Ambon, 8 Mei 2021
Tema Mingguan : “Barang siapa Mengasihi Allah, Ia Harus Mengasihi Saudaranya“
Minggu, 09 Mei 2021
bacaan : 1 Yohanes 4 : 7 – 21
Allah adalah kasih
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. 13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
MARILAH KITA SALING MENGASIHI
Dalam bacaan kita hari ini, Tuhan Yesus menegaskan keharusan dan kewajiban yang harus dilakukan oleh para pengikut-Nya. Kita diperintahkan untuk mengasihi satu dengan yang lain, artinya kita harus mengasihi semua orang. Kita dituntut menjadi pribadi yang aktif dalam menunjukkan identitas iman kita. Kita tidak diajarkan untuk ‘hanya’ mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi mengasihi satu dengan yang lain. Tidak ada batasan untuk mengasihi. Dalam menerapkan kasih, tidak ada orang kaya, orang miskin, tua, muda, dan sebagainya. Yesus tidak menginginkan kita memilih-milih orang untuk dikasihi. Yesus sendiri membuktikan bahwa dia mengasihi semua orang, bahkan orang-orang yang dikucilkan dan direndahkan, orang-orang cacat dan juga orang-orang yang dianggap sebagai orang berdosa, bahkan orang yang membenci-Nya sekalipun. Jadi Yesus tidak hanya mengajarkan konsep belaka kepada para murid-Nya, namun Dia mengajarkan apa yang telah Dia perbuat di tengah-tengah pelayanan-Nya. Sebab itu, kita pun wajib saling mengasihi yang satu dengan yang lain. Sikap inilah yang menjadi penerapan akan kasih kita kepada Allah. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Maka sebagai orang Kristen kasih kepada Allah dan kepada sesama harus kita terapkan dalam kehidupan kita, dalam pelayanan dan dalam perkerjaan maupun dalam keluarga kita. Sehingga melalui kasih yang nyata kepada sesama maka nyata pula kita sudah tinggal di dalam kasih Allah. Marilah kita saling mengasihi.
Doa: Tuhan Yesus, mampukan kami menaati perintah-Mu untuk hidup saling mengasihi satu dengan yang lain, Amin
Senin, 10 Mei 2021
bacaan : Yohanes 15 : 9 – 17
Perintah supaya saling mengasihi
9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."
HANYA YESUS SAHABAT SEJATI
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini tak mungkin kita sendirian, siapa pun kita, pasti kita memerlukan orang lain sebagai teman atau sahabat. Namun tidaklah mudah menemukan teman yang dapat menjadi sahabat yang baik, yang setia di segala keadaan. Teman datang dan pergi adalah hal yang biasa. Teman dalam suka banyak, tapi bagaimana dengan teman dalam duka atau ketika sedang susah? Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita mempunyai Tuhan Yesus yang bukan saja sebagai Juruselamat hidup kita, tapi juga menjadi sahabat sejati kita. Bahkan Tuhan Yesus sendirilah yang memilih kita menjadi sahabat-Nya. Tidak hanya itu, Ia pun rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Kalau Tuhan Yesus saja rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita, apakah Dia akan tinggal diam ketika kita sedang dalam permasalahan yang berat?. Teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi di dunia ini sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita, tetapi Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita bergumul seorang diri. Dan janji Tuhan itu ya dan amin! Karena itu jangan pernah merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita. Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari. Karena itu, kalau kita percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat sejati kita, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat apa pun pergumulan yang ada, kita akan sanggup berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Doa: Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau mau menjadi sahabat sejati dalam suka dan duka hidup kami, Amin
Selasa, 11 Mei 2021
bacaan : Roma 13 : 8 – 14
Kasih adalah kegenapan hukum Taurat
8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. 11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. 12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! 13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. 14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.
“HIDOP BAKU SAYANG”
Hidop baku sayang” atau hidup saling mengasihi, merupakan nasehat utama orangtua kepada anak-anak, ketika duduk bersama di meja makan. Hidop baku sayang artinya saling mengasihi antar ade-kaka dalam ikatan darah sebagai suatu keluarga; tetapi juga meluas dengan orang lain dari suku dan agama yang berbeda. Seperti dalam ungkapan “potong di kuku rasa di daging”, atau “ale rasa beta rasa” atau “sagu salempeng dibagi dua sama rata”. Didalam hidop baku sayang, seorang akan menganggap dan memperlakukan yang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri. Satu terhadap yang lain saling menghormati, saling menghargai, saling memahami dan saling menerima dalam kekurangan dan kelebihan yang dimiliki serta penuh kesopanan dalam berbicara dan dalam bertindak diantara mereka. Hidop baku sayang membuat seorang terhadap yang lain saling membutuhkan untuk saling melengkapi sehingga tidak ada jarak yang memisahkan, baik agama, suku dan status sosial. Itu adalah nasehat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus dan juga bagi kita di saat ini. Di dalam hidop baku sayang setiap orang akan merasakan bahwa dirinya akan berarti atau bermanfaat bila ia berhubungan dengan orang lain. Hidop baku sayang memberi rasa aman dan saling percaya kepada setiap orang untuk menjalani hidup di tengah keluarga dan masyarakat. Justru, hidop baku sayang menciptakan keteraturan dan ketertiban hidup di dalam keluarga dan masyarakat luas. Harmoni dan kesejahteraan keluarga terpenuhi dengan sendirinya. Sebab, hidop baku sayang tidak berbuat jahat, tidak berkata dusta, tidak berselisih, tidak iri hati, tidak melakukan perzinahan, tidak mencuri, tidak ada hawa nafsu. Jadi, hidop baku sayang adalah hidup dalam terang Tuhan Yesus.
Doa : Tuhan, beri kami kemampuan untuk membangun hidop baku sayang. amin
Rabu, 12 Mei 2021
bacaan : Matius 18 : 21 – 35
Perumpamaan tentang pengampunan
21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" 22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
“LAENG MUSTI KASI AMPONG LAENG”
Ingatan, dalam hidop ade kaka, laeng musti kasi ampong laeng”, artinya dalam hidup adik dan kakak, mereka harus saling mengampuni, jika ada yang melakukan kesalahan. Itulah nasehat orangtua kepada anak – anaknya untuk merawat hidup orang bersaudara. Itulah juga yang menjadi ajaran Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang pengampunan. Memang seringkali dalam posisi sebagai korban dari perbuatan jahat orang lain, rasa sakit secara psikis dan fisik membuat kita sangat sulit untuk memaafkan dan mengampuni. Kita selalu berusaha untuk membalas perbuatannya, sekalipun orang tersebut telah mengakui kesalahannya dan meminta pengampunan. Sebenarnya, hal ini sangat manusiawi, jika ada batas waktunya. Tetapi jika keputusan kita adalah bahwa seumur hidup kita tidak memaafkan dan mengampuni orang yang berbuat jahat itu, maka ini sangat bertentangan dengan ajaran Yesus tentang pengampunan. Jika kita tidak mengampuni, maka kita akan menghadapai berbagai hal. Pertama, hidup kita tidak akan tentram, ketika masih ada kebencian dan dendam. Setiap hari pikiran kita hanya bertujuan untuk balas dendam. Kedua, kita tidak mendapat pengampunan Tuhan, sama seperti kita tidak mengampuni orang yang berbuat jahat. Jika demikian, apa bedanya kita dengan orang yang berbuat jahat itu? Jika kita tidak memaafkan dan mengampuni orang yang berbuat jahat itu maka kita pun secara sadar telah berbuat jahat. Bukankah pembalasan itu adalah hak Allah? Mengapa kita harus mengambil bagian yang merupakan milik Allah? Kita adalah juga orang – orang yang sudah diampuni oleh Allah dan karena itu kita pun harus hidup saling mengampuni. Ikutilah petuah orang tua: “Ingatan, dalam hidop ade kaka, laeng musti kasi ampong laeng”.
Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk hidup saling mengampuni, seperti Engkau sudah mengampuni kami, Amin.
Kamis, 13 Mei 2021
bacaan : Lukas 24 : 50 – 53
Kenaikan Yesus
50 Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. 51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. 52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. 53 Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.
HIDUP SONDOR RASA TAKU
Hidup sondor rasa taku” atau hidup tanpa rasa takut, adalah suatu pernyataan iman seseorang tentang penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Penyertaan Tuhan menjadi kekuatannya, sehingga ia berani menjalani hidup yang penuh dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Jadi, hidop sondor rasa takut, adalah hidup yang percaya bahwa Tuhan itu ada; Tuhan itu hidup; Tuhan setia memelihara,. Tuhan selalu memberi kepastian hidup dan masa depan bagi orang yang percaya kepada-Nya dengan cara memberkati mereka. Itulah yang terjadi dalam peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga. Peristiwa yang terjadi di tengah “rasa takut” yang dialami oleh para murid Yesus setelah Yesus mati dan dikuburkan. Kebangkitan Yesus pun masih belum dapat menghilangkan rasa takut. Peristiwa Kenaikan Yesus ke Sorga disertai dengan akta penumpangan tangan, menggenapi janji berkat Allah yang akan menjadi penghibur dan penolong bagi kehidupan murid – murid Yesus. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak lagi merasa takut, mereka bahkan kembali dengan bersukacita. Pernyataan berkat adalah keinginan Allah atau perkenaan-Nya yang memulihkan hidup manusia. Berkat terbesar yang telah Tuhan berikan adalah kehidupan baru dan pengampunan. Berkat Tuhan melenyapkan segala rasa sedih dan kecemasan yang membuat manusia tak berdaya. Orang yang menerima berkat Tuhan akan bersukacita yaitu mengalami kebahagiaan mendalam karena mendapat kekuatan dari Tuhan, sehingga dalam keadaan susah pun orang akan tetap bersukacita. Hidop sondor rasa takut, merupakan hidup baru yang diberikan Tuhan kepada orang yang percaya kepada-Nya. Kepada mereka Tuhan memberikan tanggungjawab memberitakan pengampunan yang Tuhan sediakan kepada semua orang.
Doa : Tuhan, tolonglah kami agar hidup tanpa rasa takut dan berharap hanya kepadaMU amin
Jumat, 14 Mei 2021
bacaan : 2 Samuel 9 : 1 – 13
Daud dan Mefiboset Berkatalah Daud: "Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan." 2 Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: "Engkaukah Ziba?" Jawabnya: "Hamba tuanku." 3 Kemudian berkatalah raja: "Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah." Lalu berkatalah Ziba kepada raja: "Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya." 4 Tanya raja kepadanya: "Di manakah ia?" Jawab Ziba kepada raja: "Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar." 5 Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar. 6 Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: "Mefiboset!" Jawabnya: "Inilah hamba tuanku." 7 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku." 8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?" 9 Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: "Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. 10 Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku." Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba. 11 Berkatalah Ziba kepada raja: "Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya." Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. 12 Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset. 13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.
INGATAN JANG LUPA TEPATI JANJI
Beta seng pernah lupa apa yang beta janji, beta inga” artinya saya tidak pernah melupakan janji yang telah saya ucapkan. Kalimat ini menjelaskan tentang kebiasaan untuk mengingat sesuatu yang penting dan berharga, yang pernah terjadi pada waktu lampau. Kebiasaan mengingat,merupakan suatu perilaku yang jujur, dan setia. Sebab, dengan mengingat, orang akan mengatakan hal-hal yang dirasakan dan dipahami sebagai yang belum dilaksanakan. Kemudian dengan kesadaran akan Tuhan, orang berniat untuk melaksanakannya. Bacaan kita hari ini, menceriterakan tentang kisah raja Daud yang selalu mengingat perjanjian yang pernah ia lakukan dengan sahabatnya Yonatan. Walaupun Yonatan sudah mati, tetapi Daud berniat untuk menepati janjinya. Daud meminta Mefiboset anak Yonatan untuk tinggal di istana bersama keluarganya, bahkan Daud mengembalikan semua milik keluarga Saul kepada Mefiboset. Saat ini, hal ingat untuk menepati janji, menjadi hal yang langka, misalnya, ingat janji sebagai adik-kakak, atau ingat janji sebagai sahabat, ingat janji sebagai orang tua, ingat janji kepada guru, ingat janji kepada siapa saja. Menepati janji, ibarat tidak ada hutang tersisa yang belum dibayar oleh mereka. Justru, pola hubungan diantara mereka akan menjadi kekuatan dasar untuk terbinanya relasi baru dan berkelanjutan bagi generasi turun-temurun. Jadi, kebiasaan mengingat, sangat membantu setiap orang untuk terus memperbaiki diri dan memperbaiki berbagai relasi kehidupan yang dimiliki. Perilaku inga mewajibkan setiap orang untuk konsisten dalam kata dan perbuatan. Waktu terus berputar, hari-bulan-tahun terus berganti, tetapi tidak akan mengubah komitmen kita untuk menepati janji yang pernah dilakukan.
Doa : Tuhan, b’rilah Roh-Mu menuntunku supaya aku ingat untuk selalu menepati janjiku, Amin.
Sabtu, 15 Mei 2021
bacaan : 1 Tesalonika 4 : 1 – 12
Nasihat supaya hidup kudus Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. 9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.
“KALESANG HIDOP”
Kata “kalesang” dalam Kamus Malayu Ambon artinya atur /mengatur, merawat dengan baik. Jadi, “kalesang hidop” artinya membuat hidup teratur, atau merawat hidup menjadi lebih baik.Orang tua selalu mengingatkan dalam nasehatnya: “Ana-ana ee, kalesang hidop tu jua” artinya anak-anak hendaklah mengatur atau merawat hidupnya dengan baik. Kalimat ini bersifat teguran atau nasehat yang disampaikan oleh orang tua atau orang yang dituakan, atau orang yang dianggap layak untuk memberi nasehat. Teguran atau nasehat ini disampaikan sebagai upaya untuk mencegah munculnya berbagai perilaku menyimpang yang bisa berakibat kekacauan, konflik dan kehancuran hidup bersama dengan orang lain. Setiap hari, kehidupan dipenuhi dengan berbagai hal yang baik atau yang buruk bagi manusia. Ibarat
“kalesang kintal rumah” artinya mengatur, merawat halaman rumah supaya tidak kotor tapi selalu bersih, demikian juga dengan hidup. Kalesang hidup merupakan suatu perilaku iman, bahwa setiap orang baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun orang muda juga anak-anak, wajib membersihkan hidupnya dari berbagai praktek dosa, pelanggaran dan kesalahan supaya keteraturan hidup di rasakan. Hal ini disampaikan oleh rasul Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat di Tesalonika, tentang hidup kudus. Kalesang hidop dimulai dari kalesang diri, kalesang suami, kalesang isteri, kalesang anak-anak, kalesang rumah tangga, bahkan dalam setiap hubungan mulai dari hubungan antara dua orang sampai hubungan dengan banyak orang. Kalesang hidop merupakan cara manusia untuk merawat hidup supaya teratur, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dalam hubungan dengan sesamanya. Kalesang hidop akan menghasilkan kekudusan hidup sesuai kehendak Tuhan.
Doa : Tuhan, tuntun kami untuk merawat hidup kudus. Amin.
*sumber : SHK bulan Mei 2021, LPJ-GPM