Santapan Harian Keluarga, 31 Mei – 6 Juni 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemberdayaan yang Holistik

Tema Mingguan   : Allah Trinitas Menyertai dan Memberkati Gereja Rumah Tangga

Minggu, 31 Mei 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 13 : 11 – 13 (TB2)

Salam
11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, hiduplah dalam damai sejahtera; dan Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! 12 Bersalam-salamanlah seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu. 13 Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

Allah  Memberkati Gereja Rumah tangga

Di tengah dinamika kehidupan keluarga, Allah Trinitas hadir menyertai, memelihara, dan memberkati gereja rumah tangga agar bertumbuh dalam iman dan karakter Kristen. Bacaan 2 Korintus 13:11–13 sebagai penutup surat Paulus memiliki pesan yang sangat hangat dan mendalam bagi kehidupan gereja rumah tangga. Paulus mengajak jemaat untuk hidup dalam sukacita, pemulihan, sehati sepikir, dan damai sejahtera. Semua ini bukan sekedar usaha manusia, melainkan buah dari penyertaan Allah Trinitas: kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus. Dalam konteks gereja rumah tangga, keluarga dipanggil menjadi tempat pertama di mana iman ditumbuhkan dan karakter dibentuk. Pendidikan karakter Kristen tidak lahir dari teori semata, tetapi dari teladan hidup yang dipenuhi kasih, pengampunan, dan kesabaran. Ketika orang tua dan anggota keluarga hidup dalam persekutuan dengan Allah Trinitas, rumah tangga menjadi ruang aman untuk bertumbuh dalam iman dan karakter. Allah Trinitas yang menyertai gereja rumah tangga akan terus memberkati setiap keluarga agar menjadi saksi Kristus melalui kehidupan yang saling membangun, menguatkan, dan memuliakan Tuhan.

Doa: Ya Allah Trinitas, sertai dan berkati keluarga kami agar hidup dalam kasih dan damai. Amin

Senin, 1 Juni 2026

bahan bacaan :  Galatia 1 : 1 – 5 (TB2)

Salam
Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, 2 dan dari semua saudara yang ada bersama aku. Kepada jemaat-jemaat di Galatia: 3 Anugerah menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, 4 yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. 5 Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya! Amin.

Kuasa Allah Atas Hidup Keluarga

Hari ini kita memperingati dua momen bersejarah: Hari Lahir Pancasila dan Hari Anak Sedunia. Keduanya mengajak kita merenungkan pentingnya menghargai dan menjaga kehidupan. Pancasila sebagai dasar negara harus dijunjung tinggi dalam sikap dan tindakan, sedangkan anak sebagai anugerah Tuhan dalam keluarga harus dilindungi, dibina, dan diberdayakan. Tanggung jawab ini dijalankan dalam kesadaran bahwa Allah, Sang Pencipta, menghendaki kita saling menghidupkan dalam setiap aspek kehidupan. Tema bulan Juni, “Gereja Rumah Tangga dan Pemberdayaan yang Holistik,” menegaskan pentingnya pembinaan yang utuh rohani, moral, dan sosial. Pemberdayaan sejati dimulai dari hidup yang menjauhi kejahatan dan melakukan kebaikan. Galatia 1:1–5 menegaskan bahwa melalui Kristus, Allah telah membebaskan kita dari kuasa dosa. Karena itu, setiap keluarga percaya dipanggil menjalani hidup yang benar dan tidak lagi dikuasai dosa. Perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan harus ditinggalkan. Kemuliaan bagi Allah dinyatakan melalui kasih dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Pembebasan dari Allah menuntun keluarga hidup merdeka dan menjadi berkat bagi sesama.

Doa:  ya Allah, ajar kami percaya Engkau telah membebaskan kami dari dosa, Amin.

Selasa, 2 Juni 2026

bahan bacaan : Yohanes 14 : 25 – 27 (TB2)

25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama kamu; 26 Namun Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. 27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti  dunia memberi. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Roh Kudus Mengingatkan Keluarga Untuk Tuhan

Teks Yohanes 14:25–27 menegaskan bahwa Allah Tritunggal mengajar dan mengingatkan kita melalui Roh Kudus agar melakukan firman-Nya dan mengalami damai sejahtera. Dalam kehidupan keluarga, kita kerap dilanda ragu dan khawatir saat menghadapi tantangan serta tuntutan yang terasa berat. Kekhawatiran membuat hati gelisah dan seolah kehilangan pegangan. Di tengah keadaan itu, kita membutuhkan kekuatan yang hanya Tuhan dapat berikan. Yesus berjanji mengutus Roh Kudus untuk menolong, mengajar, dan mengingatkan murid-murid akan semua ajaran-Nya. Roh Kudus memimpin ke dalam seluruh kebenaran dan menolong membedakan yang benar. Janji itu berlaku juga bagi kita hari ini. Kita tidak dibiarkan sendirian; Kristus yang bangkit menyertai melalui Roh-Nya.Karena itu, sebagai keluarga, kita perlu membuka diri terhadap suara Tuhan melalui Alkitab. Firman-Nya menjadi penuntun langkah dan dasar pengambilan keputusan. Ketika Roh Kudus bekerja dalam hati, kita memperoleh pengertian dan kekuatan baru. Damai sejahtera bukan sekadar perasaan, melainkan buah dari kehadiran Tuhan yang menuntun dan meneguhkan keluarga dalam setiap keadaan.

Doa:  ya Tuhan Yesus tuntun kami senantiasa dengan kuasa Roh Kudus, Amin.

Rabu, 3 Juni 2026

bahan bacaan : 1 Petrus 1 : 1 – 2 (TB2)

Salam
Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 2 yaitu mereka yang terpilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya anugerah dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

Keluarga Kudus dan Taat kepada Kristus

Di bangsal rumah sakit terdapat seorang perempuan bernama Tina. Ia selalu mengeluh kesakitan karena sulit bergerak. Pahanya dalam diagnosa dokter terdapat tumor. Ia benar-benar stres dengan penyakitnya. Adapun Tina lahir dari keluarga yang beragama lain. Ia diserahkan menjadi Kristen sedari ia masih kecil. Tina menjadi satu-satunya anak yang menganut agama Kristen di dalam keluarganya. Ia percaya Tuhan Yesus. Itu sebabnya didalam penderitaan Tina sering berujar : Tuhan Yesus tolong beta. Seruan Tina adalah cerminan pengharapannya walau ia ada dalam penderitaan. Pengharapan yang ada pada Tina adalah pengharapan yang dibagi oleh penulis dalam surat ini. Penulis menghendaki agar pembaca surat ini sadar bahwa mereka akan menanggung penderitaan karena iman mereka. Namun penderitaan tidak akan mengalahkan mereka karena Yesus telah menderita sengsara dan mati untuk mengampuni mereka, dan karena Allah telah membangkitkan Dia dari kematian. Umat Allah memang sedang menghadapi penganiayaan tetapi mereka harus ingat bahwa Allah yang telah memilih mereka  akan melindungi mereka sampai pada hari penghakiman ketika Yesus datang kembali . Roh Kudus menguduskan umat Allah sehingga mereka dapat melayani Allah. Darah Yesus yang dicurahkan telah memeteraikan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Itulah sebabnya baik Tina atau setiap keluarga Kristen harus tetap hidup dalam percaya akan Kristus.

Doa:  ya Tuhan Yesus, kuduskanlah kami dengan tuntunan kuasa Roh Kudus, Amin.

Kamis, 4 Juni 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 1 : 1 – 3 (TB2)

Salam
Dari Paulus, yang atas kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. 3 Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Kristus adalah Pusat Iman Keluarga

Melodi adalah anak perempuan yang bersuara indah dan senang bernyanyi di gereja. Ayahnya selalu mendampingi dan merasa bangga. Namun ia kecewa ketika jemaat hanya sedikit bertepuk tangan setelah Melodi selesai bernyanyi. Ia merasa anaknya tidak dihargai, dan tanpa sadar melupakan bahwa pusat pujian adalah Tuhan Yesus, bukan manusia. Dalam bacaan, Paulus dan Sostenes memberi salam kepada jemaat di Korintus sebagai orang-orang yang dikuduskan dalam Kristus dan dipanggil menjadi kudus. Salam ini menegaskan identitas mereka sebagai umat yang hidup dalam anugerah dan damai sejahtera. Kekudusan itu bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena kuasa Yesus Kristus. Jemaat Korintus saat itu terpecah karena saling mengklaim rasul tertentu sebagai yang paling benar. Yesus harus menjadi pusat iman dan persekutuan. Kisah Melodi mengingatkan setiap keluarga Kristen bahwa segala pelayanan dan pujian harus berpusat pada Kristus. Ketika Yesus menjadi pusat, hati kita dibebaskan dari ambisi dan kekecewaan, serta hidup dalam anugerah-Nya.

Doa:  ya Tuhan Yesus, tetap arahkan langkah kami, Amin.

Jumat, 5 Juni 2026

bahan bacaan : Matius 28 : 16 – 20 (TB2)

Pengutusan murid-murid
16 Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman."

 Allah Trinitas Menyertai Keluarga Selamanya

Tiada seorangpun di dalam dunia ini yang tidak pernah merasakan keragu-raguan. Ragu-ragu berkaitan dengan perasaan bimbang, kurang percaya atau juga menaruh syak. Semua manusia mengalaminya apalagi bila dalam hidup, tidak didapati adanya jaminan atau kepastian. Kondisi ini pernah dialami oleh para murid. Teks ini menceritakan tentang para murid yang berangkat ke Galilea ke bukit yang ditunjuk oleh Tuhan Yesus. Penulis injil Matius menceritakan bahwa setelah kebangkitan Tuhan Yesus, ada murid yang mempercayai-Nya dan menyembah-Nya, namun ada pula yang ragu-ragu Injil ini memang memuat kesaksian tentang hidup dan ajaran-ajaran Tuhan Yesus. Penulis Injil juga menuliskan  apa artinya menjadi anggota umat Allah, dan bagaimana hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Penulis menginginkan pembaca mengenal Yesus sebagai Mesias yang diutus Allah sebagai bentuk penggenapan rencana  Allah. Jadi, Matius 28 :16-20 berbicara tentang Bapa, Anak dan Roh Kudus menyertai sampai akhir zaman. Tuhan Yesus mendekati para murid termasuk mereka yang tidak percaya dan menyatakan janji penyertaan-Nya. Bertepatan dengan hari ini kita merayakan penyertaan Allah Trinitas dalam bentuk pemeliharaan hidup kita termasuk alam semesta. Entah seperti apa keragu-raguan kita, tetapi percayalah kasih Allah Bapa, Anak Yesus Kristus dan tuntunan kuasa Roh Kudus menyertai hidup keluarga senantiasa.

Doa:  ya Tuhan, ajar kami tetap percaya, Dikau sertai kami senantiasa, Amin.

Sabtu, 6 Juni 2026

bahan bacaan : Roma 15 : 14 – 21 (TB2)

Paulus menjelaskan dasar-dasar tulisannya
14 Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. 15 Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, karena anugerah yang telah diberikan Allah kepadaku 16 untuk menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa lain sebagai imam dalam pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. 17 Jadi, dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. 18 Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, 19 dengan kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat, oleh kuasa Roh Allah. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. 20 Dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, 21 tetapi seperti ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengerti."

Allah Trinitas Memberi Kuasa untuk Melayani

Kita sering berpikir bahwa pelayanan adalah panggung untuk menunjukkan kemampuan. Kita ingin dilihat, diakui, dan dianggap berarti. Tetapi Rasul Paulus justru membongkar ilusi itu: pelayanan bukan tentang siapa kita, melainkan tentang siapa Allah yang bekerja di dalam kita. Allah Bapa memanggil, Anak mengutus, dan Roh Kudus memberi kuasa. Kita hanyalah alat di mana Allah berkarya. Masalahnya, kita lebih suka menjadi pusat daripada menjadi alat. Kita melayani, tetapi diam-diam mencari ketenaran diri sendiri. Kita memberi, tetapi berharap dihargai. Dan ketika tidak dihargai, kita kecewa. Di titik itu, pelayanan berubah menjadi beban, karena kita melayani dengan ego, bukan berdasarkan anugerah atau pilihan Allah bagi kita. Keluarga adalah tempat di mana kepalsuan itu paling mudah terbongkar. Di rumah, tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya pilihan: tetap mengasihi atau menyerah. Dan justru di situlah pelayanan sejati lahir bukan dari kehebatan, tetapi dari hati yang rela dipakai Tuhan, bahkan ketika tidak terlihat.

Doa:  Ya Tuhan, pakailah keluarga kami melayaniMu, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MEI & JUNI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 Mei 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga dan Pendidikan Karakter

Tema Mingguan   : Roh Kudus Sebagai Penolong dalam Gereja Rumah Tangga

Minggu, 24 Mei 2026

bahan bacaan : Yohanes 14 : 15 -24 (TB2)

Yesus menjanjikan Penolong
15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-perintah-Ku. 16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, 17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Namun kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan tinggal di dalam kamu. 18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. 19 Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. 20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. 21 Siapa yang memegang perintah-perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." 22 Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: "Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?" 23 Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. 24 Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; Firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.

Hiduplah Dalam Tuntunan Roh Kudus

Sebagai gereja, hari ini kita ada bersama dengan penuh sukacita merayakan hari pentakosta atau hari keturunan Roh Kudus. Saat bersama dengan murid-murid, Yesus berkata: Aku akan meminta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.. Pertanyaannya, apakah kita mau hidup dalam penyertaan dan tuntunan Roh Kudus? Sebab Roh Kuduslah yang akan menyertai dan menuntun hidup kita, sehingga kita dapat memegang, menuruti dan melakukan perintah Tuhan. Hal ini menunjukkan kasih kita kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Artinya ketidaktaatan dan ketidaksetiaan kepada perintah Tuhan sama halnya dengan tidak dituntun oleh Roh Kudus atau hidup secara duniawi. Marilah merenungkan sejenak hari-hari hidup yang telah kita lewati, apakah perjalanan hidup kita sudah dituntun oleh Roh Kudus atau justru sebaliknya? Jika masih bertolakbelakang dengan kehendak Allah, maka dengan penuh kerendahan hati mintalah supaya kehidupan kita disertai dan dituntun oleh Roh Kudus. Jangan biarkan hati, pikiran bahkan kehidupan kita secara pribadi maupun keluarga dalam tanggung jawab pekerjaan dan pelayanan dipimpin oleh kuasa lain.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk Roh Kudus yang telah menyertai dan menuntun kami.  Amin.   

Senin, 25 Mei 2026

bahan bacaan : Lukas 12 : 8 – 12 (TB2)

Mengakui Kristus di depan manusia
8 Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. 9 Namun orang yang menyangkal Aku di depan manusia, akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. 10 Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; namun siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. 11 Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di ruamh-rumah ibadat atau kepada pemerintah dan penguasa, janganlah khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. 12 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."

Roh Kudus Menolong Saat Menghadapi Tekanan

Dalam kehidupan bergereja, banyak orang mengaku percaya kepada Kristus, namun tidak sedikit yang merasa khawatir untuk bersaksi, apalagi saat menghadapi tekanan. Realitas ini mengingatkan kita pada pengajaran Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Ia meneguhkan mereka agar tetap beriman dan setia mengakui-Nya di tengah penganiayaan, dengan jaminan pertolongan Roh Kudus. Yesus mengajarkan supaya tidak takut kepada manusia, melainkan berani mengakui Dia sebagai Tuhan di depan siapa pun. Sebab siapa yang mengakui-Nya akan ditolong oleh Roh Kudus, bahkan ketika diperhadapkan pada tekanan di rumah ibadat, di hadapan pemerintah, atau penguasa. Pengajaran ini bukan hanya untuk para murid pada waktu itu, tetapi juga bagi orang percaya masa kini. Mengakui Kristus memang tidak selalu mudah. Tantangan, persoalan, dan ancaman bisa saja datang. Namun iman kita tidak boleh goyah atau hilang. Roh Kudus yang dijanjikan akan menolong, menguatkan, dan memberi hikmat. Karena itu, yakinkan diri dan keluarga untuk tetap setia mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan. Percayalah, Roh Kudus selalu menyertai dan meneguhkan kita.

Doa: Bapa, kami yakin RohMu yang Kudus akan menolong kami saat menghadapi tekanan. Amin.

Selasa, 26 Mei 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 11 : 1 – 18 (TB2)

Petrus mempertanggungjawabkan baptisan Kornelius di Yerusalem
Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah. 2 Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. 3 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama dengan mereka." 4 Namun Petrus menjelaskan segala sesuatu satu per satu, katanya: 5 "Aku sedang berdoa di kota Yope. Dalam keadaan diliputi kuasa ilahi aku melihat suatu penglihatan: Sesuatu seperti kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku. 6 Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang melata dan burung-burung. 7 Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah! 8 Namun aku berkata: Tidak, Tuhan, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan najis masuk ke dalam mulutku. 9 Tetapi untuk kedua kalinya suara dari surga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! 10 Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit. 11 Seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, tempat kami menumpang; mereka diutus dari Kaisarea kepadaku . 12 Lalu kata Roh kepadaku: Pergilah bersama mereka tanpa membeda-bedakan! Keenam saudara ini pun menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu, 13 dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk memanggil Simon yang disebut Petrus. 14 Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang melaluinya kamu dan seisi rumahmu akan diselamatkan. 15 Ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti ke atas kita dahulu. 16 Lalu teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. 17 Jadi jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimana mungkin aku mencegah Allah?" 18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Terbukalah Pada Karya Roh Kudus

Allah memiliki kehendak bebas untuk menganugerahkan RohNya bagi siapa saja. Itu berarti karya Roh Kudus tidak hanya diperuntukan bagi pribadi atau bangsa Yahudi saja, melainkan juga bagi pribadi dan bangsa-bangsa lain. Hal ini pun nampak jelas ketika Petrus melakukan pembelaan di hadapan jemaat Yahudi di Yerusalem yang mengkritiknya karena bergaul dan membaptis Kornelius, seorang perwira Romawi seseorang yang bukan Yahudi. Kritikan mereka kepada Petrus di dasari pada ajaran hukum Taurat yang melarang orang Yahudi bergaul dengan orang bukan Yahudi atau makan makanan yang telah mereka sentuh. Petrus menjelaskan bahwa tindakannya adalah inisiatif Allah melalui penglihatan dan pencurahan Roh Kudus, menegaskan keselamatan berlaku bagi semua bangsa. Ini tentu saja diperkuat ketika ia bersama-sama dengan utusan Kornelius dan orang-orang yang menyertainya pergi ke Kaisarea dengan tidak bimbang. Sesampainya mereka di Kaisarea, Kornelius pun menceritakan semua yang dialaminya. Ini sekali lagi menegaskan bahwa karya Roh Kudus diperuntukan bagi bangsa-bangsa lain sekaligus menganugerahkan pertobatan dan menuntun pada hidup. Terhadap hal ini, kita patut bersyukur karena menjadi bagian dari karya Roh Kudus yang menyelamatkan. Karena itu, kita pun harus terbuka  ketika karya Roh Kudus juga dinyatakan bagi orang lain.

Doa: Allah, kami terbuka hati supaya banyak orang dijamah oleh karya kuasa RohMu . Amin.   

Rabu, 27 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 12 : 1 -11 (TB2)

Berbagai karunia, tetapi satu Roh
Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya. 2 Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu dipikat dan ditarik kepada berhala-berhala yang bisu. 3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus. 4 Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. 5 Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan. 6 Ada pula berbagai kegiatan, tetapi Allah yang sama juga yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. 7 Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan kata-kata hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberi karunia berkata-kata dengan pengetahuan. 9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. 10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berbicara dengan bahasa lidah, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa lidah itu. 11 Namun semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Karunia Roh Mempersatukan dan Menghidupkan Gereja

Teks 1 Korintus 12:1-11 merupakan pengajaran yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Korintus mengenai keberagaman karunia rohani yang bersumber dari Roh Kudus untuk kepentingan bersama. Paulus menegaskan bahwa Allah memberikan karunia yang berbeda bagi tiap-tiap orang yakni berkata-kata dengan hikmat atau pun pengetahuan, iman, karunia menyembuhkan, melakukan mujizat, bernubuat, dll (ay. 8-10). Kendati pun berbeda, namun semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus seperti yang dikehendaki Allah. Ini disampaikan Paulus disebabkan karena adanya kekacauan, penyalahgunaan dan kesalahpahaman di jemaat Korintus mengenai karunia-karunia Roh. Mereka menjadi sombong karena karunia tertentu (bahasa Roh) dan meremehkan yang lain sehingga Paulus mengingatkan bahwa semua karunia berasal dari satu Roh untuk kepentingan bersama. Dengan kata lain Paulus hendak menegaskan, karunia Roh tidak boleh memecahbelah jemaat melainkan mempersatukan dan menghidupkan. Hal yang sama pun masih berlaku bagi gereja masa kini yang seharusnya memberikan dorongan supaya tetap saling menghargai dan menopang antara satu dengan yang lain. Karena memang karunia Roh diperuntukkan supaya gereja bersatu dan hidup untuk bersaksi walau dalam berbagai perbedaan.

Doa: Ya Roh Kudus, satukanlah hidup bergereja kami. Amin.

Kamis, 28 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 14 : 1 – 5 (TB2)

Sekali lagi tentang karunia Roh
Kejarlah kasih itu dan berusahalah memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. 2 Siapa yang berbicara dalam bahasa lidah, tidak berbicara kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengertinya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. 3 Namun siapa yang bernubuat, ia berbicara kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. 4 Siapa yang berbicara dengan bahasa lidah, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. 5 Aku mau supaya kamu semua berbicara dengan bahasa lidah, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berbicara dalam bahasa lidah, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

 Kasih Adalah Dasar Setiap Karunia Roh

Manusia sering terpikat pada status dan kemampuan. Ketika memilikinya, kita merasa mampu melakukan segalanya. Namun itu bukan tujuan Allah saat menganugerahkan karunia rohani. Rasul Paulus menegaskan bahwa hakikat karunia adalah keserupaan dengan Kristus. Di jemaat Korintus, yang terjadi justru sebaliknya: mereka giat mengejar karunia, tetapi mengabaikan kasih. Padahal kasih adalah inti kekristenan. Karena itu Paulus mendorong mereka mengusahakan karunia bernubuat, yang berguna untuk membangun dan menguatkan sesama. Ia mengoreksi kesalahan fatal jemaat yang lebih sibuk mengejar hal spektakuler daripada menghidupi kasih. Mereka melalaikan Kristus dan mengutamakan kepentingan diri. Hari ini kita, termasuk dalam keluarga rumah tangga, dipanggil hidup dalam kasih. Kasih adalah dasar kehidupan Kristen dan motivasi utama setiap karunia Roh. Teladan Kristus menunjukkan kasih yang rela berkorban dan memberi yang terbaik. Ketika kita hidup dalam kasih yang penuh anugerah dan pengampunan, tindakan kita menjadi persembahan yang harum di hadapan Allah, dan dunia dapat melihat kasih Kristus melalui hidup kita

Doa Ya Tuhan, lingkupilah hidup kami dengan kasihMu. Amin.  

Jumat, 29 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 14 : 6 – 9 (TB2)

6 Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berbicara dengan bahasa lidah, apa gunanya itu bagimu, jika aku tidak berbicara kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? 7 Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi berbunyi, seperti seruling dan kecapi--bagaimana orang dapat mengetahui lagu apa yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? 8 Atau, jika nafiri mengeluarkan bunyi yang tidak jelas, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? 9 Demikianlah juga kamu yang berbicara dalam bahasa lidah: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang dapat dipahami, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Sebab kamu hanya akan kepada angin!

Gunakanlah Karunia Untuk Saling Memberdayakan

Ada waktu kita butuh dikuatkan, sebaliknya ada saat ketika kita bisa menguatkan. Tidak ada manusia yang sempurna, kuat dan sanggup mengatasi segalanya sendirian. Bayangkan jika kita memiliki saudara dan teman yang bisa saling mendukung dan saling menasehati, menguatkan dan menumbuhkan iman di tengah berbagai situasi hidup. Tentu kita akan jauh lebih kuat menghadapi segala masalah yang hadir dalam hidup kita. Itulah yang Paulus ingatkan kepada jemaat di Korintus dan tentu bagi kita sekarang. Setiap karunia adalah pemberian Tuhan untuk dimanfaatkan secara baik. Sebagai gereja rumah tangga kita mesti saling menguatkan satu dengan lainnya sehingga iman kita semakin berakar di dalam Kristus, bertumbuh ke arah Kristus secara bersama. Olehnya marilah kita menggunakan setiap karunia Roh yang ada pada kita untuk saling menguatkan dan memberdayakan hidup bersama agar kita bisa tetap kuat bertahan menghadapi persoalan hidup yang ada.

Doa: Tuhan, berkatilah tiap karunia Roh yang ada pada kami demi tujuan membangun tubuh Kristus. Amin.   

Sabtu, 30 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 14 : 10 – 12 (TB2)

10 Ada banyak--entah berapa banyak--macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. 11 Namun jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. 12 Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat.

Tujuan Karunia Roh Untuk Membangun Tubuh Kristus

Kerohanian kita sebagai orang percaya perlu dibangun terus-menerus dari hari ke hari. Hal ini diperlukan agar kita tetap kokoh berdiri dalam iman pada Kristus sekalipun tengah menghadapi kerasnya gelombang kehidupan. Demikian pula yang sedang terjadi di tengah jemaat di Korintus, mereka berusaha untuk memperoleh karunia-karunia ilahi namun tetap diingatkan bahwa Tuhan memberikan semuanya itu untuk keperluan membangun tubuh Kristus. Dan apabila hal itu berhasil, maka keberhasilan itu bukanlah datang dari keperkasaan maupun kekuatan mereka, melainkan oleh anugerah dari Allah yang mengaruniakan Roh-Nya. Jadi apapun karunia Roh yang telah Tuhan anugerahkan, biarlah kita menggunakannya untuk membangun tubuh Kristus. Betapa kita akan melihat perubahan besar dalam keluarga, jemaat dan gereja jika semua bersatu dan bergerak bersama menggunakan berbagai karunia itu, bukan untuk kepentingan diri tapi kepentingan bersama.  

Doa: Terima kasih Tuhan, Engkau memberikan kami karunia untuk saling menguatkan dan menumbuhkan iman bersama. Amin.    

*SUMBER : SHK BULAN MEI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Mei 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga dan Pendidikan Karakter

Tema Mingguan   : Gereja Rumah Tangga yang Memulihkan Trauma

Minggu, 17 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Samuel 1 : 1 – 20 (TB2)

Lahirnya Samuel
Ada seorang laki-laki dari Ramataim di tanah Zuf, dari daerah pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim. 2 Ia mempunyai dua isteri, seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina. Penina mempunyai anak, sedangkan Hana tidak. 3 Tahun demi tahun orang itu pergi dari kotanya untuk menyembah dan mempersembahkan kurban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, adalah imam TUHAN di sana. 4 Pada hari Elkana mempersembahkan kurban, ia selalu memberikan satu bagian masing-masing kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya laki-laki dan perempuan. 5 Kepada Hana, ia memberikan bagian terbaik, sebab Hanalah yang dikasihinya dan TUHAN telah menutup kandungannya. 6 Untuk membuatnya geram, saingannya selalu menyakiti hatinya karena TUHAN telah menutup kandungannya. 7 Demikianlah yang terjadi demi tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hatinya, sehingga ia menangis dan tidak mau makan. 8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis? mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?" 9 Suatu kali, setelah mereka makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sementara Imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu Rumah TUHAN, 10 Dengan hati pedih Hana berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. 11 Kemudian ia bernazar demikian: "TUHAN semesta, jika Engkau sungguh memperhatikan sengsara hamba-Mu ini, mengingat dan tidak melupakan hamba, tetapi memberi hamba seorang anak laki-laki, maka hamba akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya. Pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya." 12 Sementara ia terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, Eli mengamati mulutnya. 13 Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya yang bergerak, tetapi suaranya tidak kedengaran. Karena itu Eli menyangka perempuan itu mabuk. 14 Lalu Eli berkata kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku masih mabuk? Singkirkanlah anggurmu." 15 Tetapi Hana menjawab: "Bukan demikian, tuan, aku seorang perempuan yang sangat tertekan. Aku tidak minum anggur ataupun minuman keras, tetapi mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. 16 Janganlah anggap hambamu ini perempuan tercela. Aku berb icara demikian lama aku sangat susah dan sakit hati." 17 Jawab Eli: "Pergilah dengan damai. Allah Israel akan memberikan apa yang kau minta kepada-Nya." 18 Berkatalah Hana: "Kiranya hambamu ini mendapat kemurahan hati Tuan." Kemudian perempuan itu pergi, lalu ia makan dan mukanya tidak muram lagi. 19 Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, dan sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian mereka pulang ke Rama. Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, lalu TUHAN ingat kepada Hana. 20 Hana pun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki pada waktunya. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari TUHAN."

Kekuatan Doa Saat Perasaan Disakiti

Pilihan tepat dilakukan Hana yakni berdoa dan menyerahkan pada Tuhan saat disakiti oleh Penina. Hana disakiti perasaan hatinya sebab ia mandul atau tidak mempunyai anak. Hana berdoa dengan kesungguhan dan kesedihan hati serta meminta seorang anak dari Tuhan dan akan memberikan anak itu kembali kepada Tuhan. Doa Hana dikabulkan Tuhan dan dia bersyukur atas jawaban Tuhan yang memberikan seorang anak kepadanya. Jawaban Tuhan memulihkan Hana dari perasaan sakit hati Karena tindakan Penina. Hana juga mendapat dukungan dari suaminya Elkana dengan tetap mengasihi dan mencintainya. Seruan Hana tidak hanya meminta anak pada Tuhan, namun sekaligus melepaskan beban perasaanya yang terus disakiti oleh Penina. Kesaksian firman Tuhan ini menjadi teladan bagi kita saat menghadapi berbagai persoalan dan tantangan hidup. Terkadang semua itu membuat kita menjadi takut, kecewa dan trauma. Namun jika kita berseru kepada Tuhan dalam doa, itu menjadi kekuatan untuk menghadapinya. Sebagaimana Hana meyakini bahwa Tuhan akan menolongnya, maka kita juga percaya bahwa Tuhan akan menjawab setiap doa dan memberikan jalan keluar bagi kita pada waktuNya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu menjadi kekuatan bagiku di saat perasaanku tersakiti, Amin.  

Senin, 18 Mei 2026

bahan bacaan : Markus 5: 1 – 20 (TB2)

Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa
Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. 2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. 3 Orang itu tinggal di pekuburan itu dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, 4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dipatahkannya. Tidak seorangpun yang kuat untuk menjinakkannya. 5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. 6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, 7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Maha Tinggi? Demi Allah aku mohon, jangan siksa aku!" 8 Sebab, sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" 9 Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak." 10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu. 11 Di lereng bukit itu sekawanan besar babi sedang mencari makan, 12 lalu roh-roh itu memohon kepada-Nya, "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasuki babi-babi itu!" 13 Yesus mengabulkan permohonan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. 14 Penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di desa-desa sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang telah terjadi. 15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Mereka pun merasa takut. 16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. 17 Lalu mereka mulai mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. 18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu memohon, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. 19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah dilakukan Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" 20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah dilakukan Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

Memulihkan Trauma untuk Menjadi yang Baru

Pria dalam kisah ini tinggal di pekuburan, berteriak-teriak, dan memukuli dirinya dengan batu. Ini adalah gambaran seseorang yang mengalami trauma mendalam, ia hidup secara fisik, tetapi mati secara batin.Yesus sengaja menyeberangi danau hanya untuk menemui satu orang ini. Trauma seringkali membuat seseorang merasa terisolasi, tetapi Yesus menunjukkan bahwa tidak ada medan yang terlalu berat untuk menjangkau jiwa yang terluka. Sebagai gereja rumah tangga, tugas kita adalah membawa kehadiran Kristus ke meja makan dan ruang tamu kita. Pemulihan terjadi bukan karena kita hebat memberi nasihat, tetapi karena kita menghadirkan kasih yang tidak menghakimi, persis seperti cara Yesus menyapa pria itu. Setelah dipulihkan, pria itu ditemukan dalam kondisi “berpakaian dan sudah waras” (ayat 15). Trauma merampas martabat dan kejernihan berpikir seseorang. Gereja Rumah Tangga yang memulihkan adalah tempat di mana martabat dikembalikan, tidak lagi mengungkit kesalahan masa lalu. Rasa aman dibangun menggantikan “rantai” kekerasan atau teriakan dengan “pakaian” kasih sayang dan penerimaan. Pemulihan trauma membutuhkan  proses. Yesus mengutus pria itu kembali ke rumahnya untuk menjadi saksi. Ini berarti keluarga adalah pusat misi pertama. Jika keluarga kita sudah mengalami pemulihan Tuhan, maka dari sanalah berita anugerah akan terpancar ke lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, jadikanlah keluarga kami alat pemulihanMu bagi dunia di sekitar kami, Amin  

Selasa, 19 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 19:1-8 (TB2)

Elia ke gunung Horeb
Ahab memberitahukan kepada Izebel semua yang dilakukan Elia dan bagaimana ia membunuh semua nabi dengan pedang, 2 Izebel lalu mengirim utusan kepada Elia dengan pesan: "Kiranya para ilah menghukum aku dengan berat, bahkan lebih lagi, jika besok sekitar waktu ini aku tidak menghabisi nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu." 3 Elia pun ketakutan, lalu pergi menyelamatkan dirinya; Setelah sampai ke Bersyeba, di wilayah Yehuda, ia meninggalkan hambanya di sana. 4 Tetapi ia sendiri pergi ke padang gurun sejauh satu hari perjalanan. Ia tiba dan duduk di bawah sebuah pohon arar. Ia memohon supaya ia mati, katanya: "Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." 5 Ia lalu berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" 6 Ketika ia melihat sekitarnya, tampaklah di dekat kepalanya ada roti bakar, dan kendi berisi air. Ia makan dan minum, lalu berbaring lagi. 7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." 8 Ia pun bangun, lalu makan dan minum. Karena makanan itu ia kuat berjalan selama empat puluh hari empat puluh malam sampai ke Horeb, gunung Allah.

Tuhan Tidak Menghakimi, Ia Merawat

Seringkali kita merasa bahwa menjadi orang beriman berarti harus selalu kuat. Namun, Elia menunjukkan bahwa seorang nabi besar pun bisa mengalami kelelahan mental yang hebat. ​Menarik untuk diperhatikan bagaimana Tuhan merespons Elia yang ingin mati. Tuhan tidak memarahi Elia karena kurang iman. Sebaliknya, Tuhan mengirim malaikat untuk membawa makanan dan minuman kepadanya. Dalam ayat 7, malaikat itu berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab perjalananmu masih jauh.” Makanan yang diberikan Tuhan memberi Elia kekuatan untuk berjalan 40 hari 40 malam menuju Gunung Horeb. Ini adalah pengingat bagi kita:Jangan memaksakan diri hanya dengan kekuatan sendiri.Terimalah bantuan baik itu nutrisi, istirahat, maupun dukungan sesama sebagai bentuk pemeliharaan Tuhan. Jika hari ini kita merasa lelah secara emosional dan mental, ketahuilah bahwa kita tidak sendiri. Bahkan jika kita sedang merasa “cukuplah itu, Tuhan” karena beban hidup yang berat, datanglah pada-Nya. Dia tidak hanya memberikan solusi atas masalah kita, tetapi Dia memberikan kekuatan di dalam diri kita untuk berjalan melaluinya.

Doa: Mampukanlah kami untuk keluar dari tekanan hidup.  Amin.

Rabu, 20 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 19: 9 – 18 (TB2)

Allah menyatakan diri di gunung Horeb
9 Di sana ia masuk ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Lalu datanglah firman TUHAN kepadanya, "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" 10 Jawabnya: "Aku Sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku seorang diri yang masih hidup dan mereka berusaha mencabut nyawaku." 11 Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Lalu melintaslah TUHAN. Angin besar dan kuat yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi TUHAN tidak ada dalam angin itu. Sesudah angin datanglah gempa. Tetapi TUHAN tidak ada dalam gempa itu. 12 Sesudah gempa datanglah api. Tetapi TUHAN tidak ada dalam api itu. Sesudah api itu datanglah suara embusan yang lembut. 13 Ketika Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Datanglah suara kepadanya demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" 14 Jawabnya: "Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; Hanya aku sendiri yang masih hidup, dan mereka berusaha mencabut nyawaku." 15 Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu ke padang gurun Damsyik. Sesampai engkau di sana, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. 16 Engkau juga harus mengurapi Yehu, cucu Nimsi, menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, menjadi nabi menggantikan engkau. 17 Siapa yang luput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; Siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. 18 Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, semua orang yang tidak sujud menyembah Ba'al dan yang mulutnya tidak mencium dia."

Perjuanganmu Belum Selesai, Aku Bersamamu

Melanjutkan kisah Elia, bagian ini (1 Raja-raja 19:9-18) adalah momen ketika Tuhan memulihkan perspektif Elia yang sedang terganggu oleh rasa takut dan kesepian.  Tuhan menyapa Elia dengan pertanyaan, “Apakah kerjamu di sini, Elia?” (Ayat 9). Tuhan tahu persis mengapa Elia di sana, tetapi Dia ingin Elia mencurahkan isi hatinya. Elia merasa dia adalah satu-satunya orang setia yang tersisa. Seringkali saat kita stres, pandangan kita menjadi sempit. Kita merasa menjadi “satu-satunya” yang menderita atau yang berjuang. Tuhan membiarkan kita bicara agar kita sadar bahwa perasaan kita tidak selalu mewakili seluruh kebenaran.  Setelah itu, ​Elia menantikan Tuhan dalam fenomena alam yang dahsyat: angin besar, gempa bumi, dan api. Namun, Alkitab mencatat bahwa Tuhan tidak ada di sana. Tuhan justru hadir dalam “bunyi angin sepoi-sepoi basa” (suara yang lembut dan halus). Setelah memulihkan jiwa Elia, Tuhan tidak membiarkannya tinggal di gua. Tuhan memberikan instruksi spesifik: mengurapi Hasael, Yehu, dan Elisa. Tuhan juga mengoreksi kekeliruan Elia dengan menyatakan bahwa masih ada 7.000 orang di Israel yang tidak sujud menyembah Baal. Dari sini kita belajar pemulihan seringkali datang saat kita mulai melangkah kembali untuk melayani orang lain. Jika hari ini kita merasa pelayanan atau hidup kita sia-sia, dengarlah bisikan lembut Tuhan: Perjuanganmu belum selesai, dan Aku bersamamu.

Doa: Tuhan, pulihkanlah semangat kami untuk kembali berjalan menyelesaikan tugas yang Engkau percayakan, Amin. 

Kamis, 21 Mei 2026

bahan bacaan : Mazmur 30: 9 – 13 (TB2)

9 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon belas kasihan: 10 "Apakah untungnya jika nyawaku dicabut, kalau aku turun ke dalam liang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu? 11 Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!" 12 Ratapanku telah Kauubah menjadi tarian gembira, pakaian kabungku Kau tanggalkan, pinggangku Kauikat dengan sukacita, 13 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan tidak berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Allah Menyelamatkan Tiap Rumah Tangga

Setiap manusia tidak ingin mengalami bahaya apapun. Tetapi ketika bahaya datang setiap orang harus berupaya menghindar atau keluar dari bahaya tersebut. Pemazmur Daud memiliki cara tersenciri untuk keluar dari bahaya. Dalam mazmurnya ini, Daud mencoba mengingat hal apa saja yang sudah terjadi di dalam kehidupan yang tidak mudah dijalaninya. Mulai dari ancaman Saul yang iri, belum lagi ancaman musuh-musuhnya di medan pertempuran, pemberontakan anaknya sendiri dan masih banyak lagi. Pada setiap permasalahan hidup Daud berseru dan memohon, sebab Daud percaya Tuhan mendengar. Tuhanlah yang menjadi Penolongnya. Tuhanlah yang membuat segala sesuatu yang awalnya adalah ratapan kesedihan dan kesusahan, menjadi sukacita kebahagiaan. Pesan mendalam dari teks ini adalah apapun permasalahan dan kesusahan hidup yang kita alami, kita patut berseru dan memohon kepada Tuhan, serta percaya bahwa Tuhan akan menolong dan memberi kita kekuatan. Tuhan pasti menolongsehingg segala sesuatunya menjadi baik.

Doa: Hadirlah dalam rumah tangga kami, supaya kami kuat untuk melakukan tugas kami.  Amin. 

Jumat, 22 Mei 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 4: 8 – 10 (TB2)

8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

Kristus Hadir dalam Pergumulan Rumah Tangga

uhan mengetahui segala yang terjadi di dunia dan memahami setiap pergumulan umat-Nya. Namun sering kali manusia melupakan Tuhan ketika panik atau bingung menghadapi masalah. Rasul Paulus pun pernah mengalami tekanan, keraguan, dan ketidakpastian dalam pelayanannya. Dalam 2 Korintus 4:8 ia berkata, “Kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Paulus merasakan kebingungan dan kelemahan, tetapi tidak sampai kehilangan pengharapan. Ia percaya bahwa Tuhan tetap menyertainya. Pengalaman Paulus serupa dengan yang sering kita alami. Kita bisa merasa buntu, ragu, bahkan bertanya mengapa Tuhan mengizinkan hal buruk terjadi atau apakah orang yang kita kasihi akan tetap setia dalam iman. Firman Tuhan menegaskan bahwa kesulitan bukan tanda Tuhan meninggalkan kita. Tuhan tidak menciptakan penderitaan, tetapi Ia mengizinkan pergumulan terjadi agar kita semakin bergantung dan berseru kepada-Nya. Melalui pertolongan dan keselamatan yang Ia berikan, kita belajar memuliakan nama Tuhan. Dalam setiap tekanan hidup, pengharapan kepada-Nya membuat kita tetap berdiri dan tidak putus asa.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk selalu bersyukur dan berdoa dalam keadaan apapun.  Amin. 

Sabtu, 23 Mei 2026

bahan bacaan : Matius 11: 28 -29 (TB2)

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan."

Undangan Untuk Beristirahat di Dalam Kristus

Melengkapi kisah pemulihan Elia yang kita renungkan di hari-hari sebelumnya, Matius 11:28-29 ini adalah “jawaban” langsung dari Yesus bagi setiap jiwa yang merasa lelah. Jika Elia harus berjalan jauh ke Gunung Horeb untuk mendengar bisikan Tuhan, Yesus kini datang mendekat dan mengundang kita secara pribadi. Yesus tidak memanggil mereka yang merasa suci, kuat, atau sukses. Dia memanggil yang “letih lesu” (kelelahan secara internal/fisik) dan “berbeban berat” (tekanan dari luar, aturan agama yang kaku, atau tuntutan hidup). Yesus tidak berkata “Belajarlah dari kuasa-Ku,” melainkan “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Kelegaan sejati tidak datang dari perubahan situasi di luar kita, tetapi dari perubahan karakter di dalam kita. Saat kita belajar melepaskan ego, kesombongan, dan ambisi yang membebani, jiwa kita secara otomatis akan menemukan ketenangan. Istirahat yang Yesus tawarkan bukanlah sekadar tidur fisik atau liburan singkat. Itu adalah ketenangan jiwa yang tetap ada meski badai hidup sedang menerpa. Kelegaan adalah janji Tuhan, tetapi kita perlu datang kepadaNya dalam doa. Di bawah kuk yang sama dengan Yesus, beban yang berat menjadi ringan karena kasih-Nya yang menopang.

Doa: Tuhan, kami datang dan meletakan seluruh beban hidup ini di bawah kaki salibMu, Amin

*SUMBER : SHK BULAN MEI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 Mei 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga dan Pendidikan Karakter

Tema Mingguan   :  Gereja Rumah Tangga yang Mendengarkan, Memahami   dan Melakukan Kehendak Allah

Minggu, 10 Mei 2026

bahan bacaan : Ulangan 6 : 1 – 9 (TB2)

Perintah yang utama
Inilah perintah, baik ketetapan maupun peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu akan menyeberang untuk mendudukinya, 2 Dengan demikian, seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, serta berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan kamu akan hidup lama di sana. 3 Dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu, di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHANlah Allah kita, TUHAN itu esa! 5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah kau taruh dalam hatimu, 7 Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya, ketika engkau duduk di rumahmu atau sedang dalam perjalanan, ketika engkau berbaring atau bangun. 8 Engkau harus juga mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan manjadikannya lambang di dahimu, 9 Haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbang kotamu.

Tulis dan Perkatakanlah Pengajaran Tuhan!

Dalam Ulangan 6:1–9, Tuhan menegaskan bahwa iman tidak hanya diajarkan di tempat ibadah, tetapi terutama dihidupi di rumah. Kata “mendengarkan” diulang untuk menekankan pentingnya membuka hati terhadap firman Tuhan dan kesiapan untuk taat. Pengajaran itu dilakukan setiap hari: saat duduk di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring, dan saat bangun. Pola yang sederhana namun konsisten ini menanamkan iman yang kuat dalam hati anak-anak. Hasilnya adalah kebaikan, “supaya baik keadaanmu.” Kesetiaan kepada Tuhan membawa damai dalam rumah, relasi yang semakin erat, keputusan yang lebih bijaksana, dan anak-anak yang bertumbuh dengan arah hidup yang benar. Kebaikan ini mungkin tidak selalu instan, tetapi nyata dalam proses pemeliharaan Tuhan yang setia. Dampaknya pun meluas ke sekitar: tetangga merasakan damai dan lingkungan melihat terang dari keteladanan keluarga. Firman yang diikat pada tangan, menjadi lambang di dahi, dan ditulis pada tiang pintu menggambarkan totalitas hidup. Firman mengarahkan tindakan, membentuk pikiran, dan menjadi identitas rumah. Dengan demikian, ajaran Tuhan harus melekat dalam pikiran, sikap, dan budaya keluarga setiap hari.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk membangun rumah tangga kami dengan hikmat-Mu. Amin

Senin, 11 Mei 2026

bahan bacaan : Ulangan 31 : 9 – 13 (TB2)

Pembacaan hukum setiap tujuh tahun
9 Lalu Musa menuliskan hukum itu, dn memberikannya kepada imam-imam bani Lewi, yang mengangkut Tabut Perjanjian TUHAN, dan kepada semua tua-tua Israel. 10 Musa memerintahkan kepada mereka, demikian: "Pada akhir tujuh tahun, pada waktu yang ditetapkan pada tahun penghapusan hutang, selama Hari Raya Pondok Daun, 11 ketika seluruh orang Israel datang menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, kamu harus membacakan hukum ini di depan seluruh orang Israel. 12 Suruhlah bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, serta pendatang di kotamu, supaya mereka mendengarnya, belajar takut akan TUHAN, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum ini, 13 Lalu anak-anak mereka, yang tidak mengetahuinya, dapat mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, selama kamu hidup di tanah yang akan kamu duduki setelah menyeberangi sungai Yordan."

Keluarga Yang Hidup Takut Akan Tuhan

Menjadi  keluarga kristen bukan sekedar karena kita beragama kristen, tapi bagaimana setiap keluarga hidup takut akan Tuhan. Hidup takut akan Tuhan adalah sikap hati yang menghormati, mengagungkan, dan mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Hal in dijelaskan dalam bacaan tadi, yang merupakan perkataan terakhir Musa kepada generasi Israel yang siap memasuki tanah perjanjian. Israel diingatkan bahwa Allah telah memilih mereka karena kasih-Nya. Oleh sebab itu, mereka harus mengasihi Allah dengan mematuhi hukum dan perintah-Nya. Mereka harus taat mendengar, belajar takut akanTuhan, dan setia melakukan perintah-Nya (ay.12) Pesan bagi keluarga kristen saat ini adalah agar kita menjadikan  firman Tuhan sebagai dasar kehidupan sehari-hari, yang memberi arah dan petunjuk (band.Maz.119:105),  sehingga kita hidup dalam takut akan Tuhan. Oleh sebab itu, sediakanlah waktu untuk membaca Alkitab secara rutin, rajin beribadah dan mendengar firman Tuhan serta melakukan kehendak-Nya, melalui perkataan dan perbuatan yang benar.

Doa:  Roh Kudus tuntunlah setiap keluarga kami agar rajin membaca Alkitab dan memahami kehendak Tuhan. Amin. 

Selasa, 12 Mei 2026

bahan bacaan : Ulangan 31 : 19 – 23 (TB2)

19 Sekarang, tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel. Letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini menjadi saksi bagi-Ku terhadap orang Israel. 20 Sebab Aku akan membawa mereka ke tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya, tanah yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka. Mereka akan makan dan kenyang serta menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada ilah-ilah lain dan beribadah kepadanya. Mereka akan menista Aku dan mengingkari perjanjian-Ku. 21 Apabila mereka ditimpa banyak malapetaka serta kesusahan, maka nyanyian ini akan menjadi kesaksian terhadap mereka, sebab nyanyian ini akan tetap melekat pada bibir keturunan mereka. Sesungguhnya, Aku tahu niat yang dikandung mereka pada hari ini, sebelum Aku membawa mereka ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka." 22 Pada hari itu juga Musa menuliskan nyanyian ini dan mengajarkannya kepada orang Israel. 23 Kepada Yosua bin Nun Tuhan memberi perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."

Jangan Mendua Hati

Kita pernah mendengar istilah “Mendua Hati”. Istilah ini dapat digunakan untuk menggambarkan ketidaksetiaan Israel kepada Tuhan. Hati mereka terbagi antara Tuhan dan berhala sehingga mereka mengalami malapetaka. Karena itu,  sebelum Musa meninggal, Tuhan memerintahkannya menulis sebuah nyanyian yang syairnya disampaikan dalam pasal 32:1-43. Syair ini harus diingat sebagai bukti bahwa umat Israel mengetahui hukum Tuhan dan tidak memiliki alasan untuk mengingkari perjanjian. Sebab Allah tahu kelak Israel akan menyembah ilah lain, sesudah mereka tinggal di tanah perjanjian. Pesan bagi kita saat ini adalah jangan mendua hati. Kadang kita mendua hati bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena takut melepaskan yang sudah terbiasa. Kebiasaan yang keliru dan tidak mau berubah. Berbaliklah dengan sungguh-sungguh dan setia hanya kepada Tuhan, jangan mendua hati kepada berhala dunia (uang,jabatan,iptek) yang semu. Jadikanlah  firman Tuhan sebagai pengingat agar kita tidak melupakan kasih setia Tuhan. Ajarkan kehendak Tuhan kepada anak cucu generasi kita supaya jalan-jalan hidup mereka berkenan kepada Tuhan dan memperoleh berkatNya.

Doa: Roh Kudus tuntunlah hati kami untuk beribadah hanya kepada Tuhan bukan mamon dunia, amin.  

Rabu, 13 Mei 2026

bahan bacaan : Yeremia 9 : 17 – 22 (TB2)

17 Perhatikanlah! Panggillah perempuan-perempuan peratap, supaya mereka datang, dan suruhlah orang kepada perempuan-perempuan yang bijaksana, supaya mereka datang! Demikianlah firman TUHAN Semesta Alam. 18 Hendaklah mereka bergegas dan menaikkan ratapan atas kita, supaya air mata kita bercucuran, dan mengenangi kelopak mata kita! 19 Sebab terdengar ratapan dari Sion: Sungguh, binasalah kami! Kami sangat dipermalukan! Kami harus meninggalkan negeri ini, karena rumah-rumah kediaman kami dirobohkan. 20 Maka dengarlah firman TUHAN, hai perempuan-perempuan, biarlah telingamu menerima firman dari mulut-Nya; Ajarkanlah ratapan kepada anak-anak perempuanmu, dan nyanyian ratapan, masing-masing kepada temannya: 21 "Maut telah menyusup ke jendela-jendela kita, masuk ke dalam puri-puri kita; Ia melenyapkan kanak-kanak dari jalan, para pemuda dari lapangan; 22 Katakanlah: Beginilah firman TUHAN: mayat-mayat manusia bergelimpangan seperti tahi di ladang, seperti berkas gandum di belakang para penuai tanpa ada yang mengumpulkan."

Di Persimpangan Jalan: Hidup atau Binasa?

Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan memiliki akibat: setia diberkati, tidak setia dihukum. Kalimat ini menggambarkan kehidupan umat Israel yang tidak setia kepada Tuhan dengan memilih jalan dosa: beribadah kepada berhala (Baal), berpaling dari Tuhan, dan meninggalkan firman-Nya karena kekerasan hati mereka (ay.14). Akibatnya, Tuhan menghukum mereka dengan menyerahkan mereka kepada bangsa asing sebagai tawanan. Yehuda dikalahkan dan kota Yerusalem dihancurkan. Dalam situasi tersebut, kaum perempuan dipanggil untuk meratapi kehancuran yang terjadi sebagai simbol kesedihan yang mendalam (ay.20). Namun, Yeremia mengingatkan umat Israel bahwa Allah berjanji akan memulihkan dan menyelamatkan mereka apabila mereka mau bertobat, kembal, dan percaya sepenuhnya kepada-Nya. Kita diberi kebebasan untuk memilih: hidup sesuai kehendak Allah (Roh) atau hawa nafsu (daging). Jika kita hidup menurut daging (Gal.5:19-21) kita akan binasa. Namun, jika kita hidup dalam Roh kita memiliki hidup yang kekal (Gal.6:8). Sekarang, pertanyaannya: mana yang kita pilih, hidup atau binasa?

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk memilih hidup di dalam Roh bukan di dalam daging. Amin. 

Kamis, 14 Mei 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 1 : 6 – 11 (TB2)

Yesus terangkat ke sorga
6 Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" 7 Jawab-Nya kepada mereka: "Kamu tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. 8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." 9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, 11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga."

Gereja Rumah Tangga Diberi Kuasa Untuk Bersaksi

Peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke surga merupakan momen penting dalam tradisi gereja. Salah satu makna penting dari peristiwa itu adalah bahwa sebelum naik ke surga, Ia menjanjikan Roh Kudus kepada murid- murid supaya mereka menjadi saksi, dan memberitakan injil ke seluruh dunia (ay.8). Nas ini mengingatkan kita bahwa setiap orang percaya telah menerima Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus. Roh Kudus akan menolong, menyertai, menguatkan dan memampukan kita melaksanakan tugas pemberitaan injil dalam kehidupan sehari-hari melalui perkataan dan perbuatan. Tugas ini dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga, lingkungan sekitar, menjangkau mereka yang berbeda (agama, suku, budaya) sampai ke seluruh dunia. Keluarga dipanggil untuk menjadi “terang” bagi lingkungan sekitar. Keharmonisan dan kasih yang terpancar dari dalam rumah tangga menjadi kesaksian hidup tentang kebaikan Tuhan. Pertanyaan kita hari ini: Sudahkah keluarga kita hidup sebagai saksi Kristus? Berdoalah mohon tuntunan Roh Kudus supaya sama seperti Tuhan Yesus naik ke Surga untuk memuliakan Bapa, biarlah setiap pertumbuhan dan keberhasilan dalam keluarga kita juga ditujukan untuk menyaksikan dan memuliakan nama Tuhan.

Doa: Bapa, tuntun keluarga kami hidup sebagai saksi Kristus yang memulaikanMu setiap waktu Amin. 

Jumat, 15 Mei 2026

bahan bacaan : Ulangan 32 : 44 – 47 (TB2)

Nasihat terakhir Musa 
44 Lalu Musa datang bersama Yosua bin Nun dan menyampaikan segala perkataan nyanyian tadi ke telinga bangsa itu. 45 Setelah Musa selesai menyampaikan segala perkataan itu kepada seluruh orang Israel, 46 ia berkata kepada mereka: "Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkan kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum ini. 47 Sebab, perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu. Dengan perkataan ini kamu akan hidup lama di tanah yang akan kamu duduki setelah menyeberangi sungai Yordan."

Mendengar, Menaati Dan Melakukan Perintah  Tuhan

Bayangkan Musa di hari-hari terakhir hidupnya. Ia tidak meninggalkan tumpukan emas atau tanah yang luas kepada bangsa Israel. Yang ia berikan adalah perkataan-perkataan Tuhan. Musa ingin bangsa Isarel dan juga kita saat ini tahu bahwa nasihat Tuhan adalah harta yang paling berharga untuk dijaga. Di tengah dunia yang penuh dengan berbagai informasi palsu dan menyesatkan. Firman Tuhan adalah pegangan. Sebab itu membaca Alkitab sungguhlah baik. Firman Tuhan di dalam Alkitab yang kita baca akan mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Ia menjadi pedoman bagi arah langkah hidup kita. Jangan biarkan Alkitab di rumah tangga kita, seperti buku sejarah yang hanya ditaruh di rak buku atau atas meja tanpa pernah kita menyentuh dan membacanya, kecuali ketika datang beribadah. Firman itu adalah hidup kita. ingatlah bahwa setiap kali kita membaca dan melakukan perintah Tuhan, kita sedang memberi “makan” bagi jiwa kita agar tetap kuat. Apa satu perintah Tuhan yang paling sulit dilakukan minggu ini? cobalah melakukannya hari ini sebagai bentuk ketaatan.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami agar mampu mendengar dan melakukan perintahMu dalam kehidupan ini, Amin.  

Sabtu, 16 Mei 2026

bahan bacaan : Matius 7 : 24 – 27 (TB2)

Dua macam dasar
24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia bagaikan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25 Lalu turunlah hujan dan datanglah banjir, dan angin bertiup melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh sebab didirikan di atas batu. 26 Namun setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia bagaikan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27 Lalu turunlah hujan dan datanglah banjir, dan angin bertiup melanda rumah itu, sehingga robohlah rumah itu dan besarlah kerusakannya."

Bijak: Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan

Ini merupakan salah satu perumpamaan Yesus yang paling terkenal tentang dua macam dasar bangunan. Pesannya sangat praktis: hidup kita ditentukan bukan oleh apa yang kita dengar dalam firmanNya, melainkan oleh apa yang kita lakukan.Dalam cerita ini, ada dua orang yang sama-sama membangun rumah. Perbedaan besarnya ada pada dasar (fondasi) yang tidak kelihatan dari luar. Si Bijak: Membangun di atas Batu. Si Bodoh: Membangun di atas Pasir. Ketika badai datang, robohlah rumah yang dibangun diatas dasar dari pasir, sebaliknya rumah yang dibangun diatas dasar batu tetap kokoh. Perhatikan bahwa baik orang bijak maupun orang bodoh sama-sama diterjang badai (hujan, banjir, dan angin).Artinya: Menjadi orang beriman tidak membuat kita kebal dari masalah. Penyakit, kesulitan ekonomi, atau duka bisa datang kepada siapa saja. Perumpamaan ini adalah peringatan bahwa “mendengarkan firman tanpa tanpa ketaatan untuk melakukannya, itu rapuh. Yesus ingin kita memiliki iman yang “berakar” kuat dalam firmanNya dan itu nampak dalam tindakan nyata, sehingga ketika masalah datang, kita tetap tegak berdiri karena kita berpijak pada Batu Karang yang Teguh  yakni Kristus dan perintah-perintahNya.

Doa: Ya Tuhan bijaksanakanlah kami untuk mendengar dan melakukan firmanMu dalam kehidupan kami. Amin   

*SUMBER ; SHK BULAN MEI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 3 – 9 Mei 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga dan Pendidikan Karakter

Tema Mingguan   :  Mengupayakan Gereja Rumah Tangga yang Cerdas- Berhikmat

Minggu, 3 Mei 2026

bahan bacaan : Amsal 2 : 1 – 9 (TB2)

Faedah mencari hikmat
Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku dalam hatimu, 2 sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan hatimu condong kepada kepandaian, 3 ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan suaramu memohon kepandaian, 4 jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, 5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. 6 Karena TUHANlah yang memberi hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. 7 Ia menyediakan bahan pertimbangan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela hidupnya, 8 menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang yang setia pada-Nya. 9 Dengan demikian engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, itulah segala jalan yang baik.

Gereja Rumah Tangga yang Berhikmat

Mengupayakan gereja rumah tangga yang berhikmat dimulai dari hati yang mau menerima, menyimpan, dan melakukan firman Tuhan. Amsal menegaskan bahwa hikmat tidak datang otomatis, melainkan harus dicari seperti perak dan harta terpendam. Karena itu, keluarga perlu menyediakan waktu membaca Firman dan berdoa bersama, sehingga rumah menjadi tempat dimana iman dibangun, tempat setiap anggota belajar hidup  takut akan Tuhan.Dengan hidup Takut akan Tuhan menolong setiap anggota keluarga bersikap rendah hati, tidak mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri semata dalam menyelesaikan konflik atau mengambil keputusan, tetapi selalu melibatkan Tuhan. Dengan demikian, Tuhan menjadi perisai yang memberi perlindungan moral dan rohani bagi keluarga di tengah tantangan zaman. Keluarga yang cerdas secara rohani akan menjadi terang bagi lingkungan, memancarkan nilai Kerajaan Allah dalam keseharian. Dengan terus mencari hikmat, rumah tangga tidak hanya dikuatkan secara pribadi, tetapi juga menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan gereja secara luas.

Doa: Tuhan, bantu kami punya landasan yang kokoh dalam hidup rumah tangga. Amin.  

Senin, 4 Mei 2026

bahan bacaan : Amsal 4 : 5 – 13 (TB2)

5 Raihlah hikmat, raihlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku. 6 Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya. 7 Permulaan hikmat ialah: raihlah hikmat dan dengan segala yang kau raih raihlah pengertian. 8 Junjunglah dia, maka engkau akan ditinggikannya; engkau akan dijadikan terhormat apabila engkau memeluknya. 9 Ia akan mengenakan untaian bunga yang indah di kepalamu, mahkota yang indah akan dikaruniakannya kepadamu." 10 Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. 11 Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. 12 Bila engkau berjalan, langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung. 13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.

Hikmat Memberi Arah Hidup yang Benar

Hari ini tanggal 4 Mei, menjadi tanggal yang selalu mengingatkan kita akan sejarah beriman Gereja Protestan Maluku bersama Tuhan, dengan adanya pesan Tobat yang pernah dikeluarkan pada tahun 1960. Pesan Tobat ini bukan untuk menyalahkan, melainkan wujud kasih Allah yang mengingatkan dan memanggil gereja kembali kepada jalan-Nya. Umat dan pelayan diminta untuk menundukkan diri kepada firman Tuhan dan mewujudkannya dalam pembaruan kehidupan sehari-hari. Dalam bacaan hari ini, Salomo menyampaikan ajakan yang sejalan: carilah hikmat, peganglah pengertian, dan jangan melepaskannya, sebab di sanalah kehidupan ditemukan. Hikmat tidak datang otomatis; ia harus dicari dengan sungguh-sungguh. Hikmat bukan sekadar kecerdasan, tetapi kemampuan memandang hidup dari sudut pandang Allah. Orang yang berhikmat bersedia belajar, ditegur, dan dibentuk oleh firman Tuhan sehingga hidupnya menjadi baru. Ajakan Salomo dan Pesan Tobat mengingatkan kita untuk hidup dalam takut akan Tuhan sebagai sumber hikmat. Berpegang pada hikmat-Nya tidak pernah sia-sia, sebab hikmat memberi kejelasan arah, keteguhan langkah, perlindungan, serta masa depan yang diberkati Tuhan bagi kita dan gereja ini.

Doa: Tuhan, terima kasih atas hikmatMu yang selalu memberi kejelasan arah hidup bagi kami Amin. 

Selasa, 5 Mei 2026

bahan bacaan : Lukas 10 : 38 – 42 (TB2)

Maria dan Marta
38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 41 Namun Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia."

Perempuan GPM yang Arif Mendengar

Kemampuan mendengar dengan arif adalah anugerah yang semakin langka. Banyak orang ingin didengar, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh mau mendengar. Firman Tuhan mengajarkan bahwa mendengar bukan sekadar fungsi telinga, melainkan sikap hati yang dibentuk oleh hikmat. Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, perempuan kerap menjadi tempat orang mencurahkan isi hati. Ketika ia mendengar dengan sabar dan empati, kehadirannya menjadi saluran pemulihan dan penguatan. Perempuan yang arif adalah dia yang terlebih dahulu mendengar suara Tuhan. Seperti Maria yang duduk di kaki Yesus, ia memilih berdiam diri di hadapan Tuhan sebelum sibuk oleh banyak suara lain. Dari relasi yang intim dengan Tuhan lahir kepekaan untuk mendengar sesama dengan kasih dan kebenaran. Mendengar dengan arif berarti mendengar tanpa prasangka, tanpa niat membalas, dan dengan kerinduan untuk memahami, bukan untuk menang. Perempuan yang demikian menghadirkan damai, kata-katanya menyejukkan, dan tindakannya mencerminkan kedewasaan rohani. Di hari ulang tahun Perempuan GPM ini, kita diingatkan untuk arif mendengar supaya paham dan tahu mana yang benar sebelum bertindak dengan cerdas.

Doa: Tuhan, terima kasih atas kasih dan berkat-Mu bagi semua perempuan GPM, Amin. 

Rabu, 6 Mei 2026

bahan bacaan : Amsal 22 : 6 (TB2)

6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Didikan Menurut Jalan Yang Patut

Perempuan yang bijak bukan hanya mengurus anak supaya “baik di luar”, tapi membentuk hati anak supaya kuat di dalam Tuhan. Amsal 22:6 mengingatkan kita bahwa didikan yang benar tidak dikerjakan sesekali, tetapi lewat kebiasaan kecil setiap hari dan dilakukan dengan kasih, ketegasan, dan teladan. Mendidik “menurut jalan yang patut baginya” berarti dua hal yakni mengarahkan anak pada jalan Tuhan, dan memahami bahwa tiap anak punya karakter yang berbeda. Ada anak yang cepat mengerti, ada yang harus diulang. Ada yang lembut, ada yang keras. Perempuan bijak tidak menyamaratakan, tapi tetap menuntun dengan sabar dan konsisten. Di Maluku, kita punya kekuatan “hidup basudara”. Jadikan rumah tempat anak belajar hormat, jujur, dan saling menjaga. Mulai dari yang sederhana yakni kata-kata yang tidak melukai, berdoa sebelum tidur, dan kebiasaan minta maaf kalau melakukan  salah. Anak akan mengingat bukan hanya nasihat, tapi cara ibu menghadapi marah, konflik, dan keadaan sulit. Didikan yang benar seperti menanam. Hari ini mungkin belum terlihat. Tapi benih yang ditanam dengan setia akan bertumbuh, dan suatu hari menjadi jalan pulang bagi anak.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk mendidik keluarga kami menurut jalanMu. Amin.

Kamis, 7 Mei 2026

bahan bacaan : Amsal 13 : 20 (TB2)

20 Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.

Hati-Hati Memilih Teman

Seng semua orang katong bisa jadikan tamang bajalang, demikian ungkapan orang Maluku yang mengingatkan kita agar berhati-hati memilih teman. Teman memiliki pengaruh besar terhadap arah dan kualitas hidup seseorang. Firman Tuhan tidak melarang kita berteman, tetapi menasihati supaya berhikmat dalam memilih lingkaran pergaulan. Dalam pergaulan, kebiasaan baik dapat saling menguatkan, namun kebiasaan buruk juga mudah menular. Tanpa disadari, cara berbicara, bersikap, bahkan mengambil keputusan sering dibentuk oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Di zaman sekarang, pergaulan tidak hanya terjadi secara tatap muka, tetapi juga melalui media digital. Telepon genggam, media sosial, grup percakapan, video yang ditonton, dan akun yang diikuti menjadi bagian dari “teman seperjalanan” kita setiap hari. Apa yang terus-menerus kita lihat dan dengar akan memengaruhi pola pikir dan karakter. Jika kita terbiasa dengan konten negatif, hati bisa menjadi tumpul. Sebaliknya, jika dikelilingi hal-hal yang membangun dan mendekatkan kepada Tuhan, hidup akan diarahkan kepada kebaikan. Karena itu, keluarga perlu membuat kesepakatan bijak tentang penggunaan media. Rumah harus menjadi tempat berbagi, belajar, dan berdoa bersama. Orang tua perlu memberi teladan agar seluruh anggota keluarga bertumbuh kuat dalam iman dan karakter.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk berhati-hati dalam bergaul. Amin 

Jumat, 8 Mei 2026

bahan bacaan : Amsal 10 : 1 (TB2)

Kumpulan amsal Salomo
Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita bagi ayahnya, tetapi anak yang bebal kedukaan bagi ibunya.

Anak Yang Bijak

Amsal 10:1 memperlihatkan hubungan yang sangat erat antara perilaku anak dan kebahagiaan orang tua. Hikmat bukan hanya soal kepintaran, tetapi tentang karakter dan pilihan hidup. Seorang anak disebut bijak ketika ia hidup dengan sikap hormat, tanggung jawab, dan takut akan Tuhan. Sebaliknya, kebebalan bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan pola hidup yang tidak peduli pada nasihat dan kebenaran. Nama baik keluarga tidak dibangun oleh kekayaan atau jabatan, melainkan oleh perilaku sehari-hari. Ketika seorang anak berkata jujur, menghormati orang yang lebih tua, menjaga pergaulan, dan bersikap sopan, ia sedang mengangkat martabat keluarganya. Orang tua mungkin tidak selalu hadir di setiap tempat, tetapi sikap anak menjadi cerminan didikan rumah. Di era digital saat ini, menjaga nama baik keluarga juga berarti bijak dalam menggunakan media sosial. Apa yang ditulis, dibagikan, dan dikomentari dapat memengaruhi cara orang memandang keluarga. Amsal ini juga mengingatkan orang tua bahwa sukacita terbesar bukanlah prestasi akademik semata, melainkan karakter yang benar. Anak yang bijak memberi penghiburan karena ia menjadi tanda bahwa nilai-nilai iman dan moral yang ditanamkan tidak sia-sia.

Doa: Bentuklah anak-anak kami dengan kuasa Roh Kudus-Mu, ya Tuhan. Amin

Sabtu, 9 Mei 2026

bahan bacaan : Amsal 24 : 3 – 5 (TB2)

3 Dengan hikmat rumah didirikan, dan ditegakkan dengan pengertian, 4 Dengan pengetahuan kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. 5 Orang yang bijak lebih berkuasa dari pada orang kuat, dan orang yang berpengetahuan daripada orang yang kekuataannya besar.

Hikmat Sebagai Dasar Rumah Tangga

Teks hari ini menyatakan bahwa rumah didirikan dengan hikmat dan ditegakkan dengan pengertian. Ini mengajarkan bahwa keluarga yang diberkati tidak terutama dibangun di atas harta, jabatan, atau kecerdasan, melainkan di atas hikmat yang berasal dari Tuhan. Hikmat menolong keluarga mengambil keputusan yang benar, mendidik anak dengan bijaksana, mengelola emosi, serta menyelesaikan konflik dengan damai. Pengertian membuat setiap anggota keluarga mau saling memahami, tidak cepat menghakimi, dan belajar mendengar. Ayat 4 berkata, “oleh pengetahuan kamar-kamar diisi.” Kamar-kamar bukan hanya ruang fisik, tetapi gambaran pergumulan tiap anggota keluarga. Ada anak yang bergumul dengan pergaulan dan jati diri, ayah dengan tanggung jawab dan tekanan ekonomi, serta ibu dengan kelelahan dan beban yang sering tersembunyi. Dalam setiap pergumulan itu, keluarga yang bijak mengisinya dengan pengetahuan akan Tuhan yang menuntun cara berpikir, merasa, dan bertindak. Ketika firman Tuhan memenuhi hati, kepanikan diganti iman, kecurigaan diganti pengertian, dan amarah diganti kebenaran yang diucapkan dalam kasih. Dengan demikian, keluarga menjadi kuat, dewasa, dan tetap teguh menghadapi tantangan hidup.

Doa: Mampukanlah kami untuk melakukan pengajaran tentang Tuhan. Amin 

*SUMBER : SHK BULAN MEI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 April – 2 Mei 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Mengupayakan Gereja Rumah Tangga Yang Sehat Jasmani dan Rohani

Minggu, 26 April 2026

bahan bacaan : Matius 8 : 5 – 13 (TB2)

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum
5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, seorang perwira datang kepada Dia dan memohon pertolongan-Nya: 6 Ia berkata, "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." 7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." 8 Namun jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, dan hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 10 Mendengar hal itu, Yesus heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, 12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan diluar, di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi." 13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Iman yang Bekerja Melalui Kasih

eorang perwira yang memiliki pangkat dan kekuasaan datang kepada Yesus bukan untuk dirinya, tetapi untuk hambanya yang sedang sakit. Sebagai pemimpin, ia menunjukkan kerendahan hati serta kepeduliannya mencari bantuan demi kesembuhan bawahannya. Hanya dengan bermodalkan percaya satu perkataan Tuhan Yesus. Iman seperti ini penting untuk membangun gereja rumah tangga yang sehat rohani dan nyata dalam kasih. Keluarga adalah ladang misi pertama. Saat saling mendoakan, memperhatikan, dan menolong sesama, pelayanan sosial dimulai. Iman tidak berhenti pada doa, tetapi bergerak dalam tindakan. Seperti seorang ibu sederhana yang rutin memasak untuk tetangga lansia yang sakit. Ia berkata, “Saya tidak bisa menyembuhkan, tapi saya bisa peduli.” Itulah iman yang bekerja melalui kasih. Mungkin kita tak mampu melakukan hal besar, tetapi perhatian kecil dari hati yang peduli dapat menjadi berkat dan kesembuhan bagi orang lain. Inilah wujud gereja rumah tangga yang hidup dan bermisi melalui kasih.

Doa Tuhan, sehatkan keluarga kami dan jadikan kami saluran berkat. Amin.  

Senin, 27 April 2026

bahan bacaan : Amsal 25 : 16 (TB2)

16 Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya.

Manis Yang Cukup

Seperti teh hangat dengan satu sendok madu akan terasa nikmat, bila dibandingkan dengan satu teh hangat dengan satu gelas penuh madu justru tidak bisa diminum. Madu memang manis dan menyehatkan, tetapi firman Tuhan mengingatkan: jika berlebihan, justru mendatangkan mual. Begitu juga dalam kehidupan keluarga Kristen. Tuhan rindu gereja rumah tangga sehat jasmani dan rohani di mana ada kasih, perhatian, kerja, pelayanan, dan waktu bersama. Semuanya perlu diatur secara baik dan seimbang. Terlalu sibuk bekerja bisa membuat keluarga “kekurangan madu” berupa kebersamaan. Sebaliknya, terlalu santai tanpa tanggung jawab juga tidak sehat. Dalam pelayanan sosial pun demikian. Melayani itu indah, tapi jangan sampai pelayanan di luar rumah membuat lupa melayani orang terdekat. Orang terkasih kita dalam keluarga yang harus pertama mendapatkan kasih dan pelayanan. Anak-anak akan belajar mengasihi saat melihat orang tuanya hidup penuh kasih. Hidup rumah tangga yang penuh kasih membuat keluarga dapat menjadi alat kesaksian yang manis bagi sesama.  Cukup, tidak berlebihan tapi membawa kebaiikan.

Doa: Tuhan, kami mau hidup dalam keluarga dengan penuh kasih yang manis, Amin.  

Selasa, 28 April 2026

bahan bacaan : 2 Raja-raja 20 : 1 – 11 (TB2)

Hizkia sakit dan disembuhkan
Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu nabi Yesaya bin Amos datang, dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Tinggalkanlah pesan kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi." 2 Hizkia pun memalingkan mukanya ke arah dinding dan berdoa kepada TUHAN: 3 "Ya TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan tulus hati; aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Lalu Hizkia menangis dengan pilu. 4 Sebelum Yesaya keluar dari pelataran tengah, firman TUHAN telah datang kepadanya: 5 "Kembalilah dan katakanlah kepada Hizkia, pemimpin umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. 6 Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi. Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan memagari kota ini demi Aku dan demi Daud, hamba-Ku." 7 Kemudian Yesaya berkata: "Ambillah sebuah kue ara!" Lalu orang mengambilnya dan menaruhnya pada bisul itu, dan sembuhlah ia. 8 Sebelumnya Hizkia telah berkata kepada Yesaya: "Apa tandanya bahwa TUHAN akan menyembuhkan aku dan aku akan pergi ke rumah TUHAN pada hari yang ketiga?" 9 Yesaya menjawab: "Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya: Apakah bayang-bayang itu akan maju sepuluh langkah atau mundur sepuluh langkah?" 10 Kata Hizkia: "Mudah saja bagi bayang-bayang itu untuk memanjang sepuluh langkah! Sebaliknya, hendaklah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh langkah." 11 Nabi Yesaya pun berseru kepada TUHAN, lalu TUHAN membuat bayang-bayang itu mundur sepuluh langkah ke belakang dari jarak yang sudah dijalaninya pada penunjuk matahari buatan Ahas.

Jawaban Tuhan Yang Memulihkan

Hizkia adalah raja yang takut akan Tuhan, namun ia menghadapi masalah bertubi-tubi. Kota Yerusalem dikepung musuh, dan di saat yang sama ia menderita sakit keras. Nabi Yesaya menyampaikan bahwa ia akan mati. Mendengar hal itu, Hizkia berpaling kepada Tuhan dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Dalam situasi yang terasa buntu dan memojokkan, ia tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan berserah melalui doa. Tuhan mendengar seruannya dan memberikan jawaban atas pergumulannya. Dari kisah ini kita belajar bahwa ketika persoalan datang silih berganti, bahkan ancaman sakit dan bahaya mengintai, langkah terbaik adalah membawa semuanya kepada Tuhan. Doa yang dinaikkan dengan iman membuka ruang bagi kuasa Tuhan bekerja. Pergumulan Hizkia dijawab, ia diberi kesembuhan dan tambahan usia yang baginya tidak boleh disia-siakan. Ia semakin giat berkarya. Ini mau mengajarkan kita semua untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, tetap teguh dalam iman, serta yakin bahwa Tuhan menyediakan jalan keluar  tanpa harus selalu meminta tanda atas jawaban doa kita.Maka sama seperti Hizkia, ketika jawaban doa didengar dan dipulihkan Tuhan, teruslah berkarya dan jadilah berkat, alat kesaksian bagi banyak orang.

Doa Tuhan, kepadaMu saja kami sekeluarga mau berserah, Amin.  

Rabu, 29 April 2026

bahan bacaan : Matius 17 : 14 – 18  (TB2)

Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan
14 Ketika mereka kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang kepada Yesus dan berlutut dihadapan-Nya, 15 katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. 16 Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya." 17 Kata Yesus: "Hai generasi yang tidak percaya dan sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" 18 Yesus menghardik dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itupun sembuh seketika itu juga.

Kuasa di Balik Kepercayaan

Dalam kehidupan, tidak semua peristiwa dapat dijelaskan secara rasional. Ada situasi yang melampaui akal dan menuntut kedewasaan iman untuk menghadapinya. Kisah orang tua yang anaknya menderita penyakit ayan menunjukkan hal tersebut. Berbagai usaha telah dilakukan, bahkan meminta pertolongan murid-murid Yesus, tetapi anaknya tidak dapat di sembuhkan. Di tengah kekecewaan itu, orang tua tersebut tetap percaya kepada kuasa Yesus. Iman yang teguh mendorongnya memohon belas kasihan Tuhan agar anaknya dibebaskan dari kuasa yang tidak terlihat. Iman inilah yang membuka jalan bagi terjadinya penyembuhan dan pemulihan. Seringkali kita merasa gagal dalam menghadapi “badai” hidup, bukan karena kita kurang pintar atau krang berusaha, tetapi karena kita kurang melibatkan Tuhan secara sungguh-sungguh. Iman bukan sekedar percaya Tuhan ada, tetapi ercaya Tuhan mampu dan mau bertindak. Apakah hari ini kita sedang menghadapi masalah yang membuat kita merasa gagal? Sudahkah kita membawanya langsung ke kaki Yesus dengan iman yang penuh? Percayalah kuasa Tuhan dan datanglah pada-Nya.

Doa: Tuhan, kami percaya, kuasaMu ada untuk menyelesaikan semua masalah kami Amin.

Kamis, 30 April 2026

bahan bacaan : Amsal 23 : 19 – 21 (TB2)

19 Hai anakku, dengarkanlah, dan jadilah bijak, tujukanlah hatimu ke jalan yang benar. 20 Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. 21 Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.

Mendengar, Mengikuti dan Menjaga Diri

Menjadi bijak itu mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya, sebab kepintaran tanpa ketaatan seringkali justru menjauhkan kita dari jalan yang benar. Demikian nasehat ayahku sewaktu beliau masih hidup. Dalam nas hari ini, kita mendapatkan pula nasehat yang sama.  Nas ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam memilih teman akrab. Jika kita terus-menerus bergaul dengan orang yang hanya mengejar kesenangan duniawi (seperti “peminum dan pelahap”), perlahan tapi pasti gaya hidup mereka akan menular kepada kita. Ya, lingkungan pergaulan kadangkala ikut menentukan perilaku seseorang, jika tidak bisa menjaga diri.  Sebab itu, kita dinasehati agar dapat menjaga dan mengendalikan diri. Jangan mau bersikap lebih. Sikap berlebih-lebihan, baik dalam makan, minum, maupun kemalasan, ujungnya adalah kehancuran. “Kantuk” atau rasa malas membuat kita kehilangan kesempatan dan masa depan. Firman Tuhan ini mengingatkan kita agar hidup dengan teratur dan disiplin. bukan karena mau membatasi kesenangan kita, tapi karena ingin melindungi kita dari kemiskinan dan penyesalan.  Mari kita renungkan, apakah teman-teman sepergaulan membawa kita semakin dekat dengan Tuhan atau justru sebaliknya? Dan bagian mana dalam hidup kita yang masih sulit untuk dikendalikan: apakah makan, belanja, emosi, atau waktu tidur?

Doa: Tuhan, tolong aku supaya bisa menjaga diri dan memilih lingkungan yang membangun imanku. Amin.

Jumat, 1 Mei 2026

bahan bacaan : Imamat 11 : 1 – 12 (TB2)

Binatang yang najis dan yang tahir
TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, 2 "Katakanlah kepada orang Israel: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang yang ada di bumi: 3 setiap binatang berkuku belah, yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. 4 Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang hanya memamah biak atau berkuku belah: unta, karena memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, najis bagimu. 5 pelanduk, memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; najis bagimu. 6 kelinci, memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, najis bagimu. 7 babi juga najis bagimu, karena babi memang berkuku belah, kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. 8 Daging binatang-binatang itu jangan kamu makan dan sentuh bangkainya. Semua itu najis bagimu. 9 Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup dalam air: segala yang bersirip dan bersisik dalam air, laut, dan sungai. Semuanya itu boleh kamu makan. 10 Tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik di laut dan di sungai, baik segala yang berkeriapan dalam air maupun segala makhluk hidup yang ada dalam air, semuanya itu kejijikan bagimu. 11 Sesungguhnya semuanya itu kejijikan bagimu. Dagingnya jangan kamu makan, dan kamu harus merasa jijik terhadap bangkainya. 12 Segala yang tidak bersirip dan tidak bersisik dalam air, adalah kejijikan bagimu.

Makanan Sehat dan Bersih

Ada urusan apa Gereja dengan perilaku hidup bersih dan sehat, sebagaimana arahan tema minggu ini? Sesungguhnya menggerakan dan memberdayakan warga jemaat untuk hidup bersih dan sehat adalah juga tanggungjawab gereja, sebagai bagian dari upaya meneladani solidaritas Allah dalam persoalan kesehatan umat manusia. Salah satunya adalah sebagaimana tertera dalam kitab Imamat ini. Allah memberikan hukum-hukum-Nya atau aturan-Nya untuk melindungi umat-Nya dan bahwa ukuran-ukuran kesehatan tersebut tersedia bagi mereka yang menaati hukum-Nya. Dalam konteks Israel, makanan yang bersih melindungi mereka dari penyakit dan menjaga kualitas hidup di tengah kondisi alam saat itu. ini pesan bagi kita, jika kita memberi perhatian pada rancangan Allah dengan menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh, menghindari makanan yang merusak dan tidak makan secara berlebihan, itu merupakan wujud syukur kepada Tuhan dan ketaatan terhadapNya. Tubuh adalah anugerah Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat, kita memelihara kemampuan untuk melayani Tuhan dan sesama secara lebih maksimal.

Doa: Tuhan, tolong kami selalu hidup bersih dan sehat setiap hari. Amin. 

Sabtu, 2 Mei 2026

bahan bacaan : Amsal 8 : 32 – 36 (TB2)

32 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku. 33 Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya. 34 Berbahagialah orang yang mendengarkan daku, yang setiap hari menunggu di pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku. 35 Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan kepadanya. 36 Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut."

Pendidikan Iman Dan Moral: Jalan Kehidupan bagi Anak

Pendidikan iman dan moral yang berakar pada takut akan Tuhan menuntun anak-anak pada hidup yang utuh, bermakna, dan bertanggung jawab. Mereka akan belajar membedakan yang baik dan yang jahat serta mengambil keputusan dengan bijaksana. Ayat 35 menegaskan bahwa siapa yang memperoleh hikmat, ia memperoleh hidup dan perkenaan Tuhan. Sebaliknya, mengabaikan didikan dapat merusak masa depan dan membahayakan jiwa. Salah satu didikan yang perlu ditanamkan kepada anak adalah bagaimana mereka mengupayakan hidup yang bertanggungjawab atas tubuhnya sebagai anugerah Tuhan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.  Selain menjaga tubuh tetap bugar, kebiasaan ini membantu anak disiplin dan lebih menghargai diri sendiri.  Karena itu, menanamkan nilai firman Tuhan sejak anak-anak berarti menuntun mereka kepada sumber kehidupan, yaitu Kristus, Sang Hikmat Allah. Inilah fondasi yang memberi “kompas” bagi anak dalam melangkah ke masa depan. Jika pola hidup bersih dan sehat menjaga kesehatan fisik, maka pendidikan iman dan moral menjaga kesehatan batin dan karakter mereka.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk mendidik anak-anak kami dengan baik. Amin.   

*SUMBER : SHK BULAN APRIL-MEI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Mengokohkan Gereja Rumah Tangga Untuk Kesejahteraan Bersama

Minggu, 19 April 2026

bahan bacaan : Nehemia 5 : 1 – 13 (TB2)

Keluhan rakyat dan tanggapan Nehemia
Terdengarlah keluhan keras dari rakyat dan para isteri terhadap sesama orang Yahudi. 2 Ada yang berkata: "Kami serta anak laki-laki dan anak perempuan kami banyak; kami harus mendapat gandum, supaya kami bisa makan dan hidup." 3 Ada pula yang berkata: "Ladang, kebun anggur dan rumah kami gadaikan untuk mendapat gandum pada masa kelaparan." 4 Juga ada yang mengatakan: "Kami harus meminjam uang untuk membayar pajak yang dikenakan raja atas ladang dan kebun anggur kami. 5 Sekarang, walaupun kami ini sedarah sedaging dengan saudara-saudara sebangsa kami dan anak-anak kami sederajat dengan anak-anak mereka, namun kami terpaksa membiarkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami menjadi budak. Bahkan beberapa anak perempuan kami harus kami biarkan dimiliki orang. Kami tidak dapat berbuat apa-apa, karena ladang dan kebun anggur kami sudah di tangan orang lain." 6 Mendengar keluhan mereka dan berita-berita itu aku menjadi sangat marah. 7 Setelah mempertimbangkannya baik-baik, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku kepada mereka: "Kamu masing-masing telah makan riba dari saudara-saudaramu!" Lalu kuadakan sidang jemaah yang besar terhadap mereka. 8 Kataku kepada mereka: "Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang Yahudi yang dijual kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi, kamu justru menjual saudara-saudaramu, supaya mereka dijual lagi kepada kami!" Mereka berdiam diri karena tidak dapat membantah. 9 Aku berkata lagi : "Tidak patut apa yang kamu lakukan itu! Bukankah kamu harus hidup dalam takut akan Allah kita supaya terhindar dari cercaan bangsa-bangsa lain, musuh-musuh kita? 10 Juga aku, saudara-saudaraku dan anak buahku telah meminjamkan uang dan gandum kepada mereka. Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu! 11 Kembalikan hari ini juga kepada mereka ladang, kebun anggur, kebun zaitun dan rumah mereka. Juga hapuslah utang mereka, yakni uang serta gandum, anggur dan minyak yang kamu pinjamkan kepada mereka!" 12 Jawab mereka: "Kami akan mengembalikan! dan tidak akan menuntut apa-apa dari mereka. Kami akan lakukan seperti yang engkau perintahkan!" Lalu aku memanggil para imam dan menyuruh orang-orang itu bersumpah, untuk menepati janji mereka. 13 Aku juga mengebaskan lipatan bajuku sambil berkata: "Begitulah setiap orang yang tidak menepati janji ini akan dikebas Allah dari rumahnya dan hasil jerih payahnya. Demikianlah ia dikebas dan menjadi melarat!". Seluruh jemaah berkata: "Amin," lalu memuji-muji TUHAN. Rakyat pun menepati janjinya itu.

Kokohkan Keluarga, Sejahterakan Sesama

Krisis dalam kisah di Nehemia 5 ini bermula dari rumah tangga yang terhimpit hutang dan kelaparan, yang kemudian memicu konflik sosial lebih luas. Nehemia menyadari bahwa pembangunan fisik menjadi sia-sia jika keluarga-keluarga Yahudi hancur secara internal. Ketidakadilan terjadi ketika yang kuat mengeksploitasi yang lemah demi keuntungan pribadi. Nehemia hadir bukan hanya sebagai gubernur, tetapi sebagai bapak yang memulihkan tatanan keluarga. Ia menyerukan penghentian riba dan pengembalian tanah agar setiap keluarga memiliki martabat dan sumber penghidupan kembali. Nehemia mengajarkan bahwa kesejahteraan bersama dimulai ketika kita berhenti mementingkan diri sendiri dan mulai peduli pada keberlangsungan hidup saudara kita. Mengokohkan keluarga berarti membangun manajemen ekonomi keluarga yang sehat dan berkeadilan. Keluarga harus menjadi tempat pertama di mana nilai-nilai kejujuran, saling menopang dan pola hidup ugahari dipraktikkan. Jangan biarkan gaya hidup konsumtif atau keserakahan merusak relasi persaudaraan. Saat keluarga kita diberkati, tujuannya bukan untuk menimbun kekayaan, melainkan menjadi saluran berkat bagi keluarga lain yang kekurangan. Gereja yang kuat adalah gereja yang terdiri dari keluarga-keluarga yang saling peduli, memastikan bahwa semua anak dan sesama mendapatkan hak hidup yang layak.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami menjadi saluran berkat bagi banyak orang, Amin

Senin, 20 April 2026

bahan bacaan : Amsal 10 : 4 – 5 (TB2)

4 Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. 5 Siapa mengumpulkan di musim panas, ia anak yang berakal budi; siapa tidur di waktu panen, ia anak yang membuat malu.

Kerja Keras Berbuah Sejahtera

Setiap orang tua pasti ingin melihat anak-anaknya makan dengan cukup, sekolah dengan baik, dan tinggal di rumah yang nyaman. Namun, impian itu tidak akan pernah terwujud tanpa kerja keras. Kesejahteraan keluarga dimulai dari kemauan untuk bergerak dan berusaha. Amsal 10:4-5 menekankan bahwa jika ingin hidup  sejahtera maka harus rajin. Tangan yang malas hanya akan membawa kekurangan. Namun ada waktu untuk bekerja keras mencari nafkah, dan ada waktu untuk “mengumpulkan” kebersamaan dengan keluarga. Orang yang bijak bukan cuma rajin cari uang, tapi rajin menjaga keutuhan rumah tangganya. Oleh sebab itu, sebagai umat kita mesti  ingat bahwa kerja keras adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata kepada keluarga. Saat kita rajin bekerja, dampaknya bukan hanya soal uang di dompet, tapi soal ketenangan di dalam rumah dimana Kebutuhan keluarga terpenuhi dan orangtua menjadi teladan. Anak-anak yang melihat orang tuanya rajin akan belajar bahwa hidup harus diperjuangkan, bukan dikeluhkan. Mari kita buang rasa malas, karena kemalasan adalah pencuri kebahagiaan keluarga. Ingatlah, setiap lelah yang kita rasakan saat bekerja keras akan dibayar Tuhan dengan kesejahteraan yang dinikmati bersama seluruh isi rumah.

Doa: Tuhan, berkatilah kerja keras dan keutuhan keluarga kami, amin  

Selasa, 21 April 2026

bahan bacaan : Amsal 24 : 30 – 34 (TB2)

30 Aku melewati ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. 31 Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan semak duri, dan temboknya sudah roboh. 32 Aku memandangnya dan memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. 33 "Sebentar-sebentar tidur, sebentar-sebentar mengantuk, sebentar-sebentar melipat untuk tetap berbaring," 34 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Lawan Kemalasan Dengan Kerja Keras

Pernahkah bapak, ibu, saudara sekalian melihat kebun yang tidak terurus?. Rumput liarnya tinggi, pagarnya miring, dan hasilnya pun tidak ada. Itulah gambaran kemiskinan yang seringkali bukan datang karena kurangnya kesempatan, melainkan karena hilangnya tanggung jawab dan etos kerja dalam keluarga. Amsal 24:30-34 menggambarkan seseorang yang kehilangan kesejateraan karena sikap menunda: “Tidur sedikit lagi, mengantuk sedikit lagi. Hingga kemiskinan menyerbunya.” Tanggung jawab dan kerja keras sesungguhnya adalah pagar pelindung agar kemiskinan tidak datang. Keluarga yang bertanggung jawab tidak akan membiarkan waktu terbuang sia-sia. Ayah, ibu, dan anak-anak harus memiliki semangat yang sama untuk menuntaskan setiap tugas dengan jujur, meskipun tanpa pengawasan. Jika setiap anggota keluarga sadar akan perannya dan menolak mentalitas malas, maka kemiskinan tidak akan punya celah untuk tumbuh. Kerja keras yang dilakukan bersama-sama akan menciptakan ketahanan ekonomi dan martabat keluarga yang mulia di hadapan Tuhan dan manusia. Karenanya, jangan biarkan kemalasan meruntuhkan rumah tangga kita. Bekerjalah dengan setia dan rajin agar kesejateraan melimpah dalam rumah tangga kita.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk bekerja keras demi kesejahteraan keluarga dan kemuliaan NamaMu, amin 

Rabu, 22 April 2026

bahan bacaan : Amsal 14 : 23  (TB2)

23 Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan.

Kerja Nyata keluarga, Berkat Nyata bagi sesama

Dua saudara melihat nenek tetangga kesulitan membawa air. Yang satu berkata, “Kasihan ya,” lalu pergi. Yang lain diam-diam mengangkat air untuk nenek itu setiap sore. Siapa yang sungguh hidup dalam firman Tuhan? Yang bekerja. Amsal ini sederhana tapi tajam: “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan.” Firman Tuhan menegur kebiasaan yang sering terjadi dalam keluarga banyak rencana, banyak bicara, tapi sedikit tindakan. Tema kita menekankan gereja rumah tangga yang kokoh dan bermisi. Itu berarti rumah bukan hanya tempat berdiskusi tentang kasih, tetapi tempat kasih itu dikerjakan. Kesejahteraan bersama dalam keluarga tidak lahir dari kata-kata belaka, melainkan dari kerja nyata: orang tua setia bekerja, anak-anak belajar tanggung jawab, keluarga mau melayani sesama. Pelayanan sosial pun dimulai dari rumah, dengan melatih hati peka, tangan siap menolong, dan kaki mau melangkah. Keluarga yang berjerih lelah bersama akan bertumbuh kuat, diberkati, dan menjadi saluran berkat.

Doa :  Tuhan, mampukan keluarga kami setia bekerja, saling menolong, dan menjadi berkat. Amin. 

Kamis, 23 April 2026

bahan bacaan : Amsal 14 : 31 (TB2)

31 Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa berbelas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Memuliakan Pencipta Melalui Kasih kepada Sesama

Pernahkah kita berpikir bahwa sikap kita kepada orang kecil sebenarnya adalah cerminan sikap kita kepada Tuhan? Seringkali kita rajin beribadah, namun lupa bahwa “ibadah” yang sesungguhnya juga terjadi di luar gedung gereja, saat kita bertemu dengan mereka yang terpinggirkan. Amsal 14:31 menegaskan: “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia, sehebat atau seahli apa pun mereka, diciptakan oleh Tangan yang sama. Saat kita meremehkan orang lemah, kita sedang “menampar” wajah Allah yang membentuk mereka. Sebaliknya, melayani orang miskin dengan kasih bukan sekadar aksi sosial, melainkan bentuk penyembahan yang nyata kepada Tuhan, bentuk kita memuliakan Allah. Di tengah dunia yang cenderung menghargai orang karena jabatan atau kekayaannya, mari kita tampil beda. Jangan biarkan ada penindasan dalam bentuk apa pun,  baik verbal ataupun  non verbal di lingkungan keluarga kita maupun ketika bersama orang lain. Jadikanlah setiap uluran tangan kita sebagai cara untuk memuliakan Tuhan. Ingatlah, saat kita memanusiakan manusia, di situlah kita sedang memuliakan Allah.

Doa: Tuhan ingatkan kami untuk memuliakan namaMu melalui tindakan baik kepada sesama, amin 

Jumat, 24 April 2026

Bahan Bacaan : 2 Tesalonika 3 : 6 -12 (TB2)

6 Namun kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. 7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak malas bekerja di antara kamu, 8 dan tidak makan roti orang dengan cuma-cuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. 9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. 10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang diantara kamu yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 12 Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.

Iman yang Bekerja di Rumah

Seperti pelita yang harus diisi minyak agar tetap menyala, iman keluarga perlu “diisi” melalui kerja, tanggung jawab, dan pelayanan nyata. Rasul Paulus menegur jemaat yang terbiasa banyak bicara, tetapi enggan bekerja. Ia menegaskan bahwa hidup beriman bukan soal kata-kata rohani saja, melainkan kesediaan berjerih lelah dengan tertib. Prinsip ini sangat kuat untuk gereja rumah tangga. Keluarga Kristen dipanggil bukan hanya berdiskusi tentang kasih, pelayanan, dan kepedulian sosial, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata. Orang tua bekerja dengan jujur dan penuh rasa tanggung jawab, anak belajar dengan tekun, dan setiap anggota rumah hidup saling membantu. Dari rumah yang rajin, lahir kesejahteraan bersama bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga damai, saling menghargai, dan rasa peduli. Saat keluarga setia dalam hal-hal yang kecil, mereka sedang bermisi: menjadi kesaksian melalui pelayanan sosial, berbagi kepada yang membutuhkan, dan menunjukkan bahwa iman kepada Kristus menghasilkan kerja nyata. Gereja rumah tangga yang kokoh adalah keluarga yang tidak malas, tetapi giat, tertib, dan setia melakukan kehendak Tuhan setiap hari.

Doa Tuhan, kuatkan keluarga kami untuk setia bekerja dan saling melayani. Amin

Sabtu, 25 April 2026

bahan bacaan : Amsal 21 : 25 – 26 (TB2)

25 Pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja. 26 Keinginannya bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas.

Keinginan Tanpa Tindakan

Di era modern ini, kita sering terjebak dalam budaya ingin cepat kaya atau mencari kenyamanan tanpa perjuangan. Dalam bacaan hari ini Amsal berkata bahwa orang malas dibunuh oleh keinginannya sendiri. Mengapa? Karena si pemalas memiliki segudang keinginan, tetapi tangannya enggan bekerja. Keinginan itu tidak salah, tetapi tanpa tindakan, keinginan hanya menjadi mimpi kosong. Semakin besar impian seseorang tanpa dibarengi kerja keras, semakin besar rasa frustrasi, irihati dan kepahitan yang muncul dalam dirinya. Berbeda dengan orang benar yang bekerja keras bukan hanya untuk menimbun tetapi mau memberi, karena hidupnya diisi kerja yang setia dan hati yang peduli. Dalam gereja rumah tangga, kita sering rindu keluarga sejahtera, anak-anak diberkati, dan hidup cukup. Kuncinya hanya satu: jangan malas. Kemalasan bukan hanya soal tidur seharian, tidak mau kerja, tapi juga soal menunda-nunda tanggungjawab yang seharusnya diselesaikan sekarang. Hidup yang berkelimpahan tidak ditemukan dalam tumpukan keinginan yang tidak terlaksana, melainkan dalam ketekunan tangan yang bekerja dan ketulusan hati yang memberi.

Doa Tuhan, ajari kami untuk tidak hanya punya banyak keinginan, tapi bekerja keras untuk mewujudkannya. Amin.  

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga Menjadi Basis Misi

Minggu, 12 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 1 – 8 (TB2)

Paulus di Korintus
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. 2 Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus dan baru datang dari Italia, dan dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah di rumah mereka. 3 Karena memiliki pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. 4 Setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. 5 Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman, dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah Mesias. 6 Ketika orang-orang itu melawan dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: "Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain." 7 Ia keluar dari situ, lalu pergi ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang takur akan Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. 8 Namun Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan dibaptis.

Rumah Tangga Tempat Persemaian Injil  

Ketika Paulus tiba di Korintus, ia bertemu dengan Akwila dan Priskila. Menariknya, titik temu mereka bukan hanya karena panggilan pelayanan, tetapi juga sama-sama  kerja: Mereka semua tukang kemah. Rumah tangga Akwila dan Priskila menjadi ruang kerja sekaligus ruang kesaksian. Ketika paulus setia mengajar di rumah ibadat, ia menghadapi penolakan keras dan hujatan, namun ia tidak berhenti. Paulus kemudian menumpang di rumah Titius Yustus, seorang yang takut akan Allah, yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Hasilnya luar biasa: Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya, ia beserta dengan seluruh seisi rumahnya. Dalam budaya Alkitab, ketika kepala keluarga percaya, seluruh ekosistem rumah tangga (keluarga, hamba, sahabat) ikut terpapar kebenaran. Rumah Yustus menjadi basis misi Kerajaan Allah yang strategis. Hal ini mau menegaskan bahwa Gereja rumah tangga adalah basis atau tempat di mana nilai-nilai iman, karakter dan moral diajarkan dan dipraketkkan dalam keseharian hidup. Mari jadikan rumah tangga, keluarga kita tempat dimana Injil Kristus dihidupi  dan disaksikan agar orang lain pun dapat menikmati anugerah keselamatan dari Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami ladang Injil dan berbias keluar bagi kemuliaan namaMu. Amin.

Senin, 13 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 18 – 23 (TB2)

Paulus kembali ke Antiokhia
18 Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. 19 Sampailah mereka di Efesus, dan Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi. 20 Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya. 21 Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus. 22 Ia sampai di Kaisarea dan setelah pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada jemaat, ia berangkat ke Antiokhia. 23 Setelah tinggal beberapa hari lama di situ, ia berangkat lagi, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk menguatkan hati semua murid.

Rumah Tangga Sebagai Alat Menopang Misi Tuhan

Aquila dan Priskila adalah pasangan suami istri sekaligus rekan kerja dan sahabat yang  setia menemani Rasul Paulus dalam melakukan tugas memberitakan injil. Mereka sungguh-sungguh telah memberikan kehidupan pribadi dan keluarganya, pekerjaannya menjadi ruang persekutuan dan tugas- tugas pengutusan. ​Ketika Paulus tiba di Efesus dan memulai diskusi di rumah ibadat, jemaat di sana memintanya untuk tinggal lebih lama, namun Paulus menolak. Ia berkata, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.” Paulus tidak didorong oleh “perasaan tidak enak” kepada orang lain, melainkan oleh kehendak Tuhan. Ia tahu kapan harus tinggal dan kapan harus pergi. Ia meninggalkan Akwila dan Priskila di sana. Ini adalah strategi misi yang baik. Paulus tidak menjadi “pusat” dari segala sesuatu. Ia melatih orang lain agar pekerjaan Tuhan tetap berjalan meski dia tidak ada.Adalah sukacita besar saat rumah tangga kita tidak sekedar dijadikan sebagai tempat kumpul keluarga namun sukacita itu akan menjadi sempurna saat rumah tangga kita dijadikan sebagai ruang persekutuan dan pengutusan misi Kristus. Tempat di mana kita mengkaderkan anak-anak kita untuk melanjutkan misi pelayanan ke depan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami  alat untuk menopang misi Tuhan, Amin.

Selasa, 14 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 15 – 16 (TB2)

Pertemuan Paulus dengan Yakobus di Yerusalem
15 Sesudah tinggal beberapa hari di Kaisarea, berkemaslah kami, lalu berangkat ke Yerusalem. 16 Bersama kami turut juga beberapa murid dari Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason. Ia dari Siprus dan sudah lama menjadi murid. Kami akan menumpang di rumahnya.

Topanglah Pelayanan Dengan Keramahtamahan

Pekerjaan apapun  dapat berjalan dengan baik bukan semata-mata karena sang pekerja itu memiliki keahlian yang mumpuni. Harus diakui bahwa dibalik  setiap kesuksesan yang diraih, ada orang lain  yang ikut menopang, termasuk dalam tugas-tugas pelayanan. Ayat 16 nas bacaan hari ini menyebutkan bahwa beberapa murid dari Kaisarea ikut pergi bersama Paulus ke Yerusalem. Mereka tidak membiarkan Paulus pergi sendirian menghadapi ketidakpastian. Ini memberi pesan, dalam masa-masa sulit ketika bekerja atau melayani, kehadiran sahabat atau sesama orang percaya sangatlah menguatkan kita. Di Yerusalem, kehadiran Manason seorang murid lama dari Siprus turut menguatkan Paulus dan rombongannya. Manason menunjukkan kesediaan untuk membuka pintu rumahnya bagi para pelayan Tuhan meskipun situasi saat itu kurang baik bagi pengikut Kristus. Sungguh membuat hati bersukacita, saat rumah tangga kita dapat menjadi sarana untuk menopang pekerjaan pelayanan dan membantu tugas-tugas para pelayan. Keluarga yang ramah dan mau terbuka bagi orang lain, menjadi tempat berteduh bagi yang sedang dalam perjalanan atau suatu tugas tertentu adalah tindakan iman yang  mulia. Semoga keluarga kita semua dapat berlaku demikian.

Doa: Tuhan, kiranya rumah tangga kami terbuka, penuh keramahan bagi orang lain, Amin. 

Rabu, 15 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 13 – 16 (TB2)

13 Lagi pula, dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga suka bergunjing dan mencampuri urusan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, melahirkan anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Sebab beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Peduli dan Saling Membantu

Dalam nas 1 Timotius 5:13-16, Rasul Paulus menekankan pentingnya perempuan, khususnya yang lebih muda, untuk menjalani hidup yang produktif dan disiplin agar tidak terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti bermalas-malasan atau menjadi pengumpat. Semangat ini bertujuan agar setiap perempuan mampu mengelola rumah tangga dengan baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan bekerja keras dan memiliki karakter yang takut akan Tuhan, perempuan dipanggil untuk saling membantu dalam meringankan beban hidup satu sama lain, sehingga energi yang dimiliki tidak habis untuk hal-hal yang sia-sia, melainkan untuk membangun komunitas iman yang solid. Paulus menegaskan tanggung jawab keluarga untuk menyokong anggota mereka yang berkekurangan agar tidak menjadi beban bagi jemaat secara keseluruhan. Hal ini mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi dan solidaritas dalam keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata. Ketika setiap perempuan yang mampu turut mengambil bagian dalam meringankan kesulitan keluarga/saudaranya, jemaat memiliki sumber daya yang cukup untuk memfokuskan bantuan kepada mereka yang benar-benar lemah dan membutuhkan.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk peduli dan saling membantu. Amin.  

Kamis, 16 April 2026

bahan bacaan : Kisah  Para Rasul 20 : 7 – 12 (TB2)

7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. 8 Di ruang atas, tempat kami berkumpul, ada banyak lampu. 9 Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. 10 Paulus turun ke bawah, lalu merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan khawatir, ia masih hidup." 11 Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. 12 Sementara itu mereka membawa pemuda itu dalam keadaan hidup, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Rumah Tangga Menjadi Ruang Pemulihan

Dalam Kisah Para Rasul 20:7-12, persekutuan di Troas berlangsung di sebuah rumah. Ini menunjukkan bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang suci untuk bersekutu dan mencari solusi atas persoalan hidup melalui Firman Tuhan. Eutikhus yang terjatuh dan mati di tengah ibadah mencerminkan kerentanan manusia yang sering kali merasa lelah atau “terlelap”  saat menghadapi beban masalah. Namun, respon jemaat dan pelayanan Paulus menegaskan bahwa dalam persekutuan yang didasari kasih, maut dan kegelisahan dapat diatasi oleh kuasa Allah. Melalui doa dan kebersamaan di dalam rumah, situasi yang tampak mustahil dapat dipulihkan, memberikan kelegaan nyata bagi setiap anggota keluarga yang sedang berbeban berat.  Eutikhus yang hidup kembali menjadi kesaksian bagi banyak orang, membuktikan bahwa mukjizat Allah bekerja secara hebat di dalam rumah-rumah yang terbuka bagi hadirat-Nya. Kesaksian ini bukan hanya tentang pemulihan fisik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas iman yang dibangun dalam rumah tangga mampu menjadi ruang pemulihan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika sebuah masalah diselesaikan di dalam persekutuan doa di rumah, hal itu menjadi bukti nyata bagi orang luar bahwa Tuhan benar-benar hidup dan peduli pada pergumulan umat-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, biarlah dengan tuntunan kuasa Roh KudusMu keluarga kami hadir sebagai penopang pelayanan di jemaat. Amin.

Jumat, 17 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 8 (TB2)

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Namun jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Namun seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Namun, jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Memperhatikan Sanak Saudara

Dalam 1 Timotius 5:3-8, Rasul Paulus memberikan penekanan bahwa kasih yang sejati harus dibuktikan melalui tindakan nyata di dalam keluarga sendiri. Memelihara seisi rumah dan sanak saudara, terutama mereka yang sudah lanjut usia atau menjanda, bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah yang menghormati Allah. Dengan saling menanggung beban hidup di lingkaran keluarga, kita belajar untuk membalas budi orang tua dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang terabaikan. Prinsip tanggung jawab domestik ini menjadi pondasi bagi karakter seorang beriman. Paulus memberikan peringatan keras bahwa mengabaikan kebutuhan sanak saudara sendiri setara dengan menyangkal iman dan lebih buruk daripada orang yang tidak percaya. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari aktivitas gereja semata, melainkan dari sejauh mana kita bersedia berbagi beban dan menyediakan kebutuhan bagi keluarga terdekat. Solidaritas keluarga ini bertujuan agar jemaat secara luas tidak terbebani secara finansial, sehingga sumber daya gereja dapat dialokasikan bagi mereka yang benar-benar sebatang kara dan tanpa dukungan sama sekali. Oleh karena itu, berbagi berkat dengan sanak saudara adalah kesaksian hidup yang menyatakan bahwa kasih Kristus nyata ditengah pergumulan ekonomi keluarga.

Doa: Tuhan, kiranya kami dapat terus saling menopang sebagai sanak saudara,  amin  

Sabtu, 18 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 7 – 9 (TB2)

7 Dari Tirus kami tiba di Ptolemais dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari di antara mereka. 8 Keesokan harinya kami berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, salah satu dari ketujuh pelayan, dan kami tinggal di rumahnya. 9 Filipus mempunyai empat anak gadis yang memiliki karunia bernubuat.

Keluarga yang Saling Mendukung

Dalam Kisah Para Rasul 21:7-9, kita melihat teladan baik dari keluarga Filipus sang pemberita Injil di Kaisarea. Filipus tidak hanya melayani sendirian, tetapi ia membangun suasana rohani di rumahnya sedemikian rupa sehingga keempat anak perempuannya pun memiliki karunia bernubuat. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang sehat adalah keluarga yang saling mendukung dalam pertumbuhan karunia masing-masing, sehingga rumah tangga berubah menjadi pusat misi yang efektif. Ketika setiap anggota keluarga bersedia dipakai oleh Tuhan, pelayanan tidak lagi menjadi beban individu, melainkan sinergi kasih yang memperkuat kesaksian jemaat. Lebih dari sekadar memendam karunia untuk kepentingan pribadi, keluarga Filipus membuka pintu rumah mereka untuk menyambut Paulus dan kawan-kawannya, ini menunjukkan bahwa keramahtamahan adalah bagian integral dari misi. Kehadiran empat anak perempuan yang bernubuat menunjukkan bahwa Tuhan tidak membatasi usia atau gender dalam memberikan karunia-Nya demi pembangunan tubuh Kristus. Keluarga ini menjadi bukti nyata bahwa rumah tangga yang berfokus pada pelayanan akan menjadi tempat di mana visi Tuhan dinyatakan dan dikerjakan bersama-sama. Melalui keterbukaan hati dan kerelaan memberi diri, keluarga kita pun dapat menjadi alat misi yang kuat bagi lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami saling mendukung dan ramah kepada yang lain. Amin.   

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Kebangkitan Kristus Memberdayakan Gereja Rumah Tangga, Semakin Beriman dan Sejahtera

Minggu, 5 April 2026

bahan bacaan :

Keluaran 12 : 24 – 28; (TB2)

24 Kamu harus melaksanakan hal itu sebagai ketetapan sampai selama-lamanya, bagimu dan bagi anak-anakmu. 25 Apabila kamu tiba di negeri yang akan TUHAN berikan kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, kamu harus melaksanakan ibadah ini. 26 Apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah arti ibadah ini bagimu? 27 maka kamu harus berkata: Itulah kurban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Lalu berlututlah umat itu dan sujud menyembah. 28 Orang Israel pergi dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun. Demikian mereka lakukan.

1 Korintus 15 : 1 – 11  (TB2)

Kebangkitan Kristus
Sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 2 Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. 3 Sebab, yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 8 Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 9 Sebab akulah yang paling hina dari semua rasul, bahakan tidak layak disebut rasul, karena aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10 Namun karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukan aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku. 11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Kebangkitan Kristus Membuat Hidup Berdaya dan Sejahtera

Siapakah yang tidak kenal dengan Rasul Paulus?. Setiap orang pasti memiliki pandangan sendiri tentangnya. Mungkin ada yang berangggapan bahwa ia adalah seorang penganiaya jemaat yang telah diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Mungkin juga ada yang berpandangan bahwa ia adalah seorang rasul besar malah lebih dari Simon Petrus murid Tuhan Yesus. Apapun pandangan kita, teks hari ini berbicara tentang sosok seorang Paulus sebagai seorang yang dikasihani Allah melalui anugerah-Nya. Pernyataan ini bukan tanpa alasan sebab hal inilah yang ditekankan oleh Paulus dalam suratnya ini. Di dalam teks Paulus menuturkan tokoh-tokoh yang kepadanya Tuhan Yesus saat bangkit menampakan diri. Mereka adalah Kefas (Simon Petrus), 12 murid, lebih dari 500 saudara seiman, Yakobus, semua rasul dan Paulus menyebutkan dirinya yang paling hina yang juga mendapatkan kemurahan penampakan diri Tuhan Yesus itu. Kesaksian Paulus harus juga menjadi bagian dari kesaksian kita dalam menghadapi kehidupan. Kita mungkin bukan siapa-siapa dalam kehidupan ini. Kita hanya orang biasa tapi yang harus kita yakini sungguh bahwa kebangkitan Kristus memberdayakan kita sebagai gereja rumah tangga untuk semakin beriman dan sejahtera. Karena itu mari hadapi hidup dengan pengharapan. 

Doa:  Ya Tuhan kuatkan iman percaya kami. Amin.

Senin, 6 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 12 -19 (TB2)

Kebangkitan kita
12 Jadi, bilamana diberitakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? 13 Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. 14 Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. 15 Lebih dari pada itu, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andai kata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. 16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, Kristus juga tidak dibangkitkan. 17 Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. 19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Kristus Bangkit, Iman Kita Berarti

Bayangkan jika Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit. Paulus berkata dengan tegas: jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga iman kita. Semua doa, ibadah, dan pengharapan kita hanya akan menjadi rutinitas kosong tanpa makna kekal. Tanpa kebangkitan, iman Kristen hanyalah cerita moral tanpa kuasa yang menyelamatkan. Namun syukur bagi Allah, Kristus sungguh bangkit! Kebangkitan-Nya menjadi dasar iman kita yang paling kokoh. Ia hidup, dan karena itu iman kita bukan ilusi, melainkan kebenaran yang memberi hidup. Mari kita jalani hari ini dengan keyakinan dan semangat, sebab iman kita berdiri di atas kemenangan Kristus atas maut.

Namun persoalannya bukan hanya apakah Kristus bangkit, melainkan apakah kebangkitan itu sungguh mengubah hidup kita. Sebab ada orang yang mengaku percaya, tetapi hidupnya tetap dikuasai ketakutan, keputusasaan, dan kekosongan. Kebangkitan bukan sekadar doktrin yang diakui, tetapi realitas yang harus dialami. Jika Kristus benar-benar hidup, maka hidup kita tidak boleh lagi dijalani dengan cara yang lama.

Doa:  Kami sungguh meyakini kebangkitan-Mu ya Tuhan, ,Amin.

Selasa, 7 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 23 – 31 (TB2)

23 Namun tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. 24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. 25 Sebab Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. 26 Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. 27 Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", teranglah bahwa Ia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. 28 Namun kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. 29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? 30 Kami juga--mengapa kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.

Maut Kalah, Keluarga Kita Berdaya

Kematian adalah musuh terbesar manusia, sumber ketakutan dan keputusasaan. Namun melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan maut secara tuntas. Artinya, kuasa kematian tidak lagi memegang kata terakhir atas hidup kita. Di dalam Kristus, ketakutan digantikan oleh pengharapan, dan keputusasaan digantikan oleh keberanian. Karena maut telah dikalahkan, keluarga Kristen dipanggil untuk hidup berdaya dan tangguh. Tantangan boleh datang, tetapi kita tidak menyerah pada rasa takut. Kita merawat kesehatan jiwa dan raga, saling menguatkan, dan menjalani hidup dengan penuh syukur sebagai keluarga yang percaya kepada Tuhan yang hidup.Namun seringkali kita masih hidup seolah-olah maut masih berkuasa. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut masa depan. Kita mengaku percaya kepada Kristus yang bangkit, tetapi hati kita tetap dikuasai kecemasan dan ketakutan. Kebangkitan Kristus menantang kita untuk hidup dengan cara yang berbeda: bukan lagi sebagai orang yang dikendalikan oleh ketakutan, tetapi sebagai orang yang dikuatkan oleh pengharapan. Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk memeriksa dasar pengharapan kita. Jika kita percaya pada kebangkitan Kristus, kita tidak perlu takut terhadap maut. Kita memiliki kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan, dan pelayanan serta kasih yang kita lakukan hari ini memiliki nilai kekekalan.

Doa:  Syukur kepadaMu Tuhan yang telah memberikan kepada kami kemenangan oleh Yesus Kristus, amin..

Rabu, 8 April 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 15 : 35 – 49 (TB2)

Kebangkitan tubuh
35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau tidak mati dahulu. 37 Yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi bijinya saja, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Namun Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 yang ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; yang ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alami, yang dibangkitkan adalah tubuh rohani. Jika ada tubuh alami, ada pula tubuh rohani. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohani, tetapi yang alami; kemudian barulah datang yang rohani. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah, manusia kedua berasal dari surga. 48 Mereka yang dari debu sama dengan dia yang dari debu dan orang-orang surgawi sama dengan Dia yang sorgawi. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa yang dari debu, demikian pula kita akan memakai rupa yang surgawi.

Menanti Tubuh Sorgawi yang Baru

Tubuh kita saat ini rapuh: bisa sakit, lelah, dan menua. Namun kebangkitan Yesus memberi kita janji yang melampaui keterbatasan ini. Tuhan menyiapkan bagi kita tubuh sorgawi yang mulia, tubuh yang tidak lagi dikuasai penderitaan, air mata, dan kematian. Karena itu, jangan biarkan kelemahan fisik membuat kita kehilangan harapan. Apa yang kita alami sekarang bersifat sementara. Masa depan kita di dalam Tuhan adalah pemulihan yang sempurna dan kemuliaan yang kekal. Pengharapan ini memberi kekuatan bagi kita untuk tetap setia dan bersukacita hari demi hari. Namun pengharapan akan tubuh yang mulia bukan alasan untuk meremehkan hidup saat ini. Justru sebaliknya, pengharapan itu mengubah cara kita menjalani hidup sekarang. Kita tidak hidup untuk mengejar kesenangan sesaat, tetapi untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan kekal. Tubuh yang rapuh ini adalah tempat kita belajar setia sebelum kita menerima yang mulia. Jangan menyerah pada keadaan tubuh fisik kita yang lemah atau keadaan keluarga yang sulit. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa dari tempat yang gelap (kubur/masalah), Tuhan bisa memunculkan kehidupan yang baru dan penuh kemuliaan.

Doa:  Terima kasih Tuhan Yesus, atas kekuatan bagi kami sekeluarga,  Amin.

Kamis, 9 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 50 – 58 (TB2)

50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mewarisi apa yang tidak binasa. 51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, 52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. 53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. 54 Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, akan digenapi firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. 55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" 56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. 57 Namun syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. 58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Teguh Beriman dan Giat Melayani

Kebangkitan Kristus bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi. Paulus mengingatkan bahwa iman kepada Kristus yang bangkit harus mendorong jemaat di Korintus dan kita  di saat ini untuk berdiri teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Keluarga yang percaya pada kuasa Paskah seharusnya menjadi keluarga yang aktif mengasihi dan melayani. Jangan goyah oleh ajaran sesat atau penderitaan. Fokuskan energi pada hal yang baik atau positif. Yakinlah, setiap jerih payah dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap kebaikan kecil, setiap pelayanan sederhana, setiap kasih yang kita taburkan dan setiap doa yang kita sampaikan. Mari terus melangkah dengan setia, menjadikan keluarga kita alat berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita. Namun seringkali kita mudah lelah, kecewa, bahkan berhenti melayani karena merasa tidak dihargai. Kita mengukur pelayanan dengan hasil yang terlihat. Padahal kebangkitan Kristus mengingatkan kita bahwa yang tidak terlihat pun berharga di mata Tuhan. Kesetiaan tidak diukur dari besar kecilnya hasil, tetapi dari ketekunan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami agar tidak goyah dan lemah dalam melayaniMu, . Amin.

Jumat, 10 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 11 : 17 – 32 (TB2)

17 Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Namun Maria tinggal di rumah. 21 Lalu kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Namun sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Kata Yesus kepadanya: "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia." 28 Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi menemui Dia. 30 Namun waktu itu Yesus belum sampai di kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

Percaya Tuhan, Hidup Penuh Harapan

Pernahkah kita merasa Tuhan terlambat menolong? Maria dan Marta pernah merasakan hal itu. mereka berada dalam kesedihan mendalam saat Lazarus saudara laki-laki merea meninggal. Dalam situasi itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Ia menunjukkan bahwa di tengah keadaan paling gelap sekalipun, kuasa Allah sanggup menghadirkan kehidupan baru. Begitu juga dalam kehidupan keluarga kita. Masalah boleh terasa buntu, harapan boleh tampak mati, tetapi Tuhan tidak pernah kehabisan jalan. Selama kita percaya dan mengandalkan-Nya, selalu ada pengharapan yang hidup dan masa depan yang dipulihkan oleh kasih-Nya.Namun iman seringkali diuji justru ketika Tuhan tampak terlambat. Maria dan Marta percaya, tetapi mereka juga kecewa: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Kalimat itu adalah suara banyak orang percaya. Kita percaya, tetapi kita juga bertanya mengapa Tuhan terlambat menolong. Tapi di sini kita belajar, waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Itu juga bukan berarti Tuhan tidak peduli. Justru di tangan Tuhan, “terlambat” merupakan persiapan untuk mujizat yang lebih besar. Tetaplah percaya pada perkataan Tuhan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup”!.

Doa:  Tuhan, beri kami kekuatan  dan percaya pada waktu-Mu yang tepat dalam bekerja Amin.

Sabtu, 11 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 11 : 33 – 44 (TB2)

33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan begitu juga orang-orang Yahudi yang datang bersama dia, kesallah hati-Nya. Ia terguncang dan berkata: 34 "Di manakah kamu baringkan dia?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Lalu menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!" 37 Namun beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang mencelikkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?" 38 Yesus sekali lagi kesal, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." 40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" 41 Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." 43 Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah keluar!" 44 Orang yang telah mati itu keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Kemuliaan Allah Nyata, Tetaplah Percaya!

Kisah tentang kebangitan Lazarus, bukan sekedar tentang kekuatan kuasa Allah dalam Kristus yang bangkit. Kisah ini adalah kisah tentang kedalaman kasih Allah bagi kita manusia, sebab kita melihat Yesus yang tersentuh hatinya dan bahkan menangis. Itu artinya Tuhan Yesus tidak pernah jauh atau dingin dan tidak peduli dengan penderitaan kita. Apa yang dilakukan-Nya dengan membangkitkan Lazarus memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus juga merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Maria dan Marta, saudara perempuan Lazarus. Ketika Ia berkata, Akulah kebangkitan dan hidup. Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengubah duka menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya ada kehidupan bagi orang percaya. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk percaya pada-Nya, pada semua rencana-Nya dalam kehidupan kita, bahkan saat kita berada di ”depan kubur” persoalan dan pergumulan kita. Jangan biarkan keraguan ada dalam hati sehingga iman dan percaya kita menjadi goyah kepada Tuhan. Kemuliaan Allah nyata, jadi tetaplah percaya!

Doa:  Tuhan, teguhkanlah iman dan percaya kami bahwa Engkaulah kebangkitan dan Hidup Amin.

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 29 Maret – 4 April 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia!

Minggu, 29 Maret 2026

bahan bacaan : Markus 11 : 8 – 11 (TB2)

8 Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. 9 Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, 10 terpujilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" 11 Ia masuk ke Yerusalem, ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Namun, karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia

Ketika Yesus memasuki Yerusalem, banyak orang menyambut-Nya dengan sorak sorai dan daun palma. Mereka memuji dan mengagungkan Dia sebagai Raja. Namun, di kemudian hari, banyak dari mereka yang sama justru menolak dan membiarkan Dia disalibkan. Sambutan yang semula penuh sukacita berubah menjadi penolakan karena mereka tidak memahami arti sebenarnya dari kehadiran Yesus. Yesus datang bukan untuk mencari kemuliaan dunia, melainkan untuk menebus dosa manusia melalui pengorbanan di salib. Dari salib itu, kita melihat kasih yang sempurna kasih yang rela menderita demi keselamatan dunia. Hari ini ada banyak anak Tuhan yang mengaku untuk menyambut Yesus dan mengikuti-Nya. Menyambut Yesus berarti bukan hanya bersorak ketika keadaan baik, tetapi mengikut Dia dengan setia di jalan penderitaan, ketaatan, dan kasih. Mengikut Yesus berarti membiarkan hati kita dibentuk oleh kasih yang rela berkorban, dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.Jangan hanya menyambut Yesus dengan kata dan seruan, tetapi sambutlah Dia dengan hati yang mau taat dan setia mengikuti jalan-Nya, sekalipun itu jalan salib.

Doa Tuhan, teguhkanlah pengakuan iman kami untuk menyambut-Mu dan setia mengikuti-Mu, Amin

Senin, 30 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 23 – 27 (TB2)

Syarat-syarat mengikut Yesus
23 Yesus berkata kepada mereka semua: "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; Tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 26 Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus. 27 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mengalami kematian sebelum mereka melihat Kerajaan Allah."

Ikut Yesus Membutuhkan Pengorbanan

Perkataan Yesus dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus bukan sekadar mengikuti dari jauh, tetapi keputusan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dengan segala konsekuensi yang menyertai. Mengikut Yesus berarti menyangkal diri, melepaskan keinginan pribadi yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ini bukan hal mudah, sebab dunia menawarkan kenyamanan dan kebanggaan diri. Namun, Yesus mengajar bahwa hidup yang sejati justru ditemukan saat kita berani kehilangan diri karena Dia. Syarat berikutnya ialah memikul salib setiap hari. Akhirnya, mengikut Yesus berarti berjalan di jejak Kristus dan hidup dalam kasih, kebenaran, dan pengorbanan. Jalan ini bukan jalan mudah, tetapi inilah jalan menuju kehidupan yang kekal. Yesus memanggil setiap kita bukan hanya untuk menyambut-Nya, tetapi juga mengikut Dia dengan kesetiaan. Mengikut Yesus tidak cukup hanya dengan kata-kata atau perasaan kagum, melainkan dengan ketaatan dan pengorbanan setiap hari sepanjang hidup. Ada harga yang harus dibayar, tetapi di dalamnya ada sukacita sejati, karena kita berjalan bersama Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk rela berkorban, taat dan setia mengikuti-Mu, Amin

Selasa, 31 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 57 – 58 (TB2)

Mengikut Yesus
57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada-Nya, "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 58 Yesus berkata kepadanya: "Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

Ikut Yesus Rela Melepaskan Zona Nyaman

Bayangkan seekor anak burung yang sudah nyaman di sarangnya. Ia diberi makan oleh induknya setiap hari, hangat dan aman. Namun suatu hari, induknya mendorongnya keluar dari sarang. Awalnya ia takut, tapi ketika sayapnya mulai mengepak, ia menemukan bahwa ia bisa terbang! Demikian juga dengan kita Tuhan sering “mendorong” kita keluar dari kenyamanan agar kita belajar percaya dan mengalami kuasa-Nya. Yesus tidak memanggil kita untuk hidup mudah, tetapi untuk hidup bermakna. Ketika seorang datang kepada Yesus dan berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Tetapi Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Perkataan ini bukan sekadar penolakan, tetapi sebuah pengingat bahwa mengikut Yesus berarti siap meninggalkan kenyamanan duniawi. Yesus tidak menjanjikan kemudahan, tetapi memanggil kita untuk hidup dalam kesetiaan dan pengorbanan. Ia ingin pengikut yang tidak hanya ikut ketika keadaan baik, tetapi juga ketika jalan menjadi sempit dan penuh tantangan. Mengikut Yesus berarti siap beranjak dari “zona nyaman” tempat di mana kita merasa aman, mapan, dan tidak terganggu. Namun, di luar zona itu, ada pertumbuhan iman, ketaatan yang lebih dalam, dan pengalaman akan kasih Tuhan yang nyata. Mengikut Yesus bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang komitmen. Di mana pun Dia memimpin, di situlah tempat terbaik untuk kita berada.

Doa Ya Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk melepaskan zona nyaman dan setia mengikuti Engkau. Amin

Rabu, 1 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 59 – 60 (TB2)

59 Ia berkata kepada seorang yang lain: "Ikutlah Aku!" Namun orang itu berkata: "Tuhan, Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." 60 Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; Namun engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah."

Yesus yang Terutama

Hidup selalu memberikan berbagai pilihan namun setiap keputusan sangat tergantung pada cara pandang kita tentang hidup itu sendiri. Di bulan April kita belajar mengenali kehendak Tuhan dengan menjadi gereja rumah tangga yang bermisi melalui pelayanan sosial. Inilah tema pembinaan sepanjang bulan April. Adapun gereja rumah tangga itu  adalah keluarga Kristen yang menampilkan wajah dan karakter Kristus di dalam kehidupannya. Pelayanan sosial menjadi salah satu bentuk misi gereja rumah tangga. Penulis injil Lukas menekankannya saat menceritakan respon Yesus terhadap orang yang meminta ijin untuk menguburkan ayahnya. Baginya ada hal yang utama yakni keluarganya dan keinginan mengikut Yesus hanya sampingan. Menghormati orang yang meninggal dengan penguburan yang pantas merupakan suatu kewajiban dalam tradisi Israel dan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat Kuno. Karena iklim di Palestina cukup panas, orang yang meninggal harus segera dikuburkan paling lambat 24 jam sejak kematiannya. Penguburan diprioritaskan ketimbang mengikut Yesus. Respon yang Yesus berikan mengandung pesan bahwa untuk mengikut-Nya, apapun harus ditinggalkan. Siapapun yang telah berkomitmen menjadi pengikut Tuhan harus bisa merubah cara pandangnya. Ia harus bisa membuat keputusan  memprioritaskan Tuhan  di atas semua kepentingan apapun.

Doa:  Ajar kami untuk tidak menoleh ke belakang ya Tuhan,  Amin.

Kamis, 2 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 61 – 62 (TB2)

61 Seorang yang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."62 Yesus berkata kepadanya: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

Pegang Janji untuk Tuhan

Perjalanan mengiring Tuhan memang hal yang tidak mudah. Tetapi kita harus mempertahankan komitmen itu sekalipun berhadapan dengan sejumlah tantangan. Sebut saja namanya Berty. Ia seorang pecandu alkohol.  Suatu ketika Berty jatuh sakit. Ginjalnya bermasalah dan Berty ketakutan. Di saat pendeta datang berdoa, ia membuat  janji akan menjadi pengasuh bila sembuh. Ia juga  berjanji tidak akan mengkonsumsi minuman keras. Bila sebelumnya ia malas beribadah, dalam kesakitannya, Berty mulai mengikuti ibadah-ibadah. Ia juga rajin memberi sumbangan untuk kegiatan gereja. Hanya saja semua berubah ketika ia sembuh. Ia mendapatkan kenaikan jabatan dan sering menghadiri rapat di cafe-cafe. Ia mulai mengkonsumsi minuman keras dan jarang mengikut ibadah. Ia bahkan menolak ketika diminta untuk menjadi pengasuh. Berty melupakan kebaikan Tuhan yang menolongnya melewati kesakitannya. Ia menganggap sepele keputusannya  mengikuti Tuhan. Sikap Berty adalah seperti seorang yang berkata “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Teks ini mengajarkan bahwa mengikut Yesus berarti menuntut adanya komitmen penuh, tidak menoleh ke belakang. Kalau kita menoleh, maka kepada kita akan dikatakan : ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

Doa:  ya Tuhan Yesus, tolong kami tetap pada komitmen mengikut-Mu,  Amin.

Jumat, 3 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 19 : 28 – 30 (TB2)

Yesus mati
28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!" 29 Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka menlilitkan suatu bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. 30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Kematian Yesus demi Selamatkan Hidup

Semua orang berdosa dan tidak ada seorangpun yang mampu menyelamatkan dirinya. Dosa membuat hidup kita terjebak dalam ketidakpastian tetapi juga kebinasaan. Kita sangat membutuhkan penyelamatan dari Alah sebab hanya Allah yang sanggup lepaskan kita dari jerat dosa. Hari ini sebagai gereja kita memperingati kematian Tuhan Yesus. Ia mati demi menyelamatkan kita yang berdosa. Peristiwa kematian-Nya sebagaimana yang ditulis Injil Yohanes memberikan gambaran dalamnya kasih-Nya kepada kita. Injil Yohanes menulis “Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah selesai, berkatalah Ia, – supaya digenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci – Aku haus” (Yohanes 19:28). Kematian-Nya di tiang kayu salib mempertontonkan kasih Allah yang agung itu. Allah pengasih merasakan setiap sisi kelemahan manusia.  Saat berada di salib, Tuhan Yesus menderita kehausan. Bukan air yang diberikan kepada-Nya melainkan anggur asam. Ia pun berkata “sudah selesai”. Cerita ini  memberikan kesaksian adanya kejahatan yang begitu menguasai kehidupan kita. Dosa membuat kita  kehilangan akal sehat dan hati nurani. Kita menyalibkan dan membunuh Pencipta. Kematian Tuhan yang kita peringati hari ini membuat kita mesti melakukan evaluasi diri. Transformasi hidup harus kita kerjakan. Sebagai gereja rumah tangga kita terpanggil bermisi melalui pelayanan sosial. Hidup kita tidak boleh terus berkanjang dalam dosa.

Doa:  YTuhan Yesus, terima kasih karena kematian-Mu, kami diselamatkan, Amin.

Sabtu, 4 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 19 : 38 – 42 (TB2)

Yesus dikuburkan
38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus,supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada para pemuka Yahudi. Pilatus mengabulkan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 39 Datanglah juga Nikodemus, orang yang dahulu pernah datang kepada Yesus pada malam hari. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira tigapuluh kilogram beratnya. 40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengafani-Nya dengan kain linen dan membubuhi-Nya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 41 Dekat tempat Yesus disalibkan ada taman dan dalam taman itu ada kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 42 Karena hari itu Hari Persiapan orang Yahudi, sedangkan kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan Yesus di situ.

Kasih akan Dia yang Tersalib

Alkitab menceritakan dua tokoh yang berperan dalam proses penguburan Tuhan Yesus : Yusuf dari Arimatea  dan Nikodemus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang yang kaya dan ia telah menjadi murid Tuhan Yesus pula (Matius 27:57). Di saat Tuhan Yesus mati, ia yang berinsiatif meminta kepada Pilatus agar bisa menurunkan mayat Tuhan Yesus dan menguburkannya. Sebagai murid, ia menyatakan kasih kepada Tuhan. Walau ia tidak mengerti bahkan mungkin merasa hancur karena kematian Sang Guru, tetapi ia tetap memberanikan diri meminta mayat Tuhan. Ini tindakan berani sebab ia akan berhadapan dengan pemuka Yahudi (Yohanes 19:38). Kasihnya mendorongnya memakamkan Tuhan Yesus di kuburan miliknya yang baru. Nikodemus adalah tokoh yang pernah bercakap dengan Tuhan Yesus (Yohanes 3). Ia juga menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus dengan cara bersama Yusuf dari Arimatea memakamkan tubuh Tuhan. ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu kira-kira 30 kilogram beratnya. Baik Yusuf atau Nikodemus, kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan ketika Tuhan masih hidup. Mereka tetap menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus. Pelayanan itu mereka wujudkan dengan cara memakamkan Tuhan Yesus.  Pelayanan sosial yang mereka lakukan merupakan teladan bagi gereja sepanjang masa.

Doa:  Ya Tuhan Yesus, terimalah seluruh tanda kasih kami akan Dikau, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET-APRIL 2026, LPJ-GPM