataannya, masih banyak orang menggunakan jabatan dan kuasa untuk meninggikan diri serta menguasai orang lain. Yesus menolak sikap seperti ini dan menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan bagi sesamanya. Yesus sendiri telah memberi teladan dengan rela merendahkan diri dan melayani manusia sebagai bukti kasih-Nya yang besar. Oleh sebab itu, dalam setiap peran dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, baik di keluarga, gereja, maupun masyarakat, semangat kehambaan harus menjadi dasar hidup orang percaya. Dengan melayani secara tulus, kita sedang menghadirkan kasih Kristus dan menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita setiap hari.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami meneladani kerendahan hatiMu, amin 

*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 September 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan Dengan Tekun

Minggu, 13 September 2026

bahan bacaan : Yakobus 1 : 22 – 27 (TB2)

22 Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 23 Sebab jika seseorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia seumpama seseorang yang sedang memandang mukanya yang sebenarnya di depan cermin. 24 Ia memandang dirinya lalu pergi dan segera lupa bagaimana rupanya. 25 Namun siapa yang meneliti hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. 26 Jikalau seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. 27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Tekun Melakukan Firman

Yakobus 1:22-27 mengingatkan kita bahwa iman sejati tidak berhenti pada mendengar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Firman Tuhan bukan sekadar untuk disimpan dalam pikiran, melainkan untuk dihidupi dengan penuh kesungguhan. Tanpa tindakan, iman menjadi kosong dan tidak berdampak. Sering kali kita merasa sudah cukup ketika rajin mendengar Firman, namun Yakobus menegur sikap demikian. Ia menggambarkan orang yang hanya mendengar sebagai pribadi yang mudah lupa, seperti melihat wajah di cermin lalu pergi tanpa perubahan. Sebaliknya, orang yang tekun melakukan Firman akan mengalami kebahagiaan dan berkat dalam hidupnya. Ketekunan menjadi bagian penting dalam perjalanan iman. Melakukan Firman tidak selalu mudah, apalagi ketika harus mengendalikan lidah, menjaga hati tetap bersih, dan tetap berbuat baik di tengah keadaan yang tidak mendukung. Namun justru di situlah iman kita diuji dan dimurnikan. Firman Tuhan juga mengajarkan bahwa ibadah yang sejati terlihat dari kepedulian kepada mereka yang membutuhkan dan hidup yang menjaga kekudusan. Karena itu, marilah kita terus belajar setia, bukan hanya sebagai pendengar, tetapi sebagai pelaku Firman yang tekun, sehingga hidup kita menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Doa Tuhan, mampukan kami untuk setia melakukan firmanMu. Amin   

Senin, 14 September 2026

bahan bacaan : Mazmur 119 : 97 – 104 (TB2)

97 Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 98 Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku, sebab itulah yang menyertai aku selama-lamanya. 99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mulah yang kurenungkan. 100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu. 101 Aku menahan kakiku dari segala jalan yang jahat, supaya aku berpegang pada firman-Mu. 102 Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku. 103 Betapa manisnya janji-Mu itu di lidahku, lebih manis dari pada madu di mulutku. 104 Dari titah-titah-Mu kuperoleh pengertian, itulah sebabnya aku membenci segala jalan serong.

Manisnya Firman Tuhan

Pemazmur berkata bahwa firman itu lebih manis dari madu, bahkan menjadi sumber hikmat yang melebihi pengajaran manusia. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merenungkan firman setiap hari, hidupnya dibentuk oleh kebenaran yang sejati. Firman Tuhan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan, dihayati, dan dilakukan. Bacaan ini menggambarkan kecintaan yang mendalam kepada firman Tuhan Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari nasihat dari berbagai sumber. Namun, firman Tuhan memberi arah yang pasti dan tidak menyesatkan. Ketika kita setia merenungkannya, kita menjadi lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, lebih peka terhadap kehendak Tuhan, dan lebih kuat menghadapi tantangan hidup. Firman itu juga menolong kita membedakan yang benar dan yang salah, sehingga langkah hidup kita tetap lurus. Karena itu, mari menjadikan firman Tuhan sebagai bagian penting setiap hari. Seperti makanan yang menguatkan tubuh, firman Tuhan menguatkan jiwa kita. Ketika kita merasakannya sebagai sesuatu yang manis, kita akan rindu untuk terus mendekat kepada Tuhan dan hidup dalam kehendak-Nya.

Doa  Tuhan, Ajari kami mencintai firmanmu. Amin.  

Selasa, 15 September 2026

bahan bacaan : Mazmur 119 : 105 – 106 (TB2)

105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 106 Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil.

Firman Tuhan Pelita Hidup

Mazmur 119:105–106 menyatakan bahwa Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki dan terang bagi jalan hidup kita. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, dosa, dan kebingungan, Firman Tuhan menjadi sumber tuntunan yang menolong kita melangkah dengan aman. Seperti pelita di malam hari, Firman Tuhan tidak selalu menunjukkan seluruh masa depan sekaligus, tetapi memberi terang yang cukup untuk setiap langkah agar kita tidak jatuh dalam kegagalan moral maupun keputusasaan. Sebagai “pelita bagi kaki,” Firman Tuhan memberi tuntunan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Saat menghadapi pilihan sulit atau dilema hidup, nilai-nilai kebenaran dalam Alkitab menjadi kompas yang menolong kita tetap berjalan di jalan yang benar. Melalui perenungan Firman, kita memperoleh hikmat untuk membedakan yang baik dan yang jahat sehingga keputusan yang diambil selaras dengan kehendak Tuhan.Firman Tuhan juga menjadi “terang bagi jalan,” yang memberi arah dan pengharapan bagi masa depan. Terang-Nya mengusir ketakutan serta memberikan keyakinan bahwa Tuhan sedang menuntun hidup kita menuju tujuan yang indah. Karena itu, hidup dalam terang Firman berarti membiarkan kasih dan kebenaran Tuhan memimpin setiap langkah hingga kita mencapai akhir perjalanan dengan selamat.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu menjadikan firman Tuhan pelita hidup. Amin  

Rabu, 16 September 2026

bahan bacaan : Lukas 11 : 27 – 28 (TB2)

Siapa yang berbahagia
27 Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." 28 Ia pun berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Firman Membawa Kebahagiaan

Dalam Lukas 11:27-28, Yesus menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari hubungan darah atau keistimewaan lahiriah, melainkan dari sikap mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Mendengar firman berarti membuka hati terhadap kebenaran Tuhan, sedangkan memeliharanya berarti mewujudkan firman itu dalam tindakan nyata setiap hari. Ketaatan kepada firman membentuk karakter kristiani yang kuat dan membawa dampak baik bagi sesama. Pesan ini sangat relevan dalam memperingati Hari Demokrasi Internasional hari ini. Demokrasi yang sehat tidak hanya berbicara tentang kebebasan dan sistem pemerintahan, tetapi juga tentang integritas, keadilan, dan penghargaan terhadap martabat manusia.  Firman Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang memperjuangkan kebenaran, menjaga kedamaian, dan menghargai keberagaman. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menghidupi iman dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kebahagiaan karena taat pada firman Tuhan harus tercermin dalam sikap yang membawa damai dan kasih kepada semua orang. Melalui kehidupan yang berlandaskan firman, kehadiran kita dapat menjadi berkat serta menghadirkan terang Tuhan di tengah dunia.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu mendengar dan memelihara firman-Mu. Amin.

Kamis, 17 September 2026

bahan bacaan : Yosua 1 : 1 – 9 (TB2)

Penugasan Yosua sebagai pengganti Musa
Sesudah kematian Musa hamba TUHAN itu, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: 2 "Hamba-Ku Musa telah meninggal; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangi sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel. 3 Setiap tempat yang diinjak telapak kakimu akan Kuberikan kepadamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. 4 Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana sampai ke sungai Efrat, sungai besar itu, dari seluruh negeri orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi wilayahmu. 5 Tidak seorangpun akan dapat tahan menghadapi engkau seumur hidupmu; Sebagaimana Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan mengabaikan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. 6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini untuk memiliki negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. 7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, untuk bertindak dengan saksama sesuai dengan segenap hukum yang diperintahkan Musa hamba-Ku kepadamu; jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau jaya dalam setiap langkahmu. 8 Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya. 9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah gentar dan kecut hatimu, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Keberanian Sejati Berakar pada Firman-Nya

Keberanian sejati yang diperintahkan Tuhan kepada Yosua bukan sekadar nekat, melainkan keberanian yang berakar pada firman-Nya. Merenungkan Taurat siang dan malam berarti menyelaraskan pikiran dan detak jantung kita dengan kasih Tuhan. Ketika kita memenuhi pikiran dengan kebenaran-Nya, ketakutan akan masa depan yang tidak pasti akan berganti dengan keteguhan hati. Firman Tuhan menjadi kompas yang memastikan langkah kita tetap lurus di tengah badai kehidupan yang penuh tantangan. Ketaatan kepada firman Tuhan harus diwujudkan dalam tindakan yang seksama. Tuhan tidak hanya meminta Yosua menghafal janji-Nya, tetapi bertindak sesuai dengan segala hukum yang ada. Dalam konteks pelayanan, bertindak seksama berarti bekerja dengan penuh integritas, ketelitian, dan kasih yang tulus. Kedekatan kita dengan firman Tuhan seharusnya membuahkan karakter yang disiplin dan penuh tanggung jawab, sehingga setiap pekerjaan yang kita lakukan mendatangkan berkat dan keberhasilan bagi banyak orang. Semangat Yosua ini sangat relevan dengan peringatan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) hari ini. Para relawan PMI dipanggil untuk memiliki keteguhan hati dan tindakan nyata dalam misi kemanusiaan tanpa membeda-bedakan. Sebagaimana Yosua disertai Tuhan ke mana pun ia pergi.  

Doa: Tuhan, bantu kami untuk berani dan berhati teguh. Amin.

Jumat, 18 September 2026

bahan bacaan : Ulangan 8 : 1 – 3 (TB2)

Mengingat kebaikan Allah
"Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak, memasuki dan menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 2 Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas pimpinan TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini. Dia bermaksud merendahkan hatimu dan menguji engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. 3 Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya engkau mengetahui, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut TUHAN.

Membangun Dasar yang Kokoh

Ulangan 8:1-3 mengingatkan kita bahwa ketaatan kepada perintah Tuhan bukan sekadar kewajiban agama, melainkan jalan menuju kehidupan dan pemulihan. Musa menegaskan bahwa bangsa Israel harus berpegang teguh pada seluruh perintah Tuhan agar mereka memperoleh kekuatan untuk memasuki dan menduduki negeri yang dijanjikan. Hal ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan sejati dalam hidup tidak ditentukan oleh strategi manusiawi semata, melainkan oleh sejauh mana kita menyelaraskan langkah kaki kita dengan kehendak Allah. Melakukan perintah-Nya dengan setia adalah bentuk pengakuan bahwa Dia adalah otoritas tertinggi dalam hidup kita. Melalui ayat-ayat ini, kita juga diajak untuk mengingat kembali “perjalanan di padang gurun” masa-masa sulit di mana Tuhan membiarkan kita merasa lapar atau kekurangan untuk merendahkan hati kita. Proses ini bertujuan untuk menguji apa yang ada di dalam hati kita: apakah kita tetap setia mengikuti perintah-Nya saat situasi tidak ideal? Padang gurun adalah sekolah iman di mana Tuhan mengikis kesombongan dan melatih kita untuk tidak bergantung pada kekuatan diri sendiri, melainkan sepenuhnya bersandar pada penyertaan-Nya yang sempurna. Firman-Nya adalah sumber kehidupan yang memberi kita daya tahan di tengah krisis. Ketika kita setia melakukan perintah-Nya, kita sedang membangun hidup di atas dasar yang kokoh.

Doa: Tuhan, bantu kami membangun dasar hidup yang kokoh diatas firmanMu. Amin.

Sabtu, 19 September 2026

bahan bacaan : Ulangan 8 : 4 – 10 (TB2)

4 Pakaianmu tidak menjadi usang di tubuhmu dan kakimu tidak menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. 5 Engkau harus insaf bahwa TUHAN, Allahmu, mendidik engkau seperti seseorang mendidik anaknya. 6 Engkau harus berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan-Nya dan dengan takut akan Dia. 7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan sumber air, yang mengalir di lembah dan gunung; 8 suatu negeri dengan gandum dan jelai, dengan pokok anggur, pohon ara dan pohon delima; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madu; 9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti tanpa perlu berhemat,  dan engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, dengan batu yang mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. 10 Engkau akan makan dan kenyang, serta memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu.

Merawat Ingat, Menjaga Ketaatan

Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, hingga lupa merawat ingat akan segala berkat yang sudah ada di tangan. Kita sering merasa masa depan menakutkan, padahal Tuhan telah membuktikan pemeliharaan-Nya yang tak berkesudahan setiap hari. Inilah pesan utama Ulangan 8:4-10. Selama 40 tahun pengembaraan di gurun yang gersang, pakaian bangsa Israel tidak rusak dan kaki mereka tidak bengkak. Allah mendidik mereka seperti seorang ayah; bukan untuk menyiksa, melainkan demi meningkatkan kapasitas rohani serta kesabaran mereka. Ingatan akan kebaikan Tuhan di masa lalu inilah yang seharusnya menjadi energi utama bagi kita untuk menjaga ketaatan di masa kini. Tuhan menjanjikan kelimpahan, namun syaratnya satu: setia berpegang pada perintah-Nya dan hidup takut akan Dia sebagai wujud hormat. Berpegang teguh berarti memilih kejujuran di tengah tawaran jalan pintas duniawi yang menggiurkan. Hidup menurut jalan-Nya berarti konsisten mengutamakan kasih dalam setiap perbuatan nyata kepada sesama. Saat kita ingat Tuhan  dan taat kepadaNya, kesuksesan tidak akan membuat kita sombong karena kita sadar setiap kelimpahan adalah pemberian-Nya. Mari melangkah dengan percaya bahwa Dia yang setia memelihara kita di masa lalu, adalah Tuhan yang sama yang memegang kendali penuh atas masa depan kita.

Doa: Tuhan tuntun kami agar terus merawat ketaatan kepadaMu. Amin  

*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 06 – 12 September 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Takut akan Allah

Minggu, 06 September 2026

bahan bacaan ke-1 : Mazmur 136: 1-3 (TB2)

Kasih setia Allah kepada orang Israel
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 2 Bersyukurlah kepada Allah segala ilah! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuan! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

bahan bacaan ke-2 : Pengkhotbah 4:17 – 5: 6 (TB2)

Takutlah akan Allah
(4-17) Jagalah langkahmu ketika engkau berjalan ke Rumah Allah! Mendekat untuk mendengar lebih baik dari pada mempersembahkan kurban yang dilakukan orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat. 2 (5-1) Janganlah terburu-buru membuka mulutmu, dan janganlah hatimu tergesa-gesa mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit saja. 3 (5-2) Karena sebagaimana mimpi datang dalam banyaknya kesibukan, demikian pula percakapan bodoh dalam banyaknya perkataan. 4 (5-3) Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda untuk menepatinya, karena Ia tidak berkenan kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5 (5-4) Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. 6 (5-5) Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan apa yang dikerjakan tanganmu?

Bersyukur dan Tekunlah Bermisi

Hari ini gereja kita, Gereja Protestan Maluku (GPM), merayakan ulang tahunnya yang ke-91. Sebuah usia yang matang dalam perjalanan pelayanan dan kesaksian iman.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita bersyukur dan berhenti sejenak untuk bertanya: masihkah kita bermisi dengan takut akan Allah? Firman ini mengingatkan, Allah melihat kita yang datang bersyukur kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar rutinitas mingguan, bukan hanya hadir secara fisik, menyanyi, berdoa, atau mendengar khotbah. Ibadah sejati dimulai dari hati yang hormat, rendah hati, dan mau mendengarkan suara Tuhan. Sering kali orang berpikir bahwa bermisi berarti pergi ke tempat jauh, membangun gedung, atau melakukan kegiatan sosial. Semua itu penting. Tetapi misi yang paling mendasar justru dimulai dari cara kita beribadah kepada Allah. Jika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sombong, penuh keluhan, atau setengah hati, maka pelayanan kita kepada sesama pun akan kehilangan makna. Kita tidak dapat membawa kasih Kristus kepada orang lain jika kita sendiri tidak sungguh mengalami kasih-Nya dalam persekutuan dengan-Nya.Di usia GPM yang ke-91 tahun ini, kita dipanggil untuk tetap tekun bermisi. Namun ketekunan dalam misi hanya dapat lahir dari ibadah yang berkualitas dan hidup yang takut akan Allah. Dirgahayu GPM ke 91, Tuhan berkati!

 Doa:  Terima kasih Tuhan, ajar kami setia berjanji, Amin.

Senin, 07 September 2026

bahan bacaan :  Ibrani 12 : 25 – 29 (TB2)

25 Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang memperingatkan mereka di bumi tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? 26 Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi, melainkan langit juga." 27 Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada penggantian dari apa yang tergoncangkan, yaitu apa yang dijadikan, supaya apa yang apa yang tidak tergoncangkan, tinggal tetap. 28 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. 29 Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Hidup dengan Rasa “Takut” yang Sehat

Kata “takut” bukan berarti ngeri,gemetar atau takut dihukum seolah-olah Tuhan itu Hakim yang siap menghukum. Padahal, “takut akan Tuhan” dalam Alkitab artinya rasa hormat yang sangat dalam, seperti sikap kita saat bertemu Raja Agung yang sangat kita kasihi dan kita muliakan. Kita sadar bahwa Tuhan itu kudus, Dia itu hebat, dan kita tidak boleh main-main dengan dosa. Di zaman sekarang, banyak orang kehilangan rasa hormat ini. Orang berani menyepelekan aturan, berani korupsi, berani menyakiti sesama karena merasa tidak ada yang melihat. Tapi Firman hari ini mengingatkan: Tuhan kita adalah api yang menghanguskan kejahatan. Tidak ada satu pun yang tertutup bagi-Nya. Jadi, bagaimana cara kita meningkatkan kapasitas sebagai pelayan dan umat? Dimulai dari rasa takut ini. Karena kita takut mengecewakan Tuhan, kita jadi bekerja jujur meski tidak diawasi bos. Karena kita takut menyakiti hati Tuhan, kita jadi menjaga lidah agar tidak memfitnah tetangga. Rasa takut ini justru membuat kita bebas dari ketakutan lain: takut miskin, takut sakit, atau takut dihina manusia. Kalau kita sudah hormat pada Sang Pencipta alam semesta, apa lagi yang perlu kita takuti? Mari jadikan rasa hormat ini sebagai rem pengendali dalam hidup kita, agar langkah kita selalu lurus di jalan-Nya.

Doa:  Tuhan, beri kami hati yang hormat pada-Mu,Amin.

Selasa, 08 September 2026

bahan bacaan :  Pengkhotbah 8 : 9 – 13 (TB2)

Perbuatan Allah tidak dapat diselami manusia
9 Semua ini telah kulihat dan aku memberi perhatian kepada segala perbuatan yang dilakukan di bawah matahari, ketika orang yang satu menguasai yang lain hingga ia celaka. 10 Aku juga melihat orang-orang fasik dimakamkan, mereka yang tadinya keluar masuk tempat kudus. Orang yang berlaku benar malah dilupakan dalam kota. Inipun sia-sia. 11 Karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, hati anak-anak manusia penuh niat untuk berbuat jahat. 12 Walaupun orang berdosa yang seratus kali berbuat jahat hidup lama, aku tahu, orang yang takut akan Allah akan baik keadaannya, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. 13 Tetapi orang fasik tidak akan baik keadaannya  dan seperti bayang-bayang ia tidak akan hidup lama, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.

Nikmati Hidup, Jangan Cuma Mengejar Angin

Pernahkah saudara-saudari merasa hidup ini tidak adil? Kok orang jahat malah kelihatan sukses, hidupnya enak, padahal dia curang di sana-sini? Sementara orang baik malah sering menderita? Pengkhotbah mengakui realita pahit ini: memang ada hal-hal di dunia ini yang tidak masuk akal bagi otak kita. Tapi pesannya jelas: jangan iri hati! Jangan sampai kita ikut-ikutan jadi jahat hanya karena melihat orang jahat untung. Itu namanya “mengejar angin”. Hasilnya cuma kelelahan dan kekecewaan. Kesenangan orang berdosa itu cuma sementara, seperti busa sabun yang indah sebentar lalu pecah hilang tak berbekas. Sebaliknya, Firman Tuhan menjanjikan kebahagiaan bagi mereka yang “takut akan Allah”. Bahagia di sini bukan berarti kaya raya atau bebas masalah, tapi punya ketenangan hati yang tidak bisa dibeli uang. Orang yang takut Tuhan bisa tidur nyenyak karena hatinya bersih. Mereka menikmati hidup sehari-hari, makan minum bersama keluarga, bekerja dengan jujur, tertawa dengan anak-anak, sebagai hadiah dari Tuhan. Jadi, tugas kita minggu ini adalah melatih diri untuk puas. Stop membandingkan hidup kita dengan orang lain di medsos. Syukuri apa yang ada, lakukan bagian kita dengan benar, dan biarkan Tuhan yang mengurus sisanya. Itulah kunci hidup yang tenang.

Doa:  Tuhan, ajar kami puas dan hidup benar. Amin.

Rabu, 09 September 2026

bahan bacaan : Lukas 8 : 1 – 3 (TB2)

Perempuan-perempuan yang melayani Yesus
Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas rasul bersama Dia, 2 demikian juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, 3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka.

Misi Itu Bukan Cuma Buat Pendeta

Sering ada anggapan kalau “bermisi” atau melayani Tuhan itu cuma tugas Pendeta, Penatua, atau Diaken saja. Umat biasa tinggal duduk manis di bangku gereja, dengar khotbah, lalu pulang. Salah besar! Lihat cerita di Lukas 8 ini. Yesus berkeliling memberitakan Injil, dan Dia tidak sendirian. Dia didampingi oleh kedua belas murid, dan juga oleh beberapa perempuan seperti Maria Magdalena, Yohana, dan Susana. Bahkan dikatakan mereka “melayani Yesus dengan kekayaan mereka”. Artinya, misi Tuhan itu dikerjakan bersama-sama oleh semua orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kaya dan sederhana. Ini pesan penting untuk peningkatan kapasitas kita semua.  Mungkin kita tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi kita bisa melayani dengan masakan untuk kegiatan gereja. Mungkin kita tidak punya uang banyak untuk memberi persembahan besar, tapi kita punya waktu untuk menjenguk tetangga yang sakit. Mungkin kita hanya ibu rumah tangga, tapi ketika kita rajin berdoa itu adalah kekuatan bagi misi gereja. Tidak ada pelayanan yang kecil di mata Tuhan jika dilakukan dengan kasih. Mari kita tekun menggunakan talenta masing-masing. Jangan tunggu dipanggil jadi pejabat gereja baru mau gerak. Mulai hari ini, jadilah misionaris di lingkunganmu sendiri: di pasar, di kantor, di sekolah, dan di rumah.

 Doa:  Tuhan, pakai hidup kami untuk melayani sesama,Amin.

Kamis, 10 September 2026

bahan bacaan : Pengkhotbah 12 : 9 – 14 (TB2)

Akhir kata
9 Selain berhikmat, Pengkhotbah juga mengajarkan pengetahuan kepada umat. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. 10 Pengkhotbah berusaha mendapatkan kata-kata yang menyenangkan dan menulis dengan jujur kata-kata kebenaran. 11 Kata-kata orang berhikmat seperti ujung tongkat penggiring ternak dan kumpulan-kumpulannya seperti paku-paku yang tertancap, diberikan oleh satu gembala. 12 Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. 13 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan peliharalah perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. 14 Sesungguhnya Allah akan membawa setiap perbuatan ke penghakiman yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.

Inti Hidup Itu Sederhana: Takutlah akan Allah!

Di akhir hayatnya, sang Pengkhotbah merangkum seluruh pengalaman hidupnya yang panjang dan penuh kebijaksanaan. Setelah mencoba segala macam hal di dunia ini, ia menemukan satu kesimpulan final yang sangat sederhana: “Takutlah akan Allah dan lakukanlah perintah-perintah-Nya.” Titik. Tidak ada rumus rahasia untuk sukses, tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan abadi. Semuanya kembali pada hubungan kita dengan Tuhan dan ketaatan kita pada firman-Nya. Di dunia yang semakin rumit dengan berbagai pilihan dan godaan, kita sering lupa hal yang paling dasar ini. Kita sibuk membangun menara prestasi, tapi lupa pondasi imannya. Mari kita evaluasi diri: Sudahkah kita menjadi pribadi yang makin takut akan Tuhan seiring bertambahnya usia dan pengalaman? Atau jangan-jangan kita malah makin sombong? Ingatlah bahwa setiap perbuatan, bahkan yang tersembunyi sekalipun, akan dibawa ke pengadilan Tuhan. Ini bukan untuk menakut nakuti, tapi untuk menyadarkan kita bahwa hidup ini bermakna.Mari tekun meningkatkan kapasitas rohani kita bukan supaya dipuji manusia, tapi supaya kita hidup semakin memuliakan Tuhan. Hiduplah dengan prinsip sederhana: cintai Tuhan, taati aturan-Nya, dan kasihilah sesama. Itulah inti dari segalanya.

 Doa: Tuhan, tuntun kami hidup taat sampai akhir Amin.

Jumat, 11 September 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 5 : 11 – 21 (TB2)

Pelayanan untuk pendamaian
11 Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Allah mengenal kami dan aku harap kamu juga  mengenal kami menurut penilaian hati nuranimu.12 Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah. 13 Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu demi Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu demi kamu. 14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. 15 Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 18 Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 19 Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 20 Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, sebab Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Utusan Damai Kristus

Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Hidup lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Pembaruan ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi membawa kita pada sebuah panggilan mulia: menjadi pelayan-pelayan pendamaian. Allah telah lebih dahulu mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus, dan kini Ia mempercayakan pelayanan itu kepada kita. Menjadi pelayan perdamaian berarti hidup dengan hati yang dipenuhi kasih, bukan kebencian; membawa pengampunan, bukan dendam; serta membangun hubungan yang retak, bukan memperlebar perpecahan. Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan. Tugas ini memang tidak mudah, tetapi kita tidak berjalan sendiri. Kristus yang telah mendamaikan kita dengan Allah juga memampukan kita untuk berdamai dengan sesama. Ketika kita membuka hati untuk mengampuni dan mengasihi, kita sedang mencerminkan kasih Allah itu sendiri. Karena itu, marilah kita hidup sebagai utusan Kristus, yang melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan damai sejahtera dari Tuhan. Jadilah pembawa damai di mana pun kita berada, sebab itulah identitas kita sebagai pelayan Kristus.

Doa Tuhan, Jadikan kami pembawa damai. Amin    

Sabtu, 12 September 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 6 : 1 – 10 (TB2)

Paulus dalam pelayanannya
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah, yang telah kamu terima. 2 Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari keselamatan, Aku menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. 3 Dalam hal apapun kami tidak menyebabkan orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. 4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dengan penuh ketabahan dalam penderitaan, kesengsaraan dan kesukaran, 5 dalam menanggung pukulan, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga dan kelaparan; 6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tulus ikhlas; 7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan baik di tangan kanan maupun tangan kiri 8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat dan ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, ternyata orang benar, 9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; 10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak berpunya, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Setia dan Tekun

Bacaan 2 Korintus 6:1-10 menegaskan bahwa anugerah Allah adalah pemberian yang berharga dan tidak boleh disia-siakan. Anugerah itu bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan dan kesungguhan melayani Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa sekarang adalah waktu perkenanan itu, hari ini adalah saat keselamatan, sehingga kita diajak untuk meresponsnya dengan sungguh-sungguh. Dalam pelayanannya, Paulus menunjukkan sikap tabah dan tekun dalam segala keadaan. Ia menghadapi penderitaan, kesukaran, dan penolakan, namun tetap setia dan tidak menyerah. Pelayanan yang ia lakukan bukan karena keadaan yang mudah, melainkan karena kesadaran akan anugerah Allah yang besar dalam hidupnya. Demikian juga kita, dalam menjalani kehidupan dan pelayanan, sering diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Namun firman Tuhan mengajak kita untuk tetap bertahan, setia, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Anugerah Allah menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah. Marilah kita hidup dengan penuh syukur, melayani dengan tekun, dan tetap setia dalam segala keadaan, sehingga hidup kita memuliakan Tuhan.

Doa: Tuhan, kuatkan kami setia selalu menjalankan misi-Mu, Amin   

*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 30 Agustus – 5 September 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Keluarga yang Tekun Menghayati Cinta Kasih Tuhan

Minggu, 30 Agustus 2026

bahan bacaan : Efesus 3 : 14 – 21 (TB2)

Doa Paulus
14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15 yang dari-Nya semua keluarga yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, 17 sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19 dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 20 Bagi Dia, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Kekuatan Doa Yang Menyatukan Ikatan Keluarga

Di hari keluarga ini, kita diajak menghayati bahwa keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup. Keluarga adalah tempat kita menerima kasih, dukungan, dan rasa aman. Di dalamnya, kita belajar nilai, adab, dan moral yang membentuk karakter kita. Keluarga juga mengingatkan kita untuk menghargai setiap anggotanya, meskipun sering kali kita sibuk dan lupa memperhatikan orang-orang terdekat. Dalam keluarga tidak ada hubungan yang sempurna. Konflik, perbedaan, dan kesalahan pasti terjadi. Namun, justru di situlah kita belajar memaafkan dan menerima satu sama lain apa adanya. Sikap ini penting untuk membangun hubungan yang kuat dan menjaga keharmonisan. Keluarga adalah tempat kita berbagi sukacita, kesedihan, dan pergumulan hidup. Karena itu, marilah kita terus hadir bagi keluarga, saling mendukung, dan berbagi beban. Ketika kita saling menguatkan, ikatan keluarga akan semakin kokoh. Firman Tuhan juga mengajarkan bahwa doa adalah kekuatan keluarga Kristen. Dalam doa terdapat kuasa yang mempersatukan.

Doa:  Tuhan, ajarlah keluarga kami selalu menghayati cinta kasihMu. Amin. 

Senin, 31 Agustus 2026

bahan bacaan :  Mazmur 112 : 1 – 10 (TB2)

Bahagia orang benar
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. 2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati. 3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. 4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; ia pengasih, penyayang dan adil. 5 Bahagialah orang yang menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan adil. 6 ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar akan diingat selama-lamanya. 7 ia tidak takut akan kabar buruk, hatinya teguh, penuh kepercayaan kepada TUHAN. 8 Hatinya kukuh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah lawan-lawannya. 9 Dengan murah hati ia membagi-bagi kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduk kekuatannya ditinggikan dalam kemuliaan. 10 Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu menjadi tawar hati; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan.

Kebahagiaan dalam Takut Tuhan

Setiap keluarga mengukur kebahagiaan dan memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia karena mempunyai uang yang banyak, harta yang melimpah, punya kuasa dan jabatan. Ada juga yang bahagia saat anak-anak sudah mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut wajar saja. Tentang kebahagiaan dan ukuran kebahagiaan, firman Tuhan hari ini menjadi menarik untuk kita renungkan. Pemazmur dalam pasal ini menyatakan bahwa berbahagialah orang yang takut akan Tuhan. Bagi Pemazmur, Takut akan Tuhan adalah pokok kebahagiaan bagi semua orang termasuk keluarga Kristen. Kondisi yang baik ataupun buruk tak akan mengurangi kebahagiaan seseorang yang takut akan Tuhan. Ia bahkan akan tetap berdiri teguh dan kokoh dalam segala situasi maupun kondisi sebab takut akan Tuhan menjadi kekuatan bagi orang yang selalu bahagia. Takut akan Tuhan berarti mengagumi, mengagungkan dan memuliakan Tuhan dalam seluruh hidup semua anggota keluarga. Kata-kata dan sikap serta perilaku selalu setia dan taat kepada perintah dan kehendak Tuhan.  Maka sebagai keluarga-keluarga beriman; orang tua dan anak-anak cucu, pilihlah hidup takut akan Tuhan sebab itulah sesungguhnya  kebahagiaan sejati yang akan menjadi berkat turun temurun bagi seisi keluarga.

Doa:  ya Tuhan Yesus ajar kami saling mengasihi dalam keluarga,  Amin.

Selasa, 1 September 2026

bahan bacaan :  Efesus 5 : 25 – 27 (TB2)

25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Laki – Laki Bae

Masih ingatkah kita akan lagu : Laki-laki Bae ? Lagu yang sempat viral di tahun 2019 yang dinyanyikan Beto Habibu (Idol) menjadi lagu yang menarik disimak. Salah satu liriknya mengatakan ”Laki-laki bae selalu jaga se pung perasaan, Laki-laki bae selalu lindungi se nona” . Hidup saling menjaga perasaan dan melindungi penting dimiliki sebagai karakter dalam berumah tangga. Tidak jarang harus kita akui bahwa banyak persoalan dalam keluarga berakar dari minimnya rasa hormat dan kasih antara suami-istri. Tindakan KDRT, perselingkuhan, dan perceraian bahkan pembunuhan bisa terjadi karenanya. Itulah sebabnya penting  memahami soal kebersamaan atau kesatuan hidup. Efesus 5:25-27 memberikan pesan tersebut dengan secara khusus menjelaskan bagaimana sikap laki-laki yang seharusnya. “Laki-laki harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya” (5:25). Pesan ini mengandung makna bahwa Kristus mesti menjadi model keteladanan bagi laki-laki. Kasih-Nya mendorong laki-laki untuk tidak bersikap kasar atau ringan tangan dan mulut. Pertengkaran dalam rumah tangga tidak mesti dipandang sebagai batu loncatan untuk memperlihatkan kuasa atau arogan tetapi dalam kebijaksanaan mendampingi perempuan. Suasana damai dan sukacita harus dihadirkan melalui peran laki-laki. Karena itu, jadilah selalu laki-laki bae.

Doa:  Tuhan, ajar kami saling mengasihi dalam keluarga  Amin

Rabu, 02 September 2026

bahan bacaan : Efesus 5 : 22 – 24 (TB2)

Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

Istri harus mengasihi Suami

Rasul Paulus mengangkat masalah kesatuan dalam jemaat sebagai salah satu persoalan utama dalam surat Efesus. Apa yang disoalkan bisa dikatakan merupakan masalah yang tetap terupdate. Di era ini, berbagai upaya memecah belah persekutuan kerap terjadi bahkan di dalam lingkungan keluarga. Teks hari ini menyoroti peran perempuan sebagai istri. Penulis menggunakan kata “tunduk” sebagai sikap yang mesti diperlihatkan perempuan kepada suaminya. Yang menarik, Kristus tetap menjadi role model atas sikapnya.“Hai istri, tunduklah kepada suamimu, seperti kepada Tuhan”. Pesan ini berarti sikap yang diperlihatkan mesti bersesuaian dengan kesadaran bahwa apa yang dilakukan adalah seperti dilakukan terhadap Tuhan.Tuhan adalah pengasihi dan penyayang dan bila suami memperlihatkan sikap yang bertentangan maka istri mesti arif dalam memperlihatkan “tunduk” kepada suami. Pastinya bukan petunjuk agar istri mencari pria idaman lain. Sebaliknya istri diajak agar tetap bisa menghormati suami. Kurang-kurangnya seorang suami, tetap mintakan hikmat dari Tuhan, agar bisa setia dan bijaksana dalam menjalani biduk rumah tangga. Kristuslah Kepala dalam rumah tangga kita dan sebab itu, seorang istri atau perempuan harus belajar mengasihi suaminya atau laki-laki.

 Doa:  Tuhan ajar kami untuk belajar saling menghormati Amin.

Kamis, 03 September 2026

bahan bacaan :  1 Yohanes 4 : 7 – 12 (TB2)

Allah adalah kasih
7 Saudara-saudara yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Keluarga yang Baku Sayang

Kita selalu diajak untuk saling mengasihi satu dengan yang lain apalagi dalam keluarga. Dinda dan Donny adalah pasangan suami istri, Tetapi rumah tangga yang dijalani sekian tahun tanpa kehadiran anak selalu saja menjadi bumerang bagi mereka berdua. Dinda selalu menyalahkan Doni karena berdasarkan hasil diagnosa dokter, Doni positif dinyatakan mandul. Doni merasa tersudut dengan sikap Dinda tetapi itu tidak membuatnya berhenti mengasihi Dinda. Sebagai keluarga Kristen, Dinda tidak seharusnya bersikap demikian kepada Doni. Ia harus tetap mengasihi Doni. Memang sulit perjalanan rumah tangga yang mereka lalui, tetapi pernikahan telah menjadi keputusan iman mereka dan sebab itu mereka harus bisa tetap menjalaninya. Kasih harus tetap menjadi pondasi rumah tangga mereka. Teks hari ini memberikan alasan utama mengapa mereka harus mengasihi. Allah adalah kasih itulah jawabannya. Karena Allah adalah kasih maka Dinda mesti memahami bahwa ketiadaan anak bukan penghalang baginya dan Doni untuk tetap saling mengasihi. Ia harus mengasihi Doni apa adanya sebagaimana Doni tetap mengasihinya. Allah adalah kasih dan dalam kasih-Nya, kita tidak tahu apa maksud-Nya dibalik setiap peristiwa yang terjadi. Satu hal yang pasti : kita  keluarga yang dikasihi Allah, maka sudah sepantasnya kita hidup baku sayang.

 Doa:  Tuhan ajar kami untuk tetap baku sayang Amin.

Jumat, 04 September 2026

bahan bacaan :  Kidung Agung 8 : 5 – 7 (TB2)

Cinta kuat seperti maut
5 Siapakah itu yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau. 6 Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! 7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia tetap akan dihina.

Tetaplah Saling Mencinta

Opa Edo dan oma Leny adalah dua orang lansia yang memiliki kisah hidup yang menarik. Dalam usia lanjut, mereka merupakan teman cerita yang sulit dipisahkan. Opa Edo memiliki kebiasaan ruk-ruk  (marah) bila oma Leny belum duduk bercerita dengannya. Oma Leny walau kadang dimarahi opa Edo namun beliau dengan setia selalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi. Opa Edo kelihatannya selalu merasa tidak lengkap bila oma Leny tidak bersamanya. Kisah mereka memperlihatkan kekuatan cinta yang mendalam. Walau dalam usia lanjut, namun mereka tetap memilih bersama. Kitab Kidung Agung menuliskan kekuatan cinta dalam teks hari ini. Sebagai kidung yang terindah, atau dalam terjemahan lain , Kidung Salomo, teks ini mengibaratkan cinta kuat bagai maut. Karena kuatnya cinta, maka yang membangun hubungan atas dasar cinta pasti akan bertahan. Keluarga Kristen mesti tetap menjadikan cinta kasih Kristus sebagai dasar dalam hidupnya. Tanpanya maka berbagai krisis akan terjadi dalam keluarga apalagi di era digital ini. Bisa saja suami-istri tidak saling menghargai; anak tidak mau ditegur, hubungan adik kakak yang renggang atau bahkan juga minimnya komunikasi. Keluarga Kristen sebagai gereja seharusnya tetap memberi diri dipenuhi dengan cinta kasih Kristus. Mari menua bersama dalam terang cinta kasih Tuhan.

Doa:  Tuhan ajar kami untuk tetap mempertahankan cinta, Amin.

Sabtu, 05 September 2026

bahan bacaan : Kolose 3 : 14 – 15  (TB2)

14 Di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Kasih Menjadi Pengikat

Kehidupan sejati seperti apakah yang kita kehendaki terjadi ? Hari ini kitab Kolose menuntun kita menemukannya dalam Kristus. Penulis menceritakan apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia adalah kunci yang membuka rahasia Allah  dan karena itu manusia harus hidup baru.  Segala sesuatu yang duniawi harus dimatikan. Marah, geram, kejahatan, dan kata-kata kotor dibuang. Tidak saling mendustai, tidak saling membedakan. Ada belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati dan kelemahlembutan dan kesabaran. Tidak menyimpan dendam. Semua tindakan itu bila dilakukan tanpa kasih sama sekali tidak berarti apa-apa. Kasih harus menjadi dasar dari hidup sebab kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Kebenaran ini penting diperhatikan terutama dalam keluarga  jemaat. Kita tahu kemajuan era digital membuat banyak perubahan. Tanpa bisa dibendung kita diperhadapkan dengan sejumlah tantangan dan ancaman. Keluarga pun jemaat berada dalam situasi genting yang mendorongnya membangun pertanyaan: bagaimana caranya menyikapi semuanya ?  Teks hari ini mengajarkan kita untuk tetap hidup dalam kasih.  Hanya ketika kasih dijadikan pengikat, maka kita akan bisa menjalani kehidupan dalam sukacita dan damai sejahtera. Sebab itu, mari jadikan kasih sebagai pengikat.

 Doa:  ya Tuhan Yesus, satukanlah kami dalam kasih-Mu, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN AGUS-SEPT 2026

Santapan Harian Keluarga, 23 – 29 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Memperjuangkan Keadilan Sosial bagi Masyarakat  

Minggu, 23 Agustus 2026

bahan bacaan : Yeremia 22 : 1 – 9 (TB2)

Beginilah firman TUHAN: "Pergilah ke istana raja Yehuda dan sampaikanlah firman ini di sana! 2 Katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai raja Yehuda yang duduk di atas takhta Daud, engkau, pegawai-pegawaimu dan rakyatmu yang masuk melalui pintu-pintu gerbang ini! 3 Beginilah firman TUHAN: Lakukanlah keadilan dan kebenaran, lepaskanlah korban perampokan dari tangan penganiayanya. Jangan engkau menindas dan jangan melakukan kekerasan terhadap pendatang, anak yatim dan janda. Juga janganlah engkau menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini! 4 Sebab jika kamu sungguh-sungguh melakukan firman ini, maka melalui pintu-pintu gerbang istana ini akan masuk raja-raja yang akan duduk di atas takhta Daud. Mereka mengendarai kereta dan kuda, diiringi pegawai-pegawainya dan rakyatnya. 5 Akan tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan ini, Aku bersumpah demi diri-Ku, demikianlah firman TUHAN, bahwa istana ini akan menjadi reruntuhan. 6 Sebab beginilah firman TUHAN mengenai keluarga raja Yehuda: Engkau seperti Gilead bagi-Ku, seperti puncak gunung Libanon! Namun Aku pasti akan membuat engkau menjadi padang gurun, menjadi kota-kota tidak berpenghuni. 7 Aku akan menetapkan pemusnah-pemusnah terhadap engkau, masing-masing dengan senjatanya; mereka akan menebang pohon aras pilihanmu dan mencampakkannya ke dalam api. 8 Banyak bangsa akan melewati kota ini dan berkata seorang kepada yang lain: Mengapa TUHAN melakukan hal itu kepada kota yang besar ini? 9 Orang akan menjawab: Sebab, mereka telah meninggalkan perjanjian TUHAN, Allah mereka, lalu sujud menyembah ilah-ilah lain dan beribadah kepadanya."

Tekunlah Memperjuangkan Keadilan Sosial

Memperoleh keadilan tatkala menjalani kehidupan merupakan harapan setiap orang tanpa terkecuali. Kendati demikian yang diharapkan, akan tetapi ketidakadilan masih terjadi dimana-mana. Terhadap realitas tersebut, bagaimana peranan kita sebagai gereja? Apakah kita memilih diam melihat ketidakadilan yang terjadi ataukah akan tekun memperjuangkan keadilan? Teks Yeremia 22:1-8 bacaan kita saat ini mengingatkan tentang pentingnya memperjuangkan keadilan sosial. Ini nampak ketika Yeremia di utus Allah untuk memperingatkan raja Yehuda, pegawai-pegawai dan rakyatnya supaya dapat berlaku adil kepada sesama dalam menjalani kehidupan mereka (ay. 2-3). Dengan berlaku adil dan benar mereka akan menuai kebaikan dari Allah (ay. 4), sebaliknya jika tidak maka malapetaka akan mereka tuai (ay. 5). Peringatan kepada bangsa Yehuda ini baiklah juga menjadi perenungan bersama kita dalam menjalani kehidupan sebagai orang percaya. Di satu sisi kita menentang ketidakadilan tetapi terkadang di sisi lain kita justru menjadi pelaku ketidakadilan. Perlakuan tidak adil sering terjadi dalam masyarakat, ruang lingkup pelayanan bahkan keluarga. Mengingat hal dimaksud tidak berkenan di hadapan Allah, maka kita di ajak untuk memperlakukan semua orang dengan adil tanpa memandang bulu.

Doa: Tuhan,  biarlah kami tetap menjadi pribadi yang tekun memperjuangkan keadilan sosial. Amin. 

Senin, 24 Agustus 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 8 : 15 – 18 (TB2)

Pejabat-pejabat Daud
15 Demikianlah Daud memerintah atas seluruh Israel. Daud menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya. 16 Yoab, anak Zeruya, menjadi panglima; Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara; 17 Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam kerajaan; Seraya menjadi sekretaris kerajaan; 18 Benaya bin Yoyada menjadi panglima orang Kreti dan orang Pleti; dan putra-putra Daud menjadi imam.

Tegakkan Keadilan Tanpa Diskriminasi

Keadilan merupakan hal penting dalam kehidupan, namun hingga sekarang masih sering terjadi ketimpangan dan diskriminasi karena perbedaan status sosial. Banyak orang diperlakukan tidak adil karena kedudukan, kekayaan, atau latar belakang tertentu. Firman Tuhan mengingatkan bagaimana seharusnya kita hidup dan memperlakukan sesama dengan benar. Dalam pemerintahan Raja Daud, keadilan dan kebenaran menjadi dasar utama kepemimpinannya. Daud menjalankan kehendak Allah tanpa membeda-bedakan rakyatnya. Ia tidak hanya berpihak kepada kelompok tertentu, tetapi berusaha berlaku adil bagi semua orang. Sikap ini menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam kehidupan sehari-hari. Namun kenyataannya, kita masih sering hidup pilih kasih, membeda-bedakan orang lain, dan merendahkan mereka yang lemah. Padahal Tuhan menghendaki agar setiap orang diperlakukan dengan hormat dan setara. Karena itu, firman Tuhan mengajak kita untuk terus menegakkan keadilan dan kebenaran dalam hidup bersama. Sebagai anak Tuhan, kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa diskriminasi, menghargai setiap orang, dan menjadi pembawa damai, sehingga hidup kita mencerminkan kasih dan keadilan Allah bagi dunia.

Doa: Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk berlaku adil dan benar tanpa diskriminasi.  Amin.   

Selasa, 25 Agustus 2026

bahan bacaan : Ayub 29 : 11 – 17 (TB2)

11 apabila telinga mendengar tentang aku, disebutnya aku berbahagia; dan apabila mata melihat, maka aku dipujinya. 12 Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak memiliki penolong; 13 aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria; 14 aku berpakaian kebenaran dan keadilan kukenakan seperti jubah dan serban; 15 aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh; 16 aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki. 17 Aku meremukkan geraham orang curang, dan merebut mangsanya dari giginya.

Tolonglah Mereka Yang Lemah dan Susah

Perbedaan status sosial merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan masyarakat. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya menjadi tembok pemisah, melainkan kesempatan untuk saling menolong dan memperhatikan sesama. Dalam bacaan hari ini, Ayub menunjukkan kepeduliannya kepada orang miskin, yatim piatu, janda, dan mereka yang membutuhkan pertolongan (ay. 12-16). Sikap tersebut menjadi wujud nyata kemurahan hati dan keadilan yang dikehendaki Allah bagi orang lemah dan tidak berdaya. Melalui firman ini, kita diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah memiliki kepedulian dan empati kepada mereka yang sedang mengalami kesusahan? Ataukah kita masih sibuk dengan kepentingan diri sendiri hingga mengabaikan penderitaan sesama? Di sekitar kita masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan kasih untuk meringankan beban hidup mereka. Karena itu, jangan menjauh dari orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi hadir dan membantu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kehadiran kita hendaknya membawa penghiburan, harapan, kekuatan, serta memperlihatkan hidup yang dipenuhi keadilan dan kebenaran. Saat kita menolong dengan tulus, kita sedang menjadi saluran kasih Tuhan bagi dunia. Tindakan kecil seperti memberi perhatian, mendengar keluh kesah, atau membantu kebutuhan orang lain dapat membawa sukacita dan semangat baru bagi mereka yang hampir kehilangan harapan dalam menjalani kehidupan bersama.

Doa: Bapa, pakailah hidupku supaya jadi penolong bagi mereka yang lemah dan susah. Amin. 

Rabu, 26 Agustus 2026

bahan bacaan : Amos 5 : 21 – 24 (TB2)

Ibadah Israel dibenci TUHAN
21 "Aku membenci, Aku menghina perayaanmu dan Aku tidak menyukai perkumpulan rayamu. 22 Meskipun kamu mempersembahkan kepada-Ku kurban-kurban bakaran dan kurban-kurban sajianmu, Aku tidak suka, dan kurban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, tidak akan Kupandang. 23 Jauhkanlah dari-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak akan Kudengar. 24 Tetapi hendaklah keadilan bergulung-gulung seperti air, dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Allah Suka Keadilan dan Kebenaran

Beribadah, memberi persembahan, dan pujian kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari keadilan dan kebenaran dalam kehidupan sehari hari. Keduanya saling melengkapi sebagai bukti iman yang sejati kepada Tuhan. Namun, pada masa nabi Amos, bangsa Israel justru melakukan hal yang berbeda. Mereka rajin beribadah, mempersembahkan korban, dan menaikkan pujian kepada Allah, tetapi tetap berlaku tidak adil terhadap orang miskin dan lemah. Karena itu, Allah menyatakan bahwa Ia tidak berkenan kepada seluruh ritual keagamaan mereka. Semua ibadah, persembahan, dan nyanyian pujian menjadi sia sia karena umat tidak hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran terhadap sesama. Firman Tuhan ini menjadi pengingat bagi orang percaya masa kini agar tidak hanya terlihat rohani di hadapan manusia, tetapi juga hidup benar di hadapan Allah. Kita tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan jika masih menyakiti, merendahkan, dan mengabaikan sesama. Ibadah yang sejati harus terlihat melalui sikap, perkataan, dan tindakan yang mencerminkan kasih, kejujuran, serta keadilan. Karena itu, marilah hidup taat kepada kehendak Allah dan menjadi berkat bagi sesama.

Doa: Ya Allah, tolong kami supaya mampu menyenangkan hatiMu. Amin.   

Kamis, 27 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 25 : 1 – 4 (TB2)

Hukuman yang tidak sewenang-wenang
"Apabila ada perselisihan di antara beberapa orang, lalu mereka pergi ke pengadilan, mereka akan diadili dengan menyatakan siapa yang benar dan siapa yang salah, 2 Jika orang yang bersalah itu layak dipukul, hakim harus menyuruh dia tiarap dan dipukuli di depannya dengan sejumlah dera setimpal dengan kesalahannya. 3 Orang itu boleh dipukul empat puluh kali, tidak lebih; Apabila ia dipukul lebih banyak lagi, saudaramu akan menjadi rendah di matamu. 4 Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik."

Memperlakukan Setiap Orang Dengan Layak

Kekeliruan bahkan kesalahan dapat dilakukan oleh semua orang, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Jika diperhadapkan dengan kondisi tersebut, maka seringkali yang dilakukan oleh kita yaitu main hakim sendiri secara verbal maupun non verbal (kekerasan fisik) sebagai akibat atas kekeliruan dan kesalahan yang dilakukan seseorang. Akan tetapi jika dicermati dengan baik maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena ada hukum atau peraturan negara yang mengatur semuanya itu. Hal yang sama pun diungkapkan di dalam Ulangan 25:1-4 bacaan kita saat ini. Di sini memukul sebagai sebuah hukuman diizinkan, namun hanya sesudah proses peradilan dan dilakukan depan hakim. Artinya tidak semua orang diizinkan secara bebas untuk memberikan hukuman kepada orang yang melakukan kesalahan dengan seenaknya. Ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjalani hidup dengan layak tanpa ada tekanan dari pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Berdasarkan kebenaran firman ini, kita diingatkan supaya lebih taat pada aturan yang mengatur dan tidak berlaku semena-mena terhadap orang lain. Hindarilah sikap dan perlakuan yang menghakimi secara tidak adil dimana saja kita berada dan kepada siapa saja yang kita jumpai. Sebab setiap orang berhak untuk mendapatkan dan menjalani kehidupan yang layak dan adil tanpa tekanan.

Doa:  Tuhan, ajarilah kami untuk memperlakukan setiap orang dengan layak, Amin.

Jumat, 28 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 24 : 19 – 22 (TB2)

19 Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupakan seberkas di ladang, jangan kembali untuk mengambilnya; itulah bagian pendatang, anak yatim dan janda. Maka TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala upaya tanganmu. 20 Apabila engkau menguncang-guncangkan pohon zaitunmu untuk menuai hasilnya, jangan memeriksa dahannya sekali lagi; itulah bagian pendatang, anak yatim dan janda. 21 Apabila engkau mengumpulkan hasil kebun anggurmu, jangan melakukan pemetikan sekali lagi; itulah bagian pendatang, anak yatim dan janda. 22 Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini."

 Menabur Kepedulian, Memupuk Keadilan

Keadilan bukan berarti sama rata atau bersikap netral dalam suatu perkara. Keadilan adalah sikap yang benar secara moral, pantas, tepat, dan berbudi luhur. Prinsip keadilan selalu berpihak pada kebenaran dan kebaikan. Orang yang adil bukanlah mereka yang diam saat terjadi masalah dengan alasan netral, tetapi mereka yang berani menyuarakan dan melakukan yang benar. Keadilan hanya dapat terwujud jika ada kepedulian. Ketika kita peduli, kita tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan. Kita terdorong untuk bertindak dan membela yang benar. Dalam situasi penindasan dan diskriminasi, orang yang peduli akan berdiri di pihak korban, memperjuangkan hak mereka, dan menentang tindakan yang merugikan sesama. Sebaliknya, sikap netral dalam situasi ketidakadilan menunjukkan kurangnya kepedulian, bahkan secara tidak langsung mendukung penindasan. Berlaku adil juga berarti peka terhadap penderitaan di sekitar kita tetangga yang kesulitan, saudara yang bergumul, atau orang asing yang membutuhkan pertolongan.

Doa: Tuhan, kini kami menyadari  bahwa kami harus bertindak membela yang benar. Amin. 

Sabtu, 29 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 21 : 13 – 15 (TB2)

13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru. 14 Pemberian dengan sembunyi-sembunyi memadamkan amarah, dan suap secara dian-diam meredakan kegeraman yang hebat. 15 Melakukan keadilan adalah sukacita bagi orang benar, tetapi menakutkan orang yang berbuat jahat.

Sukacita dalam Keadilan

Pernahkah kita marah ketika seseorang tidak jujur? Atau kita dimarahi karena dianggap berbohong, padahal kita merasa sudah terbuka? Ketidakjujuran melukai hati dan merusak kepercayaan. Dalam relasi suami istri, orangtua dan anak, saudara, maupun sahabat, kebohongan membuat hubungan yang baik menjadi retak karena hilangnya rasa percaya. Kitab Amsal mengajarkan bahwa melakukan keadilan adalah kesukaan bagi orang benar. Keadilan berarti berkata jujur tanpa memihak mengakui yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Sikap ini menghadirkan sukacita, karena yang dilakukan adalah perbuatan terpuji, menyenangkan, dan membawa nilai kebaikan bagi sesama. Sebaliknya, orang yang hidup dalam ketidakjujuran dan penipuan tidak akan mengalami ketenangan. Ketika berhadapan dengan keadilan, mereka akan merasa takut. Hal ini karena keadilan selalu mencari kebenaran dan tidak dapat dikompromikan. Tidak ada yang tersembunyi selamanya dari keadilan. Karena itu, marilah kita terus belajar hidup jujur dan berlaku adil dalam setiap relasi. Dengan demikian, hidup kita tidak hanya memelihara kepercayaan, tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa:  Tuntun kami Tuhan agar kami hidup takut kepada-Mu, supaya hidup kami selalu berbahagia. Amin..  

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa

Minggu, 16 Agustus 2026

bahan bacaan : Yeremia 29 : 1 – 23 (TB2)

Surat kepada orang buangan di Babel
Beginilah isi surat yang dikirim nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua yang tersisa di antara orang buangan, kepada para imam, kepada para nabi dan seluruh rakyat yang telah diangkut ke pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 2 Hal ini terjadi sesudah raja Yekhonya bersama ibu suri, pembesar-pembesar istana, pemuka-pemuka Yehuda dan Yerusalem, tukang dan pandai besi keluar dari Yerusalem. 3 Surat itu dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus ke Babel oleh Zedekia, raja Yehuda, kepada Nebukadnezar, raja Babel. Bunyinya: 4 "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang Kuangkut ke pembuangan dari Yerusalem ke Babel: 5 Dirikanlah rumah dan tempatilah; buatlah kebun dan nikmatilah hasilnya; 6 Ambillah isteri dan perolehlah anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, bertambah banyaklah dan jangan berkurang! 7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. 8 Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di antara kamu dan oleh para penenungmu. Jangan dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! 9 Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. 10 Sungguh beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku melawat kamu. Aku akan menepati janji-Ku yang indah kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. 11 Sebab, Aku mengetahui rancangan-rancangan yang Kupikirkan mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan malapetaka, untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan. 12 Ketika kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, Aku akan mendengarkan kamu; 13 ketika kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; ketika kamu mencari Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan berkenan kamu temukan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat asal dari mana Aku telah membuang kamu. 15 Katamu: TUHAN telah membangkitkan nabi-nabi bagi kami di Babel. 16 Sungguh, beginilah firman TUHAN tentang raja yang duduk di atas takhta Daud dan tentang seluruh rakyat yang tinggal di kota ini, saudara-saudaramu yang tidak keluar bersamamu ke pembuangan: 17 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku akan mengirim pedang, kelaparan dan sampar ke tengah-tengah mereka. Aku akan membuat mereka seperti buah ara yang busuk sedemikian jeleknya, sehingga tidak dapat dimakan. 18 Aku akan mengejar mereka dengan pedang, kelaparan dan sampar, Aku akan membuat mereka menjadi momok bagi semua kerajaan di bumi, menjadi sumpah, sumber kengerian, sasaran ejekan, dan aib di antara segala bangsa ke mana mereka Kucerai-beraikan, 19 Sebab mereka tidak mendengarkan perkataan-Ku, demikianlah firman TUHAN, yang telah Kusampaikan kepada mereka terus-menerus dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi; tetapi kamu tidak mendengarkannya, demikianlah firman TUHAN. 20 Dengarkanlah firman TUHAN, hai kamu semua orang buangan, yang telah Kukirim dari Yerusalem ke Babel! 21 Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, tentang Ahab bin Kolaya dan Zedekia bin Ma'aseya, yang bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku: Sesungguhnya Aku akan menyerahkan mereka ke dalam tangan Nebukadnezar, raja Babel, yang akan membunuh mereka di depan matamu sendiri, 22 Dari pengalamn mereka itulah akan dikenal suatu ungkapan kutuk di antara semua orang buangan dari Yehuda yang ada di Babel, demikian: Biarlah TUHAN memperlakukan kamu seperti Zedekia dan Ahab yang telah dipanggang oleh raja negeri Babel di dalam api!, 23 oleh karena mereka telah melakukan kebebalan di Israel, telah berzina dengan isteri sesama mereka dan telah mengucapkan perkataan dusta yang tidak Kuperintahkan kepada mereka. Aku sendirilah yang mengetahui dan menyaksikannya, demikianlah firman TUHAN."

Gereja Tekun Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa

Kita bersyukur atas anugerah dan kasih Allah dalam Kristus yang nyata dalam seluruh perjalanan hidup sebagai orang percaya. Sekalipun ada banyak tantangan dan persoalan hidup yang menantang kita, namun kasih sayang Tuhan tidak pernah berubah. Hal ini yang disaksikan dalam bacaan firman Tuhan di hari ini sebagai pengalaman iman bangsa pilihan Tuhan Israel saat mereka harus di buang ke Babel. Pembuangan Babel sebagai cara Tuhan untuk mendidik mereka karena ketidaktaatan kepada Tuhan. Selama tujuh puluh tahun masa pembuangan itu, mereka diperintahkan untuk tetap bekerja dan beraktivitas dengan mendoakan tempat dimana mereka membangun hidup dan masa depan. Seperti itupun tanggung jawab iman kita sebagai orang percaya, ketika menjalani hari-hari hidup di tengah kehidupan bangsa Indonesia tercinta yang akan mensyukuri HUT kemerdekaannya di besok hari. Kehadiran kita sebagai orang percaya, kiranya menjadi garam dan terang untuk menggarami dan menerangi kehidupan bangsa ini dengan seluruh tugas dan tanggung jawab yang kita lakukan dengan baik.

Doa: Tuhan, mampukan dan kuatkan kami untuk menjadi berkat dalam tanggung jawab sebagai warga bangsa yang baik. Amin.  

Senin, 17 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 22 : 15 –  22 (TB2)

Tentang membayar pajak kepada Kaisar
15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dalam perkataan-Nya. 16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut terhadap penipuan orang, sebab Engkau tidak mencari muka. 17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" 18 Namun, Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. 20 Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan nama siapakah ini?" 21 Jawab mereka: "Gambar dan nama Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah milik Kaisar kepada Kaisar dan milik Allah kepada Allah." 22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Membayar Pajak Tepat Waktu Menopang Pembangunan Bangsa

Hari ini merupakan sukacita bagi kita dalam merayakan HUT kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia tercinta yang ke 81 tahun. Cita-cita dan kerinduan kita adalah menikmati kemakmuran bagi semua warga bangsa. Salah satu penunjangnya adalah soal uang yang berkaitan dengan membayar pajak. Nas bacaan di hari ini, Tuhan Yesus menegaskan tentang tanggung jawab dapat kita lakukan dengan baik sebagai warga bangsa dengan membayar pajak. Memang kondisi bangsa saat ini, maraknya aksi korupsi terhadap keuangan negara yang merupakan hasil pajak dari masyarakat berdampak buruk sehingga   kemakmuran masyarakat seakan sebuah mimpi saja. Namun kita harus mendoakan para pemimpin bangsa ini, teristimewa anak-anak Tuhan yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dengan jabatan dan kuasa yang dianugerahi Tuhan agar dapat melakukannya dengan baik. Sebagai masyarakat, kitapun tetap mewujudkan kewajiban dengan baik dalam membayar pajak. Sekalipun apa yang kita harapkan belum sesuai dengan kenyataan, namun panggilan kita untuk menyuarakan suara kenabian dalam upaya penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme tetap dilakukan dengan penuh iman kepada Allah dalam Kristus yang mengasihi dan memberkati bangsa ini. Sehingga hasil pajak dapat digunakan dengan baik demi kemakmuran negara dan bangsa.          

Doa: Ya Tuhan bijaksanakan kami untuk mewujudkan kewajiban sebagai warga bangsa dengan membayar pajak. Amin  

Selasa, 18 Agustus 2026

bahan bacaan : Nehemia 2 : 11 – 20 (TB2)

Tekad untuk membangun kembali tembok Yerusalem
11 Lalu aku tiba di Yerusalem. Sesudah tiga hari di sana, 12 aku bangun pada malam hari bersama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak memberitahukan kepada siapapun rencana yang diberikan Allahku dalam hatiku untuk kulakukan bagi Yerusalem. Bahkan tidak seekor binatang pun bersamaku selain yang kutunggangi. 13 Pada malam hari itu aku keluar melalui Pintu Gerbang Lembah, ke jurusan mata air Ular Naga dan pintu gerbang Sampah. Aku menyelidiki dengan saksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api. 14 Lalu aku meneruskan perjalananku ke pintu gerbang Mata Air dan ke kolam Raja. Karena binatang yang kutunggangi tidak dapat melewati tempat itu, 15 aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki dengan saksama tembok itu. Kemudian aku kembali dan masuk melalui pintu gerbang Lembah. Demikianlah aku pulang. 16 Para penguasa tidak tahu ke mana aku pergi dan apa yang telah kulakukan, karena sampai kini aku belum memberitahukan apa pun kepada orang Yahudi, baik kepada para imam, para pemuka, para penguasa maupun para petugas lainnya. 17 Lalu aku berkata kepada mereka: "Kamu melihat kemalangan yang kita alami: Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela." 18 Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa baiknya tangan Allahku yang melindungi aku dan apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka, "Kami siap untuk membangun!" Lalu dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. 19 Mendengar hal itu Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mengolok-olok dan menghina kami. Kata mereka: "Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak terhadap raja?" 20 Aku menjawab mereka, kataku: "Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!"

Siap Terlibat dalam Pembangunan Bangsa

Kecintaan Nehemia kepada bangsanya Israel membuatnya untuk meninggalkan kenyamanannya di istana raja dengan pekerjaan sebagai juru minum raja. Hal ini dilakukan oleh Nehemia sebab ia mendengar tentang kondisi bangsanya dimana kota Yerusalem telah hancur tembok-temboknya. Nehemia sedih dan bertekad untuk memperbaikinya. Dengan mendapat mandat sebagai bupati, Nehemia langsung bergerak untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab membangun kembali tembok Yerusalem yang hancur. Disaksikan dalam nas alkitab, Nehemia melakukannya dengan bergumul serta berserah dan bergantung kepada Tuhan. Pentingnya campur tangan Tuhan yang melayakkan dan memampukannya Nehemia dalam tugas dan tanggung jawabnya. Sebuah teladan bagi kita, dimana rasa kecintaan pada bangsa ini, maka semua tugas dan tanggungjawab yang kita lakukan, hendaknya selalu meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan. Sehingga semuanya itu akan berhasil dan berguna untuk semua orang serta demi kemuliaan nama Tuhan.

Doa: Terima kasih Tuhan yang menjadi kekuatan bagi kami untuk menghadapi tantangan dalam hidup ini.  Amin  

Rabu, 19 Agustus 2026

bahan bacaan : Roma 13 : 1 – 7 (TB2)

Kepatuhan kepada pemerintah
Tiap-tiap orang harus tunduk kepada para penguasa yang di atasnya, sebab tidak ada penguasa, yang tidak berasal dari Allah; para penguasa yang ada, ditetapkan oleh Allah. 2 Sebab itu siapa melawan penguasa, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melawan, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. 3 Sebab orang yang berbuat baik, tidak usah takut kepada pemimpin, kecuali orang yang berbuat jahat. Maukah engkau hidup tanpa takut terhadap pemimpin? Perbuatlah apa yang baik dan engkau akan beroleh pujian darinya. 4 Karena ia adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Namun jika engkau berbuat jahat, takutlah kepadanya, karena tidak percuma ia menyandang pedang. Ia adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 5 Sebab itu perlu kita tunduk, bukan saja karena murka Allah, tetapi juga oleh karena hati nurani kita. 6 Itulah juga sebabnya kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7 Bayarlah kepada semua orang apa yang wajib kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Taat dan Hormat kepada Pemerintah

Sebuah keluarga sederhana tetap setia menaati aturan, meskipun mereka belum langsung merasakan manfaatnya. Mereka tetap tertib, taat, dan menjalankan kewajiban sebagai warga. Ketika akhirnya perubahan terjadi dan keadaan menjadi lebih baik, mereka menyadari bahwa ketaatan mereka turut mendukung kebaikan bersama. Dari situlah mereka belajar bahwa menghormati pemerintah adalah bagian dari iman kepada Tuhan. Roma 13:1–7 mengajarkan bahwa pemerintah adalah hamba Allah yang dipakai untuk menjaga ketertiban dan keadilan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk tunduk dan menghormati pemerintah. Sikap ini bukan berarti selalu setuju dengan semua kebijakan, tetapi tetap hidup taat, menjaga sikap hormat, dan tidak melawan aturan yang berlaku. Dalam keluarga, orang tua memiliki peran penting untuk menjadi teladan. Melalui sikap taat, anak-anak belajar bahwa iman kepada Tuhan juga diwujudkan dalam tanggung jawab sebagai warga negara. Dengan hidup taat dan hormat, kita ikut ambil bagian dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa.

Doa:  Ajar kami untuk hidup taat dan hormat kepada pemerintah, Amin.

Kamis, 20 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 5 : 13 – 16 (TB2)

Garam dunia dan terang dunia
13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin disembunyikan. 15 Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga memberi terang kepada semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Menjadi Garam dan Terang bagi Sesama

Yesus menyebut kita garam dan terang dunia. Garam memberi rasa dan mencegah kebusukan, sementara terang mengusir kegelapan. Ini bukan sekadar identitas, tetapi panggilan hidup, khususnya bagi kita di tengah pembangunan bangsa. Sebagai garam, kita dipanggil menghadirkan nilai kejujuran, kerja keras, dan kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman seperti korupsi, ketidakadilan, dan sikap tidak peduli, kita harus menjadi pribadi yang menjaga moralitas dan membawa perubahan nyata dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Sebagai terang, kita terpanggil menjadi teladan. Terang tidak bersembunyi, tetapi bersinar agar orang lain melihat perbuatan baik dan memuliakan Allah. Dalam konteks bangsa, kita dapat terlibat aktif dalam pendidikan, pelayanan sosial, serta menjaga persatuan dan kerukunan antar sesama. Melalui kehidupan sehari-hari di rumah, keluarga menjadi tempat pertama untuk belajar menjadi garam dan terang. Saling mendukung, hidup dalam kasih, serta membangun kebiasaan baik akan membentuk karakter yang berdampak luas. Kiranya setiap keluarga gereja setia menjalankan panggilan ini, sehingga melalui hidup kita, kesejahteraan dan keadilan bangsa semakin nyata, dan nama Tuhan dimuliakan.

Doa:  ya Tuhan mampukan untuk menjadi garam dan terang bagi sesama. Amin

Jumat, 21 Agustus 2026

bahan bacaan : Ezra 7 : 21 – 26 (TB2)

21 Aku, raja Artahsasta, telah mengeluarkan perintah kepada semua bendahara di daerah seberang sungai Efrat: segala yang diminta darimu oleh imam Ezra, ahli Taurat Allah semesta langit, haruslah dilaksanakan secara seksama, 22 dengan memakai perak sampai seratus talenta, gandum sampai seratus kor, anggur sampai seratus bat, minyak sampai seratus bat, dan garam tidak terbatas. 23 Segala sesuatu yang berdasarkan perintah Allah semesta langit, harus dilaksanakan dengan tekun untuk Rumah Allah semesta langit, supaya pemerintahan raja serta anak-anaknya jangan tertimpa murka. 24 Kami memberitahukan pula kepadamu, bahwa tidaklah sah bila para imam, orang Lewi, penyanyi, penjaga pintu gerbang, pelayan atau hamba lainnya di Rumah Allah dikenakan pajak, upeti atau bea. 25 Engkau, Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka mengadili seluruh rakyat yang tinggal di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kauajari. 26 Setiap orang, yang tidak melakukan hukum Allahmu dan hukum raja, harus dihukum sepantasnya, baik dengan hukuman mati, maupun dengan pengasingan, baik dengan hukuman denda atau hukuman penjara."

Pemimpin Berhikmat, Bangsa Sejahtera

Hikmat dari Tuhan bukan hanya menerangi pikiran, tetapi menuntun langkah menuju damai sejahtera.” Bacaan Kitab Ezra 7:21-26 menunjukkan bagaimana Raja Artahsasta memberi wewenang kepada Ezra untuk mengatur kehidupan umat berdasarkan hukum Allah. Di sini kita melihat bahwa ketika seorang pemimpin berjalan dalam hikmat Tuhan, keputusan yang diambil bukan hanya adil, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Hikmat Allah memampukan seorang pemimpin bertindak benar, tidak memihak, dan berani menegakkan keadilan. Ezra tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan bangsa. Inilah yang menjadi dasar kesejahteraan sejati bukan sekadar materi, tetapi kehidupan yang tertib, adil, dan berkenan kepada Tuhan. Sebagai keluarga Kristen, kita juga dipanggil menjadi “pemimpin kecil” dalam lingkup kita: di rumah, pekerjaan, dan masyarakat. Ketekunan dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa dimulai dari sikap hidup yang takut akan Tuhan dan penuh hikmat dalam setiap keputusan. Mari kita hidup dalam hikmat Allah, sehingga melalui kehidupan kita, keadilan ditegakkan dan kesejahteraan bangsa semakin nyata.

Doa: Tuhan berikanlah kami hikmat kepada para pemimpin bangsa kami, Amin .

Sabtu, 22 Agustus 2026

bahan bacaan : Ezra 7 : 27 – 28a (TB2)

Ezra Memuji Tuhan
27 Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang sudah menggerakkan hati raja sedemikian rupa, sehingga ia membuat indah Rumah TUHAN di Yerusalem, 28 dan Ia membuat aku diperkenan oleh raja dan penasihat-penasihatnya serta semua pembesar raja yang berkuasa!

Tangan Tuhan Turut Bekerja

Seorang guru di desa terpencil tetap mengajar dengan setia meski fasilitas terbatas. Ia percaya usahanya akan berdampak bagi masa depan. Bertahun-tahun kemudian, murid-muridnya menjadi orang-orang yang membawa perubahan bagi masyarakat. Dalam Ezra 7:27–28a, Ezra memulai dengan pujian kepada Tuhan yang telah menggerakkan hati raja untuk mendukung umat Israel. Ia menyadari bahwa semua itu bukan kebetulan, melainkan karya Tuhan yang berdaulat atas hati manusia dan perjalanan sebuah bangsa. Kesadaran ini memberi Ezra keberanian. Ia percaya tangan Tuhan menyertainya, sehingga ia bertindak mengumpulkan para pemimpin dan membangun kembali kehidupan umat. Iman yang sejati tidak berhenti pada rasa syukur, tetapi mendorong tindakan nyata demi kesejahteraan bersama. Sebagai gereja masa kini, kita dipanggil untuk tekun mengusahakan kesejahteraan bangsa. Tuhan dapat memakai setiap peran kecil kita melalui doa, pelayanan, dan hidup yang benar untuk membawa perubahan. Ketekunan dan kesetiaan kita hari ini bisa menjadi berkat besar di masa depan.

Doa:  Tuhan, jadikan kami alat-Mu untuk membawa kesejahteraan bagi bangsa kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 09 – 15 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Menegakkan Hak Asasi Manusia

Minggu, 09 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 22 : 34 – 40 (TB2)

Hukum yang terutama
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 "Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. 39 Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Mengasihi Allah dan Sesama Dengan Menegakkan HAM

Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa kasih adalah dasar hidup orang percaya. Kasih bukan hanya perasaan baik, tetapi tindakan nyata untuk menghargai, melindungi, dan memperlakukan sesama sebagai ciptaan Allah yang mulia. Mengasihi sesama berarti ikut menjaga kehidupan, keadilan, kebenaran, dan martabat manusia. Dalam sebuah keluarga, ada seorang anak yang sering dimarahi karena nilainya kurang baik. Lama-kelamaan anak itu menjadi takut berbicara dan merasa tidak berharga. Suatu hari, orang tuanya sadar bahwa mendidik bukan berarti merendahkan. Mereka mulai mendengar, mendampingi, dan memberi semangat. Anak itu pun perlahan menjadi lebih percaya diri. Ilustrasi ini mengingatkan kita bahwa kasih bukan hanya memberi makan atau memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kasih juga berarti menjaga martabat, perasaan, dan hak setiap anggota keluarga untuk dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan adil. Keluarga juga dipanggil menjadi tempat pertama untuk belajar menghargai hak asasi manusia. Di rumah, anak-anak belajar bahwa setiap orang: orang miskin, orang sakit, orang berbeda suku, agama, pendapat, atau keadaan hidup tetap harus dihormati sebagai sesama manusia.

Doa: Ya Tuhan, Jauhkan kami dari sikap semena-mena, tidak adil, dan merendahkan sesama. Amin. 

Senin, 10 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat 19 : 13 – 14 (TB2)

13 Janganlah engkau memeras sesamamu dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang buruh upahan sampai besok hari. 14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta jangan kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

Jangan Semena-Mena Kepada Sesama!

Imamat 19 berisi perintah Tuhan kepada umat Israel agar hidup kudus dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Perintah di ayat 13-14 menunjukkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan cara manusia memperlakukan sesamanya, terutama mereka yang lemah, tidak berdaya, atau mudah dirugikan. Tuhan tidak hanya melihat ibadah umat-Nya, tetapi juga melihat kejujuran, keadilan, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan penting dalam nas ini: “engkau harus takut akan Allahmu.” Artinya, manusia tidak boleh bertindak semena-mena hanya karena merasa lebih kuat, lebih berkuasa, atau karena orang lain tidak mampu membela diri. Takut akan Tuhan berarti sadar bahwa Tuhan melihat semua perbuatan kita, termasuk perlakuan kita terhadap sesama. Firman Tuhan mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh memperlakukan sesama secara tidak adil. Nasihat yang berulang-ulang dengan menggunakan kata “jangan” karena hati manusia mudah tergoda untuk mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Dalam keluarga, Firman ini mengajak kita untuk saling memperlakukan dengan adil dan penuh kasih. Orang tua tidak boleh memakai kuasa untuk menyakiti hati anak. Anak-anak tidak boleh merendahkan orang tua. Kakak tidak boleh menekan adik hanya karena merasa lebih besar. Suami dan istri juga dipanggil untuk saling menghargai, bukan saling menyakiti.

Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami untuk mengasihi Engkau dan tolonglah kami mengasihi sesama seperti diri kami sendiri.Amin.

Selasa, 11 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 22 : 22 – 23 (TB2)

22 Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin di pintu gerbang. 23 Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka.

Tuhan Membela Orang Lemah

Orang lemah sering jadi sasaran karena mereka tidak punya kekuatan untuk melawan. Misalnya, ada penjual kaki lima di pinggir jalan yang dagangannya dihancurkan atau diambil oleh petugas tanpa membayar, ada anak dari keluarga miskin yang dibully (ditindas) di sekolah, atau seorang nenek yang ditipu dengan modus pura-pura diantar pulang ke rumah, padahal dompetnya dicuri. Dan masih banyak kisah miris lainnya tentang orang lemah yang menjadi korban. Dalam kenyataan tersebut, penulis Kitab Amsal (Salomo) mengingatkan kita, “Jangan merampas orang lemah karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin”.  Bagian ini berisi peringatan Tuhan, agar kita tidak menyalahgunakan kekuasaan terhadap orang yang tidak berdaya. Sebab, meskipun orang lemah tidak mampu melawan, Tuhan sendiri  yang akan memberikan keadilan kepada mereka. Sebaliknya, orang yang menindas tidak akan luput dari penghakiman Tuhan. Ayat ini bukan hanya berisi peringatan, tetapi juga ajakan supaya orang percaya berlaku adil, menolong yang lemah dan menjadi pembela, bukan penindas.

Doa:  Roh Kudus tuntun kami untuk menjadi pembela bagi orang lemah bukan penindas. Amin.

Rabu, 12 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 28 : 3 (TB2)

3 Orang miskin yang menindas orang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.

Jangan Menindas yang Lemah

Hidup ini akan menjadi lebih baik dan indah apabila kita saling menghargai hak hidup. Sebab setiap orang berharga dan layak dihormati serta diperlakukan dengan adil. Namun, dalam Amsal 28:3 diperlihatkan hal yang berbeda, yaitu “Orang miskin menindas orang lemah”. Perikop ini menggambarkan keadaan yang seharusnya tidak terjadi, ketika seseorang yang juga berada dalam kesusahan justru memperlakukan orang yang lebih lemah dengan tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa penindasan tidak hanya dilakukan oleh orang kuat (mereka yang memiliki kuasa, jabatan, kekayaan), tetapi juga dilakukan oleh siapa saja termasuk orang miskin. Hal ini mengingatkan kita bahwa keadaan seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk  berlaku tidak adil dan menindas sesama karena dapat membawa kehancuran. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk hidup dengan kasih, keadilan dan menghargai sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk hidup tidak menindas sesama Amin.  

Kamis, 13 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 29 : 5 – 7 (TB2)

5 Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya. 6 Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita. 7 Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya.

Kita Dipanggil Untuk Membela Hak Orang Lemah

Ada kata bijak mengatakan, ”Hak orang lemah adalah tanggung jawab orang yang kuat”. Artinya, orang yang memiliki kuasa, jabatan, dan kedudukan yang lebih tinggi memiliki kewajiban untuk melindungi, menjaga dan memperjuangkan hak orang yang lemah dengan adil bukan untuk menindasnya, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 7, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya”. Orang yang hidup takut akan Tuhan lebih peduli terhadap orang yang lemah (miskin, janda, yatim piatu, orang asing) bahkan mereka membela dan memperjuangkan hak-hak mereka yang lemah, seperti: hak untuk diperlakukan adil, hak untuk mendapat perlindungan, hak untuk dikasihi dan ditolong, hak untuk diperlakukan dengan hormat, dan hak untuk hidup (tidak boleh disakiti atau dibunuh). Sebaliknya orang  fasik (orang jahat) tidak peduli terhadap  orang yang lemah. Ia cenderung egois, tidak mau tahu, bahkan bisa saja menindas sesama. Namun, kita diingatkan bahwa Tuhan menghukum mereka yang hidup tidak adil dan menindas sesamanya.

Doa: Roh Kudus mampukan kami untuk membela hak orang lemah, Amin  

Jumat, 14 Agustus 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 7 : 54 – 60 (TB2)

Stefanus dibunuh -- Saulus hadir
54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. 55 Namun Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. 56 Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." 57 Berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka serentak menyerbu dia. 58 Mereka menghalau dia ke luar kota, dan melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. 59 Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." 60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal.

Tetap Setia, Tetap Mengampuni

Kisah seorang misionaris bersama keluarganya memberitakan injil di suku pedalaman di Afrika. Istri dan anak-anaknya dibunuh oleh kepala suku. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam. Namun, pada suatu hari, anak kepala suku sakit keras hingga hampir meninggal. Misionaris yang memiliki latar belakang medis itu langsung menawarkan diri untuk mengobati anak tersebut. Akhirnya, anak itu sembuh, dan kepala suku beserta semua anggota suku tersebut menjadi percaya serta menganut agama Kristen. Pengalaman pemberitaan injil dari misionaris tersebut, tidak jauh berbeda dengan pengalaman iman Stefanus (martir pertama Gereja Kristen) yang dihukum mati tanpa pengadilan oleh Mahkamah Agama karena ia memberitakan injil kepada banyak orang pada saat itu. Namun, yang terkesan adalah saat menjelang kematiannya ia memberikan pengampunan kepada mereka yang telah menganiayanya. Pesan bagi kita, tetaplah setia kepada Kristus dan tugas pemberitaan injil, sekalipun menghadapi penganiayaan bahkan kematian. Dan belajarlah memberikan pengampunan kepada orang-orang yang menyakiti kita. Jangan merampas hak hidup sesama manusia.

Doa: Tuhan, penuhi kami dengan Roh Kudus supaya kami dapat mengampuni mereka yang menyakiti ,Amin. 

Sabtu, 15 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat  19 : 32 – 34  (TB2)

32 Engkau harus bangkit berdiri di hadapan orang ubanan, menghormati orang yang tua dan takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang pendatang tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Pendatang yang tinggal padamu harus kauperlakukan sama seperti orang Israel asli di antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu dahulu juga pendatang di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

Hormati orang Tua, Jangan Menindas Pendatang atau Orang Asing

Panggilan Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan mesti mewujudkan sikap mengasihi sesama manusia seperti mereka mengasihi diri sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan penghormatan kepada mereka yang lanjut usia, tidak menindas para pendatang atau orang asing dengan memperlakukan mereka seperti saudara sendiri. Apa yang dilakukan oleh  menunjukkan ketaatan mereka kepada Tuhan Allah yang selalu mengingatkan Israel pada pengalaman mereka sebagai bangsa pendatang atau orang asing di Mesir. Tindakan demikian merupakan sikap hidup kudus sebagaimana Allah yang kudus, sehingga Israel dipilih untuk melakukannya dalam kehidupan mereka. Demikian pun juga kita sebagai keluarga Allah yang mesti mewujudkan panggilan kita dalam membangun relasi hidup dengan sesama baik dalam persekutuan keluarga, bertentangga, berjemaat maupun bermasyarakat. Menghormati mereka yang dituakan, mengasihi sesama sebagai saudara seperti mengasihi diri kita sendiri. Menolong dan membantu mereka ketika mereka membutuhkan bantuan dan pertolongan. Dengan demikian kita mampu meneladani kasih Allah dalam Kristus yang senantiasa mengasihi kita.

Doa:  Tuhan, kami mohon tuntunanMu bagi kami, agar kami mampu menghormati dan mengasihi sesama kami.  Amin   

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026

Santapan Harian Keluarga, 02 – 08 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Menegakkan Keadilan Publik

Minggu, 02 Agustus 2026

bahan bacaan : 1 Raja-raja 3 : 16 – 28 (TB2)

Hikmat Salomo dalam memberi keputusan
16 Suatu ketika dua orang pelacur datang kepada raja, dan berdiri di hadapannya. 17 Salah seorang perempuan itu berkata: "Ya tuanku! aku dan perempuan ini tinggal serumah. Aku melahirkan anak pada waktu dia ada di rumah. 18 Tiga hari setelah aku melahirkan, perempuan inipun melahirkan. Hanya kami saja, tidak ada orang luar bersama kami dalam rumah. Hanya kami berdua di rumah. 19 Anak dari perempuan ini meninggal pada waktu malam, karena tertindih olehnya. 20 Pada tengah malam ia bangun dan mengambil anakku dari sampingku, sementara hambamu ini masih tidur. Ia membaringkan anakku di dadanya, sedangkan anaknya yang mati itu dibaringkannya di dadaku. 21 Ketika aku bangun di pagi hari untuk menyusui anakku, ternyata anak itu sudah meninggal. Tetapi ketika aku melihatnya dengan teliti pagi itu, nyatalah bukan dia anak yang kulahirkan." 22 Kata perempuan yang lain: "Tidak! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati." Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: "Tidak! anakmulah yang mati, anakkulah yang hidup." Begitulah mereka bertengkar di hadapan raja. 23 Lalu raja berkata: "Yang seorang mengatakan: Anakkulah yang hidup ini, anakmulah yang mati. Sedangkan yang lain mengatakan: Anakmulah yang mati, anakkulah yang hidup." 24 Sesudah itu raja berkata: "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke hadapan raja. 25 Kata raja: "Potonglah anak yang hidup itu menjadi dua. Berikanlah setengah kepada yang satu dan setengah lagi kepada yang lain." 26 Perempuan yang mempunyai anak yang hidup itu memohon kepada raja, sebab hatinya tergetar oleh rasa sayang kepada anaknya itu, katanya: "Mohon tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan membunuhnya." Tetapi yang lain berkata: "Tidak untukku, tidak juga untukmu, potonglah dia!" 27 Tetapi raja menjawab, "Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu. Jangan sekali-kali membunuh dia; Perempuan itulah ibunya." 28 Mendengar keputusan yang diberikan raja, seluruh orang Israel pun menyegani raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Tekun Menegakkan Keadilan Publik

Ketekunan dalam menegakkan keadilan berarti memberi ruang bagi setiap orang untuk memperoleh hak yang sama tanpa memandang latar belakangnya. Kisah Salomo dalam memutuskan perkara dua perempuan menunjukkan bahwa keadilan tidak selalu mudah ditegakkan. Tanpa saksi mata dan bukti yang jelas, Salomo membutuhkan hikmat dan ketajaman nurani untuk menemukan kebenaran. Perintahnya untuk “membelah anak itu” bukan tindakan kejam, melainkan cara bijaksana untuk membuka kebenaran yang tersembunyi. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa ketidakadilan sering bersembunyi di balik kata-kata dan manipulasi. Karena itu, menegakkan keadilan membutuhkan ketekunan, keberanian, dan hikmat Tuhan agar tidak hanya melihat apa yang tampak di permukaan.  Tujuan utama keadilan bukan sekadar menghukum yang salah, tetapi melindungi yang lemah dan memulihkan kehidupan. Dalam kehidupan saat ini, keadilan sering dipahami hanya sebagai pembalasan. Namun firman Tuhan mengajarkan keadilan yang memulihkan dan membawa kesejahteraan bersama. Karena itu, setiap keluarga, gereja, dan pendidik dipanggil untuk terus menanamkan iman, karakter, serta nilai moral kepada generasi muda.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk tekun menegakkan keadilan, Amin.  

Senin, 03 Agustus 2026

bahan bacaan : Mazmur 82 : 1 – 8 (TB2)

Allah dalam sidang ilahi
Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam sidang surgawi, di antara para illah Ia menghakimi: 2 "Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Sela 3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan berkekurangan! 4 Luputkanlah orang yang lemah dan miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!" 5 Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. 6 Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah illah-illah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. -- 7 Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti setiap penguasa kamu akan jatuh." 8 Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa.

Berilah Keadilan bagi yang Lemah

Mazmur ini menyebut orang lemah, anak yatim, orang sengsara, dan orang miskin sebagai mereka yang harus dibela dan diperhatikan. Keadilan sejati tidak diukur dari cara kita memperlakukan orang yang berkuasa, tetapi dari sikap kita terhadap mereka yang tidak mampu memberi keuntungan bagi kita. Pemazmur mengingatkan bahwa ketika keadilan diabaikan, “dasar bumi goyang.” Artinya, ketidakadilan bukan hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan kehidupan masyarakat. Bangsa dan komunitas yang tidak adil akan menjadi rapuh dan kehilangan damai. Pada akhirnya, setiap orang akan berdiri di hadapan Allah, Hakim yang adil dan kekal. Karena itu, kita dipanggil untuk tetap tekun menegakkan keadilan dan tidak menyerah pada sistem yang salah atau sikap tidak peduli. Kita harus berani menyuarakan kebenaran, membela yang tertindas, dan peduli kepada sesama di sekitar kita. Setiap tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan, baik di rumah, pekerjaan, maupun pelayanan, akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Saat kita menegakkan keadilan, kita sedang memancarkan kasih dan karakter Allah di tengah dunia.

Doa: Tuhan, beri kami keberanian bersuara dan peduli bagi mereka yang diabaikan, Amin. 

Selasa, 04 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat 19 : 15 – 16 (TB2)

15 Janganlah kamu berbuat curang di pengadilan; jangan memihak orang miskin atau terpengaruh oleh orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran. 16 Janganlah engkau pergi ke sana kemari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

Tegakkan Hukum dengan Adil

Dalam kehidupan bersama, godaan untuk “pilih kasih” selalu ada. Firman Tuhan mengajarkan agar kita berdiri teguh di atas kebenaran tanpa memandang siapa yang sedang kita hadapi. Salah satu bentuk ketidakadilan adalah menyebarkan fitnah dan kabar bohong. Ketika seseorang menyebarkan berita yang belum tentu benar atau memutarbalikkan fakta, ia sedang menghakimi sesama secara tidak adil dan melukai kehidupan orang lain. Lidah yang tidak terjaga dapat menghancurkan karakter dan hubungan antar sesama.Firman Tuhan menegaskan bahwa setiap tindakan keadilan harus mencerminkan karakter Allah sendiri. Kalimat “Akulah TUHAN” menjadi pengingat bahwa Tuhan adalah Hakim yang Maha Tahu, tidak dapat disuap, dan tidak dapat dikelabui. Karena itu, bertindak adil bukan hanya untuk menjaga keteraturan sosial, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan penghormatan kepada Tuhan. Melalui firman ini, kita diajak untuk memeriksa diri: apakah keputusan yang kita ambil masih dipengaruhi rasa sungkan, kepentingan pribadi, atau belas kasihan yang salah tempat? Apakah perkataan kita membangun dan membawa damai, atau justru menyebarkan hal yang menyakiti sesama? Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pembawa kebenaran, menjaga integritas, dan menghadirkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Doa: Tuhan berikanlah kami keberanian menegakkan hukum secara aadil, Amin

Rabu, 05 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 24 : 17 – 18 (TB2)

17 Janganlah engkau memperkosa hak pendatang dan anak yatim; Juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda sebagai gadai. 18 Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini.

Janganlah Membengkokkan Hak Hidup Orang Lemah

Teks bacaan hari ini menyebut tiga golongan yang paling lemah secara hukum dan ekonomi, yaitu orang asing, anak yatim, dan janda. Tuhan melarang umat-Nya membengkokkan hak mereka, sebab tindakan itu berarti memakai kekuasaan untuk merampas hak hidup dan martabat sesama. Larangan mengambil pakaian janda sebagai gadai menunjukkan kepedulian Tuhan terhadap kebutuhan dasar orang kecil yang harus dilindungi. Tuhan juga mengingatkan Israel bahwa mereka pernah hidup sebagai budak di Mesir, tertindas dan tidak memiliki pembela. Karena itu, mereka dipanggil untuk berlaku adil sebagai wujud syukur atas pertolongan Tuhan yang telah membebaskan mereka. Keadilan lahir dari hati yang mengingat kasih dan anugerah Tuhan. Dalam kehidupan saat ini, membengkokkan hak orang lemah dapat terjadi melalui banyak cara, seperti menahan upah pekerja, menyalahgunakan jabatan, menindas bawahan, atau bersikap acuh terhadap ketidakadilan sosial. Firman Tuhan mengajak kita untuk peduli dan berani membela mereka yang lemah. Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi saluran kasih Tuhan dengan menjaga keadilan, menghormati martabat manusia, dan menolong mereka yang membutuhkan perlindungan.

Doa: ya, Tuhan, kiranya kami tidak menjadi buta terhadap penderitaan sesama, Amin. 

Kamis, 06 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 23 : 23-24 (TB2)

23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari min, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta kamu telan.

Ibadah Yang Melahirkan Keadilan

Yesus memakai gambaran yang tajam dalam menegur para Ahli Taurat dan Orang Farisi. Ia berkata kepada mereka “nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta kamu telan”. Artinya, mereka sangat sibuk memperhatikan hal kecil, tetapi melupakan perkara besar yang lebih penting di hadapan Allah. Teguran Yesus bukan berarti ibadah ritual tidak penting. Yesus tidak menolak persepuluhan atau praktik keagamaan. Namun, Yesus menegaskan bahwa ibadah yang benar tidak boleh berhenti pada aturan lahiriah saja. Ibadah harus tampak dalam cara hidup, terutama dalam memperlakukan orang lain dengan adil, penuh kasih, dan setia kepada kehendak Allah. Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin, baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat, tidak cukup hanya terlihat rajin beribadah. Pemimpin yang berkenan kepada Allah adalah pemimpin yang mampu memberlakukan nilai ibadah dalam kehidupan nyata. Dalam keluarga, seorang ayah, ibu, atau orang yang dituakan tidak hanya dipanggil untuk mengajak keluarga berdoa, membaca Alkitab, dan beribadah. Lebih dari itu, ia juga dipanggil untuk menghadirkan keadilan di rumah. Ia tidak pilih kasih, tidak keras tanpa alasan, mau mendengar, menghargai setiap anggota keluarga, dan memperlakukan semua orang dengan kasih.

Doa: Ya Tuhan, arahkanlah kami untuk  beribadah dengan setia dan menyatakannya dalam tindakan yang adil dan penuh kasih. Amin..

Jumat, 07 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 16 : 18 – 20 (TB2)

Pengadilan yang benar
18 Hakim-hakim dan pengawas-pengawas haruslah kauangkat di semua kota yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu. Mereka harus mengadili bangsa itu dengan keputusan yang benar. 19 Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu. Jangan pula menerima suap, sebab suap membutakan mata orang bijaksana dan memutarbalikkan perkara orang yang benar. 20 Keadilan, hanya keadilanlah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu."

Keadilan yang Harus Dikejar

Bagian yang penting dalam nas hari ini terdapat dalam ayat 20: “Keadilan, hanya keadilanlah yang harus kaukejar…” Perintah ini menunjukkan bahwa keadilan bukan hanya sekadar nilai yang baik, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Tuhan menghubungkan keadilan dengan kehidupan dan berkat atas tanah atau negeri yang diberikan-Nya kepada umat-Nya. Artinya, kehidupan yang diberkati Tuhan tidak dapat dipisahkan dari cara hidup yang adil. Firman Tuhan mengajarkan bahwa keadilan harus dimulai dari hati yang takut akan Tuhan. Orang yang adil tidak memperlakukan orang lain berdasarkan suka atau tidak suka, dekat atau jauh, kuat atau lemah, kaya atau miskin. Keadilan berarti berani berkata benar, mengambil keputusan yang benar, dan memperlakukan semua orang dengan layak di hadapan Tuhan. Keadilan juga harus dikejar. Ini berarti keadilan tidak selalu datang dengan mudah. Kadang-kadang kita harus melawan keegoisan, kebiasaan pilih kasih, kemarahan, atau keinginan untuk menguntungkan diri sendiri. Sebab Tuhan menghendaki agar umat-Nya mengejar keadilan, karena dari situlah kehidupan yang benar, damai, dan diberkati dapat bertumbuh.

Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami untuk mencari Engkau setiap hari. mengerti keadilan, berani melakukan yang benar, dan tidak membenarkan yang salah. Amin.

Sabtu, 08 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 28 : 4 – 5 (TB2)

4 Orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik, tetapi orang yang berpegang pada hukum menentangnya. 5 Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari TUHAN mengerti segala sesuatu.

Orang Yang Mencari Tuhan Mengerti Keadilan

Nas hari ini mengajarkan bahwa sikap seseorang terhadap Firman Tuhan akan memengaruhi cara ia melihat benar dan salah. Bila seseorang menjauh dari hukum Tuhan, ia bisa menjadi tumpul terhadap kejahatan, bahkan membenarkan hal yang salah. Sebaliknya, orang yang berpegang pada firman Tuhan akan berani menolak kejahatan. Ayat 5 menegaskan bahwa orang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari Tuhan mengerti segala sesuatu. Artinya, pengertian tentang keadilan bukan hanya soal kecerdasan atau pengalaman, tetapi lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan. Dalam sebuah keluarga, ada dua anak yang bertengkar karena berebut sesuatu. Orang tua bisa saja langsung membela anak yang lebih kecil karena dianggap lemah, atau membela anak yang lebih disayang. Tetapi orang tua yang hidup dalam takut akan Tuhan akan berusaha mendengar keduanya dengan adil. Ia tidak hanya mencari siapa yang menangis paling keras, tetapi mencari apa yang benar.

Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami untuk hidup dalam keadilan. Jauhkan kami dari sikap pilih kasih, egois, dan tidak jujur. Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 Juli – 1 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Mendidik Keluarga Menghadapi Dampak Negatif Era Digital

Minggu, 26 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Yohanes 2 : 7 – 17 (TB2)

Perintah yang baru
7 Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang kami miliki sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. 8 Namun, kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. 9 Siapa yang berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia ada di dalam kegelapan sampai sekarang. 10 Siapa yang mengasihi saudaranya, ia tetap tinggal di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. 11 Namun siapa yang membenci saudaranya, ia ada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. 12 Aku menulis kepada kamu, anak-anak ku, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. 13 Aku menulis kepada kamu, bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. 14 Aku menulis kepada kamu, anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. 15 Janganlah mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 17 Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Filter Hidup Yang Ideal di Era Digital

Perkembangan teknologi selalu membuka ruang bagi hadirnya nilai-nilai baru dalam realita yang terjadi. Hal ini seringkali mengarahkan kita untuk harus memiliki pijakan baru dalam mengontrol sikap hidup dan perilaku? Hal ini menarik, sebab ternyata dalam upaya beradaptasi dengan nilai-nilai kekinian, kita tidak harus merumuskan pijakan baru. Firman Tuhan masih tetap menjadi pegangan yang relevan dengan realita hidup kekinian. Nilia-nilai kasih yang diajarkan melalui Firman Tuhan sesungguhnya telah teruji untuk mengontrol sikap hidup orang percaya disetiap zaman. Oleh sebab itu Yohanes menegaskan bahwa perintah untuk mengasihi bukanlah hal baru, melainkan ajaran dasar yang telah ada sejak awal. Namun, ini menjadi “baru” dalam Kristus karena kasih-Nya memampukan kita untuk mengasihi sesama secara nyata, bahkan berkorban. Hidup dalam terang berarti mengasihi saudara; sebaliknya, membenci saudara berarti berjalan dalam kegelapan. Kasih sejati tidak membuat orang lain tersandung. Kasih menolong kita untuk menekan hasrat duniawi dan mengutamakan kehendak Allah dalam segala sikap dan perilaku. Dunia boleh terus berubah seiring perkembangan zaman. Namun kasih dan kehendak Allah tetap menjadi pijakan yang ideal bagi setiap orang yang menginginkan damai sejahtera Allah senantiasa dinyatakan disepanjang sejarah hidup manusia.

Doa: Tuhan, tuntun kami untuk tetap berpegang pada   kehendak firmanMu, Amin

Senin, 27 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 22 : 26 – 27 (TB2)

26 Jangan engkau termasuk di antara orang yang membuat persetujuan, dan yang menjadi penanggung utang. 27 Jika engkau tidak mempunyai apa-apa untuk membayar kembali, orang akan mengambil tempat tidurmu dari bawahmu.

Jangan Berhutang dan Jadi Penanggung Hutang

FOMO atau Fear of Missing Out merupakan fenomena psikologis yang semakin marak di kehidupan serba modern seperti sekarang ini. FOMO menggambarkan ketakutan melewatkan momen, pengalaman, atau aktivitas yang sedang terjadi atau populer di lingkungannya. Hal ini menyebabkan orang sering terjerumus dalam pola hidup konsumtif. Seseorang dengan pola hidup kosumtif memiliki kecenderungan untuk membeli barang atau jasa melebihi kemampuan diri, bukan karena kebutuhan, tetapi untuk terlihat “cukup” atau mengikuti tren. Menurut sosiolog Jean Baudrillard, nilai suatu barang tidak lagi berdasarkan fungsinya. Sebaliknya, barang tersebut menjadi simbol status. Kecenderungan ini menjadi penyebab utama tingginya perilaku berhutang atau menanggung hutang. Amsal 22 : 26-27 melarang keras tindakan gegabah menjadi penjamin utang (menanggung utang orang lain). Hal ini didasarkan pada risiko tinggi yang dapat menghancurkan stabilitas finansial seseorang juga konsekuensi tragis di mana hal paling dasar dalam hidup pun bisa hilang akibat menanggung utang yang bukan miliknya. Hikmat Tuhan mengarahkan kita untuk berhati-hati, memperhitungkan risiko, dan hidup tidak melampaui kemampuan. Tindakan bijak dalam mengelola keuangan adalah wujud ketaatan kepada Tuhan dan membantu menjaga reputasi, yang lebih berharga daripada kekayaan fana.

Doa: Tuhan, tuntun kami untuk bijak dalam mengelola berkatMu, Amin

Selasa, 28 Juli 2026

bahan bacaan : Efesus 6 : 1 – 4 (TB2)

Taat dan kasih
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena demikianlah yang benar. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 4 Hai bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Mendidik Anak-Anak Untuk Hidup dalam Ajaran Tuhan

Keluarga Kristen masa kini menghadapi tantangan besar dalam relasi antara orang tua   dan anak. Perbedaan generasi, pengaruh teknologi, dan kesibukan hidup sering kali membuat hubungan menjadi renggang. Anak merasa tidak dimengerti, sementara orang tua merasa tidak dihormati, sehingga komunikasi dalam keluarga pun semakin terbatas.  Firman Tuhan dalam Efesus 6:1-4 mengajarkan tentang keseimbangan relasi antara orang tua dan anak. Anak dipanggil untuk taat dan menghormati orang tua sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Di sisi lain, orang tua juga diingatkan untuk tidak membangkitkan amarah anak, melainkan mendidik dengan kasih dalam ajaran Tuhan. Ini menunjukan bahwa keluarga adalah tempat utama pembentukan iman dan karakter Kristiani. Karena itu, sebagai keluarga Kristen, relasi orang tua dan anak perlu terus dibangun dan dipulihkan. Anak belajar menghormati orang tua, sementara orang tua dipanggil untuk menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan. Dengan kasih, kesabaran, dan komunikasi yang baik, keluarga dapat menjadi tempat bertumbuh bersama dalam iman dan menghadirkan kasih Tuhan secara nyata.

Doa: Tuhan, mampukan dan pulihkan keluarga kami.  Amin.   

Rabu, 29 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 13 : 1 – 3 (TB2)

Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan teguran. 2 Dari buah mulutnya seseorang akan makan yang baik, tetapi nafsu seorang pengkhianat melakukan kekerasan. 3 Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang gegabah mulutnya, akan ditimpa kebinasaan.

Jangan Gegabah Mengucapkan Sesuatu

Dahulu orang mengenal pepatah “mulutmu harimaumu” dan “lidah lebih tajam dari pedang” untuk menggambarkan betapa berbahayanya perkataan. Di era digital saat ini, kenyataan itu semakin luas. Bukan hanya ucapan langsung, tetapi juga tulisan di media sosial dapat melukai, memfitnah, bahkan menghancurkan orang lain. Jari-jari kita kini menjadi “lidah baru” yang dapat dipakai untuk menyebarkan kebaikan ataupun kebencian. Banyak orang mudah menulis komentar kasar atau menyebarkan berita tanpa memikirkan dampaknya bagi sesama. Amsal 13:1-3 mengajarkan bahwa hikmat terlihat dari kesediaan menerima didikan dan kemampuan mengendalikan perkataan. Orang bijak mau mendengar teguran, belajar memperbaiki diri, dan berbicara dengan hati-hati sehingga mendatangkan damai dan kebaikan. Sebaliknya, orang yang keras hati dan gegabah dalam berkata-kata justru membawa dirinya pada masalah dan kehancuran. Karena itu, sebagai orang percaya kita dipanggil untuk bijaksana dalam menggunakan kata-kata, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Jangan mudah terpancing emosi atau menyebarkan hal yang melukai orang lain. Gunakan perkataan dan tulisan untuk menguatkan, menghibur, dan membangun sesama agar hidup kita menjadi berkat dan teladan.

Doa: Tuhan, tolong kami agar bijaksana dalam berbicara, Amin.   

Kamis, 30 Juli 2026

bahan bacaan : Mazmur 119 : 37 (TB2)

37 Palingkanlah mataku dari hal yang sia-sia, buatlah aku hidup di jalanMu!

Tuhan Jauhkan Mata dari Dosa Dunia

Di zaman sekarang kita mudah melihat berbagai hal yang menarik bukan saja di lingkungan sekitar, tetapi juga lebih luas melalui media sosial yang mudah diakses. Tanpa disadari apa yang kita lihat dapat memicu rasa iri, ketidakpuasan, bahkan keinginan akan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam bacaan kita, Pemazmur tidak saja menyadari hal itu, tetapi ia juga berdoa agar Tuhan memalingkan matanya dari hal-hal yang sia-sia. Ini menunjukkan bahwa menjaga pandangan bukan sekadar usaha manusia, melainkan membutuhkan pertolongan Tuhan. Tanpa doa kita mudah jatuh; tetapi dengan doa, Tuhan menolong kita mengarahkan pandangan kepada kebenaran hidup. Hari ini kita diajak bukan saja menjadi bijak dalam melihat, tetapi juga setia berdoa, meminta Tuhan menjaga mata dan hati kita setiap hari agar kita tidak memandang hal-hal keliru dan jahat. Saat kita mengandalkan Tuhan, Ia sanggup menuntun pandangan mata kita agar tetap berjalan di jalan-jalan-Nya.

Doa: Tuhan, arahkan mataku pada jalan-Mu. Amin.   

Jumat, 31 Juli 2026

bahan bacaan : Mazmur 101 : 3 – 4 (TB2)

3 Mataku tidak ingin melihat perbuatan lalim; perbuatan yang menyeleweng aku benci, aku tidak mendambakannya. 4 Hati yang serong kubuang jauh-jauh, aku tidak mau kenal kejahatan.

Pandangan Salah Menyesatkan Hidup

Setiap hari, tanpa disadari, kita menghabiskan waktu menatap layar gawai dan menyerap berbagai informasi silih berganti. Tidak semua yang kita lihat membangun, namun perlahan apa yang terus-menerus kita pandang termasuk hal-hal yang negatif dapat mempengaruhi cara berpikir bahkan sikap hidup kita. Firman Tuhan di dalam Mazmur, 101:3-4, menggambarkan Pemazmur menyadari bahwa apa yang dilihat dapat masuk ke dalam hati dan membentuk hidup. Karena itu, ia memilih untuk menolak dan bahkan membenci hal yang menyimpang. Ia juga menunjukan komitmen yang tegas untuk menjauhkan diri dari hati yang bengkok dan tidak mau mengenal kejahatan. Kita diajarkan untuk memiliki komitmen menjaga hati dan pikiran melalui apa yang kita lihat. Kita perlu bersikap tegas terhadap diri sendiri, bahwa tidak semua yang menarik pantas diikuti atau dinikmati. Lebih dari itu, kita diajak dengan sadar menata batin, menjauh dari kecenderungan menyesatkan, serta tidak memberi ruang bagi hal-hal yang dapat menyeret kita ke dalam kejahatan. Disiplin dan menjaga pandangan menjadi wujud kesetiaan kepada Tuhan, sebab dari situlah hati dipelihara dan hidup diarahkan kepada kebenaran-Nya.

Doa: Tuhan, jauhkan kami dari pandangan salah yang menyesatkan hidup,. Amin.

Sabtu, 01 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 12 : 18 (TB2)

18 Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.

Lidah Orang Bijak Mendatangkan Kesembuhan

Amsal 12:18 mengingatkan bahwa ada ucapan yang seperti tikaman pedang tajam, melukai hati dan meninggalkan luka mendalam. Di era digital saat ini, perkataan tidak hanya disampaikan secara langsung, tetapi juga melalui tulisan di media sosial. Cyberbullying, komentar kasar, berita bohong, dan ujaran kebencian sering menghancurkan hubungan serta melukai mental banyak orang, terutama anak-anak dan remaja. Selain itu, penggunaan gadget yang berlebihan membuat komunikasi dalam keluarga menjadi dingin dan berkurang. Banyak anggota keluarga lebih sibuk dengan layar daripada berbicara dari hati ke hati. Firman Tuhan mengajarkan bahwa “lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” Karena itu, keluarga harus menjadi tempat pertama di mana anak-anak mendengar kata-kata yang menguatkan, bukan menghakimi atau merendahkan. Anak perlu diajarkan menggunakan media digital dengan bijaksana: tahu kapan berbicara, kapan diam, serta memahami apa yang layak dibagikan dan apa yang harus dijaga sebagai privasi. Tantangan era digital memang semakin besar, tetapi keluarga yang dibangun di atas firman Tuhan akan menjadi kuat. Gereja juga dipanggil untuk terus mendampingi keluarga agar tetap menjadi terang di dunia nyata maupun dunia maya melalui perkataan dan tindakan yang membawa damai serta kesembuhan bagi sesama.

Doa: Tuhan, kiranya lidahku mendatangkan kekuatan dan kesembuhan bagi sesama. Amin.  

SUMBER : SHK BULAN JULI -AGUSTUS 2026, LPJ-GPM