Santapan Harian Keluarga, 2-8 Mei 2021

Tema Mingguan : ” : Tinggallah Dalam Yesus, Jadilah Murid-Nya

Minggu, 02 Mei 2021                                  

bacaan : Yohanes 15 : 1 – 8

Pokok anggur yang benar
"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. 2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. 3 Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. 4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."

TINGGALLAH DALAM YESUS, JADILAH MURID-NYA

Tinggallah dalam Yesus dan jadilah murid-Nya adalah syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang percaya. Tanpa tinggal dalam Yesus dan menjadi murid-Nya, maka sangat sulit untuk menghasilkan buah. Pernyataan “barang siapa tinggal didalam Aku dan Aku didalam dia” mengandung arti bahwa Tuhan Yesus akan tinggal didalam kita hanya jika kita tinggal didalam Yesus. Hal ini merupakan perintah yang harus kita lakukan dan bukan sebuah ajakan atau saran. Itu berarti kita wajib mematuhi dan melakukannya, sebab kalau kita mengabaikannya, maka kita berdosa. Jaman sekarang ini terlihat bahwa banyak orang tidak lagi tinggal dalam Tuhan Yesus, tetapi tinggal di pokok yang lain, seperti uang, harta, jabatan, kekuasaan, status sosial dll. Orang-orang yang demikian akan mengalami hidup yang sulit, seperti ranting yang kering, dibuang dan dibakar. Gereja sebagai  persekutuan dan lembaga adalah tanda dan pekerjaan penyelamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Gereja sebagai orangyang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus terpanggil untuk menghadirkan kasih Kristus bagi dunia ini melalui perbuatan-perbuatan baik. Itulah buah-buah  dari pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang-orang percaya. Suatu persekutuan hidup yang membuat orang percaya mengalami kasih Tuhan yang menghidupkannya dan membuat dia bisa menghasilkan perbuatan – perbuatan yang memuliakan Allah. Tanpa hidup di dalam persekutuan dengan Tuhan, maka orang percaya tidak bisa menghasilkan perbuatan-perbuatan baik sebagai buah dari pekerjaan Roh. Persekutuan yang hidup dengan Tuhan Yesus Kristus, membuat orang percaya belajar menjadi murid yang baik dan setia, yang hidup untuk menjadi bekat.

Doa: Ya Tuhan, jadikanlah kami murid-murid-Mu. Amin.

Senin, 03 Mei 2021                                           

bacaan : Kolose 2 : 6 – 7

Kepenuhan hidup dalam Kristus
6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. 7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

“MENJADI MURID YANG HIDUP  DI DALAM KRISTUS”

Orang yang percaya dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya adalah orang yang  disebut sebagai murid Yesus, yaitu murid yang hidup dan belajar dari Yesus sebagai guru Agung. Orang percaya sebagai murid Yesus selalu  menghadapi tantangan iman, seperti ajaran sesat, yaitu ajaran yang berbeda dari ajaran para rasul dan inilah yang dihadapi oleh jemaat di Kolose. Mereka menghadapi ajaran  sesat yang bersifat sinkretis, yaitu  ajaran yang  mencapur-baurkan berbagai ajaran yang berbeda untuk menjadi satu sistem kepercayaan. Ajaran sinkretis dianggap sebagai ajaran yang paling baik dan benar. Sekalipun orang-orang yang mengajarkannya tidak hidup menurut apa yang mereka ajarkan. Untuk menghadapi ajaran yang dianggap sesat, maka Firman Tuhan di dalam Surat Kolose 2 : 6 – 7,  menasihati orang percaya untuk tetap hidup di dalam Yesus, berakar di dalam Dia dan dibangun atas Dia. Artinya apapun yang terjadi orang percaya tetapi berada di dalam Kristus Yesus, belajar dari apa yang Yesus ajarkan melalui para Rasul sehingga iman mereka semakin diteguhkan. Sebagai  murid Kristus Yesus di zaman ini, kita juga  diminta untuk terus berumbuh di dalam Kristus Yesus di tengah tantangan zaman kita. Zaman di mana materi dianggap sebagai segala-galanya sehingga membuat orang percaya melupakan Kristus dan ajaran-Nya. Orang lebih mementingkan kenikmatan sesaat yang menghancurkan masa depannya. Orang lebih memilih hidup secara individualis dan mengabaikan persekutuan.  Menghadapi semua itu, hendaklah orang percaya tetap tinggal di dalam Yesus, dan melakukan kehendak-Nya.

Doa: Ya Tuhan, jadikanlah kami murid yang tetap hidup dalam kasih-Mu. Amin.

Selasa, 04 Mei 2021                                        

bacaan : Kolose 2 : 8 – 12

8 Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. 9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, 10 dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. 11 Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, 12 karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.

“MENJADI MURID YANG TETAP SETIA PADA KRISTUS”

Kesetiaan sebagai seorang murid Yesus sangat diperlukan bagi  orang percaya. Tanpa kesetiaan, maka orang percaya mudah meninggalkan iman mereka kepada Yesus dan berpaling pada ajaran yang lain. Apalagi ajaran yang dibuat sedemikian untuk menyenangkan hati dan pikiran manusia, karena menawarkan hal-hal yang baik semata dan tidak mau menerima tantangan karena iman. Firman Tuhan ini disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Kolose menghadapi tantangan ajaran sesat. Ajaran yang dipengaruhi pemikiran Filsafat sehingga kedengarannya indah dan menawan hati para pendengarnya. Menurut rasul Paulus ajaran itu didasarkan pada pemikiran dan kelicikan manusia, bukan dari Tuhan. Karena itu umat harus waspada, hati-hati agar jangan mereka terpengaruh dengan ajaran yang palsu, ajaran yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para rasul. Peringatan yang disampaikan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Kolose juga disampaikan kepada kita. Bahwa di zaman ini ada pengaruh paham materialisme dan hedonisme yang sangat menyesatkan orang-orang yang percaya kepada Kristus Yesus. Hidup dengan menjadikan materi dan kenikmatan sebagai tujuan hidup. Akibatnya terjadi banyak kejahatan di mana-mana, karena itu kita diminta untuk menjadi murid yang tetap setia pada Kristus. Setia menjalani hidup sesuai dengan kehendak Yesus, agar kita tidak mudah tersesat. Setia kepada Yesus harus terwujud dalam sikap, tutyr kata dan laku hidup, baik di keluarga, gereja dan juga masyarakat.

Doa: Ya Tuhan, kuatkanlah kami menghadapi pengaruh zaman kami.  Amin

Rabu, 05 Mei 2021                                     

bacaan : Mazmur 22 : 7 – 20

6 (22-7) Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. 7 (22-8) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: 8 (22-9) "Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?" 9 (22-10) Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku. 10 (22-11) Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku. 11 (22-12) Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong. 12 (22-13) Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku; 13 (22-14) mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum. 14 (22-15) Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; 15 (22-16) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. 16 (22-17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. 17 (22-18) Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. 18 (22-19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. 19 (22-20) Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! 20

AMAN DI DADA IBUKU

Bersama perempuan GPM kita patut bersyukur, karena hari ini Wadah Pelayanan Perempuan GPM,  memasuki usianya yang ke-53 tahun. Suatu usia yang dijalani dalam  kasih dan penyertaan Tuhan di tengah pandemi covid-19. Pandemi covid ini telah berlangsung selama setahun lebih dan sangat mempengaruhi  seluruh aspek kehidupan bersama berkeluarga, bergereja dan bermasyarakat. Banyak orang mengalami berbagai kesulitan hidup. Apakah itu masalah kesehatan, ekonomi, pendidikan anak-anak,  masalah sosial dan lain-lain. Di tengah situasi hidup yang demikian, diperlukan sosok seseorang yang bisa memberikan rasa aman bagi keluarga, gereja dan masyarakat. Pemazmur 22 mengungkapkan rasa syukur ditengah kesulitannya, karena Tuhan menempatkannya pada dada ibunya. Ibu, adalah seorang perempuan yang memiliki hikmat Tuhan untuk memberi rasa aman bagi seisi rumah tangganya. Ia menata kehidupan rumah tangga agar suami, anak-anak dan semua orang yang hidup bersamanya,  bisa merasa aman dan nyaman. Perempuan yang bisa memberi rasa aman dan nyaman bagi keluarga adalah perempuan yang dekat dengan Tuhan. Sehingga dia tidak menjadi panik dan putus asa menghadapi kesulitan hidup yang dialami. Sebaliknya dia mempercayakan hidup keluarganya dalam tangan Tuhan, melakukan tanggungjawabnya dengan setia, mengorbankan waktu, pikiran dan tenaganya untuk memberi rasa aman. Diapun percaya, bahwa Tuhanlah yang memberi perlindungan dan memberkati hidup dan karyanya.

Doa: Ya Tuhan, berkati perempuan GPM untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi semua orang. Amin.

       

Kamis, 06 Mei  2021                                 

bacaan : Yohanes 8 : 30 – 36

Kebenaran yang memerdekakan
30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. 31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." 33 Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

YESUS ITU KEBENARAN YANG MEMERDEKAKAN

Dalam pembacaan kita saat ini Yesus berbicara mengenai kebenaran yang memerdekakan. Apa maksud Ia bicara tentang kebenaran yang memerdekakan? Ketika Yesus berbicara tentang hal ini, bukan dalam konteks kemerdekaan bangsa Yahudi dari penjajahan Romawi, tetapi Ia berbicara mengenai kemerdekaan manusia dari belenggu dosa. Hal ini disampaikan-Nya untuk menanggapi orang – orang Yahudi yang berpendapat bahwa mereka keturunan Abraham yang tidak pernah menjadi hamba siapapun. Mereka menilai diri sebagai orang suci yang tidak berdosa karena faktor keturunan langsung Abraham. Tetapi Yesus menjelaskan, tidak ada manusia yang tidak berdosa sekalipun ia keturunan Abraham. Manusia adalah hamba dosa, sebab itu manusia membutuhkan kemerdekaan dari dosa. Yesuslah Sang Kebenaran yang memerdekakan manusia dari perbudakan dosa. Hal itu dilakukan melalui karya penebusan-Nya di kayu salib. Seperti ada tertulis, “karena Adam semua manusia menjadi hamba dosa, maka di dalam Yesus, semua manusia dimerdekakan dari dosa (Rm 5:18-19).” Itulah kebenaran yang memerdekakan yang dimaksudkan oleh Yesus. Sebagai manusia, dengan  kekuatannya sendiri tidak dapat melepaskan diri dari perhambaan dosa. Itulah sebabnya Yesus datang untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa dan hidup dalam kebenaran. Sebab itu, marilah kita tinggal dalam Dia, sumber kebenaran yang memerdekakan itu dan jangan mau lagi diperhamba oleh dosa agar kehidupan kita benar-benar mengalami sukacita dan kebahagiaan.

DoaYa Allah dalam Yesus Kristus, terima kasih atas pengorbanan-Mu yang memerdekakan kami dari belenggu dosa, Amin

Jumat, 07 Mei  2021                                 

bacaan : Kolose 3 : 16 – 17

16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

LAKUKANLAH SEGALA SESUATU DALAM NAMA TUHAN YESUS

Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagi umat-Nya bagaimana Ia melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati. Apa pun yang menjadi kehendak Bapa dikerjakan-Nya dengan sepenuh hati meski harus melewati segala penderitaan yang hebat, bahkan sampai harus mati di kayu salib.  Kalau hari ini kita diingatkan oleh firman Tuhan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan dan perbuatan, haruslah kita lakukan semuanya dalam nama Yesus. Itu berarti dalam semua hal yang dikatakan dan dilakukan, semuanya  hanya untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Sebab itu ketika kita melakukan segala aktifitas pekerjaan, pelayanan, dan sebagainya, marilah kita melakukannya bukan dengan keluh kesah, persungutan, dan setengah hati. Bukan pula dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri atau untuk mencari nama diri. Melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus juga berarti bahwa kita mengakui dalam setiap kata dan perbuatan, kita akan mengikuti apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Sehingga di mana pun kita berada atau kemana pun kita pergi untuk melakukan semua yang menjadi kerja dan panggilan kita, kita akan bertindak hati-hati dan tidak melakukan sesuatu yang mempermalukan diri kita sendiri, keluarga, dan juga mempermalukan orang lain apalagi mempermalukan Tuhan. Sebab itu, marilah kita merenungkan dalam diri kita masing-masing: sudahkah kita melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus?. Jika belum, mari barui diri, agar apa yang kita katakan dan lakukan menjadi berkat dalam hidup dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan Yesus.

DoaApapun yang kami katakan dan lakukan, biarlah semuanya demi hormat dan kemuliaan nama-Mu ya Tuhan, Amin

Sabtu, 08 Mei 2021                                 

bacaan : Matius 7 : 24 – 25

Dua macam dasar
24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

BANGUNLAH RUMAHMU DENGAN FONDASI YANG KUAT

Masih ingatkah salah satu kartun Walt Disney yang terkenal dengan tiga ekor babi? Kisahnya menceritakan tiga ekor babi yang harus membangun tempat perlindungan paling aman dari ancaman serigala jahat. Mereka sama-sama membangun rumah, dengan cara dan dasar yang berbeda. Yang satu membangunnya dari jerami, yang satu dari kayu, sedang saudaranya satu lagi membangun dengan batu bata dan semen. Yang membangun dengan jerami dan kayu tentu pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga mereka sempat menertawakan saudara tertuanya yang masih tekun menumpuk batu bata dan menyatukannya dengan semen. Tapi kakak tertua tetap tekun membangunnya. Pada satu ketika, serigala jahat pun datang. Rumah dari tumpukan jerami dengan mudah diluluh lantakkan dengan sekali hembus, dan kaburlah si adik terkecil dengan ketakutan. Ia lari berlindung di rumah kakaknya yang dibangun dari kayu. Rumah itu pun dengan mudah dirobohkan oleh si serigala jahat. Seketika mereka berdua berhamburan ketakutan, dan lari ke rumah kakak tertuanya. Di sana mereka aman dari kejaran serigala jahat karena sang serigala tidak mampu merubuhkan rumah yang kokoh dibangun di atas dasar kuat. Demikian halnya yang diajarkan Yesus melalui perumpamaan dua macam dasar ini. Ia mengingatkan kita, bangunlah hidup kita diatas fondasi iman yang kuat dalam Kristus dan firman-Nya. Karena dengan begitu kita akan kokoh dalam segala situasi, dan tidak akan mudah goyah ketika angin ribut, badai dan banjir. Ketika persoalan datang menghampiri, kita akan tetap kuat bertahan, karena kita bukan hanya mendengar firman-Nya, tapi mau melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

DoaYa Tuhan, Engkaulah fondasi dasar yang kuat bagi bangunan hidup kami kini dan selamanya, amin

        

Tinggalkan komentar