Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Mengokohkan Gereja Rumah Tangga Untuk Kesejahteraan Bersama

Minggu, 19 April 2026

bahan bacaan : Nehemia 5 : 1 – 13 (TB2)

Keluhan rakyat dan tanggapan Nehemia
Terdengarlah keluhan keras dari rakyat dan para isteri terhadap sesama orang Yahudi. 2 Ada yang berkata: "Kami serta anak laki-laki dan anak perempuan kami banyak; kami harus mendapat gandum, supaya kami bisa makan dan hidup." 3 Ada pula yang berkata: "Ladang, kebun anggur dan rumah kami gadaikan untuk mendapat gandum pada masa kelaparan." 4 Juga ada yang mengatakan: "Kami harus meminjam uang untuk membayar pajak yang dikenakan raja atas ladang dan kebun anggur kami. 5 Sekarang, walaupun kami ini sedarah sedaging dengan saudara-saudara sebangsa kami dan anak-anak kami sederajat dengan anak-anak mereka, namun kami terpaksa membiarkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami menjadi budak. Bahkan beberapa anak perempuan kami harus kami biarkan dimiliki orang. Kami tidak dapat berbuat apa-apa, karena ladang dan kebun anggur kami sudah di tangan orang lain." 6 Mendengar keluhan mereka dan berita-berita itu aku menjadi sangat marah. 7 Setelah mempertimbangkannya baik-baik, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku kepada mereka: "Kamu masing-masing telah makan riba dari saudara-saudaramu!" Lalu kuadakan sidang jemaah yang besar terhadap mereka. 8 Kataku kepada mereka: "Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang Yahudi yang dijual kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi, kamu justru menjual saudara-saudaramu, supaya mereka dijual lagi kepada kami!" Mereka berdiam diri karena tidak dapat membantah. 9 Aku berkata lagi : "Tidak patut apa yang kamu lakukan itu! Bukankah kamu harus hidup dalam takut akan Allah kita supaya terhindar dari cercaan bangsa-bangsa lain, musuh-musuh kita? 10 Juga aku, saudara-saudaraku dan anak buahku telah meminjamkan uang dan gandum kepada mereka. Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu! 11 Kembalikan hari ini juga kepada mereka ladang, kebun anggur, kebun zaitun dan rumah mereka. Juga hapuslah utang mereka, yakni uang serta gandum, anggur dan minyak yang kamu pinjamkan kepada mereka!" 12 Jawab mereka: "Kami akan mengembalikan! dan tidak akan menuntut apa-apa dari mereka. Kami akan lakukan seperti yang engkau perintahkan!" Lalu aku memanggil para imam dan menyuruh orang-orang itu bersumpah, untuk menepati janji mereka. 13 Aku juga mengebaskan lipatan bajuku sambil berkata: "Begitulah setiap orang yang tidak menepati janji ini akan dikebas Allah dari rumahnya dan hasil jerih payahnya. Demikianlah ia dikebas dan menjadi melarat!". Seluruh jemaah berkata: "Amin," lalu memuji-muji TUHAN. Rakyat pun menepati janjinya itu.

Kokohkan Keluarga, Sejahterakan Sesama

Krisis dalam kisah di Nehemia 5 ini bermula dari rumah tangga yang terhimpit hutang dan kelaparan, yang kemudian memicu konflik sosial lebih luas. Nehemia menyadari bahwa pembangunan fisik menjadi sia-sia jika keluarga-keluarga Yahudi hancur secara internal. Ketidakadilan terjadi ketika yang kuat mengeksploitasi yang lemah demi keuntungan pribadi. Nehemia hadir bukan hanya sebagai gubernur, tetapi sebagai bapak yang memulihkan tatanan keluarga. Ia menyerukan penghentian riba dan pengembalian tanah agar setiap keluarga memiliki martabat dan sumber penghidupan kembali. Nehemia mengajarkan bahwa kesejahteraan bersama dimulai ketika kita berhenti mementingkan diri sendiri dan mulai peduli pada keberlangsungan hidup saudara kita. Mengokohkan keluarga berarti membangun manajemen ekonomi keluarga yang sehat dan berkeadilan. Keluarga harus menjadi tempat pertama di mana nilai-nilai kejujuran, saling menopang dan pola hidup ugahari dipraktikkan. Jangan biarkan gaya hidup konsumtif atau keserakahan merusak relasi persaudaraan. Saat keluarga kita diberkati, tujuannya bukan untuk menimbun kekayaan, melainkan menjadi saluran berkat bagi keluarga lain yang kekurangan. Gereja yang kuat adalah gereja yang terdiri dari keluarga-keluarga yang saling peduli, memastikan bahwa semua anak dan sesama mendapatkan hak hidup yang layak.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami menjadi saluran berkat bagi banyak orang, Amin

Senin, 20 April 2026

bahan bacaan : Amsal 10 : 4 – 5 (TB2)

4 Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. 5 Siapa mengumpulkan di musim panas, ia anak yang berakal budi; siapa tidur di waktu panen, ia anak yang membuat malu.

Kerja Keras Berbuah Sejahtera

Setiap orang tua pasti ingin melihat anak-anaknya makan dengan cukup, sekolah dengan baik, dan tinggal di rumah yang nyaman. Namun, impian itu tidak akan pernah terwujud tanpa kerja keras. Kesejahteraan keluarga dimulai dari kemauan untuk bergerak dan berusaha. Amsal 10:4-5 menekankan bahwa jika ingin hidup  sejahtera maka harus rajin. Tangan yang malas hanya akan membawa kekurangan. Namun ada waktu untuk bekerja keras mencari nafkah, dan ada waktu untuk “mengumpulkan” kebersamaan dengan keluarga. Orang yang bijak bukan cuma rajin cari uang, tapi rajin menjaga keutuhan rumah tangganya. Oleh sebab itu, sebagai umat kita mesti  ingat bahwa kerja keras adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata kepada keluarga. Saat kita rajin bekerja, dampaknya bukan hanya soal uang di dompet, tapi soal ketenangan di dalam rumah dimana Kebutuhan keluarga terpenuhi dan orangtua menjadi teladan. Anak-anak yang melihat orang tuanya rajin akan belajar bahwa hidup harus diperjuangkan, bukan dikeluhkan. Mari kita buang rasa malas, karena kemalasan adalah pencuri kebahagiaan keluarga. Ingatlah, setiap lelah yang kita rasakan saat bekerja keras akan dibayar Tuhan dengan kesejahteraan yang dinikmati bersama seluruh isi rumah.

Doa: Tuhan, berkatilah kerja keras dan keutuhan keluarga kami, amin  

Selasa, 21 April 2026

bahan bacaan : Amsal 24 : 30 – 34 (TB2)

30 Aku melewati ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. 31 Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan semak duri, dan temboknya sudah roboh. 32 Aku memandangnya dan memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. 33 "Sebentar-sebentar tidur, sebentar-sebentar mengantuk, sebentar-sebentar melipat untuk tetap berbaring," 34 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Lawan Kemalasan Dengan Kerja Keras

Pernahkah bapak, ibu, saudara sekalian melihat kebun yang tidak terurus?. Rumput liarnya tinggi, pagarnya miring, dan hasilnya pun tidak ada. Itulah gambaran kemiskinan yang seringkali bukan datang karena kurangnya kesempatan, melainkan karena hilangnya tanggung jawab dan etos kerja dalam keluarga. Amsal 24:30-34 menggambarkan seseorang yang kehilangan kesejateraan karena sikap menunda: “Tidur sedikit lagi, mengantuk sedikit lagi. Hingga kemiskinan menyerbunya.” Tanggung jawab dan kerja keras sesungguhnya adalah pagar pelindung agar kemiskinan tidak datang. Keluarga yang bertanggung jawab tidak akan membiarkan waktu terbuang sia-sia. Ayah, ibu, dan anak-anak harus memiliki semangat yang sama untuk menuntaskan setiap tugas dengan jujur, meskipun tanpa pengawasan. Jika setiap anggota keluarga sadar akan perannya dan menolak mentalitas malas, maka kemiskinan tidak akan punya celah untuk tumbuh. Kerja keras yang dilakukan bersama-sama akan menciptakan ketahanan ekonomi dan martabat keluarga yang mulia di hadapan Tuhan dan manusia. Karenanya, jangan biarkan kemalasan meruntuhkan rumah tangga kita. Bekerjalah dengan setia dan rajin agar kesejateraan melimpah dalam rumah tangga kita.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk bekerja keras demi kesejahteraan keluarga dan kemuliaan NamaMu, amin 

Rabu, 22 April 2026

bahan bacaan : Amsal 14 : 23  (TB2)

23 Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan.

Kerja Nyata keluarga, Berkat Nyata bagi sesama

Dua saudara melihat nenek tetangga kesulitan membawa air. Yang satu berkata, “Kasihan ya,” lalu pergi. Yang lain diam-diam mengangkat air untuk nenek itu setiap sore. Siapa yang sungguh hidup dalam firman Tuhan? Yang bekerja. Amsal ini sederhana tapi tajam: “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan.” Firman Tuhan menegur kebiasaan yang sering terjadi dalam keluarga banyak rencana, banyak bicara, tapi sedikit tindakan. Tema kita menekankan gereja rumah tangga yang kokoh dan bermisi. Itu berarti rumah bukan hanya tempat berdiskusi tentang kasih, tetapi tempat kasih itu dikerjakan. Kesejahteraan bersama dalam keluarga tidak lahir dari kata-kata belaka, melainkan dari kerja nyata: orang tua setia bekerja, anak-anak belajar tanggung jawab, keluarga mau melayani sesama. Pelayanan sosial pun dimulai dari rumah, dengan melatih hati peka, tangan siap menolong, dan kaki mau melangkah. Keluarga yang berjerih lelah bersama akan bertumbuh kuat, diberkati, dan menjadi saluran berkat.

Doa :  Tuhan, mampukan keluarga kami setia bekerja, saling menolong, dan menjadi berkat. Amin. 

Kamis, 23 April 2026

bahan bacaan : Amsal 14 : 31 (TB2)

31 Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa berbelas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Memuliakan Pencipta Melalui Kasih kepada Sesama

Pernahkah kita berpikir bahwa sikap kita kepada orang kecil sebenarnya adalah cerminan sikap kita kepada Tuhan? Seringkali kita rajin beribadah, namun lupa bahwa “ibadah” yang sesungguhnya juga terjadi di luar gedung gereja, saat kita bertemu dengan mereka yang terpinggirkan. Amsal 14:31 menegaskan: “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia, sehebat atau seahli apa pun mereka, diciptakan oleh Tangan yang sama. Saat kita meremehkan orang lemah, kita sedang “menampar” wajah Allah yang membentuk mereka. Sebaliknya, melayani orang miskin dengan kasih bukan sekadar aksi sosial, melainkan bentuk penyembahan yang nyata kepada Tuhan, bentuk kita memuliakan Allah. Di tengah dunia yang cenderung menghargai orang karena jabatan atau kekayaannya, mari kita tampil beda. Jangan biarkan ada penindasan dalam bentuk apa pun,  baik verbal ataupun  non verbal di lingkungan keluarga kita maupun ketika bersama orang lain. Jadikanlah setiap uluran tangan kita sebagai cara untuk memuliakan Tuhan. Ingatlah, saat kita memanusiakan manusia, di situlah kita sedang memuliakan Allah.

Doa: Tuhan ingatkan kami untuk memuliakan namaMu melalui tindakan baik kepada sesama, amin 

Jumat, 24 April 2026

Bahan Bacaan : 2 Tesalonika 3 : 6 -12 (TB2)

6 Namun kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. 7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak malas bekerja di antara kamu, 8 dan tidak makan roti orang dengan cuma-cuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. 9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. 10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang diantara kamu yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 12 Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.

Iman yang Bekerja di Rumah

Seperti pelita yang harus diisi minyak agar tetap menyala, iman keluarga perlu “diisi” melalui kerja, tanggung jawab, dan pelayanan nyata. Rasul Paulus menegur jemaat yang terbiasa banyak bicara, tetapi enggan bekerja. Ia menegaskan bahwa hidup beriman bukan soal kata-kata rohani saja, melainkan kesediaan berjerih lelah dengan tertib. Prinsip ini sangat kuat untuk gereja rumah tangga. Keluarga Kristen dipanggil bukan hanya berdiskusi tentang kasih, pelayanan, dan kepedulian sosial, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata. Orang tua bekerja dengan jujur dan penuh rasa tanggung jawab, anak belajar dengan tekun, dan setiap anggota rumah hidup saling membantu. Dari rumah yang rajin, lahir kesejahteraan bersama bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga damai, saling menghargai, dan rasa peduli. Saat keluarga setia dalam hal-hal yang kecil, mereka sedang bermisi: menjadi kesaksian melalui pelayanan sosial, berbagi kepada yang membutuhkan, dan menunjukkan bahwa iman kepada Kristus menghasilkan kerja nyata. Gereja rumah tangga yang kokoh adalah keluarga yang tidak malas, tetapi giat, tertib, dan setia melakukan kehendak Tuhan setiap hari.

Doa Tuhan, kuatkan keluarga kami untuk setia bekerja dan saling melayani. Amin

Sabtu, 25 April 2026

bahan bacaan : Amsal 21 : 25 – 26 (TB2)

25 Pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja. 26 Keinginannya bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas.

Keinginan Tanpa Tindakan

Di era modern ini, kita sering terjebak dalam budaya ingin cepat kaya atau mencari kenyamanan tanpa perjuangan. Dalam bacaan hari ini Amsal berkata bahwa orang malas dibunuh oleh keinginannya sendiri. Mengapa? Karena si pemalas memiliki segudang keinginan, tetapi tangannya enggan bekerja. Keinginan itu tidak salah, tetapi tanpa tindakan, keinginan hanya menjadi mimpi kosong. Semakin besar impian seseorang tanpa dibarengi kerja keras, semakin besar rasa frustrasi, irihati dan kepahitan yang muncul dalam dirinya. Berbeda dengan orang benar yang bekerja keras bukan hanya untuk menimbun tetapi mau memberi, karena hidupnya diisi kerja yang setia dan hati yang peduli. Dalam gereja rumah tangga, kita sering rindu keluarga sejahtera, anak-anak diberkati, dan hidup cukup. Kuncinya hanya satu: jangan malas. Kemalasan bukan hanya soal tidur seharian, tidak mau kerja, tapi juga soal menunda-nunda tanggungjawab yang seharusnya diselesaikan sekarang. Hidup yang berkelimpahan tidak ditemukan dalam tumpukan keinginan yang tidak terlaksana, melainkan dalam ketekunan tangan yang bekerja dan ketulusan hati yang memberi.

Doa Tuhan, ajari kami untuk tidak hanya punya banyak keinginan, tapi bekerja keras untuk mewujudkannya. Amin.  

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga Menjadi Basis Misi

Minggu, 12 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 1 – 8 (TB2)

Paulus di Korintus
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. 2 Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus dan baru datang dari Italia, dan dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah di rumah mereka. 3 Karena memiliki pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. 4 Setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. 5 Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman, dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah Mesias. 6 Ketika orang-orang itu melawan dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: "Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain." 7 Ia keluar dari situ, lalu pergi ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang takur akan Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. 8 Namun Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan dibaptis.

Rumah Tangga Tempat Persemaian Injil  

Ketika Paulus tiba di Korintus, ia bertemu dengan Akwila dan Priskila. Menariknya, titik temu mereka bukan hanya karena panggilan pelayanan, tetapi juga sama-sama  kerja: Mereka semua tukang kemah. Rumah tangga Akwila dan Priskila menjadi ruang kerja sekaligus ruang kesaksian. Ketika paulus setia mengajar di rumah ibadat, ia menghadapi penolakan keras dan hujatan, namun ia tidak berhenti. Paulus kemudian menumpang di rumah Titius Yustus, seorang yang takut akan Allah, yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Hasilnya luar biasa: Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya, ia beserta dengan seluruh seisi rumahnya. Dalam budaya Alkitab, ketika kepala keluarga percaya, seluruh ekosistem rumah tangga (keluarga, hamba, sahabat) ikut terpapar kebenaran. Rumah Yustus menjadi basis misi Kerajaan Allah yang strategis. Hal ini mau menegaskan bahwa Gereja rumah tangga adalah basis atau tempat di mana nilai-nilai iman, karakter dan moral diajarkan dan dipraketkkan dalam keseharian hidup. Mari jadikan rumah tangga, keluarga kita tempat dimana Injil Kristus dihidupi  dan disaksikan agar orang lain pun dapat menikmati anugerah keselamatan dari Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami ladang Injil dan berbias keluar bagi kemuliaan namaMu. Amin.

Senin, 13 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 18 – 23 (TB2)

Paulus kembali ke Antiokhia
18 Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. 19 Sampailah mereka di Efesus, dan Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi. 20 Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya. 21 Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus. 22 Ia sampai di Kaisarea dan setelah pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada jemaat, ia berangkat ke Antiokhia. 23 Setelah tinggal beberapa hari lama di situ, ia berangkat lagi, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk menguatkan hati semua murid.

Rumah Tangga Sebagai Alat Menopang Misi Tuhan

Aquila dan Priskila adalah pasangan suami istri sekaligus rekan kerja dan sahabat yang  setia menemani Rasul Paulus dalam melakukan tugas memberitakan injil. Mereka sungguh-sungguh telah memberikan kehidupan pribadi dan keluarganya, pekerjaannya menjadi ruang persekutuan dan tugas- tugas pengutusan. ​Ketika Paulus tiba di Efesus dan memulai diskusi di rumah ibadat, jemaat di sana memintanya untuk tinggal lebih lama, namun Paulus menolak. Ia berkata, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.” Paulus tidak didorong oleh “perasaan tidak enak” kepada orang lain, melainkan oleh kehendak Tuhan. Ia tahu kapan harus tinggal dan kapan harus pergi. Ia meninggalkan Akwila dan Priskila di sana. Ini adalah strategi misi yang baik. Paulus tidak menjadi “pusat” dari segala sesuatu. Ia melatih orang lain agar pekerjaan Tuhan tetap berjalan meski dia tidak ada.Adalah sukacita besar saat rumah tangga kita tidak sekedar dijadikan sebagai tempat kumpul keluarga namun sukacita itu akan menjadi sempurna saat rumah tangga kita dijadikan sebagai ruang persekutuan dan pengutusan misi Kristus. Tempat di mana kita mengkaderkan anak-anak kita untuk melanjutkan misi pelayanan ke depan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami  alat untuk menopang misi Tuhan, Amin.

Selasa, 14 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 15 – 16 (TB2)

Pertemuan Paulus dengan Yakobus di Yerusalem
15 Sesudah tinggal beberapa hari di Kaisarea, berkemaslah kami, lalu berangkat ke Yerusalem. 16 Bersama kami turut juga beberapa murid dari Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason. Ia dari Siprus dan sudah lama menjadi murid. Kami akan menumpang di rumahnya.

Topanglah Pelayanan Dengan Keramahtamahan

Pekerjaan apapun  dapat berjalan dengan baik bukan semata-mata karena sang pekerja itu memiliki keahlian yang mumpuni. Harus diakui bahwa dibalik  setiap kesuksesan yang diraih, ada orang lain  yang ikut menopang, termasuk dalam tugas-tugas pelayanan. Ayat 16 nas bacaan hari ini menyebutkan bahwa beberapa murid dari Kaisarea ikut pergi bersama Paulus ke Yerusalem. Mereka tidak membiarkan Paulus pergi sendirian menghadapi ketidakpastian. Ini memberi pesan, dalam masa-masa sulit ketika bekerja atau melayani, kehadiran sahabat atau sesama orang percaya sangatlah menguatkan kita. Di Yerusalem, kehadiran Manason seorang murid lama dari Siprus turut menguatkan Paulus dan rombongannya. Manason menunjukkan kesediaan untuk membuka pintu rumahnya bagi para pelayan Tuhan meskipun situasi saat itu kurang baik bagi pengikut Kristus. Sungguh membuat hati bersukacita, saat rumah tangga kita dapat menjadi sarana untuk menopang pekerjaan pelayanan dan membantu tugas-tugas para pelayan. Keluarga yang ramah dan mau terbuka bagi orang lain, menjadi tempat berteduh bagi yang sedang dalam perjalanan atau suatu tugas tertentu adalah tindakan iman yang  mulia. Semoga keluarga kita semua dapat berlaku demikian.

Doa: Tuhan, kiranya rumah tangga kami terbuka, penuh keramahan bagi orang lain, Amin. 

Rabu, 15 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 13 – 16 (TB2)

13 Lagi pula, dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga suka bergunjing dan mencampuri urusan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, melahirkan anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Sebab beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Peduli dan Saling Membantu

Dalam nas 1 Timotius 5:13-16, Rasul Paulus menekankan pentingnya perempuan, khususnya yang lebih muda, untuk menjalani hidup yang produktif dan disiplin agar tidak terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti bermalas-malasan atau menjadi pengumpat. Semangat ini bertujuan agar setiap perempuan mampu mengelola rumah tangga dengan baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan bekerja keras dan memiliki karakter yang takut akan Tuhan, perempuan dipanggil untuk saling membantu dalam meringankan beban hidup satu sama lain, sehingga energi yang dimiliki tidak habis untuk hal-hal yang sia-sia, melainkan untuk membangun komunitas iman yang solid. Paulus menegaskan tanggung jawab keluarga untuk menyokong anggota mereka yang berkekurangan agar tidak menjadi beban bagi jemaat secara keseluruhan. Hal ini mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi dan solidaritas dalam keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata. Ketika setiap perempuan yang mampu turut mengambil bagian dalam meringankan kesulitan keluarga/saudaranya, jemaat memiliki sumber daya yang cukup untuk memfokuskan bantuan kepada mereka yang benar-benar lemah dan membutuhkan.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk peduli dan saling membantu. Amin.  

Kamis, 16 April 2026

bahan bacaan : Kisah  Para Rasul 20 : 7 – 12 (TB2)

7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. 8 Di ruang atas, tempat kami berkumpul, ada banyak lampu. 9 Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. 10 Paulus turun ke bawah, lalu merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan khawatir, ia masih hidup." 11 Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. 12 Sementara itu mereka membawa pemuda itu dalam keadaan hidup, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Rumah Tangga Menjadi Ruang Pemulihan

Dalam Kisah Para Rasul 20:7-12, persekutuan di Troas berlangsung di sebuah rumah. Ini menunjukkan bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang suci untuk bersekutu dan mencari solusi atas persoalan hidup melalui Firman Tuhan. Eutikhus yang terjatuh dan mati di tengah ibadah mencerminkan kerentanan manusia yang sering kali merasa lelah atau “terlelap”  saat menghadapi beban masalah. Namun, respon jemaat dan pelayanan Paulus menegaskan bahwa dalam persekutuan yang didasari kasih, maut dan kegelisahan dapat diatasi oleh kuasa Allah. Melalui doa dan kebersamaan di dalam rumah, situasi yang tampak mustahil dapat dipulihkan, memberikan kelegaan nyata bagi setiap anggota keluarga yang sedang berbeban berat.  Eutikhus yang hidup kembali menjadi kesaksian bagi banyak orang, membuktikan bahwa mukjizat Allah bekerja secara hebat di dalam rumah-rumah yang terbuka bagi hadirat-Nya. Kesaksian ini bukan hanya tentang pemulihan fisik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas iman yang dibangun dalam rumah tangga mampu menjadi ruang pemulihan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika sebuah masalah diselesaikan di dalam persekutuan doa di rumah, hal itu menjadi bukti nyata bagi orang luar bahwa Tuhan benar-benar hidup dan peduli pada pergumulan umat-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, biarlah dengan tuntunan kuasa Roh KudusMu keluarga kami hadir sebagai penopang pelayanan di jemaat. Amin.

Jumat, 17 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 8 (TB2)

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Namun jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Namun seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Namun, jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Memperhatikan Sanak Saudara

Dalam 1 Timotius 5:3-8, Rasul Paulus memberikan penekanan bahwa kasih yang sejati harus dibuktikan melalui tindakan nyata di dalam keluarga sendiri. Memelihara seisi rumah dan sanak saudara, terutama mereka yang sudah lanjut usia atau menjanda, bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah yang menghormati Allah. Dengan saling menanggung beban hidup di lingkaran keluarga, kita belajar untuk membalas budi orang tua dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang terabaikan. Prinsip tanggung jawab domestik ini menjadi pondasi bagi karakter seorang beriman. Paulus memberikan peringatan keras bahwa mengabaikan kebutuhan sanak saudara sendiri setara dengan menyangkal iman dan lebih buruk daripada orang yang tidak percaya. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari aktivitas gereja semata, melainkan dari sejauh mana kita bersedia berbagi beban dan menyediakan kebutuhan bagi keluarga terdekat. Solidaritas keluarga ini bertujuan agar jemaat secara luas tidak terbebani secara finansial, sehingga sumber daya gereja dapat dialokasikan bagi mereka yang benar-benar sebatang kara dan tanpa dukungan sama sekali. Oleh karena itu, berbagi berkat dengan sanak saudara adalah kesaksian hidup yang menyatakan bahwa kasih Kristus nyata ditengah pergumulan ekonomi keluarga.

Doa: Tuhan, kiranya kami dapat terus saling menopang sebagai sanak saudara,  amin  

Sabtu, 18 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 7 – 9 (TB2)

7 Dari Tirus kami tiba di Ptolemais dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari di antara mereka. 8 Keesokan harinya kami berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, salah satu dari ketujuh pelayan, dan kami tinggal di rumahnya. 9 Filipus mempunyai empat anak gadis yang memiliki karunia bernubuat.

Keluarga yang Saling Mendukung

Dalam Kisah Para Rasul 21:7-9, kita melihat teladan baik dari keluarga Filipus sang pemberita Injil di Kaisarea. Filipus tidak hanya melayani sendirian, tetapi ia membangun suasana rohani di rumahnya sedemikian rupa sehingga keempat anak perempuannya pun memiliki karunia bernubuat. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang sehat adalah keluarga yang saling mendukung dalam pertumbuhan karunia masing-masing, sehingga rumah tangga berubah menjadi pusat misi yang efektif. Ketika setiap anggota keluarga bersedia dipakai oleh Tuhan, pelayanan tidak lagi menjadi beban individu, melainkan sinergi kasih yang memperkuat kesaksian jemaat. Lebih dari sekadar memendam karunia untuk kepentingan pribadi, keluarga Filipus membuka pintu rumah mereka untuk menyambut Paulus dan kawan-kawannya, ini menunjukkan bahwa keramahtamahan adalah bagian integral dari misi. Kehadiran empat anak perempuan yang bernubuat menunjukkan bahwa Tuhan tidak membatasi usia atau gender dalam memberikan karunia-Nya demi pembangunan tubuh Kristus. Keluarga ini menjadi bukti nyata bahwa rumah tangga yang berfokus pada pelayanan akan menjadi tempat di mana visi Tuhan dinyatakan dan dikerjakan bersama-sama. Melalui keterbukaan hati dan kerelaan memberi diri, keluarga kita pun dapat menjadi alat misi yang kuat bagi lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami saling mendukung dan ramah kepada yang lain. Amin.   

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Kebangkitan Kristus Memberdayakan Gereja Rumah Tangga, Semakin Beriman dan Sejahtera

Minggu, 5 April 2026

bahan bacaan :

Keluaran 12 : 24 – 28; (TB2)

24 Kamu harus melaksanakan hal itu sebagai ketetapan sampai selama-lamanya, bagimu dan bagi anak-anakmu. 25 Apabila kamu tiba di negeri yang akan TUHAN berikan kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, kamu harus melaksanakan ibadah ini. 26 Apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah arti ibadah ini bagimu? 27 maka kamu harus berkata: Itulah kurban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Lalu berlututlah umat itu dan sujud menyembah. 28 Orang Israel pergi dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun. Demikian mereka lakukan.

1 Korintus 15 : 1 – 11  (TB2)

Kebangkitan Kristus
Sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 2 Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. 3 Sebab, yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 8 Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 9 Sebab akulah yang paling hina dari semua rasul, bahakan tidak layak disebut rasul, karena aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10 Namun karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukan aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku. 11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Kebangkitan Kristus Membuat Hidup Berdaya dan Sejahtera

Siapakah yang tidak kenal dengan Rasul Paulus?. Setiap orang pasti memiliki pandangan sendiri tentangnya. Mungkin ada yang berangggapan bahwa ia adalah seorang penganiaya jemaat yang telah diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Mungkin juga ada yang berpandangan bahwa ia adalah seorang rasul besar malah lebih dari Simon Petrus murid Tuhan Yesus. Apapun pandangan kita, teks hari ini berbicara tentang sosok seorang Paulus sebagai seorang yang dikasihani Allah melalui anugerah-Nya. Pernyataan ini bukan tanpa alasan sebab hal inilah yang ditekankan oleh Paulus dalam suratnya ini. Di dalam teks Paulus menuturkan tokoh-tokoh yang kepadanya Tuhan Yesus saat bangkit menampakan diri. Mereka adalah Kefas (Simon Petrus), 12 murid, lebih dari 500 saudara seiman, Yakobus, semua rasul dan Paulus menyebutkan dirinya yang paling hina yang juga mendapatkan kemurahan penampakan diri Tuhan Yesus itu. Kesaksian Paulus harus juga menjadi bagian dari kesaksian kita dalam menghadapi kehidupan. Kita mungkin bukan siapa-siapa dalam kehidupan ini. Kita hanya orang biasa tapi yang harus kita yakini sungguh bahwa kebangkitan Kristus memberdayakan kita sebagai gereja rumah tangga untuk semakin beriman dan sejahtera. Karena itu mari hadapi hidup dengan pengharapan. 

Doa:  Ya Tuhan kuatkan iman percaya kami. Amin.

Senin, 6 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 12 -19 (TB2)

Kebangkitan kita
12 Jadi, bilamana diberitakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? 13 Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. 14 Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. 15 Lebih dari pada itu, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andai kata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. 16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, Kristus juga tidak dibangkitkan. 17 Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. 19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Kristus Bangkit, Iman Kita Berarti

Bayangkan jika Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit. Paulus berkata dengan tegas: jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga iman kita. Semua doa, ibadah, dan pengharapan kita hanya akan menjadi rutinitas kosong tanpa makna kekal. Tanpa kebangkitan, iman Kristen hanyalah cerita moral tanpa kuasa yang menyelamatkan. Namun syukur bagi Allah, Kristus sungguh bangkit! Kebangkitan-Nya menjadi dasar iman kita yang paling kokoh. Ia hidup, dan karena itu iman kita bukan ilusi, melainkan kebenaran yang memberi hidup. Mari kita jalani hari ini dengan keyakinan dan semangat, sebab iman kita berdiri di atas kemenangan Kristus atas maut.

Namun persoalannya bukan hanya apakah Kristus bangkit, melainkan apakah kebangkitan itu sungguh mengubah hidup kita. Sebab ada orang yang mengaku percaya, tetapi hidupnya tetap dikuasai ketakutan, keputusasaan, dan kekosongan. Kebangkitan bukan sekadar doktrin yang diakui, tetapi realitas yang harus dialami. Jika Kristus benar-benar hidup, maka hidup kita tidak boleh lagi dijalani dengan cara yang lama.

Doa:  Kami sungguh meyakini kebangkitan-Mu ya Tuhan, ,Amin.

Selasa, 7 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 23 – 31 (TB2)

23 Namun tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. 24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. 25 Sebab Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. 26 Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. 27 Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", teranglah bahwa Ia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. 28 Namun kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. 29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? 30 Kami juga--mengapa kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.

Maut Kalah, Keluarga Kita Berdaya

Kematian adalah musuh terbesar manusia, sumber ketakutan dan keputusasaan. Namun melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan maut secara tuntas. Artinya, kuasa kematian tidak lagi memegang kata terakhir atas hidup kita. Di dalam Kristus, ketakutan digantikan oleh pengharapan, dan keputusasaan digantikan oleh keberanian. Karena maut telah dikalahkan, keluarga Kristen dipanggil untuk hidup berdaya dan tangguh. Tantangan boleh datang, tetapi kita tidak menyerah pada rasa takut. Kita merawat kesehatan jiwa dan raga, saling menguatkan, dan menjalani hidup dengan penuh syukur sebagai keluarga yang percaya kepada Tuhan yang hidup.Namun seringkali kita masih hidup seolah-olah maut masih berkuasa. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut masa depan. Kita mengaku percaya kepada Kristus yang bangkit, tetapi hati kita tetap dikuasai kecemasan dan ketakutan. Kebangkitan Kristus menantang kita untuk hidup dengan cara yang berbeda: bukan lagi sebagai orang yang dikendalikan oleh ketakutan, tetapi sebagai orang yang dikuatkan oleh pengharapan. Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk memeriksa dasar pengharapan kita. Jika kita percaya pada kebangkitan Kristus, kita tidak perlu takut terhadap maut. Kita memiliki kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan, dan pelayanan serta kasih yang kita lakukan hari ini memiliki nilai kekekalan.

Doa:  Syukur kepadaMu Tuhan yang telah memberikan kepada kami kemenangan oleh Yesus Kristus, amin..

Rabu, 8 April 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 15 : 35 – 49 (TB2)

Kebangkitan tubuh
35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau tidak mati dahulu. 37 Yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi bijinya saja, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Namun Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 yang ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; yang ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alami, yang dibangkitkan adalah tubuh rohani. Jika ada tubuh alami, ada pula tubuh rohani. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohani, tetapi yang alami; kemudian barulah datang yang rohani. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah, manusia kedua berasal dari surga. 48 Mereka yang dari debu sama dengan dia yang dari debu dan orang-orang surgawi sama dengan Dia yang sorgawi. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa yang dari debu, demikian pula kita akan memakai rupa yang surgawi.

Menanti Tubuh Sorgawi yang Baru

Tubuh kita saat ini rapuh: bisa sakit, lelah, dan menua. Namun kebangkitan Yesus memberi kita janji yang melampaui keterbatasan ini. Tuhan menyiapkan bagi kita tubuh sorgawi yang mulia, tubuh yang tidak lagi dikuasai penderitaan, air mata, dan kematian. Karena itu, jangan biarkan kelemahan fisik membuat kita kehilangan harapan. Apa yang kita alami sekarang bersifat sementara. Masa depan kita di dalam Tuhan adalah pemulihan yang sempurna dan kemuliaan yang kekal. Pengharapan ini memberi kekuatan bagi kita untuk tetap setia dan bersukacita hari demi hari. Namun pengharapan akan tubuh yang mulia bukan alasan untuk meremehkan hidup saat ini. Justru sebaliknya, pengharapan itu mengubah cara kita menjalani hidup sekarang. Kita tidak hidup untuk mengejar kesenangan sesaat, tetapi untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan kekal. Tubuh yang rapuh ini adalah tempat kita belajar setia sebelum kita menerima yang mulia. Jangan menyerah pada keadaan tubuh fisik kita yang lemah atau keadaan keluarga yang sulit. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa dari tempat yang gelap (kubur/masalah), Tuhan bisa memunculkan kehidupan yang baru dan penuh kemuliaan.

Doa:  Terima kasih Tuhan Yesus, atas kekuatan bagi kami sekeluarga,  Amin.

Kamis, 9 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 50 – 58 (TB2)

50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mewarisi apa yang tidak binasa. 51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, 52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. 53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. 54 Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, akan digenapi firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. 55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" 56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. 57 Namun syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. 58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Teguh Beriman dan Giat Melayani

Kebangkitan Kristus bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi. Paulus mengingatkan bahwa iman kepada Kristus yang bangkit harus mendorong jemaat di Korintus dan kita  di saat ini untuk berdiri teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Keluarga yang percaya pada kuasa Paskah seharusnya menjadi keluarga yang aktif mengasihi dan melayani. Jangan goyah oleh ajaran sesat atau penderitaan. Fokuskan energi pada hal yang baik atau positif. Yakinlah, setiap jerih payah dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap kebaikan kecil, setiap pelayanan sederhana, setiap kasih yang kita taburkan dan setiap doa yang kita sampaikan. Mari terus melangkah dengan setia, menjadikan keluarga kita alat berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita. Namun seringkali kita mudah lelah, kecewa, bahkan berhenti melayani karena merasa tidak dihargai. Kita mengukur pelayanan dengan hasil yang terlihat. Padahal kebangkitan Kristus mengingatkan kita bahwa yang tidak terlihat pun berharga di mata Tuhan. Kesetiaan tidak diukur dari besar kecilnya hasil, tetapi dari ketekunan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami agar tidak goyah dan lemah dalam melayaniMu, . Amin.

Jumat, 10 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 11 : 17 – 32 (TB2)

17 Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Namun Maria tinggal di rumah. 21 Lalu kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Namun sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Kata Yesus kepadanya: "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia." 28 Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi menemui Dia. 30 Namun waktu itu Yesus belum sampai di kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

Percaya Tuhan, Hidup Penuh Harapan

Pernahkah kita merasa Tuhan terlambat menolong? Maria dan Marta pernah merasakan hal itu. mereka berada dalam kesedihan mendalam saat Lazarus saudara laki-laki merea meninggal. Dalam situasi itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Ia menunjukkan bahwa di tengah keadaan paling gelap sekalipun, kuasa Allah sanggup menghadirkan kehidupan baru. Begitu juga dalam kehidupan keluarga kita. Masalah boleh terasa buntu, harapan boleh tampak mati, tetapi Tuhan tidak pernah kehabisan jalan. Selama kita percaya dan mengandalkan-Nya, selalu ada pengharapan yang hidup dan masa depan yang dipulihkan oleh kasih-Nya.Namun iman seringkali diuji justru ketika Tuhan tampak terlambat. Maria dan Marta percaya, tetapi mereka juga kecewa: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Kalimat itu adalah suara banyak orang percaya. Kita percaya, tetapi kita juga bertanya mengapa Tuhan terlambat menolong. Tapi di sini kita belajar, waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Itu juga bukan berarti Tuhan tidak peduli. Justru di tangan Tuhan, “terlambat” merupakan persiapan untuk mujizat yang lebih besar. Tetaplah percaya pada perkataan Tuhan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup”!.

Doa:  Tuhan, beri kami kekuatan  dan percaya pada waktu-Mu yang tepat dalam bekerja Amin.

Sabtu, 11 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 11 : 33 – 44 (TB2)

33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan begitu juga orang-orang Yahudi yang datang bersama dia, kesallah hati-Nya. Ia terguncang dan berkata: 34 "Di manakah kamu baringkan dia?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Lalu menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!" 37 Namun beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang mencelikkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?" 38 Yesus sekali lagi kesal, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." 40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" 41 Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." 43 Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah keluar!" 44 Orang yang telah mati itu keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Kemuliaan Allah Nyata, Tetaplah Percaya!

Kisah tentang kebangitan Lazarus, bukan sekedar tentang kekuatan kuasa Allah dalam Kristus yang bangkit. Kisah ini adalah kisah tentang kedalaman kasih Allah bagi kita manusia, sebab kita melihat Yesus yang tersentuh hatinya dan bahkan menangis. Itu artinya Tuhan Yesus tidak pernah jauh atau dingin dan tidak peduli dengan penderitaan kita. Apa yang dilakukan-Nya dengan membangkitkan Lazarus memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus juga merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Maria dan Marta, saudara perempuan Lazarus. Ketika Ia berkata, Akulah kebangkitan dan hidup. Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengubah duka menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya ada kehidupan bagi orang percaya. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk percaya pada-Nya, pada semua rencana-Nya dalam kehidupan kita, bahkan saat kita berada di ”depan kubur” persoalan dan pergumulan kita. Jangan biarkan keraguan ada dalam hati sehingga iman dan percaya kita menjadi goyah kepada Tuhan. Kemuliaan Allah nyata, jadi tetaplah percaya!

Doa:  Tuhan, teguhkanlah iman dan percaya kami bahwa Engkaulah kebangkitan dan Hidup Amin.

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 29 Maret – 4 April 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia!

Minggu, 29 Maret 2026

bahan bacaan : Markus 11 : 8 – 11 (TB2)

8 Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. 9 Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, 10 terpujilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" 11 Ia masuk ke Yerusalem, ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Namun, karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia

Ketika Yesus memasuki Yerusalem, banyak orang menyambut-Nya dengan sorak sorai dan daun palma. Mereka memuji dan mengagungkan Dia sebagai Raja. Namun, di kemudian hari, banyak dari mereka yang sama justru menolak dan membiarkan Dia disalibkan. Sambutan yang semula penuh sukacita berubah menjadi penolakan karena mereka tidak memahami arti sebenarnya dari kehadiran Yesus. Yesus datang bukan untuk mencari kemuliaan dunia, melainkan untuk menebus dosa manusia melalui pengorbanan di salib. Dari salib itu, kita melihat kasih yang sempurna kasih yang rela menderita demi keselamatan dunia. Hari ini ada banyak anak Tuhan yang mengaku untuk menyambut Yesus dan mengikuti-Nya. Menyambut Yesus berarti bukan hanya bersorak ketika keadaan baik, tetapi mengikut Dia dengan setia di jalan penderitaan, ketaatan, dan kasih. Mengikut Yesus berarti membiarkan hati kita dibentuk oleh kasih yang rela berkorban, dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.Jangan hanya menyambut Yesus dengan kata dan seruan, tetapi sambutlah Dia dengan hati yang mau taat dan setia mengikuti jalan-Nya, sekalipun itu jalan salib.

Doa Tuhan, teguhkanlah pengakuan iman kami untuk menyambut-Mu dan setia mengikuti-Mu, Amin

Senin, 30 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 23 – 27 (TB2)

Syarat-syarat mengikut Yesus
23 Yesus berkata kepada mereka semua: "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; Tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 26 Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus. 27 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mengalami kematian sebelum mereka melihat Kerajaan Allah."

Ikut Yesus Membutuhkan Pengorbanan

Perkataan Yesus dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus bukan sekadar mengikuti dari jauh, tetapi keputusan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dengan segala konsekuensi yang menyertai. Mengikut Yesus berarti menyangkal diri, melepaskan keinginan pribadi yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ini bukan hal mudah, sebab dunia menawarkan kenyamanan dan kebanggaan diri. Namun, Yesus mengajar bahwa hidup yang sejati justru ditemukan saat kita berani kehilangan diri karena Dia. Syarat berikutnya ialah memikul salib setiap hari. Akhirnya, mengikut Yesus berarti berjalan di jejak Kristus dan hidup dalam kasih, kebenaran, dan pengorbanan. Jalan ini bukan jalan mudah, tetapi inilah jalan menuju kehidupan yang kekal. Yesus memanggil setiap kita bukan hanya untuk menyambut-Nya, tetapi juga mengikut Dia dengan kesetiaan. Mengikut Yesus tidak cukup hanya dengan kata-kata atau perasaan kagum, melainkan dengan ketaatan dan pengorbanan setiap hari sepanjang hidup. Ada harga yang harus dibayar, tetapi di dalamnya ada sukacita sejati, karena kita berjalan bersama Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk rela berkorban, taat dan setia mengikuti-Mu, Amin

Selasa, 31 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 57 – 58 (TB2)

Mengikut Yesus
57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada-Nya, "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 58 Yesus berkata kepadanya: "Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

Ikut Yesus Rela Melepaskan Zona Nyaman

Bayangkan seekor anak burung yang sudah nyaman di sarangnya. Ia diberi makan oleh induknya setiap hari, hangat dan aman. Namun suatu hari, induknya mendorongnya keluar dari sarang. Awalnya ia takut, tapi ketika sayapnya mulai mengepak, ia menemukan bahwa ia bisa terbang! Demikian juga dengan kita Tuhan sering “mendorong” kita keluar dari kenyamanan agar kita belajar percaya dan mengalami kuasa-Nya. Yesus tidak memanggil kita untuk hidup mudah, tetapi untuk hidup bermakna. Ketika seorang datang kepada Yesus dan berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Tetapi Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Perkataan ini bukan sekadar penolakan, tetapi sebuah pengingat bahwa mengikut Yesus berarti siap meninggalkan kenyamanan duniawi. Yesus tidak menjanjikan kemudahan, tetapi memanggil kita untuk hidup dalam kesetiaan dan pengorbanan. Ia ingin pengikut yang tidak hanya ikut ketika keadaan baik, tetapi juga ketika jalan menjadi sempit dan penuh tantangan. Mengikut Yesus berarti siap beranjak dari “zona nyaman” tempat di mana kita merasa aman, mapan, dan tidak terganggu. Namun, di luar zona itu, ada pertumbuhan iman, ketaatan yang lebih dalam, dan pengalaman akan kasih Tuhan yang nyata. Mengikut Yesus bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang komitmen. Di mana pun Dia memimpin, di situlah tempat terbaik untuk kita berada.

Doa Ya Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk melepaskan zona nyaman dan setia mengikuti Engkau. Amin

Rabu, 1 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 59 – 60 (TB2)

59 Ia berkata kepada seorang yang lain: "Ikutlah Aku!" Namun orang itu berkata: "Tuhan, Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." 60 Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; Namun engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah."

Yesus yang Terutama

Hidup selalu memberikan berbagai pilihan namun setiap keputusan sangat tergantung pada cara pandang kita tentang hidup itu sendiri. Di bulan April kita belajar mengenali kehendak Tuhan dengan menjadi gereja rumah tangga yang bermisi melalui pelayanan sosial. Inilah tema pembinaan sepanjang bulan April. Adapun gereja rumah tangga itu  adalah keluarga Kristen yang menampilkan wajah dan karakter Kristus di dalam kehidupannya. Pelayanan sosial menjadi salah satu bentuk misi gereja rumah tangga. Penulis injil Lukas menekankannya saat menceritakan respon Yesus terhadap orang yang meminta ijin untuk menguburkan ayahnya. Baginya ada hal yang utama yakni keluarganya dan keinginan mengikut Yesus hanya sampingan. Menghormati orang yang meninggal dengan penguburan yang pantas merupakan suatu kewajiban dalam tradisi Israel dan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat Kuno. Karena iklim di Palestina cukup panas, orang yang meninggal harus segera dikuburkan paling lambat 24 jam sejak kematiannya. Penguburan diprioritaskan ketimbang mengikut Yesus. Respon yang Yesus berikan mengandung pesan bahwa untuk mengikut-Nya, apapun harus ditinggalkan. Siapapun yang telah berkomitmen menjadi pengikut Tuhan harus bisa merubah cara pandangnya. Ia harus bisa membuat keputusan  memprioritaskan Tuhan  di atas semua kepentingan apapun.

Doa:  Ajar kami untuk tidak menoleh ke belakang ya Tuhan,  Amin.

Kamis, 2 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 61 – 62 (TB2)

61 Seorang yang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."62 Yesus berkata kepadanya: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

Pegang Janji untuk Tuhan

Perjalanan mengiring Tuhan memang hal yang tidak mudah. Tetapi kita harus mempertahankan komitmen itu sekalipun berhadapan dengan sejumlah tantangan. Sebut saja namanya Berty. Ia seorang pecandu alkohol.  Suatu ketika Berty jatuh sakit. Ginjalnya bermasalah dan Berty ketakutan. Di saat pendeta datang berdoa, ia membuat  janji akan menjadi pengasuh bila sembuh. Ia juga  berjanji tidak akan mengkonsumsi minuman keras. Bila sebelumnya ia malas beribadah, dalam kesakitannya, Berty mulai mengikuti ibadah-ibadah. Ia juga rajin memberi sumbangan untuk kegiatan gereja. Hanya saja semua berubah ketika ia sembuh. Ia mendapatkan kenaikan jabatan dan sering menghadiri rapat di cafe-cafe. Ia mulai mengkonsumsi minuman keras dan jarang mengikut ibadah. Ia bahkan menolak ketika diminta untuk menjadi pengasuh. Berty melupakan kebaikan Tuhan yang menolongnya melewati kesakitannya. Ia menganggap sepele keputusannya  mengikuti Tuhan. Sikap Berty adalah seperti seorang yang berkata “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Teks ini mengajarkan bahwa mengikut Yesus berarti menuntut adanya komitmen penuh, tidak menoleh ke belakang. Kalau kita menoleh, maka kepada kita akan dikatakan : ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

Doa:  ya Tuhan Yesus, tolong kami tetap pada komitmen mengikut-Mu,  Amin.

Jumat, 3 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 19 : 28 – 30 (TB2)

Yesus mati
28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!" 29 Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka menlilitkan suatu bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. 30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Kematian Yesus demi Selamatkan Hidup

Semua orang berdosa dan tidak ada seorangpun yang mampu menyelamatkan dirinya. Dosa membuat hidup kita terjebak dalam ketidakpastian tetapi juga kebinasaan. Kita sangat membutuhkan penyelamatan dari Alah sebab hanya Allah yang sanggup lepaskan kita dari jerat dosa. Hari ini sebagai gereja kita memperingati kematian Tuhan Yesus. Ia mati demi menyelamatkan kita yang berdosa. Peristiwa kematian-Nya sebagaimana yang ditulis Injil Yohanes memberikan gambaran dalamnya kasih-Nya kepada kita. Injil Yohanes menulis “Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah selesai, berkatalah Ia, – supaya digenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci – Aku haus” (Yohanes 19:28). Kematian-Nya di tiang kayu salib mempertontonkan kasih Allah yang agung itu. Allah pengasih merasakan setiap sisi kelemahan manusia.  Saat berada di salib, Tuhan Yesus menderita kehausan. Bukan air yang diberikan kepada-Nya melainkan anggur asam. Ia pun berkata “sudah selesai”. Cerita ini  memberikan kesaksian adanya kejahatan yang begitu menguasai kehidupan kita. Dosa membuat kita  kehilangan akal sehat dan hati nurani. Kita menyalibkan dan membunuh Pencipta. Kematian Tuhan yang kita peringati hari ini membuat kita mesti melakukan evaluasi diri. Transformasi hidup harus kita kerjakan. Sebagai gereja rumah tangga kita terpanggil bermisi melalui pelayanan sosial. Hidup kita tidak boleh terus berkanjang dalam dosa.

Doa:  YTuhan Yesus, terima kasih karena kematian-Mu, kami diselamatkan, Amin.

Sabtu, 4 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 19 : 38 – 42 (TB2)

Yesus dikuburkan
38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus,supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada para pemuka Yahudi. Pilatus mengabulkan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 39 Datanglah juga Nikodemus, orang yang dahulu pernah datang kepada Yesus pada malam hari. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira tigapuluh kilogram beratnya. 40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengafani-Nya dengan kain linen dan membubuhi-Nya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 41 Dekat tempat Yesus disalibkan ada taman dan dalam taman itu ada kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 42 Karena hari itu Hari Persiapan orang Yahudi, sedangkan kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan Yesus di situ.

Kasih akan Dia yang Tersalib

Alkitab menceritakan dua tokoh yang berperan dalam proses penguburan Tuhan Yesus : Yusuf dari Arimatea  dan Nikodemus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang yang kaya dan ia telah menjadi murid Tuhan Yesus pula (Matius 27:57). Di saat Tuhan Yesus mati, ia yang berinsiatif meminta kepada Pilatus agar bisa menurunkan mayat Tuhan Yesus dan menguburkannya. Sebagai murid, ia menyatakan kasih kepada Tuhan. Walau ia tidak mengerti bahkan mungkin merasa hancur karena kematian Sang Guru, tetapi ia tetap memberanikan diri meminta mayat Tuhan. Ini tindakan berani sebab ia akan berhadapan dengan pemuka Yahudi (Yohanes 19:38). Kasihnya mendorongnya memakamkan Tuhan Yesus di kuburan miliknya yang baru. Nikodemus adalah tokoh yang pernah bercakap dengan Tuhan Yesus (Yohanes 3). Ia juga menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus dengan cara bersama Yusuf dari Arimatea memakamkan tubuh Tuhan. ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu kira-kira 30 kilogram beratnya. Baik Yusuf atau Nikodemus, kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan ketika Tuhan masih hidup. Mereka tetap menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus. Pelayanan itu mereka wujudkan dengan cara memakamkan Tuhan Yesus.  Pelayanan sosial yang mereka lakukan merupakan teladan bagi gereja sepanjang masa.

Doa:  Ya Tuhan Yesus, terimalah seluruh tanda kasih kami akan Dikau, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET-APRIL 2026, LPJ-GPM

 

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Bertanggungjawablah demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan!

Minggu, 22 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 27 : 11 – 26 (TB2)

Yesus di hadapan Pilatus
11 Ketika Yesus berdiri di hadapan gubernur, gubernur itu bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 12 Ketika tuduhan terhadap Dia diajukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua, Ia tidak menjawab sepatah kata pun. 13 Lalu kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 14 Namun, Ia tidak menjawab sepatah kata pun, sehingga gubernur itu sangat heran. 15 Telah menjadi kebiasaan bagi gubernur untuk membebaskan satu orang tahanan pada tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Pada waktu itu ada seorang tahanan yang terkenal bernama Yesus Barabas. 17 Ketika mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" 18 Ia sudah mengetahui, bahwa mereka menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." 20 Namun, imam-imam kepala dan tua-tua menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Gubernur itu berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." 22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" 23 Katanya: "Namun kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Mereka malahan semakin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" 24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, bahkan sudah timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" 25 Seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" 26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Bertanggungjawablah demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan!

Yesus dibawa ke hadapan Pilatus, Gubernur Romawi. Pilatus sendiri, setelah menginterogasi Yesus, yakin bahwa Yesus tidak bersalah dan tidak menemukan alasan untuk menghukum mati-Nya. Ia memiliki otoritas untuk membebaskan-Nya, terutama melalui adat membebaskan seorang tahanan pada perayaan Paskah. Namun, ia dihadapkan pada tekanan massa yang dihasut oleh para imam kepala dan tua-tua Yahudi yang menuntut agar Barabas, seorang penjahat, yang dibebaskan, dan Yesus disalibkan. Puncak dari drama ini adalah tindakan simbolis Pilatus: ia mengambil air dan mencuci tangannya di hadapan orang banyak. Tindakan ini, yang dimaksudkan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab dan rasa bersalah, justru menyoroti kelemahan karakternya dan kegagalannya sebagai pemimpin yang seharusnya menegakkan keadilan. Meskipun Pilatus mencuci tangan secara fisik, tindakan itu tidak menghapus tanggung jawab moralnya. Kita tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab moral kita dengan sekadar “melempar” masalah atau kesalahan kepada orang lain. Sebagai orang percaya, di minggu sengsara Tuhan Yesus keenam ini, kita dipanggil untuk berani berdiri di sisi kebenaran dan keadilan, bahkan ketika itu sulit. Keadilan harus diperjuangkan, bukan dihindari. Marilah kita belajar dari kegagalan Pilatus. Jangan biarkan rasa takut, tekanan sosial, atau keinginan untuk menyenangkan orang lain membungkam suara hati kita yang mengetahui kebenaran. Bertanggung jawablah demi keadilan, dengan berani membela apa yang benar, mengikuti teladan Mesias.

Doa: Tuhan, bantu kami tetap melakukan keadilan ditengah ketidakadilan. Amin.

Senin, 23 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 27 : 27 – 31 (TB2)

Yesus diolok-olok
27 Kemudian serdadu-serdadu gubernur membawa Yesus masuk ke istana gubernur, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah merah kepada-Nya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" 30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. 31 Sesudah mengolok-olok Dia mereka menanggalkan jubah dari-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya. Serdadu-serdadu membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Mahkota Duri dan Tugas Manusia kini

Sering kita melihat baik melalui berita atau secara langsung, mereka yang memiliki kekuasaan dan otoritas menggunakannya bukan hanya untuk keadilan, tetapi untuk menghina dan menyakiti yang lemah. Kekerasan fisik, bullying, dan penyiksaan yang dilakukan atas nama hukum atau otoritas merupakan rahasia umum. Peristiwa yang dialami Yesus di tangan para serdadu Romawi adalah cerminan abadi dari kekejaman manusia yang dilegalkan. Teks  ini mencatat tiga adegan yang memilukan yang dilakukan oleh para serdadu Romawi kepada Yesus: pertama, mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu untuk mengejek Yesus. Kedua Mereka mengenakan mahkota duri dan meletakkan tongkat/buluh di tangan kanan-Nya. Tindakan ini adalah gabungan antara kekerasan fisik (duri menusuk kepala) dan kekerasan psikologis (ejekan, meludah). Ketiga, mereka berlutut dan menghormati-Nya, lalu memukul kepala-Nya dengan tongkat. Kekerasan yang dialami Yesus adalah simbol penderitaan semua orang yang diperlakukan tidak adil oleh struktur kekuasaan. Firman ini mengajak kita untuk berpihak pada korban ketidakadilan. Ketika kita melihat bullying, pelecehan, atau penyalahgunaan kekuasaan hari ini, kita harus melawannya dan menyuarakannya.

Doa: Sanggupkan kami dengan kuasaMu untuk menyuarakan keadilan untuk dunia. Amin.

Selasa, 24 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 23 : 1 – 7 (TB2)

Yesus di hadapan Pilatus
Seluruh sidang itu bangkit dan membawa Yesus menghadap Pilatus. 2 Mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Kami mendapati bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Dialah Mesias, Raja." 3 Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 4 Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini." 5 Namun, mereka makin kuat mendesak, katanya: "Ia menghasut rakyat dengan ajaran-Nya di seluruh tanah orang Yahudi, mulai di Galilea dan sampai ke sini." 6 Ketika Pilatus mendengar itu ia menanyakan apakah orang itu seorang Galilea. 7 Ketika ia tahu, bahwa Yesus seorang dari wilayah Herodes, dikirimnya Dia menghadap Herodes, yang pada hari-hari itu ada juga di Yerusalem.

Suara Rakyat dan Kegagalan Keadilan

Di era media sosial, opini publik dan framing narasi memiliki kekuatan luar biasa untuk mempengaruhi keputusan yang seringkali mengarah pada ketidakadilan. Terlepas dari fakta, politik modern sering menggunakan penghasutan massal untuk menghancurkan reputasi seseorang.. Peristiwa dalam Lukas 23:1-7 menunjukkan bagaimana suara yang diorganisir oleh kepentingan tertentu dapat menenggelamkan kebenaran hukum. Kisah ini menggambarkan proses yang penuh manipulasi tentang tuduhan palsu, Keputusan Pilatus yang goyah dan tekanan masa menuntut pembebasan Barabas dan penyaliban Yesus. Kisah ini mengingatkan kita tentang bahaya hukum rimba opini publik. Ketika kita menerima informasi (terutama politik) tanpa diverifikasi dan ikut menyebarkannya, kita berisiko menjadi bagian dari kelompok yang menghasut ketidakadilan. Hati-hati terhadap suara yang paling keras. Kita dipanggil untuk menjadi pembela kebenaran hukum dan moral, bukan sekadar pengikut arus. Jangan biarkan penghasutan massa mengubur suara hati nurani dan keadilan di dalam diri kita.

Doa: Ya Roh Kudus, kiranya kami dapat menggunakan hak suara untuk keadilan dunia, amin.

Rabu, 25 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 23 : 8 – 12 (TB2)

Yesus di hadapan Herodes
8 Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab, sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia, dan berharap melihat Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat. 9 Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apapun. 10 Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. 11 Bahkan Herodes dan pasukannya menghina dan mengolok-olok Dia. Ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. 12 Pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan.

Keheningan adalah Jawaban Terbaik

Dalam masyarakat saat ini, kita sering menyaksikan orang benar atau mereka yang mencoba berbicara tentang kebenaran,  dihina, diremehkan atau dijadikan tontonan oleh orang-orang berkuasa. Kisah Yesus di hadapan Herodes dalam nas ini adalah contoh klasik dimana otoritas disalahgunakan untuk menghina seorang yang tidak bersalah. Dalam teks ini kita dapat mengetahui tiga hal penting yang terjadi: pertama, pengabaian Kebenaran: Herodes mengajukan banyak pertanyaan, tetapi Yesus menolak untuk berpartisipasi dalam drama yang bertujuan merendahkan-Nya. Kedua, Penghinaan Massa: Para imam kepala dan ahli Taurat, yang seharusnya menjunjung hukum, justru berdiri di sana dan menuduh Yesus dengan keras. Ketiga, hinaan dan kekerasan. Mereka mengenakan pakaian kebesaran untuk-Nya, menjadikan-Nya badut. Ini adalah sungguh-sungguh ketidakadilan. Kehormatan seorang raja ditukar dengan ejekan. Di tengah penghinaan, keheningan-Nya adalah jawaban terkuat bagi ketidakadilan yang dangkal dan picik. Ketika kita dihina atau diremehkan karena menjunjung kebenaran, ingatlah martabat ilahi Yesus. Jangan biarkan penghinaan orang lain menentukan nilai diri kita. Terkadang, jawaban terbaik terhadap ketidakadilan dan cemoohan bukanlah membela diri, melainkan menjaga keheningan, bermartabat dan membiarkan kebenaran sejati berbicara pada waktunya.

Doa: Tuhan, ajarkan kami untuk tetap hening menghadapi ketidakadilan, amin

Kamis, 26 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 26 : 57 – 68 (TB2)

Yesus di hadapan Mahkamah Agama
57 Orang-orang yang telah menangkap Yesus membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua. 58 Petrus mengikuti Yesus dari jauh sampai ke halaman Imam Besar. Setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat bagaimana akhir semuanya itu. 59 Imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu melawan Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, 60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Akhirnya tampillah dua orang, 61 yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat meruntuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." 62 Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawaban atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 63 Namun, Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah." 64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." 65 Lalu Imam Besar itu mengoyak pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat itu. 66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab, "Ia harus dihukum mati!" 67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain menampar Dia, 68 dan berkata: "Bernubuatlah kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"

Kedaulatan Yesus ditengah Pengadilan Dunia

Ketika kita menghadapi kritik yang tidak adil atau fitnah, reaksi pertama kita adalah membela diri dengan keras. Kita kesulitan menerima penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan orang lain. Namun, peristiwa di hadapan Mahkamah Agama menunjukkan Yesus tidak hanya menderita, tetapi memilih menderita dengan kedaulatan. 3 hal penting yang terjadi di hadapan Mahkamah Agama adalah: pengadilan ini sepenuhnya dipenuhi ketidakadilan, keheningan Yesus yang berdaulat dan jawaban yang menetapkan takdir. Ketika Kayafas memaksanya bersumpah, Yesus akhirnya berbicara. Pembicaraan itu menegaskan identitas-Nya sebagai Kristus, Anak Allah. Jawaban Yesus ini kemudian menjadi alasan mereka menjatuhkan hukuman mati, namun secara ironis, itu adalah penegasan kedaulatan-Nya atas takdir mereka. Yesus tahu bahwa penderitaan saat ini adalah jalan menuju kemuliaan. Kekuatan kita terletak pada kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Ketika kita difitnah, biarkan keheningan yang berdaulat menjadi respons pertama kita dan penegasan iman menjadi jawaban terakhirnya. Maka kita akan dapat tenang, pada akhirnya kita akan menunjukan kebenaran muncul seperti rembang tengah hari.

Doa: Tuhan, jadikanlah ajaranMu memenuhi hidupku setiap waktu, amin

Jumat, 27 Maret 2026

bahan bacaan : Yohanes 19 : 1 – 16a (TB2)

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang mencambuk Dia. 2 Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, 3 dan terus-menerus maju mendekati-Nya dan berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya. 4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." 5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Kemudian kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" 6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya." 7 Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." 8 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu ia makin takut, 9 lalu ia masuk pula ke dalam isatana gubernur dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Namun, Yesus tidak memberi jawab kepadanya. 10 Karena itu, kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" 11 Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: Dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." 12 Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan orang ini, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." 13 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. 14 Hari itu hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Lihatlah rajamu!" 15 Lalu berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!"16a Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.

Yesus Korban Ketidakadilan

Saat ini, kita dapat melihat bagaimana tekanan massa dan opini publik dapat memutarbalikkan kebenaran. Teriakan sekelompok orang yang diikuti dengan share atau bagikan pada kolom media sosial, seringkali lebih didengar daripada fakta itu sendiri. Ketidakadilan sering lahir bukan karena tidak adanya bukti tapi dari keberanian untuk tunduk pada desakan banyak orang. Realita sosial ini, kurang lebih adalah realita yang pernah alami Yesus ketika berada di depan Pilatus. Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah. Ia mencoba membebaskanNya sebanyak tiga kali. Tetapi karena Pilatus berada dibawah tekanan masa   untuk menyalibkan Yesus.  Apalagi ketika para pemimpin Yahudi mengancam status Pilatus bahwa jika Pilatus membebaskan Yesus maka Pilatus bukan sahabat kaisar. Ditengah situasi demikian, Pilatus mengorbankan keadilan dan hati nuraninya demi mempertahankan kedudukan dan menghindari konflik dengan kerumunan orang yang mengancam untuk salibkan Yesus. Kisah ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan kebenaran seringkali membutuhkan pengorbanan yang besar.  Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tidak menyatakan kebenaran secara tegas bahkan jika karenanya kita harus melawan banyak orang. Jangan biarkan tekanan sosial menumpulkan suara kebenaran.

Doa: Kami percaya, Tuhan menolong kami menyatakan kebenaran, sekalipun didalam tekanan, amin

Sabtu, 28 Maret 2026

bahan bacaan : Yesaya 32 : 1 – 6 (TB2)

Pemerintahan yang adil
Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan, 2 mereka masing-masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus. 3 Mata orang yang melihat tidak akan tertutup lagi, dan telinga orang yang mendengar akan menyimak. 4 Hati orang yang terburu-buru akan tahu menimbang-nimbang, dan lidah orang yang gagap akan dapat berbicara lancar dan jelas. 5 Orang bebal tidak akan disebut lagi orang berbudi luhur, dan penipu tidak akan dikatakan orang terhormat. 6 Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan kejahatan, ia melakukan kefasikan dan mengatakan hal yang menyesatkan tentang TUHAN, membiarkan perut orang lapar tetap kosong dan orang haus tanpa minuman.

 Pemimpin yang Adil, Tempat Perlindungan Bagi Sesama

Nabi Yesaya menubuatkan tentang hadirnya seorang raja yang memerintah dengan keadilan dan para pemimpin yang bertindak dengan kebenaran. Dalam pemerintahan seperti itu, umat Tuhan hidup dengan aman, seperti berlindung di tempat yang teduh dari angin kencang dan badai. Gambaran ini menegaskan bahwa pemimpin yang adil bukan hanya mengatur dengan kekuasaan, tetapi menjadi tempat perlindungan bagi rakyatnya tempat di mana mereka merasa aman, didengar, dan dihargai. Di zaman ini, tanggung jawab kepemimpinan bukan hanya bagi para pemimpin bangsa atau gereja saja, tetapi juga bagi setiap kita dalam peran masing-masing di keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Tuhan memanggil kita untuk tidak “mencuci tangan” atau lari dari tanggung jawab terhadap keadilan. Diam terhadap ketidakbenaran sama dengan ikut membiarkan ketidakadilan bertumbuh. Oleh sebab itu Jadilah pemimpin yang adil dan benar di mana pun Tuhan tempatkan kita, baik di gereja, baik di pemerintahan atau dalam kehidupan berkeluarga. Dengan hidup dalam kebenaran dan menegakkan keadilan, kita menjadi tempat perlindungan bagi sesama dan menghadirkan kasih Allah di tengah dunia yang haus akan keadilan.

Doa Mampukan kami Tuhan, menjadi pemimpin yang adil sehingga menjadi tempat perlindungan bagi sesama, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 15 – 21 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Bersukacitalah dalam Pengharapan, Sabarlah dalam  Penderitaan!

Minggu, 15 Maret 2026

bahan bacaan : Roma 12 : 9 – 21 (TB2)

Nasihat untuk hidup dalam kasih
9 Hendaklah kasih itu tukus ikhlas! Bencilah yang jahat; berpautlah pada yang baik. 10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 11 Janganlah kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. 12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam penderitaan, dan bertekunlah dalam doa! 13 Turutlah menanggung kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! 14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! 15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! 16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah berpikiran congkak, tetapi arahkanlah dirimu kepada mereka yang rendah. Janganlah menganggap dirimu pandai! 17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! 18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang! 19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 20 Tetapi, "Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. 21 Janganlah dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Bersukacitalah dan Sabar dalam Penderitaan

Hari ini kita telah memasuki minggu sengsara kelima, yang dalam tradisi liturgi disebut juga dengan minggu Laetare yang artinya bersukacita. Mengapa di minggu sengsara kita harus bersukacita ?, karena seluruh pengharapan kita ada dalam diri Tuhan Yesus  yang telah menderita ganti kita manusia berdosa ini. Sengsara Yesus Adalah wujud ketaatan kepada Allah tetapi sekaligus juga merupakan wujud kasih-Nya atas dunia dan manusia. Kasih Allah  dalam Yesus itu telah melepaskan orang percaya dari kuasa dosa dan maut. Maka sebagai orang tebusan kita bersukacita atas anugerah karya penebusan yang kita peroleh didalam Yesus. Itulah kasih Tuhan yang sejati. Sebab itu Tuhan menghendaki kita pun menghidupi kasih yang sama. Kasih yang sejati, tidak berpura-pura, tapi tulus dan menjauhi yang jahat serta berpegang pada yang baik. Kasih yang tulus bersukacita dengan orang yang bersukacita dan menangis dengan orang yang menangis. Ketika menghadapi musuh, kita dipanggil untuk tidak membalas dendam tetapi mengalahan kejahatan dengan kebaikan. Kasih dan damai yang kita sebarkan akan menjadi saksi nyata dari iman kita kepada Tuhan.

Doa: Tuhan, kami bersukacita sebab penderitaan-Mu membawa keselamatan bagi kami, Amin.

Senin, 16 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 5 : 12 – 13 (TB2)

12 Biarlah semua orang yang berlindung pada-Mu bersukacita, biarlah mereka bersorak-sorai selama-lamanya. Biarlah Engkau menaungi mereka; sehingga yang mengasihi nama-Mu bersukaria karena Engkau. 13 Sebab Engkau memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau melindungi dia dengan kerelaan-Mu seperti perisai.

Bersukacita Semua yang Berlindung Pada Tuhan

Seringkali masalah, kekecewaan, dan ketidakpastian membuat hati kita gelisah. Hidup kian terasa berat. Namun, Mazmur ini mengingatkan kita akan satu hal penting: Tuhan adalah tempat perlindungan kita. Bukan hanya perlindungan dari bahaya, tetapi juga sumber sukacita yang sejati. Berlindung kepada Tuhan berarti menaruh seluruh hidup kita di tangan-Nya dan percaya Ia memegang kendali atas segala sesuatu. Ketika kita melakukannya, sukacita tidak tergantung pada keadaan luar, tapi pada kehadiran Tuhan yang menenangkan hati kita. Orang yang berlindung pada Tuhan tidak hidup tanpa masalah, tetapi hidupnya dipenuhi damai dan sukacita yang tidak bisa dicabut oleh dunia. Bayangkan seorang anak yang berlari ke pelukan orang tuanya setelah takut atau tersesat. Di pelukan itu, ia merasa aman, nyaman, dan bahagia. Demikian pula, kita yang berlindung pada Tuhan dapat menemukan sukacita meski badai hidup menerpa. Hari ini, biarlah kita belajar menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Tuhan. Biarlah kita memilih untuk bersukacita karena kita aman dalam kasih setia-Nya. Dan lebih dari itu, mari doakan agar semua orang yang mencari perlindungan pada Tuhan juga mengalami sukacita yang sama.

Doa: Tuhan, kami sungguh bersukacita karena berlindung padaMu, Amin.

Selasa, 17 Maret 2026

bahan bacaan : Roma 5 : 1 – 5 (TB2)

Hasil pembenaran
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus. 2 melalui Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugerah ini. Di dalam anugerah ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketabahan, 4 dan ketabahan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Sukacita Di Tengah Penderitaan

Seperti seorang pelari maraton yang tetap berlari walau tubuhnya letih karena ia melihat garis finis di depan, demikian juga orang percaya tetap sabar dan bersukacita. Fokusnya bukan pada rasa sakit, tetapi pada tujuan yang menanti. Demikianlah kita: penderitaan hanyalah bagian dari proses, tetapi kemuliaan Allah adalah akhirnya. Pengharapan itulah yang membuat kita tetap kuat dan bersyukur. Kita sebagai orang yang telah dibenarkan oleh iman, kita berdiri di atas dasar damai sejahtera dengan Allah. Dari fondasi inilah kita diajak untuk bermegah, bersukacita dalam pengharapan akan kemuliaan Allah. Pengharapan ini bukan sekadar keinginan manusia, tetapi kepastian bahwa Allah sedang menuntun hidup kita menuju pemulihan dan kemuliaan yang Ia janjikan. Bahkan ketika penderitaan datang, firman ini menegaskan bahwa penderitaan tidak mematahkan iman, melainkan menguatkan kita. Penderitaan melahirkan ketekunan, ketekunan membentuk karakter tahan uji, dan karakter itu menghasilkan pengharapan yang tidak mengecewakan. Roh Kudus yang bekerja di hati kita memastikan bahwa kasih Allah selalu hadir menopang. Karena itu, apa pun proses yang kita hadapi hari ini tantangan pekerjaan, pergumulan keluarga, atau situasi batin tetaplah sabar dan bersukacitalah. Pengharapan di dalam Kristus adalah pengharapan yang pasti dan akan berakhir pada kemuliaan Allah.

Doa Tuhan ajarilah kami untuk lebih sabar di tengah penderitaan hidup yang bergejolak. Amin

Rabu, 18 Maret 2026

bahan bacaan : Yohanes 16 : 16 – 24 (TB2)

Dukacita yang mendahului kemenangan
16 "Sesaat lagi, kamu tidak melihat Aku lagi dan juga sesaat lagi, kamu akan melihat Aku." 17 Beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Sesaat lagi, kamu tidak melihat Aku dan sesaat lagi kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?" 18 Lalu kata mereka: "Apakah artinya Ia berkata: Sesaat lagi? kita tidak tahu apa maksud-Nya." 19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: "Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Sesaat lagi kamu tidak melihat Aku dan juga sesaat lagi kamu akan melihat Aku? 20 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira. Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. 21 Seorang perempuan berdukacita ketika ia melahirkan, karena saatnya telah tiba. Namun sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. 22 Demikian juga kamu sekarang berdukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira, dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. 23 Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, akan diberikan-Nya kepadamu. 24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Dukacita Menjadi Sukacita oleh Iman Kepada Kristus

Ada seorang pelaut berkata, ia tidak belajar percaya kepada kompas ketika laut tenang, tetapi saat badai datang. Dalam Yohanes 16:16–24, Yesus mengingatkan bahwa dukacita para murid bukanlah akhir, sebab Ia sendiri yang akan mengubahnya menjadi sukacita yang tidak dapat dirampas. Seperti seorang ibu yang kesakitan ketika melahirkan, namun segera melupakan deritanya karena sukacita melihat bayinya, demikian pula penderitaan orang percaya menjadi jalan bagi Allah menyatakan kemuliaan-Nya. Imanlah yang memampukan kita bertahan, sebab iman melihat melampaui keadaan sekarang kepada janji Tuhan yang pasti Demikian juga dengan kita, justru dalam pergumulan, iman kita terarah kepada Kristus, Sang Sumber Pengharapan. Ketika kita berdoa dalam nama-Nya, Ia memberi damai serta sukacita yang baru. Karena itu, bersabarlah dalam penderitaan, sebab Tuhan akan menggantikan air mata kita dengan sukacita yang penuh.  

Doa: Tuhan Yesus, Kuatkanlah kami ditengah dukacita yang kami rasakan dan gantikan dengan sukacita. Amin.

Kamis, 19 Maret 2026

bahan bacaan : Yohanes 16 : 25 – 33 (TB2)

25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. 26 Pada hari itu kamu akan memohon dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta kepada Bapa bagimu, 27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. 28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa." 29 Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. 30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan Engkau tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah." 31 Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang? 32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, ketika kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. 33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

 Kuatkan Hati karena Tuhan Telah Mengalahkan Dunia

Yesus tahu murid-murid-Nya akan menghadapi masa-masa sulit penuh ketakutan dan penderitaan. Karena itu Ia menegaskan bahwa setelah Ia pergi, mereka tetap bisa datang kepada Bapa yang mengasihi mereka. Inilah sumber pengharapan yang membawa sukacita dalam kehidupan para murid: mereka tidak pernah berjalan sendirian. Yesus juga mengingatkan bahwa penderitaan tidak dapat dihindari. Yesus tidak berjanji meniadakan penderitaan tetapi kekuatan untuk menanggung penderitaan itu. Tetapi seperti Yesus yang tetap tenang karena Bapa menyertai-Nya, kita pun diajak bersabar dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang sulit. Ada kalanya kita berada dalam situasi sulit, merasa ditinggalkan dan lemah seperti para murid. Tuhan Yesus berkata: “Kuatkanlah hatimu! Aku telah mengalahkan dunia.” Artinya semua hal yang terjadi didalam dunia berada dalam kuasa Tuhan, termasuk penderitaan dan kematian. Itulah sebabnya karena Kristus menang, kita pun dapat bertahan dan bersukacita dalam pengharapan dan   Sabar dalam penderitaan. Ini adalah penguatan kepada semua anak-anak Tuhan, Ia memakai penderitaan untuk membentuk karakter, mendewasakan iman dan semakin meneguhkan kita. Sebab itu ketika hati mulai gelisah, datanglah kepada-Nya. Dialahyang membuat kita tetap kuat menjalani hidup ini.

Doa: Tuhan hati kami kuat karena Engkau telah mengalahkan dunia, Amin.

Jumat, 20 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 126 : 1 – 6 (TB2)

Pengharapan pemulihan Israel
Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. 2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu dikatakan di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perbuatan besar kepada mereka!" 3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. 4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! 5 Orang-orang yang menabur dengan bercucuran air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 6 Orang yang pergi dengan menangis sambil membawa kantong benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkas gandumnya.

 Kesetiaan Menabur Benih

Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, rasanya seperti mimpi. Sukacita yang meluap digambarkan melalui tawa dan sorak-sorai. Pengalaman ini begitu luar biasa sehingga bangsa-bangsa lain pun mengakui, “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”. Di tengah sukacita awal, masih ada kerinduan untuk pemulihan yang lengkap. Pemazmur berseru, “Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!” Ini adalah metafora yang kuat, menggambarkan keinginan agar berkat dan kehidupan mengalir kembali dengan deras ke dalam situasi yang sebelumnya gersang dan hancur, seperti sungai di padang gurun yang kembali dialiri air setelah hujan.  Menabur dengan air mata melambangkan kerja keras, kesabaran, dan kesetiaan dalam ketaatan kepada Tuhan di tengah rasa sakit, duka, tantangan, atau penolakan. Ini bisa berarti terus melayani, berdoa, memberi, atau melakukan kebaikan meskipun hasilnya belum terlihat atau justru menghadapi kesulitan. Mempertahankan harapan di tengah pencobaan, dengan keyakinan bahwa masa sulit adalah bagian dari proses menuju pemulihan dan sukacita yang lebih besar. Terus “menabur benih” iman dan ketaatan, meskipun keadaan mungkin membuat kita menangis atau putus asa. berpegang pada janji Tuhan akan penuaian sukacita yang pasti datang pada waktu-Nya.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk tetap setia menabur, di segala situasi. Amin.

Sabtu, 21 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 40 : 12 – 18 (TB2)

12 Engkau, TUHAN, janganlah menahan rahmat-Mu terhadap aku, kasih-Mu dan kebenaran-Mu kiranya menjaga aku selalu! 13 Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku dikejar kesalahanku, sampai aku tidak sanggup lagi melihat; lebih besar jumlahnya daripada rambut di kepalaku, sehingga patah semangatku. 14 Berkenanlah ya TUHAN melepaskan aku; TUHAN, segeralah menolong aku! 15 Biarlah dihina dan tersipu-sipu semua yang mengincar nyawaku untuk dihabisi; biarlah mundur dan kena aib mereka yang mengingini kecelakaanku! 16 Biarlah terdiam karena malu mereka yang mengata-ngatai aku: "Syukur, syukur!" 17 Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari-Mu tetap berkata: "TUHAN itu besar!" 18 Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku. Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku, ya Allahku, janganlah berlambat-lambat!

Sumber Sukacita Sejati

Pemazmur memulai dengan mengakui realitas penderitaan dan dosa yang mengepungnya. Ia berada di tengah beban dosa pribadi dan masalah hidup yang pelik. Dalam kelemahan ini, ia berseru dan ditengah permohonan, Daud mengungkapkan keyakinannya akan keadilan dan pertolongan Tuhan. Ia memohon agar musuh-musuhnya yang ingin mencelakakannya menjadi malu dan mundur, sementara ia sendiri menantikan pembebasan dari Tuhan. Bagian ini menekankan kontras antara nasib orang fasik dan orang benar. Sukacita ini bukanlah sekadar kebahagiaan situasional atau berdasarkan keadaan baik, tetapi sukacita yang mendalam karena mengenal karakter Tuhan dan mengalami keselamatan-Nya. Orang yang mencari Tuhan akan: Bergembira dan bersukacita karena Tuhan sendiri. Mencintai keselamatan dari Tuhan, berarti menghargai anugerah yang diberikan-Nya. Tetap memuliakan Tuhan dan mengakui kebesaran-Nya. Mencari Tuhan adalah sumber kebahagiaan sejati dan keamanan di tengah tantangan hidup. Ketika kita meluangkan waktu untuk menantikan dan merasakan kehadiran Tuhan, kita akan mengalami perbuatan-Nya yang ajaib dan mendapatkan nyanyian baru dalam mulut kita.

Doa: Tuhan, bantu kami mau selalu mencari-Mu, Sumber sukacita sejati. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 8 – 14 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Pandanglah Tuhan dan Bertobatlah!

Minggu, 8 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 22 : 54 – 62 (TB2)

Petrus menyangkal Yesus
54 Mereka menangkap Yesus dan membawa Dia ke rumah Imam Besar. Sementara itu, Petrus mengikuti dari jauh. 55 Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. 56 Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api. Ia mengamat-amatinya, lalu berkata: "Orang ini juga bersama Dia." 57 Namun, Petrus menyangkal, katanya: "Aku tidak kenal Dia, Bu!" 58 Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga seorang dari mereka!" Namun, Petrus berkata: "Bukan aku, Pak!" 59 Kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama Dia, sebab ia juga orang Galilea." 60 Namun, Petrus berkata: "Pak, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. 61 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." 62 Ia pun pergi ke luar dan menangis dengan sedih.

Pandanglah Tuhan dan Bertobatlah

Sejak tahun 1977 PBB meresmikan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia. Faktanya tindak kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual atau juga diskriminasi atas perempuan kerap tetap berlangsung. Padahal Tuhan menciptakan manusia setara baik laki-laki tetapi juga perempuan. Terhadap situasi yang ada, seruan bertobat menjadi penting disuarakan. Kita harus memandang Tuhan agar kita bertobat dari pandangan dan sikap kita yang salah. Situasi ini pernah dialami oleh Simon Petrus sebagaimana dikisahkan dalam teks bacaan hari ini. Bila sebelumnya ia dengan lantang mengatakan bersedia masuk penjara dan mati dengan Tuhan Yesus, namun saat ia ditanyai oleh hamba perempuan dan orang lain tentang kedekatannya dengan Tuhan Yesus, ia menyangkalinya. Penyangkalannya kemudian disesalinya setelah ia menyadari bahwa Tuhan Yesus sedang memandangnya. Marilah di minggu sengsara keempat, pandang Tuhan dan bertobatlah!

Doa: ya Tuhan Yesus, ampunilah kami orang berdosa ini, Amin.

Senin, 9 Maret 2026

bahan bacaan : Yehezkiel 18 : 30 – 32 (TB2)

30 Oleh karena itu, hai kaum Israel, Aku akan menghukum kamu masing-masing menurut tindakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bertobatlah dan berpalinglah dari segala pelanggaranmu, supaya hal itu tidak menjadi bagimu batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan. 31 Buanglah darimu segala pelanggaran yang kamu lakukan terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu harus mati, hai kaum Israel? 32 Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bertobatlah, supaya kamu hidup!"

Bertobatlah supaya Kamu Hidup

Hesty seorang ibu rumah tangga yang bertetangga dengan Yona seorang PNS guru. Suami Hesty adalah juga seorang PNS guru. Setiap tanggal gajian, Hesty selalu memperhatikan Yona yang membelikan barang baru. Ia pun memaksa suaminya untuk membelikan barang yang baru. Suatu ketika Hesty meminta kepada suaminya untuk membelikan TV baru. Suaminya menolak mengikuti keinginannya karena TV mereka masih bisa digunakan. Hesty pun merajuk dan tidak mau memasak untuk keluarganya. Sikap Hesty sangat tidak baik. Ia harus mengubah gaya hidupnya. Teks hari ini mengajarkan hal pertobatan. Nubuat Yehezkiel berisi berita mengenai kehancuran bangsa Israel, tetapi juga berisi ajakan kepada bangsa Israel agar berbalik kembali kepada Tuhan dan meminta pengampunan-Nya. Bertobat berarti berbalik dari dosa-dosa yang pernah dilakukan. Kita tahu bahwa orang yang memandang Tuhan harus membarui hati dan rohnya. Ia harus belajar berhenti berbuat jahat. Ayat 32a berkata:  Sebab Aku tidak berkenan pada kematian seseorang, demikianlah Firman Tuhan. Tuhan sangat mengasihi kita. Jangan kita sia-siakan kebaikan Tuhan. Bertobatlah supaya kita hidup. Hesty mesti bertobat supaya baik dirinya tetapi juga keluarganya tetap diberkati Tuhan.

Doa: ya Tuhan Yesus terimalah pertobatan kami. Amin.

Selasa, 10 Maret 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 3 : 17 – 20 (TB2)

17 Nah saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. 18 Namun, dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. 19 Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, 20 agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang ditetapkan bagimu sebagai Kristus.

Sadar dan Bertobat Supaya Hidup Dipulihkan

Pertobatan bukan sekadar meninggalkan dosa, melainkan proses melihat diri dalam terang kasih Allah. Dalam teks ini, Petrus berbicara kepada orang banyak yang sebelumnya menolak Yesus. Namun, ia tidak datang dengan nada menghakimi. Ia membuka ruang bagi pemulihan, bahwa di dalam Kristus, kegagalan manusia tidak menjadi kata akhir. Bertobat berarti mengakui bahwa kita sering berjalan dalam kecenderungan yang salah, lalu berbalik menuju jalan yang dipulihkan oleh Allah. Ketika seseorang bertobat, Allah menjanjikan “waktu kelegaan.” Ini adalah keteduhan yang tidak dapat diberikan oleh kekuatan manusia atau pencapaian duniawi, tetapi hadir dari penyertaan Tuhan sendiri. Hidup dipulihkan bukan karena kita sempurna, tetapi karena kasih karunia yang sanggup memperbarui apa yang retak dalam hidup kita. Pertobatan membuka mata dan hati kita untuk menerima hidup yang baru, yang bersumber dari Kristus.

Doa: Tuhan, pulihkanlah hidup kami, Amin.

Rabu, 11 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 63 : 1 – 9 (TB2)

Merindukan  Allah
Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. 2 Ya Allah, Engkaulah Allahku, pagi-pagi aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku letih merindukan Engkau, seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair. 3 Demikianlah aku mengarahkan mata pada-Mu di tempat kudus, untuk melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. 4 Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. 5 Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menyebut nama-Mu dengan tangan terangkat. 6 Jiwaku dikenyangkan seperti dengan sumsum yang terlezat, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku menyanyikan puji-pujian. 7 Saat aku mengingat Engkau di tempat tidurku, aku merenungkan Dikau sepanjang jaga malam, 8 Sebab Engkau telah menjadi pertolonganku, dan di bawah naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. 9 Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

Mengarahkan Mata Kepada Tuhan Karena Ia Lebih Berharga daripada Hidup

Ketika Daud menulis mazmur ini, ia berada dalam keadaan terancam dan tersisih. Namun ia tidak terjebak dalam ketakutan, melainkan mengarahkan pandangannya kepada Allah. Ia menyadari bahwa hidup dapat membawa banyak hal yang tidak pasti, tetapi Allah tetap menjadi satu-satunya yang pasti. Ketika kita mengarahkan mata kepada Tuhan, kita sedang menempatkan kembali dasar hidup kita pada yang tak tergoyahkan. Pernyataan bahwa kasih Tuhan lebih baik daripada hidup adalah deklarasi iman yang mendalam. Hidup tanpa Tuhan dapat saja penuh keberhasilan lahiriah, tetapi miskin jiwa. Sebaliknya, hidup bersama Tuhan, sekalipun dalam keterbatasan, membawa kedalaman dan makna yang sejati. Mengarahkan mata kepada Tuhan adalah keputusan harian: memilih untuk percaya, berharap, dan bersandar kepada-Nya dalam segala situasi.

Doa: Tuhan, kami mengarahkan mata kepada-Mu, karena Engkau lebih berharga daripada hidup, Amin.

Kamis, 12 Maret 2026

bahan bacaan : Wahyu 2 : 1 – 7 (TB2)

Kepada jemaat di Efesus
"Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki pelita emas itu. 2 Aku tahu segala pekerjaanmu, baik jerih payahmu maupun ketabahanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah menguji mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. 3 Engkau tetap tabah, sabar menderita oleh karena nama-Ku; dan tidak mengenal lelah. 4 Meskipun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki pelitamu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. 6 Tetapi, inilah yang ada padamu: Engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. 7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Firdaus Allah."

Bertobat dan Kembali kepada Kasih yang Semula

Gereja Efesus dikenal karena ketekunan dan ketepatannya dalam menguji ajaran, namun mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kasih yang semula. Kasih yang semula adalah pengalaman pertama ketika seseorang mengenal Kristus. Hangat, rendah hati dan penuh syukur. Ketika aktivitas keagamaan menjadi rutinitas, cinta itu dapat memudar tanpa disadari. Tuhan memanggil kita untuk kembali, bukan sekadar untuk ingat, melainkan untuk memulihkan keintiman yang pernah hidup. Kasih kepada Kristus bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan yang memampukan kita untuk mengasihi sesama. Dalam memulihkan kasih yang semula, kita menata ulang prioritas hidup, mengembalikan Tuhan ke tempat pertama. Pertobatan di sini adalah undangan untuk memperbarui relasi, bukan untuk menambah beban. Dan ketika kasih itu dipulihkan, hidup dan pelayanan menjadi kembali bernyawa.

Doa: Tuhan, tolonglah kami mengembalikan kasih yang semula dalam hidup kami, Amin.

Jumat, 13 Maret 2026

bahan bacaan : Yesaya 45 : 22 – 25 (TB2)

22 Berpalinglah kepada-Ku supaya kamu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. 23 Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: Semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan semua lidah bersumpah setia demi Aku, 24 sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN. Semua orang yang marah terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu, 25 tetapi seluruh keturunan Israel akan mendapat keadilan dan bermegah di dalam TUHAN."

Memandang Tuhan dan Diselamatkan

Tuhan mengundang semua bangsa untuk memandang kepada-Nya dan menerima keselamatan. Ini adalah panggilan yang universal, melampaui suku, bangsa, dan identitas apa pun. Memandang kepada Tuhan adalah tindakan iman: mengakui bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri dengan usaha atau moralitas kita sendiri. Bukan juga berasal dari kekayaan, kekuasaan atau kemampuan manusia. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan kepada mereka yang datang dengan hati yang terbuka.  Di hadapan Tuhan, setiap lutut bersujud dan lidah mengaku, bukan karena paksaan, tetapi karena pengenalan mendalam akan kemuliaan-Nya. Ketika seseorang sungguh-sungguh memandang kepada Tuhan, ia melihat kebenaran yang membebaskan dan kasih yang menyelamatkan. Menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan kehilangan kebebasan, melainkan menemukan kebebasan yang sejati untuk dipakai sebagai alat-Nya yang berguna.

Doa: Kami datang Bersujud dan memandangMu Tuhan, selamatkanlah kami! Amin.

Sabtu, 14 Maret 2026

bahan bacaan : Yeremia 18 : 5-10 (TB2)

5 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: 6 "Apakah Aku tidak dapat bertindak terhadap kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel?, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! 7 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. 8 Akan tetapi, apabila bangsa yang kusebutkan itu bertobat dari kejahatannya, maka Aku akan menyesal karena hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurencanakan terhadap mereka. 9 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanamnya. 10 Namun, apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, menyesallah Aku karena kebaikan yang Kujanjikan untuk didatangkan kepada mereka.

Bentuklah Kami Kembali Seperti yang Tuhan Mau

Tuhan digambarkan sebagai penjunan yang membentuk tanah liat. Ini mengandung pesan bahwa Tuhan berdaulat atas bangsa-bangsa dan kehidupan manusia. Hidup kita berada di tangan Tuhan, seperti tanah liat di tangan tukang periuk. Ia bisa merusak periuk yang tidak sempurna dan membuatnya kembali menjadi sesuatu yang berguna. Semua itu adalah kuasa tukang periuk sebagai penjunan. Namun kuasa ini bukan kuasa yang kejam, melainkan kuasa yang penuh kesabaran. Jika manusia bertobat, bahkan setelah mereka telah menyimpang jauh, Tuhan bersedia membentuk mereka kembali menjadi bejana yang indah. Penghukuman bukanlah tujuan akhir Tuhan. Yang Ia inginkan adalah pertobatan dan pemulihan. Ketika manusia berhenti bersandar pada kekerasan hati dan mulai kembali kepada Tuhan, kasih karunia bekerja mengubah apa yang rusak. Pertobatan selalu membuka pintu harapan baru. Dalam tangan Tuhan, hidup yang terpecah sekalipun dapat dibentuk kembali menjadi kehidupan yang membawa damai dan berkat.

Doa: Bentuklah kami kembali seperti yang Tuhan mau, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 1 – 7 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Ingatlah Kasih Setia Tuhan Dalam Penderitaan

Minggu, 1 Maret 2026

bahan bacaan : Ratapan 3 : 19 – 33 (TB2)

19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan racun pahit dan kepahitan." 20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 21 Tetapi, inilah yang kuperhatikan, sebab itu berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 24 "TUHANlah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 TUHAN itu baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Baiklah menanti dengan diam pertolongan TUHAN. 27 Baiklah bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. 28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau kuk ditaruh padanya. 29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. 30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan. 31 Karena tidak untuk selamanya Tuhan menolak. 32 Walaupun Ia mendatangkan kesusahan, Ia juga berbelas kasihan menurut kebesaran kasih setia-Nya. 33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan menyusahkan anak-anak manusia.

Jika Menderita, Ingatlah Kasih Setia Tuhan!

Perjalanan hidup kita selalu penuh dengan warna, mulai dari meringis karena kesakitan, menangis karena bersedih, dan tertawa karena kegirangan. Semua itu terjadi agar kita selalu merasakan campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bangsa Israel, karena kedegilan hatinya harus mengalami penderitaan, ditaklukkan musuh dan ditawan sebagai budak. Meski keadaan sangat terpuruk, namun Yeremia melihat dari sisi imannya bahwa di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Dalam keadaan terpuruk sekalipun ia tetap memandang kepada kasih setia Tuhan dan kebaikan Tuhan yang tak berkesudahan. Di minggu sengsara ketiga ini, kita belajar untuk mengingat kasih setia Tuhan bila keadaan kita sedang terpuruk. Bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ketika kita terpuruk akibat berbagai persoalan hidup seperti umat Israel, bagaimana kita menanggapi? Stres, depresi, atau putus asa? Di sinilah sebagai seorang percaya diajak untuk menanggapi segala sesuatu dari segi iman. Bila persoalan menghampiri kita, bukan berarti kasih Tuhan telah berakhir. “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi”. Artinya Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi. Ingatlah terus kebaikan Tuhan dan selalu berharap bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini karena Tuhan itu baik dan pengasih.

Doa: Kepada kasih setiaMulah aku percaya, ya Tuhan. Amin.

Senin, 2 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 86 : 8 – 13 (TB2)

8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaulakukan. 9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. 10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. 11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. 12 Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; 13 sebab besarlah kasih setia-Mu kepadaku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari lubuk dunia orang mati.

Kasih Setia Tuhan Melepaskan Dari Lubuk Orang Mati

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali diperhadapkan dengan situasi yang menekan. Masalah dan pergumulan itu adakalanya menghimpit iman dan membuat kita berada dalam kesesakan. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang putus asa. Apakah yang harus dilakukan supaya kesesakan tidak membuat kita putus asa?. Pesan Tuhan ini menjadi kekuatan bagi kita untuk tidak perlu takut karena mengalami situasi yang semakin suram. Kesetiaan Tuhan menopang kita untuk mampu menanggung segala perkara. Kita Adalah orang percaya kepada Kristus yang memiliki iman yang mampu mengalahkan dunia. Jiwa kita akan tetap kuat di tengah guncangan dan krisis global karena pengharapan kita hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kadang Tuhan ijinkan kita mengalami lembah kekelaman, situasi yang sulit dan mustahil dan penuh dengan gejolak, tapi justru di situlah kesempatan Tuhan menunjukkan kasih setia dan menyatakan kemuliaanNya. Kita tidak akan dibiarkan berjalan sendiri menghadapi segala tantangan. Tuhan akan melindungi, memelihara dan melepaskan kita dari penderitaan yang berupa lubuk orang-orang mati. Dia adalah tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Olehnya teruslah berharap kepada kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan.

Doa: Terima kasih untuk kasih setiaMu ya Tuhan. Amin.

Selasa, 3 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur  69 : 14 – 19  (TB2)

14 Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia! 15 Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari mereka yang membenci aku, dan dari air yang dalam! 16 Janganlah biarkan arus banjir menghanyutkan aku, atau air yang dalam menelan aku, dan jangan biarkan sumur menutup mulutnya mengurung aku. 17 Jawablah aku, ya TUHAN, sebab sungguh baik kasih setia-Mu, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar! 18 Janganlah sembunyikan wajah-Mu dari hamba-Mu, sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku! 19 Datanglah kepadaku, tebuslah aku, oleh karena musuh-musuhku bebaskanlah aku.

Kasih Setia Tuhan Melepaskan Dari Kesesakan

Kesulitan dan penindasan terjadi dalam bacaan ini dan itu digambarkan oleh penulis Mazmur. Ia berbicara tentang kesesakan hatinya, caci maki yang dia alami, dan ketidakmampuannya untuk menemukan pertolongan. Ia meminta pertolongan dan belas kasihan Tuhan dan dia berharap kepada Tuhan sebagai satu-satunya tempat perlindungan dan pertolongan. Dari permohonan Pemazmur ini, menandakan ungkapan kepercayaan dan ketergantungan kepada Tuhan dalam situasi yang sulit, bahwa Tuhan pasti menjawab doa dan mengampuni dia dari penindasan yang dia alami. Ya, adalah tepat dan sangat bijaksana untuk datang kepada Tuhan dalam doa dan mengandalkan-Nya dalam masa-masa kesulitan yang membuat kita sesak. Seringkali kita juga berada dalam kesesakan, kesulitan dan penindasan. Baiknya kita bertindak seperti Pemazmur yang memohon kepada Allah untuk melepaskan kita. Di sini kita mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan memberi pertolongan dalam situasi tersebut karena kasih setiaNya yang besar. Menjadikan Allah sebagai sumber harapan, pertolongan, dan penyelamatan adalah ungkapan iman yang kuat. Ingatlah saat penuh kesesakan, kita dapat berharap kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan dan penghiburan sebab hanya Dialah yang mampu melepaskan kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur walau hidup kami menderita, namun kasih setiaMu tak pernah berkesudahan, amin.

Rabu, 4 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 94 : 16 – 23 (TB2)

16 Siapakah yang akan bangkit membela aku terhadap orang-orang jahat, siapakah yang akan tampil mendampingi aku terhadap orang yang melakukan kejahatan? 17 Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku berdiam di alam kesunyian. 18 Ketika aku berpikir: "Kakiku sudah goyah," kasih setia-Mu, ya TUHAN, menopang aku. 19 Ketika bathinku kalut oleh pikiran-pikiran, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. 20 Bagaimana mungkin Engkau bersekongkol dengan kebusukan peradilan, yang merancangkan bencana berdasarkan peraturan? 21 Mereka bersekongkol melawan orang benar, dan menghukum mati orang tidak bersalah. 22 Tetapi, TUHAN adalah kota bentengku, Allahku gunung batu perlindunganku. 23 Ia akan membalas perbuatan jahat mereka, dan karena kejahatan mereka Ia akan membinasakan mereka; TUHAN, Allah kita, akan membinasakan mereka.

Kasih Setia Tuhan Yang Menopang, Menghibur dan Membela

Kita masih hidup dan tentu saja masih menghadapi berbagai masalah yang membawa penderitaan kepada hati. Bagaimana cara kita mengatasi masalah tersebut, tergantung kepada setiap pribadi. Sebagian orang memandang masalah sebagai situasi hidup yang buruk. Sedangkan sebagian lagi memandang masalah sebagai cara Tuhan menunjukan kasih setiaNya. Nas kita pada hari ini menyerukan bahwa Allah pembela keadilan dan kebenaran sebab itu Pemazmur berkata: Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.

Pada saat kita terbebani masalah yang besar dan ketidakmampuan kita menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidup ini, hendaklah kita selalu mengandalkan Tuhan, berpengharapan kepada Tuhan sebab Dia adalah sumber kekuatan yang tidak pernah musnah, sebab kebaikan Allah bagi kita itu abadi. Pengharapan dan penghiburan yang datangnya dari Tuhan memberikan kekuatan dan memampukan kita menghadapi kesulitan. Tuhan tidak pernah berdiam diri ketika kita menderita karena tertindas atau tertekan dalam hidup. Tuhan sanggup membela kita berdasarkan kasih setiaNya.

Doa: Atas kasih setiaMu yang menopang, menghibur dan membela kami, terima kasih ya Tuhan. Amin.

Kamis, 5 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 136 : 23 – 26 (TB2)

23 Dia yang mengingat kita ketika direndahkan, sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 24 Dan membebaskan kita dari pada para lawan kita; sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 25 Dia yang memberikan makanan kepada segala makhluk; sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 26 Bersyukurlah kepada Allah Semesta Langit! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Ingatlah Kasih Setia Tuhan Ketika Direndahkan

Semua kita pasti pernah melewati masa-masa sulit. Entah di saat kita mampu atau tidak; situasi tersebut bisa membuat kita hilang harapan. Apalagi ketika kita merasa sendirian dalam menyikapinya. Tiada yang peduli kepada kita. Tiada yang menaruh perhatian atau belas kasih kepada kita. Penderitaan semacam ini terasa sangat menyakitkan. Kita bisa hilang arah dan bahkan kemudian melakukan hal yang bukan saja membahayakan diri sendiri tetapi juga orang lain. Tetapi sebagai orang percaya, kita diingatkan  teks hari ini. Sebagai suatu kitab yang berisikan pujian dan doa, Mazmur mengajak kita untuk tetap mengingat kasih setia Tuhan. Sesungguhnya ada banyak kebaikan yang Tuhan buat dalam kehidupan umat. Pemazmur secara berulang mengajak umat untuk bersyukur atas kasih setia Tuhan. Umat tidak boleh melupakan bahwa di saat umat direndahkan justru Allah menyatakan kuasa-Nya. Tuhan mengingat kesusahan umat dan Tuhan yang membebaskan umat. Karena itu, kita diajak untuk tetap ingat kasih setia Tuhan dalam penderitaan. Percayalah di saat kita direndahkan Tuhan tidak membiarkannya. Tuhan menolong kita melewati segala kesukaran. Kasih setia Tuhan menyelamatkan kita.

Doa: ya Allah, mampukanlah kami mempercayai kasih setia-Mu, ,Amin.

Jumat, 6 Maret 2026

Bahan bacaan : Mazmur 90 : 13 – 17 (TB2)

13 Kembalilah, ya TUHAN! Berapa lama lagi? Sayangilah hamba-hamba-Mu! 14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami. 15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami sengsara. 16 Biarlah perbuatan-Mu terlihat oleh hamba-hamba-Mu, dan semarak-Mu oleh anak-anak mereka. 17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, turun ke atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, teguhkanlah perbuatan tangan kami.

Tuhan  Mengenyangkan Hidup

Waktu kecil ketika ayah saya sakit, ia meminta saya untuk berdoa baginya. Saya malu sekali waktu itu. Entah bagaimana kejadiannya saya kemudian berdoa, tapi malamnya saya bermimpi. Tuhan Yesus membawa saya dengan sebuah kapal kecil. Sejak kecil saya menyebut kapal itu bahtera. Tuhan Yesus membawa saya ke gereja dan disana saya bersama orang-orang bernyanyi memuji Tuhan. Setelah itu, Tuhan Yesus bertanya kepada saya, apakah saya lapar?  Saya pun dengan semangat menjawab : Tidak Tuhan Yesus. Saya tidak lapar lagi. Ternyata Tuhan Yesus membuat saya kenyang. Saya terbangun dari tidur dan menceritakan mimpi itu kepada ayah saya. Saya mengingat mimpi itu sampai saat ini dan membuat kedekatan dengan Tuhan menjadi rutinitas saya. Apa yang saya alami tidak berbeda jauh dengan apa yang diungkapkan Pemazmur. Ia merasakan bahwa Tuhan tempat perteduhan yang kekal. Hanya kepada Tuhan, ia menaruh doa: ”Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami.” Pemazmur menyatakan Tuhan saja yang membuatnya bersukacita. Ini pula keyakinan saya. Tuhan mengenyangkan kita dengan kasih setia-Nya.

Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami percaya Dikau sanggup kenyangkan kami, Amin.

Sabtu, 7 Maret 2026

bana bacaan : Mazmur 143 : 5 – 8 (TB2)

5 Aku teringat pada hari-hari di masa lampau, aku menuturkan segala pekerjaan-Mu, aku merenungkan perbuatan tangan-Mu. 6 Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela 7 Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur. 8 Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.

Kasih Setia Tuhan Diberikan Kepada Orang Yang Percaya Kepada-Nya

Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah orang yang memiliki keyakinan sungguh akan kuasa Tuhan. Meskipun mereka berada dalam persoalan yang berat, tetapi iman mereka tidak mudah goyah. Sebutlah Beny dan Maria. Keduanya adalah pelayan Tuhan. Mereka telah menikah delapan tahun. Karena belum memiliki anak, mereka berdoa meminta petunjuk Tuhan. Setelah melalui banyak pergumulan, mereka kemudian mengambil keputusan untuk mengadopsi anak. Sekalipun hanya anak angkat tetapi mereka menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka percaya akan kuasa Tuhan dalam hidup rumah tangga mereka. Teks hari ini menceritakan ungkapan doa seorang yang memintakan pertolongan dan pengajaran Tuhan. Ia tertekan dengan situasi hidupnya. Namun ia mengingat campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Oleh karena itu, dengan penyerahan diri, ia meminta Tuhan mengajarinya. Ia pun akhirnya meyakini bahwa kasih setia Tuhan akan tetap berlaku atas hidupnya bahkan persoalannya. Dengan kepasrahan ia menjalani semuanya. Beny dan Maria telah menjalaninya. Mereka percaya akan kasih setia Tuhan walaupun hanya harus memiliki anak angkat.

Doa: ya Tuhan Yesus, tetaplah berikan kasih setia-Mu kepada kami, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Tuhan Menjawab Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya

Minggu, 22 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 22 : 20 – 25 (TB2)

19 (22-20) Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! 20 (22-21) Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing. 21 (22-22) Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku! 22 (22-23) Maka aku mau menceritakan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah: 23 (22-24) kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel! 24 (22-25) Sebab Ia tidak memandang hina ataupun menganggap sepi kesengsaraan orang yang tertindas, Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya terhadap orang itu, dan Ia mendengarkan seruannya minta tolong.

Tuhan Menjawab Seruan Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya

Bacaan hari ini lahir dari jeritan seorang yang terhimpit, yang nyaris kehilangan daya, bahkan merasa seolah-olah ditinggalkan. Namun dari kedalaman penderitaan itu, pemazmur tidak berhenti pada ratapan. Ia berani berseru, memohon pertolongan, dan akhirnya bersaksi tentang Allah yang tidak menolak seruan orang yang tertindas. Tuhan tidak memalingkan wajah-Nya. Tuhan tidak menutup telinga-Nya. Tuhan hadir, mendengar, dan menyelamatkan. Inilah iman yang hidup di tengah sengsara iman yang tidak menyangkal penderitaan, tetapi tetap menggantungkan harap sepenuhnya kepada Allah. Karena itu, memasuki Minggu Sengsara kedua ini, merupakan suatu masa perenungan yang mengajak kita untuk kembali menatap dengan jujur realitas penderitaan, pergumulan, luka, dan jeritan hati manusia. firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk melihat kembali hidup kita: di tengah tekanan, luka, ketidakpastian, dan pergumulan yang mungkin masih kita tidak mengerti, apakah kita masih memilih untuk berseru kepada Tuhan? Dan sebagai orang-orang pilihan yang hidup dalam anugerah-Nya, apakah kita masih percaya bahwa Tuhan sungguh mendengar, menjawab, dan tidak pernah meninggalkan kita?

Doa: Tuhan, terima kasih karena menjawab seruanku kepadaMU. Amin.

Senin, 23 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 34 : 16 – 23 (TB2)

15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; 16 (34-17) wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. 17 (34-18) Orang-orang benar berseru-seru, dan TUHAN mendengarkan, Ia melepaskan mereka dari segala kesesakannya. 18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat. 19 (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; 20 (34-21) Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun akan patah. 21 (34-22) Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. 22 (34-23) TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Tuhan Mendengar Seruan Orang Benar yang Menderita

Sepanjang hidup di dunia ini kita akan berhadapan dan menjumpai orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kita. Seperti juga yang pernah dialami para nabi atau tokoh-tokoh penting di dalam Alkitab. Meskipun demikian, satu hal yang dapat dipelajari dari mereka yaitu bahwa mereka selalu melakukan kebenaran dan dekat kepada Tuhan. Hanya dengan melakukan kebenaran, seruan permohonan minta pertolongan kepada Tuhan akan terjawab. Mengapa demikian?, Menurut pemazmur, mata Tuhan itu tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga Tuhan selalu mendengar teriak mereka minta pertolongan (ay.16). Tertuju artinya doa orang benar menjadi perhatian tersendiri dari Tuhan. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Jadi, Tuhan akan selalu mendengar suara permohonan minta pertolongan dari kita, yang penting dalam hidup ini kita melakukan kebenaran. Tuhan Yesus, yang paling benar dari semua orang benar, juga menangis dan berseru kepada Bapa.Karena itu ketika kita berseru dalam penderitaan, kita tidak berseru kepada Allah yang jauh, tetapi kepada Juruselamat yang mengerti dari pengalaman. Ia menjadi jaminan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan seruan orang benar dalam penderitaan.

Doa: Tuhan, mampukan kami hidup dalam kebenaran, supaya doa kami didengar olehMU. Amin.

Selasa, 24 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 86 : 1 – 7 (TB2)

Doa memohon kasih setia
Doa Daud. Arahkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. 2 Jagalah hidupku, sebab aku setia, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. 3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. 4 Buatlah hati hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat hatiku. 5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. 6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku. 7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.

Tuhan Mendengar dan Menjawab pada Hari Kesesakan

Bacaan hari ini menceritakan tentang Daud yang percaya bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi memperhatikan setiap kata dalam doanya. Ia berkata, “pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.” Inilah iman yang lahir dari pengalaman berjalan bersama Tuhan. ketika badai masalah datang, ketika hati gentar dan takut, ketika menemui jalan buntu, Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan selalu dekat kepada orang yang berseru kepada-Nya. Kita pun sering datang dengan berbagai pergumulan, ketakutan, tekanan atau kebingungan. Seringkali kita diperhadapkan dengan situasi yang sulit. Masalah dan tantangan hidup silih berganti menghimpit dan membuat kita merasa sesak. Hal ini membuat tidak sedikit orang mengalami kekecewaan dan putus asa dalam hidup. Namun Mazmur ini mengingatkan bahwa kita memiliki Allah yang menyendengkan telingaNya untuk mendengar seruan kita. Dia adalah Allah yang menjawab doa pada waktuNya. Sebab itu,apabila kita  berada dalam kesesakan, janganlah putus asa.  Teguhkanlah hati untuk tetap berharap hanya kepada Tuhan dan Berserulah dalam doa, IA akan menjawab.

Doa: Tuhan, dalam kesesakanku, Dengarkanlah seruan doaku. Amin.

Rabu, 25 Februari 2026

bahan bacaan : Kejadian 21 : 14 – 21 (TB2)

14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekantong air, memberikannya kepada Hagar, dan meletakkannya di atas bahunya. Lalu bersama anak itu disuruhnya Hagar pergi. Hagar kemudian pergi dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air yang dikantong itu habis, anak itu ditinggalkannya di bawah semak-semak, 16 Lalu ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Aku tidak tahan melihat anak itu mati." Sementara duduk di situ, Hagar menangis dengan suara nyaring. 17 Allah mendengar suara anak laki-laki itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar. Ia berkata kepadanya: "Apa yang terjadi padamu, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah dia erat-erat, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur. Ia pergi mengisi kantong airnya, lalu memberi anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu. Ia bertambah besar dan menetap di padang gurun serta menjadi seorang pemanah. 21 Ia tinggal di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Tuhan Mendengar Suara Tangisan Kesusahan

Kisah Hagar dan Ismael di padang gurun adalah salah satu potret paling menyentuh tentang Allah yang mendengar tangisan manusia. Hagar diusir, kehabisan makanan, kehilangan arah dan akhirnya meletakkan Ismael di bawah semak-semak karena tidak sanggup melihat anaknya mati kehausan. Ia menangis jauh dari anaknya, menangis dalam keputusasaan dan ketakutan. Tetapi Alkitab mencatat sesuatu yang indah: Allah mendengar suara anak itu (ay.17). bukan hanya suara  tangisan Hagar melainkan juga Ismael, seorang anak yang tidak mampu menolong dirinya sendiri. Bacaan ini hendak mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan tangisan kita. Saat kita merasa seperti Hagar: hilang arah, merasa sendirian, tertekan dengan banyak masalah dan tidak kuat hadapi penderitaan, airmata adalah doa yang didengar oleh Tuhan.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu mendengar suara tangisan kesusahanku, Amin.

Kamis, 26 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 120 : 1 – 7 (TB2)

Doa orang yang tinggal di tengah-tengah musuh
Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: 2 "Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari bibir dusta, dari lidah penipu." 3 Apakah yang akan diberikan-Nya kepadamu dan apakah yang masih akan ditambahkan-Nya kepadamu, hai lidah penipu? 4 Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar. 5 Celakalah aku, karena harus tinggal sebagai pendatang di Mesekh, karena harus menetap di antara kemah-kemah Kedar! 6 Lama sudah aku menetap bersama orang-orang yang membenci perdamaian. 7 Ketika aku berbicara tentang damai, mereka tentang perang.

Tuhan Mendengar seruan dan Membebaskan dari Tipu daya

Perjumpaan dengan orang lain di sekitar kita adalah realitas hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Suka atau tidak suka, perjumpaan itu membuat kita mengalami berbagai hal yang menyenangkan tetapi juga menyakitkan. Terhadap kenyataan yang demikian, apakah yang akan dilakukan menyikapi semua hal yang menyakitkan itu? Hari ini kita belajar dari pemazmur, karena dalam kesesakan yang di alami ia tetap berseru kepada Tuhan. Pemazmur mengalami kesesakan karena ia harus berhadapan dengan bibir dusta dan lidah penipu. Atau dengan kata lain orang-orang yang menyerangnya dengan tuduhan palsu dan penghianatan. Karena itu, pemazmur berseru dalam doanya agar Tuhan membebaskan jiwanya dari pengaruh buruk mereka. Pengalaman pemazmur yang berhadapan dengan orang-orang yang demikian tidak jarang dialami juga oleh kita di masa kini. Banyak yang suka menebar fitnah dengan bibirnya dan tipu muslihat dengan lidahnya. Hal semacam ini dapat saja kita alami tidak hanya di lingkungan masyarakat secara umum tetapi juga  dalam keluarga dan tempat kita bekerja atau melayani. Menghadapi kenyataan yang demikian maka kita diajarkan untuk selalu menyerukannya kepada Tuhan. Sebab hanya dengan berseru kepada Tuhan, kita akan dimampukan menghadapi berbagai fitnah dan kata-kata menipu yang bertujuan untuk menjatuhkan.

Doa: bebaskanlah kami dari tipu dan dusta, ya Allah yang mendengarkan seruan, Amin.

Jumat, 27 Februari 2026

bahan bacaan : Matius 20 : 29 – 34 (TB2)

Yesus memulihkan penglihatan dua orang buta
29 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 30 Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 31 Orang banyak itu menegur mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 32 Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: "Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?" 33 Jawab mereka: "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat." 34 Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, dan Ia menyentuh mata mereka. Seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Jangan Berhenti Berseru Kepada Tuhan

Banyaknya persoalan dan tantangan kehidupan yang datang silih berganti cukup berpengaruh melemahkan iman kita. Ini dapat saja terjadi ketika doa dan harapan kita belum dijawab oleh Tuhan. Situasi seperti ini mungkin saja membuat kita merasa lelah untuk terus meminta dan berharap padaNya. Terhadap hal itu, kisah dua orang buta yang duduk di pinggir jalan pada bacaan saat ini mau mengingatkan kita supaya tidak berhenti berseru pada Tuhan. Kedua orang buta tersebut  tetap berseru pada Tuhan Yesus sekalipun berada dalam kondisi fisik yang terbatas tetapi juga ketika ditegor oleh banyak orang supaya mereka diam. Ini menunjukkan pengharapan mereka yang besar kepada Tuhan Yesus dan kuasaNya yang melakukan banyak mujizat. Kegigihan hati dan mulut mereka untuk tetap berseru dan tidak menyerah, akhirnya membuahkan hasil yaitu memperoleh kesembuhan. Pengalaman hidup kedua orang buta yang disembuhkan oleh Yesus memberikan motivasi dan dorongan kepada kita sebagai orang-orang percaya di zaman ini. Memang benar akan ada tantangan dan hambatan tetapi juga terkesan Tuhan lambat atau tidak menjawab doa-doa kita. Akan tetapi janganlah lelah apalagi berhenti berseru padaNya, sebab cepat atau lambat Tuhan akan menjawab tepat pada waktunya. Ingatlah senantiasa bahwa Tuhan akan menjawab, karena itu janganlah berhenti berseru padaNya.

Doa: Tuhan, dengarkanlah seruan kami yang buta dan lemah ini, Amin.

Sabtu, 28 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 30 : 1 – 4 (TB2)

Nyanyian syukur karena selamat dari bahaya
Mazmur. Nyanyian untuk penahbisan Bait Suci. Dari Daud. (30-2) Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. 2 (30-3) TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. 3 (30-4) TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menyelamatkan hidupku sehingga aku tidak turun ke liang kubur.

Diselamatkan Saat Berseru

Bacaan ini menggambarkan pengalaman pribadi Daud yang merasakan pertolongan Tuhan secara nyata. Ia mengangkat pujian karena Tuhan telah menyelamatkannya dari keadaan yang hampir merenggut hidup. Daud berseru, dan Tuhan menjawab. Ia bersaksi bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi juga bertindak dengan kuasa yang memulihkan hidup mengangkatnya dari jurang keputusasaan dan menyembuhkan luka-luka yang dialaminya. Ayat-ayat ini menolong kita melihat bahwa Tuhan dekat dengan orang yang berseru kepada-Nya. Seruan kita, entah dalam kesedihan, sakit, atau tekanan hidup, bukanlah teriakan yang hilang di udara. Tuhan mendengar dengan penuh perhatian. Ia tidak membiarkan kita tergeletak dalam pergumulan, tetapi mengulurkan tangan untuk mengangkat dan memulihkan. Pemazmur mengajak orang percaya untuk memuji Tuhan, sebab kemurahan-Nya jauh lebih besar daripada pergumulan yang kita hadapi. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita merasa doa tidak segera dijawab. Namun Mazmur ini menegaskan bahwa Tuhan bekerja dengan cara dan waktu yang terbaik. Kesembuhan yang Dia berikan bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga bagi hati yang letih dan jiwa yang hampir menyerah. Karena itu, kita diajak untuk tetap percaya dan tetap berseru kepada-Nya. Tuhan yang menyelamatkan Daud adalah Tuhan yang sama yang menyelamatkan kita hari ini.

Doa: Tuhan, yakinkan hati kami untuk tetap percaya dan mau berseru kepadaMu. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 15 – 21 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Jadilah Bagiku Gunung Batu Keselamatan

Minggu, 15 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 31 : 1 – 9 (TB2)

Aman dalam tangan TUHAN
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (31-2) Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku dipermalukan. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, 2 (31-3) arahkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! 3 (31-4) Sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku, dan demi nama-Mu tuntunlah dan bimbinglah aku. 4 (31-5) Keluarkanlah aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. 5 (31-6) Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; tebuslah aku, ya TUHAN, Allah yang setia. 6 (31-7) Engkau membenci orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN. 7 (31-8) Aku hendak bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah mengetahui kesesakan jiwaku, 8 (31-9) Engkau tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.

Dalam Tuhan Ada Perlindungan dan Keselamatan

Hari ini kita memasuki minggu sengsara I (Dalam bahasa Latin disebut estomihi  yang berarti “Jadilah bagiku…”). Dalam tradisi gereja,  perayaan minggu sengsara yang pertama mengingatkan kita bahwa kita mulai memasuki masa perenungan tentang penderitaan Tuhan Yesus menuju salib. Perenungan ini didasarkan pada nas Alkitab  Mazmur 31:3, yang berbunyi: “Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku”. Ayat ini menjelaskan situasi sulit yang dialami oleh Daud, yakni tekanan, ketakutan dan ancaman para musuh, sehingga Daud memohon perlindungan dari Tuhan. Baginya, hanya Tuhan yang sanggup menolong dan menyelamatkan hidupnya karena Tuhan adalah Gunung Batu Keselamatan. Saat kita memasuki minggu sengsara Tuhan Yesus yang pertama, kita percaya bahwa Tuhan Yesus “Gunung Batu” telah menderita  dan mati di salib untuk menyelamatkan kita. Sebab itu di tengah tekanan hidup, pergumulan atau penderitaan, bukan kekuatan diri, bukan orang lain, tetapi Tuhan yang melindungi dan menyelamatkan. Berlindunglah padaNya!.

Doa : Tuhan, jadilah Gunung batu keselamatan dalam pergumulan dan penderitaan hidup kami. amin.

Senin, 16 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 18 : 31 – 36 (TB2)

30 (18-31) Jalan Allah itu sempurna; janji TUHAN adalah teruji; Dia perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. 31 (18-32) Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita? 32 (18-33) Dialah Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku sempurna; 33 (18-34) yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di tempat tinggi; 34 (18-35) yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga. 35 (18-36) Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku, pertolongan-Mu membuat aku perkasa.

Jadilah Perisai dan Gunung Batuku ya Tuhan!

Bayangkan seorang pendaki yang mendaki tebing yang sangat curam. Ia mempersiapkan tubuh, melatih kekuatan tangan dan memakai tali pengaman yang kuat. Saat mendaki, ada saat dimana tangannya menjadi lelah dan lemah, batu pijakan kakinya terlepas atau kakinya terpeleset. Tetapi ada satu hal yang membuat dia tidak takut jatuh, tali pengaman yang menahannya. Tali itu melakukan dua hal sekaligus: melindunginya agar tidak jatuh dan mendorongnya naik sampai puncak gunung.Kasih Tuhan adalah “tali pengaman” itu. Pengalaman ini yang menjadi kesaksian iman Daud saat Tuhan melepaskannya dari kejaran raja Saul. Ia berkata, Allah adalah Gunung Batu, Ia mengikat pinggangku dengan keperkasaan”. Kemenangan Daud bukan karena dirinya kuat, tetapi karena Allah yang menguatkannya.  Demikian pun kita yang memaknai kesengsaraan Tuhan Yesus di minggu pertama ini. Seperti Daud, kita tetap membangun pengharapan kepada Allah dalam Kristus. Terkadang kita tergelincir, kadang kita lelah dan lemah, kadang kita menderita dan hampir menyerah. Tetapi kasih Tuhan tidak pernah melepaskan kita. Ia menahan kita, Ia menopang dan melindungi kita. seperti pendaki yang bergantung pada tali pengaman, marilah kita bergantung pada kasih Tuhan Yesus Juruselamat kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas perlindungan-Mu bagi kami. Amin

Selasa, 17 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 18 : 47 – 51 (TB2)

46 (18-47) TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, mulialah Allah Penyelamatku, 47 (18-48) Dialah Allah, yang mengadakan pembalasan bagiku, dan menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 48 (18-49) dialah yang meluputkan aku dari musuhku. Bahkan, Engkau membuat aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau melepaskan aku dari orang yang melakukan kekerasan. 49 (18-50) Sebab itu aku hendak menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. 50 (18-51) Ia mengaruniakan kemenangan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan keturunannya untuk selamanya."

Tuhan Hidup! Terpujilah Gunung Batu Keselamatan Kita

Daud menutup mazmur ini dengan seruan penuh iman: Tuhan hidup!. Ini bukan hanya deklarasi imannya tetapi kesaksian nyata bahwa Allah yang dipercayainya benar-benar menyatakan kuasa-Nya dalam hidup. Ada perlindungan, kemenangan dan penyelamatan. Pengalaman itu juga kita punya, ketika diselamatkan dari musibah dan bahaya, ketika doa kita dijawab, ketika kuat menghadapi kekecewaan dan kenyataan pahit, terbebas dari masalah dalam keluarga, kuat tahan tekanan dalam pekerjaan,  sadar dari kelemahan diri atau bertobat dari dosa yang terus menghantui.  Semua itu kita tanggung karena ada Tuhan dalam hidup kita. Jika dengan yakin Daud dapat menyatakan bahwa Tuhan hidup! Tuhan sebagai Gunung Batu tempat perlindungan disaat ia mengalami kesesakan. Demikian pun kita sekeluarga saat bergantung dan meyakini kuasa Tuhan, maka Tuhan akan bertindak untuk menuntun, melindungi dan menyelamatkan kita Jadilah kuat karena Tuhan dan ini akan menjadi kesaksian iman bagi banyak orang. 

Doa: Tuhan, Engkaulah Allah kami yang hidup. Jadilah Gunung Batu perlindungan kami, Amin.

Rabu, 18 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 73 : 21 – 28 (TB2)

21 Ketika hatiku pedih dan buah pinggangku seperti tertusuk-tusuk, 22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 24 Dengan menuntun aku dengan nasihat-Mu, hingga akhirnya Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. 25 Siapa yang kumiliki di sorga kecuali Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kudambakan di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang tidak lagi setia kepada Engkau. 28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; Tuhan ALLAH kutetapkan sebagai tempat perlindunganku, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Mu.

Sekalipun Dagingku Habis, Allah Tetap Gunung Batuku

Pengalaman pemazmur dalam menghadapi penderitaan menjadi teladan bagi kita. Ada harapan yang kokoh dari pemazmur untuk tetap dekat dengan Tuhan, sekalipun penderitaan membuat daging di tubuhnya habis lenyap. Harapannya hanya pada Tuhan. Pemazmur merasakan cinta kasih Tuhan yang besar melebihi masalah yang dihadapinya. Hal ini membuatnya bersyukur dan bersaksi tentang kebesaran kuasa Tuhan itu bagi semua orang. Pengalaman ini nyata dihadapi oleh teman sekantor, berulang kali dagingnya habis karena proses pengobatannya dari sakit. Tetapi ia selalu menggantungkan harapannya pada Tuhan. Daging tubuhnya dipulihkan dan ia selamat. Ada banyak orang yang juga bergumul dengan kenyataan yang sama. Daging di tubuh kian habis, semangat menjadi lemah, hati kian tersiksa. Namun, kita percaya dan bersyukur bahwa Tuhan mengijinkan setiap masalah dan penderitaan sebagai cara Tuhan untuk membentuk kita menjadi anak-anak yang selalu mencari-Nya dan disitulah kita menikmati kasih-Nya. Bersaksilah tentang kebaikan Tuhan ini, Allah tetap Gunung Batu sekalipun daging dan hati habis lenyap!.

Doa : Ya Tuhan kami meyakini akan kebesaran kuasa-Mu sekalipun daging dan hati habis lenyap. Amin

Kamis, 19 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 19 : 13 – 15 (TB2)

12 (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kekeliruannya sendiri? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. 13 (19-14) Lindungilah hamba-Mu dari sikap angkuh; jangan sampai aku dikuasai olehnya! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. 14 (19-15) KIranya ucapan mulutku dan renungan hatiku berkenaan kepada-Mu, ya TUHAN, Gunung Batuku dan Penebusku.

Ya Tuhan, Gunung Batuku dan Penebusku

Daud menyebut Tuhan sebagai “Gunung Batuku”. Ini berarti ia mengakui bahwa Tuhan adalah tempat yang kokoh, tidak tergoyahkan, tempat untuk berlindung dari segala badai kehidupan, dari dosa-dosa yang tidak disadari dan dari godaan yang mencoba menguasainya. Ia juga menyebut Tuhan sebagai “Penebusku”. Penebus adalah seseorang yang membayar harga untuk membebaskan atau menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk, seperti hutang, perbudakan atau hukuman. Itu berarti Daud sadar, hanya Tuhan yang dapat menyelamatkannya dari kekeliruan dan dosanya. Dalam iman kita mengakui, Tuhan Yesus Kristus adalah Penebus. Ia telah membayar lunas dosa-dosa kita dengan pengorbananNya di kayu salib, membebaskan kita dari belenggu dosa dan memberikan hidup yang kekal. Kita membutuhkan Tuhan sebagai kekuatan kita, perlindungan kita dan sebagai Penebus yang menolong.  Mari kita belajar untuk rendah hati mengakui kekeliruan kita dan ketika menghadapi masalah atau godaan, kita selalu datang kepada Tuhan dalam doa. Ingatlah bahwa Tuhan adalah “Gunung Batu” kita yang kokoh.

Doa: Tuhan Penebus, ampuni kami dari segala kekeliruan dan selamatkanlah, Amin.

Jumat, 20 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 22 : 1 – 3 (TB2)

Nyanyian syukur Daud
Daud melantunkan syair nyanyian ini kepada TUHAN sesudah TUHAN melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. 2 Ia berkata: "Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, 3 Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

Tuhan, Engkaulah Gunung batu dan Kubu Pertahanan

Gambaran “gunung batu” dan “kubu pertahanan” adalah metafora yang sangat kuat dalam budaya Timur Tengah kuno. Gunung batu adalah tempat yang tidak tergoyahkan, tinggi, sulit dijangkau musuh dan menawarkan perlindungan dari bahaya. Kubu pertahanan atau benteng adalah bangunan tembok yang dibangun untuk memberikan keamanan maksimal, tempat di mana seseorang merasa aman dari serangan. Daud dengan pengalamannya yang luas sebagai prajurit dan raja, sangat memahami nilai dari perlindungan seperti itu. Itulah sebabnya Daud menyanyi memuji Tuhan sebagai tanda ungkapan syukurnya bahwa Tuhan satu-satunya sumber keamanan dan keselamatan dalam perjalanan hidupnya. Dalam setiap ancaman, badai kehidupan, pengambilan keputusan, dan sebagainya,Tuhanlah yang menjadi tempat ia berpaling. Renungan hari ini mengajak kita untuk merenungkan siapa atau apa yang menjadi gunung batu dan kubu pertahanan kita. Ketika badai kehidupan menerpa, baik itu masalah, penyakit, kehilangan atau tekanan pekerjaan, dimanakah kita mencari perlindungan?. Angkatlah pandangan kita kepada Tuhan, Sang Gunung Batu yang tak tergyahkan, Sang Kubu Pertahanan yang tak tertembus. Dalam Dia, kita menemukan kekuatan untuk menghadapi setiap masalah dan tantangan dalam perjalanan hidup ini.

Doa: Tuntun kami sekeluarga Tuhan agar selalu bergantung dan berharap kepadaMu, Amin

Sabtu, 21 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 22 : 47 – 51 (TB2)

47 TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Gunung Batu Penyelamatku, 48 Dialah Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang membawa bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 49 dan yang membebaskan aku dari  musuh-musuhku. Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau melepaskan aku dari orang yang melakukan kekerasan. 50 Sebab itu aku hendak bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa Ya TUHAN, dan bermazmur bagi nama-Mu. 51 Ia mengaruniakan kemenangan-kemenangan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan keturunannya."

Nyanyikanlah Syukur Kepada Tuhan Penyelamat

Apa yang kita perbuat setelah keluar dari permasalahan hidup atau terbebas dari ancaman kematian? Masing-masing orang memiliki respons tersendiri, dan pastinya berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Daud memiliki respons yang khas ketika ia keluar dari permasalahan hidup atau terbebas dari ancaman kematian. Bacaan ini secara umum mengungkapkan respons Daud ketika terbebas dari ancaman kematian dari musuhnya. Daud menaikkan nyanyian syukur kepada Tuhan setelah terbebas dari ancaman kematian oleh Saul. Dalam nyanyian syukur itu Daud mengagungkan Tuhan yang hidup, sebab Tuhan telah menjadi “Gunung Batu” yang melindunginya. Tuhan pula yang membebaskan Daud dari para musuh. Atas kehidupan yang Tuhan telah karuniakan sehingga memberi keselamatan yang besar, Daud meninggikan Tuhan; ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku, demikian kata Daud (ay.47). Pesan terdalam dari firman Tuhan ini adalah tantangan dan ancaman apapun dalam hidup ini, jadikanlah Tuhan pelindung dan gunung batu keselamatan, pasti Tuhan yang hidup akan melindungi, menolong dan menyelamatkan kita.  

Doa: Ya Tuhan, hanya Engkaulah Penyelamat dan Pembela kehidupan kami. Amin

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM