Santapan Harian Keluarga, 18-24 Juli 2021

Tema Mingguan : “Gereja dan Tanggungjawab Penyembuhan Berbagai Penyakit Dalam Masyarakat”

Minggu, 18 Juli 2021                                         

bacaan : Markus 5 : 1 – 20  

Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa

Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. 2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. 3 Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, 4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. 5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. 6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, 7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" 8 Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" 9 Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak." 10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. 11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, 12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!" 13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. 14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. 15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. 16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. 17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. 18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. 19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" 20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

KUASA YESUS MENYEMBUHKAN DAN MEMULIHKAN

Salah satu misi pelayanan Yesus  adalah memberikan pemulihan dan kesembuhan bagi mereka yang sakit dan dibelenggu kuasa roh jahat. Dalam kesaksian penginjil Markus saat pelayanan Yesus di daerah Gerasa, Ia berjumpa dengan seorang yang datang dari pekuburan dan dirasuki roh jahat. Namanya Legion dan oleh kekuatan roh jahat membuatnya sangat menderita. Dia sering dirantai dan dibelengggu, karena tidak ada yang berkuasa untuk menenangkannya, sehingga ia selalu berkeliaran siang dan malam didaerah pekuburan. Ketika berjumpa dengan Yesus, roh-roh yang menguasai Legion meminta untuk masuk ke dalam kawanan babi yang ada disekitar itu. Yesus segera mengabulkan dan menyembuhkan Legion serta melepaskannya dari kuasa roh jahat. Yesus memberikan cara penyelesaian yang berbeda, Ia   berdialog dengan orang sakit tersebut. Yesus menerima orang itu apa adanya, Yesus mendengarkan ia berbicara atau mendengarkan keluhannya, Yesus menanyakan namanya, Yesus mengenal jenis penyakitnya, Yesus memenuhi permintaannya. Akhirnya orang itu sembuh dan bebas dari roh jahat dan ia mau melakukan perintah Yesus. Juga, masyarakat sekitar menjadi takut dan menceritakan segala yang terjadi. Kuasa kebangkitan Tuhan Yesus telah menang atas segala kuasa roh jahat, sakit penyakit, kejahatan, kedagingan yang terus menggoda dan menghantui kehidupan manusia sampai sekarang ini. Sebagai keluarga Allah hendaklah kita mengundang dan menghadirkan kuasa Yesus melalui Roh Kudus sebagai penolong dan kekuatan bagi kita ketika berhadapan dengan jeratan iblis dan kuasa lain dalam kehidupan manusia antara lain, ketergantungan pada teknologi digital yang begitu kuat merasuki kehidupan manusia. Hanya kuasa  Roh Kudus yang dapat melepaskan kita dari jeratan itu.

Doa:   Tuhan, lepas kami dari jeratan kuasa roh jahat. Amin.-           

Senin, 19 Juli 2021                                               

bacaan : Matius 8 : 1 – 4

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta

Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 2 Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." 3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. 4 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."

MENGASIHI MEREKA YANG SAKIT DAN TERABAIKAN

Sampai saat ini kita masih terus bergumul dengan bencana non alam virus Covid-19 yang entah kapan berakhir. Ada beberapa kasus terjadi, dimana pasien yang terkonfirmasi positif saat di bawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi parah dan akhirnya tidak dapat tertolong lagi. Mengapa terjadi demikian? Salah satu alasannya, mereka takut untuk menyampaikan status mereka sebab akan dikucilkan serta dijauhi oleh masyarakat. Pun juga demikian seorang yang sakit kusta datang menjumpai Tuhan Yesus ketika Ia turun dari bukit setelah selesai mengajar. Begitu kuatnya pandangan masyarakat yang menggangap sakit kusta sebagai penyakit kutukan dan aib. Hal ini membuat orang kusta dengan begitu memelas datang dihadapan Yesus sambil sujud, menyembah dan berkata “Tuan, jika Tuan mau”, Tuan dapat mentahirkan aku. Orang kusta ini sadar akan keberadaan dirinya, namun Yesus menjamah orang kusta ini. Sikap serta tindakan Tuhan Yesus mengubah pandangan masyarakat Yahudi pada waktu itu, bahwa orang seperti itu tidak boleh dikucilkan dan diabaikan, namun mesti mendapat perhatian, pelayanan, dukungan serta cinta kasih yang menyemangati mereka untuk bangkit serta dipulihkan dari penderitaan sakit. Hal inipun yang mesti menjadi tugas kita sebagai keluarga Allah dan juga selaku persekutuan gereja secara luas kepada semua orang dan sesama yang menderita sakit dan sering terabaikan, termasuk juga saudara-saudara kita yang terjangkit Covid-19. Kita mesti mendoakan mereka dan selalu memberikan dukungan serta menyemangati mereka untuk bangkit agar segera pulih dan sembuh. Kita melakukannya berlandaskan pada cinta kasih Tuhan Yesus yang selalu peduli dan mengasihi semua orang termasuk kita sekeluarga. 

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk meneruskan kasih-Mu yang memulihkan bagi sesama yang sakit dan menderita. Amin.

Selasa, 20 Juli 2021                                            

bacaan : Matius 8 : 5 – 13  

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum
5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." 7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, 12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." 13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

MELAYANI TANPA MEMBEDAKAN

Pelayanan Tuhan Yesus tidak memandang latar belakang hidup seseorang serta membeda – bedakan mereka. Semuanya mendapat perhatian dan tempat di hati Yesus. Seperti halnya seorang perwira romawi, yang memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang sakit. Tuhan Yesus menyatakan kesediaan untuk datang ke rumah perwira itu, namun ditanggapi oleh perwira itu dengan menyatakan dia tidak layak menerima Tuhan Yesus di rumahnya. Menurut budaya saat itu orang Yahudi tidak bergaul dengan orang romawi karena dianggap haram apalagi masuk ke dalam rumahnya. Perwira ini pahami tentang kuasa seorang nabi untuk menyembuhkan dan membuat mujizat. Perkataan seorang nabi sama seperti seorang atasan yang memberi perintah kepada bawahannya. Apapun yang dikatakan oleh nabi akan terjadi karena perkataannya itu mengandung kuasa untuk menyembuhkan. Pemahaman perwira ini dipuji oleh Tuhan Yesus dan menjadi heran akan imannya ini tidak pernah dijumpai diantara orang Israel. Sehingga Ia berkata “bahwa banyak orang dari Timur dan Barat akan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub, sedangkan anak-anak Kerajaan akan dicampakkan ke dalam kegelapan”. Ini gambaran bahwa yang diselamatkan adalah mereka yang percaya dan bukan atas status mereka sebagai bangsa pilihan Allah. Hal inipun menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Kristen dalam melakukan pelayanan dengan tidak melihat latar belakang seseorang. Pelayanan kita berdasarkan pada cinta kasih Kristus yang memulihkan dan menyembuhkan. Kita meneruskan pelayanan kasih itu kepada semua orang yang membutuhkannya dengan keyakinan iman bahwa kita juga menjadi bagian dari orang-orang yang akan menerima anugerah keselamatan didalam Tuhan Yesus Kristus.

Doa:  Tolong   kami   Tuhan  untuk  meneruskan  kasihMu  yang  memulihkan  tanpa membeda-bedakan. Amin.

Rabu, 21 Juli 2021                                          

bacaan :  Markus: 6 : 53 – 56

Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret
53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. 54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. 55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. 56 Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

KEPEKAAN DAN KEPEDULIAN BERSAMA, UNTUK KESEMBUHAN

Setiap orang yang sakit, pasti tidak mampu menolong dirinya sendiri, tetapi ia membutuhkan pertolongan orang lain, apakah itu anggota keluarganya, sahabat, teman, bahkan orang – orang yang ada di sekitarnya. Persoalannya adalah, masih adakah kepekaan dan kepedulian kita terhadap saudara – saudara kita yang sakit? Bacaan kita menceriterakan bahwa ketika Yesus tiba di Genesaret, orang-orang yang mengenal Dia berlari – lari keseluruh daerah itu untuk membawa saudara – saudara mereka yang sakit kepada-Nya. Mereka beramai – ramai mengusung orang – orang yang sakit untuk disembuhkan oleh Yesus. Rupanya kesaksian tentang Yesus yang menyembuhkan orang-orang sakit telah sampai kepada mereka. Keyakinan mereka yang begitu besar akan Yesus tampak melalui ungkapan “supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh” (ay.56.b). Saat ini, banyak  orang yang menderita sakit dengan berbagai jenis penyakit yang mengancam kehidupan. Sebagai orang percaya, kitapun terpanggil untuk menolong mereka, antara lain mendoakan dan memberi dukungan moril maupun materil. Dukungan banyak orang adalah kekuatan bagi orang yang sakit untuk disembuhkan dan dipulihkan. Bagaimana kita menyikapi panggilan ini dalam persekutuan kita, baik di keluarga, di Unit, Sektor, bahkan dalam persekutuan Jemaat. Yesus menghendaki agar kita saling menopang dan mendoakan dalam menghadapi setiap persoalan termasuk penderitaan sakit. Semakin banyak orang yang sepakat memohon kesembuhan, akan menjadi berkat kesembuhan bagi seseorang yang menderita sakit. Yesus katakan: “…Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di Sorga” (Matius 8:19).

Doa: Tuhan ajarlah kami untuk mendoakan sesama yang sakit, Amin

Kamis, 22 Juli 2021                                    

bacaan : Markus 10 : 46 – 52

Yesus menyembuhkan Bartimeus
46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" 48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" 49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." 50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 51 Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" 52 Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

MILIKI TELINGA DAN HATI YANG PEKA DENGAN TERIAKAN SESAMAMU

Disekitar kita ada cukup banyak orang yang sebenarnya membutuhkan pertolongan. Ada yang membutuhkan makanan, bantuan dana untuk biaya sekolah, pekerjaan, kesembuhan dari penyakit, dukungan doa-doa kita dan lain sebagainya. Namun seringkali, kita tidak bertindak untuk mengulurkan tangan menolong mereka. Bacaan hari ini mengisahkan, sekalipun sedang berada ditengah begitu banyak orang yang mengerumuni-Nya, Yesus mampu mendengars seruan minta tolong dari Bartimeus, seorang pengemis buta. Demikian juga Bartimeus, ketika mendengar tentang Yesus, diapun ingin disembuhkan dan ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Dia sadar karena dirinya buta, dia harus berteriak dengan lantang agar Yesus mendengarnya, walaupun ia ditegur oleh banyak orang yang menghalanginya berjumpa dengan Yesus. Ketika Yesus  mendengar teriakan Bartimeus, Ia berhenti, mengajaknya bercakap – cakap untuk mengetahui keadaan Bartimeus dan menyembuhkan dia. Mungkin saat ini ada banyak teriakan minta tolong dari orang – orang yang menderita, tetapi apakah kita mendengar teriakan itu? Ataukah hati dan telinga kita sudah tidak   dapat mendengar teriakan sesama kita? Semoga kisah ini menggelisahkan kita, untuk memberi telinga dan hati kita,  mendengar teriakan sesama yang menderita dan berupaya memberi pertolongan sesuai dengan kemampuan kita.

Doa:  Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang penuh kasih untuk mendengar teriakan sesama yang menderita. Amin.

Jumat, 23 Juli 2021                                             

bacaan : Lukas 4 : 38 – 41

Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain
38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. 39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. 41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

KASIH YESUS YANG MENYEMBUHKAN

Tuhan Yesus dikenal luas sebagai ‘rabi’ atau guru yang suka “blusukan atau mengunjungi.” Ia pergi ke mana-mana dan masuk ke segala lapisan masyarakat. Kadang Ia bergaul dengan kaum marginal: para janda, anak yatim piatu, orang asing, orang-orang sakit, dan sebagainya; kadang pula Ia berdiri di muka umum dan mengajar di rumah-rumah ibadat di depan para pemuka agama, orang-orang Farisi, dan ahli-ahli Taurat. Ia suka berkeliling; dari desa ke desa, dari kota ke kota, dan dari rumah ke rumah. Tuhan Yesus adalah milik semua orang yang percaya kepada-Nya. Hari ini Penginjil Lukas menceritakan salah satu dari sekian banyak kebiasaan Yesus itu. Dalam suatu perjalanan-Nya, Ia mampir ke rumah Petrus dan melakukan penyembuhan terhadap mertua Petrus sedang sakit. Hanya dengan ‘menghardik’, demam keras yang dialami oleh ibu mertua Petrus itu pun hilang dalam sekejap. Ia mampu bangkit dan berdiri untuk melayani Yesus. Bahkan banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut membawa begitu banyak orang sakit dan Yesus menyembuhkan mereka. Dalam kenyataan hidup sekarang ini, keluarga merupakan gereja kecil yang juga dapat menjadi alat penyalur kesembuhan bagi saudara bersaudara dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Ada begitu banyak orang sakit dalam keluarga dan masyarakat yang memerlukan bantuan kita. Hal terpenting adalah penerimaan, sentuhan, rangkulan, pendampingan dan doa adalah kekuatan terbesar sebetulnya saat ini bagi hidup kemanusiaan. Mampukah kita melakukan aksi nyata seperti yang dilakukan oleh Yesus?

Doa:  Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk mengasihi seperti-Mu. Amin.

Sabtu, 24 Juli 2021                                       

bacaan : Lukas 13 : 10 – 17

Menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat
10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. 12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." 13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." 15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" 17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

KEKUATAN CINTA MENDASARI HUKUM

Beragama dan beriman berbeda satu sama lain. Orang beragama belum tentu beriman, sebaliknya orang beriman belum tentu beragama. Alangkah indahnya jika beragama sekaligus beriman! Apa yang terjadi akhir-akhir ini perihal kekerasan agama yang dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu cukup menarik dan memprihatinkan. Atas nama agama menyakiti orang lain itulah yang terjadi, entah itu disadari sepenuhnya oleh pelaku atau tidak, atau pelaku hanya sekadar ‘wayang’ yang dimainkan oleh dalang tertentu.  Sabda Yesus hari ini mengkritik orang-orang munafik, yang berpegang teguh pada peraturan tanpa dijiwai oleh iman dan cinta kasih. Menurut hukum taurat, pada hari Sabat setiap orang harus istirahat dari kerja. Maka ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, kepala rumah ibadat itu gusar. Namun, Yesus menentang hukum yang demikian dengan alasan bahwa hukum yang menekan hidup tidak dikehendaki Tuhan. Inilah usaha Yesus untuk melepaskan ikatan yang membelenggu manusia. Nilai keselamatan lebih tinggi daripada hukum, karena itu manusia harus dilepaskan dari belenggu ikatan hukum. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Dialah yang menetapkan hari Sabat untuk menghidupkan dan membina hubungan mulia antara Tuhan dan manusia. Kita semua mungkin mengakui diri sebagai umat beriman, namun apakah menghayati iman dengan benar masih merupakan pertanyaan. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain. Cinta kasih mendasari aneka peraturan dan kebijakan atau tata tertib, sekaligus menjadi sasaran pelaksanaan peraturan, kebijakan atau tata tertib.

Doa: Ajarilah kami ya Tuhan untu mengerti antara cinta dan hukum. Amin.

*sumber : SHK Bulan Juli 2021, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar