Tema Mingguan : “Roh Kudus Memberi Keberanian Untuk Bersaksi“
Minggu, 23 Mei 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 2 : 14 – 28
Khotbah Petrus
14 Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. 15 Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, 16 tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: 17 Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. 18 Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. 19 Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. 20 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. 21 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. 22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. 25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, 27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.
“ROH KUDUS MEMBERI KEBERANIAN UNTUK BERSAKSI”
Syalom saudaraku! Hari ini kita merayakan Hari Pentakosta atau Pencurahan Roh Kudus. Lukas sebagai penulis kitab Kisah Para Rasul memberi kesaksian tetang peristiwa yang terjadi 2000-an tahun lalu itu. Menurut Lukas, saat Roh Kudus turun ke atas para murid Yesus, mereka menerima kuasa dan terjadilah perubahan besar dalam diri mereka. Kuasa itu membakar semangat mereka untuk bangkit dan bersaksi. Petrus yang pernah meyangkal Yesus dan sempat meragukan kebangkitan-Nya, dengan berani bersaksi di depan orang-orang Yahudi dan semua orang yang berkumpul saat itu tentang Yesus yang dibunuh oleh orang Yahudi melalui tangan bangsa-bangsa durhaka, tetapi hidup lagi. Tanpa rasa takut ia berkata dengan tegas : “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini” (ay. 14). Sebuah pernyataan keras dan tegas yang dilanjutkan dengan pembelaan bahwa mereka sedang tidak mabuk tetapi melalui mereka nubuat nabi Yoel sedang digenapi. Ya, murid-murid Yesus tidak mabuk tetapi mereka sedang memberikan tempat bagi Roh Kudus dan kuasa-Nya untuk berkarya di dalam dan melalui mereka.
Saudaraku, Roh Kudus telah tercurah 2000-an tahun lalu, tetapi kuasa-Nya tidak terbatas pada waktu, tempat atau orang tertentu. Roh itu dan kuasa-Nya ada hingga kini dan di tempat ini. Tinggal bagaimana kita memberikan tempat bagi-Nya untuk berkarya dalam diri kita sehingga kita memiliki keberanian untuk bersaksi tentang kebenaran firman Tuhan. Bersaksi tidak hanya dengan kata tetapi juga dengan perbuatan nyata. Karena itu marilah kita belajar untuk bertutur dengan santun dan bertindak dengan jujur dan adil sebagai wujud kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita.
Doa: Ya Roh Kudus berdiamlah dalam hati kami, agar kami memiliki keberanian untuk bersaksi tentang Yesus yang hidup, Amin.
Senin, 24 Mei 2021
bacaan : Yohanes 16 : 4b – 15
(16-4b) "Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu, 5 tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? 6 Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita. 7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. 8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; 9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; 10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; 11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. 12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. 15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."
“BERILAH TEMPAT BAGI ROH KUDUS”
Kita telah memasuki usbu baru. Semoga selalu ada sukacita setelah kita rayakan Pentakosta di hari kemarin. Saudaraku, ada pertanyaan bagi kita yang telah merayakan hari pencurahan Roh Kudus: “Adakah ruang yang kita berikan bagi Roh Kudus untuk berdiam dan berkarya dalam diri kita sehingga kita memiliki keberanian untuk bersaksi? Pertanyaan ini disampaikan karena pada kenyataannya banyak orang yang mengaku telah menerima Roh Kudus, namun seringkali kuasa itu tidak tercermin dalam kehidupannya. Contoh: masih sering kita temukan “Kebon Binatang” dalam keluarga Kristen. Koq bisa? Ya! Kalau laki mara bini : “Woe, parampuang babi ee”. Begitu juga kalu bini mara laki : “kutok par laki-laki anjing ni”. Kalau nilai anak jelek: “Anak ini dia bodo macang deng karbou”. Nah, dalam rumah berkumpullah babi, anjing, karbou, lalu tambah dengan monyet dan lain-lain lagi, jadilah rumah itu “KEBUN BINATANG”. Saudaraku, dalam bacaan kita hari ini, Yohanes bersaksi bahwa Ketika Yesus naik ke Sorga, Ia menjanjikan Penghibur yaitu Roh Kudus yang akan memperlengkapi para murid dan memberi mereka kuasa sehingga mereka dimampukan untuk melaksanakan mandat yang Tuhan anugerahkan bagi mereka.
Kita, yang percaya kepada Yesus, mendapat perintah juga untuk
memberitakan Injil kepada dunia ini. Lalu bagaimana mungkin kita melakukannya dan berharap ada orang yang datang kepada Yesus karena kesaksian kita jika kehidupan kita belum mencerminkan kehadiran Roh itu? Jadi saudaraku, mari berikan tempat bagi penghibur, yaitu Roh Kudus itu dalam hidup kita agar Roh itu menuntun kita untuk memperkatakan firman Tuhan dan memberlakukan kebaikan dalam kehidupan kita sehingga Rumah kita akan seperti “taman Eden” dan tidak seperti “kebon binatang”
Doa: Ya Roh Kudus tuntun kami tuk memperkatanan Firman-Mu. Amin.
Selasa, 25 Mei 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 19.b – 25
Saulus dalam lingkungan saudara-saudara
19 Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. (9-19b) Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. 20 Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. 21 Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: "Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?" 22 Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. 23 Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. 24 Tetapi maksud jahat itu diketahui oleh Saulus. Siang malam orang-orang Yahudi mengawal semua pintu gerbang kota, supaya dapat membunuh dia. 25 Sungguhpun demikian pada suatu malam murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang.
“TANTANGAN TETAP ADA TETAPI TUHAN MEMBERI JALAN KELUAR”
Saat Saulus berjumpa dengan Yesus, kehidupannya berubah. Dia tiak lagi menjadi penganiaya orang kristen. Ia tinggal bersama saudara-saudara seiman beberapa lama di kota Damsyik dan mulai bersaksi tentang Yesus sebagai anak Allah di rumah-rumah ibadat. Kehadirannya membingungkan orang-orang yang mengenal dia sebagai penganiaya pengikut Kristus. Koq bisa? Dia yang tadi-tadinya tidak suka mendengar nama Yesus disebut, kini justeru memberitakan tentang Yesus? Ya, bisa! Tuhan punya kehendak bebas untuk memakai siapa saja yang Ia mau pakai menjadi pelayan-Nya. Itulah yang terjadi pada Saulus. Saulus yang kemudian menjadi Paulus, terus bersaksi dan pengaruhnya semakin besar di situ. Kondisi ini menimbulkan kebencian orang-orang Yahudi terhadap Saulus dan mereka berencana untuk membunuhnya. Tetapi tangan Tuhan tetap menyertai dia sehingga maksud itu diketahuinya sehingga sekalipun seluruh pintu kota Damsyik dijaga ketat, tetapi Saulus lolos dari bahaya maut. Hal ini terjadi karena Saulus benar-benar bersandar hanya kepada Yesus. Saudaraku, sering kita juga mengalami apa yang dialami Saulus. Saat kita memutuskan untuk melakukan kehendak-Nya, ada saja tantangan yang kita hadapi. Sering tantangan itu datang dari luar, tetapi banyak kali juga datang dari dalam keluarga kita sendiri. Seorang muda pernah curhat kepada saya : “Bupen ee, di beta pung sekitar ni pengidap panyaki masyarakat paleng banya. Ada panjudi, ada pamabo, ada pamara, ada yang suka bamaki deng ada yang pung tangang suka baloko lai. Beta parna bicara par dong, la ajak dong par pi kabaktiang, maar dong bale ancam beta lai.” Menjawab curhatan itu saya menjawab: “biar ada tantangan, jangan berhenti melakukan kebaikan, pasti ada jalan keluar”
Doa: Tuhan, teguhkanlah iman kami untuk melakukan kehendak-Mu walau di tengah tantangan. Amin.
Rabu, 26 Mei 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 42 – 49
42 Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat berikutnya. 43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah. 44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. 45 Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. 46 Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. 47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." 48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. 49 Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.
“JANGAN GENTAR, TERUSLAH BERSAKSI”
Sinta, seorang evanggelis, berkisah tentang hidupnya. Tanpa malu dia mengatakan bahwa: ”saya adalah mantan PSK (pekerja seks komersial)”. Lagi katanya : “saya terjun ke “dunia malam” bukan untuk mendapatkan uang, tetapi sebagai pelarian. Namun, ada sebuah kejadian yang membuat saya sadar bahwa ternyata ada orang yang hidupnya lebih hancur dari saya, karena itu saya memutuskan untuk keluar dari “dunia malam”, demikian cerita Sinta. Seiring berjalannya waktu Sinta mulai ikut dalam pelayanan di gereja. Orang-orang yang mengenal dia dalam profesi sebelumnya mencemooh dia, tetapi semangat melayaninya tidak pudar. Tanpa gentar dia terus melayani. Pelayanan Sinta membuahkan hasil, ada beberapa PSK yang “bertobat” dan keluar dari “dunia malam”. Tapi di sisi lain, ada orang yang menganggap dirinya lebih layak, menjadi tidak senang dengan pelayanan Sinta. Apa yang dikatakan Sinta kepada mereka? “Kalian harus diinjili karena kalian memiliki kesombongan rohani”.Saudaraku! Banyak tantangan yang dihadapi Paulus dan rekannya Barnabas dalam memberitakan Injil. Tetapi mereka pantang mundur, mereka terus melayani dan pelayanannya membuahkan hasil. Banyak orang yang berasal dari kalangan non-Yahudi, yaitu mereka yang diberi cap sebagai “orang yang tidak mengenal Allah,” justru menjadi percaya. Terhadap mereka yang iri dan menghujat dirinya, Paulus menegaskan bahwa ia dan teman-temannya akan memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain, karena umat pilihan Allah telah menolak Yesus sebagai Juru Selamat. Saudaraku, kita sering mendapat tantangan saat bersaksi tentang Yesus, namun belajar dari Sinta maupun Paulus dan Barnabas, janganlah gentar, teruslah bersaksi. Tuhan pasti akan memberkati pelayanan kita.
Doa: Tuhan, tolong kami dengan kuasa Roh Kudus-Mu, agar tidak gentar dalam bersaksi, amin
Kamis, 27 Mei 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 14 : 1 – 20
Di Ikoniumpun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya. 2 Tetapi orang-orang Yahudi, yang menolak pemberitaan mereka, memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan membuat mereka gusar terhadap saudara-saudara itu. 3 Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. 4 Tetapi orang banyak di kota itu terbelah menjadi dua: ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu. 5 Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu. 6 Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. 7 Di situ mereka memberitakan Injil. 8 Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. 9 Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. 10 Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: "Berdirilah tegak di atas kakimu!" Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.
BERANI BERSAKSI KARENA ROH KUDUS
Keberanian yang dimiliki Paulus dan Barnabas untuk memberitakan injil di daerah-daerah bukan Yahudi layak dijadikan motivasi bagi orang Kristen dewasa ini. Mereka berani karena mengandalkan kuasa Roh Kudus. Kemampuan yang dimiliki setiap orang pasti terbatas, sehingga diperlukan kuasa Roh agar menjadi berdaya hebat. Para rasul adalah orang-orang biasa saja namun menjadi luar biasa karena diberdayakan dengan ajaib oleh Roh. Roh memberdayakan mereka menjadi cakap dan berani memberitakan injil dalam situasi yang membahayakan keselamatan diri. Injil diberitakan di Ikonium dengan cara masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya (ayat 1). Mereka juga membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, walau mendapat hambatan dan penolakan dari sebagian orang Yahudi dan orang-orang yang tidak mengenal Allah (ayat 2-3). Penolakan dan hambatan terus dialami, sehingga Ikonium harus ditinggalkan dan selanjutnya pergi ke Listra. Listra adalah tempat berlangsungnya penyembuhan orang yang telah lumpuh sejak lahirnya. Akibat penyembuhan itu Paulus dan Barnabas disangka dewa Zeus dan Hermes, lalu dipuja tetapi mereka menolaknya. Hambatan dan penolakan terjadi lagi, orang banyak dihasut lalu melempari mereka dengan batu dan menyeret ke luar kota. Listra ditinggalkan dan pergilah mereka ke Derbe. Mereka berani hadapi tantangan silih berganti karena percaya pada kuasa Roh Kudus. Jika saat ini saudara menghadapi tantangan dan persoalan, berserahlah dalam tuntunan Roh Kudus agar kuat menghadapi dan menyelesaikannya.
Doa: Ya Roh Kudus, layakanlah kami untuk menjadi pemberita injil yang cakap dan berani, amin
Jumat, 28 Mei 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 18 : 24 – 28
Apolos di Efesus
24 Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. 25 Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. 26 Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. 27 Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. 28 Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.
JADILAH BERMAKNA DENGAN APA YANG ADA PADAMU
Hari ini kita mendengarkan kisah tentang pemberitaan injil yang dilakukan Apolos di Efesus dan Akhaya. Ia seorang asal Yahudi dari Aleksandria yang walaupun masih terbatas pengetahuan tentang injil namun berani menjadi seorang pemberita. Pengetahuannya mengenai injil masih terbatas, hanya tentang Yohanes pembaptis. Keterbatasan pengetahuan tidaklah menyurutkan keinginan Apolos untuk memberitakan injil di Efesus. Ia berani masuk ke rumah ibadat dan memberitakan injil di situ. Priskila dan Akwila juga ikut mendengarkan pemberitaan itu, lalu mereka membawa Apolos ke rumah dan menjelaskan jalan Allah atau pekerjaan penyelamatan yang telah dilakukan Allah melalui Yesus. Apolos dengan sukacita dan rendah hati mau belajar dari kelebihan Priskila dan Akwila. Priskila dan Akwila rela membagi pengetahuan mereka kepada Apolos. Inilah teladan tentang sikap rela berbagi dan mendengar agar semuanya menjadi berdaya. Orang yang berkelebihan tidak menjadi sombong dan yang berkekurangan tidak mengalami perasaan minder. Pekerjaan pemberitaan injil terus dikaryakan Apolos, dari Efesus ia berangkat ke Akhaya. Pengalaman di Efesus memperkaya Apolos untuk terus bermakna setibanya di Akhaya. Ia menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang percaya di situ dan terus membantah orang Yahudi serta membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Hidup Apolos menjadi berarti karena ia rela berbagi dari apa yang ada padanya. Ia juga seorang yang membuka diri untuk belajar dari kelebihan orang lain. Ia tidak hilang keberanian dan tetap bermakna di manapun berada. Belajarlah dari Apolos untuk menjadi saksi Tuhan Yesus
Doa: Ya Tuhan, jadikanlah kami berarti bagi orang lain. Amin
Sabtu, 29 Mei 2021
bacaan : Kisah Para Rasul 23 : 1 – 11
Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." 2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. 3 Membalas itu Paulus berkata kepadanya: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku." 4 Dan orang-orang yang hadir di situ berkata: "Engkau mengejek Imam Besar Allah?" 5 Jawab Paulus: "Hai saudara-saudara, aku tidak tahu, bahwa ia adalah Imam Besar. Memang ada tertulis: Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu!" 6 Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati." 7 Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu. 8 Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. 9 Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: "Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya." 10 Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas. 11 Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."
TERUSLAH MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH
Paulus memberitakan injil di Yerusalem dan dihadapkan di hadapan mahkamah agama. Ia berbicara dengan berani sehingga imam besar Ananias menyuruh orang menampar mulutnya. Kemampuan yang dimiliki Paulus pada saat menghadapi situasi ini sangat mengagumkan. Pertama, tamparan atau kekerasan fisik yang dialaminya ditanggapi dengan hanya berkata-kata. Menampar pipi seseorang yakni memukul dengan tangan bagian luar bermakna penghinaan. Ia tidak membalas penghinaan dengan balas menghina, namun menyerahkan perlakuan keji tersebut kepada Allah yang memiliki kebebasan bertindak. Allah itulah yang dia percaya dan memanggil serta memberinya kuasa untuk menjadi seorang rasul. Kekerasan, penolakan, dan penghinaan adalah risiko yang tak dapat dihindari dalam pekerjaan pemberitaan injil. Caranya menghadapi tantangan itulah yang perlu dijadikan motivasi beriman. Kekerasan atau penghinaan dibalas dengan kebaikan dan penyerahan hidup kedapa Tuhan. Kedua, ia mampu mengalahkan orang banyak yang menentangnya hanya dengan kecakapan berbicara dan pengetahuan yang dimiliki. Seorang diri dalam kerumuhan dan hadangan orang banyak tidaklah menciutkan nyali Paulus. Kisah ini menegaskan bahwa dalam kesukaran, Roh memampukan Paulus berbicara dan memanfaatkan pengetahuan yang ada padanya. Inilah cara beriman, bila hidup diperhadapkan dengan masalah, tetaplah berserah dan mohon kuasa untuk dapat berbicara dengan baik dan mampu menggunakan pengetahuan yang ada.
Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tetap berserah dalam tangan kasih-Mu. Amin