Tema Mingguan : ” GEMBALA YANG TEKUN MELAYANI “
Minggu, 19 September 2021
bacaan : Yehezkiel 34 : 1 – 16
TUHAN, Gembala Israel yang baik, melawan gembala-gembala yang jahat Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 "Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? 3 Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. 4 Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. 5 Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak 6 dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya. 7 Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 8 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-domba-Ku menjadi mangsa dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembala-Ku tidak memperhatikan domba-domba-Ku, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-domba-Ku tidak digembalakannya-- 9 oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 10 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. 11 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. 12 Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. 13 Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel, di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. 14 Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel. 15 Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.
Panggilan Seorang Gembala
Terkadang, bahkan sering kita tidak memahami bahwa kita semula adalah domba yang telah dipanggil untuk menjadi gembala. Inilah yang sering membuat kita mengabaikan panggilan sebagai gembala di tengah-tengah domba. Kita menjadi gembala yang ingin diperlakukan sama seperti domba. Ingin diperhatikan, ingin dilayani, ingin diberi makan, dan ingin dilindungi. Bacaan hari ini dari Yehezkiel 34:1-16 hendak mengingatkan dan menegaskan peran seorang gembala di tengah-tengah domba. Sebagai gembala, ia tidak boleh lupa bahwa di tengah-tengah manusia yang lainnya (domba) dirinya berbeda. Gembala tidak boleh lupa bahwa dia adalah orang khusus yang ditempatkan di tengah-tengah manusia yang lainnya sehingga selalu ingin menjadi sama dengan manusia lainnya, bahkan cenderung ingin menjadi yang lebih dari manusia lainnya. Hal ini pada akhirnya menimbulkan sikap egois, ingin menang sendiri, tidak peduli dengan yang lainnya, bahkan tanpa sadar menyusahkan orang lain. Seorang gembala harus melakukan apapun untuk membangun kehidupan umatnya (domba), mengupayakan kehidupan bagi dombanya; yang sakit didoakan, yang lapar diberi makan, yang haus diberi minum, yang berduka dihibur, yang lemah dikuatkan, yang bersalah diberi pengampunan, dan sebagainya. Itulah panggilan sebagai gembala (pemimpin/pelayan) di tengah domba (umat/masyarakat). Maka marilah kita menjadi gembala yang baik.
Doa: Mampukanlah kami untuk menjadi gembala yang baik dan bertanggungjawab. Amin.
Senin, 20 September 2021
bacaan : Yehezkiel 34 : 20 – 24
20 Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH terhadap mereka. Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dengan domba yang kurus; 21 oleh karena semua yang lemah kamu desak dengan lambungmu dan bahumu serta kamu tanduk dengan tandukmu, sehingga kamu menghalau mereka ke luar kandang, 22 maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. 23 Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya. 24 Dan Aku, TUHAN, akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud menjadi raja di tengah-tengah mereka. Aku, TUHAN, yang mengatakannya.
Jangan Menolak Penggilan Menjadi Gembala
Banyak alasan yang selalu menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk menerima suatu tanggung jawab. Ada yang beralasan tidak mempunyai waktu, tidak mampu berbicara, masih muda, tidak pintar, dan lain-lain. Bisa saja kita adalah salah satu dari orang-orang yang selalu beralasan jika dipanggil atau diberi suatu tugas/tanggung jawab. Alasan-alasan seperti yang dikemukakan ini dapat dijumpai pada orang-orang yang hendak dipanggil untuk suatu tugas pelayanan di gereja. Banyak yang tidak memahami bahwa panggilan pelayanan di gereja bukanlah semata panggilan dunia, melainkan panggilan Tuhan. Bacaan Yehezkiel 34:20-24, secara tegas mengingatkan bahwa ketika dalam suatu “kawanan domba” (umat Tuhan) terjadi kekurangan gembala maka Tuhan sendiri yang akan mengangkat satu orang gembala atas mereka. Hal ini berarti panggilan sebagai pelayan atau pemimpin dalam gereja harus dipahami sebagai panggilan Tuhan: Tuhan yang memanggil dan yang mengangkat. Karena itu, dalam merespons panggilan Tuhan tidak boleh ada alasan untuk menolak panggilan Tuhan. Semestinya yang ada yaitu menerima dan siap melaksanakan tanggung jawab tugas pelayanan tersebut. Kita harus meyakini kalau Tuhan yang memanggil dan memilih, maka Tuhan juga yang akan melengkapi dan menyertai dengan Roh hikmat dan kuasaNya agar kita sanggup melakukan tanggungjawab itu dengan baik.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk memahami dan menerima panggilanMU…amin
Selasa, 21 September 2021
bacaan : Markus 6 : 30 – 34
Yesus memberi makan lima ribu orang
30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Kamu Harus Memberi Mereka Makan
Cerita Yesus memberi makan lima ribu orang ini memiliki makna terdalam. Bukan soal keanehan lima ribu orang bisa makan dari lima potong roti dan dua ekor ikan. Bukan juga soal terjadinya mujizat yang mana hanya dengan lima potong roti dan dua ekor ikan bisa mengenyangkan lima ribu orang, bahkan ada tersisa lagi. Kalau kita memfokuskan perhatian pada masalah ekonomi (soal makan/minum), soal lapar, maka memang kita akan menganggap cerita ini tidak terlalu penting dan tidak punya makna. Kisah ini sebenarnya ingin menegaskan bagaimana kita selalu merasa terpanggil untuk menolong orang yang lapar atau orang yang sementara mengalami masalah., Yesus hendak mengajarkan murid-muridNYA dan juga orang-orang Kristen untuk jangan pernah tidak peduli atau mengacuhkan orang yang lapar dan haus, atau orang-orang yang mengalami masalah dan kesulitan dalam hidup. Memang hanya ada lima potong roti dan dua ekor ikan, dan itu tidak cukup untuk memberi makan lima ribu orang. Bagi Yesus menolong orang tidak perlu menunggu kalau ada kelebihan. Tolonglah orang dari apa yang ada, bahkan dari kekurangan yang dimiliki. Yesus katakan: “kamu harus memberi mereka makan”. Kata “harus” menunjukkan bahwa orang Kristen wajib memberi makan kepada mereka yang lapar, wajib menolong orang yang susah, wajib membantu orang yang meminta bantuan. Hal ini juga berarti bahwa membantu/menolong orang itu tidak perlu menunggu kalau pada kita ada kelebihan. Apa yang ada pada kita, itulah yang harus diberikan kepada mereka yang meminta tolong atau bantuan kita. Mengapa harus demikian? Sebab di situlah letak wujud nyata kita menjadi gembala.
Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memahami kewajiban menolong orang yang susah… Amin.
Rabu, 22 September 2021
bacaan : Roma 12 : 6 – 8
6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
Jadilah Gembala Yang Memperlabakan Karunia Tuhan
Masing-masing orang, sejak lahir, memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu. Hal ini berarti tidak ada manusia yang sempurna sebab manusia yang satu selalu membutuhkan manusia yang lainnya. Ada orang yang memiliki kemampuan berbicara namun tidak memiliki kemampuan menulis, dan sebaliknya. Ada yang memiliki kemampuan menghafal tapi kurang mampu dalam menganalisa sesuatu, dan sebaliknya. Rasul Paulus juga telah menegaskan hal tersebut diatas. Dengan menggunakan istilah yang lain, Rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan karunia yang berbeda-beda kepada umatNya. Ada yang diberikan karunia untuk bernubuat, ada yang dikaruniakan karunia melayani, ada pula yang diberi karunia untuk mengajar, serta ada yang dikaruniakan karunia untuk menasehati. Masing-masing orang dengan karunianya tersendiri. Tuhan tidak memberikan kepada satu orang sekaligus semua karunia. Ada pun maksud Tuhan untuk memberikan karunia yang berbeda-beda kepada masing-masing orang yaitu agar antara satu dengan yang lainnya merasa saling membutuhkan dalam membangun kehidupan bersama. Selain itu, tidak ada yang merasa lebih hebat antara satu dengan lainnya. Yang terpenting di sini adalah masing-masing orang dapat memperlabakan karunia-karunia itu. Karena itu marilah kita menggunakan semua karunia yang telah dianugerahkan Tuhan dengan sebaik-baiknya, agar melalui semuanya itu nama Tuhan tetap dipermuliakan dan kita pun menjadi berkat bagi banyak orang.
Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk dapat menjadi gembala yang dapat memperlabakan karunia Tuhan… Amin.
Kamis, 23 September 2021
bacaan : Roma 15 : 15 – 16
15 Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, 16 yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.
Gembala Yang Berani
Salah satu sifat yang ada pada manusia adalah sifat “malu hati”. Sifat ini terkadang muncul pada orang-orang yang takut atau tidak berani mengatakan sesuatu hanya untuk menghindari jangan sampai terjadi konflik dengan orang lain, apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh orang lain yang ditegur oleh seseorang. Namun, berbeda dengan Rasul Paulus, pada dirinya ada keberanian untuk mengingatkan jemaat-jemaat yang dilayaninya tentang pelayanan pemberitaan. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 15:15-16), Rasul Paulus menegaskan bahwa sebagai orang yang telah dianugerahkan kasih karunia, ia tidak takut untuk mengingatkan jemaat Tuhan akan tugas pelayanan pemberitaan Injil. Karena tugas itu penting bagi pertumbuhan iman mereka. Bagi Paulus, orang-orang Kristen di Roma harus juga berani untuk saling mengingatkan tentang Injil Yesus Kristus kepada semua orang tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan sebagainya. Demikian halnya diharapkannya dari kita. Keberanian harus dimiliki oleh orang Kristen ketika menyampaikan kebenaran akan Injil Yesus Kristus: berani untuk berbicara, berani untuk berkata-kata, berani untuk melayani, berani untuk mendoakan, berani untuk mengingatkan, dan berani untuk menolong. Karena itu, sifat malu hati mestinya ditiadakan jika hendak melakukan peran sebagai gembala yang melakukan pelayanan pemberitaan Injil Yesus Kristus. Asalkan yang hendak kita sampaikan itu adalah demi sebuah kebaikan, perubahan dan kemajuan lalu disampaikan dengan santun, maka marilah kita berani melakukan hal itu.
Doa: Beranikanlah kami ya Tuhan, untuk melayaniMU…. Amin.
Jumat, 24 September 2021
bacaan : Kolose 3 : 18 – 25
Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. 22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
Anggota Keluarga Adalah Gembala
Terkadang kita memahami peran sebagai gembala itu adalah dengan menjadi pelayan (pendeta, majelis jemaat, pengurus di gereja). Kita lupa bahwa menjadi gembala itu semestinya dimulai dari keluarga. Rasul Paulus, melalui bacaan ini ia menggaris-bawahi peran gembala dalam keluarga. Bahwa dalam keluarga ada peran sebagai gembala yang dapat dilakukan oleh seisi keluarga. Istri (mama), suami (bapa), anak, dan orang lain di dalam rumah. Sebagai gembala, seorang istri harus tunduk kepada suami. Sebagai gembala, seorang suami (bapa) harus mengasihi istri, tidak berlaku kasar terhadap istri, dan tidak menyakiti hati anak-anak. Sebagai gembala, seorang anak harus menaati orang tua. Kita tahu bahwa tugas seorang gembala itu adalah melakukan pekerjaan Tuhan. Bagi Paulus, melakukan sesuatu untuk Tuhan itu mesti telihat dalam perlakuan terhadap sesama manusia. Hal ini harus dimulai dari dalam keluarga. Makanya Paulus menegaskan dalam ayat 23 “apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Itu berarti semua tindakan penggembalaan di dalam keluarga semuanya itu dilakukan sebagai bukti kasih dan iman kepada Tuhan. Karena itu, yang terpenting di sini adalah membangun relasi dan komunikasi yang baik antaranggota keluarga demi pelaksanaan peran sebagai gembala, sebab dari situ akan mengalir berkat dari Tuhan yang memberkati seisei keluarga yang sudah setia berperan sebagai gembala.
Doa: Ya Tuhan, ingatkanlah kami bahwa kami adalah gembala dalam keluarga.. Amin.
Sabtu, 25 September 2021
bacaan : Filipi 1 : 21 – 22
21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
Berfokus Pada Kristus
Ada syair lagu yang berbunyi: “adapun hidupku ini bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku….”. Setidaknya, sepenggal syair lagu yang sering dinyanyikan ini ingin mengatakan bahwa dalam hidup sebagai orang Kristen, Kristus-lah yang semestinya menjadi pusat dan hidup di dalam kita. Itu berarti selama orang Kristen hidup, kehidupan kekristenan mereka harus menampakkan Kristus lewat kata dan perbuatan. Selain itu, menjadi orang Kristen tidak boleh takut pada kematian. Itu yang dimaknai oleh rasul Paulus. Dai memaknai hidupnya adalah Kristus, sehingga sepanjang hidupnya setelah mengalami pertobatan, Kristus menjadi fokus. Apa pun yang dipikirkannya, dikatakannya, dan dilakukannya selalu terpusat pada Kristus. Mengapa demikian? Sebab Paulus meyakini bahwa ketika dalam hidupnya selalu fokus pada Kristus, ia yakin bahwa kematian itu akan menjadi suatu keuntungan baginya. Hal ini penting diingatkan kepada kita, yakni selama menjalani hidup itu orang Kristen haruslah menegerjakan pekerjaan yang memberi buah. Syair lagu di atas kiranya dapat dimaknai sebagai perintah untuk orang-orang Kristen harus selalu mengerjakan segala sesuatu berfokus pada Kristus. Sebagai keluarga Kristen, kita pun diajarkan oleh firman Tuhan ini untuk dapat mengerjakan segala sesuatu yang memberi buah kebaikan bagi sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan.
Doa: Ya Tuhan, arahkanlah pikiran, perkataan, dan perbuatan kami terfokus pada Kristus… Amin.
*SUMBER : SHK BULAN SEPT 2021, LJP GPM