Santapan Harian Keluarga, 20-26 Juni 2021

Tema Mingguan : ” Perbuatan Besar Allah Di Alam Semesta Tidak Tercapai Oleh Pengetahuan Manusia “

Minggu, 20 Juni 2021                                  

bacaan : Ayub  37: 1 – 24

Kemuliaan Allah di alam semesta
"Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya. 2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya. 3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi. 4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran. 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya. 8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya. 9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara. 10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku. 11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya, 12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya. 13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia. 14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. 15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? 16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, 17 hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? 18 Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? 19 Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan. 20 Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan? 21 Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca. 22 Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat. 23 Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. 24 Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya."

PERBUATAN TUHAN TIDAK TERSELAMI OLEH AKAL MANUSIA

Ingatkah kita tentang gempa bumi berkekuatan 6.8 Magnitudo yang melanda kota Ambon dan sekitarnya, pada Kamis, 26 September 2019 sampai dengan Oktober 2019 yang lalu.  Ada sebanyak 114 gempa dan 1.044 kali gempa susulan yang berpotensi tsunami. Akan tetapi grafik gempa mengalami penurunan yang signifikan, sehingga tidak berpotensi tsunami. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berkuasa dan mengendalikan alam semesta demi keberlangsungan dan kebaikan seluruh makhluk ciptaan termasuk manusia. Dalam Ayub 37: 14 “Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah”. Kalimat ini merupakan nasehat Elihu kepada Ayub setelah dia memperlihatkan segala keperkasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Bagi Elihu, semua gejala alam yang dahsyat, yang menakutkan dan yang tidak mampu dikendalikan oleh pikiran manusia merupakan tanda kebesaran dan kemuliaan Allah (ay.1-13). Allah memakai alam yang dikendalikan-Nya untuk mengajarkan manusia akan kemahakuasaan-Nya (ay.7), baik untuk menghukum dosa maupun untuk menyatakan kasih setia-Nya (ay.13). Dengan pernyataannya ini, Elihu mau mengingatkan Ayub bahwa perbuatan Allah yang ajaib ini tidak dapat dijangkau dengan pengetahuan Ayub. Karena itu Ayub harus menyadari bahwa ia tidak berhak menggugat Allah sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penderitaannya itu. Justeru, ia harus bertobat dan bersyukur bahwa Allah menyelamatkan hidupnya. Bagi kehidupan orang percaya saat ini, peristiwa-peristiwa alam (termasuk gempa bumi) mengingatkan kita bahwa Allah berkarya dan mengendalikan alam untuk keselamatan hidup manusia, karena itu mari kita bersyukur dan mengalami pertobatan hidup dengan merawat dan memelihara alam sebagai ciptaan Tuhan.

Doa:  Tuhan,  kami tahu bahwa apapun yang kami alami di bawah kolong langit ini berada dalam kendali tangan-Mu, Amin.

Senin, 21 Juni 2021                                          

bacaan : Amsal 3: 19-20

19 Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, 20 dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.

HIKMAT MELEBIHI APAPUN

Habis gelap terbitlah terang, kalimat bijak ini cocok dipakai untuk menggambarkan situasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca badai seroja menerjang daerah ini, Minggu 04 April 2021 lalu. Badai tersebut telah memporakporandakan pemukiman warga dan mengakibatkan korban jiwa. Namun, di sisi lain terjadi fenomena alam yang luar biasa, yakni munculnya pulau dan danau baru dengan sejumlah mata air baru (kurang lebih 20 mata air baru). Limpahan air yang begitu besar di kawasan tersebut patut disyukuri oleh warga setempat karena fenomena alam ini telah menjadi berkat bagi mayarakat. Berkat tersebut berupa air bersih yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari . Fenomena alam ini memang menimbulkan keheranan dan menjadi pertanyaan banyak orang: “Bagaimana mungkin daerah yang kering dan tandus di NTT, khususnya Kota Kupang bisa muncul danau baru dengan sejumlah mata air?” Secara ilmiah, dapat disimpulkan bahwa munculnya danau baru karena curah hujan yang sangat tinggi, tetapi sebagai orang beriman kita mengakuinya sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan, Sang Pencipta yang telah menciptakan alam semesta dan seluruh isinya. Hal ini juga diungkapkan oleh penulis kitab Amsal: “Dengan hikmat Tuhan meletakan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkannya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun” (ay.19-20). Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya amat sangat baik untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi ini, termasuk manusia. Karena itu, sebagai keluarga Kristen kita patut bersyukur bahwa peristiwa-peristiwa alam yang kita alami merupakan tanda kehadiran Allah untuk memelihara hidup kita.

Doa: Tuhan, kami mau bersyukur untuk alam yang Engkau ciptakan bagi keberlangsungan hidup kami, Amin.

Selasa, 22 Juni 2021                                    

bacaan : Keluaran 13: 17-22

Allah menuntun umat-Nya
17 Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir." 18 Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. 19 Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: "Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." 20 Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. 21 TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. 22 Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.

TUHAN MELINDUNGI DAN MENUNTUN HIDUP KITA DENGAN CARANYA

Saat ini seluruh penduduk dunia masih berjuang melawan pandemic covid-19 (virus corona) yang entah kapan berakhir. Kasus covid-19 di India kembali meledak (dikabarkan 200 orang meninggal setiap jam). Situasi ini sangat mengkuatirkan Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Seluruh rakyat diharapkan mentaati protokol kesehatan  (prokes) dengan baik dan tetap berdoa. Situasi penuh ancaman pernah dialami oleh bangsa Israel pada saat mereka melakukan perjalanan di padang gurun. Mereka harus berperang, dikejar musuh, kehabisan makanan dan minuman, tubuh mereka terbakar oleh sengatan matahari, mereka kedinginan di waktu malam bahkan ada yang meninggal karena tidak mampu bertahan dalam situasi tersebut. Dalam situasi tersebut, Tuhan hadir untuk melindungi dan menyelamtkan mereka. Ayat 21: “Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam”. Pada siang hari, tiang awan melindungi mereka dari sengatan matahari. Pada malam hari, tiang api menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya angin padang gurun. Tiang awan dan tiang api bukan saja fenomena alam biasa tapi merupakan tanda kehadiran Tuhan Allah untuk menuntun dan melindungi bangsa Israel. Jika dahulu Tuhan melindungi bangsa Israel, Tuhan yang sama juga masih melindungi kita sampai saat ini dari berbagai ancaman kehidupan, seperti: penyakit, bencana alam, pandemic covid 19, dan sebagainya. Namun yang perlu diingat oleh kita sebagai persekutuan keluarga adalah menyerahkan seluruh hidup kita dalam perlindungan Tuhan.

Doa: Tuhan, lindungi hidup kami dari berbagai ancaman dan ajarilah kami untuk menyerahkan segenap hidupM kepada-Mu

Rabu, 23 Juni  2021                                   

bacaan : Keluaran 16: 13-21

13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu. 14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. 15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. 16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." 17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. 18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. 19 Musa berkata kepada mereka: "Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi." 20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka. 21 Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya; tetapi ketika matahari panas, cairlah itu.

CUKUPKANLAH HIDUPMU DENGAN BERKAT TUHAN

Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia tetapi tidak cukup untuk mencukupi satu orang tamak atau serakah”, (Mahatma Gandhi). Apa yang dikatakan Gandhi mengandung makna penting agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki karena Tuhan telah menyediakan segalanya dengan baik dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia di bumi ini. Betapa seringnya kita merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Sifat seperti ini juga diperlihatkan oleh bangsa Israel di padang gurun, mereka lupa tentang kebaikan Tuhan dan terus saja bersungut-sungut (ay.3). Maka Tuhan memberikan manna dan burung puyuh menjadi makanan mereka supaya mereka tidak lupa bahwa Tuhan mengasihi mereka (ay.12). Akan tetapi ada diantara mereka yang serakah, dan mengambil lebih banyak untuk diri sendiri (ay.17). Tuhan melalui Musa memberi perintah kepada bangsa Israel agar mereka mengambil secukupnya saja, sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang (ay.16). Perintah Tuhan ini bermaksud untuk memperingatkan mereka agar tidak serakah, tetapi tahu bersyukur atas berkat yang mereka terima. Karena keserakahan dapat merugikan diri sendiri dan membunuh makhluk hidup lainnya (ay.20-21). Bacaan ini memberikan pelajaran bagi kita dalam rangka memperingati bulan lingkungan hidup, kita diingatkan untuk menjaga dan merawat alam ini dengan baik bagi kelangsungan hidup kita. Jangan merusak alam dengan mengambil sebanyak-banyaknya (eksploitasi) untuk kepentingan diri sendiri. Jika alam menjadi rusak dapat membawa bencana bagi manusia. Ingat, alam bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Doa : Tuhan, ajarlah kami untuk bersyukur dengan rasa cukup, Amin.

Kamis, 24 Juni 2021                                 

bacaan : Keluaran 16 : 22 – 31

22 Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa. 23 Lalu berkatalah Musa kepada mereka: "Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi." 24 Mereka membiarkannya di tempatnya sampai keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Musa; lalu tidaklah berbau busuk dan tidak ada ulat di dalamnya. 25 Selanjutnya kata Musa: "Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah sabat untuk TUHAN, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang. 26 Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu." 27 Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya. 28 Sebab itu TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku? 29 Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu." 30 Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh. 31 Umat Israel menyebutkan namanya: manna; warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu.

SABAT UNTUK TUHAN, MANUSIA DAN ALAM

Kata kunci pada bacaan ini adalah Sabat. Apa itu sabat? Dalam kamus Alkitab, sabat berarti penghentian (kerja). Hari perhentian kerja yang sangat penting bagi kehidupan orang Israel, didasarkan oleh perhentian kerja Allah sendiri dalam karya “Penciptaan” (Kej.2:1-3). Sabat juga merupakan hari dimana umat pergi ke Bait Allah untuk beribadah (Yes.1:13). Di kemudian hari umat Kristen beristirahat di hari Minggu sebagai hari Tuhan. Jadi, sabat sebenarnya mengandung pengertian waktu dimana  manusia beristirahat, berhenti melakukan pekerjaan mengelola dan mengambil isi bumi dan beribadah, membangun hubungan dengan Allah. Dalam bacaan ini, Musa dengan tegas berbicara tentang sabat sebagai hari perhentian penuh bagi Tuhan (ay.23). Bangsa Israel dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun termasuk pekerjaan di ladang.(ay.25). Hal ini berguna untuk menjaga kesuburan tanah. Jika tanah menjadi subur maka akan memberikan hasil yang berlimpah-limpah untuk dinikmati oleh manusia. Hal terpenting yang dapat dipelajari oleh orang percaya, yakni Pertama, kuduskanlah hari sabat untuk beribadah kepada Tuhan. Selama enam hari Tuhan mengijinkan kita untuk bekerja dan memperoleh berkat-Nya, maka sepatutnyalah kita bersyukur kepada Tuhan. Saat ini, orang Kristen sulit menyediakan waktu untuk Tuhan karena ibadah tidak dianggap penting (prioritas). Yang terpikir hanyalah kerja, kerja dan kerja. Seolah-olah ibadah merupakan pemborosan waktu padahal waktu adalah anugerah Tuhan. Kedua, sabat berhubungan dengan tanggungjawab manusia terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan. Untuk itu, jangan merusak dan mengeksploitasi alam untuk kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, mari kita jaga, rawat dan lindungi alam untuk hidup kita bersama.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk menghargai waktu pemberian-Mu, Amin.

Jumat, 25 Juni 2021                                

bacaan : Keluaran 16: 32-36

32 Musa berkata: "Beginilah perintah TUHAN: Ambillah segomer penuh untuk disimpan turun-temurun, supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu makan di padang gurun, ketika Aku membawa kamu keluar dari tanah Mesir." 33 Sebab itu Musa berkata kepada Harun: "Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu di hadapan TUHAN untuk disimpan turun-temurun." 34 Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan tabut hukum Allah untuk disimpan. 35 Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan. 36 Adapun segomer ialah sepersepuluh efa.

JANGAN MELUPAKAN KEBAIKAN TUHAN

Setiap orang atau kelompok pasti mempunyai kenangan masa lalu, baik yang buruk maupun yang indah. Bagi banyak orang, mereka ingin melupakan kenangan buruk dan menyedihkan,  tetapi sebaliknya kenangan yang indah ingin terus diingat. Salah seorang tokoh, mengatakan: “Kenangan perlu ada dalam hidup agar seseorang memiliki hidup dan masa depan yang jauh lebih baik serta menjadi warisan ingatan kepada anak-cucu (keturunan)”. Demikian pula dengan bangsa Israel, mereka memiliki kenangan yang pahit maupun yang manis selama perjalanan mereka dari Mesir menuju tanah Kanaan. Mereka mengalami perbudakan di Mesir, dikejar-kejar oleh musuh, kehabisan makanan, mengalami kedinginan karena cuaca gurun, kelelahan dan kematian karena perjalanan panjang selama 40 tahun di gurun. Namun, Tuhan mengasihi mereka. Ia menjaga dan melindungi mereka, ia memberi mereka makan roti, burung puyuh dan manna. Perbuatan baik Allah ini mesti dikenang oleh bangsa Israel dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, Musa memberikan perintah untuk mengambil manna dan menyimpannya di Bait Allah supaya menjadi kenangan dan peringatan bagi ke- turunan Israel (ay.32),  bahwa Allah mengasihi dan memberkati nenek moyang mereka dengan memberi mereka makan manna untuk menopang perjalanan pengembaraan di padang gurun (band. Ay.15-16). Maknanya bagi kita saat ini, bahwa perjalanan hidup kita juga memiliki kenangan yang pahit maupun manis (ada sukses ada gagal). Akan tetapi Tuhan tidak meninggalkan kita sendiri. Ia senantiasa menuntun, membimbing dan memberkati kita. Oleh karena itu kebaikan Tuhan jangan dilupakan, melainkan diajarkan berulang-ulang kepada anak-cucu kita supaya mereka pun mengingat kebaikan Tuhan dan senantiasa bersyukur.

Doa : Bapa, kami bersyukur kepada-Mu atas segala penyertaan dan perlindungan disepanjang hidup kami, Amin

 Sabtu, 26 Juni 2021                                           

bacaan : Ibrani 11: 1-3

Yesus lebih tinggi dari Musa
Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, 2 yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya. 3 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya.

DENGAN IMAN KITA MENGERTI

Kitab Ibrani ditulis oleh Paulus kepada orang-orang Kristen asal Yahudi yang sedang mengalami penganiayaan karena imannya kepada Kristus. Penganiayaan tersebut mengakibatkan ada diantara mereka yang menjadi murtad, kembali kepada kepercayaan semula. Menghadapi situasi ini, Paulus menasehati mereka untuk tetap mempertahankan iman atau kepercayaan mereka kepada Kristus hingga pada kesudahannya, terus memperlihatkan kedewasaan rohani dan tidak kembali kepada kehidupan lama yang berada dibawah penghakiman dengan cara meninggalkan kepercayaan kepada Yesus Kristus. Paulus mengatakan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (ay.1). Dasar inilah yang menjadikan orang Kristen percaya pada kuasa Allah dan mengakui bahwa alam semesta dengan segala isinya dijadikan oleh Firman Allah walaupun kita tidak melihatnya (ay.3). Alam semesta diciptakan oleh Tuhan Allah sangat baik, untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk termasuk manusia. Tetapi manusia dengan serakah dan egonya telah merusak ciptaan Tuhan ini dan akibatnya terjadi pemanasan global yang berdampak bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Misalnya: cuaca yang tidak teratur (cuaca ekstrim), kekeringan panjang yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan, gagal panen, munculnya berbagai penyakit, dan sebagainya. Nilainya bagi kita adalah beriman kepada Tuhan Yesus hendaknya diwujudkan dalam sikap hidup menjaga, memelihara dan merawat alam demi kelangsungan hidup kita dan anak-cucu kita ke depan. Ingatlah kata bijak: “Merawat lingkungan hari ini untuk kehidupan yang lebih baik di hari esok”.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami mengaktakan iman kepada-Mu dengan cara memelihara dan merawat alam ciptaan-Mu, Amin.

         *sumber : SHK Juni 2021, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar