Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemberdayaan yang Holistik
Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga dan Pemulihan Persaudaraan
Minggu, 28 Juni 2026
bahan bacaan : Kejadian 33 : 1-17 (TB2)
Yakub berdamai dengan Esau
Yakub melayangkan pandangnya, dan melihat Esau datang bersama empat ratus orang. Lalu diserahkannya sebagian dari anak-anak itu kepada Lea, sebagian kepada Rahel dan sebagian lagi kepada kedua hamba perempuan itu. 2 Ia menempatkan hamba-hamba perempuan itu beserta anak-anak mereka di depan, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. 3 Dan ia sendiri berjalan di depan mereka. Ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat saudaranya itu. 4 Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, mendekapnya, memeluk lehernya lalu diciumnya dia. Mereka pun bertangis-tangisan. 5 Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dan melihat perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: "Siapakah orang-orang yang beserta engkau?" Jawab Yakub: "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." 6 Sesudah itu hamba-hamba perempuan itu pun mendekat beserta anak-anaknya, lalu sujudlah mereka. 7 Lea beserta anak-anaknya juga mendekat, dan merekapun sujud. Kemudian Yusuf beserta Rahel mendekat, dan mereka pun sujud. 8 Berkatalah Esau: "Untuk apakah seluruh rombonganmu yang telah bertemu dengan aku tadi?" Jawabnya: "Untuk mendapat kemurahan hati tuanku." 9 Tetapi kata Esau: "Yang ada padaku sudah banyak, adikku; biarlah yang ada padamu tetap milikmu." 10 Sahut Yakub: "Janganlah kiranya demikian; jika aku mendapat kemurahan hatimu, terimalah pemberianku ini dari tanganku, karena memang melihat wajahmu saja bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan kepadaku. 11 Terimalah kiranya pemberianku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah mengasihani aku dan aku mempunyai segala-galanya." Lalu ia mendesak Esau, sehingga diterimanya. 12 Kata Esau: "Baiklah kita berangkat meneruskan perjalanan; aku akan berjalan bersamamu." 13 Namun Yakub berkata kepadanya: "Tuanku sendiri tahu bahwa anak-anak ini tidak kuat. Lagi pula, beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika dipaksakan satu hari saja, seluruh kawanan ternak itu akan mati. 14 Kiranya tuanku berjalan mendahului hambamu ini. Aku mau bergerak perlahan-lahan menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir." 15 Kata Esau: "Kalau begitu, baiklah kutinggalkan padamu beberapa orang yang menyertaiku." Tetapi Yakub berkata: "Mengapa harus demikian? Cukuplah aku mendapat kemurahan hati tuanku saja." 16 Pada hari itu juga Esau melakukan perjalanan pulang ke Seir. 17 Namun Yakub berangkat ke Sukot, lalu mendirikan rumah bagi dirinya, dan membuat gubuk-gubuk untuk ternaknya. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Sukot.
Kasih Persaudaraan dalam Rumah Tangga
Konflik dalam rumah tangga, baik antara orang tua dan anak maupun antar saudara, sering kali tidak terhindarkan. Penyebabnya bisa persoalan besar yang rumit, tetapi juga hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk hingga melukai relasi. Esau dan Yakub, dua saudara kembar, terjebak konflik karena memperebutkan berkat Ishak, ayah mereka. Kedekatan sebagai saudara kembar ternyata tidak menjamin bebas dari pertikaian. Konflik itu menciptakan jarak panjang dan kepahitan mendalam. Bacaan ini mengisahkan rekonsiliasi mereka. Setelah Yakub melarikan diri dari Laban dan bergumul dengan Allah di Pniel, hatinya diubahkan. Pergulatan itu menjadi jalan pemulihan relasinya dengan Esau. Saat mereka bertemu, kesenjangan yang lama berubah menjadi kerendahan hati dan penghormatan. Esau berlari menyambut Yakub, memeluk dan mencium dia, lalu mereka menangis bersama. Dalam rencana Allah, pergumulan Yakub berubah menjadi perjumpaan penuh kasih. Allah menyediakan waktu yang tepat untuk pemulihan bagi setiap orang yang berserah kepada-Nya.
Doa Tuhan ajarilah kami untuk menjaga kasih persaudaraan. Amin.
Senin, 29 Juni 2026
bahan bacaan : Kejadian 13 : 1 -18 (TB2)
Abram dan Lot berpisah
Abram kemudian berangkat dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya serta segala miliknya, Lot juga bersama dia. 2 Abram sangat kaya, memiliki banyak ternak, perak dan emas. 3 Ia berjalan Tanah Negeb, dari persinggahan ke persinggahan, sampai dekat Betel, tempat kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 dan tempat mezbah yang dibuatnya dahulu; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 5 Lot yang ikut bersama Abram, juga mempunyai kambing domba dan kawanan lembu dan kemah. 6 Tetapi negeri itu tidak memungkinkan bagi mereka untuk tinggal bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. 7 Lalu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Pada waktu itu orang Kanaan dan orang Feris tinggal di negeri itu. 8 Berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada pertengkaran antara aku dan engkau, dan antara gembalaku dan gembalamu, sebab kita ini kerabat.
Hubungan Kekerabatan Lebih Baik Dari Pada Harta
Nama baik lebih berharga daripada harta…” adalah penggalan lagu rohani yang dipopulerkan pada tahun 90-an oleh grup vokal Maluku, Nanaku bersama Elzanosa. Lagu ini terinspirasi dari Amsal 22:1-4 tentang pilihan hidup yang bijaksana. Jauh sebelumnya, Abram dan Lot juga diperhadapkan pada pilihan serupa. Saat terjadi perselisihan antara para gembala mereka di tanah Negeb, Abram dengan rendah hati memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih wilayah terlebih dahulu. Lot memilih Lembah Yordan yang subur dan berair banyak, lalu berkemah dekat Sodom. Namun kesuburan itu tidak sebanding dengan kondisi rohani penduduknya yang jahat. Sodom dan Gomora akhirnya dimusnahkan Tuhan karena kejahatan mereka. Sebaliknya, Abram memilih tinggal di Mamre dan mendirikan mezbah bagi Tuhan. Meski wilayah itu tidak sesubur Lembah Yordan, Tuhan justru memberkati Abram dan menjanjikan keturunan sebanyak debu tanah. Kisah ini mengajarkan bahwa melibatkan Tuhan dalam setiap pilihan hidup membawa berkat sejati. Harta dan kelimpahan tidak menjamin kebahagiaan atau keselamatan. Nama baik, ketaatan, dan kesetiaan kepada Tuhanlah yang menghadirkan berkat yang kekal.
Doa Tuhan bimbinglah kami utnuk tetap setia dan berlaku baik. Amin.
Selasa, 30 Juni 2026
bahan bacaan : Mazmur 133 : 1 – 3 (TB2)
Persaudaraan yang rukun
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara berdiam bersama dengan rukun! 2 Seperti minyak yang berharga di atas kepala meleleh ke janggut, ke janggut Harun, turun ke leher jubahnya. 3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
Persaudaraan Yang Rukun Tersedia Berkat Tuhan
Mazmur 133:1-3 menyampaikan pesan indah tentang kekuatan persatuan di antara saudara-saudara seiman. “Betapa baik dan menyenangkannya, jika saudara-saudara hidup dalam persekutuan.” Ungkapan ini mengajak kita menyadari betapa berharganya kebersamaan. Di tengah kesibukan dan kecenderungan hidup individualis, persatuan menghadirkan kehangatan, dukungan, dan rasa aman. Dalam kebersamaan, kita saling menguatkan dan merasakan kasih yang nyata. Mazmur ini menggambarkan persatuan seperti minyak yang harum di kepala Harun, melambangkan berkat dan pengudusan dari Tuhan. Persatuan juga diibaratkan seperti embun dari Gunung Hermon yang turun menyegarkan, menjadi simbol kehidupan dan anugerah Allah yang mengalir kepada umat-Nya. Artinya, ketika umat hidup dalam kasih dan damai, Tuhan sendiri mencurahkan berkat-Nya. Walaupun ditulis ribuan tahun lalu, pesan Mazmur 133 tetap relevan. Di tengah dunia yang penuh perbedaan dan konflik, persatuan menjadi kesaksian tentang kuasa kasih Tuhan. Kebersamaan bukan hanya mempererat relasi, tetapi juga menghadirkan kehidupan yang bermakna.
Doa Tuhan, kami mau hidup rukun agar kami jadi berkat bagi banyak orang. Amin
Rabu, 1 Juli 2026
bahan bacaan : Amsal 18 : 19 – 21 (TB2)
19 Saudara yang disakiti lebih sulit didekati dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran itu seperti palang gerbang sebuah puri. 20 Dari hasil mulutnya perut seseorang dikenyangkan, hasil bibirnya mengenyangkan dia. 21 Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggunakannya, akan memakan buahnya.
Jaga Mulut
Hari ini kita memperingati Hari Bhayangkara yang ke-80 tahun sebagai bentuk penghormatan atas lahirnya Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI). Sejak tahun 1946 Polri telah mendedikasikan dirinya kepada tanah air Indonesia. Bersama Polri kita bertanggung jawab menjaga NKRI. Begitu pula dengan kehidupan keimanan kita. Kalau kita mau hidup baik maka kita harus “jaga mulut”. Inilah pernyataan kebenaran dalam Amsal 18:19-21. “Hidup dan mati dikuasai lidah siapa suka menggunakannya, akan memakan buahnya”(ayat 21). Demi kehidupan persaudaran maka kita dituntut untuk bijak dalam berkata-kata. Ada mulut yang menyampaikan kata-kata tidak pantas. Ada mulut yang tidak bisa menjaga rahasia. Ada mulut yang suka menyebarkan berita yang belum tentu benar. Bila kita tidak menjaga mulut secara baik maka akan timbul banyak masalah termasuk dalam hidup persaudaraan. Saudara bisa saling menjual saudara dengan kata-kata atau juga melemparkan kata yang menyakiti saudara. Hubungan tali persaudaraan bisa saja putus hanya karena kata-kata yang salah. Sebagaimana Polri tetap menunjukkan komitmennya dalam menjaga negara tercinta Indonesia, sebagai orang percaya, kita terpanggil untuk juga tetap jaga hidup yang baik di hadapan Tuhan. Ingatlah, mulutmu adalah harimaumu. Karenanya, jaga mulut kalau berbicara.
Doa: Tuhan ajar kami bijaksana mengeluarkan setiap perkataan dari mulut kami, amin.
Kamis, 2 Juli 2026
bahan bacaan : Kejadian 45 : 1 – 15 (TB2)
Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya
Yusuf tidak dapat lagi menahan hatinya lagi di hadapan semua hambanya, lalu ia berseru: "Suruhlah semua orang keluar dari sini." Maka tidak ada seorangpun yang tinggal di situ bersama Yusuf ketika ia menyatakan dirinya kepada saudara-saudaranya. 2 Lalu ia menangis keras-keras, sehingga kedengaran oleh orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun pun mendengar hal itu. 3 Kata Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Aku ini Yusuf! Masih hidupkah ayah?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka terperanjat ketakutan dihadapannya. 4 Kemudian Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya itu: "Mendekatlah kepadaku." Lalu merekapun mendekat. Katanya lagi: "Aku ini Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. 5 Sekarang janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini. Justru untuk menyelamatkan hiduplah Allah mengutus aku mendahului kamu. 6 Sebab baru dua tahun terjadi kelaparan di negeri ini dan masih lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. 7 Allah telah mengutus aku mendahului kamu untuk menjaga kelanjutan keturunanmu di bumi dan memelihara hidupmu, sehingga banyak yang selamat. 8 Jadi bukan kamu yang mengutus aku ke sini, melainkan Allah; Dialah yang telah menjadikan aku bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya serta pemegang kuasa atas seluruh tanah Mesir. 9 Segeralah kembali kepada ayah dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menjadikan aku tuan atas seluruh Mesir; datanglah kepadaku, janganlah menunda-nunda. 10 Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan dekat dengan aku, engkau beserta anak dan cucumu, kambing domba dan lembumu serta segala milikmu. 11 Di sanalah aku akan memelihara engkau, sebab masih lima tahun lagi kelaparan ini, supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. 12 Kamu dan saudaraku Benyamin melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. 13 Ceritakanlah kepada ayah segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa ayah ke sini." 14 Lalu dipeluknya Benyamin, adiknya itu, sambil menangis, dan Benyamin pun menangis pada bahu Yusuf. 15 Yusuf mencium semua saudaranya dan menangis pada bahu mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia.
Tetaplah Bersikap Baik
Kebesaran hati dalam menerima dan bersikap baik terhadap orang yang telah berbuat jahat kepada kita merupakan tindakan yang mulia. Setiap orang percaya mesti memiliki karakter ini. Hal tersebut memang tidak mudah apalagi bila orang yang berbuat jahat itu bukan orang yang tidak kita kenal melainkan adalah orang yang dikenal, dekat dengan kita dan ternyata adalah keluarga atau saudara kita sendiri. Kondisi ini pasti sangat berat. Ini pula situasi yang dialami oleh Yusuf sebagaimana dalam teks bacaan kita hari ini. Saudara-saudara Yusuf menjualnya. Di saat Yusuf menjadi penguasa di Mesir, ia memiliki kuasa untuk membalas kejahatan mereka. Ia bisa saja mempermalukan saudara-saudaranya. Ia bisa tidak peduli dengan kelaparan mereka. Tetapi inilah yang dilakukan Yusuf. Ia dengan lapang dada menerima saudara-saudaranya. Ia tidak membalas kejahatan mereka dengan kejahatan, sebaliknya dengan kasih Yusuf menerima kembali saudara-saudaranya. Ia malah mengakui keberadaan mereka sebagai keluarganya. Tidak beda jauh dengan Yusuf, keluarga manapun pasti akan berhadapan dengan persoalan. Tetapi sebagai orang percaya, kita ingat bahwa Tuhan Yesus mengajari kita untuk selalu mengasihi sesama saudara, sesama manusia. Tuhan Yesus tidak mengajari kita untuk membenci atau mendendam.
Doa: Ya Tuhan Yesus ajar kami untuk menjadi orang baik Amin.
Jumat, 3 Juli 2026
bahan bacaan : 1 Samuel 24 : 9 -16 (TB2)
9 Kemudian Daud juga bangkit dan keluar dari gua itu, lalu berseru kepada Saul dari belakang, katanya: "Tuanku raja!" Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dan sujud menyembah dengan muka sampai ke tanah. 10 Kata Daud kepada Saul: "Mengapa engkau mendengarkan omongan orang yang mengatakan: Daud sedang berikhtiar mencelakakanmu? 11 Hari ini dengan mata kepalamu sendiri, engkau akan melihat bahwa hari ini juga TUHAN telah menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; Ada orang yang meminta aku membunuh engkau, tetapi aku menaruh belas kasihan kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan melayangkan tanganku melawan tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. 12 Lihatlah bapaku, lihatlah ujung jubahmu dalam tanganku ini! Aku memotong ujung jubahmu tetapi tidak membunuhmu. Sadarilah dan lihatlah, bahwa tanganku bersih dari kejahatan dan pengkhianatan. Aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. 13 Kiranya TUHAN bertindak sebagai hakim di antara aku dan engkau. Kiranya TUHAN melakukan pembalasan kepadamu demi aku, tetapi tanganku tidak akan melawan engkau; 14 seperti yang dikatakan peribahasa kuno: Dari orang fasik timbul kefasikan. Ya, tanganku tidak akan melawan engkau. 15 Siapakah yang diburu raja Israel? Siapakah yang kaukejar? Hanya Anjing mati! Seekor kutu belaka! 16 Kiranya TUHAN menjadi hakim dan menjatuhkan keputusan antara aku dan engkau; Kiranya Dia memperhatikan dan memperjuangkan perkaraku serta memberi keadilan kepadaku sehingga lepas dari tanganmu."
Pulihkan Relasi Melalui Pengampunan
Piring jua bisa tatoki, pica di meja makan adalah sebaris syair lagu yang menggambarkan bahwa relasi yang dibangun dalam hidup pasti tidak selamanya selalu baik-baik saja. Saul dan Daud adalah dua nama yang tidak asing di telinga kita. Dua raja Israel yang memberikan cerita hidup yang berbeda. Saul yang merasa tersaingi dan Daud yang selalu diincar untuk dibunuh. Relasi yang rusak ini bisa tetap rusak selama orang-orang yang membangun relasi tidak memiliki keinginan untuk memulihkan relasi. Daud dalam teks justru memberikan inspirasi keteladanan hidup yang baik. Walau dibenci namun Daud memilih untuk tetap tidak membalas kebencian dengan pembunuhan.Daud memiliki kesempatan tetapi ia memutuskan untuk tetap hidup dalam relasi yang baik. Katanya,“Aku menaruh belas kasih kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan melayangkan tanganku melawan tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan”. Daud takut Tuhan dan itu sebabnya ia tidak membalas kejahatan Saul. Inilah wujud hidup beriman orang Kristen yang harus dilakukan. Sikap Daud memperlihatkan bahwa pengampunan adalah jalan terbaik dalam memulihkan relasi. Daud tetap menghormati Saul dan ketulusan hatinya mendapatkan kesadaran baik dalam diri Saul. Bagaimana dengan kita? Maukah dalam hidup ini kita memulihkan relasi dengan cara saling mengampuni?.
Doa: ajari kami tetap mengampuni mereka yang bersalah kepada kami, Amin.
Sabtu, 4 Juli 2026
bahan bacaan : Amsal 20 : 3 (TB2)
3 Terhormatlah seseorang yang menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh memulai pertengkaran.
Hidup Bae Dengan Saudara
Setiap keluarga pastinya mendambakan hidupnya diwarnai dengan cinta kasih dan kebersamaan. Namun tidak jarang dari dalam keluarga bermunculan berbagai masalah. Pertengkaran yang membuat kedamaian pun menjadi sulit diwujudkan. Teks hari ini memberikan pengajaran penting tentang bagaimana mestinya keluarga Kristen membangun kehidupannya, “Terhormatlah seseorang yang menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh memulai pertengkaran”. Amsal sebagai pengajaran hikmat memberikan pemahaman bahwa dengan didasari takut akan Tuhan, kita dituntut bijaksana dalam menyikapi persoalan.Kata yang kita keluarkan dari mulut haruslah kata yang baik. Itu sebabnya penting disadari bahwa kita tidak bodoh melainkan terhormat, bila kita tidak memulai pertengkaran. Seballiknya kita tidak terhormat melainkan bodoh, bila perbantahan selalu kita buat. Keluarga-keluarga Kristen mesti memperhatikan secara baik pesan teks ini. Tidak pantas bila keluarga saling menyimpan dendam antara satu dengan yang lain. Pertengkaran dalam keluarga hanya akan menghasilkan kekacuan bahkan kehancuran. Namanya juga orang basudara jadi mestinya potong di kuku rasa di daging. Hidup orang basudara mesti mengutamakan berdamai daripada bertengkar dengan saudara. Hidup bae deng saudara.
Doa: ya Tuhan Yesus, kami mau hidup bae dengan semua orang, Amin.
*SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM