Tema Mingguan : ” TANGGUNG JAWAB DAN RESIKO SEORANG GEMBALA “
Minggu, 12 September 2021
bacaan : Yehezkiel 3 : 16 – 21
Yehezkiel dipanggil menjadi penjaga Israel
16 Sesudah tujuh hari datanglah firman TUHAN kepadaku: 17 "Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku. 18 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! --dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 19 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. 20 Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 21 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu."
Jadilah Penjaga Bagi Sesamamu
Kita baru merayakan Ulang Tahun GPM yang ke 86 tahun. Jika diibaratkan dengan manusia maka GPM sudah menjadi lansia yang sarat pengalaman karena telah banyak makan asam garam dan pasti akan sangat bijaksana dalam bertutur maupun bertindak. Dirgahayu GPM, semoga para pelayan dan wargamu, akan menjadi orang-orang yang bijak dalam bertutur maupun bertindak.
Hari ini kita belajar dari Nabi Yehezkiel yang diberi tugas oleh Tuhan, sebagai penjaga Israel. Tugas ini berisiko tinggi karena Yehezkiel harus menyampaikan peringatan kepada bangsa pilihan Tuhan itu. Jika peringatan itu tidak disampaikan, maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban darinya dan bisa jadi nyawa Yehezkiel sendiri menjadi taruhannya. Memang berat tugas ini, tetapi itu adalah tugas yang harus diembaninya sebagai seorang suruhan Tuhan. Saudaraku, setiap kita adalah juga ‘penjaga’ bagi sesama kita. Artinya kita memiliki tanggung jawab memberitakan Firman dan kehendak Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita. Kita tidak boleh tinggal diam dan bersikap masa bodoh saat melihat orang-orang di sekitar kita dengan sengaja ataupun tanpa sengaja melakukan dosa. Kita harus berani menegur mereka jika hidup mereka bertentangan dengan firman Tuhan. Sebab sama seperti Yehezkiel, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban dari Tuhan. Jika Yehezkiel terpanggil untuk menjadi Penjaga Israel maka kita terpanggil untuk menjadi Penjaga bagi sesama kita. Melakukan tugas ini memang berisiko, karena ada yang bisa menerima peringatan kita dan mau berubah, tetapi ada juga yang tidak bisa menerima dan malah berperkara dengan kita. Tetaplah lakukan tugas kita, karena Tuhan akan tetap menyertai kita.
Doa: Tuhan, lengkapi kami dengan keberanian, hikmat dan semua yang kami perlu untuk menjadi penjaga bagi sesama kami. Amin.
Senin, 13 September 2021
bacaan : Yeremia 10 : 21
21 Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai.
Tidak Bertanya Sesat Di Jalan
Coba anda mencari seseorang di suatu tempat yang masih asing bagi anda dan karena malu, anda tidak bertanya. Anda pasti akan muter-muter saja dan mungkin juga tersesat seharian tanpa menemukan orang yang anda cari. Tapi jika anda mau bertanya pada orang-orang yang berdiam di situ, pasti ada petunjuk yang diperoleh dan anda bisa segera menemukan yang dicari. Hal ini terjadi juga pada para gembala yang menurut Yeremia “BODOH”, karena melakukan tugas mereka tanpa bertanya kepada Tuhan sehingga menyebabkan “hewan gembalaan” mereka tercerai berai dan mereka menjadi tidak bahagia (Yeremia 10:21). GEMBALA bagi bangsa Israel adalah gambaran pemimpin mereka. Nabi Yeremia sedang mengecam para pemimpin Israel karena menjadi gembala yang bodoh dan jahat. Mereka bertindak menurut kehendak sendiri tanpa meminta petunjuk Tuhan dan mereka pun gagal menjadi pemimpin yang baik atau menurut bacaan kita “tidak bahagia” Saudaraku, dalam perjalanan kehidupan kita, entah saat kita berada di tengah keluarga, di tempat kerja atau di mana saja dan melakukan aktifitas kita, sering kita juga mengalami “tersesat” dan “tidak bahagia”. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal, misalnya : pekerjaan kita berantakan, hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita tidak harmonis dan sebagainya. Kondisi ini terjadi karena kita melakukan segala sesuatu dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri karena menganggap diri bisa, pintar, cakap lalu tidak bertanya kepada Tuhan. Jadi, jika kita tak ingin “tersesat” dan “tidak bahagia” dalam hidup kita, mari tanyakan Tuhan terlebih dulu sebelum kita melakukan sesuatu. Libatkan Tuhan dalam setiap rencana dan kerja kita.
Doa: Tuhan, kami akan selalu bertanya dan minta petunjuk-Mu sebelum kami beraktifitas. Kami percaya Tuhan mendengar kami. Amin.
Selasa, 14 September 2021
bacaan : Yeremia 23 : 1 – 4
Janji tentang Tunas Daud yang adil "Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" --demikianlah firman TUHAN. 2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: "Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN. 3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. 4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.
Jadilah Pemimpin Yang Bertanggung Jawab
Kores dipercayakan Tuhan untuk menjadi Kepala Desa di salah satu Desa di Pulau B. Pada saat dilantik dan diambil sumpah, Kores berjanji akan melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan di dalam pidatonya Kores mengutip beberapa ayat Alkitab dan mengatakan bahwa dia akan menjadi “Gembala Yang Baik” bagi masyarakat desa itu. Namun seiring perjalanan waktu, Kores ingkar janji. Banyak kecurangan yang dilakukannya sehingga jabatan Kores dicopot dan dia dijebloskan ke dalam penjara. Saudaraku, apa yang terjadi dengan Kores dalam kisah di atas juga terjadi dalam kehidupan umat pilihan Allah, Israel. Dalam bacaan kita, melalui Yeremia, Allah mengecam para raja Yehuda karena perilaku mereka ibarat gembala yang jahat. Mereka lalai dan membiarkan umat Allah terserak dan tercerai berai, karena itu Tuhan menghukum mereka (ay.1-2). Sementara umat Israel, sekalipun telah berdosa terhadap Allah namun karena kasihNya yang besar, Allah berinisyatif untuk mengumpulkan mereka kembali dan memberikan pemimpin yang lebih bertanggung jawab agar kehidupan umat dapat dipulihkan (ay.3-4). Jika kita sedang dipercayakan menjadi pemimpin, entah di dalam masyarakat, di gereja, di persekutuan-persekutuan, termasuk di dalam keluarga sebagai Papa dan Mama, baiklah lakukan tugas kepemimpinan itu dengan baik dan benar. Baik dan benar bukan menurut ukuran kita, tetapi sesuai kehendak Tuhan. Jadilah gembala yang baik dan bertanggung jawab, sebab jika tidak, maka sewaktu-waktu Allah akan mengambil alih kepemimpinan itu dan yang bersalah pasti akan dihukum. Tuhan Yesus, Sang Gembala Yang Maha Baik telah memberikan contoh bagaimana menjaga dan merawat para domba. Belajarlah padaNya dan jadilah pemimpin yang bertanggung jawab.
Doa: Tuhan, jadikanlah kami pemimpin yang bertanggung jawab. Amin.
Rabu, 15 September 2021
bacaan : Yeremia 25 : 34 – 38
34 Mengeluh dan berteriaklah, hai para gembala! Berguling-gulinglah dalam debu, hai pemimpin-pemimpin kawanan kambing domba! Sebab sudah genap waktunya kamu akan disembelih, dan kamu akan rebah seperti domba jantan pilihan. 35 Maka bagi para gembala tidak akan ada lagi kelepasan, dan bagi para pemimpin kawanan kambing domba tidak akan ada lagi keluputan. 36 Dengar! para gembala berteriak, para pemimpin kawanan kambing domba mengeluh! Sebab TUHAN telah merusakkan padang gembalaan mereka, 37 dan sunyi sepilah padang rumput yang sentosa, oleh karena murka TUHAN yang menyala-nyala itu. 38 Seperti singa Ia meninggalkan semak belukar persembunyian-Nya, sebab negeri mereka sudah menjadi ketandusan, oleh karena pedang yang dahsyat, oleh karena murka-Nya yang menyala-nyala."
Ikutilah Kehendak Tuhan
Yeremia dalam bacaan kita hari ini, mengisahkan tentang amarah Tuhan Allah kepada bangsa-bangsa karena tidak melakukan kehendak-Nya. Penghukuman yang Allah berikan tidaklah memandang muka, semua bangsa yang berdosa dihukum-Nya. Gambaran murka Allah itu ibarat cawan yang berisi anggur yang memabukkan, yang membuat orang yang meminumnya menjadi mabuk, muntah-muntah, rebah dan tidak bangun lagi. Ayat bacaan kita (34-38) memperlihatkan kondisi umat yang mengalami Kemurkaan Tuhan Allah. Mereka seperti kehilangan arah dan ketakutan serta cemas. Inilah gambaran kesengsaraaan manusia ketika tidak setia dan taat kepada Tuhan.
Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan kita. Dalam konteks keluarga misalnya, ada pola didikan yang diberikan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Pola didikan itu pasti berbeda-beda namun bertujuan sama yakni menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang baik, setia dan taat. Tidak jarang, dalam didikan itu ada orang tua yang mendidik anaknya dengan keras dan tegas agar anaknya lebih bertanggung jawab dan mandiri. Bila kedapatan anaknya melakukan kesalahan, maka akan ada konsekuensi yang diterima anak. Entah dimarahi, dipukul, dicubit, dsb, pasti si anak harus menerimanya dan belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Belajar dari kesalahan adalah sikap yang mesti dimiliki setiap orang dengan komitmen bahwa tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Oleh karena itu, bijaklah melihat setiap tantangan dan masalah sebagai bagian dari cara Tuhan sedang mendidik dan mengarahkan kita untuk setia dan taat melakukan kehendak-Nya.
Doa: Ampunilah kami Tuhan, Jadilah penuntun bagi kehidupan kami. Amin.
Kamis, 16 September 2021
bacaan : Matius 12 : 9 – 15a
Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat
9 Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. 10 Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. 11 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? 12 Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." 13 Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain. 14 Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
Nilai Kemanusiaan
Bacaan hari ini menceritakan tentang seorang yang lumpuh sebelah tangannya di dalam rumah ibadat. Orang Farisi menjebak dan mempersalahkan Yesus dengan pertanyaan, namun dengan bijaksana, Yesus mengatakan, “Jika seekor dombamu jatuh ke dalam lobang pada hari sabat, pasti kau akan mengeluarkannya?” Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa manusia pastinya lebih berharga dari domba, oleh sebab itu jika domba dapat diselamatkan pada hari sabat, mengapa manusia tidak? Kita sering terperangkap pada aturan dan batasan-batasan yang mungkin saja tidak memberi kenyamanan dalam kehidupan kita. Bahkan aturan dan batasan itu digunakan juga untuk memojokkan atau menjatuhkan kita. Benar, bahwa setiap aturan yang dibuat untuk kebaikan bersama, namun ada hal-hal tertentu yang mesti disikapi secara bijak sehingga tidak merugikan diri kita. Oleh karenanya, evaluasi perlu dilakukan jika ada aturan yang tidak lagi menjawab kebutuhan hidup manusia. Dalam hidup berkeluarga pasti juga ada seperangkat aturan yang diterapkan. Tidak secara tertulis namun aturan-aturan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Misalnya, tugas ibu adalah memasak, tugas ayah memperbaiki sesuatu yang rusak, tugas anak-anak membantu ibu membersihkan rumah. Jika kebiasaan ini setiap hari dilakukan maka akan menjadi sebuah aturan dengan pembagian peran yang ada, sehingga jika ada tugas yang terlewatkan atau tidak dilakukan sesuai kebiasaan itu, maka akan menjadi hal yang salah. Tindakan ini yang dikritisi Yesus, ketika berhadapan dengan pertanyaan orang Farisi tentang bekerja pada hari sabat. Sikap Yesus pada akhirnya menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan lebih tinggi dari aturan/hukum yang ada. Oleh sebab itu, kita diajak untuk bersikap kritis tetapi juga menghargai setiap aturan dengan mempertimbangkan nilai kemanusiaan.
Doa: Tuhan, berilah kepada kami hati yang selalu mengasihi sesama. Amin.
Jumat, 17 September 2021
bacaan : Lukas 15 : 1 – 7
Perumpamaan tentang domba yang hilang Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Hilangkan Egomu, Temukan Kasihmu
Domba kecil, Domba kecil, hilang di atas bukit, datanglah Gembala angkat Domba kecil.” Ingatkah kita akan lagu ini? Ya! Ini adalah salah satu lirik lagu sekolah minggu yang sudah sangat dikenal. Lirik sederhana ini membuat kita dengan mudah memahami makna lagu, yakni sang Gembala telah menemukan Domba yang hilang. Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat karena mereka bersungut ketika melihat Tuhan Yesus duduk bersama orang-orang berdosa dan para pemungut cukai. Tanggapan Tuhan Yesus kepada mereka sederhana, bahwa satu domba yang hilang ketika ditemukan pasti Gembalanya akan sangat bahagia. Bukankah lebih baik satu orang berdosa bertobat daripada 99 orang benar yang tidak bertobat. Seorang Gembala memang harus selalu berada bersama-sama dengan domba-dombanya, sebab tugas gembala ialah menjaga, memelihara dan melindungi kawanan domba-dombanya itu. Gembala bukan hanya ditujukan kepada para pelayan. Gembala adalah pemimpin dalam suatu komunitas. Gembala di dalam keluarga, jemaat, masyarakat adalah pemimpin yang bertugas mengayomi dan memberi rasa aman kepada semua orang yang dipimpinnya. Sikap netral mesti dimiliki seorang Gembala sehingga tidak membedakan satu dari yang lain, hanya saja terkadang sikap egois dan sombong mengakibatkan kita tidak mampu memberlakukannya. Oleh sebab itu, firman Tuhan mengingatkan belajarlah menghilangkan ego kita dan temukanlah kasih untuk menerima dan menggembalakan tanpa saling membedakan.
Doa: Ya Yesus Gembala yang Agung, tolong kami Tuhan untuk dapat mengasihi sesama kami. Amin.
Sabtu, 18 September 2021
bacaan : Matius 18 : 12 – 14
Perumpamaan tentang domba yang hilang
12 "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."
Bring Me Home (Bawa Aku Pulang)
Pulanglah anak-Ku, Bapa rindu berseru.. Pulanglah hai anak-Ku Ada ampun Bapa bagimu”. Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Nikita mengisahkan tentang kerinduan seorang ayah kepada anak bungsunya yang merantau dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Seruan “Pulanglah Anak-Ku” bermakna bahwa sang ayah benar-benar merindukan anaknya untuk kembali pulang. Bacaan hari ini secara sederhana ingin menunjukkan bahwa Kasih Tuhan begitu besar bagi kita, sehingga IA menghendaki agar tidak satupun kita (Anak-anak-Nya) hilang dari hadapan-Nya. Hilang disini berarti tidak menjauh dari Hadirat Tuhan, tidak melakukan sesuatu diluar Kehendak Tuhan, dan tidak menyakiti hati Tuhan. Layaknya seorang ayah yang merindukan kepulangan anaknya, walaupun anaknya telah melakukan kesalahan kepadanya menunjukkan bahwa Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus melakukan hal yang sama, bahwa IA akan memberikan kesempatan untuk kita kembali “Pulang” (bertobat) kepada-Nya. Oleh Sebab itu, peka dengar panggilan-Nya, tetap siuman untuk selalu melakukan kehendak-Nya, taati setiap perintah-Nya. Bayangkan saja, kita sebagai orang tua ketika anak kita kembali pulang dan meminta maaf untuk setiap kesalahannya pastinya kita akan memeluk dan memaafkannya walaupun mungkin ada sedikit bentakan atau kemarahan yang diluapkan namun setelah itu kita akan bersukacita karena anak kita telah kembali. Hal yang sama akan kita alami bersama Tuhan, kembalilah kepada-Nya, IA tidak memperhitungkan pelanggaran kita, yang IA lihat hanyalah hati yang sungguh-sungguh bertobat.
Doa: Terima Kasih Ya Tuhan, Untuk setiap Kasih-Mu. Amin.
*sumber SHK Sept 2021, LPJ-GPM