Tema Mingguan : ” Terpujilah Tuhan Yang Telah Melawat UmatNya “
Minggu, 26 Desember 2021
bacaan : Lukas 1 : 67 – 79
Nyanyian pujian Zakharia
67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: 68 "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, 69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, 70 --seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus-- 71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, 72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, 73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, 74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, 75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. 76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, 77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, 78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, 79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."
Allah Melawat Karena Ia Begitu Peduli
Pertama, ketika Roh Kudus menjamah Zakharia, segera ia meresponnya dengan ungkapan pujian untuk memuliakan Allah yang besar. Isi nyanyian Zakharia antara lain pujian kepada Allah karena Allah telah melawat umat-Nya, Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang Israel dan atas perbuatan Allah yang telah memilih dia sebagai ayah seorang nabi besar, nabi pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang. Roh Kudus yang ada pada orang tua mewarnai didikan kepada anaknya sehingga Yohanes bertumbuh semakin besar dan makin kuat rohnya. Kedua, Zakharia dibentuk Allah menjadi teladan bagi kita yang mungkin meragukan Allah dan mulai tidak taat. Sesuatu yang sulit diterima oleh pikiran Zakharia, karena usianya yang telah lanjut, membuat dia ragu terhadap janji Allah. Keraguan terhadap janji Allah menyebabkan dia bisu sampai anaknya lahir. Sebagai seorang imam yang mempunyai tugas sebagai perantara antara umat dengan Allah, tidak bisa berbicara merupakan hal yang sangat berat. Tetapi pada Akhirnya Zakharia percaya dan sangat bersyukur akan rencana Allah dalam hidupnya. Jangan meragukan rencana Allah dalam hidup dan masa depan kita karena rencana Allah itu indah pada WaktuNya dan pasti akan digenapi. Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Tuhan begitu memperhatikan kita dan sangat peduli. Sama seperti seorang ayah yang selalu ingin memberikan yang terbaik begitu juga Allah yang selalu ingin memberi yang terbaik. Percayakah kita kepadaNya?
Doa: Ya Tuhan, terima kasih Engkau selalu melawat dan memperhatikan kami serta selalu merancangkan yang terbaik untuk kehidupan kami. Amin.
Senin, 27 Desember 2021
bacaan : Keluaran 15 : 13
13 Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.
Kasih SetiaNya Tak Berkesudahan Dalam Hidup
Kasih setia Tuhan merupakan kata kunci dalam peristiwa keluarnya umat Israel dari Mesir. Dan dengan kasih setia-Nya pula Tuhan menuntun umat-Nya untuk datang ke tempat kediaman-Nya. Keluarnya Israel dari Mesir yang berpuncak pada kisah Laut teberau menjadi inti kepercayaan Israel. Betapa tidak, jika Tuhan tidak menyertai umat-Nya, kesaksian umat Tuhan berakhir di tepi laut itu. Saat itu mereka berada pada jalan buntu. Mereka terjepit di antara kekuatan tentara Mesir yang mengejar untuk menangkap dan melenyapkan mereka, dengan kekuatan alam yang tak dapat ditaklukan. Melalui kepemimpinan Musa, Allah menyelamatkan umat-Nya dengan membelah air laut Teberau, sehingga Israel dapat berjalan di dasar laut Teberau ke seberang dan selamat. Kebaikan Tuhan yang boleh disyukuri adalah bahwa Ia mau mendengar permohonan kita, kita tidak mengetahui bagaimana dan kapan pertolongan Tuhan akan terjadi, namun kesediaan Tuhan mendengar seruan kita adalah sesuatu yang patut kita syukuri. Tuhan itu baik pada orang yang mengasihiNya. Bukan artinya Tuhan butuh kasih manusia, justru kasihNya yang besar telah diberikanNya pada kita melalui pengorbanan di kayu salib. Namun Tuhan sangat mengasihi orang-orang yang mengharapkan pengasihanNya, mempercayai bahwa hanya kasihNya sajalah yang dapat menyelamatkan kita, Mengasihi berarti memiliki kedekatan yang dalam seperti kasih seorang ibu dengan anak yang dilahirkannya. Mau mencurahkan seluruh hidup untuk yang dikasihinya. Sudahkah kita bersyukur akan kasih setia Tuhan dalam hidup?
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk senantiasa bersyukur untuk kasih setia Tuhan dalam hidup kami. Amin.
Selasa, 28 Desember 2021
bacaan : Lukas 2 : 25 – 35
25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
Ada Damai Dan Sukacita
Hati yang penuh dengan kedamaian dan sukacita menjadi dambaan atau harapan setiap orang. Inilah yang dirasakan oleh Simeon orang benar dan saleh itu, pada saat berjumpa secara langsung dengan Yesus. Kedamaian dan sukacita terlihat dari respons Simeon yang menyambut dan menatang Yesus sambil memuji Allah. Ia dilawat oleh Tuhan sampai tergenapi yang difirmankan atas kehidupannya. Kisah ini menunjukan kuasa Allah yang teramat luar biasa. Apa yang difirmakan-Nya terjadi dan menghadirkan damai dan sukacita. Pelajaran berharga yang dapat kita petik yaitu bahwa lawatan Tuhan akan selalu menyertai mereka yang hidup di dalam-Nya serta memelihara kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. sebagai orang percaya kita diajarkan untuk tetap setia kepada Allah meskipun dalam segala kelemahan dan keterbatasan sebagai manusia. Bahkan tetap memuji Tuhan atas setiap kebaikan dan kemurahan yang Ia nyatakan dalam seluruh kehidupan kita. Memuji kebesaran Tuhan bukan saja ketika kebutuhan dan gumulan kita di jawab oleh-Nya, tetapi ketika berbagai ujian hidup datang silih berganti menghapiri kehidupan kita. Kasih kemurahan Allah tidak hanya terlihat lewat setiap berkat yang kita nikmati tetapi justru terlihat ketika kita menghadapi masalah dan mampu melaluinya dan masih diberi kesempatan untuk hidup. Penyertaan Tuhan itu kekal. Ia akan senantiasa menyertai hidup orang-orang yang bersandar serta percaya kepada-Nya. Oleh sebab itu tetaplah percaya kepada Allah yang selalu melawat seluruh hidup kita. biarlah sukacita dan damai-Nya menyertai di sepanjang perjalanan hidup.
Doa: Tuhan, kiranya damai dan sukacitaMu itu ada dan tetap diam di dalam kami, Amin.
Rabu, 29 Desember 2021
bacaan : Lukas 2 : 36 – 40
36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Lanjut Usia Bukan Penghalang Untuk Bersaksi
Terkadang faktor usia sering mempengaruhi semangat seseorang untuk terus berkarya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Hana. Walaupun sudah berusia 84 tahun ketika ia turut melihat bayi Yesus yang sedang diberkati bersama ke dua orang tuan-Nya oleh Simeon, dengan antusiasnya dia bersyukur bahkan langsung bersaksi kepada semua orang tentang apa yang di saksikannya. Semangat yang terlihat dari diri Hana tidak terlepas dari campur tangan Allah yang selalu melawat kehidupannya. Hal itu juga tidak dapat dilepaspisahkan dari iman Hana. Ketaatanya dan kesetiaanya kepada Allah dibuktikan dengan hidup yang selalu ada dalam menjaga relasi dengan Allah dalam bentuk ibadah, puasa dan juga doa. Pola hidup Hana memperlihatkan ketaatan dan kesetiaan yang sungguh kepada Allah, terlihat jelas dengan ungkapan syukurnya itu. Yang jadi pertanyaan, apakah kita sudah benar-benar taat dan setia kepada Allah? Dari kisah Hana kita belajar untuk tetap setia dan taat kepada Allah, tidak hanya berupa usapan jempol saja tapi ditunjukkan lewat sikap dan tindakan kita. Dengan tetap memperhatikan pentingnya membangun relasi antara kita dengan Allah yang ditunjukan lewat kehidupan kita hari lepas hari, secara pribadi, keluarga, bergereja maupun bermasyarakat. Sebab Ia yang telah menganugerahkan kehidupan akan selalu melawat dan menjaga kita. Ingat bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk menyaksikan kasih Allah, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Tetaplah bersyukur dan bersemangat. Tuhan menolong kita.
Doa: Tuhan, jadikan kami orang-orang yang tetap bersemangat menjalani hidup ini, Amin.
Kamis, 30 Desember 2021
bacaan : Lukas 7 : 11 – 17
Yesus membangkitkan anak muda di Nain
11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. 13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" 14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" 15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. 16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya." 17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.
Dukacita Menjadi Sukacita
Kematian merupakan realita kehidupan yang akan di alami oleh setiap orang. Menghadapi kenyataan yang tidak dapat dihindari ini menggoreskan luka yang mendalam karena kehilangan orang yang kita kasihi, baik mereka yang memiliki hubungan darah atau pun tidak. Hal ini pun yang dirasakan seorang janda di Naim yang kehilangan anak satu-satunya. Kesedihan menggoncang kehidupannya. Ia harus berbesar hati menerima kenyataan ini dan tetap tegar melanjutkan hidup seorang diri. Bacaan kita memperlihatkan bahwa kehadiran Yesus pada saat itu benar-benar memberikan harapan baru dan bukti dari cinta kasih Tuhan lewat setiap lawatan-Nya. bahkan memberikan sukacita penuh bukan hanya bagi ibu janda, tapi juga bagi setiap orang yang ada di tempat itu. Kehadiran-Nya mengubah dukacita menjadi sukacita. Kisah di atas mengajarkan kita tentang kasih dan lawatan Tuhan yang diberikan selalu tepat pada waktunya. Ia peduli dan penuh dengan belas kasihan. Pertolongan-Nya akan selalu diberikan sekalipun tanpa kita yang memintanya. Kenyataan hidup seringkali membuat kita terpuruk dan kecewa, merasa sendiri dan tidak ada yang peduli. Tetapi sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus Tuhan kita, yakinlah Ia tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri. Ia adalah Tuhan yang mampu mengubah dukacita menjadi sukacita. Jadi ingatlah, apapun yang menjadi persoalan kita termasuk kematian sekalipun, Roh Kudus-Nya akan selalu tetap menghibur kita melalui Firman-Nya maupun orang-orang yang berada di sekitar kita yang hadir untuk menghibur dan menguatkan.
Doa: Kami percaya lewat lawatan tangan-Mu, sukacita akan selalu kami rasakan, Amin.
Jumat, 31 Desember 2021
bacaan : Mazmur 77 : 12 – 21
11 (77-12) Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. 12 (77-13) Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. 13 (77-14) Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? 14 (77-15) Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa. 15 (77-16) Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf. Sela 16 (77-17) Air telah melihat Engkau, ya Allah, air telah melihat Engkau, lalu menjadi gentar, bahkan samudera raya gemetar. 17 (77-18) Awan-awan mencurahkan air, awan-gemawan bergemuruh, bahkan anak-anak panah-Mu beterbangan. 18 (77-19) Deru guntur-Mu menggelinding, kilat-kilat menerangi dunia, bumi gemetar dan bergoncang. 19 (77-20) Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan. 20 (77-21) Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun.
Mengingat Kembali Kebaikan Tuhan
Susah senang, suka duka, menangis tertawa merupakan dinamika hidup yang akan dilewati oleh setiap kita. Kita akan senang, bersuka bahkan tertawa lepas ketika kenyataan yang menghampiri sesuai dengan harapan kita. Akan tetapi susah, duka, dan tangisan juga akan hadir ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Penderitaan yang dialami oleh pemazmur membuatnya beranggapan bahwa kasih setia Allah sudah hilang dari padanya. Menariknya bahwa keadaan itu tidak berlangsung lama. Ia tidak berlarut-larut di dalam kesedihannya, melainkan merenungkan dan mengingat kembali semua kebaikan yang telah Tuhan nyatakan kepada dirinya dan bangsanya. Apa yang dilakukan oleh pemazmur menjadi contoh yang patut diteladani. Kita diajarkan agar tidak terus memandang pada setiap penderitaan yang kita alami, melainkan memfokuskan diri pada kebaikan-kebaikan yang sudah Tuhan nyatakan. Pemeliharaan Tuhan bagi kita sepanjang tahun ini membuktikan kebaikan-Nya. Segala kebaikan-Nya itu tidak dapat di ukur dan di balas dengan apapun juga selain beriman dan percaya kepada-Nya. Ingat, sebagai manusia kita tidak terlepas dari cobaan hidup. Cobaan dan tantangan bisa datang dari orang-orang terdekat seperti suami istri, yang punya peranan sebagai orang tua tetapi juga anak-anak. Tantangan itu juga bisa datang dari lingkungan eksternal seperti gereja dan masyarakat. Tetapi sebagai orang percaya kita harus meyakini bahwa apapun yang kita alami, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kasih dan kebaikan-Nya akan selalu menyertai. Selamat mengakhiri tahun 2021 dan dengan sukacita memasuki tahun yang baru dengan tetap mengingat semua kebaikan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati.
Doa: Kebaikan-MuTuhan, selalu ada dan nyata dalam setiap kehidupan kami, Amin.
*sumber : SHK terbitan LPJ GPM