Tema Mingguan : ” Percayalah Kepada Yesus Sumber Kehidupan “
Minggu, 09 Januari 2022
bacaan : Yohanes 6 : 25 – 59
Roti hidup
25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" 26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." 28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" 29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."
Jangan Pesimis! Yesus Sumber Kehidupan
Pernyataan “Aku adalah roti hidup” (Yoh. 6:35) merupakan penyataan pertama dari tujuh pernyataan Yesus tentang diri-Nya “Aku adalah”. Dengan peryataan ini, Yesus hendak menegaskan aspek penting dari pelayanan pribadi Kristus untuk mendorong dan membangun rasa percaya dari orang-orang Kristen saat itu. Pernyataan tentang “Aku adalah roti hidup” memberitahukan kepada kita bahwa Kristus adalah sumber kehidupan. Ia menawarkan diri-Nya sebagai sumber kehidupan kepada yang mau bertobat dan beriman. Sumber artinya tempat keluar atau asal dari sesuatu. Jika Kristus adalah sumber kehidupan, maka ia adalah tempat asal kehidupan atau daripada-Nya-lah keluar kehidupan. Karena itu, siapa saja yang datang pada-Nya pasti akan memperoleh kehidupan. Sikap mencari Tuhan merupakan perwujudan dari sebuah upaya untuk memperoleh kehidupan. Salah satu di antara sikap tersebut yakni melibatkan diri dalam persekutuan ibadah. Sayangnya, masih ada sebagian orang Kristen yang mencari Tuhan dengan melibatkan diri dalam persekutan ibadah dan tujuannya hanya untuk memperoleh materi. Orang-orang tersebut terkadang selain orientasi hidupnya lebih ditujukan pada materi, mereka juga pesimis menghadapi kehidupan. Tahun 2022 memang baru saja kita tapaki sampai di tangga ke-9, dan mungkin ada yang sudah mengawali perjalanan tahun ini dengan cerita-cerita kehidupan yang susah dan menderita. Namun realitas kesusahan dimaksud semestinya tidak kita sikapi dengan keliru yakni berpikir materi dan pesimis. Sebagai orang percaya, seharusnya yakin bahwa kehidupan yang kita miliki bersumber pada Allah kehidupan. Allah yang setia dan penuh kasih. Ia akan selalu menyatakan kehadiran-Nya sebagai roti hidup bagi kita.
Doa: Tuhan, kami percaya bahwa Engkau adalah Sumber kehidupan bagi kami. Amin
Senin, 10 Januari 2022
bacaan : 1 Yohanes 3 : 19 – 24
Keyakinan di hadapan Allah
19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, 20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. 21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, 22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. 23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. 24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.
Selaraskan Suara Hatimu!
Jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah” (ayat 21). Hati pada konteks ayat ini dipahami sebagai “suara hati”. Suara hati adalah keputusan praktis akal budi yang membantu seseorang dalam menjalankan atau membatalkan suatu tindakan. Secara rasional, salah satu dimensi dari peran suara hati yakni mesti tekun mencari kebenaran. Idealnya memang adalah setiap manusia harus setia pada suara hati yang benar, karena hal tersebut mencerminkan ia setia kepada Allah. Tak dapat dipungkiri bahwa terkadang suara hati juga bisa keliru atau tidak sejalan dengan kehendak Allah. Oleh sebab itu, manusia dalam sikap dan tindakannya dituntut untuk menyelaraskan suara hatinya dengan Tuhan. Bagaimana kita menyelaraskannya? Yohanes menganjurkan setiap orang Kristen untuk menaruh kepercayaan yang sungguh akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya. Penegasan Yohanes pada “nama” menunjukkan adanya pemahaman yang lebih luas dari sekadar nama sebagai identitas. Nama memberi pengertian juga pada kuasa Yesus, yang mampu melakukan apa saja yang baik bagi kita, sekalipun hal tersebut dianggap sulit atau mustahil. Sebagai manusia, keterbatasan memang menjadi bagian dari kehidupan kita. Kehidupan yang kita tapaki di tahun yang baru belum tentu semuanya baik-baik saja. Untuk itu, kita harus lebih setia mendengarkan suara Tuhan di dalam hati supaya bijak menyikapi hari-hari hidup yang dijalani sambil percaya dengan sungguh bahwa penyertaan Tuhan pasti dialami.
Doa : Berbicaralah terus kepada kami ya Yesus untuk hidup benar. Amin.
Selasa, 11 Januari 2022
bacaan : Yohanes 4 : 1 – 26
Percakapan dengan perempuan Samaria Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 --meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, -- 3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria. 5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
Perjumpaan Yang Membawa Perubahan
Tuhan Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria di sumur yakni tempat di mana ia menimba air. Tuhan Yesus tidak berjumpa dengannya di tempat ibadah atau saat ia lagi santai, namun ketika perempuan Samaria tersebut sementara melakukan pekerjaannya sehari-hari. Situasi perjumpaan seperti ini kemudian mendorong terjadinya perubahan pemahaman bahkan perubahan hidup dari perempuan Samaria. Mengapa? Karena di sumur, percakapan yang terbangun menjadi sebuah percakapan yang dipenuhi dengan empati dari Yesus kepada perempuan Samaria tersebut. Yesus menunjukkan pemahaman-Nya akan kebutuhan utama perempuan Samaria terkait dengan air yang dikatakan oleh-Nya. Untuk itu, Yesus meminta ia memanggil suaminya. Yesus membuka ruang pergumulan pribadi perempuan itu, yang secara tak langsung telah disembunyikan olehnya. Bahwa perempuan itu secara status sosial sangatlah berada pada posisi terendah, karena itu ia pun harus memikul tanggung jawab sehari-hari yang sangat membebaninya. Namun setelah mendengar pengajaran Yesus, pikiran perempuan Samaria menjadi terbuka dan imannya pun lahir. Dengan yakinnya, perempuan Samaria itu kemudian menyebut Yesus dengan sebutan “Nabi”. Pemahaman yang berubah dan melahirkan sikap iman yang luar biasa dari perempuan Samaria itu, seharusnya menjadi juga sikap iman kita dalam menjalani pergumulan pribadi yang tidak mudah dan berat. Seharusnya kita lebih membuka diri pada Yesus, supaya dalam pengenalan-Nya terhadap kita, kepedulian dan cinta kasih-Nya dapat kita rasakan dengan baik.
Doa : Inilah kami Tuhan, kenalilah kami dengan kasih-Mu. Amin.
Rabu, 12 Januari 2022
bacaan : Matius 15 : 21 – 28
Perempuan Kanaan yang percaya
21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." 24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Berjuang Dengan Iman
Pa, Onco pung badan panas lai. Mari katong bawa ke dokter jua. Su dua hari ni, dia panas naik turun-naik turun terus”, kataku kepada sang suami. “Lalu mama pung pekerjaan kantor sudah selesai ka blom? Katanya hari ini musti kasi maso to?”, Tanya suamiku. “Iya, tapi masa gara-gara pekerjaan kantor, katong kasi tinggal anak ni sakit? Pekerjaan itu pasti bisa beta selesaikan hari ini juga. Tapi katong bawa Onco ke dokter dolo”, jelasku kepada sang suami. Percakapan seperti ini tentunya menjadi cerita umum dari keluarga yang mengalami masalah anak sakit. Situasi seperti ini, mendorong setiap orang untuk mengambil langkah penanganan yang cepat agar kondisi fisik anak tidak bertambah parah. Tak sedikit dari antara kita ketika berhadapan dengan situasi demikian, sementara berhadapan juga dengan situasi-situasi lain yang membutuhkan perhatian dan tindakan segera. Untuk itu, tentunya setiap orang harus berpikir tenang dan mampu memutuskan mana yang harus didahulukan. Namun apapun situasi yang lain itu, cerita perempuan Kanaan menggugah sikap etis yang lahir dari iman kepada Tuhan Yesus. Kondisi penderitaan anak telah membangkitkan daya juangnya yang luar biasa untuk memperoleh kesembuhan. Ia pun tidak mempedulikan status sosial budayanya yang berbeda dan tidak pantas saat berhadapan dengan Yesus. Ia hanya menginginkan kesembuhan anaknya. Karena itu ia rela dianggap tidak benar hanya demi kehidupan anaknya. Demikanlah sebagai orang percaya, sebuah kehidupan menjadi perhatian penting dari sikap iman kita. Sebab Tuhan pasti mengindahkan kita karena iman yang sungguh kepada-Nya.
Doa: Anugerahkanlah kesehatan bagi keluarga kami ya Tuhan. karena Engkau-lah Sumber kehidupan kami. Amin.
Kamis, 13 Januari 2022
bacaan : Yohanes 14 : 1 – 7
Rumah Bapa "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." 5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" 6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
Yesus Satu-Satunya Jalan Menuju Selamat
Banyak jalan menuju Roma” adalah peribahasa yang mempunyai arti ada banyak jalan atau cara untuk mencapai tujuan atau menggapai sesuatu. Tujuan atau sesuatu itu antara lain : kesuksesan, cinta, cita-cita dsb, yang tentunya berbeda untuk setiap orang. Contoh : banyak orang ingin hidup senang, bergelimang harta. Cara untuk mendapatkannya beragam, seperti: bekerja mengejar karir di kantor, berbisnis, bertani dan sebagainya dan ada pula yang menggunakan jalan pintas. Semua cara ini memungkinkan untuk menghasilkan harta dan kemudian menggunakannya sesuai yang diinginkan.
Keselamatan adalah tujuan yang ingin dicapai dan digapai orang Kristen, baik di dunia ini maupun di sorga nanti. Untuk mendapatkannya tidak ada banyak jalan. Hanya satu Jalan, yaitu Yesus. Seperti yang dikatakan oleh penulis Yohanes dalam bacaan kita hari ini. Jika kita hadir dan menjadi bagian murid-murid Yesus pada saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya, kemungkinan kita akan menjadi seperti Tomas yang bertanya : “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ.” Kita perlu berterima kasih kepada Tomas yang mengeluarkan perasannya sehingga Yesus menyampaikan jawaban yang meneguhkan para murid saat itu dan kita di saat sekarang : “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Untuk mendapat keselamatan, hanya ada satu jalan, yaitu percaya dengan iman yang sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus. Percaya bukan dengan mulut tetapi nyatakan dalam seluruh aspek kehidupan.
Doa: Tolong kami ‘tuk meyakini-Mu sebagai satu-satunya jalan menuju selamat, Tuhan. Amin.
Jumat, 14 Januari 2021
bacaan : Yohanes 10 : 1 – 21
Gembala yang baik "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." 19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"
Percayakanlah Hidupmu Kepada Tuhan Yesus, Gembala Yang Baik
Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memberikan gambaran yang unik dan istimewa tentang hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya yaitu Gembala dan domba. Teks bacaan kita hari ini menyaksikan bahwa Yesus sendiri menyebut diri-Nya Gembala, sedangkan umat-Nya sebagai domba. Pertanyaannya : “Mengapa kita digambarkan sebagai domba bukan binatang lain yang mungkin lebih kuat seperti kuda, gajah, singa, harimau, rajawali dan yang lainnya?” Rupanya penggambaran manusia sebagai domba hendak memperlihatkan keberadaan manusia yang penuh dengan kelemahan, ketidakberdayaan, mudah tersesat dan selalu berada dalam bahaya. Karena manusia, termasuk saya dan basudara digambarkan seperti domba yang penuh kelemahan, maka kita sangat membutuhkan gembala yang dapat membimbing dan menuntun kita ke jalan yang benar. Syukurlah kita mempunyai Tuhan Yesus yang menyatakan diri sebagai Gembala yang baik. Gembala yang selalu peduli dengan keselamatan domba-domba-Nya dan rela melakukan apa saja agar domba-domba-Nya hidup sejahtera.
Saudaraku, ketika Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, Ia mengontraskan diri-Nya dengan pencuri, perampok dan gembala upahan, yaitu mereka yang identik dengan gembala yang jahat yang hanya mengambil keuntungan dari kawanan dombanya. Karena itu marilah kita tetap percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mengandalkan Dia dalam hidup. Jangan mengandalkan manusia dengan segala kemegahannya karena sering mereka menjadi teman di saat kita dapat “menghasilkan” sesuatu dan akan dicampakan pada waktu tidak lagi dibutuhkan. Ibarat pepatah “habis manis sepah dibuang”. Tuhan Yesus Gembala yang baik akan menjaga keluar masuk kita, kini dan selamanya.
Doa: Tuhan, kami mau tetap memercayakan hidup kami kepada-Mu. Amin.
Sabtu, 15 Januari 2022
bacaan : Matius 21 : 18 – 22
Yesus mengutuk pohon ara
18 Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. 19 Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. 20 Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: "Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?" 21 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. 22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."
Percaya dan Berbuahlah
Brenda, seorang pemudi yang sangat aktif dalam berbagai kebaktian. Tak satu pun kebaktian yang terlewatkan olehnya. Jika ia mendengar bahwa ada orang yang dikenalinya meninggal, sekalipun tinggal jauh dari tempat tinggal nya, Brenda tak pernah absen mengikuti kebaktian penghiburan dan pemakaman. Dengan rajin berkebaktian maka orang berpikir bahwa Brenda adalah seseorang yang patut dicontohi. Benarkah demikian? Ooo..tidak! Di rumahnya, Brenda ternyata seorang yang keras kepala, mau punya mau, pembangkang dan suka membuat masalah dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Brenda taat beribadah tapi tidak bisa menghasilkan buah. Ia sama seperti pohon ara dalam kesaksian Matius pada bacaan kita hari ini.
Saudaraku, hari ini kita belajar dari kesaksian Matius tentang peristiwa pengutukan pohon ara yang tidak berbuah oleh Tuhan Yesus serta perumpamaan tentang “mencampakkan gunung ke laut”. Kisah Tuhan Yesus ini hendak mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus berbuah. Berbuah, berarti kita memberitakan kebenaran firman Tuhan dengan kata tetapi juga melalui perbuatan. Berbuah berarti lewat sikap hidup yang kita perlihatkan ada orang lain yg diselamatkan. Kenapa Yesus ingin pohon ara berbuah? Karena Yesus ingin umat-Nya berbuah. Karena itu sekalipun seseorang tampak rajin berkebaktian, namun jika hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan maka kebaktian yang dilakukannya setiap waktu hanya sesuatu yang sia-sia belaka. Sesuatu yang dilakukan sebagai rutinitas dan tidak lahir dari hati yang sungguh percaya. Untuk bisa menghasilkan buah kita juga harus melekat pada pokok pohon yaitu Tuhan Yesus Kristus (band. Yohanes 15 : 5 Yesus Pokok Anggur dan kita carangnya). Melekat pada pokok berarti percaya kepada Yesus dengan sepenuh hati. Hasilnya, kita pasti akan menghasilkan buah yang baik dan banyak dan nama Tuhan dipermuliakan.
Doa: Tuhan, kami mau ercaya pada-Mu dan menghasilkan buah. Amin.
*SUMBER : SHK JANUARI 2022; LPJ-GPM