Tema Mingguan : “Berbela Rasa Dengan Sesama“
Minggu, 14 November 2021
bacaan : Lukas 10 : 25 – 37
Orang Samaria yang murah hati
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
Kebersamaan Hidup Yang Dijaga dan Dirawat
Sering kita lupa pada ajaran Yesus yaitu kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Kebanyakan kita bisa berfikir baik, berbicara juga baik namun kemampuan melakukannya yang sangat lemah. Kasih yang rela berkorban sebagaimana tindakan orang Samaria dalam perikop ini menantang kita semua untuk mewujudkan dalam kehidupan setiap hari. Kata orang Samaria ini “Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantikannya waktu aku kembali”. Perumpamaan ini menggambarkan cinta kasih kepada sesama. Cinta kasih yang tidak terbatas ini menunjukkan bahwa siapa yang melihat orang terluka dan membiarkannya serta tidak menolongnnya, sama seperti mereka menyebut diri mereka orang Kristen namun hatinya tidak peka terhadap penderitaan dan kesusahan orang lain. Hal ini dengan jelas mengungkapkan bahwa didalam diri mereka tidak terdapat Kasih. Panggilan untuk mengasihi adalah tanggung jawab orang yang beriman. Karena kasihNya yang besar, Allah menciptakan manusia segambar dan menjadi termulia. Kasih Allah memelihara kita sehingga kita hidup. Karena kasih setia Allah itulah manusia tidak hidup sekedar hidup, namun membuat hidup itu bermanfaat dan berkualitas dengan mengasihi sesamanya. Sepuluh contoh hidup kebersamaan dalam keluarga dan sesamanya. Saling menyayangi, saling menghormati, hidup selalu rukun, selalu berbagi, selalu tolong-menolong, selalu menghibur seorang dengan yang lain, saling memotivasi, selalu menjadi penyemangat keluarga dan sesama, selalu ada disaat keluarga dan sesama sedang susah. Marilah kita menjaga dan merawat hidup dalam kebersamaan dengan mengasihi, menolong dan membantu sesama sebagai wujud menghidupi kasih Kristus.
Doa: Ajarilah kami Tuhan untuk terus hidup saling mengasihi. Amin.
Senin, 15 November 2021
bacaan : Keluaran 22 : 21 – 24
Peraturan tentang orang-orang yang tidak mampu
21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. 22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. 23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. 24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim
Berbela Rasa Dengan Sesama
Suatu hari seorang pemuda mencari sarapan di pagi hari, ia pergi menuju tempat jualan nasi kuning kesukaannya. Ia tidak langsung pergi ke gerobak makanan untuk membeli nasi kuning sarapannya, namun ia mampir ke tempat olahraga untuk bertemu dengan teman-temannya. Setelah mengobrol, ia kembali pulang dan membeli nasi kuning langganannya. Sesampai disana ia terkejut, karena sang ibu penjual nasi kuning di gerobak kecil itu, tengah terisak-isak menangis sambil memandang jauh ke jalan. Sang pemuda dengan heran bertanya, mengapa ibu menangis? Jawab ibu itu, tadi ada yang menipu dengan membeli nasi kuning beberapa bungkus lalu ia memberikan uang seratus ribu rupiah dan meminta lagi beberapa bungkus. Setelah ia pergi ibu baru sadar bahwa kalau uangnya ternyata palsu.
Pemuda itu kemudian mengeluarkan dompetnya, dan berkata “bu ini uang seratus ribu buat ibu”. Sangat senang hati ibu sebab dengan seratus ribu itu mengembalikan modalnya sehingga ia dapat kembali berjualan nasi kuning di esok hari.
Melalui bacaan hari ini, Tuhan Allah memperingati umat Israel supaya tidak mengambil keuntungan dari kaum minoritas yakni orang asing, janda dan anak yatim. Mereka harus ditolong dan dikasihi sebab mereka juga butuh hidup. Allah sangat memperhatikan kesulitan mereka yang lemah dan berkekurangan. Terdorong oleh belas kasihan terhadap mereka, Allah mengingatkan untuk tidak memperlakukan mereka seperti orang asing, sebab mereka juga memiliki hak atas hidup. Sebagai keluarga Allah, kita mesti mewujudkan hidup berbela rasa dengan sesama teristimewa mereka yang susah dan lemah supaya ada keseimbangan. Semuanya itu demi kehidupan bersama di bumi tempat kita berpijak untuk menikmati berkat Tuhan.
Doa: Tuhan berkati kami demi mewujudkan kasih dalam kebersamaan dengan sesama yang susah dan berkekurangan. Amin.
Selasa, 16 November 2021
bacaan : Keluaran 22 : 25 – 27
25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. 26 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, 27 sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya--pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."
Hidup Berbela Rasa
Ada tiga reaksi ketika kita menjumpai seseorang yang malang hidupnya: Pertama, ada yang memandang rendah karena ia merasa dirinya lebih berkuasa; kedua, ada yang merasa tidak peduli sehingga tidak merasa perlu untuk menolong. Dan ketiga, tergerak oleh belas kasihan sehingga mendorongnya untuk memberi pertolongan. Saat hati seseorang berpusat pada diri sendiri maka ia akan mengabaikan hidup orang miskin. Sebaliknya, hati yang berbela rasa akan mendorongnya untuk menolong mereka yang menderita. Di masa lalu, kehidupan para janda, orang asing, dan anak-anak yatim kerap diperlakukan tidak adil. Dan Allah berfirman kepada orang-orang Israel untuk tidak menindas mereka yang lemah. Allah mengingatkan bahwa dulu mereka adalah orang asing, menderita, dan tertindas di Mesir. Allah menunjukkan betapa menderitanya hidup sebagai orang asing yang tertindas. Pengalaman itu akan selalu mengingatkan mereka untuk tidak menindas keberadaan orang-orang yang miskin. Allah juga mengingatkan agar kita menaruh sikap berbela rasa kepada mereka yang malang hidupnya. Ketika kita melihat orang yang lapar dan haus, kita harus memberinya makan dan minum. Artinya, tanggung jawab untuk memperhatikan dan berbela rasa kepada para janda, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin adalah panggilan kita sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan dan anugerah Allah. ketika kita adalah AnakNya tentu kita mewarisi karakterNya, hiduplah berbela rasa dengan sesama manusia dari hati bukan karena ingin menjadi pusat perhatian.
Doa: Ya Tuhan, Ajarlah kami untuk memiliki hati yang berbela rasa kepada mereka yang lemah dengan tulus. Amin.
Rabu, 17 November 2021
bacaan : Ulangan 15 : 7 – 8
7 Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, 8 tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan
Membantu Tanpa Memikirkan Untung Rugi
Musa menekankan realitas kemiskinan dan bagaimana orang yang lebih kaya atau berkelebihan harus menanganinya. Mereka diperingatkan akan adanya bahaya bagi orang yang berkelebihan menyikapi orang miskin di sekitarnya, yakni: menegarkan hati mengabaikan kebutuhan orang miskin dan menggenggam tangan untuk tidak bersedia memberikan apa yang diperlukan orang mereka. Allah memperhatikan sikap dan motivasi mereka untuk menolong orang yang berkekurangan. Karena itu, Musa memperingatkan umat Israel agar mereka jangan menegarkan hati dengan sikap yang serakah dan mementingkan diri sendiri. Allah menginginkan mereka memiliki hati yang bersimpati. “..tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan” (ay.8). Firman Allah ini mendorong umat Israel pada masa lampau dan kita pada masa kini untuk memiliki bela rasa dengan sesama, keprihatinan, dan kemurahan terhadap mereka yang sedang kekurangan dan mengalami kesulitan, dan mereka yang miskin dan bersedia untuk membantu tanpa memikirkan untung rugi. Bukankah Tuhan Yesus telah memberikan teladan yang sama kepada kita untuk kita ikuti? Dia peduli kepada orang banyak dengan berbagi hidup dengan mereka, menolong orang yang susah dan menderita, membantu orang yang berkekurangan. Karena itu, ketika kita berniat membantu sesama yang susah dan membutuhkan, jangan memikirkan untung rugi. Berbela rasalah dengan motivasi yang tulus dan hati yang benar.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup berbela rasa dengan sesama yang lemah dan membutuhkan. Amin.
Kamis, 18 November 2021
bacaan : Ulangan 15 : 9 – 11
9 Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. 10 Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. 11 Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu."
Peduli Karena Kita Mengasihi
Pada Tahun Sabat berbagai tindakan pembebasan harus dilakukan oleh umat Israel. Pertama, penghapusan utang. Kedua, pembebasan para budak. Dengan bertindak demikian, umat turut serta di dalam mewujudkan kemurahan Allah. Murah hati memancarkan kesadaran akan kemurahan Allah yang lebih dulu telah memberkati umat dengan limpah. Pengaturan penghapusan utang dalam kehidupan bangsa Israel juga merupakan suatu bentuk keadilan dan pertolongan kepada sesama yang tidak sanggup untuk membayar utang. Firman Tuhan mengatakan pentingnya membuka tangan dan hati untuk menolong mereka yang miskin dan membutuhkan. Yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, melainkan mengulurkan tangan untuk membantu. Kenyataanya, orang miskin selalu ada di sekitar kehidupan kita dan mereka membutuhkan pertolongan. Tuhan mau memakai kita untuk menjadi saluran berkat-Nya. Persoalannya, apakah mata kita terbuka untuk melihat mereka yang ada di sekitar kita dan membutuhkan uluran tangan kasih kita? Tuhan menghendaki supaya kita dapat menunjukan kasih dan empati kita terhadap mereka. Bukan saja dalam bentuk derma atau pemberian sesaat, tetapi juga dukungan berkesinambungan yang memampukan mereka mengubah keadaan mereka sendiri menjadi lebih baik. Bersediakah kita menolong? Mari kita melakukannya dengan penuh kasih dan ketulusan hati, karena kasih dan hati yang tulus adalah kekuatan yang mendorong kita untuk menolong mereka yang lemah dan berkekurangan.
Doa: Ya Tuhan, Kami mau melakukan kehendakMu dengan selalu punya hati yang peduli dengan sesama. Amin.
Jumat, 19 November 2021
bacaan : Rut 2 : 10 – 12
10 Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?" 11 Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. 12 TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."
Tunjukkanlah Kebaikan Hatimu
Nama ‘Rut’ berarti ‘belas kasih’. Sesuai dengan arti namanya, Rut memang beroleh belas kasih dari Tuhan. Hidupnya mengalami pemulihan dan diberkati Tuhan. Menarik sekali jika memperhatikan kisah perjalanan hidup Rut beserta Naomi, ibu mertuanya ini. Rut, meski telah ditinggal mati suaminya, tetap berkomitmen mengabdi dan mendampingi ibu mertuanya yang juga janda. Di tengah keterbatasan dan pergumulan yang berat keduanya terus berjuang agar dapat bertahan hidup. Dengan cara-Nya yang ajaib Ia campur tangan dalam kehidupan mereka. Sesungguhnya bisa saja Naomi minta tolong langsung kepada Boas, seorang kaya raya, tapi ia sadar Boas bukanlah kerabatnya melainkan kerabat mendiang suaminya. Akhirnya Rut meminta ijin kepada mertuanya pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai yang terlewatkan dari para pekerja, dan ternyata ladang itu milik Boas. Boas yang melihat itu tidak marah, malah menunjukkan kasih dan kemurahannya. Ternyata berita kesetiaan dan kebaikan hati Rut terhadap mertuanya sampai ke telinga Boas. Tunjukanlah kebaikan hatimu untuk semua orang bukan karena ada maksud terselubung tetapi karena memang kita mengasihinya, walaupun ia belum tentu melakukan hal yang sama tetapi yang terpenting kita sudah melakukan yang terbaik. Jangan melakukan kebaikan karena ingin mendapat balasan yang sama, tetapi karena kita ingin hidup kita bermakna bagi semua orang. Hendaklah kita tulus seperti Rut yang tidak mengharapkan apapun ketika ia peduli kepada Naomi, dan Boas ketika peduli kepada Rut.
Doa: Ya Tuhan, Tolonglah kami untuk melakukan kasih kepada sesama kami tanpa mengharapkan imbalan. Amin.
Sabtu, 20 November 2021
bacaan : Amsal 14 : 21
21 Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.
Take & Give
The Blind Side (Bagian yang tak terlihat) merupakan film yang diangkat dari Kisah nyata Mike Oher, seorang pemuda kulit hitam yang tinggal di lingkungan yang buruk. Ia beberapa kali tinggal bersama orang tua asuh, namun memutuskan untuk pergi. Hidupnya diperparah dengan kondisi ibunya yang menjadi pencandu narkoba. Suatu ketika, Mike bertemu dengan pasangan suami istri kulit putih kaya raya, Sean dan Anne, Pasangan tersebut mengajak Mike menginap di rumahnya setelah melihatnya kedinginan di jalan. Seiring berjalannya waktu, pasangan tersebut memutuskan untuk mengadopsi Mike menjadi anak angkat mereka. Anne kemudian mendaftarkan Mike ke Tim Football karena Mike punya potensi pada olahraga itu. Teman-teman dari Sean dan Anne tidak setuju dengan keputusan mereka mengadopsi Mike, menurut mereka Mike tidaklah cocok menjadi bagian keluarga Sean sebab ia berkulit Hitam. Mendengar cemoohan mereka, Anne kemudian berkata bahwa tidak ada perbedaan diantara kita. Warna kulit bukanlah alasan untuk perbedaan itu. Mike telah menjadi bagian keluarga kami dan akan selamanya seperti itu. Akhirnya, Mike berhasil menjadi pemain Football yang handal dan dilirik oleh banyak Tim. Mike sukses bergabung dengan Baltimor Revans pada posisi penyerang.
Dari kisah diatas, kita belajar bahwa sikap menghargai sesama bukan terletak pada pendidikan, kekayaan atau status seseorang, tetapi karena memiliki Belas Kasih. Bacaan ini mengingatkan kita untuk tidak menghina sesama namun Peka untuk setiap penderitaan mereka yang membutuhkan. Ingatlah bahwa Berkat yang kita terima di dalamnya ada juga Berkat yang Tuhan titipkan untuk kita berbagi dengan sesama. Percayalah bahwa ketika kita memiliki Belas Kasih kepada sesama dengan penuh ketulusan maka kehidupan kita akan selalu diwarnai dengan sukacita dan kebahagiaan.
Doa: Berilah hati yang Penuh Belas Kasih kepada kami, Ya.. Tuhan. Amin.
*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM