Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 September 2021

Tema Mingguan : ” KEPEMIMPINAN YANG MENGGEMBALAKAN “

Minggu, 05 September 2021                         

bacaan : Yohanes 10 : 1 – 20

Gembala yang baik
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." 19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"

Keluarga Yang Saling Menggembalakan

Tuhan Yesus mengandaikan persekutuan jemaat sebagai domba-domba-Nya dan IA sendiri menyediakan diri-Nya menjadi Gembala domba. Dalam bacaan kita hari ini dijelaskan bahwa tanggungjawab untuk menggembalakan didasari oleh panggilan Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung kita. Tidak ada satu pun yang sanggup menjadi gembala yang baik seperti Yesus, yang memelihara dan berkorban bagi domba-dombaNya. Yesus memelihara umatNya dengan penuh kasih dan pengorbanan. Ia telah menderita untuk umatNya, untuk kita semua. Meneladani sang Gembala Agung, Yesus Kristus, maka kita pun dipanggil untuk melakukan tugas menggembalakan itu. Tanggungjawab itu harus dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati dan cinta kasih. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk melaksanakan tanggungjawab menggembalakan itu, sebab anak-anak di dalam keluarga adalah “domba-domba Allah” yang harus digembalakan untuk mempelajari dan menghayati nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian orang tua mempunyai tanggungjawab untuk menggembalakan, yaitu: mengajar, mendidik, membina, mengasuh dan mendewasakan anak-anak dalam iman kepada Tuhan Yesus. Orang tua hendaklah menjadi “gembala” yang rendah hati, yang mengasuh anak-anaknya tanpa kekerasan namun dengan kelemah-lembutan, dan penuh kasih sayang. Ketika dalam keluarga ada saling menggembalakan, maka akan tercipta sebuah persekutuan keluarga yang harmonis dan bahagia. Maka  melalui iman, marilah kita sambut panggilan itu dan menghadirkan Gembala Agung di keluarga kita melalui kehidupan yang saling menggembalakan demi kebaikan dan kebahagiaan bersama.

Doa: Yesus Gembala yang baik, tuntunlah kami untuk hidup saling menggembalakan di dalam keluarga. Amin.

Senin, 06 September  2021                         

bacaan : Mazmur 23 : 1 – 6

TUHAN, gembalaku yang baik
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; 3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Bersyukur Atas Kebajikan Dan Kemurahan Tuhan

Hari ini kita bersyukur atas kebajikan dan kemurahan Tuhan di usia 86 tahun Gereja Protestan Maluku. Melewati berbagai persoalan dan tantangan bahkan ancaman, baik yang berasal dari luar persekutuan gereja maupun persoalan yang terjadi dalam kehidupan bergereja,  kita selalu meyakini Tuhan Yesus sebagai Gembala  terus menuntun dan menyertai. Karena itu, firman Tuhan hari ini mau mengajak kita merenungkan kasih dan pemeliharaan Tuhan itu. Dalam nas ini pemazmur mengibaratkan dirinya seperti seekor domba, lemah dan tak berdaya menghadapi tantangan dan bahaya. Di dalam keadaan seperti itu, ia memiliki gambaran yang indah tentang Tuhan: Tuhan adalah Gembalaku. Ketika pemazmur berbicara tentang Tuhan sebagai Gembala, ia berpikir tentang Tuhan sebagai Pelindungnya. Bagi domba, gembala adalah segala-galanya. Seorang gembala akan memimpin domba-dombanya ke tempat di mana domba dapat makan dan beristirahat dengan tenang. Gembala  juga yang menuntun domba-dombanya ke jalan yang benar. Ia akan menjauhkan dari marabahaya dan menjaga mereka dengan baik. Begitu juga  kehidupan kita orang percaya. Kehidupan kita, keluarga, jemaat, dan gereja masih ada hingga hari ini karena Tuhan yang menyertai dan memberkati. Seperti seorang gembala yang baik yang memperhatikan domba-dombanya, begitu juga Tuhan kepada kita semua. Kebajikan dan kemurahan Tuhan sebagai Gembala tetap dinyatakanNya bagi Gereja Protestan Maluku.  Sebab itu, marilah  kita bersyukur dan mengagungkan nama Tuhan setiap waktu lalu kita  bertekad menjadi domba-dombaNya yang baik, yang mengenal suara Sang Gembala dan tetap mengikuti Dia.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus Gembala Yang Baik, atas kebajikan dan kemurahanMu bagi gereja kami. Amin.

Selasa, 07 September  2021                         

bacaan : Mazmur 78 : 70 – 72

70 dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; 71 dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri. 72 Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.

Tuhan Mencari Orang-Orang Yang Setia Dan Tulus Hati

Sebelum menjadi pemimpin yang besar Daud harus melewati proses ujian kesetiaan dalam perkara-perkara kecil terlebih dahulu. Seperti menggembalakan kawanan domba milik ayahnya. Dalam menggembalakan, Daud menunjukkan kesetiaan dan ketulusan yang pada akhirnya Tuhan membuat segala sesuatu indah tepat waktunya. Seperti yang ditulis Asaf : dipilihnya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, Umat-Nya dan Israel milik-Nya sendiri. Daud teruji, setia dan tulus hati, menggembalakan kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Di masa-masa seperti sekarang ini, ujian dan tantangan semakin besar. Tantangan itu berupa masalah, penderitaan, kesesakan, kedagingan, dll. Anak-anak Tuhan mengalami kekecewaan di tempat-tempat kerja. Yang banyak terisi oleh orang-orang lain yang tidak seiman. Terjadinya hal ini oleh karena kita yang kurang kuat menghadapi resiko-resiko kerja yang berat. Nampak anak-anak Tuhan mulai kehilangan kesetiaan dan ketulusan dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah Tuhan percayakan. Kondisi itu yang membuatnya kehilangan kesempatan dalam meraih prestasi. Kembali kita diingatkan Sebagai anak-anak Tuhan jadilah panutan, dimana dan kapanpun waktunya kita harus bisa menjadi berkat bagi dunia ini. Jadilah gembala yang baik dan pakailah pola pendekatan gembala dalam menuntun keluaraga dan sesama yang lain. Tuhan mencintai orang-orang yang setia dan tulus hati di bumi ini.

Doa:  Tuhan kuatkan dan teguhkan hatiku, untuk kerjakan tugas-tugas yang Engkau percayakan. Amin.

Rabu, 08 September 2021                                     

bacaan : Yeremia 3 : 15

15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.

Allah Mengaruniakan Gembala Yang Menggembalakan

Cacat tubuh laki-laki itu, namun ia bisa mencari nafkah dan  menjadi pengusaha yang sukses. Dia juga menikahi seorang gadis sempurna tanpa cacat dan sama-sama mereka membangun rumah tangga dan memperoleh dua orang anak yang cantik dan sehat. Orang memandang rendah kepadanya, tidak punya masa depan, dengan hidup yang seperti begitu. Namun Tuhan membuat dia  berhasil dan sukses. Dalam kondisi cacat di kursi roda, laki-laki itu memiliki kemampuan untuk mendidik dan menuntun keluarganya dengan baik. Anak-anak diingatkan untuk hadapi tantangang dan cobaan. Jalanilah dengan keyakinan bahwa dengan iman dan doa, setia dan taat pada Tuhan, kita dapat melakukan segala yang baik dalam hidup ini. Sosok Ayah yang cacat ini telah memberikan  inspirasi kepada keluarga kita, dan lainnya bahwa Allah itu baik. Allah mempercayakan kita sebagai gembala yang memimpin keluarga Allah. Ia memberi hati yang taat ibarat hati seorang ayah yang mengasihi anak-anaknya, membimbing menuntun pada jalan kebenaran dan hidup. Anak-anak akan mengenal sosok ayah sebagai gembala dan berbangga memilikinya, sekalipun dia seorang yang cacat fisiknya. Kita belajar tidak saja mengenal Allah, tetapi mengenal perbuatan-perbuatan-Nya yang Ia lakukan atas kita. Karenanya setiap orang yang percaya harus menyerahkan diri penuh dalam tuntunan-Nya. Banyak keberhasilan dan kesuksesan di didapat oleh karena  takut akan Tuhan, hidup dalam ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Dalam susah maupun senang hiduplah bersama Tuhan sebab Dia gembala yang baik, yang selalu menggembalakan kita. Marilah kita belajar dari Tuhan gembala yang baik, supaya kita  pun dapat menggembalakan yang lain dengan hati yang penuh kasih .

Doa: Tuhan, karuniakanlah kemampuan bagi kami dalam menggembalakan keluarga. Amin.

Kamis, 09 September 2021                              

bacaan : Yesaya 40 : 9 – 11

9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!" 10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. 11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Allah Dan Kekuatan-Nya

Banyak orang takut pada virus corona, sebab berat resiko jika terinfeksi virus ini. Banyak cara dipakai untuk terhindar baik 5M, pola makan yang sehat, istirahat yang teratur juga vaksin. Virus ini belum juga berakhir. Dalam situasi ini kita bertanya dan terus bertanya, Tuhan, kapan virus ini ,berakhir? Mungkinkah kita akan kuat kedepan dalam menjalani hidup di masa pandemic ini?. Dalam situasi dan keadaan apapun yang membuat kita terganggu, ingatlah bahwa Allah kita tetap ada bersama kita. Yesaya menggambarkan Allah sebagai Gembala yang menggembalakan dan domba-domba-Nya terpelihara. Allah juga dilukiskan sebagai seorang Gembala yang mengangkat seekor anak domba supaya melindungi dan membawanya dekat di hati-Nya. Tuhan datang dengan kekuatan dan kekuasaan seperti pemimpin yang perkasa, namun kehadiran-Nya bagaikan Gembala penuh perhatian yang menggembalakan domba-domba-Nya. Kebenaran ini harus disambut dengan iman, pengharapan dan kerinduan dalam doa kepada Tuhan. Karena itu umat diharapkan tidak merasa kecewa dan takut apalagi putus asa. Yesaya mengumandangkan firman Tuhan bahwa Tuhanlah yang akan menolong mereka. Karena itu umat diajak untuk bersorak-sorak bagi Dia yang datang yang membawa kemenangan, pembebasan, ditengah penderitaan dan kesesakan. Menghadapi situasi sekarang ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan yang selalu membuat kita menjadi orang-orang yang kuat, tidak menjadi takut dalam menghadapi semua tantangan dan cobaan. Jadi jangan kita  takut menjalani hidup dalam cobaan dunia ini. Justru yang perlu sekarang ini kita minta adalah kekuatan dan kesehatan dari Tuhan, agar kekuatan Roh-Nya melindungi dan memampukan kita menjalani hidup ini .

Doa: Tuhan membebaskan kita dari rasa takut. Amin.

Jumat, 10 September 2021                          

bacaan : I  Tawarikh  11 : 1 – 3

Daud menjadi raja atas Israel
Lalu berkumpullah seluruh Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. 2 Telah lama, ketika Saul memerintah, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN, Allahmu, telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas umat-Ku Israel." 3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN, kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Samuel.

Raja Israel Pilihan Allah Sendiri

Tuhan telah menunjuk Daud sebagai Raja pengganti Saul, yang akan menggembalakan umat Israel. Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik dan sejahtera. Dalam mengerjakan tugas-tugas itu ada unsur pengorbanan. Dia rela berkorban untuk umatnya. Dia tidak saja berdoa dan taat pada Firman-Nya, tetapi mencintai umat juga membebaskan mereka dari banyak musuh. Sama seperti Daud, Allah mempercayakan kita sebagai anak-anak-Nya dalam melakukan tugas-tugas dan Dia meminta kita melakukannya dengan hati yang rela berkorban. Karena itu, sebagai hamba yang melayani, tunjukanlah kasih dan kesetiaan. Dengan kasih kita melayani, baik itu melayani anak-anak, suami/ istri  atau lainnya, dan dengan kesetiaan kita buktikan bahwa kita melakukannya sama seperti kita melakukan untuk Tuhan. Dengan doa dan Firman kita paham akan kebenaran di dalam melaksanan semua bentuk tanggung jawab. Mungkin kita akan kecewa dan putus asa, kita bisa salahkan siapa saja, tetapi jangan lupa Allah tidak pernah mempersatukan kita untuk sesuatu yang buruk, dan kalaupun yang buruk itu datang segeralah memperbaikinya. Tugas kita demikian sebab Allah percayakan kita untuk hal baik dan memperbaiki hal buruk supaya kita menjadi berarti. Oleh karena itu setiap orang yang mau berhasil dan sukses, adalah mereka yang sungguh-sungguh melakukan tanggung jawab dalam doa dan pergumulan. Ingat bahwa Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik, sejahtera. Jangan kita lupa ada dalam doa, dan jangan jemu-jemu melakukan kebaikan sekalipun tersakiti. Lakukan yang baik, jauhkan yang tidak baik. Lakukan yang positif jauhkan yang negatif, berjuang keras demi keselamatan diri dan sesama demi kebahagiaan bersama.

Doa:  Tuhan mampukan kami mengerjakan tugas-tugas yang Engkau telah percayakan. Amin.                                               

Sabtu, 11 September 2021                           

bacaan : 1 Tawarikh 13 : 1 – 8

Tabut dipindahkan dari Kiryat-Yearim
Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. 2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: "Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. 3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya." 4 Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu. 5 Lalu Daud mengumpulkan semua orang Israel dari sungai Sikhor di Mesir sampai ke jalan yang menuju Hamat, untuk menjemput tabut Allah dari Kiryat-Yearim. 6 Lalu Daud dan segenap orang Israel berangkat ke Baala, ke Kiryat-Yearim, yang termasuk wilayah Yehuda, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta di atas kerubim. 7 Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu. 8 Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Allah dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, ceracap dan nafiri.

Tanyakan Tuhan Dan Jadikan Dia Alternatif Pertama

Syalom saudaraku! Bersyukurlah kepada Tuhan karena kita telah tiba dengan selamat di penghujung usbu ini. Hari ini kita belajar dari Daud dan Umat Israel dalam menangani Tabut Perjanjian, Benda yang adalah lambang kehadiran Allah, yang hanya bisa diangkat/ dipegang oleh para imam dari Suku Lewi. Jika membaca perikop 1 Taw.13:1-8 ini sepintas maka kita akan menyimpulkan bahwa Daud telah melakukan yang terbaik sebagai seorang pemimpin. Ia tidak memutuskan sendiri apa yang hendak dikerjakannya tetapi ia berunding dengan para pemimpin pasukan dan mengumpulkan orang Israel termasuk para imam Lewi dari berbagai penjuru. Tapi kenapa terjadi malapetaka saat tabut itu dipindahkan hingga memakan korban? Rupanya yang baik menurut Daud belum tentu baik menurut Tuhan. Yang Tuhan inginkan adalah, Daud harus bertanya kepada Tuhan lebih dulu. Langkah selanjutnya akan Tuhan tentukan dengan caraNya. Jika hal itu dilakuan Daud maka Uza yang bukan berasal dari imam Lewi tidak akan menyentuh tabut yang berakibat kematiannya. Jika Daud lebih dulu bertanya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberinya hikmat untuk menyerahkan tugas memimpin pujian kepada kaum Lewi, sesuai aturan di Israel.  Saudaraku, sering kali kita berinisiatif melakukan sesuatu tanpa bertanya kepada Tuhan. Tuhan menjadi alternatif terakhir dalam perencanaan kita, bukan alternatif pertama dan utama sehingga kita sering gagal. Karena itu baik Papa sebagai pemimpin dalam keluarga maupun Mama dan anak-anak harus menjadikan Tuhan sebagai alternatif pertama dan utama dalam setiap perencanaan kita, maka Tuhan Pemimpin yang Agung akan menuntun kita untuk melakukan yang baik dan benar menurut Tuhan.

Doa:          Ya Tuhan, tolong kami tuk menempatkan Tuhan sebagai altrnatif pertama dalam setiap perencanaan kami. Amin.

*sumber : SHK Sept 2021, LPJ GPM

Tinggalkan komentar