Tema Mingguan : ” Kebesaran Allah Di Alam Semesta “
Minggu, 13 Juni 2021
bacaan : Bilangan 16 : 30 – 35
30 Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." 31 Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, 32 dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. 33 Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu. 34 Dan semua orang Israel yang di sekeliling mereka berlarian mendengar teriak mereka, sebab kata mereka: "Jangan-jangan bumi menelan kita juga!" 35 Lagi keluarlah api, berasal dari pada TUHAN, lalu memakan habis kedua ratus lima puluh orang yang mempersembahkan ukupan itu.
ORANG SOMBONG PASTI BINASA
Thomas Andrews adalah orang yang membuat kapal Titanic, kapal yang dikenal begitu fenomenal. Kapal itu dibuat dengan bahan-bahan yang berkualitas, sehingga pembuatnya merasa kapal itu akan kokoh terhadap serangan dan bahaya apapun. Merasa sukses atas hasil kerja kerasnya itu, Thomas Andrews pernah mengatakan “Kapal ini tidak akan pernah tenggelam oleh apapun, bahkan oleh Tuhan sekalipun”. Ketika melakukan perjalanan pertama kalinya, Titanic menabrak gunung es di Samudera Atlantik, dan membuatnya retak, pecah dan terbelah manjadi dua, sebelum akhirnya tenggelam. Thomas turut menjadi korban dan tenggelam bersama kapalnya itu. Merasa kuat dan membanggakan diri sendiri adalah sifat angkuh yang dimiliki oleh manusia, ketika berada pada kesuksesan atau keberhasilan. Menonjolkan diri karena sukses membuat kapal yang mewah, menjadikan Thomas Andrews “lupa diri” dan meremehkan kuasa Tuhan. Korah, Datan dan Abiram yang ingin melengserkan kepemimpinan Musa dan Harun juga melakukan pemberontakan kepada Tuhan. Bersama 250 orang mereka berdiri di depan pintu kemah pertemuan dan membawa ukupan-ukupan mereka. Tuhan murka kepada mereka dan membelah tanah dibawah mereka, sehingga menelan mereka dengan seisi rumah serta harta milik mereka. Tanah yang terbelah adalah cara Tuhan memakai alam untuk menyatakan kemahakuasaan-Nya atas sifat manusia yang memberontak kepada-Nya. Keangkuhan, kesombongan, iri hati akan membawa kebinasaan. Semua yang terlihat kuat bagi manusia, sangat tidak sebanding dengan Kuasa Kebesaran Tuhan. Oleh karena itu, jangan pernah merasa hebat dan puas dengan kekuatan sendiri sehingga mengabaikan dan meremehkan Kuasa Tuhan.
Doa : Ya Tuhan, berilah kepada kami kerendahan hati untuk memaknai kehendak-MU, Amin
Senin, 14 Juni 2021
bacaan : Yesaya 9 : 17 – 20
18 (9-17) Sebab kefasikan itu menyala seperti api yang memakan habis puteri malu dan rumput, lalu membakar belukar di hutan sehingga tonggak asap berkepul-kepul ke atas. 19 (9-18) Oleh karena murka TUHAN semesta alam, terbakarlah tanah itu, dan bangsa itu menjadi makanan api; seorangpun tidak mengasihani saudaranya. 20 (9-19) Mereka mencakup ke sebelah kanan, tetapi masih lapar, mereka memakan ke sebelah kiri, tetapi tidak kenyang, setiap orang memakan daging temannya: 21 (9-20) Manasye memakan Efraim, dan Efraim memakan Manasye, dan bersama-sama mereka melawan Yehuda. Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung.
HARGAILAH ALAM PEMBERIAN TUHAN
Kita mesti telanjang dan benar – benar bersih, suci lahirlah di dalam batin….” Sepotong syair lagu Ebet G. Ade ini mengingatkan kita untuk merenung dan memaknai berbagai musibah dan bencana yang terjadi akhir – akhir ini di Tanah Air Indonesia. Bencana non alam berupa pandemic Covid-19, gempa bumi, musibah jatuhnya Pesawat udara, badai siklon tropis, tenggelamnya Kapal Selam Nainggala 402, dan mungkin berbagai musibah dan bencana yang lain. Semuanya meninggalkan duka yang dalam dan berbagai kerugian material yang tidak sedikit. Dalam bacaan kita juga diceriterakan tentang bencana yang menimpa Suku Efraim. Sebagai salah satu suku yang besar, Efraim telah dianugerahkan berkat oleh Tuhan, sehingga dari suku ini terlahir pemimpin-pemimpin yang besar seperti: Yosua dan Raja Yerobeam I. Namun karena ketidaksetiaan dan ketidaktaatan kepada Allah, menyebabkan Efraim dihukum. “Tangan teracung” merupakan gambaran kemarahan Allah. Sebanyak 4 kali kata ini disebutkan (Yes 9:11,16,20; 10:4) yang menandakan Allah sangat marah dengan apa yang dilakukan umat-Nya. Allah menghukum mereka dengan menghanguskan tanah sehingga mereka kelaparan. Peristiwa yang dialami Suku Efraim mengingatkan kita supaya tidak terbuai dengan segala yang kita miliki, sebab berkat kehidupan, kekayaan, kesuksesan adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri. Berkat yang sama pula bukan untuk disombongkan sehingga melupakan kebaikan dan anugerah Allah, tetapi untuk dinikmati dengan syukur dan dibagikan jika berkelebihan, sebab Allah pun dapat menjadi marah karena keserakahan kita, manusia. Dan Allah menunjukan kuasa-Nya lewat alam untuk menegur kita, sehingga kita dapat menjadi manusia yang menghargai pemberian-Nya di alam semesta ini.
Doa : Ampunilah kami Tuhan, bimbinglah kami untuk selalu setia dan taat kepada-MU, Amin
Selasa, 15 Juni 2021
bacaan : Keluaran 3 : 1 – 12
Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." 5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." 6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." 11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" 12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini."
IMANUEL, ALLAH MENYERTAI KITA
Musa dipercayakan oleh Tuhan untuk membawa orang Israel keluar dari Tanah Mesir. Dalam kehidupan pribadinya yang adalah seorang gembala kambing domba, Musa merasa dia tidak mampu melakukannya. “Siapakah aku ini…?”, tanya Musa ketika Tuhan mengutusnya untuk membebaskan bangsa Israel dari Tanah Mesir. Di ayat 12 ditegaskan bahwa Tuhan Allah akan menyertai Musa untuk melakukan tugas pengutusan itu. Setiap orang percaya memiliki panggilan dan misi dari Allah. Panggilan itu dapat berupa tugas dan tanggung jawab pelayanan, tetapi juga berupa perbuatan-perbuatan baik yang mendatangkan damai sejahtera. Oleh sebab itu, jawablah panggilan dan misi dari Allah dengan hati yang beriman. Hati yang beriman akan menuntun kita untuk terus berjalan melaksanakan pengutusan-Nya. Baik di darat, laut, udara bahkan waktu pagi, siang, sore, malam, tengah malam, apapun kondisinya, Tuhan pasti tetap akan menyertai kita. Tuhan yang berkuasa atas alam dan seluruh ciptaan-Nya menyatakan kasih dan kuasa-Nya dalam menjaga dan melindungi kita. Jaminan-Nya ialah keselamatan dan sukacita. Dalam kendali dan kuasa-Nya, maka kita meyakini lautan tidak akan menenggelamkan, udara tidak akan menjatuhkan, dan darat tidak akan mencelakakan. Kita meyakini bahwa Tuhan Allah kita akan selalu menyertai kita, apapun keadaan kita. Dialah Imanuel, Allah beserta kita, dan itu terwujud lewat kehadiran Yesus, yang terus menyertai dan menyelamatkan kita, baik kemarin, hari ini dan esok. Setiap orang pasti punya pengalaman iman atas penyertaan Tuhan dalam hidupnya, syukurilah itu dan teruslah berserah hanya kedalam tuntun dan pemeliharaan-Nya.
Doa : Sertailah kami Tuhan, dan berjalanlah bersama kami. Amin.
Rabu, 16 Juni 2021
bacaan : Keluaran 17 : 1 – 7
Di Masa dan di Meriba Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu. 2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum." Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?" 3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" 4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!" 5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. 6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. 7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"
AIR YANG MEMBERI HIDUP
The National Academies of Sciences, Engineering and Medicine (Akademi Sains, Teknik dan Kedokteran Nasional, AS), menetapkan bahwa asupan cairan harian yang memadai untuk manusia adalah sekitar 15,5 gelas (3,7 liter) untuk laki-laki dan 11,5 gelas (2,7 liter) untuk perempuan. Rekomendasi ini mencakup cairan dari air, minuman lain dan makanan. Setiap manusia membutuhkan air sebagai salah satu asupan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kekurangan air maka akan mengalami dehidrasi. Kebutuhan akan air ini juga menjadi kebutuhan bangsa Israel, ketika berada di dalam perjalanan dari Padang Gurun Sin ke Rafidim. Begitu mendesaknya kebutuhan akan air ini, menyebabkan bangsa Israel pun bertengkar dengan Musa karena mereka merasa sangat haus dan kekurangan air. Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa, sehingga Musa berseru kepada Tuhan dan Tuhan menuntun mereka hingga tiba di atas gunung Batu Horeb. Musa menggunakan tongkatnya dan memukul gunung batu itu sehingga keluarlah air untuk diminum bangsa Israel. Kemahakuasaan Tuhan yang memberikan air sebagai sumber kehidupan adalah bukti nyata bahwa Kasih-Nya mengalir deras bagaikan air hidup bagi kita. Kita diajak untuk selalu bersyukur atas alam pemberian Tuhan ini yang memungkinkan kita untuk hidup didalamnya. Bersyukurlah untuk setiap musim dengan tidak bersungut-sungut. Hujan dan panas adalah cara Tuhan untuk menghidupi umat-Nya. Walau, kadang musim-musim ini juga dapat menjadi musibah. Namun dengan keyakinan iman kita harus memaknai bahwa musibah atau bencana sesunggunya adalah peringatan untuk kita, manusia agar lebih menghargai alam pemberian-Nya ini dan bertanggungjawab untuk merawatnya dengan baik
Doa : Tuhan, ajarilah kami untuk selalu bersyukur atas alam pemberian-Mu ini, Amin
Kamis, 17 Juni 2021
bacaan : Keluaran 15 : 22 – 27
Di Mara dan di Elim
22 Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. 23 Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. 24 Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" 25 Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, 26 firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau." 27 Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.
PERTOLOINGAN TUHAN SELALU TEPAT PADA WAKTUNYA
Kami tak pernah menyangka jika “mama” mesti mengalami gangguan penyakit pada kandungannya. Dari kota Ambon sampai ibukota Jakarta, kami berjuang demi kesembuhan dan pemulihan mama. Kenyataan yang kami hadapi terasa pahit. Ketakutan, kekuatiran, kebimbangan, keputusasaan dan hilangnya pengharapan seperti berjalan mendekati kami. Dan kami hanya bisa berserah dalam doa kepada Tuhan Yesus. Terkadang kami mengeluh, bersungut hadapi penanganan medis yang menurut kami lambat karena kami ingin mama segera sembuh. Kenyataan ini persis dialami bangsa Israel dalam perjalanan dari Laut Teberau ke Padang Gurun Syur yang juga diperhadapkan dengan ketersediaan air yang kurang bahkan air rasa yang pahit (Mara). Mereka tidak tahan dengan kondisi yang demikian sehingga mereka terus berteriak dan bersungut kepada Musa. Tuhan menolong mereka dan menunjukan sepotong kayu kepada Musa untuk dilemparkan ke dalam air, dan seketika itu juga air berubah menjadi manis. Pertolongan Tuhan mungkin tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak pernah terlambat, namun pertolongan-Nya tepat pada waktu-Nya. Sebagai manusia, terkadang kita menginginkan jawaban yang cepat dan sesuai dengan keinginan kita, tanpa memikirkan bahwa rancangan Tuhan pasti yang terbaik. Air yang pahit diubah menjadi manis, bukanlah sebuah kebetulan, namun itu adalah cara Tuhan membentuk orang-orang Israel agar sabar, setia, taat dan berharap selalu pada-Nya. Hal yang sama pula Tuhan inginkan supaya kita memilikinya sebagai keluarga orang-orang percaya. Percaya bahwa proses yang kita jalani, dan jawaban Allah akan membuahkan sesuatu yang manis walau awalnya pahit bagi kita.
Doa: Berilah kepada kami kesabaran untuk melihat janji manis-Mu, Tuhan. amin
Jumat, 18 Juni 2021
bacaan : Keluaran 19 : 1-13
TUHAN menampakkan diri di gunung Sinai Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga. 2 Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu. 3 Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: "Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel: 4 Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. 5 Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. 6 Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." 7 Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. 8 Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: "Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan." Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN. 9 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN. 10 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. 11 Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai. 12 Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. 13 Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu."
PERJANJIAN KASIH DENGAN TUHAN
MOU (Memorandum Of Understanding) adalah suatu bentuk perjanjian yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang dicantumkan dalam suatu dokumen formal. Perjanjian itu terkait dengan kesepakatan bersama terhadap kewajiban dan hak dari tiap pihak. Dalam perjanjian itu, kedua belah pihak diharapkan saling mendukung dan mengingatkan untuk pelaksanaan tugas tanggung jawab mereka. Dalam perjalanan keluar dari Tanah Mesir, Bangsa Israel dituntun oleh Musa ke Padang Gurun Sinai dan berkemah disitu. Musa naik ke gunung itu dan mendengar perintah Tuhan kepadanya untuk memperingatkan bangsa Israel agar berpegang teguh kepada Firman-Nya dan Perjanjian-Nya sehingga mereka akan menjadi harta kesayangan milik Tuhan. Awan yang tebal digunakan oleh Tuhan sebagai media untuk memberitakan tentang penampakan-Nya bagi bangsa Israel. Tuhan mengingatkan agar tidak seorang pun menyentuh atau mendaki Gunung Sinai saat penampakan terjadi, hal ini dimaksudkan agar bangsa Israel dapat menjaga kekudusan hidup mereka di hadapan Tuhan. Mereka boleh mendaki gunung itu jika terdengar bunyi sangkakala yang panjang. Pemeliharaan Tuhan adalah bentuk perjanjian kasih yang mendatangkan kedewasaan iman bagi setiap anak-anak-Nya. Dalam perjanjian kasih ini, Tuhan berjanji mengasihi, memelihara dan menyelamatkan umat-Nya dan kita sebagai pihak kedua pun harus berjanji untuk selalu setia, taat dan patuh terhadap perintah-Nya serta percaya dan berserah hanya kepada-Nya. Berdasarkan perjanjian kasih itu, kita pun bertanggung jawab terhadap sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan. Itulah respons iman kita kepada Allah, dan buah yang akan kita petik dari respons iman itu ialah hidup bersukacita.
Doa : Terima Kasih Tuhan atas Pemeliharaan-Mu bagi hidup kami. Amin.
Sabtu, 19 Juni 2021
bacaan : Keluaran 19 : 14 – 25
14 Lalu turunlah Musa dari gunung mendapatkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan merekapun mencuci pakaiannya. 15 Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan." 16 Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. 17 Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. 18 Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. 19 Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh. 20 Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas. 21 Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: "Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa. 22 Juga para imam yang datang mendekat kepada TUHAN haruslah menguduskan dirinya, supaya TUHAN jangan melanda mereka." 23 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Tidak akan mungkin bangsa itu mendaki gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperingatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan nyatakanlah itu kudus." 24 Lalu TUHAN berfirman kepadanya: "Pergilah, turunlah, kemudian naiklah pula, engkau beserta Harun; tetapi para imam dan rakyat tidak boleh menembus untuk mendaki menghadap TUHAN, supaya mereka jangan dilanda-Nya." 25 Lalu turunlah Musa mendapatkan bangsa itu dan menyatakan hal itu kepada mereka.
ALAM SEBAGAI BUKTI KEMAHAKUASAAN TUHAN
Kedatangan Tuhan semakin dekat dan bangsa Israel diminta untuk bersiap diri serta menjaga kekudusan hidup mereka. Guruh, kilat, awan padat dan bunyi sangkakala adalah tanda-tanda alam yang menyertai kedatangan Tuhan. Manifestasi atau wujud yang menandakan kedatangan Tuhan ini sangat mengagumkan dan memiliki beberapa tujuan, yakni: (1). Menunjukkan kekudusan, kuasa dan kemahatinggian Allah, (2). Membangkitkan Iman kepada Allah, (3). Menekankan kepada umat bahwa hukuman dan kematian akan menjadi akibat dari ketidaktaatan yang disengaja kepada Allah. Musa membawa bangsa Israel keluar untuk menjumpai Allah di Gunung Sinai, dan Allah memperingatkan agar mereka tidak melihat-Nya sebab akan binasa. Bahkan Para Imam pun haruslah hidup dalam kekudusan agar dapat melihat Allah. Mereka hanya menyaksikan kemahakuasaan Tuhan Allah lewat berbagai tanda-tanda alam. Mengalami kemahakuasaan Tuhan tidak hanya sebatas perjumpaan ritual saja, namun lewat berbagai peristiwa alam, kita juga mampu melihat akan kemahakuasaan Tuhan. Allah yang Maha Kuasa itu memberikan kenyamanan kepada kita lewat lingkungan tempat tinggal kita, ciptaan lain yang menjadi sahabat dan penyokong kebutuhan hidup serta iklim yang bersahaja untuk melakukan aktifitas. Tidak jarang juga, karena kelalaian dan keserakahan manusia, maka alam juga dapat membahayakan kehidupan kita lewat berbagai bencana. Semua itu adalah bukti kemahakuasaan Tuhan di Bumi ini dan karena itu tidak ada seorang pun manusia yang dapat melawan kemahakuasaan Tuhan lewat berbagai prediksi dan kecanggihan teknologi. Sebab kita tidak dapat melihat Tuhan jikalau tidak menjaga kekudusan hidup kita.
Doa: Kuduskanlah kehidupan kami Tuhan, agar layak melihat Kuasa dan Kebesaran-Mu. Amin.
*sumber : SHK Juni 2021, LPJ-GPM