Santapan Harian Keluarga, 26 September – 2 Oktober 2021

Tema Mingguan : ” SALING MENGUATKAN DENGAN BERBAGI PENGALAMAN IMAN “

Minggu, 26 September 2021                        

bacaan :  Kisah Para Rasul 20 : 17 – 38

Perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus
17 Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. 18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: "Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. 20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. 22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. 26 Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. 27 Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. 28 Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. 29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. 30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. 31 Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. 32 Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. 33 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. 34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. 35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." 36 Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. 37 Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. 38 Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.

Saling Menguatkan Dalam Pekerjaan Pelayanan

Paulus bercerita tentang perjalanannya dalam menginjili. Bagaimana dia tiba hari pertama di Asia, dalam melayani Kristus ia harus mencucurkan air matanya, menghadapi orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak berguna bagi jemaat disana. Ia mengajar dan memberitakan semua tentang kasih Allah supaya mereka dapat bertobat dan percaya pada Kristus. Dalam pelayanannya, ia tidak menginginkan perak, emas, atau pakaian. Dengan tangannya sendiri ia bekerja memenuhi keperluannya dan teman-temannya. (Ayat 35). Hal ini mesti menjadi perhatian untuk menjadi umat dan pelayan yang baik, yakni tidak lalai dalam panggilan memberitakan Injil, dapat menjaga diri sendiri dan menjaga kawanan domba Allah. Karena itu, jangan pernah berhenti untuk saling menasehati,  tetap mengerjakan pekerjaan yang dapat menunjang pekerjaan pelayanan, dan selalu berdoa bersama umat dan pelayan. Hal-hal di atas merupakan bagian dari proses saling menguatkan dan berbagi dalam pelayanan dan pengalaman iman. Sebagai umat dan pelayan, kita dapat memerankan peran tersebut dimulai dari keluarga, unit, sektor, jemaat, bahkan gereja ini. Kita tidak bisa sendirian mengerjakannya. Kita perlu keluarga, teman, sahabat , sesama kita untuk saling membantu ,dan menguatkan. Tuhan memakai mereka untuk menolong kita dan Tuhan juga memakai kita menjadi saluran berkat untuk hidup mereka. kiranya kita dapat  Bercerita tentang kebaikan Tuhan dalam hidup dan pelayanan agar semakin dikuatkan dalam menjalani panggilan pelayanan.

Doa:  Tuhan, Ajarlah kami untuk selalu  menjadi berkat dalam hidup, Amin

Senin, 27 September 2021                            

bacaan : 1 Timotius 4 : 1 – 6

Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan 2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. 3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. 4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa. 6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

Terima Semua Dengan Ucapan Syukur

Dalam nas ini Paulus menyatakan bahwa makanan, bahkan juga seksualitas adalah ciptaan Tuhan. Semua yang Tuhan ciptakan adalah baik jika diterima dengan ucapan syukur, karena “semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa”. Tetapi, para pengajar sesat memutarbalikkannya dengan menyatakan bahwa apa yang baik yang berasal dari Tuhan itu justru jahat. Ini sama sesatnya dengan menyatakan bahwa apa yang jahat adalah baik. Keduanya sama-sama mengabaikan, bahkan melawan dan melecehkan apa yang telah Allah buat dan nyatakan bagi umat-Nya. Karena itu menghadapi para pengajar sesat ini Paulus menasehati Timotius untuk selalu mengingatkan ajaran-ajaran yang benar kepada umat yang dilayaninya karena ia tidak hanya telah menerima pengajaran, tetapi juga terdidik dan memiliki hidup yang berakar dalam “soal-soal pokok iman dan ajaran sehat” yang selama ini diikutinya. Karena itu ia pun harus mengajarkan hal-hal yang benar, yang sesuai ajaran sehat dan berguna untuk membangun iman. Kita semua adalah orang-orang yang telah bertumbuh dalam iman dan ajaran yang sehat yang kita terima sejak masih kecil hingga masa tua melalui firman Tuhan, ajaran gereja dan sebagainya. Kiranya pertumbuhan iman kita ini digunakan untuk senantiasa mengingatkan dan mengajarkan hal-hal yang benar, mulai dari dalam keluarga hingga ke dalam masyarakat bahwa segala hal yang diciptakan Tuhan perlu diterima dengan senantiasa mengucap syukur. Baik atau buruk.

Doa:      Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tetap mengucap syukur atas apa yang kami terima darimu. Amin.

Selasa, 28 September 2021                   

bacaan : 1 Tesalonika 1 : 2 – 10

Salam Buah pemberitaan Paulus
2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. 3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. 4 Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. 5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. 6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. 8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. 9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Jadilah Teladan Yang Baik

Setiap orang dalam perjalanan hidupnya perlu bertumbuh dengan belajar dari orang-orang lainnya yang bisa menjadi sumber keteladanan. Rasul Paulus bersyukur atas keberadaan jemaat Kristen di kota Tesalonika. Dalam kehidupan dan pelayanan mereka, mereka bisa menjadi teladan yang baik bagi sesamanya.“Kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan,” demikian kata Rasul Paulus. Dengan kata lain, jemaat Kristen Tesalonika telah meneladan Rasul Paulus dan Tuhan Yesus dalam kehidupan jemaat mereka. Dalam hal apa mereka meneladan Rasul Paulus? Dalam hal pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman, pengharapan, dan kasih terpadu dengan baik  dalam kehidupan orang-orang percaya di Tesalonika. Proses meneladan yang baik ini menyebabkan mereka bisa menjadi teladan yang baik juga bagi sesamanya terutama bagi jemaat-jemaat Kristen di wilayah Makedonia dan Akhaya. Setiap keluarga Kristen diundang untuk mengolah keteladanan iman, pengharapan, dan kasih dalam Kristus.Tentu tidak selalu mudah menjadi teladan. Ketika orang tua ingin menjadi teladan dalam kasih, mau tidak mau orang tua sendiri harus mewujudkan kasih itu. Jika orang tua ingin anak-anaknya bisa meminta maaf jika bersalah, orang tua sendiri juga harus memulai memberi teladan minta maaf ketika bersalah. Jika orang tua tidak ingin anaknya menjadi pembohong, orang tua harus memberi teladan itu kepada anak-anaknya, dengan tidak berbohong kepada mereka. Jadi, mari memberi teladan yang baik.

Doa:  Berikan aku kekuatan ya Tuhan untuk menguatkan orang lain melalui pengalaman imanku. Amin.

Rabu, 29 September 2021                              

bacaan : Galatia 1 : 11 –  24

Bagaimana Paulus menjadi rasul
11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. 12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. 13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; 17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. 18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.

Jadikan Tantangan Sebagai Kesempatan Berkarya

Nas bacaan hari ini berisikan pembelaan Paulus kepada orang-orang yang meragukan kerasulannya. Mereka bukan hanya meragukan kerasulan Paulus melainkan juga menyerangnya secara pribadi dan menyampaikan tuduhan-tuduhan palsu bahwa apa yang diajarkan dan diberitakannya itu sesuatu yang keliru. Tuduhan demi tuduhan itu dihadapinya justru ketika ia mulai menyampaikan pengajaran dan kebenaran mengenai keselamatan berdasarkan kasih karunia. Namun dari semua perkataan Paulus ini kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata tuduhan demi tuduhan yang dialaminya itu justru menjadi kesempatan bagi Paulus untuk menceritakan pengalaman pertobatan dan karya Allah yang besar dalam hidupnya. Pengalaman iman itulah yang selalu menguatkannya. Karena itu, Paulus tidak menyerah dan berkecil hati menghadapi tantangan yang dterimanya, melainkan semakin teguh dan bersemangat untuk meberitakan Injil. Sebagai orang percaya kita pun perlu meneladani kepekaan dan keberanian Paulus dalam menghadapi setiap tuduhan atau tantangan yang kita terima dalam tanggungjawab pelayanan dan dalam setiap kesempatan kita menjadi saksi Kristus. Jangan biarkan orang lain menjatuhkan kita karena keyakinan akan kebenaran yang kita beritakan dan lakukan. Jangan biarkan keadaan yang sulit membuat kita tidak berdaya dan menyerah atau mundur dari panggilan pelayanan. yakinlah bahwa bersama Kristus, segala tantangan dapat dihadapi dan dijadikan kesempatan untuk bersaksi dan berkarya dengan lebih baik.

Doa:      Tuhan, mampukan aku untuk menjadikan tantangan sebagai kesempatan untuk terus berkarya, Amin

Kamis, 30 September 2021                                   

bacaan : Kolose 2 : 1 – 5

Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi, 2 supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, 3 sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. 4 Hal ini kukatakan, supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah. 5 Sebab meskipun aku sendiri tidak ada di antara kamu, tetapi dalam roh aku bersama-sama dengan kamu dan aku melihat dengan sukacita tertib hidupmu dan keteguhan imanmu dalam Kristus.

Belajar dari Perjuangan yang Berat

Jika kita selalu mengenang peristiwa sejarah masa lampau, kita selalu diingatkan tentang perjuangan para pahlawan yang berkorban untuk meraih kemerdekaan. Beratnya perjuangan para pahlawan mendorong semangat kita generasi masa kini supaya benar-benar mengisi suasana kemerdekaan ini dengan maksimal. Para pahlawan memang sudah gugur, tetapi karya dan perjuangan mereka akan selalu dikenang. Dalam perjalanan pemberitaan injil, rasul Paulus mengalami tantangan yang tidak sedikit. Disiksa, dipenjarakan, dihujat, diusir bahkan terancam mati. Tantangan-tantangan yang dihadapinya itu kemudian dipakainya sebagai motivasi pelayanan bagi umat di Kolose. Paulus ingin supaya jemaat di Kolose dapat memaknai beratnya perjalanan pemberitaan injilnya sebagai kekuatan untuk mereka terus memelihara injil dan tidak mudah menyerah dalam menjalani kehidupan. Harus kita akui bahwa menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah, mesti siap berkorban dan menderita. Tetapi dalam setiap pengorbanan dan penderitaan itu, Tuhan selalu memberikan kekuatan dan jalan keluar. Di hari terakhir di bulan ini, marilah kita mengingat kembali perjalanan sepanjang bulan ini. Perjuangan yang sangat berat melawan kenyataan kehidupan di tengah pandemi virus corona. Jadikanlah pengalaman iman bersama Tuhan untuk selalu menjadi alarm bagi kita saling menguatkan sebagai orang percaya. Pengalaman iman di bulan ini akan menghentar kita menata hidup yang lebih baik di bulan berikutnya. Jangan takut berjuang, sebab bersama Tuhan, perjuanganmu tidak akan sia-sia.

Doa:   Ya Tuhan, berikan aku kekuatan untuk berjuang saat hidup terasa berat. Amin.

Jumat, 01 Oktober 2021                                      

bacaan : Kisah Para Rasul 12 : 6 – 17

6 Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. 7 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. 8 Lalu kata malaikat itu kepadanya: "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!" Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: "Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!" 9 Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. 10 Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. 11 Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi." 12 Dan setelah berpikir sebentar, pergilah ia ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa. 13 Dan ketika ia mengetuk pintu gerbang, datanglah seorang hamba perempuan bernama Rode untuk mengetahui siapa yang mengetuk itu. 14 Ia terus mengenal suara Petrus, tetapi karena girangnya ia tidak membuka pintu gerbang itu dan segera masuk ke dalam untuk memberitahukan, bahwa Petrus ada di depan pintu gerbang. 15 Kata mereka kepada perempuan itu: "Engkau mengigau." Akan tetapi ia tetap mengatakan, bahwa benar-benar demikian. Kata mereka: "Itu malaikatnya." 16 Tetapi Petrus terus-menerus mengetuk dan ketika mereka membuka pintu dan melihat dia, mereka tercengang-cengang. 17 Tetapi Petrus memberi isyarat dengan tangannya, supaya mereka diam, lalu ia menceriterakan bagaimana Tuhan menuntunnya ke luar dari penjara. Katanya: "Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan saudara-saudara kita." Lalu ia keluar dan pergi ke tempat lain.

Jalanilah Hidup Dengan Tekun Percaya Dan Berdoa

Pesan kisah penyelamatan Petrus dari penjara menjadi santapan firman di hari pertama bulan Oktober. Bulan ini diawali dengan suguhan penguatan iman, agar kita berdaya menghadapi dan menjalani semua kenyataan. Hari-hari yang akan kita masuki masih menjadi misteri, semua kemungkinan dapat terjadi. Pengalaman hidup mungkin akan dialami dalam bentuk sukses atau gagal, jatuh bangun, suka duka, dan hal-hal itu tidak dapat dihindari. Yakinlah bahwa Tuhan pasti menguatkan kita untuk menghadapi, menggumuli serta memaknai semua pengalaman hidup. Jalanilah hidup dengan berpengharapan karena meyakini pertolongan Tuhan. Tuhan sudah menolong dan membebaskan Petrus ketika ia dipenjarakan dengan penjagaan yang ketat juga berlapis oleh Herodes. Belenggu pemenjaraan yang dialaminya berat dan mustahil dapat diatasi sendiri. Tuhan mengatasi kesukaran yang tak mampu Petrus selesaikan. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan sebab Ia tetap mengasihi sampai pada saat kita habis tenaga. Saat di mana tenaga kita habis, Tuhan pasti hadir dan menyatakan pertolongan-Nya yang membebaskan. Petrus dibebaskan Tuhan karena tak punya kuasa untuk membebaskan diri sendiri, yang dimilikinya adalah keteguhan percaya. Ia tetap percaya pada Tuhan walau sedang mengalami kesukaran hebat dalam penjara. Berusahalah agar keyakinan tidak hilang dalam kesukaran dan pencobaan. Pelajaran lain dari kisah ini adalah kenyataan bahwa ketika Petrus sedang dalam penjara, jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Doa yang dipanjatkan dengan tekun adalah wujud keteguhan percaya. Berdoa adalah akta iman yang dapat terus dilakukan justeru ketika kita tidak dapat melakukan hal yang lain. Tekun percaya dan berdoa merupakan pengalaman iman Petrus dan jemaat mula-mula yang perlu diteladani untuk menjalani hidup di bulan ini.       

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami untuk tekun percaya dan berdoa, terutama ketika menghadapi masa-masa hidup yang sulit. Amin.

Sabtu, 02 Oktober 2021                               

bacaan : 2 Korintus 7 : 2 – 16

Sukacita sesudah dukacita
2 Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami cari untung. 3 Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati. 4 Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah. 5 Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan. 6 Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus. 7 Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku. 8 Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu--kendatipun untuk seketika saja lamanya--, 9 namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. 10 Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 11 Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu. 12 Sebab itu, jika aku telah menulis surat kepada kamu, maka bukanlah oleh karena orang yang berbuat salah, atau oleh karena orang yang menderita perbuatan salah, melainkan supaya kerelaanmu terhadap kami menjadi nyata bagi kamu di hadapan Allah. 13 Sebab itulah kami menjadi terhibur. Dan selain penghiburan yang kami peroleh itu, kami lebih lagi bersukacita oleh karena sukacita Titus, sebab kamu semua menyegarkan hatinya. 14 Aku memegahkan kamu kepadanya, dan kamu tidak mengecewakan aku. Kami senantiasa mengatakan apa yang benar kepada kamu, demikian juga kemegahan kami di hadapan Titus sudah ternyata benar. 15 Dan kasihnya bertambah besar terhadap kamu, apabila ia mengingat ketaatan kamu semua, bagaimana kamu menyambut kedatangannya dengan takut dan gentar. 16 Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu dalam segala hal.

Persahabatan Menguatkan Persekutuan

Paulus mengalami sukacita karena persahabatan dirinya dengan jemaat di Korintus tetap terpelihara. Hubungan persahabatan itu ditandai dengan tindakan memberi tempat di dalam hati, melakukan yang benar, tak merugikan, dan tidak mencari untung. Persahabatan bukan sekadar ikatan yang bersifat fisik tetapi sebuah tautan batin. Seseorang menerima orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri, sebagaimana dikatakan Paulus; “kamu telah beroleh tempat dalam hati kami”. Beroleh tempat dalam hati berarti dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan memahami “dunia” serta hidup mereka. Orang beriman adalah mereka yang tidak mati rasa, tetapi dapat merasakan suasana batin orang lain. Persahabatan menyuburkan perasaan saling menghargai dan merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Seorang sahabat itu “tahu rasa” bukan “rasa tahu”. Ia tahu merasakan susah, karena itu tidak menjadi penyebab atau menambah kesusahan sahabatnya. Orang-orang yang “tahu rasa” memiliki karakter: bertindak benar, tak merugikan dan tidak pula mencari untuk dari sahabatnya. Seorang sahabat selalu berusaha belajar memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya. Kesalahan dijadikan kesempatan untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Mereka juga saling berterus terang, tak ada hal yang disembunyikan sehingga menjadi rahasia, menerima kelebihan dan mengakui bahwa sahabatnya memiliki makna. Persahabatan adalah pesan penting yang kita temukan dari pengalaman iman Paulus dan jemaat di Korintus. Hendaklah kita menjalani hidup sebagai orang beriman dengan semangat persahabatan. Hidup yang dijalani dengan semangat persahabatan pasti menguatkan persekutuan sebagai orang beriman. Bila persekutuan menjadi kuat, maka sukacita pasti dialami.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk mengupayakan dan memelihara  persahabatan, agar persekutuan tetap menjadi kuat.  Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT-OKT 2021, LPJ GPM

Tinggalkan komentar