Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “
Tema Mingguan : “KASIH KARUNIA ALLAH MEMBENARKAN ORANG PERCAYA”
Minggu, 10 Oktober 2021
bacaan : Roma 1 : 16 – 17
Injil itu kekuatan Allah
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."
Hal penting dan tidak boleh dilupakan oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus adalah bahwa injil itu kekuatan Allah. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan semua orang yang percaya kepada-Nya. Injil, kekuatan yang memberikan keselamatan kepada manusia dan dunia. Iman dan kasih karunia Allah yang menyelamatkan, menerangi pikiran dengan kebenaran dan menuntun pada keselamatan itu. Injil adalah kekuatan yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (ayat 16). Ini adalah tema yang sangat penting dalam semua surat Paulus, terutama surat Roma. Gagasan menyelamatkan menunjuk pada karya Allah yang membebaskan manusia dari dosa dan kuasa-kuasa jahat. Keselamatan dialami oleh mereka yang percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah dan Juruselamat dunia. Yesus adalah Anak Allah yang telah datang ke dunia untuk menjadi tebusan bagi mereka yang percaya. Pengurbanan Yesus adalah kasih karunia yang dialamatkan kepada seluruh dunia tanpa terkecuali. Maksudnya adalah bahwa keselamatan di dalam Yesus dapat dialami oleh semua manusia yang percaya dan bukan karena jasa. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, kecuali oleh kasih karunia Allah. Inilah berita yang menguatkan harapan dan keyakinan bahwa Allah mangasihi, peduli dan rela berkorban. Kita menjadi kuat, sebab Allah dapat melakukan hal yang tidak mampu manusia kerjakan. Injil menjadi pesan iman yang membebaskan manusia dari kekuatiran, kebimbangan dan keputusasaan.
Doa: Tuhan perlindunganku, berikanlah kekuatan-Mu untuk kami. Amin.
Senin, 11 Oktober 2021
bacaan : Mazmur 35 : 27 – 28
27 Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: "TUHAN itu besar, Dia menginginkan keselamatan hamba-Nya!" 28 Dan lidahku akan menyebut-nyebut keadilan-Mu, memuji-muji Engkau sepanjang hari.
Bersukacitalah Karena Kasih Karunia Allah Menyelamatkan
Suatu kali Socrates bertanya kepada seorang lelaki tua yang sederhana tentang apa yang membuatnya bersyukur. Lelaki itu menjawab “Yang paling saya syukuri adalah meski keadaan saya begini, saya memiliki sahabat–sahabat yang begitu SETIA sampai saat ini. Ada banyak sahabat yang tidak setia. Dalam kitab Amsal tertulis, ”Kekayaan menambah banyak sahabat ”tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya. (Amsal 19:4). Sahabat palsu biasanya lebih suka bergaul dengan si kaya dan menjadi seorang penjilat serta penghianat. Namun sahabat sejati menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Pengalaman tentang kebaikan yang luar biasa juga dialami pemazmur. Pemazmur mengalami dan meyakini bahwa kasih Allah melebihi segala sesuatu dalam hidupnya. Ia katakan; biarlah bersorak-sorak dan bersukacita karena Dia membebaskan dari musuhnya. Kasih karunia Allah menolong kita melangkah, dan memberi kekuatan. Allah menjadikan kita sahabat, agar kasih karunia-Nya diteruskan kepada semua orang. Kita diminta untuk berhati-hati dan bijak agar dapat mebedakan mana sahabat serta mana lawan. Kisah di atas mengajarkan bahwa sahabat sejati dapat menjadikan kita bersyukur. Kita bersyukur bahwa Allah di dalam Yesus telah menjadi sahabat yang setia. Dia selalu setia di dalam hidup kita. Ia mengangkat, menolong, membebaskan dari berbagai kesulitan, keraguan, ketakutan, dan kecemansan. Jadikanlah Dia sahabat setia kita dalam susah maupun senang.
Doa: Tuhan tunjukanlah kasih setia-Mu, yang menyelamatkan hidup kami. Amin.
Selasa, 12 Oktober 2021
bacaan : Roma 2 : 12 – 16
12 Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. 13 Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. 14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. 16 Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.
Allah Berlaku Adil
Allah menuntun kita untuk menemukan kebenaran-Nya. Kebenaran akan Allah memerdekakan kita. Paulus katakan: Allah berikan kebenaran kepada semua orang dan Ia berlaku adil atas mereka. Allah mencintai semua umat manusia, sekalipun bangsa lain tidak memiliki Hukum Taurat. Ia menciptakan hati nurani, agar semua orang dapat memahami benar dan salah. Hukum Taurat, menunjukkan bahwa manusia tidak mampu untuk lepas dari dosa sehingga dibutuhkanlah anugerah yang menyelamatkan. Paulus menegaskan bahwa semua orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya mereka memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidup, baik atau jahat. Perbuatan jahat orang percaya yang telah diakui dalam pertobatan, akan diampuni (Roma 8:1). Siapa yang melakukan kesalahan akan menanggung akibatnya. Hal itu terkait dengan penghakiman Allah. Keselamatan seseorang tidak ditentukan Hukum Taurat, tetapi oleh kasih karunia Allah. Hukum Taurat berisi tuntunan Allah bagi umat-Nya untuk hidup dan beribadat dan saling melayani. Yesus datang ke dunia dalam kebenaran dan memerdekakan manusia dari perhambaan dosa. Ia adalah hakim yang adil dan benar. Demikianlah orang Kristen harus menyempurnakan dalam diri mereka takut akan Tuhan, sehingga dapat hidup dalam kemurnian hati nurani dan penguasaan diri, berjaga, berdoa, kudus, saleh, serta menunjukkan kemurahan juga kebaikan kepada semua manusia.
Doa: Ya Tuhan berilah Roh-Mu menuntun hati kami, agar mampu melakukan kebenaran. Amin.
Rabu, 13 Oktober 2021
bacaan : Roma 4 : 2 – 6
2 Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. 3 Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." 4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. 5 Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. 6 Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:
Dibenarkan Karena Iman
Pernahkah kita mendengar istilah “sombong rohani”? Istilah ini mengandung pandangan bahwa diri lebih baik secara moral, atau lebih benar dari orang lain. Pandangan ini juga diperlihatkan oleh orang Kristen asal Yahudi yang merasa paling benar di hadapan Allah karena mempraktekkan hukum taurat (band. Rm.3:20). Mereka beranggapan bahwa keselamatan hanya dimiliki oleh orang yang melakukan hukum taurat, sebaliknya semua yang tidak mempraktekan hukum taurat dianggap “kafir” dan tak berhak atas keselamatan Allah. Pandangan ini sangat berbahaya karena berpotensi perpecahan bagi orang Kristen Yahudi dengan non Yahudi di Roma. Menanggapi pandangan tersebut, Paulus kemudian memberikan pemahaman yang baru dengan memberikan contoh tentang tokoh Abraham, bapa leluhur Israel (ay.1). Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman karena memiliki iman yang sungguh kepada Allah (band. Kej.12:1-9; 15:1-21; 18:1-15). Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran (ay.3 band.Ibrn.11:8). Demikian juga dengan Daud dibenarkan oleh iman bukan oleh perbuatannya (ay.6). Paulus mau mengatakan bahwa baik Abraham maupun Daud dibenarkan oleh Tuhan karena iman mereka bukan karena melakukan tuntutan Hukum Taurat atau melakukan perbuatan baik lainnya. Karena itu, apa yang harus dibanggakan di hadapan Allah? Makna bacaan ini bagi kita adalah bahwa setiap orang percaya sudah menerima anugerah keselamatan secara cuma-cuma dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib bukan hasil usaha kita atau perbuatan baik (rajin beribadah, rajin melayani, memberikan persepuluhan,dll) sebab berkat yang diterima adalah milik Allah yang diberikan berdasarkan kasih karunia-Nya. Karena itu, kita tidak perlu “sombong rohani” dengan mengaggap diri paling baik dan benar di hadapan Tuhan sedangkan orang lain berdosa.
Doa: Tuhan tuntunlah hati kami untuk tidak sombong rohani. Amin.
Kamis, 14 Oktober 2021
bacaan : Roma 5 : 1 – 2
Hasil pembenaran Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
Bersama Yesus, Melangkah di Tengah Badai Hidup
Pandemi Covid 19 dengan varian Delta dan MU telah menimbulkan rasa kecemasan, ketakutan bahkan Kesengsaraan (penderitaan) bagi banyak orang. Situasi serupa juga dialami oleh orang Kristen di Roma, mereka mengalami penganiayaan yang hebat karena iman kepada Yesus Kristus. Dalam menghadapi situasi yang demikian, ada orang Kristen yang yang tetap bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus sekalipun harus menderita, tetapi ada juga yang akhirnya memilih untuk meninggalkan imannya kepada Yesus Kristus karena tidak sanggup menghadapi tekanan tersebut. Paulus menasihati orang percaya agar di tengah situasi yang sulit, mereka tetap mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Alasannya, mereka sudah dibenarkan karena iman melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Yesus telah menyelamatkan mereka dari kuasa dosa dan memberikan sukacita, damai sejahtera (ay.1) Kehidupan yang berpusat pada Yesus memampukan orang percaya untuk kokoh berdiri menghadapi berbagai kesengsaraan bahkan dapat bermegah dalam pengharapan karena mereka akan menerima kemuliaan Allah (ay.2). Bacaan ini menegaskan sikap berani menghadapi kenyataan hidup, terutama yang membebani dan menekan. Masalah janganlah melemahkan pengharapan kita kepada Yesus Kristus, sebaliknya menjadi pintu masuk membangun pengharapan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang bijak: “Harapanlah yang membuat seseorang mampu untuk bertahan menjalani hidup sekalipun ada begitu banyak tantangan dan hambatan”. Semoga kita memiliki harapan kepada Yesus Kristus dalam hidup ini. Saat kita membuka mata di pagi hari, bahkan ketika akan menutupnya pada malam nanti, tetaplah berpengharapan kepada Yesus, Tuhan penyelamat, sambil menyambut hari esok yang lebih baik.
Doa: Tuhan, tuntunlah kami melangkah di tengah badai hidup. Amin.
Jumat, 15 Oktober 2021
bacaan : Lukas 18 : 9 – 14
Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Barangsiapa Merendahkan Diri Akan Ditinggikan
Kesombongan; sifat suka meninggikan diri, sok tahu dan merasa paling hebat adalah salah satu sifat yang dibenci Tuhan (band.Ams.6:16-17). Hal ini dijelaskan pula oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang orang farisi dengan pemungut cukai dalam perikop bacaan kita tadi. Dikatakan bahwa Orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama berdoa di Bait Allah. Orang farisi dengan sombongnya menghadap Tuhan dengan menganggap dirinya paling benar karena merasa tidak melakukan dosa (seperti yang dilakukan pemungut cukai). Ia juga merasa paling hebat karena berpuasa 2 kali seminggu, memberikan persepuluhan secara rutin (ay.11,12). Sedangkan Pemungut cukai dengan sikap rendah diri dan merasa tidak layak, datang menyesali dosa-dosanya dan memohon pengampunan dari Tuhan (ay.13). Tuhan Yesus katakan orang yang berdoa dengan jujur dan benar adalah si pemungut cukai. Doanya didengar oleh Allah karena ia tahu diri sebagai orang yang memerlukan kasih karunia Allah. Doa orang farisi tidak diterima oleh Allah karena kesombongannya. Maknanya bagi kita saat ini, jangan sombong atau merasa diri paling banar, paling hebat di hadapan Tuhan karena melakukan kewajiban keagamaan; rajin beribadah, memberikan persepuluhan, melayani pekerjaan Tuhan, dan sebgainya. Karena Tuhan membenci orang-orang sombong, sebaliknya Dia mengasihi orang rendah hati dan mengakui dosa-dosanya. Firman Tuhan: ”Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (ay.14). Jadi, biarkan Tuhan yang memuji kita jangan kita memuji diri kita sendiri. Melaksanakan kewajiban keagamaan; beribadah, persepuluhan, melayani pekerjaan Tuhan adalah cara kita mengucap syukur atas berkat yang kita terima dari Tuhan. Ingatlah, hidup kita hanya karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
Doa: Roh Kudus jauhkan kami dari sifat kesombongan. Amin.
Sabtu, 16 Oktober 2021
bacaan : Mazmur 4 : 2
(4-2) Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!
Doa Menjadi Kekuatan
Semua orang tidak terlepas dari yang namanya masalah, penderitaan, putus asa, galau, gelisah, bimbang, kecewa, takut, kuatir. Mengapa penderitaan tidak terlepas dari diri kita? Karena masalah/penderitaan adalah bagian dari kehidupan manusia. Sebab itu yang terpenting adalah bukan soal masalahnya tetapi pada bagaimana kita dapat menyelesaikannya. Perikop bacaan kita menjelaskan bagaimana Pemazmur mengalami tekanan akibat fitnah dan kebohongan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya terhadap dirinya. (ay.3). Ia menyampaikan permohonan doanya kepada Tuhan dan mengharapkan jawaban-Nya (ay.2). Pemazmur mengandalkan Tuhan sebagai penolong satu-satunya dan menjadikan-Nya sebagai sumber kebenaran yang akan membela dan memberikan keadilan kepadanya berdasarkan kasih karunia Tuhan. Kita belajar untuk menyerahkan hidup secara total kepada Tuhan kapan dan di manapun berada. Akta berserah dan membawa seluruh persoalan hidup kepada Tuhan, menjadikan kita menjadi tenang, tenteram dan aman. Berserah kepada Tuhan adalah pengalaman iman pemazmur yang patut diteladani. Kita belajar bahwa dengan berserah kepada Tuhan dan membawa seluruh persoalan hidup kepada-Nya maka akan hilang rasa takut, cemas serta kuatir. Yakinlah bahwa dengan percaya kepada Tuhan, maka persoalan hidup tidak menjadi beban pikiran. Kita akan terhindar dari dialaminya penyakit susah tidur (insomnia) yang membahayakan kesehatan. Menurut hasil penelitian di Amerika Serikat, penyakit susah tidur (insomnia) mengakibatkan masalah psikologis (depresi berat atau gangguan kejiwaan) dan masalah kesehatan yang serius, seperti: stroke, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kegemukan (obesitas) dan penurunan daya tahan tubuh. Jadi marilah berserah dan berseru pada Tuhan, sebab Ia akan menjawab dan memberikan kelegaan kepada kita.
Doa: Tuhan, jangan tinggalkan aku sendiri, jawablah aku. Amin.
*sumber : SHK bulan Oktober 2021 LPJ-GPM