Santapan Harian Keluarga, 27 Juni – 3 Juli 2021

Tema Mingguan : “Hiduplah Dengan Bekerja Keras Dan Hati Nurani Yang Taat Kepada Allah”

Minggu, 27 Juni 2021                                

bacaan : Kejadian 3 : 1 – 19

Manusia jatuh ke dalam dosa
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" 2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." 4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." 6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. 7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. 8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" 10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." 11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" 12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." 13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." 14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." 16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." 17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; 19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

HIDUPLAH DENGAN BEKERJA DAN HATI YANG TAAT KEPADA ALLAH

Hidup dan kerja merupakan dua kata yang saling berkaitan, tidak bisa dilepas-pisahkan. Tidak ada orang hidup yang tidak bekerja, begitu pun juga tidak ada pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang tidak hidup. Hal ini mengandung pengertian bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang diisi dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berguna untuk hidup itu sendiri. Begitu pun juga, kerja yang bermakna adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan hidup itu sendiri menjadi bermakna. Dalam paham yang demikian itulah, kerja harus dimaknai sebagai suatu aktivitas yang dilakukan oleh manusia demi melaksanakan amanat Tuhan, yaitu bekerja.

Bacaan Alkitab hari ini, khususnya ayat 19 memberikan penekanan yang sangat jelas bahwa untuk menjadikan hidup itu bermakna (yakni bisa makan, dll), setiap orang harus bekerja (istilah yang digunakan dalam ayat 19 yaitu berpeluh). Berpeluh pertanda harus ada keringat yang keluar, dan biasanya keringat itu dapat keluar dari tubuh seseorang jika ia melakukan suatu pakerjaan. Dalam konteks bacaan Alkitab ini, setiap orang harus memahami kerja itu merupakan suatu amanat Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya. Karena itu, dalam melakukan pekerjaan dibutuhkan sikap taat dengan hati nurani yang murni. Ketaatan tersebut bukanlah merupakan sikap ketertundukan kepada manusia, melainkan kepada Tuhan yang memberikan pekerjaan tersebut kepada manusia.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk taat melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan ini. Amin.

Senin, 28 Juni 2021                               

bacaan : Kejadian 30 : 25 – 36

Yakub memperoleh ternak
25 Setelah Rahel melahirkan Yusuf, berkatalah Yakub kepada Laban: "Izinkanlah aku pergi, supaya aku pulang ke tempat kelahiranku dan ke negeriku. 26 Berikanlah isteri-isteriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu, supaya aku pulang, sebab engkau tahu, betapa keras aku bekerja padamu." 27 Tetapi Laban berkata kepadanya: "Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau." 28 Lagi katanya: "Tentukanlah upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya." 29 Sahut Yakub kepadanya: "Engkau sendiri tahu, bagaimana aku bekerja padamu, dan bagaimana keadaan ternakmu dalam penjagaanku, 30 sebab harta milikmu tidak begitu banyak sebelum aku datang, tetapi sekarang telah berkembang dengan sangat, dan TUHAN telah memberkati engkau sejak aku berada di sini; jadi, bilakah dapat aku bekerja untuk rumah tanggaku sendiri?" 31 Kata Laban: "Apakah yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab Yakub: "Tidak usah kauberikan apa-apa kepadaku; aku mau lagi menggembalakan kambing dombamu dan menjaganya, asal engkau mengizinkan hal ini kepadaku: 32 Hari ini aku akan lewat dari tengah-tengah segala kambing dombamu dan akan mengasingkan dari situ setiap binatang yang berbintik-bintik dan berbelang-belang; segala domba yang hitam dan segala kambing yang berbelang-belang dan berbintik-bintik, itulah upahku. 33 Dan kejujuranku akan terbukti di kemudian hari, apabila engkau datang memeriksa upahku: Segala yang tidak berbintik-bintik atau berbelang-belang di antara kambing-kambing dan yang tidak hitam di antara domba-domba, anggaplah itu tercuri olehku." 34 Kemudian kata Laban: "Baik, jadilah seperti perkataanmu itu." 35 Lalu diasingkannyalah pada hari itu kambing-kambing jantan yang bercoreng-coreng dan berbelang-belang dan segala kambing yang berbintik-bintik dan berbelang-belang, segala yang ada warna putih pada badannya, serta segala yang hitam di antara domba-domba, dan diserahkannyalah semuanya itu kepada anak-anaknya untuk dijaga. 36 Kemudian Laban menentukan jarak tiga hari perjalanan jauhnya antara dia dan Yakub, maka tetaplah Yakub menggembalakan kambing domba yang tinggal itu.

BEKERJALAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN TAAT

Semua orang memahami bahwa kerja itu selalu berkaitan dengan upah atau gaji. Karena itu, jika seseorang selesai melakukan pekerjaan, selalu saja yang ditanyakan kepada orang yang memberikan pekerjaan itu adalah upahnya. Itulah yang ditanyakan Yakub kepada Laban, setelah Yakub melakukan pekerjaan yang diberikan Laban kepadanya. Yang menarik dari bacaan Alkitab ini, adalah, Laban tidak langsung memberikan upah kepada Yakub melainkan menyampaikan penilaiannya terhadap kerja Yakub dengan melihat hasil kerjanya. Dalam hal ini Laban menghargai pekerjaan Yakub, dan ternyata pekerjaan Yakub membawa perubahan terhadap kehidupan Laban, yaitu ternak – ternaknya bertambah banyak. Perubahan itu terjadi karena kehadiran Yakub di tengah kehidupan Laban, disertai kerja keras dengan hati nurani yang taat kepada Allah, dalam melaksanakan amanat yang diberikan Laban, dan Laban merasa terberkati melalui kerja keras Yakub. Kisah kerja keras Yakub dengan hati nurani yang taat, semestinya menjadi inspirasi bagi orang – orang Kristen, agar dalam melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan, janganlah berorientasi hanya pada upah. Lakukanlah setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada masing-masing orang, dengan sungguh – sungguh, agar kita dapat melakukan pekerjaan itu dengan baik dan sampai tuntas, sehingga memberikan hasil yang bermakna. Percayalah bahwa Tuhan Allah akan melimpahkan berkat bagi setiap orang yang melakukan pekerjaan dan tanggungjawabnya dengan sungguh – sungguh dan penuh ketaatan. Itulah sejatinya suatu pekerjaan.

Doa: Ya Tuhan, berkatilah setiap pekerjaan yang kami lakukan. Amin.

Selasa, 29 Juni 2021                                    

bacaan : Kejadian 41: 46 – 57 

46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, 48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. 49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. 50 Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. 51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." 52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku." 53 Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, 54 mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. 55 Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu." 56 Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. 57 Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi.

BEKERJALAH HARI INI UNTUK HARI ESOK

Kita yang hidup hari ini tidaklah hidup untuk hari ini, melainkan hidup untuk hari esok dan masa depan. Karena itu, setiap orang dalam hidupnya haruslah mampu berpikir bagaimana ia harus hidup di hari ini demi kehidupan yang akan datang. Dengan berpikir demikian, orang tersebut akan bekerja dan melakukan sesuatu di hari ini untuk masa depannya.

Bacaan Alkitab kita menjelaskan, bagaimana Yusuf sebagai orang kepercayaan Firaun berpikir dan bertindak di hari ini untuk kehidupan banyak orang di masa depan. Dikatakan bahwa untuk menyikapi ancaman bahaya kelaparan yang akan terjadi di musim kering, maka hasil panen tujuh tahun kelimpahan tidak dihambur-hamburkan, melainkan disimpan untuk kepentingan masa depan, ketika masa itu tiba. Dalam hal ini, cara kerja Yusuf harus dipahami sebagai upaya untuk memanfaatkan berkat Tuhan di masa kelimpahan dengan sebaik – baiknya dan tidak menghambur – hamburkannya untuk hal-hal yang tidak penting. Yusuf bekerja tidak hanya untuk hari ini, tidak juga untuk dirinya sendiri,  melainkan ia menyediakan persiapan makanan bagi bangsa Mesir dan juga bangsa – bangsa lain yang terdampak bahaya kelaparan di masa mendatang. Itulah kerja yang diberkati oleh Tuhan, yakni tidak berpikir dan melakukan pekerjaan untuk diri sendiri dan mencukupkan kebutuhan hari ini saja, melainkan juga kebutuhan di masa mendatang.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk bekerja bukan untuk hari ini dan diri sendiri, melainkan untuk hari esok dan banyak orang, Amin.

Rabu, 30 Juni 2021                                          

bacaan : Ruth 2 : 1 – 3

Rut bertemu dengan Boas
Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku." 3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.

KERJA ADALAH TANGGUNGJAWAB UNTUK HIDUP

“Bekerja” dalam pemahaman iman Kristen adalah panggilan untuk memperjuangkan hidup. Sejak manusia diciptakan, Tuhan Allah telah memberi tanggungjawab untuk bekerja agar dapat menikmati berkat Tuhan. Namun demikian, ada kecendrungan manusia yang ingin menikmati hidup tanpa mau bekerja. Ada yang hanya menadahkan tangan dengan berbagai modus penipuan, berlaku curang dan ada yang suka mencuri dengan berbagai cara. Dalam bacaan kita, dikisahkan tentang Rut yang ditinggal mati oleh suaminya, disuruh pulang oleh mertuanya Naomi, namun ia bertekad untuk terus menjalani hidupnya bersama mertuanya. Rut sadar bahwa hidup yang akan ia jalani tidak mudah, namun ia tetap bertahan untuk menjalaninya. Rut percaya bahwa Tuhan Allah memberikan dua tangan dan dua kakinya untuk bekerja dan dengan bekerja ia akan hidup bersama mertuanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Rut tidak meminta belas kasihan  Naomi dan Boas untuk memberinya makan, melainkan memberikan baginya pekerjaan. Rut sadar bahwa untuk mendapatkan makanan, ia harus bekerja dengan tangannya sendiri. Rut tidak ingin menadahkan tangan tanpa bekerja, apalagi mendapatkan makanan dengan cara yang tidak benar. Naomi dan Boas sangat menghargai sikap Rut dan membiarkannya bekerja bersama para pengerja di ladang jelai milik Boas. Cerita Rut ini memberi pesan kapada kita bahwa bekerja adalah tanggungjawab yang diberikan oleh Allah. Memang harus diakui bahwa saat ini kita menghadapi berbagai kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, namun bekerja untuk mendapatkan berkat Tuhan bukanlah hal yang tidak mungkin. Tuhan berjanji akan memberkati setiap keringat yang menetes dan itu tidak akan sia –sia.

Doa: Ya Tuhan, berilah kesempatan bagi kami untuk bekerja agar kami dapat menikmati berkat-Mu, Amin

Kamis, 01 Juli 2021                                          

bacaan : Efesus 4 : 28 

28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

JANGAN MENCURI, BEKERJALAH DENGAN TANGAN SENDIRI

Dalam nasehatnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus mengingatkan mereka agar tetap menjaga sikap dan perilaku hidup sebagai manusia baru, yaitu meninggalkan semua kebiasaan atau perbuatan lama yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Salah satu sikap hidup yang benar sebagai manusia baru, yaitu bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik. Hal ini menghindarkan orang dari sikap malas, masa bodoh dan akhirnya mencuri. Memang mencuri adalah perbuatan tercela, apapun alasannya. Ada banyak alasan, mengapa orang suka mencuri, dan salah satunya adalah karena kebutuhan hidup yang mendesak. Namun dalam nasehat rasul Paulus, ia mengingatkan jemaat di Efesus untuk jangan mencuri, tetapi sebaliknya bekerja keras dengan tangan sendiri, supaya mereka dapat mencukupkan kebutuhan hidup mereka, bahkan mereka juga dapat berbagi dengan orang yang berkekurangan. Hidup berbagi adalah sikap iman untuk membantu orang yang berkekurangan agar mereka juga tidak mencuri. Sebagai orang percaya, setiap orang harus meyakini bahwa Tuhan Allah adalah sumber berkat, dan Ia akan memberkati setiap jerih lelah orang – orang yang bekerja dengan tangannya sendiri. Tuhan Allah juga akan memberkati setiap orang yang mensyukuri berkat Tuhan dengan hidup berbagi. Saat ini ada orang yang tidak mau bekerja tetapi mau hidup senang, dan jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pasti ia akan mencuri. Tetapi sebaliknya ada orang yang bekerja dengan sungguh – sungguh dan menikmati berkatnya dengan rasa syukur bahkan bersedia berbagi dengan sesamanya, walaupun hasil yang ia peroleh tidak seberapa dan sikap inilah yang dikehendaki oleh Allah. Percayalah bahwa setiap orang yang bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik, ia tidak akan berkekurangan.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik, amin

Jumat, 02 Juli 2021                                  

bacaan : 2 Tesalonika 3 : 6 – 15

6 Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. 7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, 8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. 9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. 10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. 13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik. 14 Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, 15 tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.

BEKERJALAH, JANGAN MAKAN DARI KERINGAT ORANG LAIN

“Bekerja s’lama siang, tatkala fajar trang. Janganlah tidur diam lalai waktu s’nang. Lihatlah matahari tak sua b’rentilah, ya dari pagi hari, hingga malamlah”, lirik lagu Dua Dahabat Lama, nomor 207 ini, mengajak kita untuk rajin bekerja dengan meneladani matahari, yang bekerja dengan setia untuk menerangi bumi, sejak terbit di pagi hari, sampai terbenam di sore hari. Nasehat untuk rajin bekerja juga menjadi penekanan rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Nasehat ini disampaikan oleh Paulus untuk mengajak jemaat hidup dalam kekudusan dan rajin bekerja sambil menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Paulus mengajak jemaat untuk menjauhkan diri dari orang malas dan tidak mengikuti jejak mereka. Paulus bahkan menegaskan bahwa:  “…jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (ay.10.b). Paulus tidak asal bicara, tetapi dia malah menunjukkan teladan dengan bekerja keras dan tidak mau menjadi beban dari orang lain atau makan dari keringat orang lain. Sebagai orang percaya, kita pun harus memahami bahwa bekerja tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup, walapun untuk menafkahi hidup keluarga orang harus bekerja. Bekerja adalah suatu panggilan iman yang harus diwujudkan dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Bekerja yang dimaksudkan adalah melakukan pekerjaan – pekerjaan yang baik dan benar. Dalam kenyataannya ada orang yang malas dan tidak mau bekerja, tetapi ingin menikmati hidup yang enak. Orang seperti ini cenderung untuk memanfaatkan orang lain bagi kepentingan dirinya, seperti suka mencuri, menipu, dan bersenang – senang diatas penderitaan orang lain. Sesungguhnya tidak dapat dibenarkan, jika ada orang yang mengatakan ‘tidak ada pekerjaan’ atau ‘belum dapat kerja’, tetapi hendaklah semua potensi dalam diri kita diberdayakan untuk bekerja.

Doa : Tuhan, ajar kami agar tidak makan dari keringat orang lain. Amin.   

Sabtu, 03 Juli 2021                                    

bacaan : Pengkhotbah 9 : 10

10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

BEKERJA SELAGI ADA WAKTU

“Jangan tunda sampai besok, apa yang dapat dikerjakan hari ini”, suatu pepatah tua yang mengingatkan kita agar tidak menunda – nunda mengerjakan suatu pekerjaan. Hal ini penting, sebab pasti ada pekerjaan lain yang harus kita lakukan di hari esok.  Nasehat ini disampaikan oleh raja Salomo kepada umat Israel untuk menyadarkan mereka bahwa ‘hidup manusia di dunia ini adalah kesempatan’: “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal……” (Pengh.3:2a), oleh sebab itu, kesempatan untuk hidup harus digunakan dengan sebaik – baiknya. Pengkhotbah 9:10 katakan: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga……,” hal ini berarti jika ada kesempatan untuk bekerja, bekerjalah dengan sungguh – sungguh. Salomo hendak mengatakan bahwa apa yang bisa dikerjakan, selagi masih ada waktu, selagi masih kuat, selagi masih sehat. Seringkali orang mengabaikan kesempatan untuk bekerja, dan waktu pemberian Tuhan digunakan untuk bersenang – senang, untuk jalan – jalan dan bersantai, tetapi ada juga orang yang menggunakan waktu untuk melakukan pekerjaan yang merugikan sesama dan menyakiti hati Tuhan. Gaya hidup seperti ini akan merugikan sesama dan diri sendiri. Padahal kita semua tau bahwa kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita hanyalah sementara. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi dengan kita di hari esok, karena itu selagi masih ada kesempatan di hari ini, selagi masih kuat dan sehat, lakukanlah pekerjaan – pekerjaan yang baik, benar, adil dan berguna bagi banyak orang dan untuk kemuliaan Tuhan.

Doa : Tuhan, ajarlah kami untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk bekerja dan menjadi berkat bagi banyak orang, Amin. 

*sumber : SHK bulan Juni-Juli 2021, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar