Tema Mingguan : “Pelayanan Terhadap Hak Hidup Anak“
Minggu, 25 Juli 2021
bacaan : Yohanes 4 : 46 – 54
Yesus menyembuhkan anak pegawai istana
46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." 50 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.
BERJUANG UNTUK HAK HIDUP ANAK
Anak adalah obyek kasih orangtua yang berhak memperoleh perlindungan, pendampingan, kasih sayang dan pemeliharaan. Segala kebutuhan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Jadi apa saja yang anak itu perlukan, pasti orang tua menyediakannya. Bukan saja soal pendidikan, makanan, minuman dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun juga soal pelayanan kesehatan terhadap anak tersebut. Setiap orang tua tidak akan tega melihat anaknya jatuh sakit dan membiarkannya begitu saja. Pasti ada perjuangan untuk kesembuhan anaknya. Sebuah kisah nyata yang saya alami ketika berada di rumah singgah GPM, jalan Tambak, Menteng Jakarta Pusat. Di sana saya berjumpa dengan ibu Ety, yang berjuang untuk kesembuhan anak perempuannya yang bernama Karen, dari penyait kanker darah atau Leukemia. Dari kota Ambon sampai ke Jakarta, ibu Ety berharap adanya pertolongan Tuhan melalui team medis di RS. Gatot Subroto. Yaahh… semua orang tua pasti mengingini hal yang sama dengan ibu Ety walau pada akhirnya, semua keputusan tentang hidup anak itu ada dalam tangan Tuhan. Bacaan kita juga membuktikan hal yang sama. Seorang ayah, yang merupakan pegawai istana juga berjuang demi memperoleh kesembuhan anaknya. Harapan untuk kesembuhan anaknya adalah pergi menjumpai Yesus. Dan Yesus pun menyembuhkan anaknya. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa tanggung jawab kita sebagai orang tua adalah memperjuangkan hak hidup anak dengan memberikan kepada mereka pelayanan apapun yang menyangkut kebutuhan mereka saat itu.
Doa: Ya Tuhan, jaga dan lindungilah anak-anak kami. Amin.
Senin, 26 Juli 2021
bacaan : Kejadian, 29 : 31 – 35
Anak-anak Yakub
31 Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul. 32 Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: "Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku." 33 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku." Maka ia menamai anak itu Simeon. 34 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi. 35 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.
KEHADIRAN ANAK ADALAH ANUGERAH TUHAN
Sebuah keluarga tidaklah lengkap dan tampak sepi tanpa hadirnya seorang anak. Memiliki anak adalah impian setiap pasangan suami isteri. Sungguh, anak adalah harta yang tak ternilai dari Tuhan. Ketahuilah bahwa seorang anak berada di dunia ini bukan karena keinginannya sendiri, tetapi semua karena rencana dan kehendak Tuhan semata. Itulah sebabnya Tuhan sendiri yang membentuk dan menenun mereka sejak dalam kandungan ibunya. Dan Tuhan melihat kesungguhan hati seorang perempuan yang sangat mendambakan kehadiran anak untuk melengkapi rumah tangganya. Lea, adalah salah seorang dari perempuan tersebut. Demi mempertahankan hubungannya dengan Yakub, maka Lea berupaya keras untuk itu. Dan Tuhan melihat Yakub tidak mencintai Lea. Maka mulailah Tuhan bekerja memberkati kandungan Lea hingga lahirlah Ruben, Simon, Lewi dan Yehuda. Kehadiran 4 anak lelakinya diharapkan mampu mengubah sikap Yakub kepadanya. Lea sangat mendambakan cinta Yakub, suaminya. Karena Lea sadar bahwa Yakub hanya mencinta Rahel, adiknya.Pelajaran penting bagi setiap keluarga Kristen saat ini, bagaimanapun situasi pernikahanmu, ada cinta atau sudah pudarnya cinta atau tidak ada cinta sama sekali, namun jika sudah ada anak-anak yang menghiasi rumahmu, maka hendaknya jangan sekali-kali meremehkan kehadiran mereka. Anak adalah berkat Tuhan yang juga memerlukan hak hidup. Layanilah mereka dengan cinta. Hidupilah mereka dengan kasih sayang. Bimbing dan didiklah mereka berdasarkan nilai-nilai pengajaran iman Kristiani yang baik, kelak mereka akan menyenangkan hatimu.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami melakukan tanggung jawab dengan takut akan Engkau. Amin.
Selasa, 27 Juli 2021
bacaan : Kejadian 35: 16-20
Kelahiran Benyamin -- Rahel mati
16 Sesudah itu berangkatlah mereka dari Betel. Ketika mereka tidak berapa jauh lagi dari Efrata, bersalinlah Rahel, dan bersalinnya itu sangat sukar. 17 Sedang ia sangat sukar bersalin, berkatalah bidan kepadanya: "Janganlah takut, sekali inipun anak laki-laki yang kaudapat." 18 Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas--sebab ia mati kemudian--diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin. 19 Demikianlah Rahel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem. 20 Yakub mendirikan tugu di atas kuburnya; itulah tugu kubur Rahel sampai sekarang.
ANAK: BERKAT ALLAH YANG HARUS DIPERJUANGKAN
Anak merupakan anugerah dan berkat Allah bagi setiap keluarga. Sebab itu, setiap orang tua rela berkorban dan berjuang demi kehidupan anaknya. seorang ibu misalnya, rela mengorbankan hidupnya demi kehidupan sang buah hati yang dilahirkan di dunia. Perjuangan seorang ibu pada saat melahirkan buah hatinya tidak pernah mudah selalu butuh perjuangan dan pengorbanan. Orang selalu bilang “perjuangan seorang ibu untuk melahirkan sang buah hati diibaratkan sebagai perjuangan hidup dan mati” karena ada banyak resiko yang dihadapi para ibu selama proses persalinan. Ada banyak kisah para ibu yang meninggal dunia setelah melahirkan buah hatinya, padahal mereka sudah menanti kehadiran buah hatinya. Hal ini pula yang dialami Rahel pada saat ia melahirkan buah hatinya, Benyamin. Ay.16-17 menyebutkan Rahel bersalin sangat sukar, sebab itu ia berjuang sampai akhir hidupnya. Dan sebelum ia menghembuskan nafasnya, ia menamakan anaknya Ben-Oni yang berarti “anak kesukaranku” atau “kesedihanku”. Penamaan Ben-Oni menunjukkan bahwa Rahel merupakan seorang ibu yang berjuang dan berkorban nyawa demi kehidupan anaknya. Nama tersebut kemudian dirubah oleh Yakub, ayahnya menjadi Benyamin (ay.18). Nama Benyamin berarti “anak kesayanganku” atau “anak pengharapanku”. Dengan memberi nama Benyamin menunjukan Yakub menaruh pengharapan besar bahwa kelak anaknya akan menjadi anak yang membanggakan dan mendatangkan kebahagian bagi dirinya. Bacaan ini mengajar kita sebagai orang tua, untuk melaksanakan tugas sebagai orang tua untuk memberikan perhatian dan kasih sayang; merawat dan melayani dengan setia, memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak supaya kelak mereka menjadi anak-anak yang berguna bagi keluarga, gereja, bangsa dan Negara.
Doa : Tuhan, tuntunlah kami untuk memperjuangkan hak anak. Amin
Rabu, 28 juli 2021
bacaan : Ulangan 6 : 20-25
20 Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? 21 maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. 22 TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita; 23 tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita. 24 TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. 25 Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita."
MEWARISKAN KASIH DAN KUASA ALLAH KEPADA ANAK
Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar mengenal kehidupan. Sebab itu, orang tua berperan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak kepada anak. Tugas tersebut juga dilakukan oleh bangsa Israel kepada generasi mereka saat itu, sebelum mereka memasuki tanah perjanjian (Kanaan). Musa dengan tegas memperingatkan bangsa Israel, bahwa Orang tua berkewajiban untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang Tuhan Allah yang berkuasa dalam sejarah hidup mereka. Bahwa Allah Israel adalah Allah yang berkuasa dan mengasihi mereka. Ia membawa mereka keluar dari Mesir, tanah perbudakan; membuat tanda-tanda mujizat, yang membelah air laut Teberau. Tuhan yang akan menuntun mereka mendiami tanah perjanjian (Kanaan) yang dijanjikan kepada nenek moyang Israel; Abraham, Ishak dan Yakub. Perbuatan-perbuatan besar Allah yang menyelamatkan itu patut direspons dengan ketaatan dan kesetiaan Israel untuk melakukan perintah, ketetapan dengan takut akan Tuhan (ay.24-25). Sebab dengan melakukan perintah Tuhan, maka kehidupan umat Israel akan diberkati. Pengalaman hidup keluarga kita bersama Tuhan (pengalaman manis maupun pahit) perlu juga diajarkan/diceritakan kepada anak-anak kita, supaya mereka mengetaui dan memahami bahwa Tuhan berkuasa dan mengasihi mereka. Oleh sebab itu, setiap orang harus melakukan perintah Tuhan dengan taat dan setia. Dengan hidup taat dan setia kepada Tuhan, maka hidupnya akan berbahagia. Sayangnya, ada orang tua yang mengabaikan tugas tersebut karena kesibukan; sibuk kerja, sibuk main Handphone, sibuk jalan-jalan dan sebagainya. Padahal anak – anak sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang orangtua.
Doa: Tuhan, tuntunlah kami untuk mewariskan kasih Allah kepada anak.
Kamis, 29 Juli 2021
bacaan : 1 Samuel 1 : 21-28
21 Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada TUHAN. 22 Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: "Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya." 23 Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau menyapih dia; hanya, TUHAN kiranya menepati janji-Nya." Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya. 24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. 25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli; 26 lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. 27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. 28 Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.
AIR SUSU IBU MEMBERI KEHIDUPAN
“Satu tetes aer susu mama e, beta hidop deng puluh taong…” lirik lagu ini menjelaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) memberikan kehidupan bagi anak – anaknya. Peran ASI bagi pertumbuhan dan kehidupan seorang anak sangatlah penting. Hal ini dijelaskan pula dalam bacaan kita tadi. Ay, 23 menyebutkan Hana menyusui Samuel anaknya sampai disapihnya (berhenti/stop susu). Alkitab menjelaskan pentingnya ASI/menyusui bagi seorang bayi,. ASI dibutuhkan seorang bayi untuk pertumbuhan (band.1 Ptrs 2:2), dengan menyusui akan membuat seorang bayi merasa aman, karena dekat dengan ibunya (band.Maz.22:10). Dengan kata lain, ASI dianugerahkan Tuhan memberikan kandungan gizi pada anak sekaligus terjalin ikatan cinta kasih ibu dan anak sebagai pembentukan karakter. Pemberian ASI secara eksklusif bagi seluruh bayi di Indonesia diatur dalam Undang-undang Thn 2004. Artinya, ASI merupakan hak setiap bayi yang baru lahir. Jadi, yang tidak memberikan ASI berarti membatasi hak setiap bayi yang baru lahir untuk mendapatkan air susu ibu. Memang, ada berbagai alasan para ibu tidak memberikan ASI/menyusui kepada bayinya. Misalnya: masalah kesehatan ibu (dapat dipahami), menjaga tubuh tetap cantik, tergoda merek susu formula, sibuk kerja, Hal ini sangat disayangkan karena ASI memiliki manfaat:yang besar; seperti: system kekebalan tubuh bayi lebih kuat, anak menjadi cerdas, tulang bayi lebih kuat, mengurangi resiko kematian bayi, dan sebagainya. Jadi, setiap ibu diharapkan untuk memberikan ASI/ menyusui bayinya sampai usia 2 tahun. Setiap orang tua mempunyai tanggung jawab untuk membawa anak semakin dekat kepada Tuhan, dengan cara: memberikan pengajaran Kristen, rajin beribadah, berdoa, memberikan teladan yang baik kepada anak, dll.
Doa: Tuhan tolonglah kami untuk menghargai hak anak – anak kami, Amin.
Jumat, 30 Juli 2021
bacaan : 1 Raja-raja 2 : 7
7 Tetapi kepada anak-anak Barzilai, orang Gilead itu, haruslah kautunjukkan kemurahan hati. Biarlah mereka termasuk golongan yang mendapat makanan dari mejamu, sebab merekapun menunjukkan kesetiaannya dengan menyambut aku pada waktu aku melarikan diri dari depan kakakmu Absalom.
ANAK YANG MEMPEROLEH KEMURAHAN HATI
Ingatkah kita tentang cerita orang kaya yang murah hati, yakni Ibu Monica Soraya yang mengadopsi (mengangkat anak) 13 bayi sejak tahun 2020 lalu. Menurutnya, hal ini ia lakukan untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Mengadopsi bayi-bayi tersebut membuat hidupnya lebih berarti, karena selama ini dirinya bisa makan enak dan tinggal di rumah yang mewah tapi di luar sana banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung dirinya. Pesan indahnya bagi 13 bayi angkatnya: “kami sekelurga berjanji untuk selalu menjaga kalian semua serta mengantarkan kalian ke pintu gerbang kesuksesan”. Ibu Soraya dan keluarganya memiliki hati yang mulia karena bersedia memberikan kehidupan yang layak bagi 13 bayi tersebut. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memberikan perhatian dan pelayanan kepada anak-anak yang mengalami kesusahan hidup dan sementara berjuang di tengah tantangan dan ancaman kehidupan? (kekerasan seksual, perdagangan anak). Bacaan tadi, berisikan pesan terakhir Daud kepada Salomo sebelum ia meninggal. Daud berpesan agar Salomo dapat menunjukkan kemurahan hatinya kepada anak-anak Barzilai, orang Gilead. Mereka harus dihargai dan dilayani dengan baik karena keluarga ini berjasa besar kepada Daud dengan memberikan dukungan dan pelayanan semasa pemberontakan Absalom. Kemurahan hati Ibu Soraya dan Daud menginspirasi kita semua untuk memberikan perhatian, kasih sayang dan pelayanan kepada anak-anak yang “kurang beruntung” dalam hidup ini, supaya mereka memperoleh kehidupan dan pendidikan yang layak. Dan ingatlah, bahwa kita pernah hidup susah, karena itu setiap orang yang susah perlu ditolong, juga kepada mereka yang pernah menolong/berjasa kepada kita.
Doa: Tuhan, kiranya kami memiliki kemurahan hati untuk melayani hak hidup anak, Amin
Sabtu, 31 Juli 2021
Bacaan : 2 Raja-raja 4: 1-7
Minyak seorang janda Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya." 2 Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." 3 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. 4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" 5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. 6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir. 7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu."
MEMPERJUANGKAN HAK HIDUP ANAK
Kita masih berada dalam suasana perayaan Hari Anak Nasional 2021 dengan mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema ini menegaskan bahwa anak merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara di masa depan. Karena itu, Negara memberikan perlindungan terhadap hak anak yang merupakan salah satu dari hak asasi manusia. Penyelenggara perlindungan terhadap hak anak berhubungan dengan peran orang tua, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Peran orang tua dalam memberikan perlindungan kepada hak hidup anak ditemukan dalam bacaan kita tadi. Ay.1 menjelaskan tentang seorang janda yang datang kepada Elisa karena masalah keuangannya. Janda itu takut anak-anaknya akan diambil oleh penagih hutang sebagai budak untuk melunasi hutangnya. Maka Elisa yang menaruh kasih kepada janda itu dan anak-anaknya, memerintahkan mereka untuk mengisi minyak kedalam semua bejana sampai penuh (ay.3-4). Janda ini bersama anak-anaknya melakukan sesuatu yang memperlihatkan imannya, mengikuti petunjuk nabi Elisa, Tuhan memakai Elisa untuk menolong orang-orang yang mengalami masalah hidup, terutama ancaman terhadap hak hidup anak. Pelajaran penting bagi kita saat ini, perjuangan janda tadi untuk melindungi hak hidup anak-anaknya dari penagih hutang memberikan teladan bagi setiap orang tua untuk berjuang melindungi anak-anak dari perbudakan modern, seperti: perdagangan anak, pekerja seks secara online yang marak terjadi saat ini dan berbagai ancaman hidup lainnya. Orang tua juga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup anak.
Doa: Tuhan, lindungilan anak-anak dari ancaman kehidupan. Amin
*sumber SHK bulan Juli 2021