Santapan Harian Keluarga, 29 Agustus – 4 September 2021

Tema Mingguan : ” KELUARGA YANG MELAKUKAN KEBAIKAN AKAN MEWARISI KEHORMATAN “

Minggu, 29 Agustus 2021                                  

bacaan : Amsal  3 : 27 – 35

Anjuran untuk berbuat baik
27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. 28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu. 29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau. 30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu. 31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satupun dari jalannya, 32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. 33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya. 34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya. 35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh.

Kehormatan Adalah Buah Perbuatan Baik

Kitab Amsal menegaskan pesan-pesan iman yang patut dipedomani orang percaya dalam hidup sehari-hari. Salah satu dari pesan-pesan itu adalah manusia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yakni “orang benar” dan “orang fasik”. Orang benar disebut juga orang bijak atau orang pandai, sedangkan orang fasik disebut juga orang jahat atau orang bodoh. Bacaan hari ini mengajak kita untuk berusaha menjadi orang benar atau orang bijak. Orang benar memahami bahwa setiap tindakkan pasti menghasilkan akibat, dan karena itu mereka tahu keputusan apa yang harus diambil sebelum melangkah. Orang benar akan memilih “jalan” yang menuju kepada berkat, kebahagiaan, kekayaan, dan kehormatan. Hidup orang benar adalah benar artinya bersikap tulus dan memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur, secara khusus mereka yang miskin atau kurang beruntung. Orang benar tidak akan merancang kejahatan terhadap sesamanya. Ia juga tidak bertengkar atau iri hati terutama kepada orang yang melakukan kelaliman. Itulah sebabnya dalam ayat 33 – 35, Tuhan akan memberkati orang yang bijak atau orang benar, tetapi mengutuk rumah orang fasik atau bodoh. Orang bijak yang rendah hati akan dipuji oleh sesama, tetapi orang bodoh yang mengejek Tuhan pada akhirnya akan dicemooh. Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, sebab kehormatan adalah buah dari perbuatan baik. Jalani dan penuhilah hari-hari hidup dengan perbuatan baik.

Doa:  Ya Tuhan layakanlah kami melakukan perbuatan baik dalam hidup yang adalah anugerahmu. Amin.

Senin, 30 Agustus 2021   

bacaan : Amsal  11 : 25 – 27

25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. 26 Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum. 27 Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.

Jadikanlah Hidupmu Berkat Bagi Orang Lain

Kitab Amsal juga menyebutkan bahwa hikmat adalah anugerah Tuhan. orang percaya memiliki karunia ini dan didorong untuk menggunakannya. Hikmat memampukan orang percaya memahami pentingnya memperlakukan orang lain secara jujur dan adil, rendah hati, setia, bekerja keras, menghormati orang tua dan orang berpengaruh lainnya serta peduli terhadap orang miskin juga mereka yang memerlukan bantuan. Orang percaya hidup karena berkat Tuhan dan terpanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain. Karena itu dalam ayat 25 disebutkan: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Orang yang suka memberi kepada orang lain, akan menerima ganjaran. Pemberi yang murah hati akan diingat oleh mereka yang pernah ditolongnya. Sebaliknya, orang yang tamak tidak mempunyai sahabat dan dikutuk oleh orang miskin. Kita terpanggil untuk peduli terhadap orang lain yang membutuhkan perhatian dan bertolongan bukan untuk dipuji, tetapi supaya Tuhan dimuliakan. Ada orang yang hidup dalam kondisi yang memprihatinkan karena kurang makan, sehingga muncullah larangan untuk “menahan gandum” (ayat 26). Ayat ini berkaitan dengan para pedagang yang menahan gandum supaya ada kelangkaan gandum, dengan demikian mereka dapat memasang harga lebih tinggi. Oleh sebab itu kita diminta untuk mengejar kebaikan dan menjauhkan kejahatan. Perbuatan baik adalah pilihan iman untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Doa:  Ya Tuhan sumber berkat, jadikanlah kami saluran berkat-Mu bagi orang lain. Amin.

Selasa, 31 Agustus 2021                                 

bacaan : Amsal 25 : 21 – 22     

21 Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. 22 Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.

Orang Bijak Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan

Bacaan hari ini berisi pesan yang menarik dan sekaligus menantang orang Kristen. Umumnya manusia berkecenderungan untuk membalas perlakuan kejahatan dengan kejahatan karena didorong terusiknya harga diri dan rasa malu. Bila harga diri seseorang terusik dan ia mengalami rasa malu, maka sangat mungkin perlakuan jahat yang dialaminya akan dibalas dengan jahat pula. Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah salah satu wujud perilaku orang bijak, dan karena itu merupakan keunikan hidup yang harus diwujudkan orang Kristen. Keunikan hidup demikian didasarkan pada prinsip kasih. Hal ini tersebut dalam ungkapan “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.  Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu”. Amsal ini menegaskan pentingnya bersikap baik terhadap musuh. Perilaku seperti ini bersifat ritual,  maksudnya orang yang sudah melakukan kesalahan harus mengusung semangkok bara api di atas kepalanya, sebagai ungkapan penyesalan atas tindakkannya. Maksud Amsal ini adalah bahwa kebaikan akan menyebabkan orang yang bersalah menyesali perbuatan salahnya. Orang Kristen telah dianugerahi hikmat dan oleh sebab itu terpanggil untuk berbuat kebaikan ketika mengalami keburukan, agar Tuhan dimuliakan. Tuhan dimuliakan bila orang yang melakukan kejahatan menyadari kesalanannya dan bertobat. Orang jahat bertobat jika ia mengalami kebaikan Tuhan, melalui hidup orang Kristen yang bersedia mengampuni.

Doa:  Tuhan layakkanlah kami untuk mampu mengasihi orang yang melakukan kejahatan terhadap kami. Amin

Rabu, 01 September 2021                                  

bacaan : Matius 7 : 1 – 5

Hal menghakimi
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." 6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

Janganlah Menghakimi Saudaramu

Gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di seberang lautan terlihat.” Sebuah peribahasa yang sudah sangat sering kita dengar. Peribahasa ini menunjuk kepada kecenderungan mudahnya melihat kesalahan dan keburukan orang lain daripada melihat dan mengakui kesalahan serta kelemahan sendiri.  Dalam ajaranNya hari ini, Tuhan Yesus pun mengingatkan hal yang sama. Dengan tegas Ia berkata: “keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Tuhan mengetahui kecenderungan manusia bahwa sangat mudah seseorang melihat kekurangan dan kesalahan orang lain dari pada melihat dan mengakui kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri. Sebab itu, Ia mengecam perilaku hidup yang munafik seperti ini dan menginginkan agar kita menjadi orang-orang yang dapat mengenal diri atau tahu diri, jangan suka menghakimi orang lain. Jujurlah dalam melihat dan mengenal diri kita, di mana selain ada kebaikan yang kita miliki namun pasti ada juga kekurangan dan kelemahannya. Kita tidak perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan kita, tetapi justru menyadari dan mengakuinya sehingga kita bisa lebih rendah hati, tidak merasa lebih baik dan lebih benar daripada orang lain, apalagi merasa diri paling benar dan paling baik. Dengan bersikap rendah hati, kita tidak hanya mudah  mengoreksi dan membarui  diri sendiri tetapi juga tidak bersikap mudah menghakimi, melainkan dapat mendengarkan dan menerima orang lain dengan segala keberadaannya. Marilah kita wujudkan hal itu mulai dari dalam keluarga kita, janganlah saling menghakimi,tetapi bangunlah kehidupan keluarga yang penuh cinta kasih, kesabaran, pengertian dan kerendahan hati.

Doa:   Ya Bapa yang Pengasih, ajarlah kami untuk tidak saling menghakimi.   Amin.

Kamis, 02 September 2021                                 

bacaan : Matius 6 : 1 – 4

Hal memberi sedekah
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Berilah Sedekah Dengan Tersembunyi

Mungkinkah seseorang dapat mencegah agar tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya? Kenyataannya, tangan kita sering bekerja bersama-sama. Dua-duanya sering bekerja berpasangan: mengangkat, membawa, menangkap, mengendarai, memeluk dan banyak kegiatan lain. Apa yang dilakukan tangan yang satu diketahui oleh tangan yang lain. Dua-duanya dikendalikan oleh otak yang sama. Dengan begitu, apa yang dilakukan oleh tangan yang satu, yang lainnya juga ikut. Apa yang dinasihatkan oleh Yesus dalam nas ini menggambarkan hal yang sebaliknya. Ucapan Yesus ini bersifat paradoks atau tampak berlawanan. Apakah maksud dari ucapan Yesus dalam nas ini? ucapan nasehat Tuhan Yesus ini lebih bersifat simbolis, yakni Ia mau  memberi tahu kita agar berusaha tidak mengetahui secara sadar apa yang sedang kita lakukan. Dalam hal ini, ketika kita memberi sedekah. Kalau kita memberi sedekah atau sesuatu pemberian, bukan hanya kita diingatkan agar  pemberian kita itu tidak harus diketahui oleh orang lain atau tidak dipamerkan, melainkan juga agar kita tidak terus menerus membicarakan hal itu. Karena kecenderungan manusia adalah ketika ia telah melakukan sebuah kebaikan atau memberikan sebuah pemberian, seringkali kita suka membanggakan diri dan menceritrakan hal itu kepada orang lain agar diketahui Namun firman hari ini mengingatkan kita supaya tidak membanggakan diri karena pemberian-pemberian kasih yang kita lakukan; atau menceritakan perbuatan murah hati yang telah kita lakukan. Kalau kita telah melakukan sebuah perbuatan kasih atau pemberian, Ingatlah! jangan memamerkan kedermawanan itu atau menarik perhatian dan pujian orang lain dengan itu. Kiranya kita semua dapat terhindar dari bahaya kesombongan dan keangkuhan.

Doa:  Tuhan, biarlah hanya Engkau yang tahu kebaikan hati dan pemberian kasihku untuk sesama. Amin.

Jumat, 03 September 2021                        

bacaan : Yakobus 4 : 11 – 12

Jangan memfitnah orang
11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. 12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

Janganlah Saling Memfitnah

Siapa yang suka dan merasa senang kalau difitnah? Tidak satu pun diantara kita yang mau difitnah. Kendatipun demikian, perilaku memfitnah sering kita temui dalam kehidupan setiap hari. Padahal tindakan seperti ini adalah tindakan yang tidak terpuji dan tidak dikehendaki oleh Tuhan. Oleh sebab itu, nas bacaan hari ini mau memberikan peringatan penting mengenai hal fitnah ini. Mengapa kita diingatkan untuk jangan saling memfitnah? Karena fitnah adalah suatu tindakan memberikan informasi yang tidak benar mengenai seseorang. Dengan melakukan fitnah, seseorang dapat membuat orang lain menderita dan hancur. Dengan fitnah, seseorang telah menghakimi orang lain berdasarkan bukti palsu. Itu suatu pelanggaran hukum menurut surat Yakobus. ltu berarti orang yang melakukan fitnah menganggap dirinya berada di atas hukum sehingga la bisa mempermainkan hukum demi kepentingan pribadinya. Padahal, hanya ada satu pembuat hukum yaitu Tuhan. Hanya Tuhan sajalah yang dapat menghakimi seseorang berdasarkan hukum-Nya. Karena itu, manusia seharusnya tidak mempermainkan hukum, apalagi menghakimi orang lain dengan  menyebarkan kebohongan atau memfitnah. Jangan karena iri hati dan benci terhadap seseorang lalu kita menghancurkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Adakah hari-hari ini kita pernah memfitnah teman, saudara, atau orang lain? adakah saat ini sebagai keluarga kita saling irihati dan cemburu, memendam kebencian dan menyebarkan fitnah diantara saudara, adik-kaka, suami-isteri, orang saudara dan sebagainya? Mari bertobatlah dan minta ampun kepada Allah. Kiranya kita tidak mengulanginya kembali. Dengan mengandalkan Roh Kudus, mulai hari ini, berhentilah memfitnah dan teruslah mengasihi. Jadilah pribadi dan keluarga pembawa damai! 

Doa:  Ya Tuhan Allah, tolonglah kami untuk tidak saling memfitnah dan  menghakimi dalam hidup ini. Amin.

Sabtu, 04 September 2021                        

bacaan : 1 Yohanes 3 : 11 – 18

Kasih terhadap saudara sebagai tanda hidup baru
11 Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; 12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. 13 Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. 14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. 15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. 16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Janganlah Membenci Saudaramu

Piring jua bisa tatoki, pica di meja makan, bukan cuma sekali saja, sama deng hidop ade kaka, biar laeng marah laeng, mar busu-busu orang sodara jua. Mari hidup baku sayang, jaga itu ikatan, jangan pisah mama pung sayang, kaka e. Seng ada kepeng bisa cari, mas permata cuma fantasi, kalo kaka mo cari di mana”. Ini sepenggal syair lagu orang Ambon yang memberikan inspirasi tentang pentingnya mengasihi saudara. Hari ini kita pun membaca sebuah nasehat yang sama dari penulis surat 1 Yohanes. Dalam suratnya ia menasihati  supaya jangan membenci saudara kita. Mengapa hal itu diingatkannya? Karena rasa benci dapat berujung pada rencana dan tindakan yang jahat atau menyakiti. Ini merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Lihatlah contoh nyata dari kisah Kain yang membunuh Habel saudaranya, semua itu dimulai dari rasa benci, dan Tuhan menghukumnya karena tindakan itu. Maka janganlah sebagai saudara kita saling membenci apalagi merancangkan kejahatan untuk saudara kita sendiri. Sebaliknya Tuhan mengajarkan kita untuk selalu mengasihi, dimulai dari keluarga kita sendiri. Dari keluargalah benih cinta kasih harus kita tanam dengan baik. Supaya dengan begitu kita mengetahui kasih Kristus ada di dalam kita, yaitu apabila kita tetap hidup saling mengasihi. Dalam situasi hidup yang susah seperti sekarang ini, kita diingatkan, jangan menutup pintu hati manakala ada keluarga atau saudara yang menderita dan kekurangan. Apalagi membenci saudara hanya karena mereka orang kurang. Mari hidup saling berbagi dalam kasih, dan janganlah membenci saudaramu, karena itu menjadi tanda sebuah kehidupan baru yang diperkenankan Tuhan untuk kita hadirkan dalam kehidupan setiap hari.

Doa: Bapa di Surga, tolonglah aku untuk tidak membenci saudaraku. Amin.

*sumber : SHK Agust-Sept 2021, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar