Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 November 2021

Tema Mingguan : “Kesetaraan Semua Ciptaan Di Hadapan Allah

Minggu, 21 November 2021                         

bacaan : Mazmur 147 : 1 – 11

Kekuasaan dan kemurahan TUHAN
Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. 2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. 5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi. 7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! 8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.

Kemurahan Tuhan Tak Berkesudahan

Ketika diperhadapkan dengan pertanyaan, Maukah menyenangkan Hati Tuhan atau Hati manusia? Pasti setiap orang percaya dengan lantang menjawab menyenangkan Hati Tuhan. Tetapi, kenyataannya lebih banyak kita mengecewakan Hati Tuhan daripada menyenangkan-Nya.

Pemazmur lewat bacaan hari ini mengungkapkan bahwa Kekuasaan dan Kemurahan Tuhan tidak pernah berkesudahan di dalam kehidupan kita. IA menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka mereka (ay.3). Ketika seseorang terluka, hal yang dirasakan ialah sakit, remuk jiwa, patah hati dan hancur. Dalam keadaan yang demikian, Iblis memakainya sebagai senjata agar kita menyerah dan tidak bangkit lagi. Kita senantiasa mengingat pengalaman-pengalaman buruk serta terus dihantui dengan kekecewaan. Pada akhirnya kita menjadi kecewa, dendam, depresi, sulit mengampuni, apatis dan meragukan Kuasa Tuhan. Jika diperhadapkan dengan situasi ini, maka hal mendasar yang harus kita lakukan ialah Berdoa dan Tenangkan diri. Tidak perlu memaksakan untuk menanggung semuanya sendiri, Panggillah Nama Tuhan, Curahkan keluh kesahmu Pada-Nya. IA akan menyembuhkan dan memulihkan kita. Walaupun kita sering kali mengecewakan-Nya, namun IA tidak pernah membiarkan kita jatuh hingga tergeletak, bahkan IA selalu menggendong dan menolong kita. Oleh sebab itu, respon untuk setiap Kemurahan Tuhan harus kita nyatakan lewat pikiran, tutur kata, tindakan kita. Bernyanyilah bagi Tuhan dengan setiap perbuatan baikmu, Pujilah Nama-Nya dengan tutur katamu yang manis, Senangkanlah Hati-Nya dengan selalu Bersandar dan Berharap Pada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, Kemurahan-Mu selalu menyertai Kehidupan Kami. Amin.

Senin, 22 November 2021                               

bacaan : Ulangan 22 : 1 – 4

Tentang tolong-menolong
"Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu. 2 Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya. 3 Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu. 4 Apabila engkau melihat keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu."

Jangan Menahan Kebaikan

Don’t Judge a Book by its Cover “Jangan menilai buku dari sampulnya! Ungkapan ini sangat pas untuk menggambarkan penampilan Mark Bustos yang sangar. Mark adalah seorang penata rambut dari new York yang menghabiskan akhir pekannya dengan memberi layanan potong rambut gratis bagi para Tunawisma. Kisahnya menjadi perbincangan hangat di dunia maya dan semua orang tersentuh dengan Kebaikan hatinya. Dalam sehari ia menargetkan enam orang untuk dicukur atau dipotong rambutnya. Kegiatan ini ia lakukan sejak Mey 2012 ketika ia pergi ke Filipina. Di sana ia berjumpa dengan anak-anak miskin dan ia memulainya dengan memangkas rambut mereka secara gratis. “Rasanya begitu menyenangkan” begitulah yang dirasakan Mark, menolong dengan sukacita. Energi positif ini ia bawa hingga kembali ke New York.

Bacaan hari ini dilihat sebagai lampiran tentang Hukum Teokratis. Hukum itu mengingatkan bahwa Allah menghendaki hubungan antar sesama dipenuhi dengan Kasih, Hukum Kasih inilah yang merupakan prinsip hakiki yang dipakai dalam bidang kehidupan umat.  Salah satu Hukum itu ialah Tolong Menolong.

Berkaca dari kisah Mark, maka Firman Tuhan juga mengajarkan kita untuk terbuka menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Janganlah menutup mata hati kita untuk melakukan kebaikan. Selagi kita diberi kesempatan, talenta dan waktu untuk berbuat baik, maka lakukanlah! Lakukan dengan Kasih yang tidak pura-pura. Lakukan karena kita sadar bahwa Tuhan tidak pernah menahan Kebaikan untuk menolong kita.

Doa: Ajari kami Tuhan, untuk hidup saling Menolong. Amin.

Selasa, 23 November 2021                               

bacaan : Imamat 25 : 1 – 7

Tahun Sabat dan tahun Yobel
TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. 3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. 6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

Kasih Allah Yang Membebaskan

Merasakan kebebasan adalah hal mutlak yang diinginkan setiap orang. Bebas berekspresi, bebas berpendapat, bebas dari ketidakadilan bahkan bebas dari tuntutan hidup. Kebebasan sedikit saja pastinya membuat kita merasa lega.

Ada 3 (tiga) hukum Sabat dalam Perjanjian Lama, yaitu Hari Sabat (siklus mingguan), Tahun Sabat (siklus tahunan) dan Tahun Yobel (siklus generasi).  Walaupun puncak dari ketiga siklus ini memiliki penekanan yang khas, tetapi maknanya sama yaitu “Berhenti”, “Beristirahat”, atau “Pembebasan”.  Kedua hukum ini sama-sama memberi pedoman legal bagi bangsa Israel yang sedang dan atau baru saja mengalami pembuangan/perbudakan di negeri orang, bahwa di tanah perjanjian, mereka tidak boleh saling menerkam/memakan, tidak boleh saling mematikan, tidak boleh memperbudak sesama bangsa mereka, dan tidak boleh lagi melakukan tindakan ketidakadilan.

Pembebasan yang sama dirasakan bukan hanya oleh manusia, namun alam ciptaan pun merasakannya. Bahwa di tahun ke-7 Tanah juga harus beristirahat. Tidak ada pekerjaan membajak atau menanam tumbuhan. Hal ini mengajarkan kita bahwa Tuhan Allah menghendaki adanya keseimbangan semua ciptaan. Manusia dan alam menjadi sahabat untuk saling melengkapi. Setiap pribadi, keluarga, persekutuan harus memiliki akses dan kesempatan yang adil pada berbagai sumber daya yang ada untuk kehidupan yang lebih baik. Kebaikan Tuhan inilah yang patut disyukuri dalam kehidupan orang-orang beriman.

Doa: Terima Kasih Tuhan, Engkau Membebaskanku dari Belenggu Dosa. Amin.

Rabu, 24 November 2021                              

bacaan : Imamat 25 : 14 – 17

14 Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain. 15 Apabila engkau membeli dari sesamamu haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel, dan apabila ia menjual kepadamu haruslah menurut jumlah tahun panen. 16 Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya, dan makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya, karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu. 17 Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.

Jangan Bikin Orang Lain Susah Dan Rugi

Dalam dunia ekonomi, faktor yang paling diutamakan adalah untung. Alasannya, prinsip utama dalam ekonomi adalah pengorbanan yang sekecil-kecilnya memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Karena itu, dalam setiap kegiatan ekonomi selalu yang dicari dan yang ingin didapatkan adalah keuntungan. Tidak ada pelaku ekonomi yang tidak menginginkan untung. Pelaku ekonomi tidak mau mengalami kerugian dalam setiap tindakan ekonominya. Hal inilah yang membuat umumnya manusia dalam setiap pekerjaan mengejar keuntungan lalu orang lain mendapatkan kerugian. Setiap manusia tidak mau mengalami kerugian dalam segala aspek kehidupannya. Kadangkala, bahkan seringkali agar tidak ingin mengalami kerugian manusia lalu melakukan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Di sinilah manipulasi, rekayasa, parlente, penipuan terjadi. Masing-masing orang selalu ingin menang dan ingin untung dengan cara apapun, menghalalkan segala cara. Prinsipnya yang penting beta (saya) untung walaupun yang lain rugi.

Firman Tuhan dari Imamat 25:14-17, mengingatkan kita bahwa segala pikiran, perkataan, bahkan perbuatan kita tidak boleh membuat orang lain mengalami kerugian (17). Kita mesti hidup dalam rasa takut akan Tuhan. Sebab orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang tidak membuat orang lain mengalami kerugian melalui pikiran, perkataan bahkan tindakannya. Karena itu, berhati-hatilah menggunakan hidup dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan lainnya. Hendaknya seluruh aspek hidup kita mencerminkan sikap takut akan Tuhan, sehingga tidak menimbulkan kerugian dalam bentuk apapun bagi orang lain.   

Doa: Tuhan, mampukanlah kami melakukan segala sesuatu yang tidak merugikan orang lain. Amin.

Kamis, 25 November 2021                            

bacaan : Imamat 25 : 39 – 43

39 Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. 40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. 41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya. 42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak. 43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.

Lakukanlah Apa Yang Ingin Orang Lain Lakukan Kepada Kita

Salah satu kalimat bijak Socrates (470-399 SM) yang cukup bermakna yaitu: “Jangan lakukan pada orang lain apa yang membuatmu marah jika dilakukan padamu oleh orang lain”. Pernyataan Socrates ini diperjelas lagi oleh Yesus dengan mengatakan: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka….” (Matius 7:12). Pernyataan Socrates maupun Yesus sama-sama hendak menekankan kepada kita untuk tidak memperlakukan orang lain dengan hal-hal yang kita sendiri tidak menginginkan orang lain melakukannya kepada kita, berupa perlakuan yang tidak baik, negatif, dan jahat.

Atas dasar itulah, Tuhan Allah menyampaikan kehendakNYA kepada umat Israel untuk memperlakukan orang miskin, budak, orang upahan, dan pendatang dengan baik. Bahkan lebih dari itu, jika mereka itu (orang miskin, budak, upahan, dan pendatang) bekerja sebagai budak, maka harus dibebaskan pada waktunya (tahun Yobel). Selain itu, mereka juga tidak boleh diperlakukan dengan kejam, sebab Israel sendiri dulu adalah orang miskin, budak, orang upahan, dan pendatang di tanah Mesir. Setelah pembebasan dikerjakan Tuhan Allah bagi umatNya, maka mereka juga patut untuk membebaskan sesama yang menderita dan susah. Orang yang hidup takut Tuhan, pasti akan memperlakukan orang lain dengan baik, sama seperti yang diinginkan orang lain perbuat baginya. Sebaliknya, tidak memperlakukan orang lain secara kejam. Marilah kita menjadikan pribadi dan rumah tangga kita, orang-orang yang berbuat kebaikan kepada semua orang.

Doa:  Mampukanlah kami untuk memperlakukan orang lain dengan baik, agar kami juga diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Amin. 

Jumat, 26 November 2021                            

bacaan : Imamat 25 : 47 – 55   

47 Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada seorang yang berasal dari kaum orang asing, 48 maka sesudah ia menyerahkan dirinya, ia berhak ditebus, yakni seorang dari antara saudara-saudaranya boleh menebus dia, 49 atau saudara ayahnya atau anak laki-laki saudara ayahnya atau seorang kerabatnya yang terdekat dari kaumnya atau kalau ia telah mampu, ia sendiri berhak menebus dirinya. 50 Bersama-sama dengan si pembelinya ia harus membuat perhitungan, mulai dari tahun ia menyerahkan dirinya kepada orang itu sampai kepada tahun Yobel, dan harga penjualan dirinya haruslah ditentukan menurut jumlah tahun-tahun itu; masa ia tinggal pada orang itu haruslah dihitung seperti masa kerja orang upahan. 51 Jikalau jumlah tahun itu masih besar, maka dari harga pembeliannya harus dikembalikan sebagai penebus dirinya menurut jumlah tahun itu. 52 Jika waktu yang masih tinggal sampai kepada tahun Yobel sedikit lagi saja, maka ia harus membuat perhitungan dengan orang itu; menurut jumlah tahun itulah ia harus membayar uang tebusan dirinya. 53 Demikianlah ia harus tinggal padanya sebagai orang upahan dari tahun ke tahun. Janganlah ia diperintah dengan kejam oleh orang itu di depan matamu. 54 Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya. 55 Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu."

Ringan Sama Dijinjing, Berat Sama Dipikul

Semut merupakan serangga yang berukuran sangat kecil namun mampu mengangkat dan membawa makanan atau beban yang berukuran lebih besar darinya. Caranya adalah secara bersama atau bergotong royong. Kebersamaan serangga ini memberi nilai bahwa berusaha dan berjuang untuk mencapai sesuatu itu, tidaklah untuk diri sendiri melainkan untuk sesama, untuk rekan-rekan semut lainnya.

Menyimak bacaan Imamat 25:47-55 terlihat penekanan utamanya terletak pada sikap menolong dan menopang sesama saudara untuk keluar dari kesusahan, kesulitan hidup, dan kemiskinan. Bahkan orang yang mampu diharuskan menebus kesusahan dan kemiskinan yang dialami oleh sesamanya. Jika ada perhitungan di dalamnya, perhitungan itu bukan untuk yang satu mendapat untung lebih dari yang lain. Harus ada keadilan di dalamnya. Itulah panggilan sebagai umat Tuhan.

Berdasar dari Firman Tuhan ini, setidaknya, kita bisa belajar dari karakter hidup semut yang saling membantu dan menopang sesama anggotanya. Sekecil apapun diri kita (sama seperti seekor semut yang sangat kecil), kita dapat berperan dan menjadi agen menolong dan menyelamatkan sesama kita yang mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup. Peran kita adalah tidak menjadi orang yang egois dan individualistik dalam hidup bersama sesama kita. Sebaliknya kita bersama sesama manusia yang lain dapat menjadi partner/rekan yang berjuang bersama menolong sesama yang mengalami kesusahan, kesulitan hidup, dan menderita. Setidaknya dalam hidup sebagai umat Tuhan kita mesti menjalankan prinsip “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”, bukan berprinsip ringan sama dijinjing, berat orang lain yang pikul.

Doa:  Ya Tuhan, kuatkanlah kami untuk dapat bersama yang lain menolong sesama kami yang menderita dan susah…amin.

Sabtu, 27 November 2021                                  

bacaan : Roma 14 : 1 – 10

Jangan menghakimi saudaramu
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. 2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. 3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. 4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. 5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. 6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. 7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. 8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. 9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. 10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. 

Jangan Menghakimi Jika Tidak Ingin Dihakimi

Sepenggal kalimat yang ditulis oleh Evangelina Tessia Pricilla (Pengarang dan Penulis buku dari Indonesia) mengatakan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun diperbolehkan untuk menghakimi orang lain, sebab kita sendiri bukanlah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan di dunia ini.

Hal ini sejalan dengan pernyataan William Shakespeare (Penyair dan Dramawan dari Inggris 1564-1616) yang menyebutkan: “Bersabarlah untuk menghakimi, karena kita semua orang berdosa”. Tidak hanya itu, seorang Penulis terkenal dari Inggris, George Eliot (1819-1880), lebih tegas lagi mangatakan: “Kita semua memiliki dosa rahasia kita; dan jika kita mengenal diri kita sendiri, maka kita tidak harus menghakimi satu sama lain dengan kasar”. Pernyataan-pernyataan di atas setidaknya merupakan refleksi iman dari ketiga penulis tersebut yang bersumber pada bacaan Roma 14:1-10. Dalam suratnya, Rasul Paulus mengungkapkan hasil pengamatan dan analisanya terhadap kehidupan jemaat di Roma yang ternyata memiliki perilaku hidup saling menghakimi. Saling menghakimi tidak hanya terjadi antara jemaat Kristen asal Yahudi, tapi juga non-Yahudi yang berdebat soal makanan. Jemaat juga menghakimi hamba orang lain (ay.4). Semua ini menegaskan kepada kita bahwa sebelum kita menghakimi orang lain, hakimilah diri kita sendiri. Pertimbangkanlah; apakah kita adalah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan? Ingat, ketika ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus, dengan tegas Yesus katakan: “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh.8:7). Karena itu, Janganlah menjadi hakim atas orang lain supaya orang lain juga tidak menjadi hakim atas kita. Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain, itu juga akan dikenakan kepada kita.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami untuk tidak menjadi hakim atas sesama kami. Amin.

*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar