Santapan Harian Keluarga, 25 April – 1 Mei 2021

Tema Mingguan : Anak-anak Allah Hidup Dalam Kebenaran, Sama Seperti Kristus Adalah Benar

Minggu, 25 April 2021                                  

bacaan : 1 Yohanes 3 : 1 – 10

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. 2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. 3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. 4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. 5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. 6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. 7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; 8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. 9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. 10 Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

MENJADI ANAK-ANAK ALLAH KARENA KASIH KARUNIA

Di dalam dunia hukum dikenal istilah grasi, yakni hak prerogative seorang kepala negara untuk mengurangi hukuman, bahkan menghapuskan pelaksanaan hukuman pidana yang telah dijatuhkan oleh pengadilan kepada seseorang. Pemberian grasi dapat memberikan kesempatan kepada seseorang terpidana mati untuk tetap hidup. Demikian pula dengan penebusan Kristus, Allah memberikan grasi kepada manusia berdosa untuk hidup dan memperoleh jaminan keselamatan.Anugerah yang diperoleh manusia ini hanya semata-mata berdasarkan Kasih Allah kepada manusia berdosa, sehingga kita memperolah status baru sebagai anak-anak Allah (ay.1). Status atau kedudukan sebagai anak-anak Allah bukan berarti anak yang dilahirkan secara biologis (perkawinan antara Tuhan dengan seorang perempuan), melainkan karena iman di dalam Yesus Kristus (band. Galatia 3:26). Kita percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Melalui Status baru “hak istimewa” tersebut, maka penulis kitab 1 Yohanes menasehati kita untuk tidak hidup dan menjadi budak dosa lagi, karena mereka yang tetap hidup didalam dosa berarti dia menolak dan tidak mengenal Kristus (ay.6). Dan mereka yang tidak mengenal Kristus disebut sebagai anak-anak iblis.Ciri-ciri sebagai anak-anak iblis adalah, penyembahan berhala, perzinahan, tipu daya, iri hati, kekerasan, penindasan, ketidakadilan, dan sebagainya.Semua ini membuktikan bahwa gambar Allah yang ada didalam diri manusia benar-benar sudah rusak. Namun, oleh anugerahNya kita memperoleh hidup baru sebagai anak-anak Allah yang menghadirkan kasih, pengampunan, sukacita, damai sejahtera, rela berkorban, keadilan, kebanaran, mengasihi saudaranya.

Doa: Tuhan tuntunlah kami untuk mematikan perbuatan dosa dalam hidup kami, dan tuntunlah kami untuk menghadirkan kebenaran. Amin.

Senin, 26 April 2021                                   

bacaan : 2 Korintus 11 : 10 – 15

10 Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapapun di daerah-daerah Akhaya. 11 Mengapa tidak? Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya. 12 Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan. 13 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. 14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. 15 Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.

RASUL YANG SEJATI

Bacaan hari ini berbicara tentang Paulus yang menegaskan dirinya sebagai rasul yang sejati. Kerasulan Paulus didasarkan pada penglihatannya tentang Kristus yang telah bangkit (1 Kor.15:7-11). Atas dasar itu Paulus menegaskan bahwa ia adalah rasul yang sejati bukan palsu. Paulus tidak pernah menghindar dari tantangan, melainkan berani menghadapinya. Keyakinannya akan Kristus yang bangkit tidak pernah goyah. Hidupnya melimpah dengan kasih, dalam hal ini ia sungguh-sungguh mengasihi jemaat Korintus. Selain itu, ia tidak pernah mencari keuntungan pribadi dalam pelayanannya, justru berusaha keras menghalangi orang-orang yang memanfaatkan jemaat bagi kepentingan pribadi. Kesejatiannya sebagai rasul juga diwujudkan dalam kesetiaan melakukan panggilan pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Hidupnya dijalani dengan rendah hati bukan kesombongan serta tidak pernah mencari popularitas. Paulus telah membuktikan kualitas imannya sebagi rasul yang meyakini kebangkitan Kristus. Makna kebangkitan Kristus mengkarakterkan kesejatian kerasulan Paulus. Kristus yang bangkit mengubah Paulus menjadi rasul sejati bukan palsu. Rasul yang palsu dicirikan dengan tiga hal sebagai berikut. Pertama, selalu mencari kesempatan untuk dimegahkan atau berusaha untuk dipuji. Kedua, mereka adalah pekerja-pekerja yang curang dan pandai melakukan penyamaran atau menjalani hidup dengan kebohongan. Kita diminta untuk hidup dalam semangat tema mingguan; anak-anak Allah hidup dalam kebenaran, sama seperti Kristus adalah benar. Hidup dalam kebenaran sejalan dengan makna menjadi orang percaya yang sejati. Teladanilah Paulus sebagai rasul yang sejati dan hindarilah menjadi orang beriman yang palsu.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami menjadi orang beriman yang sejati, Amin.

Selasa, 27 April 2021                              

bacaan : 2 Korintus 13 : 1 – 10

Nasihat-nasihat terakhir
Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah. 2 Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi--sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya--bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi. 3 Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu. 4 Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah. 5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 6 Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. 7 Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji. 8 Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran. 9 Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna. 10 Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.

NASIHAT UNTUK MEMBANGUN IMAN JEMAAT

Paulus memberi nasihat untuk membangun iman jemaat Korintus. Pertama, ia mengingatkan mereka untuk mengoreksi pengalaman salah di masa lampau. Kesalahan yang pernah mereka lakukan berkaitan dengan dosa seksual (1 Kor. 5), penyembahan berhala (1 Kor. 8, 2 Kor. 6:14-7:1), dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan saat perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:17-34). Melakukan kesalahan adalah sifat manusia tetapi iman mengajarkan untuk tidak mengulanginya lagi. Kristus telah disalibkan dan mati karena dosa manusia, tetapi bangkit karena kuasa Allah. Pengorbanan Kristus harus berdampak pada perubahan perilaku. Bila dahulu pernah melakukan kesalahan, maka sekarang harus hidup sebagai manusia baru. Kedua, Jemaat Korintus harus menguji apakah mereka tetap tegak dalam iman. Ketiga, jemaat Korintus perlu menyelidiki benarkah mereka tahan uji. Keempat, lakukan perbuatan baik dan hindari melakukan kejahatan. Kelima, bersukacitalah senantiasa dan berdoalah kepada orang lain. Hendaklah masing-masing orang berusaha sungguh-sungguh untuk membangun imannya. Nasehat ini penting diperhatikan dan dilakukan dengan seksama setiap hari. Bila karena kelemahan, kesalahan dilakukan, maka sebagai orang beriman, janganlah menutupi kesalahan itu, tetapi bertanggung-jawab dan perbaikilah. Kita terpanggil untuk terus mewujudkan tanda-tanda pertobatan, agar kasih karunia Allah semakin nyata. Berusahalah agar imanmu kepada Kristus tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa ajaran apapun. Hadapilah semua tantangan bukan dengan bersungut dan berbantah, tetapi dengan keyakinan akan pertolongan Allah, sehingga engkau menjadi orang percaya yang tahan uji. Tetaplah melakukan yang baik dan bersukacita serta teruslah berdoa kepada orang lain.

Doa: Ya Tuhan tolong kami untuk tetap berusaha membangun iman. Amin.

Rabu, 28 April 2021                                             

bacaan : Roma 3 : 21 – 31

Manusia dibenarkan karena iman
21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, 22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. 23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. 25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. 26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. 27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. 29 Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! 30 Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. 31 Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.

MANUSIA DIBENARKAN KARENA IMAN

Paulus berpandangan bahwa di hadapan Allah semua orang bersalah, baik mereka yang mengetahui hukum Taurat maupun tidak. Orang yang mengetahui hukum Taurat tidak dapat menaatinya dengan sempurna, sehingga menaati Taurat tidak dapat dijadikan jaminan untuk “dibenarkan”. “Dibenarkan” berarti dapat diterima oleh Allah. Allah menerima dan mengampuni manusia karena apa yang telah Yesus kerjakan. Maksudnya, pembenaran dari Allah hanya dapat diterima oleh mereka yang beriman kepada Yesus. Jadi percaya kepada Yesus adalah satu-satunya jalan agar manusia dibenarkan Allah. Oleh karena itu keselamatan tidak dapat diperoleh berdasarkan jasa manusia. Allah mengutus Yesus untuk mendamaikan dan membebaskan semua orang yang percaya kepada-Nya. Kristus berkorban untuk menebus orang berdosa dan mereka dibenarkan dengan cuma-cuma (ayat 24). Sehubungan dengan hal itu, maka Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian (ayat 25). Kristus berkorban di salib agar orang yang percaya kepada-Nya dapat dibenarkan. Manusia dibenarkan karena iman bukan karena jasanya. Walau demikian, tidaklah berarti bahwa bagi Paulus hukum Taurat tidak penting. Ia tidak bermaksud meniadakan hukum Taurat karena iman (ayat 31). Hukum Taurat tetap diperlukan karena memperlihatkan apa yang Allah harapkan untuk dilakukan manusia. Hal ini berarti hukum Taurat dilakukan bukan sebagai syarat untuk memperoleh keselamtan. Orang beriman melakukan hukum Taurat kerena ia sudah diselamatkan atau dibenarkan dan bukan supaya ia diselamatkan. Kita diselamatkan oleh kasih dan anugerah Allah, dan kita melakukan perbuatan baik sebagai ungkapan syukur kepada Allah

Doa: Ya Tuhan, layakkanlah kami untuk hidup sebagai orang benar. Amin.

Kamis, 29 April 2021                                       

bacaan : Roma 8 : 9 – 11

8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. 9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. 10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. 11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

HIDUP MENURUT ROH

Hidup menurut Roh dipertentangkan Paulus dengan hidup menurut daging. Ia bermaksud menegaskan bahwa orang percaya haruslah hidup sesuai dengan kehendak Allah. Hidup sesuai kehendak Allah itulah yang dimaksudkannya dengan hidup menurut Roh. Roh Allah bekerja dalam kehidupan para pengikut Yesus untuk menguatkan dan membebaskan mereka dari kuasa dosa sehingga mampu hidup sesuai kehendak Allah. Hidup dalam kuasa dosa itulah yang dimaksudkannya dengan hidup menurut daging. Hidup menurut Roh harus menjadi pilihan orang percaya, karena keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebaliknya hindarilah hidup menurut daging, karena keinginan daging adalah maut dan perseteruan terhadap Allah (ayat 6-7). Semua perbuatan yang tidak dikehendaki Allah berakibat pada dialaminya maut. Atas dasar itu selanjutnya ia katakan: “Roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran” (10). Orang percaya haruslah hidup sebagai orang yang telah dibenarkan, maksudnya telah diampuni atau didamaikan. Orang yang telah diampuni tidak boleh lagi hidup menurut daging atau hidup dalam pelanggaran atau dosa. Pelanggaran atau dosa tidak boleh dilakukan karena orang percaya adalah milik Kristus dan oleh sebab itu harus memiliki Roh Kristus, atau yang disebut pula dengan sebutan Roh Kudus. Roh Kudus adalah kuasa Allah, yang dengannya dinyatakan rencana-rencana Allah di dunia. Inti rencana Allah adalah kebaikan bukan kejahatan. Marilah terus berusaha untuk tidak menjadi hamba dosa, karena sebagai umat Allah yang baru, kita telah diubah menjadi hamba-hamba Allah (Roma. 6:20-22). Hiduplah menurut Roh dan bukan daging, agar kehendah Allah dapat dipahami sepanjang hari hidupmu. Tuhan menolong dan memberkati kita.

Doa: Ya Tuhan tolong kami untuk hidup menurut Roh. Amin.

Jumat, 30 April 2021                                          

bacaan : Roma 9 : 1 – 8

Pilihan atas Israel
Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, 2 bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. 3 Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. 4 Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. 5 Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! 6 Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, 7 dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: "Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu." 8 Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.

DIPILIH MENJADI UMAT ALLAH KARENA SETIA

Umat Allah terdiri dari baik orang Israel atau Yahudi maupun yang bukan Yahudi. Pemilihan orang Israel sebagai umat Allah berlangsung ketika Abraham dipanggil (Kej. 12). Paulus bersaksi dan meyakini bahwa ia adalah bagian dari rencana pemilihan Allah itu, karena ia adalah keturunan Abraham atau bagian dari umat Israel. Kesaksiannya diawali dengan mengatakan: “suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus” (1). Paulus hendak mengatakan bahwa Roh Kudus bertindak sebagai guru, yang berbicara bagi suara hatinya dan membentuk semua pikiran serta kehendaknya yang terdalam. Ia tidak berbicara atau mengatakan sesuatu atas kehendaknya sendiri tetapi atas kehendak Allah di dalam Roh. Pembicaraannya didasarkan pada kuasa Roh yang bekerja di dalam hati, bukan pada pertimbangan akal atau rasionya. Jadi Paulus berbicara karena kehendak Allah, bukan kehendaknya sebagai manusia. Pertimbangan hati nurani inilah yang menyadarkan Paulus bahwa secara jasmani ia memang telah dilahirkan dan dibesarkan sebagai orang Israel, tetapi secara rohani hubungannya dengan Allah telah melampaui dimensi fisik. Maksudnya pemilihan umat Allah tidak didasarkan pada pertimbangan fisik atau keturunan saja tetapi juga pada alasan rohani dalam hal ini kesetiaan.Pemilihan Israel sebagai umat berlangsung dalam suatu perjanjian yang intinya adalah setia.Kesetiaan adalah syarat mutlak untuk menjadi umat Allah. Inilah alasannya untuk mengatakan: “anak-anak Allah bukan anak-anak menurut daging, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar” (ayat 8). Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi umat Allah yang setia dalam melakukan kehendak-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menjadi umat-Mu, Amin.

Sabtu, 1 Mei 2021

bacaan : Efesus 4: 17-24

Manusia Baru

17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia
18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,
22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

HIDUPLAH DALAM KEBENARAN”
Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus adalah orang yang telah dibarui oleh Allah melalui pekerjaan Roh Kudus. Artinya orang yang tidak lagi hidup menurut apa yang mereka kehendaki sendiri, tetapi hidup menurut apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Tanda dari kehidupan orang yang telah mengalami hidup yang baru ialah hidup dengan melakukan kebenaran sesuai dengan kehendak Tuhan. Di dalam kehidupan berkeluarga, bergereja dan bermasyarakat, diperlukan orang – orang yang hidup dengan melakukan kebenaran sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab terkadang kita mengalami berbagai pengaruh yang jahat melalui media dan lingkungan di mana kita hidup dan bekerja. Semua yang kita hadapi adalah tantangan bagi kehidupan kita sebagai orang percaya. Sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi pengaruh-pengaruh yang jahat. Bagi orang percaya yang tidak mampu bertahan menghadapi pengaruh yang jahat, mereka akan hidup dalam kejahatan dengan melakukan hal-hal yang tidak benar. Baik itu dalam keluarga, gereja maupun dalam masyarakat. Karena itu firman Tuhan di hari ini mengajak kita untuk menjadi orang percaya yang hidup dalam kebenaran. Kita bisa hidup dalam kebenaran bila kita memberikan hidup kita dituntun oleh Tuhan melalui Firman dan Roh Kudus. Karena itu berilah dirimu dipimpin oleh Roh Kudus Allah, sebab Firman dan Roh adalah wujud dari kehadiran Tuhan bersama kita.

Doa: Ya Tuhan, tuntunlah kami dengan Firman dan Roh-Mu agar kami bisa
hidup dalam kebenaran. Amin.

*Sumber : SHK bulan April 2021, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar