Tema Mingguan : “Gereja Dipanggil dan Diutus Tuhan di Tengah Masyarakat”
Minggu, 04 Juli 2021
bacaan : 1 Petrus 2 : 1 – 10
Yesus Kristus batu penjuru Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. 4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. 6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. 9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
KITA DIPANGGIL DAN DIUTUS TUHAN
Siapapun diantara kita sebagai orang – orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, akan mengakui bahwa, kita adalah orang – orang yang dipilih, dipanggil untuk diselamatkan oleh Yesus Kristus lewat pengorbanan-nya di Tiang Kayu Salib. Kita dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi Kristus di tengah – tengah dunia ini. Nasehat ini disampaikan oleh Rasul Petrus menguatkan jemaat – jemaat di Asia Kecil, yang pada waktu itu sementara mengalami penganiayaan karena iman dan percaya mereka kepada Yesus. Petrus menyebut mereka sebagai umat pilihan Allah, yaitu umat yang perilaku hidupnya harus berbeda dengan orang – orang yang tidak percaya kepada Yesus. Karena itu, mereka harus menanggalkan semua gaya hidup mereka yang lama, seperti: kejahatan, tipu muslihat, kedengkian dan fitnah. Mereka harus berbalik kepada Yesus dan mengubah gaya hidup mereka menjadi baru. Orang percaya yang dipanggil, hidupnya akan dibarui dan di utus untuk menjadi saksi di mana saja ia berada dan beraktifitas. Petrus menyebut orang percaya yang diutus menjadi saksi ibarat batu – batu yang hidup, yang dipergunakan untuk pembangunan suatu rumah rohani yaitu persekutuan umat sebagai Tubuh Kristus. Kita adalah batu – batu yang hidup, yang dipilih dan diutus oleh Allah untuk menjadi saksi Kristus. Banyak orang akan percaya kepada Yesus, jika kita menampakkan gaya hidup yang penuh kasih, dan menjaga persekutuan sebagai Tubuh Kristus. Karena itu jadikanlah Batu Penjuru yaitu Yesus Kristus Tuhan kita sebagai dasar bangunan yang kokoh, yang diatasnya kita semua bertumpu untuk menjadi bangunan rohani, yaitu persekutuan umat yang kokoh.
Doa : Tuhan, inilah kami, utuslah kami untuk menjadi Saksi-Mu, Amin.
Senin, 05 Juli 2021
bacaan : Bilangan 16 : 23 – 29
23 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 24 "Katakanlah kepada umat itu: Pergilah dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram." 25 Lalu pergilah Musa kepada Datan dan Abiram, dan para tua-tua Israel mengikuti dia. 26 Berkatalah ia kepada umat itu: "Baiklah kamu menjauh dari kemah orang-orang fasik ini dan janganlah kamu kena kepada sesuatu apapun dari kepunyaan mereka, supaya kamu jangan mati lenyap oleh karena segala dosa mereka." 27 Maka pergilah mereka dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram. Keluarlah Datan dan Abiram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama-sama dengan isterinya, para anaknya dan anak-anak yang kecil. 28 Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: 29 jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN.
MENDENGAR DAN MELAKUKAN PERINTAH ALLAH
Merasa kuat dan membanggakan diri sendiri adalah sifat angkuh yang dimiliki oleh manusia, ketika berada pada kesuksesan atau keberhasilan. Mereka tidak lagi mendengar dan melakukan perintah Allah, tetapi mengikuti kehendak diri sendiri. Hal ini terjadi dalam bacaan kita, Bilangan 16, yang menceriterakan tentang pemberontakan Korah, Datan dan Abiram yang ingin mengambil alih kepemimpinan Musa dan Harun, yang dipercayakan oleh Tuhan untuk memimpin bangsa Israel dalam perjalanan menuju tanah Kanaan. Mereka bukan saja memberontak kepada Musa tetapi justru mereka tidak mendengar dan melakukan perintah Tuhan. Akhirnya Korah, Datan dan Abiram dihukum oleh Allah. Disisi lain, ketika Korah, Datan dan Abiram dihukum, Allah berfirman kepada Musa agar ia memerintahkan seluruh umat Israel menyingkir dari tempat kediaman ketiga orang itu agar mereka tidak kena bencana. Akhirnya Umat Israel yang mendengar dan melakukan perintah Tuhan, selamat dari bencana yang menimpa Korah, Datan dan Abiram. Keangkuhan, kesombongan, iri hati akan membawa kebinasaan, namun kerendahan hati untuk mendengar dan melakukan perintah Allah akan membawa selamat. Oleh karena itu, jangan pernah merasa hebat dan puas dengan kekuatan sendiri sehingga mengabaikan dan meremehkan Kuasa Tuhan. Seringkali kita diperhadapkan dengan berbagai persoalan yang mengharuskan kita untuk bersikap, apakah kita akan mendengar dan melakukan perintah Tuhan ataukah mengikuti keinginan diri sendiri dan memberontak kepada Allah. Sebagai orang percaya, hendaklah kita menghadapi setiap persoalan dengan berserah di dalam doa kepada Allah. Berilah diri dituntun oleh Roh Kudus agar kita dapat mendengar dan melakukan perintah Tuhan, sebab itulah yang menyelamatkan.
Doa : Tuhan, ajarlah kami mendengar dan melakukan perintah-Mu, Amin.
Selasa, 06 Juli 2021
bacaan : 2 Samuel 5 : 1 – 4
Daud menjadi raja atas seluruh Israel Lalu datanglah segala suku Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. 2 Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel." 3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel. 4 Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah
DIPANGGIL DAN DIUTUS UNTUK MENGGEMBALAKAN
Menjadi gembala adalah panggilan untuk melayani. Panggilan ini dipercayakan kepada semua orang, baik sebagai orang tua di keluarga, maupun sebagai pemimpin dalam setiap persekutuan dan pekerjaan. Tugas seorang gembala adalah melayani, mengasuh, membimbing, menolong, dan mengayomi. Gembala tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan keselamatan orang yang dipimpinnya. Seorang gembala dapat diteladani, jika tanggungjawabnya dapat dikerjakan dengan baik. Dalam bacaan kita, dikisahkan bahwa ketika raja Saul mati, maka segala suku Israel datang menjumpai Daud di Hebron dan meminta Daud untuk menjadi pemimpin mereka. Mereka mengingatkan Daud tentang firman Tuhan kepada Daud : “…….engkaulah yang yang harus menggembalakan umat-Ku Israel dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel”. Datanglah juga tua – tua Israel ke Hebron dan mereka mengurapi Daud menjadi Raja atas Israel. Tanggungjawab Daud yang utama adalah menggembalakan umat Israel. Seorang gembala adalah pemimpin namun seorang pemimpin belum tentu menjadi gembala. Daud diharapkan menjadi pemimpin yang menggembalakan, dan itu dikerjakan oleh Daud dengan penuh rasa tanggungjawab. Sebagai orang percaya, ketika dipercayakan untuk menjadi pemimpin, baik dalam kehidupan keluarga, dan berbagai persekutuan maupun dalam kehidupan gereja dan masyarakat, hendaklah ia menjadi seorang gembala yang dipanggil dan diutus untuk membimbing, mengasuh, menolong, menuntun, membalut yang terluka. Ia tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan kepentingan bersama. Hanya dengan demikian, ia mendatangkan kesejahteraan bersama bagi banyak orang yang dipimpinnya.
Doa : Tuhan, jika Engkau percayakan kami menjadi seorang pemimpin, jadikanlah kami sebagai gembala, Amin.
Rabu, 07 Juli 2021
bacaan : Yesaya 6 : 8 – 10
8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" 9 Kemudian firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! 10 Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh."
MELAYANI DEMI PERTOBATAN DAN PENYELAMATAN DARI TUHAN
Tuhan tidak menghendaki agar manusia hidup di tengah berbagai kejahatan. Sebab dampak berbagai kejahatan manusia ialah penderitaan hidup manusia dan makhluk-makhluk lain. Karena itu Tuhan mengutus orang-orang pilihan-Nya untuk menyampaikan apa kehendak-Nya kepada masyarakat/umat di mana orang percaya itu berada agar bertobat dan diselamatkan oleh Tuhan. Yesaya dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kehendak-Nya bagi umat Israel, yang pada waktu itu setia beribadah kepada Tuhan, tetapi perilakunya di tengah masyarakat adalah jahat, mereka menindas orang-orang yang lemah Jadi, di gereja alim, dimasyarakat lalim. Itulah situasi orang percaya saat ini, rajin beribadah tetapi tidak melaksanakan firman Tuhan yang didengar dalam kehidupan bersama dengan orang lain di tengah masyarakat. Sikap saling menindas dan meremehkan masih dengan sadar dilakukan oleh kita. Tanpa disadari, kebanyakan perilaku kita turut merusak kehidupan bermasyarakat. Jika ini masih terus terjadi, maka sebenarnya kita tidak memenuhi panggilan dan pengutusan Tuhan bagi kita. Firman Tuhan katakan, setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotong.! Karena itu, berubahlah sekarang juga.. ! Katakan kepada Tuhan :”Inilah aku, utuslah aku!”. Nyatakanlah dengan berani kehendak Tuhan ditengah masyarakat, baik siang maupun malam, dalam susah maupun senang, dalam setiap peran dan tanggujawab yang dimiliki. Supaya terjadi pertobatan dan penyelamatan Tuhan di tengah masyarakat dan kehidupan bersama adalah kehidupan yang mengalami damai sejahtera yang berasal dari Tuhan.
Doa: Ya, Tuhan, inilah aku, utuslah aku. Amin.
Kamis, 08 Juli 2021
bacaan : Yehezkiel 2 : 1 – 7
Panggilan Yehezkiel Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau." 2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku. 3 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga. 4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. 5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak--sebab mereka adalah kaum pemberontak--mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. 6 Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak. 7 Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.
JANGAN TAKUT, BERITAKAN FIRMANKU KEPADA SEMUA ORANG
Manakah yang sangat berbahaya : tahu tapi pura-pura tidak tahu dan karena itu tidak melakukannya ataukah tidak tahu dan karena itu tidak melakukannya? Tentu saja yang berbahaya adalah yang tahu tapi tidak melakukannya. Israel memiliki sikap tersebut. Terlalu banyak kebaikan Allah yang mereka alami. Terlalu sering mereka mendengarkan Firman Allah melalui para utusan Allah, mulai dari Musa, para hakim, para nabi, tetapi mereka tidak melakukannya. Allah menyebut mereka sebagai bangsa pemberontak. Seharusnya, sebagai umat milik Allah mereka menuruti dan melakukan kehendak Allah. Tetapi mereka dan nenek moyangnya melawan Allah, keras kepala dan tegar tengkuk. Mereka lebih suka menuruti dan melakukan kehendak dirinya atau kemauan mereka. mereka diibaratkan seperti onar dan duri, juga seperti kalajengking. Kata-kata mereka sangat menyakitkan, wajah mereka pun tidak bersahabat. Perilaku seperti inipun masih dijumpai dalam hidup masyarakat dan persekutuan saat ini. Begitu banyak orang percaya saat ini, melakukan kesalahan dan dosa dengan sangat sadar. Mereka tak lagi memperhitungkan Allah yang begitu setia mengasihi mereka. Kita merasa seperti membuang garam ke dalam laut jika memberitakan Firman Allah kepada orang-orang seperti ini. Haruskah mereka dihindari..? Tidak boleh, sebab justru kepada mereka seperti inilah Firman Allah diberitakan. Seperti Yehezkiel kita juga dipanggil dan diutus untuk terus menyampaikan firman Tuhan, supaya mereka tahu bahwa Allah tetap ada dalam kehidupan mereka. Mintalah tuntunan Roh Kudus untuk menggelisahkan mereka agar berbalik menjadi setia kepada Allah.
Doa : Ya Tuhan, kuatkan kami melaksanakan panggilan-Mu, walaupun menghadapi tantangan, amin
Jumat, 09 Juli 2021
bacaan : Matius 4 : 18 – 22
Yesus memanggil murid-murid yang pertama
18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
SAYA MAU IKUT YESUS
“Saya mau iku Yesus, sampai s’lama – lamanya. Meskipun saya susah, menderita dalam dunia….” Lirik lagu Kidung Jemaat 375 ini menggambarkan kerinduan seseorang yang percaya dan mau mengikuti Yesus, apapun yang ia hadapi. Ketika Yesus berkata : “mari ikutlah Aku” artinya mari berjalanlah dengan-Ku dan lakukanlah semua perintah-Ku. Apa jawaban kita terhadap panggilan Yesus ini? Tentu saja spontan kita berkata “ya”. Tetapi, apakah kita konsisten dengan jawaban kita? Banyak orang percaya menjawab panggilan Yesus dengan “ya”, baik pada saat Pegakuan Sidi Gereja, juga dalam berbagai akta iman lainnya, tetapi seringkali perilaku hidupnya selalu bertentangan dengan jawabannya kepada Yesus. Sebab, jawaban “ya” berarti kita telah menyerahkan diri secara total kepada Yesus. Seluruh tubuh, jiwa dan waktu kita dipakai untuk melakukan kehendak Yesus. Tujuan hidup kita adalah untuk melakukan kehendak Yesus. Apapun yang kita lakukan dalam hidup selalu disebabkan oleh kehendak Yesus. Orang yang mengikut Yesus, tak pernah menyoal siapa dirinya, apa profesinya, berapa banyak pengetahuannya? Sebab ia tahu Yesus lebih memperhatikan kesediaan hati dan bukan kemampuan. Orang yang mengikut Yesus tak pernah menyoal apa untung dan ruginya, atau apa yang akan didapatkannya? Sebab ia tahu bahwa Yesus menyiapkan segala sesuatu bagi hidupnya baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang. Orang yang mengikut Yesus tidak akan menjadikan keluarganya dan pekerjaanya sebagai penghalang untuk melakukan kehendak Yesus, sebab ia tahu Yesus memberkatinya dalam segala keadaan. Orang yang mengikut Yesus, akan menjadi penjala manusia, yaitu menolong sesamanya yang menderita karena berbagai persoalan hidup.
Doa: Ya Tuhan, kami mau mengikuti-Mu. Amin.
Sabtu, 10 Juli 2021
bacaan : Matius 10 : 16
16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
CERDIK SEPERTI ULAR, TULUS SEPERTI MERPATI
Homo homini lupus, adalah sebuah istilah latin yang artinya, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Dalam kenyataannya, manusia saling memangsa, saling menjual, saling menikam, saling membunuh, saling menyerang, diantara teman, sahabat, saudara, kakak-adik, orangtua-anak, pimpinan-staf, dll. Tidak dapat dibedakan, mana kawan, mana lawan, mana teman, mana saudara. Semuanya bisa berubah dalam hitungan detik, hanya karena satu alasan yaitu kepentingan. Baik kepentingan perut atau kepentingan diri. Suatu situasi yang buruk dan sangat mengancam keutuhan hidup bersama sebagai suatu keluarga, persekutuan dan masyarakat. Firman Tuhan katakan, kita di utus ke dunia seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebagaimana domba adalah hewan yang selalu dituntun dan dipelihara oleh gembalanya, demikianlah kita dalam menjalani hidup kita selalu dituntun dan dipelihara oleh Tuhan sekalipun kita hidup dalam situasi masyarakat seperti serigala. Lalu, bagaimana menjalani tugas pengutusan dalam situasi masyarakat seperti ini? Yesus memberi bagi kita suatu strategi yaitu “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Cerdik artinya cepat mengerti situasi dan pandai mencari pemecahannya, seperti ular yang mengerti keberadaan dirinya sebagai hewan melata yang tak berkaki, tak bertangan, tak bersayap, sehingga cendrung menjauh dari ancaman bahaya, tetapi sekali muncul pagutannya mematikan. Merpati adalah burung bisa terbang tinggi tetapi selalu kembali ke sarangnya. Dengan kecerdikan dan ketulusan orang percaya dapat menyelamatkan dirinya dari setiap ancaman kehidupan, dan tetap setia melakukan tugas pengutusannya ditengah masyarakat.
Doa : Ya Tuhan, tolonglah kami agar cerdik dan tulus menghadapi tantangan, amin
*sumber SHK Bulan Juli 2021 LPJ-GPM