Santapan Harian Keluarga, 28 Nov – 4 Des 2021

Tema Mingguan : “Merayakan Adventus Dengan Berpengharapan

Minggu, 28 November 2021                            

bacaan : Yesaya 7 : 10 – 17

Pemberitaan mengenai Imanuel
10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11 "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." 12 Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." 13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? 14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. 15 Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16 sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. 17 TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda--yakni raja Asyur."

Menaati Firman-Nya

Ketika berada dalam situasi yang mengancam kehidupan, secara tidak langsung mendorong kita untuk cepat bereaksi. Salah satu reaksi yang ditunjukan yaitu terkait dengan pengambilan keputusan. Namun karena kondisi yang mendesak membuat kita tidak memperhitungkan sabda Allah bahkan lalai melibatkan Tuhan di dalam keputusan itu. Hal itu juga yang dilakukan oleh raja Ahas. Mendengar kabar bahwa raja Aram dan raja Israel akan menyerang Yehuda, maka timbulah ketakutan yang besar dari raja Ahas dan juga seluruh rakyatnya. Allah memberi pengharapan bagi Ahas dan rakyatnya melalui nabi Yesaya agar mereka tetap meneguhkan hati dan tetap tinggal tenang, jangan takut dan kecut hati terhadap kedua raja itu. Meski pun Tuhan sudah menyampaikan Firman-Nya melalui nabi Yesaya, namun raja Ahas  tidak mengindahkannya malah justru menolak tanda yang akan diberikan Tuhan. Tanda bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang akan dinamai Imanuel, sesungguhnya merupakan pengharapan yang diberikan oleh Allah. Tidak jarang kita juga seringkali mengabaikan Firman Allah dan mengikuti kehendak diri sendiri ketika menghadapi berbagai ancaman. Namun kita seharusnya menyadari bahwa apapun keputusan serta tindakan yang kita lakukan untuk melindungi diri dari ancaman, akan sia-sia ketika itu diluar Firman dan kehendak Allah. Bacaan hari ini mengajarkan kita tentang pentingnya mengambil keputusan sesuai dengan Firman dan kehendak Allah. Sebab Firman-Nya akan selalu menuntun kehidupan kita serta memberikan pengharapan. Belajarlah untuk tetap menaruh harapan kepada-Nya sebab Allah yang kita sembah di dalam Yesus tidak pernah memberikan harapan yang palsu. Bersama-Nya kita tidak akan kecewa.

Doa: Mampuhkanlah kami memahami kehendak Tuhan sesuai Firman-Mu, Amin.

Senin, 29 November 2021                              

bacaan : Yesaya 30 : 18 – 26

Janji keselamatan bagi Sion
18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! 19 Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. 20 Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, 21 dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri. 22 Engkau akan menganggap najis patung-patungmu yang disalut dengan perak atau yang dilapis dengan emas; engkau akan membuangnya seperti kain cemar sambil berkata kepadanya: "Keluar!" 23 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; 24 sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. 25 Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh. 26 Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.

Kasih Setia Tuhan Yang Tak Berkesudahan

Setinggi-tinginya langit, lebih tinggi kasih Yesus ku. sedalam-dalam lautan, lebih dalam kasih Yesus ku. seindah-indah pelangi, lebih indah kasih Yesus ku…dst….

Syair lagu di atas menggambarkan kasih Allah yang tidak tertandingi oleh apapun juga. Hal ini jelas terlihat dalam bacaan kita. Allah tetap menunjukan kasih-Nya kepada Israel sekalipun berulang-ulang kali mereka melakukan kesalahan dan pelanggaran. Pada saat mereka mengandalkan kekuatan manusia atau meminta perlindungan dari bangsa lain, membuktikan ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mereka kepada Allah. Namun karena kasih Allah yang begitu besar, Ia tetap mengasihi Israel bahkan memberikan harapan baru bagi mereka apabila mereka kembali dan berseru kepada-Nya. Kasih dan penyertaan Tuhan yang dinyatakan bagi bangsa Israel mengajarkan kita tentang pentingnya bersandar dan bergantung pada Dia sang pemilik kehidupan. Kasih-Nya yang tak berkesudahan akan senantiasa menyertai apabila kita meninggalkan dosa  dan kembali kepada-Nya. Sebagai manusia, kita tidak terlepas dari berbagai kesalahan. Akan tetapi kesalahan dan pelanggaran itu tidak mengurangi kasih Allah sebab Ia memiliki kasih yang tidak dapat di ukuur oleh apapun. Percayakanlah hidupmu kepada Tuhan dan tetaplah bersandar kepada-Nya serta andalkan Dia dalam menjalani hari-hari hidup kita. Pastikan bahwa kita tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri juga tidak mengandalkan sesama manusia, sebab hal itu tidak berguna dan percuma. Ingatlah dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terlatak kekutanmu. Tetaplah percaya dan berharap hanya kepada yang Maha kasih..

DoaTuhan, biaralah kasih setia-Mu yang tak berkesudahan itu menyertai setiap langkah hidup kami. Amin.

Selasa, 30 November 2021                           

bacaan : Yesaya 40 : 27 – 31

27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" 28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. 29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. 30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, 31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Ia Selalu Memberi Kekuatan

Menghadapi situasi atau keadaan yang rumit, seringkali membuat kita putus asa dan hilang harapan. Ada yang mencoba menjalaninya dengan iklas, tetapi ada juga yang sebaliknya. Ketika kenyataan hidup tidak sesuai dengan harapan maka kita akan marah, kecewa, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, tapi juga tanpa sadar kita menyalahkan Tuhan. Kita lalu bertanya, dimanakah Tuhan? Menjadi hilang harapan dan beranggapan seolah-olah Allah tidak mempedulikan kita. Ungkapan serupa juga diucapkan oleh bangsa Israel “hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”. Kesulitan hidup yang dihadapi pada saat pembuangan membuat mereka merasa bahwa Allah telah melupakan dan tidak memperhatikan mereka lagi. Melalui nabi Yesaya dalam bacaan kita mau menyampaikan bahwa dalam setiap ketidak mampuan menghadapi berbagai masalah, sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia adalah Allah yang setia dan kasih setia-Nya itu untuk selama-lamanya. Ia adalah Allah yang punya kuasa serta mampu memberikan kekuatan bagi kita yang lemah. FirmanTuhan mengingatkan kita sebagai orang percaya agar tetap mengimani dan mengandalkan serta tetap menaruh harapan kepada-Nya. Sebab Ia sumber kekuatan dan tempat perlindungan kita. Kuasa-Nya dapat menolong, menghadapi berbagai tantangan hidup yang mengancam kehidupan kita. Percayalah kepada Allah dan ingatlah, Ia akan senantiasa memberikan kekuatan kepada orang-orang yang selalu menantikan-Nya. Tuhan menyertai dan menolong kita dalam menapaki kehidupan selanjutnya.

Doa:  Berilah kekuatan ya Tuhan, untuk kami menapaki hari-hari hidup ke depan. Amin.

Rabu, 01 Desember 2021                                

bacaan : Yesaya 60 : 1 – 2  

Kemuliaan Sion yang akan datang
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. 2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.

Bangkitlah, Menjadi Teranglah

Yang penting skarang su bangkit to?” atau “yang penting sekarang sudah bangkit, benarkan?, Kalimat tanya retoris ini terjawab di akhir cerita seorang pendeta senior. Kata bangkit yang dipergunakan oleh seorang pendeta junior ini hendak menegaskan perubahan hidup yang kini dialami oleh pendeta berusia 50 tahunan tersebut. Bangkit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung salah satu arti yakni bangun (hidup) kembali. Dengan kata lain, adanya sebuah perubahan dari keadaan yang tidak baik, yang berat, yang sukar atau sulit, yang suram atau gelap menjadi keadaan yang baik, yang mudah dan terang. Menurut tafsiran Wycliffe, perubahan ini pun ditekankan dalam nubuatan nabi Yesaya kegelapan dunia akan dikalahkan oleh terang Israel. Sudut pandang Wycliffe ini terkait dengan kedatangan Kristus pertama kali atau kelahiran Yesus Kristus, sama seperti Terang yang akan terbit atas bangsa Yahudi. Selanjutnya, terang tersebut hendaknya diteruskan oleh orang percaya sebagai jemaat atau gerejaNya. Sesuai tema bulan Desember yakni merayakan adventus dan natal Kristus dengan rendah hati dan setia, maka terang yang dinyatakan tersebut hendaknya nampak dalam ucapan dan tindakan yang menghargai dan menerima orang lain yang terbatas pengetahuan dan kemampuannnya, yang tidak menjadikan kepentingan dirinya sebagai yang paling utama dan tidak mempedulikan kepentingan orang lain bahkan menganggap kepentingan mereka tidaklah penting untuk diperhatikan, dll. Sebagai keluarga, kita mestinya menyatakan terang tersebut lebih dulu dalam hubungan antar suami dan istri serta orangtua dan anak, supaya kita pun mampu melakukannya bagi orang sekitar. Itulah sikap adventus kita yang sebenarnya.

Doa:  Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menyatakan terang Kristus kepada yang lain. Amin. 

Kamis, 02 Desember 2021                              

bacaan : Yesaya 62 : 1 – 5

Keselamatan Sion akan datang dengan segera
Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. 2 Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri. 3 Engkau akan menjadi mahkota keagungan di tangan TUHAN dan serban kerajaan di tangan Allahmu. 4 Engkau tidak akan disebut lagi "yang ditinggalkan suami", dan negerimu tidak akan disebut lagi "yang sunyi", tetapi engkau akan dinamai "yang berkenan kepada-Ku" dan negerimu "yang bersuami", sebab TUHAN telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. 5 Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.

Perubahan Hidup di Bulan Ber – Ber

Rasanya natal semakin dekat, lagu-lagu natal yang terdengar dibalik jendela semakin mendamaikan hati. “Ibu pendeta…ibu pendeta!, suara seorang perempuan terdengar di luar kamar. Aku pun tersadar dari lamunanku dan menyambut suara tersebut sambil bergegas ke luar kamar “ya, oma Tin”, jawabku. Oma yang sudah menjalani masa pensiunnya sekitar 6 tahun itu terlihat gesit menyiapkan sarapan pagi untukku. Hari itu merupakan hari kedua aku tinggal di rumah Oma Tin. ”Katong su di bulan ber-ber” ni oma e, natal su dekat”, ucapku. “Iya ibu”, jawab oma sambil tersenyum. Suasana pagi itu pun semakin terasa akrab dalam cerita kami tentang Ohoifau, tempat asal oma. Sejak menjadi tempat pelaksanaan sidang MPP AMGPM tahun 2021, pembangunan di kampung Ohoifau pun menampakkan perubahan yang sangat besar. Kondisi ini tentunya berdampak pula bagi pertumbuhan masyarakat setempat, ringkas cerita dari Ketua Majelis Ohoifau, Pendeta Ona Wenno. Sebuah kondisi baik dari masyarakat sangat diharapkan oleh setiap pemimpinnya, demikian juga Nabi Yesaya. Saat itu, keadaan Israel, Yerusalem khususnya sedang mengalami kehancuran, termasuk aspek spiritualitas. Ketidakbenaran menjadi gaya hidup Bangsa Israel. Yesaya pun melihat keadaan bangsanya seperti istri yang ditinggalkan suaminya. Bangsa Israel seperti kehilangan kekuatan dan kebanggaannya. Dalam keadaan yang demikian, nabi tetap percaya bahwa ada saatnya Tuhan akan memulihkan umatNya sesuai janjiNya. Pemulihan tersebut akan mengembalikan Bangsa Israel dalam hubungannya dengan Tuhan seperti suami-istri. Untuk itu, kebenaran harus dinyatakan dalam perubahan hidup seluruh bangsa Israel. Karena kebenaran menjadi penentu perubahan bagi bangsa Israel. Di minggu-minggu adventus ini, marilah kita menjalani hidup sesuai kebenaran yang dikehendaki Tuhan.

Doa: Tuntunlah kami Tuhan untuk hidup dalam kebenaranMu. Amin 

Jumat, 03 Desember 2021                               

bacaan : Yesaya 62 : 6 – 9

6 Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang 7 dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi. 8 TUHAN telah bersumpah demi tangan kanan-Nya, demi tangan kekuatan-Nya: "Sesungguhnya, Aku tidak akan memberi gandummu lagi sebagai makanan kepada musuhmu, dan sesungguhnya, orang-orang asing tidak akan meminum air anggurmu yang telah kauhasilkan dengan bersusah-susah; 9 tetapi orang yang menuainya akan memakannya juga dan akan memuji-muji TUHAN, dan orang yang mengumpulkannya akan meminumnya juga di pelataran-pelataran tempat kudus-Ku."

Menanti Dengan Antusias

Ipen, nanti tunggu bapak yang gemuk-gemuk di luar ya”, kata teman pendetaku melalui telepon. Sudah lima menit berlalu, kapal cepat sudah hampir lepas jangkar, namun bapak yang dibilang oleh teman pendetaku belum juga tiba. Aku sudah mulai tidak tenang menunggu kedatangan bapak tersebut. Ketika tubuhku hendak berbalik menuju pintu kapal, tiba-tiba ada seorang ibu yang memanggil “ibu pendeta, sepertinya bapak yang tadi ibu pendeta bilang sudah dari sana”, serunya sambil menunjuk ke arah pagar masuk pelabuhan. Mataku pun tertumbuk pada seorang bapak yang berbadan besar sementara duduk di belakang pengendara motor sambil memegang sebuah bingkisan. Menunggu memang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika dilakukan dalam waktu yang terbatas. Ketidaksabaran hingga kekuatiran pun menjadi sikap orang yang menunggu. Nabi Yesaya dan bangsa Israel pun dalam teks bacaan hari ini menunjukkan sikap penantiannya terhadap penggenapan janji keselamatan dari Allah. Mereka menantinya sedemikian rupa seperti pengintai yang berjaga-jaga. Walau mereka belum tahu kapan Tuhan akan menyelamatkan, tetapi mereka tidak kehilangan kepercayaan dan pengharapan akan janji tersebut. Mereka menanti sepanjang hari, sepanjang malam bahkan tidak pernah berdiam diri. Mereka hendak menunjukan kesungguhan mereka kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun tak dapat tenang dan dapat segera mewujudnyatakan janjiNya. Seperti sikap Nabi Yesaya dan bangsa Israel, demikian pula seharusnya sikap kita saat ini di dalam masa-masa adventus. Kita menanti perayaan kelahiran Yesus tanggal 25 Desember dan kita menanti kedatangan Tuhan pada kali kedua. Kita harus menunjukkan kesungguhan dan sikap kewaspadaan kita dalam penantian. Sehingga ketika Ia datang, kita menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh siap.

Doa:  Kami menanti-nantikan Engkau Tuhan, Penyelamat kami. Amin

Sabtu, 04 Desember 2021                            

bacaan : Yesaya 62 : 10 – 12

 10 Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah jalan raya, singkirkanlah batu-batu, tegakkanlah panji-panji untuk bangsa-bangsa! 11 Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang; sesungguhnya, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. 12 Orang akan menyebutkan mereka "bangsa kudus", "orang-orang tebusan TUHAN", dan engkau akan disebutkan "yang dicari", "kota yang tidak ditinggalkan".

Berjalanlah, Jangan Diam Saja!

Sambil menggerakkan kaki berjalan di tempat, anak-anak sekolah minggu pun bernyanyi dengan riang “berjalanlah-berjalanlah melalui pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi Tuhan…”. Lirik lagu sekolah minggu ini hampir sama dengan ayat 10 pada teks bacaan kita. Namun dalam teks ini hendak menegaskan sikap penantian dari Nabi Yesaya dan Bangsa Israel akan keselamatan Tuhan yang seharusnya berlangsung dalam kesungguhan dan kesetiaan supaya pada saat pemulihan terjadi, mereka pun menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa. Berjalan melalui pintu gerbang artinya bahwa mereka harus berjalan menurut ketentuan/kehendak/perintah Allah, sehingga kelak pada saat keselamatan itu datang, orang akan menyebutkan mereka bangsa yang kudus, umat tebusan Tuhan yang dicari oleh Tuhan dan tidak ditinggalkanNya. Sebutan tersebut pun akan dikenakan pada diri kita dan menjadi saksi Allah bagi dunia ini, jika kita juga hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan Allah di minggu-minggu adventus. Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, penantian kita bukan lagi pada perayaan kelahiranNya saja, melainkan pada kedatanganNya di kali yang kedua. Masa itu terjadi sama seperti pencuri yang datang pada malam hari, dimana kita tidak tahu kapan waktu pastinya. Oleh sebab itu tindakan “berjalan” merupakan suatu tindakan aktif dan optimis yang harus dinampakkan dalam sikap penantian kita. Tindakan aktif yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau seturut FirmanNya.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan untuk berjalan seturut kehendakMu. Amin

*sumber : SHK terbitan LPJ GPM

Tinggalkan komentar