Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa

Minggu, 16 Agustus 2026

bahan bacaan : Yeremia 29 : 1 – 23 (TB2)

Surat kepada orang buangan di Babel
Beginilah isi surat yang dikirim nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua yang tersisa di antara orang buangan, kepada para imam, kepada para nabi dan seluruh rakyat yang telah diangkut ke pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 2 Hal ini terjadi sesudah raja Yekhonya bersama ibu suri, pembesar-pembesar istana, pemuka-pemuka Yehuda dan Yerusalem, tukang dan pandai besi keluar dari Yerusalem. 3 Surat itu dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus ke Babel oleh Zedekia, raja Yehuda, kepada Nebukadnezar, raja Babel. Bunyinya: 4 "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang Kuangkut ke pembuangan dari Yerusalem ke Babel: 5 Dirikanlah rumah dan tempatilah; buatlah kebun dan nikmatilah hasilnya; 6 Ambillah isteri dan perolehlah anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, bertambah banyaklah dan jangan berkurang! 7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. 8 Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di antara kamu dan oleh para penenungmu. Jangan dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! 9 Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. 10 Sungguh beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku melawat kamu. Aku akan menepati janji-Ku yang indah kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. 11 Sebab, Aku mengetahui rancangan-rancangan yang Kupikirkan mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan malapetaka, untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan. 12 Ketika kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, Aku akan mendengarkan kamu; 13 ketika kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; ketika kamu mencari Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan berkenan kamu temukan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat asal dari mana Aku telah membuang kamu. 15 Katamu: TUHAN telah membangkitkan nabi-nabi bagi kami di Babel. 16 Sungguh, beginilah firman TUHAN tentang raja yang duduk di atas takhta Daud dan tentang seluruh rakyat yang tinggal di kota ini, saudara-saudaramu yang tidak keluar bersamamu ke pembuangan: 17 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku akan mengirim pedang, kelaparan dan sampar ke tengah-tengah mereka. Aku akan membuat mereka seperti buah ara yang busuk sedemikian jeleknya, sehingga tidak dapat dimakan. 18 Aku akan mengejar mereka dengan pedang, kelaparan dan sampar, Aku akan membuat mereka menjadi momok bagi semua kerajaan di bumi, menjadi sumpah, sumber kengerian, sasaran ejekan, dan aib di antara segala bangsa ke mana mereka Kucerai-beraikan, 19 Sebab mereka tidak mendengarkan perkataan-Ku, demikianlah firman TUHAN, yang telah Kusampaikan kepada mereka terus-menerus dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi; tetapi kamu tidak mendengarkannya, demikianlah firman TUHAN. 20 Dengarkanlah firman TUHAN, hai kamu semua orang buangan, yang telah Kukirim dari Yerusalem ke Babel! 21 Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, tentang Ahab bin Kolaya dan Zedekia bin Ma'aseya, yang bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku: Sesungguhnya Aku akan menyerahkan mereka ke dalam tangan Nebukadnezar, raja Babel, yang akan membunuh mereka di depan matamu sendiri, 22 Dari pengalamn mereka itulah akan dikenal suatu ungkapan kutuk di antara semua orang buangan dari Yehuda yang ada di Babel, demikian: Biarlah TUHAN memperlakukan kamu seperti Zedekia dan Ahab yang telah dipanggang oleh raja negeri Babel di dalam api!, 23 oleh karena mereka telah melakukan kebebalan di Israel, telah berzina dengan isteri sesama mereka dan telah mengucapkan perkataan dusta yang tidak Kuperintahkan kepada mereka. Aku sendirilah yang mengetahui dan menyaksikannya, demikianlah firman TUHAN."

Gereja Tekun Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa

Kita bersyukur atas anugerah dan kasih Allah dalam Kristus yang nyata dalam seluruh perjalanan hidup sebagai orang percaya. Sekalipun ada banyak tantangan dan persoalan hidup yang menantang kita, namun kasih sayang Tuhan tidak pernah berubah. Hal ini yang disaksikan dalam bacaan firman Tuhan di hari ini sebagai pengalaman iman bangsa pilihan Tuhan Israel saat mereka harus di buang ke Babel. Pembuangan Babel sebagai cara Tuhan untuk mendidik mereka karena ketidaktaatan kepada Tuhan. Selama tujuh puluh tahun masa pembuangan itu, mereka diperintahkan untuk tetap bekerja dan beraktivitas dengan mendoakan tempat dimana mereka membangun hidup dan masa depan. Seperti itupun tanggung jawab iman kita sebagai orang percaya, ketika menjalani hari-hari hidup di tengah kehidupan bangsa Indonesia tercinta yang akan mensyukuri HUT kemerdekaannya di besok hari. Kehadiran kita sebagai orang percaya, kiranya menjadi garam dan terang untuk menggarami dan menerangi kehidupan bangsa ini dengan seluruh tugas dan tanggung jawab yang kita lakukan dengan baik.

Doa: Tuhan, mampukan dan kuatkan kami untuk menjadi berkat dalam tanggung jawab sebagai warga bangsa yang baik. Amin.  

Senin, 17 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 22 : 15 –  22 (TB2)

Tentang membayar pajak kepada Kaisar
15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dalam perkataan-Nya. 16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut terhadap penipuan orang, sebab Engkau tidak mencari muka. 17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" 18 Namun, Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. 20 Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan nama siapakah ini?" 21 Jawab mereka: "Gambar dan nama Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah milik Kaisar kepada Kaisar dan milik Allah kepada Allah." 22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Membayar Pajak Tepat Waktu Menopang Pembangunan Bangsa

Hari ini merupakan sukacita bagi kita dalam merayakan HUT kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia tercinta yang ke 81 tahun. Cita-cita dan kerinduan kita adalah menikmati kemakmuran bagi semua warga bangsa. Salah satu penunjangnya adalah soal uang yang berkaitan dengan membayar pajak. Nas bacaan di hari ini, Tuhan Yesus menegaskan tentang tanggung jawab dapat kita lakukan dengan baik sebagai warga bangsa dengan membayar pajak. Memang kondisi bangsa saat ini, maraknya aksi korupsi terhadap keuangan negara yang merupakan hasil pajak dari masyarakat berdampak buruk sehingga   kemakmuran masyarakat seakan sebuah mimpi saja. Namun kita harus mendoakan para pemimpin bangsa ini, teristimewa anak-anak Tuhan yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dengan jabatan dan kuasa yang dianugerahi Tuhan agar dapat melakukannya dengan baik. Sebagai masyarakat, kitapun tetap mewujudkan kewajiban dengan baik dalam membayar pajak. Sekalipun apa yang kita harapkan belum sesuai dengan kenyataan, namun panggilan kita untuk menyuarakan suara kenabian dalam upaya penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme tetap dilakukan dengan penuh iman kepada Allah dalam Kristus yang mengasihi dan memberkati bangsa ini. Sehingga hasil pajak dapat digunakan dengan baik demi kemakmuran negara dan bangsa.          

Doa: Ya Tuhan bijaksanakan kami untuk mewujudkan kewajiban sebagai warga bangsa dengan membayar pajak. Amin  

Selasa, 18 Agustus 2026

bahan bacaan : Nehemia 2 : 11 – 20 (TB2)

Tekad untuk membangun kembali tembok Yerusalem
11 Lalu aku tiba di Yerusalem. Sesudah tiga hari di sana, 12 aku bangun pada malam hari bersama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak memberitahukan kepada siapapun rencana yang diberikan Allahku dalam hatiku untuk kulakukan bagi Yerusalem. Bahkan tidak seekor binatang pun bersamaku selain yang kutunggangi. 13 Pada malam hari itu aku keluar melalui Pintu Gerbang Lembah, ke jurusan mata air Ular Naga dan pintu gerbang Sampah. Aku menyelidiki dengan saksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api. 14 Lalu aku meneruskan perjalananku ke pintu gerbang Mata Air dan ke kolam Raja. Karena binatang yang kutunggangi tidak dapat melewati tempat itu, 15 aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki dengan saksama tembok itu. Kemudian aku kembali dan masuk melalui pintu gerbang Lembah. Demikianlah aku pulang. 16 Para penguasa tidak tahu ke mana aku pergi dan apa yang telah kulakukan, karena sampai kini aku belum memberitahukan apa pun kepada orang Yahudi, baik kepada para imam, para pemuka, para penguasa maupun para petugas lainnya. 17 Lalu aku berkata kepada mereka: "Kamu melihat kemalangan yang kita alami: Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela." 18 Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa baiknya tangan Allahku yang melindungi aku dan apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka, "Kami siap untuk membangun!" Lalu dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. 19 Mendengar hal itu Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mengolok-olok dan menghina kami. Kata mereka: "Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak terhadap raja?" 20 Aku menjawab mereka, kataku: "Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!"

Siap Terlibat dalam Pembangunan Bangsa

Kecintaan Nehemia kepada bangsanya Israel membuatnya untuk meninggalkan kenyamanannya di istana raja dengan pekerjaan sebagai juru minum raja. Hal ini dilakukan oleh Nehemia sebab ia mendengar tentang kondisi bangsanya dimana kota Yerusalem telah hancur tembok-temboknya. Nehemia sedih dan bertekad untuk memperbaikinya. Dengan mendapat mandat sebagai bupati, Nehemia langsung bergerak untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab membangun kembali tembok Yerusalem yang hancur. Disaksikan dalam nas alkitab, Nehemia melakukannya dengan bergumul serta berserah dan bergantung kepada Tuhan. Pentingnya campur tangan Tuhan yang melayakkan dan memampukannya Nehemia dalam tugas dan tanggung jawabnya. Sebuah teladan bagi kita, dimana rasa kecintaan pada bangsa ini, maka semua tugas dan tanggungjawab yang kita lakukan, hendaknya selalu meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan. Sehingga semuanya itu akan berhasil dan berguna untuk semua orang serta demi kemuliaan nama Tuhan.

Doa: Terima kasih Tuhan yang menjadi kekuatan bagi kami untuk menghadapi tantangan dalam hidup ini.  Amin  

Rabu, 19 Agustus 2026

bahan bacaan : Roma 13 : 1 – 7 (TB2)

Kepatuhan kepada pemerintah
Tiap-tiap orang harus tunduk kepada para penguasa yang di atasnya, sebab tidak ada penguasa, yang tidak berasal dari Allah; para penguasa yang ada, ditetapkan oleh Allah. 2 Sebab itu siapa melawan penguasa, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melawan, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. 3 Sebab orang yang berbuat baik, tidak usah takut kepada pemimpin, kecuali orang yang berbuat jahat. Maukah engkau hidup tanpa takut terhadap pemimpin? Perbuatlah apa yang baik dan engkau akan beroleh pujian darinya. 4 Karena ia adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Namun jika engkau berbuat jahat, takutlah kepadanya, karena tidak percuma ia menyandang pedang. Ia adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 5 Sebab itu perlu kita tunduk, bukan saja karena murka Allah, tetapi juga oleh karena hati nurani kita. 6 Itulah juga sebabnya kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7 Bayarlah kepada semua orang apa yang wajib kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Taat dan Hormat kepada Pemerintah

Sebuah keluarga sederhana tetap setia menaati aturan, meskipun mereka belum langsung merasakan manfaatnya. Mereka tetap tertib, taat, dan menjalankan kewajiban sebagai warga. Ketika akhirnya perubahan terjadi dan keadaan menjadi lebih baik, mereka menyadari bahwa ketaatan mereka turut mendukung kebaikan bersama. Dari situlah mereka belajar bahwa menghormati pemerintah adalah bagian dari iman kepada Tuhan. Roma 13:1–7 mengajarkan bahwa pemerintah adalah hamba Allah yang dipakai untuk menjaga ketertiban dan keadilan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk tunduk dan menghormati pemerintah. Sikap ini bukan berarti selalu setuju dengan semua kebijakan, tetapi tetap hidup taat, menjaga sikap hormat, dan tidak melawan aturan yang berlaku. Dalam keluarga, orang tua memiliki peran penting untuk menjadi teladan. Melalui sikap taat, anak-anak belajar bahwa iman kepada Tuhan juga diwujudkan dalam tanggung jawab sebagai warga negara. Dengan hidup taat dan hormat, kita ikut ambil bagian dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa.

Doa:  Ajar kami untuk hidup taat dan hormat kepada pemerintah, Amin.

Kamis, 20 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 5 : 13 – 16 (TB2)

Garam dunia dan terang dunia
13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin disembunyikan. 15 Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga memberi terang kepada semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Menjadi Garam dan Terang bagi Sesama

Yesus menyebut kita garam dan terang dunia. Garam memberi rasa dan mencegah kebusukan, sementara terang mengusir kegelapan. Ini bukan sekadar identitas, tetapi panggilan hidup, khususnya bagi kita di tengah pembangunan bangsa. Sebagai garam, kita dipanggil menghadirkan nilai kejujuran, kerja keras, dan kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman seperti korupsi, ketidakadilan, dan sikap tidak peduli, kita harus menjadi pribadi yang menjaga moralitas dan membawa perubahan nyata dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Sebagai terang, kita terpanggil menjadi teladan. Terang tidak bersembunyi, tetapi bersinar agar orang lain melihat perbuatan baik dan memuliakan Allah. Dalam konteks bangsa, kita dapat terlibat aktif dalam pendidikan, pelayanan sosial, serta menjaga persatuan dan kerukunan antar sesama. Melalui kehidupan sehari-hari di rumah, keluarga menjadi tempat pertama untuk belajar menjadi garam dan terang. Saling mendukung, hidup dalam kasih, serta membangun kebiasaan baik akan membentuk karakter yang berdampak luas. Kiranya setiap keluarga gereja setia menjalankan panggilan ini, sehingga melalui hidup kita, kesejahteraan dan keadilan bangsa semakin nyata, dan nama Tuhan dimuliakan.

Doa:  ya Tuhan mampukan untuk menjadi garam dan terang bagi sesama. Amin

Jumat, 21 Agustus 2026

bahan bacaan : Ezra 7 : 21 – 26 (TB2)

21 Aku, raja Artahsasta, telah mengeluarkan perintah kepada semua bendahara di daerah seberang sungai Efrat: segala yang diminta darimu oleh imam Ezra, ahli Taurat Allah semesta langit, haruslah dilaksanakan secara seksama, 22 dengan memakai perak sampai seratus talenta, gandum sampai seratus kor, anggur sampai seratus bat, minyak sampai seratus bat, dan garam tidak terbatas. 23 Segala sesuatu yang berdasarkan perintah Allah semesta langit, harus dilaksanakan dengan tekun untuk Rumah Allah semesta langit, supaya pemerintahan raja serta anak-anaknya jangan tertimpa murka. 24 Kami memberitahukan pula kepadamu, bahwa tidaklah sah bila para imam, orang Lewi, penyanyi, penjaga pintu gerbang, pelayan atau hamba lainnya di Rumah Allah dikenakan pajak, upeti atau bea. 25 Engkau, Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka mengadili seluruh rakyat yang tinggal di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kauajari. 26 Setiap orang, yang tidak melakukan hukum Allahmu dan hukum raja, harus dihukum sepantasnya, baik dengan hukuman mati, maupun dengan pengasingan, baik dengan hukuman denda atau hukuman penjara."

Pemimpin Berhikmat, Bangsa Sejahtera

Hikmat dari Tuhan bukan hanya menerangi pikiran, tetapi menuntun langkah menuju damai sejahtera.” Bacaan Kitab Ezra 7:21-26 menunjukkan bagaimana Raja Artahsasta memberi wewenang kepada Ezra untuk mengatur kehidupan umat berdasarkan hukum Allah. Di sini kita melihat bahwa ketika seorang pemimpin berjalan dalam hikmat Tuhan, keputusan yang diambil bukan hanya adil, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Hikmat Allah memampukan seorang pemimpin bertindak benar, tidak memihak, dan berani menegakkan keadilan. Ezra tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan bangsa. Inilah yang menjadi dasar kesejahteraan sejati bukan sekadar materi, tetapi kehidupan yang tertib, adil, dan berkenan kepada Tuhan. Sebagai keluarga Kristen, kita juga dipanggil menjadi “pemimpin kecil” dalam lingkup kita: di rumah, pekerjaan, dan masyarakat. Ketekunan dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa dimulai dari sikap hidup yang takut akan Tuhan dan penuh hikmat dalam setiap keputusan. Mari kita hidup dalam hikmat Allah, sehingga melalui kehidupan kita, keadilan ditegakkan dan kesejahteraan bangsa semakin nyata.

Doa: Tuhan berikanlah kami hikmat kepada para pemimpin bangsa kami, Amin .

Sabtu, 22 Agustus 2026

bahan bacaan : Ezra 7 : 27 – 28a (TB2)

Ezra Memuji Tuhan
27 Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang sudah menggerakkan hati raja sedemikian rupa, sehingga ia membuat indah Rumah TUHAN di Yerusalem, 28 dan Ia membuat aku diperkenan oleh raja dan penasihat-penasihatnya serta semua pembesar raja yang berkuasa!

Tangan Tuhan Turut Bekerja

Seorang guru di desa terpencil tetap mengajar dengan setia meski fasilitas terbatas. Ia percaya usahanya akan berdampak bagi masa depan. Bertahun-tahun kemudian, murid-muridnya menjadi orang-orang yang membawa perubahan bagi masyarakat. Dalam Ezra 7:27–28a, Ezra memulai dengan pujian kepada Tuhan yang telah menggerakkan hati raja untuk mendukung umat Israel. Ia menyadari bahwa semua itu bukan kebetulan, melainkan karya Tuhan yang berdaulat atas hati manusia dan perjalanan sebuah bangsa. Kesadaran ini memberi Ezra keberanian. Ia percaya tangan Tuhan menyertainya, sehingga ia bertindak mengumpulkan para pemimpin dan membangun kembali kehidupan umat. Iman yang sejati tidak berhenti pada rasa syukur, tetapi mendorong tindakan nyata demi kesejahteraan bersama. Sebagai gereja masa kini, kita dipanggil untuk tekun mengusahakan kesejahteraan bangsa. Tuhan dapat memakai setiap peran kecil kita melalui doa, pelayanan, dan hidup yang benar untuk membawa perubahan. Ketekunan dan kesetiaan kita hari ini bisa menjadi berkat besar di masa depan.

Doa:  Tuhan, jadikan kami alat-Mu untuk membawa kesejahteraan bagi bangsa kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 09 – 15 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Menegakkan Hak Asasi Manusia

Minggu, 09 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 22 : 34 – 40 (TB2)

Hukum yang terutama
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 "Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. 39 Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Mengasihi Allah dan Sesama Dengan Menegakkan HAM

Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa kasih adalah dasar hidup orang percaya. Kasih bukan hanya perasaan baik, tetapi tindakan nyata untuk menghargai, melindungi, dan memperlakukan sesama sebagai ciptaan Allah yang mulia. Mengasihi sesama berarti ikut menjaga kehidupan, keadilan, kebenaran, dan martabat manusia. Dalam sebuah keluarga, ada seorang anak yang sering dimarahi karena nilainya kurang baik. Lama-kelamaan anak itu menjadi takut berbicara dan merasa tidak berharga. Suatu hari, orang tuanya sadar bahwa mendidik bukan berarti merendahkan. Mereka mulai mendengar, mendampingi, dan memberi semangat. Anak itu pun perlahan menjadi lebih percaya diri. Ilustrasi ini mengingatkan kita bahwa kasih bukan hanya memberi makan atau memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kasih juga berarti menjaga martabat, perasaan, dan hak setiap anggota keluarga untuk dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan adil. Keluarga juga dipanggil menjadi tempat pertama untuk belajar menghargai hak asasi manusia. Di rumah, anak-anak belajar bahwa setiap orang: orang miskin, orang sakit, orang berbeda suku, agama, pendapat, atau keadaan hidup tetap harus dihormati sebagai sesama manusia.

Doa: Ya Tuhan, Jauhkan kami dari sikap semena-mena, tidak adil, dan merendahkan sesama. Amin. 

Senin, 10 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat 19 : 13 – 14 (TB2)

13 Janganlah engkau memeras sesamamu dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang buruh upahan sampai besok hari. 14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta jangan kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

Jangan Semena-Mena Kepada Sesama!

Imamat 19 berisi perintah Tuhan kepada umat Israel agar hidup kudus dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Perintah di ayat 13-14 menunjukkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan cara manusia memperlakukan sesamanya, terutama mereka yang lemah, tidak berdaya, atau mudah dirugikan. Tuhan tidak hanya melihat ibadah umat-Nya, tetapi juga melihat kejujuran, keadilan, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan penting dalam nas ini: “engkau harus takut akan Allahmu.” Artinya, manusia tidak boleh bertindak semena-mena hanya karena merasa lebih kuat, lebih berkuasa, atau karena orang lain tidak mampu membela diri. Takut akan Tuhan berarti sadar bahwa Tuhan melihat semua perbuatan kita, termasuk perlakuan kita terhadap sesama. Firman Tuhan mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh memperlakukan sesama secara tidak adil. Nasihat yang berulang-ulang dengan menggunakan kata “jangan” karena hati manusia mudah tergoda untuk mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Dalam keluarga, Firman ini mengajak kita untuk saling memperlakukan dengan adil dan penuh kasih. Orang tua tidak boleh memakai kuasa untuk menyakiti hati anak. Anak-anak tidak boleh merendahkan orang tua. Kakak tidak boleh menekan adik hanya karena merasa lebih besar. Suami dan istri juga dipanggil untuk saling menghargai, bukan saling menyakiti.

Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami untuk mengasihi Engkau dan tolonglah kami mengasihi sesama seperti diri kami sendiri.Amin.

Selasa, 11 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 22 : 22 – 23 (TB2)

22 Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin di pintu gerbang. 23 Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka.

Tuhan Membela Orang Lemah

Orang lemah sering jadi sasaran karena mereka tidak punya kekuatan untuk melawan. Misalnya, ada penjual kaki lima di pinggir jalan yang dagangannya dihancurkan atau diambil oleh petugas tanpa membayar, ada anak dari keluarga miskin yang dibully (ditindas) di sekolah, atau seorang nenek yang ditipu dengan modus pura-pura diantar pulang ke rumah, padahal dompetnya dicuri. Dan masih banyak kisah miris lainnya tentang orang lemah yang menjadi korban. Dalam kenyataan tersebut, penulis Kitab Amsal (Salomo) mengingatkan kita, “Jangan merampas orang lemah karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin”.  Bagian ini berisi peringatan Tuhan, agar kita tidak menyalahgunakan kekuasaan terhadap orang yang tidak berdaya. Sebab, meskipun orang lemah tidak mampu melawan, Tuhan sendiri  yang akan memberikan keadilan kepada mereka. Sebaliknya, orang yang menindas tidak akan luput dari penghakiman Tuhan. Ayat ini bukan hanya berisi peringatan, tetapi juga ajakan supaya orang percaya berlaku adil, menolong yang lemah dan menjadi pembela, bukan penindas.

Doa:  Roh Kudus tuntun kami untuk menjadi pembela bagi orang lemah bukan penindas. Amin.

Rabu, 12 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 28 : 3 (TB2)

3 Orang miskin yang menindas orang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.

Jangan Menindas yang Lemah

Hidup ini akan menjadi lebih baik dan indah apabila kita saling menghargai hak hidup. Sebab setiap orang berharga dan layak dihormati serta diperlakukan dengan adil. Namun, dalam Amsal 28:3 diperlihatkan hal yang berbeda, yaitu “Orang miskin menindas orang lemah”. Perikop ini menggambarkan keadaan yang seharusnya tidak terjadi, ketika seseorang yang juga berada dalam kesusahan justru memperlakukan orang yang lebih lemah dengan tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa penindasan tidak hanya dilakukan oleh orang kuat (mereka yang memiliki kuasa, jabatan, kekayaan), tetapi juga dilakukan oleh siapa saja termasuk orang miskin. Hal ini mengingatkan kita bahwa keadaan seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk  berlaku tidak adil dan menindas sesama karena dapat membawa kehancuran. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk hidup dengan kasih, keadilan dan menghargai sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk hidup tidak menindas sesama Amin.  

Kamis, 13 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 29 : 5 – 7 (TB2)

5 Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya. 6 Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita. 7 Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya.

Kita Dipanggil Untuk Membela Hak Orang Lemah

Ada kata bijak mengatakan, ”Hak orang lemah adalah tanggung jawab orang yang kuat”. Artinya, orang yang memiliki kuasa, jabatan, dan kedudukan yang lebih tinggi memiliki kewajiban untuk melindungi, menjaga dan memperjuangkan hak orang yang lemah dengan adil bukan untuk menindasnya, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 7, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya”. Orang yang hidup takut akan Tuhan lebih peduli terhadap orang yang lemah (miskin, janda, yatim piatu, orang asing) bahkan mereka membela dan memperjuangkan hak-hak mereka yang lemah, seperti: hak untuk diperlakukan adil, hak untuk mendapat perlindungan, hak untuk dikasihi dan ditolong, hak untuk diperlakukan dengan hormat, dan hak untuk hidup (tidak boleh disakiti atau dibunuh). Sebaliknya orang  fasik (orang jahat) tidak peduli terhadap  orang yang lemah. Ia cenderung egois, tidak mau tahu, bahkan bisa saja menindas sesama. Namun, kita diingatkan bahwa Tuhan menghukum mereka yang hidup tidak adil dan menindas sesamanya.

Doa: Roh Kudus mampukan kami untuk membela hak orang lemah, Amin  

Jumat, 14 Agustus 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 7 : 54 – 60 (TB2)

Stefanus dibunuh -- Saulus hadir
54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. 55 Namun Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. 56 Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." 57 Berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka serentak menyerbu dia. 58 Mereka menghalau dia ke luar kota, dan melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. 59 Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." 60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal.

Tetap Setia, Tetap Mengampuni

Kisah seorang misionaris bersama keluarganya memberitakan injil di suku pedalaman di Afrika. Istri dan anak-anaknya dibunuh oleh kepala suku. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam. Namun, pada suatu hari, anak kepala suku sakit keras hingga hampir meninggal. Misionaris yang memiliki latar belakang medis itu langsung menawarkan diri untuk mengobati anak tersebut. Akhirnya, anak itu sembuh, dan kepala suku beserta semua anggota suku tersebut menjadi percaya serta menganut agama Kristen. Pengalaman pemberitaan injil dari misionaris tersebut, tidak jauh berbeda dengan pengalaman iman Stefanus (martir pertama Gereja Kristen) yang dihukum mati tanpa pengadilan oleh Mahkamah Agama karena ia memberitakan injil kepada banyak orang pada saat itu. Namun, yang terkesan adalah saat menjelang kematiannya ia memberikan pengampunan kepada mereka yang telah menganiayanya. Pesan bagi kita, tetaplah setia kepada Kristus dan tugas pemberitaan injil, sekalipun menghadapi penganiayaan bahkan kematian. Dan belajarlah memberikan pengampunan kepada orang-orang yang menyakiti kita. Jangan merampas hak hidup sesama manusia.

Doa: Tuhan, penuhi kami dengan Roh Kudus supaya kami dapat mengampuni mereka yang menyakiti ,Amin. 

Sabtu, 15 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat  19 : 32 – 34  (TB2)

32 Engkau harus bangkit berdiri di hadapan orang ubanan, menghormati orang yang tua dan takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang pendatang tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Pendatang yang tinggal padamu harus kauperlakukan sama seperti orang Israel asli di antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu dahulu juga pendatang di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

Hormati orang Tua, Jangan Menindas Pendatang atau Orang Asing

Panggilan Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan mesti mewujudkan sikap mengasihi sesama manusia seperti mereka mengasihi diri sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan penghormatan kepada mereka yang lanjut usia, tidak menindas para pendatang atau orang asing dengan memperlakukan mereka seperti saudara sendiri. Apa yang dilakukan oleh  menunjukkan ketaatan mereka kepada Tuhan Allah yang selalu mengingatkan Israel pada pengalaman mereka sebagai bangsa pendatang atau orang asing di Mesir. Tindakan demikian merupakan sikap hidup kudus sebagaimana Allah yang kudus, sehingga Israel dipilih untuk melakukannya dalam kehidupan mereka. Demikian pun juga kita sebagai keluarga Allah yang mesti mewujudkan panggilan kita dalam membangun relasi hidup dengan sesama baik dalam persekutuan keluarga, bertentangga, berjemaat maupun bermasyarakat. Menghormati mereka yang dituakan, mengasihi sesama sebagai saudara seperti mengasihi diri kita sendiri. Menolong dan membantu mereka ketika mereka membutuhkan bantuan dan pertolongan. Dengan demikian kita mampu meneladani kasih Allah dalam Kristus yang senantiasa mengasihi kita.

Doa:  Tuhan, kami mohon tuntunanMu bagi kami, agar kami mampu menghormati dan mengasihi sesama kami.  Amin   

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026

Santapan Harian Keluarga, 02 – 08 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Menegakkan Keadilan Publik

Minggu, 02 Agustus 2026

bahan bacaan : 1 Raja-raja 3 : 16 – 28 (TB2)

Hikmat Salomo dalam memberi keputusan
16 Suatu ketika dua orang pelacur datang kepada raja, dan berdiri di hadapannya. 17 Salah seorang perempuan itu berkata: "Ya tuanku! aku dan perempuan ini tinggal serumah. Aku melahirkan anak pada waktu dia ada di rumah. 18 Tiga hari setelah aku melahirkan, perempuan inipun melahirkan. Hanya kami saja, tidak ada orang luar bersama kami dalam rumah. Hanya kami berdua di rumah. 19 Anak dari perempuan ini meninggal pada waktu malam, karena tertindih olehnya. 20 Pada tengah malam ia bangun dan mengambil anakku dari sampingku, sementara hambamu ini masih tidur. Ia membaringkan anakku di dadanya, sedangkan anaknya yang mati itu dibaringkannya di dadaku. 21 Ketika aku bangun di pagi hari untuk menyusui anakku, ternyata anak itu sudah meninggal. Tetapi ketika aku melihatnya dengan teliti pagi itu, nyatalah bukan dia anak yang kulahirkan." 22 Kata perempuan yang lain: "Tidak! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati." Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: "Tidak! anakmulah yang mati, anakkulah yang hidup." Begitulah mereka bertengkar di hadapan raja. 23 Lalu raja berkata: "Yang seorang mengatakan: Anakkulah yang hidup ini, anakmulah yang mati. Sedangkan yang lain mengatakan: Anakmulah yang mati, anakkulah yang hidup." 24 Sesudah itu raja berkata: "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke hadapan raja. 25 Kata raja: "Potonglah anak yang hidup itu menjadi dua. Berikanlah setengah kepada yang satu dan setengah lagi kepada yang lain." 26 Perempuan yang mempunyai anak yang hidup itu memohon kepada raja, sebab hatinya tergetar oleh rasa sayang kepada anaknya itu, katanya: "Mohon tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan membunuhnya." Tetapi yang lain berkata: "Tidak untukku, tidak juga untukmu, potonglah dia!" 27 Tetapi raja menjawab, "Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu. Jangan sekali-kali membunuh dia; Perempuan itulah ibunya." 28 Mendengar keputusan yang diberikan raja, seluruh orang Israel pun menyegani raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Tekun Menegakkan Keadilan Publik

Ketekunan dalam menegakkan keadilan berarti memberi ruang bagi setiap orang untuk memperoleh hak yang sama tanpa memandang latar belakangnya. Kisah Salomo dalam memutuskan perkara dua perempuan menunjukkan bahwa keadilan tidak selalu mudah ditegakkan. Tanpa saksi mata dan bukti yang jelas, Salomo membutuhkan hikmat dan ketajaman nurani untuk menemukan kebenaran. Perintahnya untuk “membelah anak itu” bukan tindakan kejam, melainkan cara bijaksana untuk membuka kebenaran yang tersembunyi. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa ketidakadilan sering bersembunyi di balik kata-kata dan manipulasi. Karena itu, menegakkan keadilan membutuhkan ketekunan, keberanian, dan hikmat Tuhan agar tidak hanya melihat apa yang tampak di permukaan.  Tujuan utama keadilan bukan sekadar menghukum yang salah, tetapi melindungi yang lemah dan memulihkan kehidupan. Dalam kehidupan saat ini, keadilan sering dipahami hanya sebagai pembalasan. Namun firman Tuhan mengajarkan keadilan yang memulihkan dan membawa kesejahteraan bersama. Karena itu, setiap keluarga, gereja, dan pendidik dipanggil untuk terus menanamkan iman, karakter, serta nilai moral kepada generasi muda.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk tekun menegakkan keadilan, Amin.  

Senin, 03 Agustus 2026

bahan bacaan : Mazmur 82 : 1 – 8 (TB2)

Allah dalam sidang ilahi
Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam sidang surgawi, di antara para illah Ia menghakimi: 2 "Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Sela 3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan berkekurangan! 4 Luputkanlah orang yang lemah dan miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!" 5 Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. 6 Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah illah-illah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. -- 7 Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti setiap penguasa kamu akan jatuh." 8 Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa.

Berilah Keadilan bagi yang Lemah

Mazmur ini menyebut orang lemah, anak yatim, orang sengsara, dan orang miskin sebagai mereka yang harus dibela dan diperhatikan. Keadilan sejati tidak diukur dari cara kita memperlakukan orang yang berkuasa, tetapi dari sikap kita terhadap mereka yang tidak mampu memberi keuntungan bagi kita. Pemazmur mengingatkan bahwa ketika keadilan diabaikan, “dasar bumi goyang.” Artinya, ketidakadilan bukan hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan kehidupan masyarakat. Bangsa dan komunitas yang tidak adil akan menjadi rapuh dan kehilangan damai. Pada akhirnya, setiap orang akan berdiri di hadapan Allah, Hakim yang adil dan kekal. Karena itu, kita dipanggil untuk tetap tekun menegakkan keadilan dan tidak menyerah pada sistem yang salah atau sikap tidak peduli. Kita harus berani menyuarakan kebenaran, membela yang tertindas, dan peduli kepada sesama di sekitar kita. Setiap tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan, baik di rumah, pekerjaan, maupun pelayanan, akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Saat kita menegakkan keadilan, kita sedang memancarkan kasih dan karakter Allah di tengah dunia.

Doa: Tuhan, beri kami keberanian bersuara dan peduli bagi mereka yang diabaikan, Amin. 

Selasa, 04 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat 19 : 15 – 16 (TB2)

15 Janganlah kamu berbuat curang di pengadilan; jangan memihak orang miskin atau terpengaruh oleh orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran. 16 Janganlah engkau pergi ke sana kemari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

Tegakkan Hukum dengan Adil

Dalam kehidupan bersama, godaan untuk “pilih kasih” selalu ada. Firman Tuhan mengajarkan agar kita berdiri teguh di atas kebenaran tanpa memandang siapa yang sedang kita hadapi. Salah satu bentuk ketidakadilan adalah menyebarkan fitnah dan kabar bohong. Ketika seseorang menyebarkan berita yang belum tentu benar atau memutarbalikkan fakta, ia sedang menghakimi sesama secara tidak adil dan melukai kehidupan orang lain. Lidah yang tidak terjaga dapat menghancurkan karakter dan hubungan antar sesama.Firman Tuhan menegaskan bahwa setiap tindakan keadilan harus mencerminkan karakter Allah sendiri. Kalimat “Akulah TUHAN” menjadi pengingat bahwa Tuhan adalah Hakim yang Maha Tahu, tidak dapat disuap, dan tidak dapat dikelabui. Karena itu, bertindak adil bukan hanya untuk menjaga keteraturan sosial, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan penghormatan kepada Tuhan. Melalui firman ini, kita diajak untuk memeriksa diri: apakah keputusan yang kita ambil masih dipengaruhi rasa sungkan, kepentingan pribadi, atau belas kasihan yang salah tempat? Apakah perkataan kita membangun dan membawa damai, atau justru menyebarkan hal yang menyakiti sesama? Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pembawa kebenaran, menjaga integritas, dan menghadirkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Doa: Tuhan berikanlah kami keberanian menegakkan hukum secara aadil, Amin

Rabu, 05 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 24 : 17 – 18 (TB2)

17 Janganlah engkau memperkosa hak pendatang dan anak yatim; Juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda sebagai gadai. 18 Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini.

Janganlah Membengkokkan Hak Hidup Orang Lemah

Teks bacaan hari ini menyebut tiga golongan yang paling lemah secara hukum dan ekonomi, yaitu orang asing, anak yatim, dan janda. Tuhan melarang umat-Nya membengkokkan hak mereka, sebab tindakan itu berarti memakai kekuasaan untuk merampas hak hidup dan martabat sesama. Larangan mengambil pakaian janda sebagai gadai menunjukkan kepedulian Tuhan terhadap kebutuhan dasar orang kecil yang harus dilindungi. Tuhan juga mengingatkan Israel bahwa mereka pernah hidup sebagai budak di Mesir, tertindas dan tidak memiliki pembela. Karena itu, mereka dipanggil untuk berlaku adil sebagai wujud syukur atas pertolongan Tuhan yang telah membebaskan mereka. Keadilan lahir dari hati yang mengingat kasih dan anugerah Tuhan. Dalam kehidupan saat ini, membengkokkan hak orang lemah dapat terjadi melalui banyak cara, seperti menahan upah pekerja, menyalahgunakan jabatan, menindas bawahan, atau bersikap acuh terhadap ketidakadilan sosial. Firman Tuhan mengajak kita untuk peduli dan berani membela mereka yang lemah. Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi saluran kasih Tuhan dengan menjaga keadilan, menghormati martabat manusia, dan menolong mereka yang membutuhkan perlindungan.

Doa: ya, Tuhan, kiranya kami tidak menjadi buta terhadap penderitaan sesama, Amin. 

Kamis, 06 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 23 : 23-24 (TB2)

23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari min, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta kamu telan.

Ibadah Yang Melahirkan Keadilan

Yesus memakai gambaran yang tajam dalam menegur para Ahli Taurat dan Orang Farisi. Ia berkata kepada mereka “nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta kamu telan”. Artinya, mereka sangat sibuk memperhatikan hal kecil, tetapi melupakan perkara besar yang lebih penting di hadapan Allah. Teguran Yesus bukan berarti ibadah ritual tidak penting. Yesus tidak menolak persepuluhan atau praktik keagamaan. Namun, Yesus menegaskan bahwa ibadah yang benar tidak boleh berhenti pada aturan lahiriah saja. Ibadah harus tampak dalam cara hidup, terutama dalam memperlakukan orang lain dengan adil, penuh kasih, dan setia kepada kehendak Allah. Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin, baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat, tidak cukup hanya terlihat rajin beribadah. Pemimpin yang berkenan kepada Allah adalah pemimpin yang mampu memberlakukan nilai ibadah dalam kehidupan nyata. Dalam keluarga, seorang ayah, ibu, atau orang yang dituakan tidak hanya dipanggil untuk mengajak keluarga berdoa, membaca Alkitab, dan beribadah. Lebih dari itu, ia juga dipanggil untuk menghadirkan keadilan di rumah. Ia tidak pilih kasih, tidak keras tanpa alasan, mau mendengar, menghargai setiap anggota keluarga, dan memperlakukan semua orang dengan kasih.

Doa: Ya Tuhan, arahkanlah kami untuk  beribadah dengan setia dan menyatakannya dalam tindakan yang adil dan penuh kasih. Amin..

Jumat, 07 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 16 : 18 – 20 (TB2)

Pengadilan yang benar
18 Hakim-hakim dan pengawas-pengawas haruslah kauangkat di semua kota yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu. Mereka harus mengadili bangsa itu dengan keputusan yang benar. 19 Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu. Jangan pula menerima suap, sebab suap membutakan mata orang bijaksana dan memutarbalikkan perkara orang yang benar. 20 Keadilan, hanya keadilanlah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu."

Keadilan yang Harus Dikejar

Bagian yang penting dalam nas hari ini terdapat dalam ayat 20: “Keadilan, hanya keadilanlah yang harus kaukejar…” Perintah ini menunjukkan bahwa keadilan bukan hanya sekadar nilai yang baik, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Tuhan menghubungkan keadilan dengan kehidupan dan berkat atas tanah atau negeri yang diberikan-Nya kepada umat-Nya. Artinya, kehidupan yang diberkati Tuhan tidak dapat dipisahkan dari cara hidup yang adil. Firman Tuhan mengajarkan bahwa keadilan harus dimulai dari hati yang takut akan Tuhan. Orang yang adil tidak memperlakukan orang lain berdasarkan suka atau tidak suka, dekat atau jauh, kuat atau lemah, kaya atau miskin. Keadilan berarti berani berkata benar, mengambil keputusan yang benar, dan memperlakukan semua orang dengan layak di hadapan Tuhan. Keadilan juga harus dikejar. Ini berarti keadilan tidak selalu datang dengan mudah. Kadang-kadang kita harus melawan keegoisan, kebiasaan pilih kasih, kemarahan, atau keinginan untuk menguntungkan diri sendiri. Sebab Tuhan menghendaki agar umat-Nya mengejar keadilan, karena dari situlah kehidupan yang benar, damai, dan diberkati dapat bertumbuh.

Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami untuk mencari Engkau setiap hari. mengerti keadilan, berani melakukan yang benar, dan tidak membenarkan yang salah. Amin.

Sabtu, 08 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 28 : 4 – 5 (TB2)

4 Orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik, tetapi orang yang berpegang pada hukum menentangnya. 5 Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari TUHAN mengerti segala sesuatu.

Orang Yang Mencari Tuhan Mengerti Keadilan

Nas hari ini mengajarkan bahwa sikap seseorang terhadap Firman Tuhan akan memengaruhi cara ia melihat benar dan salah. Bila seseorang menjauh dari hukum Tuhan, ia bisa menjadi tumpul terhadap kejahatan, bahkan membenarkan hal yang salah. Sebaliknya, orang yang berpegang pada firman Tuhan akan berani menolak kejahatan. Ayat 5 menegaskan bahwa orang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari Tuhan mengerti segala sesuatu. Artinya, pengertian tentang keadilan bukan hanya soal kecerdasan atau pengalaman, tetapi lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan. Dalam sebuah keluarga, ada dua anak yang bertengkar karena berebut sesuatu. Orang tua bisa saja langsung membela anak yang lebih kecil karena dianggap lemah, atau membela anak yang lebih disayang. Tetapi orang tua yang hidup dalam takut akan Tuhan akan berusaha mendengar keduanya dengan adil. Ia tidak hanya mencari siapa yang menangis paling keras, tetapi mencari apa yang benar.

Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami untuk hidup dalam keadilan. Jauhkan kami dari sikap pilih kasih, egois, dan tidak jujur. Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 Juli – 1 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Mendidik Keluarga Menghadapi Dampak Negatif Era Digital

Minggu, 26 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Yohanes 2 : 7 – 17 (TB2)

Perintah yang baru
7 Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang kami miliki sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. 8 Namun, kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. 9 Siapa yang berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia ada di dalam kegelapan sampai sekarang. 10 Siapa yang mengasihi saudaranya, ia tetap tinggal di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. 11 Namun siapa yang membenci saudaranya, ia ada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. 12 Aku menulis kepada kamu, anak-anak ku, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. 13 Aku menulis kepada kamu, bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. 14 Aku menulis kepada kamu, anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. 15 Janganlah mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 17 Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Filter Hidup Yang Ideal di Era Digital

Perkembangan teknologi selalu membuka ruang bagi hadirnya nilai-nilai baru dalam realita yang terjadi. Hal ini seringkali mengarahkan kita untuk harus memiliki pijakan baru dalam mengontrol sikap hidup dan perilaku? Hal ini menarik, sebab ternyata dalam upaya beradaptasi dengan nilai-nilai kekinian, kita tidak harus merumuskan pijakan baru. Firman Tuhan masih tetap menjadi pegangan yang relevan dengan realita hidup kekinian. Nilia-nilai kasih yang diajarkan melalui Firman Tuhan sesungguhnya telah teruji untuk mengontrol sikap hidup orang percaya disetiap zaman. Oleh sebab itu Yohanes menegaskan bahwa perintah untuk mengasihi bukanlah hal baru, melainkan ajaran dasar yang telah ada sejak awal. Namun, ini menjadi “baru” dalam Kristus karena kasih-Nya memampukan kita untuk mengasihi sesama secara nyata, bahkan berkorban. Hidup dalam terang berarti mengasihi saudara; sebaliknya, membenci saudara berarti berjalan dalam kegelapan. Kasih sejati tidak membuat orang lain tersandung. Kasih menolong kita untuk menekan hasrat duniawi dan mengutamakan kehendak Allah dalam segala sikap dan perilaku. Dunia boleh terus berubah seiring perkembangan zaman. Namun kasih dan kehendak Allah tetap menjadi pijakan yang ideal bagi setiap orang yang menginginkan damai sejahtera Allah senantiasa dinyatakan disepanjang sejarah hidup manusia.

Doa: Tuhan, tuntun kami untuk tetap berpegang pada   kehendak firmanMu, Amin

Senin, 27 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 22 : 26 – 27 (TB2)

26 Jangan engkau termasuk di antara orang yang membuat persetujuan, dan yang menjadi penanggung utang. 27 Jika engkau tidak mempunyai apa-apa untuk membayar kembali, orang akan mengambil tempat tidurmu dari bawahmu.

Jangan Berhutang dan Jadi Penanggung Hutang

FOMO atau Fear of Missing Out merupakan fenomena psikologis yang semakin marak di kehidupan serba modern seperti sekarang ini. FOMO menggambarkan ketakutan melewatkan momen, pengalaman, atau aktivitas yang sedang terjadi atau populer di lingkungannya. Hal ini menyebabkan orang sering terjerumus dalam pola hidup konsumtif. Seseorang dengan pola hidup kosumtif memiliki kecenderungan untuk membeli barang atau jasa melebihi kemampuan diri, bukan karena kebutuhan, tetapi untuk terlihat “cukup” atau mengikuti tren. Menurut sosiolog Jean Baudrillard, nilai suatu barang tidak lagi berdasarkan fungsinya. Sebaliknya, barang tersebut menjadi simbol status. Kecenderungan ini menjadi penyebab utama tingginya perilaku berhutang atau menanggung hutang. Amsal 22 : 26-27 melarang keras tindakan gegabah menjadi penjamin utang (menanggung utang orang lain). Hal ini didasarkan pada risiko tinggi yang dapat menghancurkan stabilitas finansial seseorang juga konsekuensi tragis di mana hal paling dasar dalam hidup pun bisa hilang akibat menanggung utang yang bukan miliknya. Hikmat Tuhan mengarahkan kita untuk berhati-hati, memperhitungkan risiko, dan hidup tidak melampaui kemampuan. Tindakan bijak dalam mengelola keuangan adalah wujud ketaatan kepada Tuhan dan membantu menjaga reputasi, yang lebih berharga daripada kekayaan fana.

Doa: Tuhan, tuntun kami untuk bijak dalam mengelola berkatMu, Amin

Selasa, 28 Juli 2026

bahan bacaan : Efesus 6 : 1 – 4 (TB2)

Taat dan kasih
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena demikianlah yang benar. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 4 Hai bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Mendidik Anak-Anak Untuk Hidup dalam Ajaran Tuhan

Keluarga Kristen masa kini menghadapi tantangan besar dalam relasi antara orang tua   dan anak. Perbedaan generasi, pengaruh teknologi, dan kesibukan hidup sering kali membuat hubungan menjadi renggang. Anak merasa tidak dimengerti, sementara orang tua merasa tidak dihormati, sehingga komunikasi dalam keluarga pun semakin terbatas.  Firman Tuhan dalam Efesus 6:1-4 mengajarkan tentang keseimbangan relasi antara orang tua dan anak. Anak dipanggil untuk taat dan menghormati orang tua sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Di sisi lain, orang tua juga diingatkan untuk tidak membangkitkan amarah anak, melainkan mendidik dengan kasih dalam ajaran Tuhan. Ini menunjukan bahwa keluarga adalah tempat utama pembentukan iman dan karakter Kristiani. Karena itu, sebagai keluarga Kristen, relasi orang tua dan anak perlu terus dibangun dan dipulihkan. Anak belajar menghormati orang tua, sementara orang tua dipanggil untuk menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan. Dengan kasih, kesabaran, dan komunikasi yang baik, keluarga dapat menjadi tempat bertumbuh bersama dalam iman dan menghadirkan kasih Tuhan secara nyata.

Doa: Tuhan, mampukan dan pulihkan keluarga kami.  Amin.   

Rabu, 29 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 13 : 1 – 3 (TB2)

Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan teguran. 2 Dari buah mulutnya seseorang akan makan yang baik, tetapi nafsu seorang pengkhianat melakukan kekerasan. 3 Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang gegabah mulutnya, akan ditimpa kebinasaan.

Jangan Gegabah Mengucapkan Sesuatu

Dahulu orang mengenal pepatah “mulutmu harimaumu” dan “lidah lebih tajam dari pedang” untuk menggambarkan betapa berbahayanya perkataan. Di era digital saat ini, kenyataan itu semakin luas. Bukan hanya ucapan langsung, tetapi juga tulisan di media sosial dapat melukai, memfitnah, bahkan menghancurkan orang lain. Jari-jari kita kini menjadi “lidah baru” yang dapat dipakai untuk menyebarkan kebaikan ataupun kebencian. Banyak orang mudah menulis komentar kasar atau menyebarkan berita tanpa memikirkan dampaknya bagi sesama. Amsal 13:1-3 mengajarkan bahwa hikmat terlihat dari kesediaan menerima didikan dan kemampuan mengendalikan perkataan. Orang bijak mau mendengar teguran, belajar memperbaiki diri, dan berbicara dengan hati-hati sehingga mendatangkan damai dan kebaikan. Sebaliknya, orang yang keras hati dan gegabah dalam berkata-kata justru membawa dirinya pada masalah dan kehancuran. Karena itu, sebagai orang percaya kita dipanggil untuk bijaksana dalam menggunakan kata-kata, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Jangan mudah terpancing emosi atau menyebarkan hal yang melukai orang lain. Gunakan perkataan dan tulisan untuk menguatkan, menghibur, dan membangun sesama agar hidup kita menjadi berkat dan teladan.

Doa: Tuhan, tolong kami agar bijaksana dalam berbicara, Amin.   

Kamis, 30 Juli 2026

bahan bacaan : Mazmur 119 : 37 (TB2)

37 Palingkanlah mataku dari hal yang sia-sia, buatlah aku hidup di jalanMu!

Tuhan Jauhkan Mata dari Dosa Dunia

Di zaman sekarang kita mudah melihat berbagai hal yang menarik bukan saja di lingkungan sekitar, tetapi juga lebih luas melalui media sosial yang mudah diakses. Tanpa disadari apa yang kita lihat dapat memicu rasa iri, ketidakpuasan, bahkan keinginan akan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam bacaan kita, Pemazmur tidak saja menyadari hal itu, tetapi ia juga berdoa agar Tuhan memalingkan matanya dari hal-hal yang sia-sia. Ini menunjukkan bahwa menjaga pandangan bukan sekadar usaha manusia, melainkan membutuhkan pertolongan Tuhan. Tanpa doa kita mudah jatuh; tetapi dengan doa, Tuhan menolong kita mengarahkan pandangan kepada kebenaran hidup. Hari ini kita diajak bukan saja menjadi bijak dalam melihat, tetapi juga setia berdoa, meminta Tuhan menjaga mata dan hati kita setiap hari agar kita tidak memandang hal-hal keliru dan jahat. Saat kita mengandalkan Tuhan, Ia sanggup menuntun pandangan mata kita agar tetap berjalan di jalan-jalan-Nya.

Doa: Tuhan, arahkan mataku pada jalan-Mu. Amin.   

Jumat, 31 Juli 2026

bahan bacaan : Mazmur 101 : 3 – 4 (TB2)

3 Mataku tidak ingin melihat perbuatan lalim; perbuatan yang menyeleweng aku benci, aku tidak mendambakannya. 4 Hati yang serong kubuang jauh-jauh, aku tidak mau kenal kejahatan.

Pandangan Salah Menyesatkan Hidup

Setiap hari, tanpa disadari, kita menghabiskan waktu menatap layar gawai dan menyerap berbagai informasi silih berganti. Tidak semua yang kita lihat membangun, namun perlahan apa yang terus-menerus kita pandang termasuk hal-hal yang negatif dapat mempengaruhi cara berpikir bahkan sikap hidup kita. Firman Tuhan di dalam Mazmur, 101:3-4, menggambarkan Pemazmur menyadari bahwa apa yang dilihat dapat masuk ke dalam hati dan membentuk hidup. Karena itu, ia memilih untuk menolak dan bahkan membenci hal yang menyimpang. Ia juga menunjukan komitmen yang tegas untuk menjauhkan diri dari hati yang bengkok dan tidak mau mengenal kejahatan. Kita diajarkan untuk memiliki komitmen menjaga hati dan pikiran melalui apa yang kita lihat. Kita perlu bersikap tegas terhadap diri sendiri, bahwa tidak semua yang menarik pantas diikuti atau dinikmati. Lebih dari itu, kita diajak dengan sadar menata batin, menjauh dari kecenderungan menyesatkan, serta tidak memberi ruang bagi hal-hal yang dapat menyeret kita ke dalam kejahatan. Disiplin dan menjaga pandangan menjadi wujud kesetiaan kepada Tuhan, sebab dari situlah hati dipelihara dan hidup diarahkan kepada kebenaran-Nya.

Doa: Tuhan, jauhkan kami dari pandangan salah yang menyesatkan hidup,. Amin.

Sabtu, 01 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 12 : 18 (TB2)

18 Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.

Lidah Orang Bijak Mendatangkan Kesembuhan

Amsal 12:18 mengingatkan bahwa ada ucapan yang seperti tikaman pedang tajam, melukai hati dan meninggalkan luka mendalam. Di era digital saat ini, perkataan tidak hanya disampaikan secara langsung, tetapi juga melalui tulisan di media sosial. Cyberbullying, komentar kasar, berita bohong, dan ujaran kebencian sering menghancurkan hubungan serta melukai mental banyak orang, terutama anak-anak dan remaja. Selain itu, penggunaan gadget yang berlebihan membuat komunikasi dalam keluarga menjadi dingin dan berkurang. Banyak anggota keluarga lebih sibuk dengan layar daripada berbicara dari hati ke hati. Firman Tuhan mengajarkan bahwa “lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” Karena itu, keluarga harus menjadi tempat pertama di mana anak-anak mendengar kata-kata yang menguatkan, bukan menghakimi atau merendahkan. Anak perlu diajarkan menggunakan media digital dengan bijaksana: tahu kapan berbicara, kapan diam, serta memahami apa yang layak dibagikan dan apa yang harus dijaga sebagai privasi. Tantangan era digital memang semakin besar, tetapi keluarga yang dibangun di atas firman Tuhan akan menjadi kuat. Gereja juga dipanggil untuk terus mendampingi keluarga agar tetap menjadi terang di dunia nyata maupun dunia maya melalui perkataan dan tindakan yang membawa damai serta kesembuhan bagi sesama.

Doa: Tuhan, kiranya lidahku mendatangkan kekuatan dan kesembuhan bagi sesama. Amin.  

SUMBER : SHK BULAN JULI -AGUSTUS 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 Juli 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Mendidik Keluarga Untuk Menjadi  Berkat Bagi Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026

bahan bacaan : Kejadian 24 : 22 – 49 (TB2)

22 Setelah unta-unta itu selesai minum, orang itu mengambil anting-anting emas seberat setengah syikal sepasang gelang tangan seberat sepuluh syikal emas, 23 serta berkata: "Anak siapakah engkau? Tolong katakan kepadaku! Adakah tempat bermalam bagi kami di rumah ayahmu?" 24 Ia menjawab kepadanya: "Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor." 25 Kata gadis itu lagi: "Baik jerami, maupun pakan ternak ada banyak pada kami, tempat bermalampun ada." 26 Lalu orang itu berlutut dan sujud menyembah TUHAN, 27 serta berkata: "Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak melepaskan kasih-Nya dan kesetiaan-Nya dari tuanku itu; akupun telah TUHAN tutun di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!" 28 Anak gadis itu berlari lalu menceritakan kejadian itu kepada seisi rumah ibunya. 29 Ribka mempunyai saudara laki-laki, bernama Laban. Laban berlari ke luar menemui orang itu, ke mata air tadi, 30 sesudah ia melihat anting-anting itu dan gelang pada tangan saudaranya, dan mendengar Ribka, saudaranya, berkata: "Begitulah dikatakan orang itu kepadaku." Ia menemui orang itu, yang masih berdiri di samping unta-untanya dekat mata air itu, 31 Ia berkata: "Marilah engkau yang diberkati TUHAN, mengapa engkau berdiri di luar, aku telah menyediakan rumah bagimu, dan juga tempat untuk unta-untamu." 32 Lalu orang itu masuk ke dalam rumah. Pelana unta-unta dilepas, jerami dan pakan diberikan kepada unta-unta itu, dan air pembasuh kaki kepada orang itu serta orang-orang yang bersama dengan dia. 33 Tetapi ketika makanan dihidangkan di depannya, berkatalah orang itu: "Aku tidak akan makan sebelum kusampaikan pesan yang kubawa ini." Jawab Laban: "Katakan!" 34 Lalu ia berkata: "Aku ini hamba Abraham. 35 TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai. 36 Sara, isteri tuanku itu, dimasa tuanya, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu tuanku telah memberikan segala harta miliknya. 37 Tuanku itu telah mengambil sumpahku, katanya: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan orang Kanaan, yang negerinya kudiami ini, 38 melainkan engkau harus pergi ke rumah ayahku dan kepada kaumku untuk mengambil seorang isteri bagi anakku. 39 Jawabku kepada tuanku itu: Mungkin perempuan itu tidak mau mengikut aku. 40 Tetapi katanya kepadaku: TUHAN, yang di hadapan-Nya aku hidup, akan mengutus malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang isteri dari kaumku dan dari rumah ayahku. 41 Engkau hanya dapat terlepas dari sumpahmu kepadaku, jika engkau sampai kepada kaumku dan mereka tidak memberikan perempuan itu kepadamu; hanya dalam hal itulah engkau terlepas dari sumpahmu kepadaku. 42 Hari ini aku sampai ke mata air tadi, dan aku berkata, TUHAN, Allah tuanku Abraham, jika Engkau berkenan membuat perjalanan yang kutempuh ini berhasil. 43 lihatlah aku berdiri di dekat mata air ini; kiranya terjadi begini: Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari kendimu itu, 44 dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta-untamu pun akan kutimba air, maka dialah isteri, yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu. 45 Sebelum aku selesai berkata dalam hatiku, Ribka datang membawa kendi di atas bahunya, dan turun ke mata air itu, lalu menimba air. Kataku kepadanya: Tolong berikan aku minum. 46 Ia segera menurunkan kendi itu dari atas bahunya serta berkata: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum. Lalu aku minum, dan unta-unta itu juga diberinya minum. 47 Sesudah itu aku bertanya kepadanya: Anak siapakah engkau? Jawabnya: Aku anak Betuel bin Nahor. Betuel itu dilahirkan Milka bagi Nahor. Lalu aku mengenakan anting-anting pada hidungnya dan gelang pada tangannya. 48 Kemudian aku berlutut dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya. 49 Sekarang, jika kamu mau menunjukkan kasih dan setia kepada tuanku itu, beritahukanlah kepadaku; Jika tidak, beritahukanlah juga kepadaku, supaya aku berpaling entah ke kanan atau ke kiri."

Berkat yang Meluap dari Rumah

Teks Kejadian 24:22-49 memberi sebuah kebenaran penting: karakter hebat tidak jatuh dari langit, melainkan dibentuk dalam keluarga. Secara teologis, tindakan Ribka memberi minum sepuluh unta adalah iman yang bekerja. Memberi minum satu orang itu biasa, tapi memberi minum sepuluh unta yang haus butuh ketulusan dan kerja keras luar biasa. Ini membuktikan bahwa di rumahnya, Ribka sudah dididik untuk peduli pada sesama tanpa pilih-pilih.Rumah adalah “laboratorium” kebaikan. Jika sebuah keluarga hanya sibuk mengurus kenyamanan sendiri, mereka akan gagal secara spiritual. Ribka dipilih Tuhan menjadi bagian dari sejarah besar karena ia sudah terbiasa menjadi berkat dalam hal-hal kecil di kesehariannya.Oleh sebab itu, gereja harus sadar bahwa keberhasilan aslinya bukan dilihat dari penuhnya bangku ibadah, melainkan dari seberapa berdampaknya keluarga-keluarga di lingkungan setelah mereka selesai beribadah. Karenanya, orangtua yang beriman tidak hanya mewariskan harta, tapi juga mewariskan karakter melayani. Jangan biarkan keluarga menjadi kelompok yang eksklusif atau tertutup tetapi rumah tangga harus menjadi saluran berkat yang meluap hingga ke tetangga dan masyarakat. Saat rumah menjadi sekolah kasih, maka dunia akan melihat kemuliaan Tuhan secara nyata.

Doa: Tuhan, Biarlah bersama denganMu, berkat itu terus meluap dari rumah kami, amin  

Senin, 20 Juli 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 10 : 1 – 8 (TB2)

Petrus dan Kornelius
Di Kaisarea ada seorang laki-laki yang bernama Kornelius, seorang perwira dari batalion yang disebut batalion Italia. 2 Ia saleh, ia beserta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. 3 Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, ia melihat dengan seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!" 4 Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. 5 Sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk memanggil seorang bernama Simon yang disebut juga Petrus. 6 Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit bernama Simon, yang tinggal di tepi laut." 7 Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia, dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari orang-orang yang selalu bersama dia. 8 Sesudah ia menjelaskan segala sesuatu kepada mereka, ia menyuruh mereka ke Yope.

Keluarga: Dari Doa Menjadi Aksi Nyata

Kisah Kornelius menunjukkan bahwa iman sejati tidak hanya disimpan di dalam hati, tetapi harus nyata melalui doa dan tindakan kasih kepada sesama. Kornelius bukan hanya seorang yang takut akan Tuhan secara pribadi, tetapi ia juga mengajak seluruh keluarganya hidup dalam iman. Mereka tekun berdoa dan rela menolong orang-orang yang membutuhkan. Doa serta kebaikan yang mereka lakukan menjadi persembahan yang berkenan di hadapan Allah. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa keluarga adalah tempat pertama untuk bertumbuh dalam kasih dan kepedulian. Ketika keluarga rajin berdoa bersama, hati setiap anggota keluarga akan semakin peka melihat kesulitan orang lain. Iman yang benar tidak membuat seseorang hidup egois atau menutup diri, melainkan mendorong untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Karena itu, gereja dipanggil untuk terus mendampingi dan membimbing keluarga agar hidup dalam doa, kasih, dan semangat berbagi. Orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan anak-anak untuk peduli, menolong, dan hidup takut akan Tuhan sejak dini. Iman tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja saja, tetapi harus nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk mengasihimu secara nyata melalui sesama, amin  

Selasa, 21 Juli 2026

bahan bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9 (TB2)

Panggilan Abram 
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang mereka kumpulkan serta orang-orang yang mereka peroleh di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di sana. 6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, ke pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan tinggal di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Lalu disitu ia mendirikan mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian dari situ ia pindah ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya di antara Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu di situ ia mendirikan mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan berjalan terus ke Tanah Negeb.

Berani Keluar Untuk Berbagi Berkat

Cerita Abraham dalam dalam teks ini bukan sekadar cerita tentang pindah rumah, melainkan tentang ketaatan yang berbuah berkat. Tuhan memberkati Abraham bukan agar ia menikmatinya sendirian, melainkan supaya ia menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Tuhan memanggilnya keluar dari zona nyaman untuk membawa dampak positif bagi dunia. Di setiap tempat perhentiannya, Abraham membangun mezbah sebagai tanda ketaatan keluarganya kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa keluarga yang dekat dengan Tuhan pasti memiliki hati yang terbuka bagi orang lain. Keluarga kita saat ini memiliki panggilan yang sama persis dengan Abraham. Kita tidak diberkati Tuhan hanya supaya hidup berkecukupan atau sukses secara pribadi. Keberadaan rumah tangga kita di sebuah lingkungan harus menjadi jawaban atas masalah yang ada di sekitar kita. Jika keluarga kita hanya sibuk dengan urusan sendiri, kita kehilangan makna sebagai pengikut Tuhan. Setiap keluarga mesti sadar bahwa keluarga adalah utusan Tuhan di tengah masyarakat. Jangan biarkan keluarga kita menjadi tertutup atau tidak mau tahu urusan orang lain. Mari kita sadari bahwa setiap keluarga dipanggil untuk menjadi saluran berkat yang nyata bagi lingkungan. Saat kita berani berbagi, kasih Tuhan akan dirasakan oleh semua orang.

Doa: dalam Nama Yesus, keluarga kami siap menjadi  berkat bagi dunia, amin 

Rabu, 22 Juli 2026

bahan bacaan : Ester 4 : 1 – 17 (TB2)

Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi
Setelah mengetahui semua yang terjadi itu, Mordekhai mengoyak pakaiannya, serta memakai kain kabung dan abu, kemudian ia keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil menangis dengan nyaring dan pedih. 2 Ia pergi hanya sampai di depan pintu gerbang istana raja, karena tidak seorangpun boleh memasuki pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di setiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; banyak orang membentangkan kain kabung dengan abu sebagai alas tempat tidurnya. 4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, sangat risaulah hati sang ratu, ia mengirim pakaian, supaya dikenakan pada Mordekhai dan supaya kain kabung ditanggal darinya, tetapi ia tidak menerimanya. 5 Ester lalu memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan untuk melayani dia. Ester memberi perintah kepadanya untuk menemui Mordekhai dan menanyakan apa arti dan sebab hal itu. 6 Lalu keluarlah Hatah menemui Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 7 Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman untuk ditimbang bagi perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 8 Salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka, ia serahkan kepada Hatah untuk diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Hatah juga disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon kasih karunianya dan membela bangsanya di hadapan baginda. 9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester. 10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam tanpa dipanggil, berlaku satu undang-undang, orang itu harus hukuman mati. Hanya orang yang diberi uluran tongkat emas oleh raja akan tetap hidup. Padahal selama tiga puluh hari ini aku tidak dipanggil menghadap raja." 12 Ketika perkataan Ester disampaikan kepada Mordekhai, 13 Mordekhai menyampaikan jawaban ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di istana raja, hanya engkau dari antara semua orang Yahudi yang akan terluput. 14 Sebab, jika engkau berdiam diri saja pada saat ini, pertolongan dan kelepasan bagi orang Yahudi akan muncul dari pihak lain, tetapi engkau dan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." 15 Lalu Ester menyampaikan jawaban ini kepada Mordekhai: 16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang ada di Susan dan berpuasalah untuk aku; jangan makan dan minum selama tiga hari, siang dan malam. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, kemudian aku akan masuk menghadap raja, meskipun berlawanan dengan undang-undang; kalau aku harus mati, biarlah aku mati." 17 Mordekhai lalu pergi dan melakukan sama seperti yang dipesan Ester kepadanya.

Keluarga : Penopang di Tengah Krisis

Keselamatan sebuah bangsa sering kali dimulai dari keberanian satu keluarga kecil, inilah inti dari teks Ester 4:1-17. Artinya bahwa Tuhan tidak pernah menempatkan kita di suatu posisi secara kebetulan. Mordekhai menyadarkan Ester bahwa kenyamanan di istana bukanlah untuk dinikmati sendiri, melainkan alat untuk menolong sesama yang sedang di ujung tanduk. Ester kemudian mengajak seluruh umat untuk bersatu dalam doa dan puasa. Ini menunjukkan bahwa krisis yang berat hanya bisa dihadapi jika kita mau melepas ego dan berjuang bersama sebagai satu keluarga besar. Kadang, di masa sulit, banyak orang cenderung menutup pintu rumah rapat-rapat karena takut ikut susah. Namun, belajar dari Ester dan Mordekhai, krisis seharusnya membuat kita semakin erat dalam kerja sama. Setiap keluarga terpanggil agar memiliki mentalitas saling menopang, terutama saat situasi ekonomi atau sosial sedang tidak menentu. Jangan biarkan kesulitan mengubah kita menjadi pribadi yang acuh tak acuh. Mari kita sadari bahwa setiap keluarga adalah benteng pertahanan bagi sesamanya. Berusahalah untuk terus hidup saling menopang di tengah krisis apa pun. Saat kita berani berbagi beban, di situlah harapan dan kasih Tuhan nyata bagi masyarakat.

Doa: Tuhan, jadikanlah keluarga kami penopang hidup bagi sesama, amin 

Kamis, 23 Juli 2026

bahan bacaan : Kejadian 41 : 53 – 57 (TB2)

53 Setelah berakhir ketujuh tahun kelimpahan yang terjadi di tanah Mesir itu, 54 mulailah tujuh tahun kelaparan datang, seperti yang telah dikatakan Yusuf; Di semua negeri terjadi kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. 55 Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, lakukanlah apa yang dikatakannya kepadamu." 56 Kelaparan itu melanda seluruh bumi. Lalu Yusuf membuka semua lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab kelaparan itu semakin dahsyat di tanah Mesir. 57 Dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab kelaparan itu dahsyat di seluruh bumi.

Menjadi Berkat Di Tengah Krisis

Setiap orang menjalani pengalaman hidup yang berbeda, pengalaman itu meninggalkan jejak dalam pembentukan kepribadian. Pengalaman baik dapat membentuk rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman buruk seperti penolakan, kehilangan, atau kegagalan bisa melahirkan ketakutan atau luka emosional. Tidak semua orang merespons pengalaman yang sama dengan cara yang sama. Ada yang tumbuh lebih kuat dari kegagalan, namun ada pula yang menjadi mudah menyerah. Yusuf memaknai berbagai pengalaman pahit yang pernah dialaminya sebagai cara Tuhan untuk membentuknya menjadi pribadi yang lebih berhikmat, setia, dan bertanggung tanggung jawab. Yusuf menunjukkan manajemen yang baik selama masa kelimpahan untuk bersiap menghadapi kelaparan. Yusuf tidak menyia-nyiakan masa kelimpahan. Ia mengaturnya secara bijak untuk menghadapi krisis. Krisis adalah bagian dari kehidupan, melalui Yusuf Tuhan berdaulat dan menyediakan pertolongan di tengah kesukaran. Ia tidak egois, melainkan menggunakan posisinya untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Tekanan, tantangan bahkan krisis mendorong kita untuk hidup berhikmat mengelola sumber daya, bertanggung jawab, dan berbagi di masa sulit, serta mengandalkan Tuhan yang selalu setia memelihara hidup kita.

Doa: Tuhan, bentuk kami untuk menjadi penyalur damai sejahteramu, Amin

Jumat, 24 Juli 2026

bahan bacaan : Yesaya 58 : 6 – 7 (TB2)

6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Memperjuangkan Keadilan dan Kasih

Puasa dalam pandangan Alkitab bukan hanya menghindari atau menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan. Berpuasa merupakan tindakan untuk menaklukan diri sepenuhnya di bawah kehendak Tuhan. Tidak hanya menahan lapar, puasa yang sejati juga terwujud dalam kepedulian untuk melepaskan mereka yang terbelenggu oleh kelaliman, dan memerdekakan mereka yang teraniaya. Puasa bukan sekedar ritual melainkan upaya untuk mewujudkan kasih Allah lewat sikap peduli kepada mereka yang lapar, miskin, dan memberi pakaian pada yang telanjang. Karena Ibadah sejati tercermin melalui tindakan yang penuh belas kasihan. Perbuatan kasih kepada sesama adalah cerminan dari hubungan yang benar dengan Tuhan. Jadilah saluran berkat. Jangan menutup mata terhadap mereka yang berkekurangan atau tertindas di sekitar kita. Tuhan lebih menghargai tindakan kasih daripada sekadar menjalankan sebuah ritual. Memperjuangkan keadilan dan kasih adalah wujud memuliakan Tuhan.

Doa: Tuhan, tuntun kami untuk selalu memperjuangkan keadilan dan mewujudkan kasih, Amin

Sabtu, 25 Juli 2026

bahan bacaan : Yesaya 58 : 10 – 12 (TB2)

10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar makananmu sendiri dan memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memenuhi kebutuhanmu di tanah yang gersang, serta membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti kebun yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12 Reruntuhan yang sudah berabad-abad akan kau bangun lagi, dan dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan akan kau perbaiki. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang bolong", "yang memperbaiki jalan supaya seluruhnya layak huni".

Hidup Berbagi Berkat Dengan Orang Lemah

Ibadah sejati bukan sekadar ritual, melainkan tindakan nyata mengasihi sesama melalui kedermawanan. Saat kita peduli pada yang lapar dan tertindas, Tuhan berjanji menuntun, memulihkan, dan menjadikan hidup kita sumber berkat yang tak pernah kering, seperti taman yang diairi. Kita dipanggil untuk “mencurahkan diri” bagi mereka yang membutuhkan. Ini berarti memberikan perhatian, waktu, dan materi kepada orang lapar dan tertindas. Tindakan ini mengubah “kegelapan” (kesedihan/masalah) kita menjadi terang seperti rembang tengah hari. Ketika kita melakukan kehendak-Nya, Tuhan berjanji akan menuntun kita senantiasa dan tidak meninggalkan kita sendirian. Tuntunannya memberi kepuasan di tengah situasi yang sulit atau “tanah yang kering” juga memberikan energi baru untuk melayani dan menghadapi hidup. Kita diibaratkan seperti “taman yang diairi dengan baik” dan “mata air yang tidak pernah mengecewakan”. Hidup kita tidak hanya diberkati, tetapi juga menjadi saluran berkat bagi orang lain yang tidak pernah kering. Jangan menahan kebaikan, karena saat kita menjadi terang bagi orang lain, Tuhan meneguhkan kehidupan kita.

Doa: Tuhan, jadikan kami terang kasihMu, Amin

SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Juli 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Keluarga

Minggu, 12 Juli 2026

bahan bacaan : Matius 15 : 1 – 9 (TB2)

Perintah Allah dan adat istiadat Yahudi
Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: 2 "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." 3 Jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? 4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus dihukum mati. 5 Namun kamu berkata: Siapa saja yang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah persembahan kepada Allah, 6 orang itu tidak wajib lagi menghormati ayahnya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. 7 Hai orang-orang munafik! tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu: 8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sementara ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Keluarga Butuh Pendampingan Pastoralia

Keluarga atau rumah tangga adalah kekuatan inti dari Gereja. Bayangkan sebuah rumah di mana setiap anggota keluarga saling menguatkan dalam doa, menopang dalam kesulitan, dan mengingatkan untuk tetap setia kepada Tuhan. Rumah itu bukan hanya tempat tinggal, tetapi menjadi “gereja kecil” yang memancarkan kasih Kristus. Namun, kita juga tahu bahwa tidak semua keluarga berada dalam kondisi demikian. Ada keluarga yang retak karena tekanan ekonomi, konflik, atau jarak emosional. Di sinilah gereja terpanggil untuk hadir bukan sekadar sebagai institusi, tetapi sebagai sahabat rohani yang setia. Pendampingan pastoralia hadir sebagai solusi efektif yang tidak hanya berfokus pada aspek psikologis dan sosial, tetapi juga spiritual. Melalui pastoralia tersebut, maka membantu keluarga memperbaiki komunikasi, menyembuhkan luka batin, serta memperkuat kelekatan emosional. Pelayanan pastoralia yang dilakukan secara konsisten dan intensif, mampu meningkatkan keharmonisan keluarga dan mendukung perkembangan holistik anggota keluarga. Dengan demikian, pendampingan pastoralia, merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk membangun keluarga yang kuat, harmonis, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan modern secara sehat dan seimbang.

Doa:  Tuhan, kuatkan kami untuk teru melakukan pastoralia bagi keluarga-keuarga kami. Amin.

Senin, 13 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 24 : 27 – 29 (TB2)

27 Bereskanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu bagimu di ladang; kemudian barulah engkau mendirikan rumahmu. 28 Jangan menjadi saksi terhadap sesamamu tanpa sebab, dan menipu dengan bibirmu. 29 Janganlah berkata: "Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang sesuai dengan perbuatannya."

Jangan Berniat Membalas dan Mendendam

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, kita mengembangkan hubungan satu sama lain. Hubungan terdekat dan terdalam dapat ditemukan dalam keluarga, karena ikatan darah lebih kuat daripada ikatan persahabatan. Namun, seperti yang kita ketahui, tidak ada keluarga yang sempurna, dan meskipun kita menginginkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam keluarga, kita juga harus siap menghadapi cobaan dan kesulitan dalam hubungan keluarga. Sebanyak pertengkaran dan perselisihan di antara anggota keluarga, hal itu harus diimbangi dengan pengertian dan pengampunan. Kita tidak boleh membiarkan kebencian menuntun kita kepada dosa, dan jika ikatan darah lebih kuat daripada ikatan persahabatan, maka jangan sampai ada permusuhan di antara anggota keluarga. Hidup orang basudara harus laeng sayang laeng. Jangan berniat membalas dan mendendam. Sebab menyimpan dendam ibarat meminum racun sambil berharap saudara kita yang mati. Dendam mengikat hati kita pada masa lalu, membuat kita sulit merasakan damai dan sukacita. Sebaliknya, pengampunan adalah kunci pembebasan. Mengampuni bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan orang lain, tetapi melepaskan hak kita untuk membalas, dan menyerahkan penghakiman itu kepada Tuhan yang adil.

Doa. Tuhan bersihkan hati kami sari niat membalas dan mendendam terhadap sesama Amin.

Selasa, 14 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Tesalonika 4 : 1 – 12 (TB2)

Nasihat supaya hidup kudus
Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam kekudusan dan kehormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan merugikan saudaranya atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. 9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tanganmu, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada siapapun.

Keluarga dan Hidup Kudus

Setiap orang tentu mendambakan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Keluarga yang dibangun atas dasar kasih, kesetiaan, dan sukacita. Keluarga yang bukan hanya berkecukupan secara lahiriah, tetapi juga bertumbuh dalam iman kepada Tuhan. Rumah menjadi tempat yang nyaman untuk pulang, tempat anggota keluarga saling mendukung, berdoa, dan hidup dalam kasih. Namun kenyataannya, kehidupan keluarga Kristiani saat ini menghadapi banyak tantangan. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, perkembangan teknologi, serta pengaruh media sosial sering membuat anggota keluarga semakin jauh satu sama lain. Waktu kebersamaan berkurang, doa bersama mulai ditinggalkan, dan perhatian terhadap pendidikan iman anak-anak semakin melemah. Tidak sedikit orang tua kehilangan keteladanan hidup rohani di tengah tekanan kehidupan modern. Akibatnya, banyak keluarga menjadi rapuh dan mudah mengalami konflik. Dalam situasi seperti ini, gereja memiliki peran penting untuk mendampingi keluarga-keluarga jemaat melalui pelayanan pastoralia. Gereja dipanggil menjadi sahabat yang menguatkan, mengajarkan pentingnya menjaga komitmen, saling mendukung, serta menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, marilah kita menjadikan Tuhan sebagai pusat keluarga, hidup sederhana, tekun berdoa, dan saling mengasihi agar keluarga tetap kuat, kudus, dan penuh damai.

Doa:  Tuhan, jadikanlah keluarga kami kudus di hadapanMu. Amin.

Rabu, 15 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 1 – 2 (TB2)

Mengenai saudara-saudara seiman
Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegurlah dia sebagai bapak. Tegurlah orang-orang muda sebagai saudaramu, 2 perempuan-perempuan tua sebagai ibu, dan perempuan-perempuan muda sebagai saudaramu dengan penuh kemurnian.

Relasi Saling Menghargai

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus memberikan panduan tentang cara hidup dalam komunitas iman seperti dalam sebuah keluarga. Gereja bukan sekadar organisasi, melainkan keluarga Allah yang dibangun atas dasar kasih dan hormat. Paulus mengajarkan agar orang yang lebih tua diperlakukan seperti ayah dan ibu, dengan sikap penuh penghargaan dan tanpa perkataan kasar. Sikap ini menunjukkan kedewasaan rohani serta penghormatan terhadap pengalaman hidup mereka. Sementara itu, mereka yang sebaya atau lebih muda harus diperlakukan seperti saudara laki-laki dan perempuan. Prinsip ini mengajarkan kasih persaudaraan, menghilangkan kesombongan, iri hati, dan persaingan di dalam persekutuan. Paulus juga mengingatkan Timotius untuk hidup dengan “penuh kemurnian,” artinya menjaga hati, pikiran, dan motivasi dalam setiap hubungan dengan sesama. Pesan ini menegaskan bahwa kehormatan tidak didasarkan pada jabatan atau kedudukan, melainkan karena kita semua adalah anggota tubuh Kristus. Ketika kita memandang sesama sebagai keluarga dalam Tuhan, maka komunikasi yang penuh kasih, nasihat yang membangun, dan perhatian yang tulus akan tercipta. Dengan demikian, gereja dapat menjadi tempat yang menghadirkan damai, persatuan, dan pertumbuhan iman bagi semua orang.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu saling menghargai. Amin.  

Kamis, 16 Juli 2026

bahan bacaan : Imamat 19 : 1 – 3 (TB2)

Kudusnya hidup
TUHAN berfirman kepada Musa: 2 "Berbicaralah kepada segenap umat Israel dan katakan kepada mereka: Hendaklah kamu kudus, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. 3 Setiap orang di antara kamu haruslah menyegani ibu dan ayahnya serta memelihara hari-hari sabat-Ku; Akulah TUHAN, Allahmu.

 Menghormati Orang Tua

Panggilan untuk hidup kudus bukanlah sekadar saran, melainkan perintah Tuhan yang didasarkan pada karakter-Nya: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Bagi anak muda, kekudusan bukan hanya tentang menjauhi dosa, tetapi juga terlihat dalam sikap hati dan perilaku sehari-hari, terutama di dalam keluarga. Hidup kudus berarti meninggalkan sikap egois dan mulai hidup sesuai nilai-nilai Kerajaan Allah. Dalam teks ini, perintah hidup kudus langsung diikuti dengan ajakan untuk menghormati ayah dan ibu. Hal ini menunjukkan bahwa menghormati orang tua adalah bagian penting dari ibadah kepada Tuhan. Sikap menyegani orang tua mencakup rasa hormat, kepatuhan, perhatian, dan kasih yang tulus. Melalui sikap itulah iman seseorang terlihat nyata, bukan hanya melalui perkataan atau kegiatan di gereja. Bagi generasi muda, melayani dan menghargai orang tua bukan sekadar kewajiban tradisi, tetapi bentuk ketaatan kepada Tuhan.  Kekudusan juga berkaitan dengan hidup yang tertib, seimbang, dan menghargai waktu bersama Tuhan. Anak muda yang menghormati orang tuanya sedang membangun karakter yang kuat dan masa depan yang diberkati. Melalui sikap hormat, kasih, dan pelayanan yang tulus kepada orang tua, seorang anak muda dapat menghadirkan damai dan sukacita di dalam rumah serta menjadi kesaksian hidup bagi orang lain.

Doa: Tuhan, Kuduskanlah hati kami menghormati orang tua. Amin  

Jumat, 17 Juli 2026

bahan bacaan : Imamat 18 : 1 – 5 (TB2)

Kudusnya perkawinan
TUHAN berfirman kepada Musa: 2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu. 3 Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu tinggal dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka. 4 Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu. 5 Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.

Ketaatan dalam Rumah Tangga

Panggilan hidup dalam ketaatan bagi rumah tangga Kristen dimulai dengan kesadaran bahwa keluarga adalah institusi yang dikuduskan oleh Tuhan. Dalam Imamat 18:1-5, Tuhan dengan tegas memperingatkan umat-Nya agar tidak mengikuti kebiasaan bangsa Mesir maupun bangsa Kanaan. Bagi rumah tangga saat ini, pesan ini sangat relevan: keluarga dipanggil untuk berani tampil beda dan tidak berkompromi dengan standar moral dunia yang kian merosot. Ketaatan kepada ketetapan Tuhan bukan bertujuan untuk membatasi kebahagiaan, melainkan untuk memagari pernikahan agar tetap berada dalam perlindungan dan berkat-Nya. Kekudusan perkawinan adalah inti dari perintah Tuhan. Tuhan menekankan bahwa umat-Nya harus memegang teguh hukum-hukum-Nya sebagai panduan hidup. Dalam konteks pastoralia rumahtangga, menjaga kekudusan berarti menjaga kesetiaan dan kemurnian hubungan antara suami dan istri. Kekudusan bukan hanya tentang menjauhi berbagai pelanggaran, tetapi tentang membangun mezbah doa dan kasih yang tulus di dalam rumah, di mana setiap anggota keluarga saling menghargai martabat satu sama lain sebagai citra Allah. Pernikahan yang kudus adalah pernikahan yang menjadikan firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi dalam mengambil setiap keputusan. Ketaatan menjadi napas bagi rumahtangga yang ingin mengalami penyertaan Tuhan secara penuh.

Doa: Tuhan, bantu kami menjadi keluarga yang Taat Amin. 

Sabtu, 18 Juli 2026

bahan bacaan : Lukas 18 : 15 – 17 (TB2)

Yesus memberkati anak-anak
15 Orang-orang membawa juga anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 16 Namun Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. 17 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."

Tanggung Jawab Orang Tua

Teks ini menunjukkan perbedaan sikap antara para murid yang menghalangi anak-anak dan Yesus yang justru menyambut mereka dengan penuh kasih. Dalam kehidupan keluarga, pesan ini menjadi panggilan bagi orang tua untuk menjadi jembatan, bukan penghalang, bagi pertumbuhan iman anak-anak. Kesibukan dan berbagai tuntutan hidup sering membuat orang tua lalai membimbing anak mengenal Tuhan. Padahal, tugas utama orang tua adalah menghadirkan kasih Kristus melalui teladan hidup, doa, dan pengajaran di rumah. Membawa anak kepada Tuhan berarti menyadari bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dibimbing dalam iman. Yesus berkata bahwa orang-orang seperti anak kecillah yang empunya Kerajaan Allah. Karena itu, orang tua tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membangun kehidupan rohani mereka. Saat orang tua mengajarkan doa, firman Tuhan, dan kasih dalam keluarga, mereka sedang menanam dasar iman yang kuat bagi masa depan anak-anak. Yesus juga mengajarkan bahwa orang dewasa perlu belajar dari ketulusan dan kepercayaan seorang anak kecil kepada Tuhan. Melalui pelayanan dan perhatian kepada anak-anak, orang tua bukan hanya membentuk iman anak, tetapi juga mengalami pertumbuhan rohani dalam hidup mereka sendiri.

Doa: Tuhan, bantu kami menjadi orang tua yang bertanggung jawab, Amin.  

SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Juli 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Melakukan Pastoral Interpersonal

Minggu, 5 Juli 2026

bahan bacaan : Yohanes 6 : 25 – 40 (TB2)

Roti hidup
25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, kapan Engkau tiba di sini?" 26 Yesus menjawab mereka: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang dimeteraikan Allah Bapa." 28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" 29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." 30 Sebab itu, kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? 31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." 32 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. 33 Sebab roti yang dari Allah ialah yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." 34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." 35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. 36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. 37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. 38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. 39 Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku Aku tidak kehilangan satupun, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. 40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Roti Hidup

Roti adalah makanan pokok yang penting bagi kehidupan manusia. Dalam Alkitab, roti menjadi tanda pemeliharaan Tuhan bagi umat-Nya. Roti dipersiapkan bagi mereka yang melakukan perjalanan jauh dan juga diberikan kepada orang asing sebagai bentuk kepedulian dan penerimaan. Namun ketika umat tidak taat, Tuhan memperingatkan bahwa persediaan roti dapat diambil sebagai hukuman atas dosa mereka. Dalam tradisi umat Tuhan, roti juga memiliki makna rohani yang mendalam. Gulungan Naskah Laut Mati mencatat kebiasaan makan roti dan minum anggur bersama sebagai tanda persekutuan. Hal ini diteruskan oleh para pengikut Tuhan Yesus yang percaya bahwa Yesus adalah Roti Hidup yang turun dari sorga untuk memberi hidup kepada manusia. Karena itu, dalam Perjamuan Kudus, roti melambangkan tubuh Kristus yang dipecahkan dan anggur melambangkan darah-Nya yang tercurah demi keselamatan kita. Kasih Tuhan yang besar itu patut disyukuri melalui iman dan kehidupan yang diperbarui. Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam pengharapan serta menyatakan kasih kepada sesama. Iman kepada Kristus harus nyata melalui tindakan kasih, kepedulian, dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hidup kita dibentuk oleh kasih Tuhan untuk menjadi “roti hidup” yang membawa kekuatan, penghiburan, dan berkat bagi sesama yang membutuhkan.

 Doa: Tuhan, kuatkan hati kami di tengah badai. Amin.

Senin, 6 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Samuel 30 : 1 – 6 (TB2)

Pembalasan Daud kepada orang Amalek
Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag; Mereka mengalahkan Ziklag dan membumihanguskannya. 2 Mereka menawan perempuan-perempuan dan semua orang di sana, tua dan muda, tanpa membunuh seorangpun; melainkan menggiringnya sambil meneruskan perjalanan mereka. 3 Daud bersama orang-orangnya sampai ke kota itu, ternyata kota itu telah dibumihanguskan, dan isteri serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan. 4 Pecahlah tangis Daud dan tentara yang bersamanya sampai mereka tidak kuat lagi menangis. 5 Kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, janda Nabal, orang Karmel. 6 Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat pedih hatinya, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan hatinya di dalam TUHAN, Allahnya.

Jangan Saling Menyalahkan Saat Masalah Datang

Pernahkah kita merasa semuanya hancur lebur? Seperti Daud yang pulang ke rumah, ternyata kampungnya dibakar musuh dan keluarga ditawan. Yang paling sakit, teman-temannya malah mau melempari dia dengan batu karena mereka kecewa dan panik. Di zaman sekarang, saat ada masalah misalnya uang habis, anak sakit, atau bisnis rugi, sering kali reaksi pertama kita justru saling menyalahkan. Suami marah pada istri, istri membentak anak, atau kita mudah tersinggung dengan komentar orang di media sosial. Kita lupa bahwa di saat krisis, keluarga justru butuh pelukan, bukan pukulan; butuh dukungan, bukan tuduhan. Daud mengajarkan kita hal hebat: sebelum dia memimpin orang lain, dia “menguatkan hatinya dalam Tuhan” dulu. Dia tidak ikut-ikutan panik atau balas memarahi orang-orangnya. Ia tenang, berdoa, dan mencari Tuhan. Baru setelah hatinya kuat, dia bisa menjadi pemimpin yang menyejukkan bagi keluarganya. Mari belajar dari Daud: saat badai datang, jangan jadikan rumah sebagai medan perang tempat kita saling serang. Jadikan rumah sebagai tempat kita bersama-sama menguatkan hati dalam Tuhan. Tarik napas, berhenti sejenak dari gadget, pegang tangan pasangan atau anak, dan katakan, “Didalam Tuhan pasti ada jalan.”

Doa: Tuhan, kuatkan keluarga kami dalam kasih-Mu selalu. Amin.

Selasa, 7 Juli 2026

bahan bacaan : Mazmur 23 : 1 –  6 (TB2)

TUHAN, gembalaku yang baik
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; 3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya. 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang meneguhkan aku. 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 6 Kebajikan dan kasih setia belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan tinggal dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Jaminan Pemeliharaan Sang Gembala Yang Baik

Kita tidak bisa memprediksi masa depan, tetapi kita tahu siapa yang memegangnya.  Tuhan adalah Gembala yang Baik — Ia memelihara hidup kita dengan kasihNya, menuntun langkah kita di jalan yang benar, dan menjamin masa depan kita dalam damai sejahtera-Nya. Tuhan menyediakan “padang berumput hijau” dan “air yang tenang” sebagai simbol dari pemeliharaan yang menyeluruh, baik secara jasmani maupun rohani.

Saat dunia menawarkan kecemasan dan ketidakpastian, Tuhan menawarkan penyertaan dan ketenangan.Ketika kita tinggal dalam pemeliharaan Tuhan, kita tidak akan kekurangan apa pun yang benar-benar kita butuhkan.

Di tengah dunia yang penuh perubahan dan ketidakpastian, kita bisa tetap tenang karena Gembala yang Baik selalu menyertai kita. Biarlah kita terus percaya bahwa setiap langkah, setiap musim hidup, selalu ada dalam genggaman kasih-Nya. Karena itu, marilah kita belajar berserah dan berjalan dalam pimpinan-Nya setiap hari. Kita tidak perlu tahu semua tentang masa depan, asal kita tahu siapa yang menuntun kita hari ini.” Tuhan, Gembala yang Baik, itu selalu cukup bagi kita.

 Doa: Tuhan, Engkaulah Gembala kami selamanya. Amin.

Rabu, 8 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 30 : 11 – 12  (TB2)

11 Ada keturunan yang mengutuki ayahnya dan tidak memberkati ibunya. 12 Ada keturunan yang menganggap dirinya tahir, tetapi belum dibasuh dari kotorannya sendiri.

Hati-Hati Lidah yang Tajam di Rumah

Ada penyakit berbahaya yang mudah sekali menular, apalagi di era digital: penyakit suka menghakimi dan mengutuk. Di medsos, orang berani mengetik kata-kata kasar karena sembunyi di balik layar. Sayangnya, racun ini sering terbawa masuk ke rumah. Tanpa sadar, kita jadi generasi yang susah memberkati orang tua sendiri atau mudah mencemooh pasangan. “Ah, Bapak ketinggalan zaman,” “Ih, Ibu gaptek,” atau suami yang terus-menerus mengkritik masakan istri. Kata-kata tajam ini melukai hati lebih dalam daripada pisau. Kita merasa paling benar, paling pintar, sampai lupa bahwa kita sedang menyakiti orang yang paling kita kasihi. Firman Tuhan hari ini mau menegur kita halus: berhenti merasa paling suci. Pastoral interpersonal yang asli itu dimulai dari menahan lidah. Sebelum kita bicara kasar atau mengetik komentar jahat, tanya dulu: “Apakah ini membangun atau merusak?” Mari ubah suasana rumah kita. Kalau ada kesalahan, tegurlah dengan kasih, bukan dengan ejekan. Kirimlah pesan WA yang isinya ucapan terima kasih dan ayat penyemangat ke grup keluarga, bukan keluhan. Ingat, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang saling memberkati dengan kata-kata manis, bukan saling mengutuk dengan sindiran pedas. Mulailah dari mulut kita sendiri.

 Doa: Tuhan,tolong kami memberi saling menyemangati dalam rumah,Amin.

Kamis, 9 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 30 : 13 – 14 (TB2)

13 Ada generasi yang angkuh pandangannya, dan terangkat kelopak matanya. 14 Ada keturunan yang giginya pedang, yang taringnya pisau, untuk memakan habis orang yang tertindas dari bumi, dan orang miskin di antara manusia.

Turunkan Gengsi, Lihatlah Orang di Sekitar

Salah satu godaan terbesar zaman sekarang adalah merasa sok hebat. Karena punya HP canggih, punya jabatan, atau punya banyak pengikut di media sosial, kita jadi merasa lebih tinggi dari orang lain. Mata kita jadi “tinggi”, sulit melihat orang kecil. Kita sibuk pamer kehidupan mewah di Instagram, tapi lupa bertanya apakah pembantu di rumah sudah makan. Kita sibuk berkhotbah di grup WhatsApp, tapi tidak peka melihat istri yang sedang lelah atau anak yang sedang sedih sendirian di kamar. Kita jadi buta terhadap kebutuhan nyata di depan mata karena terlalu fokus pada pencitraan di layar. Amsal hari ini mengingatkan bahaya sikap sombong seperti itu. Pelayanan sejati itu bukan soal terlihat hebat di depan orang banyak, tapi soal kerendahan hati untuk melayani yang paling kecil. Di rumah, ini artinya Papa harus mau turun dari “tahta”-nya untuk bantu cuci piring. Mama harus mau dengarkan cerita anak meski sedang sibuk. Jangan biarkan gengsi membuat kita asing di rumah sendiri. Tataplah mata anggota keluarga kita dengan kasih, bukan dengan penilaian. Sadarilah bahwa di hadapan Tuhan, kita semua sama. Kehadiran kita yang tulus jauh lebih berharga daripada seribu pujian di dunia maya.

Doa: Tuhan, ajarkan kami rendah hati satu sama lain di dalam rumah. Amin.

Jumat, 10 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 4 : 13 – 16 (TB2)

13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membacakan Kitab Suci, membangun dan mengajar. 14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu melalui nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. 15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 16 Awasilah dirimu sendiri dan ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Anak-anak Butuh Teladan, Bukan Sekedar Status

Di tengah banjir informasi internet, anak-anak dan generasi muda sekarang sangat kritis. Mereka tidak lagi mudah percaya cuma karena kita bicara bagus atau status rohani kita keren di media sosial. Mereka punya radar khusus untuk mendeteksi kemunafikan. Jika papa rajin posting ayat Alkitab tapi di rumah mudah marah-marah, jika Mama aktif di kegiatan gereja tapi di rumah malas mengurus keluarga, maka anak-anak akan bingung dan kehilangan respek. Mereka tidak butuh konten kreator rohani; mereka butuh orang tua yang hidupnya nyata, yang perkataannya sesuai dengan perbuatan. Paulus berpesan: “Jadilah teladan… dalam perkataan, dalam tingkah laku.” Ini kunci utama pastoralia intergenerasi. Warisan terbesar yang bisa kita tinggalkan buat anak cucu bukan harta atau popularitas, tapi contoh hidup yang konsisten. Mari kita periksa diri: apakah hidup kita sehari-hari sudah mencerminkan kasih Yesus? Apakah kita jujur, sabar, dan penuh kasih saat bersama keluarga? Jadikan rumah kita tempat belajar iman yang sesungguhnya, di mana anak-anak melihat Papa meminta maaf saat salah, dan Mama melayani dengan sukacita. Biarlah mereka mengenal Tuhan bukan dari layar HP, tapi dari cara kita hidup sehari-hari. Itu baru teladan yang berpengaruh.

Doa: Tuhan, jadikankami teladan nyata bagi keluarga. Amin.

Sabtu, 11 Juli 2026

bahan bacaan : Lukas 5 : 12 – 16 (TB2)

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kulit
12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang kulitnya penuh dengan penyakit menular. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." 13 Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah tahir." Seketika itu juga penyakit kulit itu meninggalkan dia. 14 Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." 15 Namun kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. 16 Tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa.

Menjaga Keseimbangan Hidup

Kehidupan yang kita jalani seringkali berlalu dengan begitu cepat. Kerja, menjalin relasi, dan pelayanan yang kita lakukan berjalan silih berganti. Terkadang kita tidak punya waktu untuk berhenti sejenak, beristirahat, merefleksikan perjalanan kehidupan yang kita jalani dan berdoa. Maka setiap orang memerlukan istirahat secukupnya, sebagaimana yang juga ditunjukkan oleh Yesus dalam bacaan hari ini. Bahwa dalam istirahat yang kita lakukan-pun tetap ada karya Tuhan yang dinyatakan atas hidup kita dan orang-orang di sekitar kita. Dalam bacaan hari ini, terlihat setelah Yesus mentahirkan seorang yang sakit kusta, ia lalu mengundurkan diri dari kerumunan banyak orang saat itu.  Pengunduran diri Yesus bukan karena malas dan enggan melayani sesama, tetapi didorong oleh kebutuhan untuk beristirahat dan berdoa untuk mencegah terjadinya kondisi “drop” dalam pelayananNya. Mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk beristirahat sebentar guna mendapatkan keseimbangan dalam ritme kehidupan. Kita juga harus menjaga keseimbangan hidup kita. Jangan sampai kita mengalami kelelahan yang menghambat dan menurunkan produktivitas dalam bekerja dan melayani. Berhentilah sejenak untuk meredakan ketegangan jiwa dan merenungkan kasih Allah dengan penuh ungkapan syukur.

Doa:  Tuhan, tolong kami menjaga keseimbangan hidup, berdoa dan bekerja, Amin.

SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Juni 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemberdayaan yang Holistik

Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemulihan Trauma Sosial

Minggu, 21 Juni 2026

bahan bacaan : Mazmur 137 : 1 – 9 (TB2)

Di tepi sungai-sungai Babel
Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. 2 Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. 3 Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" 4 Bagaimana mungkin kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? 5 Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah lumpuh tangan kananku! 6 Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak mengutamakan Yerusalem lebih dari pada sukacitaku! 7 Ingatlah, ya TUHAN, akan keturunan Edom, pada hari pemusnahan Yerusalem, mereka mengatakan: "Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!" 8 Hai puteri Babel, yang suka melakukan kekerasan, berbahagialah orang yang membalas kepadamu perbuatan-perbuatan yang kaulakukan kepada kami! 9 Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan anak-anakmu pada bukit batu!

Memulihkan Luka, Membangun Harapan

Trauma sosial, baik akibat konflik, ketidakadilan maupun krisisi ekonomi, seringkali meninggalkan luka batin yang dalam bagi keluarga. Mazmur 137 memberi gambaran jelas tentang bangsa yang hancur hatinya di pembuangan di Babel. Teks ini dimulai dengan “di tepi sungai-sungai Babel, bangsa Israel menggantungkan kecapi mereka dan menangis.”  Luka mereka sungguh hebat sehingga “nyanyian Tuhan” terasa asing ditanah penindasan. Secara psikologis, Mazmur ini menggambarkan tahap ratapan jujur; sebuah langkah awal menuju pemulihan. Banyaknya kenyataan luka batin tiap anggota dalam keluarga, mengharuskan gereja keluarga menjadi “ruang aman” bagi anggotanya untuk mengekspresikan kepedihan tanpa merasa dihakimi. Pemulihan trauma sosial dimulai ketika keluarga berani mengakui luka tersebut di hadapan Allah, bukan dengan menyimpan dendam yang menghancurkan (ay 8-9), melainkan dengan menjaga iman agar tidak mati di tengah kesulitan. Hidup ini penuh dengan perjuangan, dimana luka pun harus kita perjuangkan untuk sembuh. Karena itu, jangan biarkan luka/trauma masa lalu membungkam nyanyian syukur kita. Sebagai keluarga, tugas kita adalah saling membalut luka dan memutus rantai kepahitan antar generasi. Bawalah setiap luka kepada Tuhan, bangunlah harapan dalam iman bersamaNya. Percayalah Dia mampu memulihkan martabat dan masa depan kita, bahkan di “tanah perantauan” sekalipun.

Doa: Tuhan, semua luka kami dalam keluarga ini, kami bawa dihadapanMu, amin  

Senin, 22 Juni 2026

bahan bacaan : Yeremia 31: 10 – 14 (TB2)

10 Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! 11 Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya. 12 Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu; hidup mereka akan seperti taman yang diairi, mereka tidak akan merana lagi. 13 Pada waktu itu anak dara akan bersukaria menari-nari, bersama orang-orang muda dan orang-orang tua. Aku akan mengubah dukacita mereka menjadi sukacita, akan menghibur dan membuat mereka gembira lepas dari kedukaan mereka. 14 Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

Membangun Kembali dari Reruntuhan hati

Trauma sering kali lahir dari rasa tidak berdaya melawan ketidakadilan atau kekerasan. Ayat 11 mengatakan bahwa Tuhan membebaskan Yakub dari tangan “orang yang lebih kuat”. Dalam pemulihan trauma sosial, kita belajar bahwa luka masa lalu tidak lagi memiliki kuasa atas masa depan kita. Di dalam ekosistem keluarga yang sehat, kita belajar melepaskan beban tersebut kepada Tuhan yang jauh lebih kuat dari sejarah kelam mana pun. Tatkala itu perawan-perawan akan bersukacita menari-nari… Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan…” Pemulihan trauma bukanlah sekadar “melupakan”, melainkan sebuah transformasi atau perubahan. Dulu: kesedihan dan kelaparan jiwa. Sekarang: kebun yang dialiri air dengan baik. Gereja rumah tangga harus menjadi “kebun yang diairi”, tempat di mana emosi yang kering karena trauma disirami dengan penerimaan, kasih sayang, dan doa. Pemulihan sosial terjadi ketika keluarga-keluarga tidak lagi menyimpan dendam, melainkan mulai hidup kembali dalam pengharapan. Ketika gereja rumah tangga menjadi sehat, ia akan memancarkan berkat bagi masyarakat luas. Trauma sosial disembuhkan bukan hanya dengan terapi medis, tetapi dengan komunitas yang menunjukkan bahwa kebaikan Tuhan itu nyata dan melimpah.

Doa: Tuhan, kami memohon pemulihan atas trauma sosial yang masih membekas di hati kami, keluarga maupun masyarakat, amin 

Selasa, 23 Juni 2026

bahan bacaan : Yeremia 31: 15 – 17 (TB2)

15 Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang memilukan: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur perihal anak-anaknya, sebab mereka sudah tiada. 16 Beginilah firman TUHAN: Tahanlah suara tangismu, janganlah matamu mencucurkan air mata, sebab ada imbalan untuk jerih payahmu, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh. 17 Masih ada harapan untuk masa depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.

Mengubah Ratapan Menjadi Harapan

Trauma sosial sering kali meninggalkan luka kolektif yang mendalam, kehilangan masa depan, kehilangan rasa aman, atau kehilangan orang-orang terkasih. Ayat bacaan hari ini mencatat Rahel ada dalam “tangisan yang pahit” itu. Tuhan tidak membiarkan Rahel larut dalam keputusasaan tanpa batas. Firman-Nya datang dengan lembut namun tegas: “Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata!” Ini bukan perintah untuk menekan emosi, melainkan sebuah janji bahwa “ada upah untuk jerih payahmu.” Dalam konteks trauma sosial, “jerih payah” kita adalah upaya untuk tetap bertahan hidup, tetap beriman, dan tetap mendidik keluarga di tengah reruntuhan sosial. Tuhan melihat setiap tetes air mata yang jatuh di ruang tamu kita dan Ia menjanjikan pemulihan, tetapi Gereja rumah tangga harus menjadi tempat pertama di mana luka diakui, bukan disembunyikan. Pemulihan trauma tidak dimulai dengan berpura-pura kuat, tetapi dengan kejujuran di hadapan Tuhan di dalam rumah kita. Rumah harus menjadi ruang aman di mana setiap anggota keluarga boleh menangis tanpa dihakimi.  Memang, pemulihan trauma sosial membutuhkan waktu (proses), namun fondasinya harus diletakkan di dalam keluarga. Jika hari ini rumah tangga kita sedang merasa seperti “Rahel yang menangis”, karena tekanan ekonomi, ketidakadilan sosial, atau luka masa lalu, ingatlah janji ini: Tuhan sedang bekerja untuk memulihkan. Ia mau mengubah ratapan rumah tangga kita menjadi harapan.

Doa Tuhan ubahlah ratapan kami menjadi harapan. Amin.  

Rabu, 24 Juni 2026

bahan bacaan : Yesaya 49: 14 – 21 (TB2)

14 Sion berkata: "TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku." 15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, dan tidak menyayangi anak dari kandungannya? Kalaupun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. 16 Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu senantiasa di pelupuk mata-Ku. 17 Orang-orang yang membangun engkau datang bersegera, tetapi orang-orang yang membongkar dan merusak engkau meninggalkan engkau. 18 Layangkanlah pandangmu ke sekeliling dan lihatlah, mereka semua datang berhimpun kepadamu. Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, sungguh, mereka semua akan kaupakai, dan kulilitkan sebagai perhiasan, seperti yang dilakukan pengantin perempuan. 19 Sebab tempat-tempatmu yang tandus dan sunyi sepi dan negerimu yang dibongkar, sungguh, sekarang terlalu sempit untuk pendudukmu dan orang-orang yang mau menelan engkau akan menjauh. 20 Malahan, anak-anakmu yang kausangka hilang akan berkata kepadamu: "Tempat itu terlalu sempit bagiku, menyingkirlah, supaya aku dapat diam di situ!" 21 Engkau akan berkata dalam hatimu: "Siapakah yang telah melahirkan sekaliannya ini bagiku? Bukankah aku kehilangan anak-anak dan mandul, diangkut ke dalam pembuangan dan disingkirkan? Akan tetapi anak-anak ini, siapakah yang membesarkan mereka? Sesungguhnya, aku tertinggal seorang diri, tetapi mereka ini, dari manakah datangnya?"

Tangan yang Mengukir Nama

Dalam perjalanan hidup berbangsa dan bermasyarakat, kita sering kali menemui luka yang tidak hanya membekas pada individu, tetapi juga pada kelompok. Itulah yang disebut trauma social, luka kolektif akibat pengabaian, konflik, atau krisis yang membuat sebuah komunitas merasa “ditinggalkan Tuhan. Ayat 14 menggambarkan kondisi itu, kondisi psikologis Sion yang hancur. Kalimat “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan trauma. Tuhan menjawab trauma tersebut dengan analogi kasih ibu. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya… sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (ay. 15) Tuhan melangkah lebih jauh dengan berkata: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (ay. 16). Ini adalah bentuk pemulihan trauma yang paling mendalam. Di saat dunia luar menganggap kita beban, Tuhan menganggap kita sebagai identitas yang terukir secara permanen di tangan-Nya. Identitas ini memberi kita tanggungjawab untuk terus bangkit dan membangun hidup yang lebih baik.

Doa Tuhan, terima kasih kerena telah melukiskan kami di tanganMu Amin.  

Kamis, 25 Juni 2026

bahan bacaan : Yeremia 30 : 17 – 22 (TB2)

17 Sesungguhnya Aku akan memberikan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, sebab engkau telah disebut: yang terbuang, Sion yang tidak dipedulikan seorangpun. 18 Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli. 19 Nyanyian syukur akan terdengar dari antara mereka, juga suara orang yang bersukaria. Aku akan membuat mereka bertambah banyak dan mereka tidak akan berkurang lagi; Aku akan membuat mereka dihormati dan mereka tidak akan dihina lagi. 20 Anak-anak mereka akan menjadi seperti dahulu kala, dan perhimpunan mereka akan kokoh di hadapan-Ku; Aku akan menghukum semua orang yang menindas mereka. 21 Pemimpin mereka akan berasal dari mereka sendiri, dan penguasa mereka akan muncul dari tengah-tengah mereka; Aku akan membuat dia menghampiri-Ku dan ia akan mendekat kepada-Ku, sebab siapakah yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk mendekat kepada-Ku? demikianlah firman TUHAN. 22 Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu."

Allah Memulihkan Luka Batin

Seorang anak kecil jatuh dari sepeda dan lututnya terluka. Ia menangis keras bukan hanya karena sakit, tetapi karena takut. Ibunya tidak langsung menyuruh dia berhenti menangis. Ia menggendong, membersihkan luka, meniup perlahan, lalu berkata, “lukamu akan sembuh.” Anak itu belum langsung berhenti menangis, tetapi hatinya tenang karena merasa aman. Sentuhan kasih membuat proses pemulihan dimulai. Firman Tuhan hari ini menyuarakan janji Tuhan: “Aku akan memulihkan kesehatanmu dan menyembuhkan luka-lukamu.” Umat Tuhan saat itu terluka bukan hanya secara fisik, tetapi batin dan sosial ditolak, dihina, dan kehilangan rasa aman. Dalam kehidupan gereja rumah tangga, luka sosial juga nyata: konflik, kata-kata kasar, kekecewaan, bahkan penolakan. Trauma sering diwariskan diam-diam lewat sikap dingin, marah, atau menarik diri. Pemulihan dimulai saat rumah menjadi ruang aman: ada pelukan, doa, pengampunan, dan kesediaan mendengar. Dari keluarga yang disembuhkan, lahir gereja yang kuat. Tuhan bukan hanya menutup luka, Ia mengangkat kita kembali menjadi umat-Nya yang dipulihkan dan diberdayakan untuk memulihkan sesama.

Doa Tuhan pulihkan luka hati kami, dan keluarga kami. Amin. 

Jumat, 26 Juni 2026

bahan bacaan : Amos 9 : 11 – 15 (TB2)

Janji mengenai pemulihan
11 "Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup retakan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di dahulu kala, 12 supaya mereka menguasai yang tersisa dari bangsa Edom dan segala bangsa yang dinamai milik-Ku," demikianlah firman TUHAN yang melakukan hal ini. 13 "Sesungguhnya, waktunya akan datang," demikianlah firman TUHAN, "bahwa pembajak akan segera menyusul penuai dan pengirik buah anggur segera menyusul penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran. 14 Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang hancur luluh dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya. 15 Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka," firman TUHAN, Allahmu.

 Dari Reruntuhan Menuju Pemulihan   

Sebuah rumah rusak berat karena gempa. Dindingnya retak, atapnya bocor, dan barang-barang di dalamnya berserakan. Para penghuninya bukan hanya kehilangan tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga rasa aman. Setiap suara keras membuat mereka terkejut; setiap getaran kecil membangkitkan kembali ketakutan lama. Namun perlahan rumah itu mulai diperbaiki. Bukan sekadar ditambal di bagian yang rusak, melainkan fondasinya diperkuat, tiang-tiang diganti, halaman ditata ulang, dan pohon baru ditanam di sekitarnya. Rumah itu bukan hanya berdiri kembali, tetapi menjadi tempat yang lebih kokoh, lebih indah, dan penuh harapan baru. Nubuat Amos tentang pemulihan “pondok Daud yang roboh” menggambarkan karya Tuhan yang serupa. Tuhan tidak sekadar menutup keretakan, tetapi membangun kembali dari dasar yang paling dalam.  Ia peduli pada luka sosial dan ketidakadilan, bukan hanya pergumulan pribadi. Trauma memang membuat keluarga dan masyarakat merasa hancur serta kehilangan arah masa depan. Namun janji Tuhan adalah pemulihan yang menyeluruh, sehingga hidup kembali berbuah dan bermakna. Gereja rumah tangga dipanggil menjadi ruang aman, tempat luka disembuhkan, hati diteguhkan, relasi dipulihkan, dan kehidupan diberdayakan kembali.

Doa Tuhan pulihkan hati kami dan relasi kami dengan orang lain. Amin.  

Sabtu, 27 Juni 2026

bahan bacaan : Yoel 2: 23 – 27 (TB2)

23 Hai bani Sion, bersorak-sorailah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya bagimu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti semula. 24 Tempat-tempat pengirikan akan penuh dengan gandum, dan tempat-tempat penampungan kelimpahan anggur dan minyak. 25 Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, pasukan-Ku yang besar yang Kukirim ke tengah-tengah kamu. 26 Kamu akan makan sepuasnya dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang melakukan perbuatan ajaib bagimu; Umat-Ku tidak akan mendapat malu lagi untuk selama-lamanya. 27 Kamu akan mengetahui bahwa Aku ada di antara orang Israel, dan bahwa Akulah TUHAN, Allahmu; tidak ada yang lain; Umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya."

Janji Pemulihan: Dari Kekeringan Menuju Kelimpahan             

Teks Kitab Yoel pasal 2 ayat 23-27 adalah pesan pemulihan yang sangat kuat. Setelah masa-masa sulit akibat tulah belalang yang menghancurkan ekonomi dan spiritualitas bangsa Israel, Tuhan datang membawa janji kelimpahan. Efek dari pemulihan Tuhan bukan sekadar perut yang kenyang, melainkan pemulihan martabat. Tuhan berjanji bahwa umat-Nya “tidak akan mendapat malu lagi.” Ketika Tuhan memulihkan keadaan kita, Dia juga memulihkan nama baik dan posisi kita. Tujuannya hanya satu: supaya dunia tahu bahwa Dia adalah Tuhan di tengah-tengah kita dan tidak ada yang lain. Kalau kita sedang merasa waktu kita terbuang sia-sia karena kegagalan, penyakit, atau kesalahan masa lalu, ingatlah janji Tuhan yang luar biasa ini: Dia mampu memperbaiki yang rusak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tuhan tidak hanya memberikan apa yang kita butuhkan hari ini, tetapi Dia sanggup mengganti kerugian dari “musim belalang” yang telah lewat. Di tangan Tuhan, tidak ada yang benar-benar hilang; Dia sanggup melipatgandakan hasil di musim yang baru. Janganlah biarkan kegagalan masa lalu membuat langkah kita tertahan. Jika Tuhan sudah memulihkan, maka rasa malu itu sudah diangkat.

Doa Tuhan terima kasih untuk janji pemulihan-Mu. Amin.  

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga Menjadi Basis Misi

Minggu, 12 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 1 – 8 (TB2)

Paulus di Korintus
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. 2 Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus dan baru datang dari Italia, dan dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah di rumah mereka. 3 Karena memiliki pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. 4 Setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. 5 Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman, dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah Mesias. 6 Ketika orang-orang itu melawan dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: "Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain." 7 Ia keluar dari situ, lalu pergi ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang takur akan Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. 8 Namun Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan dibaptis.

Rumah Tangga Tempat Persemaian Injil  

Ketika Paulus tiba di Korintus, ia bertemu dengan Akwila dan Priskila. Menariknya, titik temu mereka bukan hanya karena panggilan pelayanan, tetapi juga sama-sama  kerja: Mereka semua tukang kemah. Rumah tangga Akwila dan Priskila menjadi ruang kerja sekaligus ruang kesaksian. Ketika paulus setia mengajar di rumah ibadat, ia menghadapi penolakan keras dan hujatan, namun ia tidak berhenti. Paulus kemudian menumpang di rumah Titius Yustus, seorang yang takut akan Allah, yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Hasilnya luar biasa: Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya, ia beserta dengan seluruh seisi rumahnya. Dalam budaya Alkitab, ketika kepala keluarga percaya, seluruh ekosistem rumah tangga (keluarga, hamba, sahabat) ikut terpapar kebenaran. Rumah Yustus menjadi basis misi Kerajaan Allah yang strategis. Hal ini mau menegaskan bahwa Gereja rumah tangga adalah basis atau tempat di mana nilai-nilai iman, karakter dan moral diajarkan dan dipraketkkan dalam keseharian hidup. Mari jadikan rumah tangga, keluarga kita tempat dimana Injil Kristus dihidupi  dan disaksikan agar orang lain pun dapat menikmati anugerah keselamatan dari Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami ladang Injil dan berbias keluar bagi kemuliaan namaMu. Amin.

Senin, 13 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 18 – 23 (TB2)

Paulus kembali ke Antiokhia
18 Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. 19 Sampailah mereka di Efesus, dan Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi. 20 Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya. 21 Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus. 22 Ia sampai di Kaisarea dan setelah pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada jemaat, ia berangkat ke Antiokhia. 23 Setelah tinggal beberapa hari lama di situ, ia berangkat lagi, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk menguatkan hati semua murid.

Rumah Tangga Sebagai Alat Menopang Misi Tuhan

Aquila dan Priskila adalah pasangan suami istri sekaligus rekan kerja dan sahabat yang  setia menemani Rasul Paulus dalam melakukan tugas memberitakan injil. Mereka sungguh-sungguh telah memberikan kehidupan pribadi dan keluarganya, pekerjaannya menjadi ruang persekutuan dan tugas- tugas pengutusan. ​Ketika Paulus tiba di Efesus dan memulai diskusi di rumah ibadat, jemaat di sana memintanya untuk tinggal lebih lama, namun Paulus menolak. Ia berkata, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.” Paulus tidak didorong oleh “perasaan tidak enak” kepada orang lain, melainkan oleh kehendak Tuhan. Ia tahu kapan harus tinggal dan kapan harus pergi. Ia meninggalkan Akwila dan Priskila di sana. Ini adalah strategi misi yang baik. Paulus tidak menjadi “pusat” dari segala sesuatu. Ia melatih orang lain agar pekerjaan Tuhan tetap berjalan meski dia tidak ada.Adalah sukacita besar saat rumah tangga kita tidak sekedar dijadikan sebagai tempat kumpul keluarga namun sukacita itu akan menjadi sempurna saat rumah tangga kita dijadikan sebagai ruang persekutuan dan pengutusan misi Kristus. Tempat di mana kita mengkaderkan anak-anak kita untuk melanjutkan misi pelayanan ke depan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami  alat untuk menopang misi Tuhan, Amin.

Selasa, 14 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 15 – 16 (TB2)

Pertemuan Paulus dengan Yakobus di Yerusalem
15 Sesudah tinggal beberapa hari di Kaisarea, berkemaslah kami, lalu berangkat ke Yerusalem. 16 Bersama kami turut juga beberapa murid dari Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason. Ia dari Siprus dan sudah lama menjadi murid. Kami akan menumpang di rumahnya.

Topanglah Pelayanan Dengan Keramahtamahan

Pekerjaan apapun  dapat berjalan dengan baik bukan semata-mata karena sang pekerja itu memiliki keahlian yang mumpuni. Harus diakui bahwa dibalik  setiap kesuksesan yang diraih, ada orang lain  yang ikut menopang, termasuk dalam tugas-tugas pelayanan. Ayat 16 nas bacaan hari ini menyebutkan bahwa beberapa murid dari Kaisarea ikut pergi bersama Paulus ke Yerusalem. Mereka tidak membiarkan Paulus pergi sendirian menghadapi ketidakpastian. Ini memberi pesan, dalam masa-masa sulit ketika bekerja atau melayani, kehadiran sahabat atau sesama orang percaya sangatlah menguatkan kita. Di Yerusalem, kehadiran Manason seorang murid lama dari Siprus turut menguatkan Paulus dan rombongannya. Manason menunjukkan kesediaan untuk membuka pintu rumahnya bagi para pelayan Tuhan meskipun situasi saat itu kurang baik bagi pengikut Kristus. Sungguh membuat hati bersukacita, saat rumah tangga kita dapat menjadi sarana untuk menopang pekerjaan pelayanan dan membantu tugas-tugas para pelayan. Keluarga yang ramah dan mau terbuka bagi orang lain, menjadi tempat berteduh bagi yang sedang dalam perjalanan atau suatu tugas tertentu adalah tindakan iman yang  mulia. Semoga keluarga kita semua dapat berlaku demikian.

Doa: Tuhan, kiranya rumah tangga kami terbuka, penuh keramahan bagi orang lain, Amin. 

Rabu, 15 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 13 – 16 (TB2)

13 Lagi pula, dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga suka bergunjing dan mencampuri urusan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, melahirkan anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Sebab beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Peduli dan Saling Membantu

Dalam nas 1 Timotius 5:13-16, Rasul Paulus menekankan pentingnya perempuan, khususnya yang lebih muda, untuk menjalani hidup yang produktif dan disiplin agar tidak terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti bermalas-malasan atau menjadi pengumpat. Semangat ini bertujuan agar setiap perempuan mampu mengelola rumah tangga dengan baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan bekerja keras dan memiliki karakter yang takut akan Tuhan, perempuan dipanggil untuk saling membantu dalam meringankan beban hidup satu sama lain, sehingga energi yang dimiliki tidak habis untuk hal-hal yang sia-sia, melainkan untuk membangun komunitas iman yang solid. Paulus menegaskan tanggung jawab keluarga untuk menyokong anggota mereka yang berkekurangan agar tidak menjadi beban bagi jemaat secara keseluruhan. Hal ini mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi dan solidaritas dalam keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata. Ketika setiap perempuan yang mampu turut mengambil bagian dalam meringankan kesulitan keluarga/saudaranya, jemaat memiliki sumber daya yang cukup untuk memfokuskan bantuan kepada mereka yang benar-benar lemah dan membutuhkan.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk peduli dan saling membantu. Amin.  

Kamis, 16 April 2026

bahan bacaan : Kisah  Para Rasul 20 : 7 – 12 (TB2)

7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. 8 Di ruang atas, tempat kami berkumpul, ada banyak lampu. 9 Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. 10 Paulus turun ke bawah, lalu merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan khawatir, ia masih hidup." 11 Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. 12 Sementara itu mereka membawa pemuda itu dalam keadaan hidup, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Rumah Tangga Menjadi Ruang Pemulihan

Dalam Kisah Para Rasul 20:7-12, persekutuan di Troas berlangsung di sebuah rumah. Ini menunjukkan bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang suci untuk bersekutu dan mencari solusi atas persoalan hidup melalui Firman Tuhan. Eutikhus yang terjatuh dan mati di tengah ibadah mencerminkan kerentanan manusia yang sering kali merasa lelah atau “terlelap”  saat menghadapi beban masalah. Namun, respon jemaat dan pelayanan Paulus menegaskan bahwa dalam persekutuan yang didasari kasih, maut dan kegelisahan dapat diatasi oleh kuasa Allah. Melalui doa dan kebersamaan di dalam rumah, situasi yang tampak mustahil dapat dipulihkan, memberikan kelegaan nyata bagi setiap anggota keluarga yang sedang berbeban berat.  Eutikhus yang hidup kembali menjadi kesaksian bagi banyak orang, membuktikan bahwa mukjizat Allah bekerja secara hebat di dalam rumah-rumah yang terbuka bagi hadirat-Nya. Kesaksian ini bukan hanya tentang pemulihan fisik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas iman yang dibangun dalam rumah tangga mampu menjadi ruang pemulihan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika sebuah masalah diselesaikan di dalam persekutuan doa di rumah, hal itu menjadi bukti nyata bagi orang luar bahwa Tuhan benar-benar hidup dan peduli pada pergumulan umat-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, biarlah dengan tuntunan kuasa Roh KudusMu keluarga kami hadir sebagai penopang pelayanan di jemaat. Amin.

Jumat, 17 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 8 (TB2)

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Namun jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Namun seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Namun, jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Memperhatikan Sanak Saudara

Dalam 1 Timotius 5:3-8, Rasul Paulus memberikan penekanan bahwa kasih yang sejati harus dibuktikan melalui tindakan nyata di dalam keluarga sendiri. Memelihara seisi rumah dan sanak saudara, terutama mereka yang sudah lanjut usia atau menjanda, bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah yang menghormati Allah. Dengan saling menanggung beban hidup di lingkaran keluarga, kita belajar untuk membalas budi orang tua dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang terabaikan. Prinsip tanggung jawab domestik ini menjadi pondasi bagi karakter seorang beriman. Paulus memberikan peringatan keras bahwa mengabaikan kebutuhan sanak saudara sendiri setara dengan menyangkal iman dan lebih buruk daripada orang yang tidak percaya. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari aktivitas gereja semata, melainkan dari sejauh mana kita bersedia berbagi beban dan menyediakan kebutuhan bagi keluarga terdekat. Solidaritas keluarga ini bertujuan agar jemaat secara luas tidak terbebani secara finansial, sehingga sumber daya gereja dapat dialokasikan bagi mereka yang benar-benar sebatang kara dan tanpa dukungan sama sekali. Oleh karena itu, berbagi berkat dengan sanak saudara adalah kesaksian hidup yang menyatakan bahwa kasih Kristus nyata ditengah pergumulan ekonomi keluarga.

Doa: Tuhan, kiranya kami dapat terus saling menopang sebagai sanak saudara,  amin  

Sabtu, 18 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 7 – 9 (TB2)

7 Dari Tirus kami tiba di Ptolemais dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari di antara mereka. 8 Keesokan harinya kami berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, salah satu dari ketujuh pelayan, dan kami tinggal di rumahnya. 9 Filipus mempunyai empat anak gadis yang memiliki karunia bernubuat.

Keluarga yang Saling Mendukung

Dalam Kisah Para Rasul 21:7-9, kita melihat teladan baik dari keluarga Filipus sang pemberita Injil di Kaisarea. Filipus tidak hanya melayani sendirian, tetapi ia membangun suasana rohani di rumahnya sedemikian rupa sehingga keempat anak perempuannya pun memiliki karunia bernubuat. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang sehat adalah keluarga yang saling mendukung dalam pertumbuhan karunia masing-masing, sehingga rumah tangga berubah menjadi pusat misi yang efektif. Ketika setiap anggota keluarga bersedia dipakai oleh Tuhan, pelayanan tidak lagi menjadi beban individu, melainkan sinergi kasih yang memperkuat kesaksian jemaat. Lebih dari sekadar memendam karunia untuk kepentingan pribadi, keluarga Filipus membuka pintu rumah mereka untuk menyambut Paulus dan kawan-kawannya, ini menunjukkan bahwa keramahtamahan adalah bagian integral dari misi. Kehadiran empat anak perempuan yang bernubuat menunjukkan bahwa Tuhan tidak membatasi usia atau gender dalam memberikan karunia-Nya demi pembangunan tubuh Kristus. Keluarga ini menjadi bukti nyata bahwa rumah tangga yang berfokus pada pelayanan akan menjadi tempat di mana visi Tuhan dinyatakan dan dikerjakan bersama-sama. Melalui keterbukaan hati dan kerelaan memberi diri, keluarga kita pun dapat menjadi alat misi yang kuat bagi lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami saling mendukung dan ramah kepada yang lain. Amin.   

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Kebangkitan Kristus Memberdayakan Gereja Rumah Tangga, Semakin Beriman dan Sejahtera

Minggu, 5 April 2026

bahan bacaan :

Keluaran 12 : 24 – 28; (TB2)

24 Kamu harus melaksanakan hal itu sebagai ketetapan sampai selama-lamanya, bagimu dan bagi anak-anakmu. 25 Apabila kamu tiba di negeri yang akan TUHAN berikan kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, kamu harus melaksanakan ibadah ini. 26 Apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah arti ibadah ini bagimu? 27 maka kamu harus berkata: Itulah kurban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Lalu berlututlah umat itu dan sujud menyembah. 28 Orang Israel pergi dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun. Demikian mereka lakukan.

1 Korintus 15 : 1 – 11  (TB2)

Kebangkitan Kristus
Sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 2 Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. 3 Sebab, yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 8 Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 9 Sebab akulah yang paling hina dari semua rasul, bahakan tidak layak disebut rasul, karena aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10 Namun karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukan aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku. 11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Kebangkitan Kristus Membuat Hidup Berdaya dan Sejahtera

Siapakah yang tidak kenal dengan Rasul Paulus?. Setiap orang pasti memiliki pandangan sendiri tentangnya. Mungkin ada yang berangggapan bahwa ia adalah seorang penganiaya jemaat yang telah diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Mungkin juga ada yang berpandangan bahwa ia adalah seorang rasul besar malah lebih dari Simon Petrus murid Tuhan Yesus. Apapun pandangan kita, teks hari ini berbicara tentang sosok seorang Paulus sebagai seorang yang dikasihani Allah melalui anugerah-Nya. Pernyataan ini bukan tanpa alasan sebab hal inilah yang ditekankan oleh Paulus dalam suratnya ini. Di dalam teks Paulus menuturkan tokoh-tokoh yang kepadanya Tuhan Yesus saat bangkit menampakan diri. Mereka adalah Kefas (Simon Petrus), 12 murid, lebih dari 500 saudara seiman, Yakobus, semua rasul dan Paulus menyebutkan dirinya yang paling hina yang juga mendapatkan kemurahan penampakan diri Tuhan Yesus itu. Kesaksian Paulus harus juga menjadi bagian dari kesaksian kita dalam menghadapi kehidupan. Kita mungkin bukan siapa-siapa dalam kehidupan ini. Kita hanya orang biasa tapi yang harus kita yakini sungguh bahwa kebangkitan Kristus memberdayakan kita sebagai gereja rumah tangga untuk semakin beriman dan sejahtera. Karena itu mari hadapi hidup dengan pengharapan. 

Doa:  Ya Tuhan kuatkan iman percaya kami. Amin.

Senin, 6 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 12 -19 (TB2)

Kebangkitan kita
12 Jadi, bilamana diberitakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? 13 Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. 14 Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. 15 Lebih dari pada itu, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andai kata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. 16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, Kristus juga tidak dibangkitkan. 17 Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. 19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Kristus Bangkit, Iman Kita Berarti

Bayangkan jika Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit. Paulus berkata dengan tegas: jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga iman kita. Semua doa, ibadah, dan pengharapan kita hanya akan menjadi rutinitas kosong tanpa makna kekal. Tanpa kebangkitan, iman Kristen hanyalah cerita moral tanpa kuasa yang menyelamatkan. Namun syukur bagi Allah, Kristus sungguh bangkit! Kebangkitan-Nya menjadi dasar iman kita yang paling kokoh. Ia hidup, dan karena itu iman kita bukan ilusi, melainkan kebenaran yang memberi hidup. Mari kita jalani hari ini dengan keyakinan dan semangat, sebab iman kita berdiri di atas kemenangan Kristus atas maut.

Namun persoalannya bukan hanya apakah Kristus bangkit, melainkan apakah kebangkitan itu sungguh mengubah hidup kita. Sebab ada orang yang mengaku percaya, tetapi hidupnya tetap dikuasai ketakutan, keputusasaan, dan kekosongan. Kebangkitan bukan sekadar doktrin yang diakui, tetapi realitas yang harus dialami. Jika Kristus benar-benar hidup, maka hidup kita tidak boleh lagi dijalani dengan cara yang lama.

Doa:  Kami sungguh meyakini kebangkitan-Mu ya Tuhan, ,Amin.

Selasa, 7 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 23 – 31 (TB2)

23 Namun tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. 24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. 25 Sebab Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. 26 Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. 27 Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", teranglah bahwa Ia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. 28 Namun kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. 29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? 30 Kami juga--mengapa kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.

Maut Kalah, Keluarga Kita Berdaya

Kematian adalah musuh terbesar manusia, sumber ketakutan dan keputusasaan. Namun melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan maut secara tuntas. Artinya, kuasa kematian tidak lagi memegang kata terakhir atas hidup kita. Di dalam Kristus, ketakutan digantikan oleh pengharapan, dan keputusasaan digantikan oleh keberanian. Karena maut telah dikalahkan, keluarga Kristen dipanggil untuk hidup berdaya dan tangguh. Tantangan boleh datang, tetapi kita tidak menyerah pada rasa takut. Kita merawat kesehatan jiwa dan raga, saling menguatkan, dan menjalani hidup dengan penuh syukur sebagai keluarga yang percaya kepada Tuhan yang hidup.Namun seringkali kita masih hidup seolah-olah maut masih berkuasa. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut masa depan. Kita mengaku percaya kepada Kristus yang bangkit, tetapi hati kita tetap dikuasai kecemasan dan ketakutan. Kebangkitan Kristus menantang kita untuk hidup dengan cara yang berbeda: bukan lagi sebagai orang yang dikendalikan oleh ketakutan, tetapi sebagai orang yang dikuatkan oleh pengharapan. Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk memeriksa dasar pengharapan kita. Jika kita percaya pada kebangkitan Kristus, kita tidak perlu takut terhadap maut. Kita memiliki kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan, dan pelayanan serta kasih yang kita lakukan hari ini memiliki nilai kekekalan.

Doa:  Syukur kepadaMu Tuhan yang telah memberikan kepada kami kemenangan oleh Yesus Kristus, amin..

Rabu, 8 April 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 15 : 35 – 49 (TB2)

Kebangkitan tubuh
35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau tidak mati dahulu. 37 Yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi bijinya saja, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Namun Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 yang ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; yang ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alami, yang dibangkitkan adalah tubuh rohani. Jika ada tubuh alami, ada pula tubuh rohani. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohani, tetapi yang alami; kemudian barulah datang yang rohani. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah, manusia kedua berasal dari surga. 48 Mereka yang dari debu sama dengan dia yang dari debu dan orang-orang surgawi sama dengan Dia yang sorgawi. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa yang dari debu, demikian pula kita akan memakai rupa yang surgawi.

Menanti Tubuh Sorgawi yang Baru

Tubuh kita saat ini rapuh: bisa sakit, lelah, dan menua. Namun kebangkitan Yesus memberi kita janji yang melampaui keterbatasan ini. Tuhan menyiapkan bagi kita tubuh sorgawi yang mulia, tubuh yang tidak lagi dikuasai penderitaan, air mata, dan kematian. Karena itu, jangan biarkan kelemahan fisik membuat kita kehilangan harapan. Apa yang kita alami sekarang bersifat sementara. Masa depan kita di dalam Tuhan adalah pemulihan yang sempurna dan kemuliaan yang kekal. Pengharapan ini memberi kekuatan bagi kita untuk tetap setia dan bersukacita hari demi hari. Namun pengharapan akan tubuh yang mulia bukan alasan untuk meremehkan hidup saat ini. Justru sebaliknya, pengharapan itu mengubah cara kita menjalani hidup sekarang. Kita tidak hidup untuk mengejar kesenangan sesaat, tetapi untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan kekal. Tubuh yang rapuh ini adalah tempat kita belajar setia sebelum kita menerima yang mulia. Jangan menyerah pada keadaan tubuh fisik kita yang lemah atau keadaan keluarga yang sulit. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa dari tempat yang gelap (kubur/masalah), Tuhan bisa memunculkan kehidupan yang baru dan penuh kemuliaan.

Doa:  Terima kasih Tuhan Yesus, atas kekuatan bagi kami sekeluarga,  Amin.

Kamis, 9 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 50 – 58 (TB2)

50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mewarisi apa yang tidak binasa. 51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, 52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. 53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. 54 Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, akan digenapi firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. 55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" 56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. 57 Namun syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. 58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Teguh Beriman dan Giat Melayani

Kebangkitan Kristus bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi. Paulus mengingatkan bahwa iman kepada Kristus yang bangkit harus mendorong jemaat di Korintus dan kita  di saat ini untuk berdiri teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Keluarga yang percaya pada kuasa Paskah seharusnya menjadi keluarga yang aktif mengasihi dan melayani. Jangan goyah oleh ajaran sesat atau penderitaan. Fokuskan energi pada hal yang baik atau positif. Yakinlah, setiap jerih payah dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap kebaikan kecil, setiap pelayanan sederhana, setiap kasih yang kita taburkan dan setiap doa yang kita sampaikan. Mari terus melangkah dengan setia, menjadikan keluarga kita alat berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita. Namun seringkali kita mudah lelah, kecewa, bahkan berhenti melayani karena merasa tidak dihargai. Kita mengukur pelayanan dengan hasil yang terlihat. Padahal kebangkitan Kristus mengingatkan kita bahwa yang tidak terlihat pun berharga di mata Tuhan. Kesetiaan tidak diukur dari besar kecilnya hasil, tetapi dari ketekunan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami agar tidak goyah dan lemah dalam melayaniMu, . Amin.

Jumat, 10 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 11 : 17 – 32 (TB2)

17 Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Namun Maria tinggal di rumah. 21 Lalu kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Namun sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Kata Yesus kepadanya: "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia." 28 Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi menemui Dia. 30 Namun waktu itu Yesus belum sampai di kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

Percaya Tuhan, Hidup Penuh Harapan

Pernahkah kita merasa Tuhan terlambat menolong? Maria dan Marta pernah merasakan hal itu. mereka berada dalam kesedihan mendalam saat Lazarus saudara laki-laki merea meninggal. Dalam situasi itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Ia menunjukkan bahwa di tengah keadaan paling gelap sekalipun, kuasa Allah sanggup menghadirkan kehidupan baru. Begitu juga dalam kehidupan keluarga kita. Masalah boleh terasa buntu, harapan boleh tampak mati, tetapi Tuhan tidak pernah kehabisan jalan. Selama kita percaya dan mengandalkan-Nya, selalu ada pengharapan yang hidup dan masa depan yang dipulihkan oleh kasih-Nya.Namun iman seringkali diuji justru ketika Tuhan tampak terlambat. Maria dan Marta percaya, tetapi mereka juga kecewa: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Kalimat itu adalah suara banyak orang percaya. Kita percaya, tetapi kita juga bertanya mengapa Tuhan terlambat menolong. Tapi di sini kita belajar, waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Itu juga bukan berarti Tuhan tidak peduli. Justru di tangan Tuhan, “terlambat” merupakan persiapan untuk mujizat yang lebih besar. Tetaplah percaya pada perkataan Tuhan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup”!.

Doa:  Tuhan, beri kami kekuatan  dan percaya pada waktu-Mu yang tepat dalam bekerja Amin.

Sabtu, 11 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 11 : 33 – 44 (TB2)

33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan begitu juga orang-orang Yahudi yang datang bersama dia, kesallah hati-Nya. Ia terguncang dan berkata: 34 "Di manakah kamu baringkan dia?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Lalu menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!" 37 Namun beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang mencelikkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?" 38 Yesus sekali lagi kesal, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." 40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" 41 Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." 43 Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah keluar!" 44 Orang yang telah mati itu keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Kemuliaan Allah Nyata, Tetaplah Percaya!

Kisah tentang kebangitan Lazarus, bukan sekedar tentang kekuatan kuasa Allah dalam Kristus yang bangkit. Kisah ini adalah kisah tentang kedalaman kasih Allah bagi kita manusia, sebab kita melihat Yesus yang tersentuh hatinya dan bahkan menangis. Itu artinya Tuhan Yesus tidak pernah jauh atau dingin dan tidak peduli dengan penderitaan kita. Apa yang dilakukan-Nya dengan membangkitkan Lazarus memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus juga merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Maria dan Marta, saudara perempuan Lazarus. Ketika Ia berkata, Akulah kebangkitan dan hidup. Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengubah duka menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya ada kehidupan bagi orang percaya. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk percaya pada-Nya, pada semua rencana-Nya dalam kehidupan kita, bahkan saat kita berada di ”depan kubur” persoalan dan pergumulan kita. Jangan biarkan keraguan ada dalam hati sehingga iman dan percaya kita menjadi goyah kepada Tuhan. Kemuliaan Allah nyata, jadi tetaplah percaya!

Doa:  Tuhan, teguhkanlah iman dan percaya kami bahwa Engkaulah kebangkitan dan Hidup Amin.

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM