Tema Mingguan : ” Hidup Karena Kuasa Kebangkitan Kristus “
Minggu, 18 April 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 1 – 12
Petrus dan Yohanes di hadapan Mahkamah Agama Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. 2 Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. 3 Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. 4 Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki. 5 Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem 6 dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. 7 Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: "Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?" 8 Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, 9 jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, 10 maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. 11 Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru. 12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
HIDUP DALAM KUASA KEBANGKITAN KRISTUS
Berhadapan dengan dunia digital, tidaklah mengherankan jika segala sesuatu gampang viral dan diviralkan. Kenyataan memang membuktikan bahwa sampai sesuatu yang tidak benar pun dibuat seakan benar dan disebarluaskan sehingga tersebar luas dan banyak orang menjadi tahu. Jika demikian dengan orang-orang dunia, lalu bagaimanakah dengan kita yang diutus ke dalam dunia dan bergaul dengan orang dunia tersebut? Satu hal yang mesti kita ingat dari perkataan Tuhan Yesus, bahwa kita memang berada dalam dunia ini namun kita bukan berasal dari dunia ini. Dan oleh karena itu tugas kita mesti berani memviralkan tentang Tuhan Yesus yang telah mati dan bangkit bagi kita dan memberikan kita kekuatan untuk hidup dalam kuasa kebangkitanNya. Belajarlah dari Petrus yang berani menyampaikan berita injil dan berita tersebut menjadi ujian bagi para pemimpin agama yang berkeras hati untuk menerimanya. Diakui kita hidup di zaman yang senang menyatakan isi hati tetapi tidak terlatih untuk mendengarkan Tuhan. Jika pemimpin agama sudah tidak punya kepekaan untuk mendengar injil (yang di dalamnya terdapat tentang berita kebangkitan Tuhan Yesus) dan hidup di dalam kuasa injil tersebut, maka keadaan umat ke depan pasti akan suram. Papa dan mama adalah para pemimpin dalam keluarga yang bertugas menghidupkan injil dalam keluarga.Salah satu yang terpenting adalah membawa keluarga untuk tetap mengalami Tuhan yang bangkit serta hidup di dalam kuasa kebangkitanNya tersebut sehingga memampukan seisi keluarga kuat menjalani hari-hari hidup.
Doa: Tuhan Yesus, kami bersyukur Engkau telah bangkit bagi kami sehingga kami hidup dalam kuasa kebangkitanMu. Amin.
Senin, 19 April 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 20 : 7 – 12
7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. 8 Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. 9 Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. 10 Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan ribut, sebab ia masih hidup." 11 Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. 12 Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur.
MEMBANGUN KEBERSAMAAN HIDUP
Ciri hidup orang Kristen adalah berkumpul bersama, memecah-mecahkan roti, menasihati satu sama lain, saling menghibur dan menguatkan serta berdoa bersama. Hal itu pula yang dilakukan oleh Paulus dalam tugas pemberitaan Injil yang diembannya. Berkumpul bersama dan memecah-mecahkan roti merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam hidup orang percaya, termasuk keluarga kita. Sebab hal itu adalah tanda dari persekutuan hidup yang menghayati kehadiran Kristus dalam keluarga. Berkumpul dan makan bersama tidak hanya menggambarkan keutuhan dan keharmonisan hidup papa-mama dan anak-anak, tetapi terutama menampakkan penghayatan iman keluarga terhadap cinta kasih Kristus. Saat berkumpul dan makan bersama, orang tua dapat menasihati dan mengajar anak-anak tentang pentingnya hidup takut Tuhan. Anak-anak juga bisa menceritakan isi hati dan pengalaman mereka kepada papa-mama. Dengan begitu orang tua dan anak dapat saling menghibur dan menguatkan. Jika ada anak yang punya persoalan bisa dibicarakan bersama dan dicari jalan keluarnya. Sebab anak-anak zaman sekarang ini sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan, sahabat dan teman, sehingga gampang jatuh dalam sex bebas, narkoba, minuman keras, dan tindakan kekerasan. Jika hal itu dibiarkan maka hidup mereka terancam. Oleh karena itu, marilah kita mulai menata hidup keluarga kita, menetapkan waktu untuk berkumpul dan makan bersama, saling menguatkan dan berdoa bersama. Sebagai tanda kita menghayati cinta kasih Tuhan dalam hidup keluarga kita.
Doa: Tuhan, beri kami Roh dan agar kami dapat menghayati kasihMu melalui persekutuan makan bersama. Amin!
Selasa, 20 April 2021
bacaan : Roma 5 : 12 – 21
Adam dan Kristus
12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. 13 Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. 14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. 15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. 16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. 17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. 18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. 19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. 20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, 21 supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
KELUARGA YANG SALING MENGASIHI, TAAT DAN SETIA KEPADA TUHAN
Kita adalah orang-orang yang dibenarkan lewat Tuhan Yesus. Kesalahan dan dosa kita tidak lagi diperhitungkan, sebab Tuhan sudah membayarnya. Kalau Tuhan Yesus mengasihi kita dan membayar semua hutang-hutang kita, maka kita juga harus mengasihi Tuhan. Karena ketaatan dan kesetiaan Tuhan Yesus kepada Allah dan kasihNya kepada kita itulah maka Ia rela mengorbankan nyawaNya untuk keselamatan kita. Olehnya kita diajak bukan hanya mengasihi Tuhan Yesus saja, namun juga mesti taat dan setia kepadaNya, sekalipun ada banyak tantangan dan kesulitan yang harus kita hadapi. Sebab menjadi orang yang diselamatkan, tidak berarti hidup kita tanpa kesulitan. Justru dalam kesulitan kita menjadi kuat karena Tuhan selalu menyertai kita.
Pertanyaannya, bagaimana cara mengasihi Tuhan Yesus serta taat dan setia kepadaNya? Yaitu dengan selalu rajin berdoa dan membaca Alkitab supaya kita mengenal kehendak Tuhan dan melakukannya. Sebab kita tidak cukup hanya tahu, tapi melakukan apa yang kita tahu itu sangatlah penting. Ada orang yang sangat rajin ke gereja juga rajin baca Alkitab, bahkan dia bisa menghafal ayat-ayat Alkitab dengan baik, tetapi di rumah dia sangat malas bekerja. Kalau papa/mama suruh dia untuk bekerja, dia marah-marah dan berkata kasar. Ini menunjukan bahwa dia tidak sayang kepada orang tua dan dia terus mengulang kesalahan yang sudah dibayar oleh Tuhan Yesus. Begitupun sebaliknya dengan papa dan mama yang suka bertengkar hanya masalah-masalah sepele. Jadi berhentilah berbuat jahat dan mulailah berbuat baik. Itulah cara hidup yang Tuhan kehendaki.
Doa: Tolong kami Tuhan supaya selalu mengasihi, taat dan setia kepada-Mu. Amin.
Rabu, 21 April 2021
bacaan : Roma 6 : 1 – 4
Mati dan bangkit dengan Kristus Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? 2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? 3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.
MATI BAGI DOSA, HIDUP BAGI ALLAH
Ada pemahaman bahwa Kristus telah mati dan bangkit untuk menebus dosa-dosa, karena itu meskipun berbuat dosa kita senantiasa memperoleh keselamatan. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh lawan-lawan Paulus menanggapi pernyataan Paulus pada pasal 5:20 yang mengatakan “hukum taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”. Menurut pendapat mereka bahwa manusia berbuat dosa lebih banyak lagi agar mendapat anugerah lebih berlipat ganda lagi. Pendapat tersebut keliru dan sangat berbahaya, karena itu Paulus tegas menentangnya dengan mengatakan “sekali-kali tidak! Karena kita telah mati bagi dosa (ay.2) dan kita telah dibaptis dalam Kristus, melalui kematian-Nya (ay.3). Paulus mengingatkan orang Kristen asal Yahudi, bahwa keselamatan yang mereka peroleh bukan karena mempraktekkan hukum taurat tetapi merupakan kasih karunia Allah yang dinyatakan melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Kita-pun diharapkan dapat merespons kebaikan Allah dengan hidup benar dan taat melakukan kehendak Tuhan. Semua orang yang sudah menerima kasih karunia Kristus, harus hidup sebagai anak-anak Allah (Gal. 2: 20). Maksudnya adalah hidup menurut roh (kasih, sukacita, sabar, lemah-lembut, kesetiaan, kebaikan, penguasaan diri, dan sebagainya) dan bukan menurut keinginan daging (percabulan, kecemaran, hawa nafsu, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora, gila hormat dan sebagainya).
Doa: Tuhan tuntunlah kami untuk mematikan perbuatan dosa dalam hidup kami, dan pimpinlah kami hidup bagi Tuhan
Kamis, 22 April 2021
bacaan : Roma 6 : 5 – 9
5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. 6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. 7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. 8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. 9 Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.
HIDUP KARENA SALIB KRISTUS
Menurut Rasul Paulus, bahwa semua orang, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi telah jatuh ke dalam dosa melalui pemberontakan mereka kepada Allah (1:18-32; 3:9). Dan akibat dosa manusia berada di bawah penghukuman Allah (Roma 6:23). Akan tetapi Allah sungguh mengasihi manusia dan bersedia berdamai dengan manusia di dalam pengampunan-Nya. Ia rela menyerahkan Putra-Nya untuk mati di kayu salib. Kematian dan kebangkitan Kristus secara aktual berarti kita mengalami pengalaman yang serupa “Mati dan bangkit bersama Kristus” sebagai sarana untuk mempersatukan kita dengan Kristus (ay.5). Oleh sebab itu, Kematian dan kebangkitan Kristus memberi kita konsekuensi untuk mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Artinya, meninggalkan kehidupan yang lama (hidup didalam dosa) dan jangan lagi membiarkan hidup dikuasai oleh dosa (diperbudak oleh dosa). Dengan demikian, merayakan minggu-minggu sengsara, kematian dan Kebangkitan Kristus (paskah) hendaknya membawa perubahan baru dalam hidup kita. Perubahan itu dinyatakan melalui iman dan pengharapan kepada Kristus di dalam berbagai pergumulan dan persoalan hidup, khususnya di tengah-tengah situasi krisis hidup menghadapi pandemic covid 19 yang semakin menakutkan karena munculnya varian baru yang semakin berbahaya. Hal ini sangat berdampak terhadap kehidupan, kesehatan, pendapatan, dan sebagainya. Selain itu, menghadapi berbagai krisis hidup, hendaknya kita saling menopang dan berbagi seorang seorang terhadap yang lain agar keberlangsungan hidup tetap berjalan dengan baik. Tuhan menolong kita semua.
Doa: Tuhan, tolong kami untuk memuliakanMu melalui hidup yang taat, setia dan benar, amin
Jumat, 23 April 2021
bacaan : Roma 6 : 12 – 14
12 Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. 13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. 14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.
PAKAILAH TUBUHMU BAGI KEMULIAAN ALLAH
Seorang pemuda memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman keras (sopi). Hal ini mengakibatkan ia jatuh sakit dan dibawa ke dokter. Dalam pemeriksaan tersebut, terjadi dialog antara dokter dan si pemuda tersebut: Dokter: saudara terlalu banyak minum sopi akibatnya terdapat gangguan pada hati (lever). Pemuda: Saya tidak mengerti penjelasan dokter. Dokter: (sambil mengambil gelas berisi sopi didalamnya ada cacing yang sudah mati), jika saudara terus minum sopi maka nasib saudara akan sama seperti cacing di dalam gelas ini. Pemuda: Dokter, anda keliru sekali! Justru mengkonsumsi sopi yang banyak maka cacing dalam perut saya akan mati dan saya akan tetap sehat. Perkataan si pemuda ini membenarkan kebiasaan buruk yang membahayakan kesehatan dan keselamatan dirinya. Ilustrasi ini mau mengatakan bahwa kita sulit untuk meninggalkan kebiasaan yang salah (dosa). Hal yang sama juga diperlihatkan oleh orang Kristen di Roma, dimana mereka memiliki kebiasaan menyerahkan anggota-anggota tubuh mereka kepada dosa; mereka mencemarkan tubuh, menyembah alah lain, kelaliman, keserakahan, kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, pemfitnah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak setia, tidak mengenal belas kasihan, dan sebagainya (Roma 1:18-32). Paulus menasihatkan orang-orang Kristen di Roma supaya berhenti menyerahkan anggota-anggota tubuh tetapi juga totalitas kehidupan kepada dosa karena kasih karunia Tuhan telah dilimpahkan. Perayaan Paskah Kristus mengingatkan bahwa kita sudah merdeka dari dosa karena itu jangan menjadi hamba dosa lagi, melainkan menjadi manusia baru didalam Kristus melalui pertobatan hidup.
Doa: Tuhan tuntunlah kami untuk mematikan perbuatan dosa dalam hidup kami, dan pimpinlah kami hidup bagi Tuhan. Amin
Sabtu, 24 April 2021
bacaan : 2 Korintus 4 : 7 – 12
7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.
SEMAKIN DIBABAT, SEMAKIN MERAMBAT
Salah satu buku terkenal, berjudul “Semakin Dibabat Semakin Merambat” mengisahkan tentang penganiayaan yang dialami oleh para martir pada abad-abad pertama, ketika mereka dipaksa untuk berpaling dari imannya kepada Kristus, algojo-algojo dikerahkan untuk menyiksa mereka dengan berbagai cara, dari fajar hingga senja. Tidak hanya siksaan jasmaniah yang mereka alami tetapi juga batiniah; kehilangan atau kematian anak, orang tua, suami atau istri: yang peristiwanya sering kali terjadi di depan mata mereka sendiri. Namun para martir itu tetap dan semakin berpegang teguh pada imannya dan bahkan jumlahnya pun semakin bertambah. Pengalaman Penganiayaan karena iman kepada Kristus juga dialami oleh orang Kristen pada saat itu dan Paulus sendiri ketika ia melaksanakan tugas pemberitaan Injil yang dianggapnya sebagai harta yang indah yang dipercayakan Kristus kepadanya (ay.7). Dan akibat dari tugas tersebut, maka ia harus mengalami cemohan, caci maki, dibenci bahkan dipenjarakan. Paulus senantiasa mampu bertahan dan menjalaninya, karena Allah menganugerahkan kekuatan (kuasa) yang berlimpah-limpah kepadanya (ay.8-9). Paulus, memahami bahwa Allah tidak meninggalkannya sendiri; ketika ia jatuh ia bangun kembali, ketika ia kalah iapun tahu bahwa pada akhirnya ia tidak akan pernah kalah dalam perjuangan. Kematian dan kebangkitan Kristus menghadirkan kehidupan kekal, “tidak ada salib, maka tidak ada mahkota”. Orang percaya dipanggil untuk memberitakan injil Kristus kepada dunia dengan taat dan setia dalam keadaan bagaimana pun. Ingatlah Firman Tuhan: ”Aku Menyertai kamu senanantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28: 20).
Doa: Ya Tuhan, tinggallah didalamku dan kuatkanlah aku untuk memberitakan kabar baik bagi sesama, supaya orang melihat Engkau dan kekuatan-Mu dalam diriku, Amin.
*sumber : SHK April 2021, LPJ-GPM