Santapan Harian Keluarga, 11-17 Juli 2021

Tema Mingguan : “Risiko dari Panggilan dan Pengutusan Tuhan”

Minggu, 11 Juli 2021                                      

bacaan :  Amos 7 : 10 – 17

Amos diusir
10 Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: "Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya. 11 Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan." 12 Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana! 13 Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan." 14 Jawab Amos kepada Amazia: "Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. 15 Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel. 16 Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Isterimu akan bersundal di kota, dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang; tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur, engkau sendiri akan mati di tanah yang najis, dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan."

RISIKO DARI PANGGILAN DAN PENGUTUSAN TUHAN

Amos adalah seorang peternak di Tekoa (Amos 1: 1) di wilayah Israel Selatan/Yahuda. Dia dipanggil dan diutus oleh Tuhan ke Israel Utara/Samaria untuk menyampaikan kehendak Tuhan kepada  umat Israel di sana. Pada waktu itu umat di Israel Utara rajin melaksanakan Ibadah ritual mereka, tetapi terjadi banyak kejahatan dalam masyarakat. Salah satunya ialah masalah ketidak-adilan sosial. Orang yang kaya dan berkuasa menindas orang yang miskin dan tidak berdaya. Akibatnya ialah banyak orang miskin  mengalami penderitaan hidup. Di tengah kenyataan hidup yang demikian Amos dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kehendak-Nya.  Tetapi Amos harus menghadapi risiko dari panggilannya yaitu ia terancam di usir oleh Amazia seorang Imam yang bekerja di Bethel. Amasia mengusir Amos untuk pulang ke kampung halamannya di Israel Selatan. Tetapi Amos tidak takut menghadapi ancaman itu, dan dengan berani ia menyampaikan ancaman hukuman Allah kepada Amazia dan keluarganya. Ini mengingatkan kita untuk tidak takut menghadapi risiko apapun karena panggilan dan pengutusan kita. Apakah itu dibenci, dimusuhi, dijauhkan bahkan disingkirkan dari  di tengah masyarakat. Baik di  tempat kita tinggal dan berdiam maupun di tempat kita bekerja dan melayani sesuai panggilan dan pengutusan Tuhan kepada kita. Panggilan kita adalah terus menyampaikan pesan firman Allah di manapun kita berada dan bagaimanapun keadaannya. Yang benar katakan benar, yang salah katakan salah. Tuhan memberkati.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami menghadapi risiko apapun karena  panggilan dan pengutusan-Mu, Amin

Senin, 12  Juli 2021                                      

bacaan : 1 Samuel 22 : 9 – 19

9 Lalu menjawablah Doeg, orang Edom itu, yang berdiri dekat para pegawai Saul, katanya: "Telah kulihat, bahwa anak Isai itu datang ke Nob, kepada Ahimelekh bin Ahitub. 10 Ia menanyakan TUHAN bagi Daud dan memberikan bekal kepadanya; juga pedang Goliat, orang Filistin itu, diberikannya kepadanya." 11 Lalu raja menyuruh memanggil Ahimelekh bin Ahitub, imam itu, bersama-sama dengan seluruh keluarganya, para imam yang di Nob; dan datanglah sekaliannya menghadap raja. 12 Kata Saul: "Cobalah dengar, ya anak Ahitub!" Jawabnya: "Ya, tuanku." 13 Kemudian bertanyalah Saul kepadanya: "Mengapa kamu mengadakan persepakatan melawan aku, engkau dengan anak Isai itu, dengan memberikan roti dan pedang kepadanya, menanyakan Allah baginya, sehingga ia bangkit melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini?" 14 Lalu Ahimelekh menjawab raja: "Tetapi siapakah di antara segala pegawaimu yang dapat dipercaya seperti Daud, apalagi ia menantu raja dan kepala para pengawalmu, dan dihormati dalam rumahmu? 15 Bukan ini pertama kali aku menanyakan Allah bagi dia. Sekali-kali tidak! Janganlah kiranya raja melontarkan tuduhan kepada hambamu ini, bahkan kepada seluruh keluargaku, sebab hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu, baik tentang perkara kecil maupun perkara besar." 16 Tetapi raja berkata: "Engkau mesti dibunuh, Ahimelekh, engkau dan seluruh keluargamu." 17 Lalu raja memerintahkan kepada bentara yang berdiri di dekatnya: "Majulah dan bunuhlah para imam TUHAN itu sebab mereka membantu Daud; sebab walaupun mereka tahu, bahwa ia melarikan diri, mereka tidak memberitahukan hal itu kepadaku." Tetapi para pegawai raja tidak mau mengangkat tangannya untuk memarang imam-imam TUHAN itu. 18 Lalu berkatalah raja kepada Doeg: "Majulah engkau dan paranglah para imam itu." Maka majulah Doeg, orang Edom itu, lalu memarang para imam itu. Ia membunuh pada hari itu delapan puluh lima orang, yang memakai baju efod dari kain lenan. 19 Juga penduduk Nob, kota imam itu, dibunuh raja dengan mata pedang; laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak yang menyusu, pula lembu, keledai dan domba dibunuhnya dengan mata pedang.

BERPIHAKLAH PADA KEBENARAN, APAPUN RISIKONYA

Berpihak kepada sesuatu yang benar, seringkali menimbulkan ketidaksenangan dari orang yang merasa dirugikan. Hal ini yang terjadi dalam kehidupan raja Saul, yang berprasangka buruk kepada Daud dan juga para kepada para imam termasuk Ahimelekh bin Ahatub. Saul berpikir bahwa mereka telah berpihak kepada Daud dan akan berbalik menyerang Saul. Dugaan Saul diperkuat oleh laporan Doeg orang Edom, yang ingin mengambil hati raja Saul dengan cara yang licik. Tanpa berpikir panjang, Saul memerintahkan untuk memanggil Ahimelekh beserta keluarganya, dan juga para imam yang ada di Nob. Di hadapan Saul, Ahimelekh berupaya menjelaskan tentang tanggungjawab mereka sebagai  para imam yang selalu menanyakan Allah tentang banyak perkara termasuk tentang Daud dan bahwa mereka tidak berpihak kepada siapapun, termasuk Daud. Bahkan ia menyebut Daud sebagai seorang yang baik dan tidak bermaksud jahat kepada Saul. Namun karena sakit hati, Saul memerintahkan para pegawainya untuk membunuh Ahimelekh, namun mereka tidak bersedia melakukan perbuatan keji itu, sebab mereka tau Ahimelekh dan para imam adalah orang baik dan mereka tidak bersalah. Namun di saat itu Doeg mengambil kesempatan untuk mengambil hati raja, dan akhirnya Ahimelekh beserta keluarganya dan para imam yang ada di Nob, mati di tangan Doeg orang Edom itu. Memang ketika kita berpihak kepada hal yang benar, kita akan dimusuhi oleh orang yang berada di pihak yang salah, bahkan kita akan berhadapan dengan fitnahan dan rancangan jahat. Namun demikian tetaplah berpihak pada kebenaran dan berlakulah dengan adil dan benar. Tuhan Yesus pasti melindungi. 

Doa: Tuhan, kuatkan kami menghadapi setiap risiko ketika kami berpihak pada kebenaran, Amin

Selasa, 13 Juli 2021                                   

bacaan : Yeremia 11 : 18 – 23

Nyawa Yeremia terancam di Anatot
18 TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku. 19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: "Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!" 20 Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. 21 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang orang-orang Anatot yang ingin mencabut nyawaku dengan mengatakan: "Janganlah bernubuat demi nama TUHAN, supaya jangan engkau mati oleh tangan kami!" -- 22 Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: "Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan; 23 tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka, sebab Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka."

DIKHIANATI DAN DIANCAM TETAPI DILINDUNGI TUHAN

Menyatakan suatu kebenaran dan menegur kesalahan adalah panggilan orang percaya ketika hadir dan beraktifitas di tengah – tengah masyarakat yang cenderung bersahabat dengan kejahatan. Namun demikian, kita selalu diperhadapkan dengan  risiko yang berat, kita bukannya diterima tetapi ditolak, dibenci, dan dimusuhi. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan Allah memanggil kita untuk melakukan kebenaran dan menyuarakan kebenaran. Hal ini yang dilakukan oleh Yeremia ketika dipanggil dan diutus oleh Allah untuk menegur Yehuda. Yeremia memberitakan penghukuman Allah kepada Yehuda yang melakukan banyak perbuatan jahat. Ia dengan tegas menegur  Yehuda agar bertobat dan berbalik kepada Allah. Karena itulah Yeremia harus menghadapi risiko dikhianati dan terancam dibunuh. Namun Tuhan Allah yang mengutus Yeremia untuk menegur kesalahan Yehuda, selalu melindunginya. Yeremia menyebut Allah sebagai hakim yang adil, yang selalu berpihak pada kebenaran dan menyelamatkan setiap orang yang berani menyatakan kebenaran. Allah yang adil akan bertindak untuk menghukum setiap orang yang melakukan kejahatan. Dengan meyakini bahwa Tuhan itu melindungi setiap orang yang setia kepada-Nya memberanikan kita untuk menyampaikan suara kenabian dilingkungan kita, dengan selalu menegur dan menasehati jika ada yang berbuat salah, membela orang – orang yang diperlakukan dengan tidak adil, berkata dan bertindak benar dan adil, apapun risikonya. Percayalah bahwa Allah akan bertindak memberi pertolongan, menjaga dan melindungi kita tepat pada waktunya.

Doa: Tuhan, beri kami kemampuan untuk menyuarakan kebenaran. Amin!

Rabu, 14 Juli 2021                                       

Yeremia 37 : 11 – 16

Yeremia dipenjarakan
11 Ketika tentara orang Kasdim itu telah angkat kaki dari Yerusalem oleh karena takut kepada tentara Firaun, 12 maka keluarlah Yeremia dari Yerusalem untuk pergi ke daerah Benyamin dengan maksud mengurus di sana pembagian warisan di antara kaum keluarga. 13 Tetapi ketika ia sampai ke pintu gerbang Benyamin, maka di sana ada seorang kepala jaga yang bernama Yeria bin Selemya bin Hananya; ia menangkap nabi Yeremia sambil berteriak: "Engkau mau menyeberang kepada orang Kasdim!" 14 Dan sekalipun Yeremia menjawab: "Itu bohong, aku tidak hendak menyeberang kepada orang Kasdim!", tetapi Yeria tidak mendengarkan, lalu ia menangkap Yeremia dan membawanya menghadap para pemuka. 15 Para pemuka ini menjadi marah kepada Yeremia; mereka memukul dia dan memasukkannya ke dalam rumah tahanan, rumah panitera Yonatan itu; adapun rumah itu telah dibuat mereka menjadi penjara. 16 Demikianlah halnya Yeremia masuk ke dalam ruang cadangan air di bawah tanah itu. Dan lama Yeremia tinggal di sana.

DIFITNAH ADALAH RISIKO ORANG YANG BERTINDAK BENAR 

Memfitnah merupakan tindakan menuduh seseorang melakukan kejahatan tanpa alat bukti.Memfitnah adalah tindakan kejam dan berdampak buruk bagi orang yang difitnah, ada ungkapan yang mengatakan : “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”, ungkapan ini sering disampaikan menyikapi berbagai perbuatan orang – orang yang suka memfitnah sesamanya. Memfitnah tidak membunuh secara fisik, tetapi membunuh karakter, membunuh masa depan seseorang. Dalam bacaan kita, dikatakan bahwa setelah orang Kasdim “angkat kaki” dari Yerusalem, maka Yeremia bermaksud untuk pergi ke daerah Benjamin untuk suatu urusan keluarganya. Namun, ia ditangkap oleh Yeria bin Selemya seorang kepala jaga, yang menuduh Yeremia hendak menyeberang kepada orang Kasdim. Yeremia sudah berupaya untuk memberi penjelasan bahwa tuduhan itu adalah suatu kebohongan, namun Yeria tidak mendengarnya, bahkan Yeria menangkap Yeremia dan membawanya kehadapan para pemuka, bahkan memasukannya ke dalam ruang cadangan air di bawah tanah. Yeria memfitnah Yeremia seakan – akan Yeremia akan menyeberang kepada orang Kasdim dan bersekongkol dengan mereka untuk menyerang Yerusalem.  Hal yang dihadapi oleh Yeremia, juga bisa dialami oleh setiap orang percaya yang diutus Tuhan untuk berkarya di tengah masyarakat. Orang yang bekerja dengan jujur dan setia, orang yang berani berkata benar dan berpihak pada kebenaran, sering dituduh, difitnah, dan dimusuhi. Namun Tuhan Allah tidak akan tinggal diam, melihat perbuatan orang – orang yang kejam dan dengan sewenang – wenang suka menuduh dan memfitnah orang yang tidak bersalah. Allah akan bertindak untuk memberi keadilan, sebab penghakiman itu hak Allah

Doa : Tuhan, jauhkan daripada kami kecendrungan untuk saling memfitnah, amin

Kamis, 15 Juli 2021                                       

Yeremia 38 : 1 – 13

Yeremia dimasukkan ke dalam perigi; ia tertolong oleh Ebed-Melekh

Tetapi Sefaca bin Matan, Gedalya bin Pasyhur, Yukhal bin Selemya dan Pasyhur bin Malkia mendengar perkataan yang tidak henti-henti diucapkan oleh Yeremia kepada segenap orang banyak itu: 2 "Beginilah firman TUHAN: Siapa yang tinggal di kota ini akan mati karena pedang, karena kelaparan dan karena penyakit sampar; tetapi siapa yang keluar dari sini mendapatkan orang Kasdim, ia akan tetap hidup; nyawanya akan menjadi jarahan baginya dan ia tetap hidup. 3 Beginilah firman TUHAN: Kota ini akan pasti diserahkan ke dalam tangan tentara raja Babel yang akan merebutnya." 4 Maka berkatalah para pemuka itu kepada raja: "Baiklah orang ini dihukum mati! Sebab sebenarnya dengan mengatakan hal-hal seperti itu maka ia melemahkan semangat prajurit-prajurit yang masih tinggal di kota ini dan semangat segenap rakyat. Sungguh, orang ini tidak mengusahakan kesejahteraan untuk bangsa ini, melainkan kemalangan." 5 Raja Zedekia menjawab: "Baiklah, ia ada dalam kuasamu! Sebab raja tidak dapat berbuat apa-apa menentang kamu!" 6 Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi milik pangeran Malkia yang ada di pelataran penjagaan itu; mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu. 7 Tetapi ketika didengar Ebed-Melekh, orang Etiopia itu--ia seorang sida-sida yang tinggal di istana raja--bahwa Yeremia telah dimasukkan ke dalam perigi--pada waktu itu raja sedang duduk di pintu gerbang Benyamin-- 8 maka keluarlah Ebed-Melekh dari istana raja itu, lalu berkata kepada raja: 9 "Ya tuanku raja, perbuatan orang-orang ini jahat dalam segala apa yang mereka lakukan terhadap nabi Yeremia, yakni memasukkan dia ke dalam perigi; ia akan mati kelaparan di tempat itu! Sebab tidak ada lagi roti di kota." 10 Lalu raja memberi perintah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, katanya: "Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!" 11 Ebed-Melekh membawa orang-orang itu dan masuk ke istana raja, ke gudang pakaian di tempat perbendaharaan; dari sana ia mengambil pakaian yang buruk-buruk dan pakaian yang robek-robek, lalu menurunkannya dengan tali kepada Yeremia di perigi itu. 12 Berserulah Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, kepada Yeremia: "Taruhlah pakaian yang buruk-buruk dan robek-robek itu di bawah ketiakmu sebagai ganjal tali!" Yeremiapun berbuat demikian. 13 Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.

BERKATA BENAR, BIJAKSANA DAN TEGAS, DI WAKTU YANG TEPAT

Berterus terang mengatakan suatu kebenaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan, sebab perkataan yang tajam dan jujur sering tidak disukai orang. Banyak orang kuatir akan risiko yang dialami, jika ia berkata dan bertindak benar. Hari ini, kita diperhadapkan dengan sikap orang – orang yang dipanggil dan diutus oleh Allah untuk menyatakan suatu kebenaran di tengah masyarakat. Yang pertama adalah sikap Yeremia, ketika menghadapi perilaku hidup dari para pemimpin Yehuda dan Yerusalem yang melakukan banyak ketidakadilan dan kejahatan. Yeremia dengan tegas menegur dan menyampaikan penghukuman Allah. Tetapi sikap Yeremia berakibat buruk pada dirinya, ia ditangkap dan dimasukan dalam perigi lumpur. Sebagai seorang raja Zedekia tidak berani mengambil keputusan yang tegas dihadapan para pemuka, dan membiarkan Yeremia dihakimi oleh para pemuka itu, padahal raja tau bahwa apa yang dikatakan oleh Yeremia adalah benar. Rupanya Zedekia takut jika ia kehilangan jabatannya sebagai raja. Sikap yang lain adalah  Ebed-Melekh, seorang sida – sida dari Etiopia. Ketika melihat perbuatan para pemuka terhadap Yeremia, ia datang menjumpai raja pada waktu yang tepat dan di tempat yang tempat, yaitu di pintu gerbang Benjamin, tempat raja duduk mendengar keluhan rakyat. Dengan bijaksana Ebed-Melekh berbicara dan mempengaruhi raja untuk melihat perbuatan jahat yang dilakukan terhadap Yeremia, akhirnya raja setuju untuk membebaskan Yeremia. Melihat ini kita patut bertanya, di manakah kita berada? Bagaimana sikap kita menghadapi persoalan kejahatan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Mintalah tuntunan  Roh Kudus, agar mampu berkata benar, dengan bijaksana dan tegas, tetapi di waktu dan tempat yang tepat. Tuhan pasti memberkati.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menyikapi berbagai persoalan dengan bijaksana dan tepat, Amin

Jumat, 16 Juli 2021                                      

bacaan : Yeremia 38 : 14 – 28  

Pembicaraan terakhir dengan raja Zedekia
14 Raja Zedekia menyuruh orang membawa nabi Yeremia kepadanya di pintu yang ketiga pada rumah TUHAN. Berkatalah raja kepada Yeremia: "Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu; janganlah sembunyikan apa-apa kepadaku!" 15 Jawab Yeremia kepada Zedekia: "Apabila aku memberitahukannya kepadamu, tentulah engkau akan membunuh aku, bukan? Dan apabila aku memberi nasihat kepadamu, engkau tidak juga akan mendengarkan aku!" 16 Lalu bersumpahlah raja Zedekia dengan diam-diam kepada Yeremia, katanya: "Demi TUHAN yang hidup yang telah memberi nyawa ini kepada kita, aku tidak akan membunuh engkau dan tidak akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu itu!" 17 Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: "Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup. 18 Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka." 19 Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: "Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku." 20 Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara. 21 Tetapi jika engkau enggan menyerahkan diri, maka inilah firman yang dinyatakan TUHAN kepadaku: 22 Sungguh, semua perempuan yang masih tinggal di istana raja Yehuda digiring ke luar ke hadapan para perwira raja Babel sambil berseru: Engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Tetapi baru saja kakimu terperosok ke dalam lumpur, mereka sudah berpaling pulang. 23 Semua isterimu dan anak-anakmu akan digiring ke luar ke hadapan orang-orang Kasdim itu. Dan engkau sendiri tidak akan terluput dari tangan mereka, tetapi engkau akan tertangkap oleh raja Babel. Dan kota ini akan dihanguskan dengan api." 24 Lalu berkatalah Zedekia kepada Yeremia: "Janganlah ada orang yang mengetahui tentang pembicaraan ini, supaya engkau jangan mati. 25 Apabila para pemuka mendengar, bahwa aku telah berbicara dengan engkau, lalu mereka datang meminta kepadamu: Beritahukanlah kepada kami apa yang telah kaukatakan kepada raja dan apa yang telah dikatakan raja kepadamu; janganlah sembunyikan kepada kami, supaya engkau jangan kami bunuh!, 26 maka haruslah kaukatakan kepada mereka: Aku menyampaikan permohonanku ke hadapan raja, supaya aku jangan dikembalikannya ke rumah Yonatan untuk mati di sana." 27 Memang semua pemuka itu datang bertanya kepada Yeremia, tetapi ia memberi jawab kepada mereka tepat seperti segala yang diperintahkan raja. Maka mereka membiarkan dia, sebab sesuatupun dari pembicaraan itu tidak ada yang diketahui siapapun. 28 Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu sampai kepada hari Yerusalem direbut.

TETAP SETIA DITENGAH KETIDAKTAATAN  

Nabi Yeremia dipanggil dan diutus Tuhan Allah untuk menyampaikan nubuatan Tuhan kepada Zedekia raja Yehuda di Israel Selatan yang berpusat di Yerusalem. Beberapa kali raja Zedekia memanggil Yeremia untuk mendengar pesan Tuhan, namun raja Zedekia tidak melakukannya tetapi mengabaikannya. Dalam bacaan kita, nabi Yeremia dipanggil kembali dan melakukan percakapan terakhir dengan raja Zedekia. Yeremia menyampaikan firman Tuhan kepada Zedekia untuk menyerahkan diri kepada penguasa Babel, tetapi Zedekia tidak menaatinya dan akhirnya ia dan umat Israel di buang ke Babel. Namun demikian, Yeremia tetap melakukan tugas panggilan dan pengutusannya dengan setia, walaupun ia juga diperhadapkan dengan tantangan bahkan ancaman bagi keselamatan dirinya. Yeremia percaya bahwa perlindungan dan penyertaan Tuhan selalu nyata dalam seluruh kehidupan serta tugas panggilan dan pelayanannya. Itulah sebabnya Yeremia tetap konsisten serta setia melakukan tugas panggilan dari Tuhan. Yeremia tetap menyampaikan suara kenabiannya dengan berani dan tidak ada kepentingan bagi dirinya. Yeremia siap menerima apapun risiko yang ia lakukan dari tugas panggilan dan pengutusannya. Hal inipun menjadi kesaksian bagi kita sebagai orang percaya untuk tetap setia melakukan panggilan dan pengutusan kita, menyampaikan suara kenabian kita di tengah masyarakat, ketika berhadapan dengan ketidaktaatan dan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Seringkali apa yang kita katakan atau lakukan, tidak didengar atau tidak dipedulikan, apalagi ditaati. Tetapi teruslah menyampaikan pesan firman Tuhan melalui buah pikiran, perkataan, sikap dan perbuatan yang baik dan benar, apapun risikonya. Percayalah bahwa kita tidak sendiri, sebab Allah dalam Yesus Kristus pasti menyertai kita.

Doa:  Tuhan, mampukan kami dalam melakukan tugas panggilan-Mu. Amin.

Sabtu, 17 Juli 2021                       

bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 50 – 51

Ke Ikonium, Listra dan Derbe
50 Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu. 51 Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium.

BERSAKSI DITENGAH ANCAMAN PENGANIAYAAN

Rasul Paulus dan Barnabas dalam tugas pelayanan Pekabaran Injil Kristus banyak menghadapi tantangan dan penderitaan bahkan ancaman terhadapan keselamatan mereka. Risiko yang dihadapi Paulus dan Barnabas, tidak membuat mereka takut, bimbang atau ragu, tetapi membuat mereka lebih giat dan semangat untuk memberitakan Injil Kristus. Bacaan kita hari ini, menceriterakan bahwa, pada saat kehadiran Paulus dan Barnabas di Antiokhia di Pisidia  untuk memberitakan Injil Kristus, ada orang-orang Yahudi yang tidak senang dan tidak suka dengan Paulus dan Barnabas, sehingga mereka menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar di kota itu sehingga menimbulkan penganiayaan terhadap Paulus dan Barnabas dan mereka di usir dari kota itu. Saat meninggalkan kota itu, Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu. Apa yang dibuat Paulus dan Barnabas sebagai tanda akan datangnya penghukuman Allah bagi mereka yang menolak keselamatan dalam Kristus. Kita juga mesti meneladani Paulus dan Barnabas untuk menyampaikan berita keselamatan Allah dalam Kristus bagi dunia dan semua orang yang belum percaya. Kita memberitakannya melalui perkataan serta juga sikap dan perbuatan kita. Kalau ada pimpinan, teman, sahabat atau saudara yang salah, mesti kita tegur dan mengingatkan mereka dengan penuh kasih, agar mereka sadar dan berbalik dari kesalahan mereka. Kalaupun mereka menolak, maka hal itu ditanggung mereka sendiri. Bisa saja kita tidak disukai, dibenci dan dimusuhi. Namun kita mesti bersyukur bahwa lebih baik kita tidak disukai oleh manusia dari pada kita tidak melakukan perintah serta panggilan dari Tuhan.       

Doa :   Tuhan, tolong kami agar untuk bersaksi tentang nama-Mu di tengah dunia ini. Amin.-

*sumber : SHK bulan Juli 2021, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar