Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 Februari 2022

Tema Mingguan : “Kuasa Yesus Menyembuhkan

Minggu, 13 Pebruari 2022                                

bacaan : Matius 9 : 35 – 38

Belas kasihan Yesus terhadap orang banyak
35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. 36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Bukang Cuma Rasa Kasiang Saa..

Waktu beta deng paitua pi mangente karabat yang dapa rawat di RSJ, katong lewat di dong pung “tampa” rawat, terjadilah percakapan berikut :

Paitua : “Ma, kasiang ee, dong macang dalang bui sa”.

Beta    :  “Memang bagitu suda. Maar itu cuma par dong yang masi suka barontak deng bajalang”

Paitua :  “Ma ada kepeng ka z? Kasi par dong bli roti deng aer jua”

Beta    :  “Ada, maar seng bisa kasi kepeng, labai pi bali sa la kasi par perawat jaga, nanti perawat bage akang par dong.”

Paitua :  “Oke, kasi kepeng la beta pi bli. Nanti katong sombayang deng dong lai e.. Bisa to.” (Beta angguk kapala)

Beta pung laki seng tahang lia orang susa deng saki, dia kasiang.

Itu lai yang Yesus biking waktu Antua bajalang koliling kota-kota la bakudapa orang-orang susa deng sangsara, termasuk dong yang saki. Matius bilang : “Yesus pung hati kasiang paskali par dong barang dong lala deng macang deng domba yang seng pung tuang” (ayat 36). “Yesus pung hati kasiang paskali”, dalang bahasa Yunani, splagkhnizomai. Kata ni akang pung arti : Yesus pung rasa kasiang paleng dalam par orang-orang sangsara deng saki. Tagal itu deng kuasa yang ada par Antua Yesus “angka” dong dar dong pung saki deng sangsara tu. Yesus seng cuma rasa kasiang sa, maar Antua biking apapa yang bisa biking dong kaluar dar dong pung kaadaang tu. Ada aksi, seng cuma rasa.

Basudara, pasti katong rasa kasiang waktu lia orang yang susa, saki deng sangsara. Tuhan pung firman hari ini ajar katong par jang cuma kasiang sa. Katong musti tolong dong supaya dong jadi labe bae. Tolong deng apa yang ada par katong. Paleng tida katong sombayang par dong. Tuhan Yesus sayang katong.

Doa: Tuhan tolong katong par seng cuma rasa kasiang, maar biking apapa yang bisa tolong orang yang susa deng saki.  Amin.

Senin, 14 Februari  2022                                   

bacaan : Markus 2 : 1 – 12

Orang lumpuh disembuhkan
Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, 3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. 5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" 6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7 "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" 8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 9 Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: 11 "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" 12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."

Perbuatan Sebagai Wujud Kasih

Sejak seminggu lalu, Noel sudah mengingatkan saya : “Ma, minggu depan kan hari Valentine” Saya: “Iya, lalu..?” Noel : “Ade pung ibu guru bilang katong seng bawa bunga deng coklat lai.” Saya : “Trus…Ade dong bawa apa?” Noel : “Nanti katong kumpul uang sa, lalu  ibu guru deng satu dua orang pi bali apapa la katong kasi par anana di panti asuhan.” Saya : “Hmm… bagus itu, Mamie setuju karena itu bentuk kasih sayang yang berbuat..!

Ya.. hari ini banyak orang sedang merayakan “Hari Kasih Sayang” atau “Valentine Day”, hari yang identik dengan warna pink, bunga dan cokelat. Satu pertanyaan: Apakah mereka yang merayakan hari kasih Sayang ini sungguh-sungguh memaknai arti “Kasih Sayang” atau hanya sekadar tradisi dan tanpa makna?

Hari ini kita belajar beberapa hal tentang “Kasih Sayang” dari bacaan kita, Markus 2:1-12. Kasih sayang yang tak terbatas pada ucapan tetapi terwujud dalam tindakan, kasih yang berbuat.

  1. Empat orang pembawa si lumpuh untuk berjumpa dengan Yesus agar dipulihkan oleh kuasa-Nya. Entah apa hubungan mereka dengan si lumpuh: keluarga, tetangga, atau kenalan. Yang jelas kasih sayang mereka terhadap si lumpuh mendorong mereka untuk berbuat sesuatu, tidak sekadar kasihan, sekalipun harus membobol atap rumah dimana Yesus berada demi mempertemukannya dengan Yesus.
  2. Yesus, sosok yang peduli dengan mereka yang menderita, termasuk yang sakit. Karena itu dengan kuasa-Nya Ia menyembuhkan sekaligus memulihkannya dari dosa. Sekalipun ditentang ahli Taurat di dalam hati mereka.

Hari ini kita belajar untuk mengasihi tidak sekadar memberi cokelat atau bunga. Mulailah dari rumah. Papa dan Mama saling mengasihi dengan saling menghormati dan menghargai. Orang tua mengasihi anak demikian pun anak mengasihi orang tua. Itulah “Valentin/ Kasih Sayang” yang sesungguhnya.

Doa: Tolong kami untuk melakukan KASIH YANG BERBUAT, Tuhan, Amin.

Selasa, 15 Februari 2022                              

bacaan : Markus 7 : 31 – 37

Yesus menyembuhkan seorang tuli
31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Efata! – Terbukalah!

Maaa..!” teriak Noel suatu pagi. Karena sibuk kerja saya tidak menjawab. Noelpun menghampiri saya dan berkata: “Mami e, Mami su tuli deng bisu ka, Ade panggel Mami dar tadi kenapa mami seng jawab Ade.

Telinga dan mulut (termasuk lidah) adalah organ tubuh yang penting sehingga jika mereka tidak bisa berfungsi dengan baik maka bisa menimbulkan masalah bagi sang pemilik organ itu ataupun orang lain seperti yang terjadi pada saya dan Noel.

Dalam bacaan kita hari ini, Markus berkisah tentang seorang tuli dan gagap yang dibawa kepada Yesus agar ia disembuhkan. Ia pasti sangat ingin bisa mendengar dan berbicara sebab dalam kehidupannya selama itu mungkin sekali ada banyak masalah yang muncul karena kekurangannya ini. Yesus melihat harapannya, juga harapan orang banyak yang membawanya lalu Iapun bertindak dengan kasih dan kuasa-Nya untuk memulihkan orang itu. Setelah memisahkan dia dari orang banyak, Yesus memasukkan jari ke telinga orang itu,  meludah dan meraba lidahnya lalu menengadah ke langit, menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata” (=terbukalah), maka terbukalah telinga orang itu sehingga ia bisa mendengar dan berbicara.

Saudara, jika pendengaran kita baik maka percakapan akan berlangsung secara bermutu dan kesalahpahaman dapat dihindari. Namun, bisa saja terjadi bahwa secara fisik kita dapat mendengar dan berbicara, tapi sering kali justru mengalami tuli dan gagap secara rohani. Akibatnya kata-kata yang keluar dari mulut kita bukan kata-kata yang memberkati dan menyejukkan, tetapi makian, cacian, cemoohan dan sejenisnya. Karena itu, kita perlu dipertemukan dengan Yesus agar dengan kuasa-Nya, mulut dan lidah terbuka untuk mengatakan hal-hal yang memberkati dan menyejukkan.

Doa:    Tuhan biarlah mulut dan lidah kami terbuka untuk mengeluarkan kata-kata yang memberkati dan menyejukkan sesama, Amin.

Rabu, 16 Februari 2022                                     

bacaan : Lukas 8 : 40 – 56

Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan
40 Ketika Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua menanti-nantikan Dia. 41 Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya, 42 karena anaknya perempuan yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. 43 Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. 44 Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. 45 Lalu kata Yesus: "Siapa yang menjamah Aku?" Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: "Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau." 46 Tetapi Yesus berkata: "Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku." 47 Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. 48 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" 49 Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!" 50 Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: "Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat." 51 Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: "Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur." 53 Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. 54 Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: "Hai anak bangunlah!" 55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. 56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.

Percaya Kepada Kuasa Yesus Yang Menghidupkan

Setiap orang pasti mendambakan hidup dalam kondisi yang sehat agar dapat melakukan aktivitas dengan baik. Pada sisi lain, seseorang yang tidak sehat (sakit) pasti akan berjuang untuk memperoleh kesembuhan. Hal berjuang untuk memperoleh kesembuhan diceritakan dalam perikop bacaan kita tentang Yairus, kepala rumah ibadat dan ayah dari seorang anak perempuan satu-satunya, yang berumur kira-kira 12 tahun, yang berada dalam keadaan hampir mati (ay.42). Ia datang sujud di depan Yesus dan memohon supaya Yesus datang ke rumahnya. Sikap Yairus menunjukkan penghormatan yang tinggi dan pengakuan akan kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan anaknya. Yesus kemudian membangkitkan anak itu dengan kuasa-Nya (ay.54-55). Demikian pula dengan seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan selama dua belas tahun (pendarahan yang berlebihan setiap kali dia haid/datang bulan) dan tidak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya (ay.43). Dalam Hukum Taurat, Perempuan yang mengalami masalah seperti itu dianggap najis dan tidak layak ikut dalam acara-acara ibadah (Imamat 15:25). Perempuan itu berjuang untuk mendekati Yesus dan memegang jubbah-Nya, dan imanlah yang menyembuhkannnya (ay.44). Ada hal menarik dari 2 peristiwa dalam kisah tersebut, yakni baik Yairus sebagai seorang ayah maupun perempuan yang sakit pendarahan menaruh kepercayaan kepada kuasa Yesus yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Makna bagi keluarga, dalam menghadapi berbagai persoalan dan pergumulan hidup termasuk sakit penyakit sehingga membuat kita stress, putus asa, hilang harap, maka datanglah kepada Yesus dengan kerendahan hati dan iman yang sungguh, maka pasti diselamatkan. Jangan mengandalkan kuasa lain di luar kuasa Tuhan Yesus karena kita pasti binasa, sebaliknya orang-orang yang mengandalkan Tuhan hidupnya diberkati (band.Yer. 17:7-8)

Doa: Tuhan, kiranya kami teguh percaya pada kuasa-Mu. Amin.

Kamis, 17 Februari 2022                                

bacaan : Markus 8 : 22 – 26

Yesus menyembuhkan seorang buta di Betsaida
22 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. 23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?" 24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." 25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. 26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!"

Kasih Dan Kuasa Yesus Mengatasi Masalah

Hidup sebagai orang buta (penyandang tunanetra) memang tidak mudah dan butuh banyak proses dalam menyesuaikan diri. Misalnya: orang buta harus terbiasa menggunakan tongkat khusus kemana-mana, ketergantungan kepada orang lain, ruang gerak dan aktivitasnya menjadi terbatas, dll. Maka tak heran bila mereka yang mengalami kebutaan membutuhkan dukungan keluarga dan orang-orang sekitarnya. Hal ini pun diperlihatkan dalam bacaan kita tadi. Ay. 22, menyebutkan orang banyak membawa seorang yang buta kepada Yesus sambil memohon supaya Ia menyembuhkan si buta itu (di dunia timur, kebutaan dianggap sebagai salah satu kutukan). Melihat orang yang buta sejak lahir itu, maka tergeraklah hati Yesus yang penuh dengan belas kasihan, lalu Ia membawa orang buta itu keluar dari kota Betsaida dan menyembuhkan dia dengan cara yang sangat sederhana (tradisional) yakni Ia menaruh ludah-Nya pada (mata) orang itu dengan tangan-Nya (ay.23 bd. 7:33). Yesus dua kali meletakan tangan-Nya pada mata orang buta itu dan ia menjadi sembuh (ay.25). Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus mengasihi orang buta dan dengan kuasa-Nya menyembuhkan orang tersebut. Tuhan Yesus telah membebaskan orang buta itu dari dunianya yang gelap, terbatas dan dianggap sebagai kutukan pada saat itu, kini ia mendapatkan kehidupan baru. Makna bagi kita, Pertama, Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan orang-orang yang buta secara fisik maupun rohani. Sebab itu, datanglah kepada Yesus untuk mendapatkan kesembuhan. Kita butuh hubungan secara intens dengan Tuhan Yesus. Kedua, Tuhan Yesus dan orang banyak berbela rasa dengan si buta karena itu orang percaya hendaknya memiliki perhatian, dukungan dan kerelaan untuk berbagi dengan mereka yang mengalami masalah hidup sehingga mereka memiliki kehidupan (jangan menutup mata/buta terhadap hidup orang lain).

Doa: Tuhan, tuntun hati kami berbelarasa dengan sesama. Amin.

Jumat, 18 Februari 2022                                 

bacaan : Matius 9 : 32 – 34

Seorang bisu disembuhkan
32 Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. 33 Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." 34 Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan."

Kebaikan Tidak Selamanya Dihargai, Tapi Harus Diperjuangkan

Ada peribahasa yang mengatakan “Apa yang dilihat oleh mata tergantung pada apa yang dirasakan oleh hati”. Artinya, jika hati kita baik terhadap orang lain, maka penilaian pun baik terhadap orang tersebut. Sebaliknya, jika hati kita tidak baik, maka penilaian kita pun tidak baik. Peribahasa ini mau menggambarkan sikap/penilaian orang banyak dan orang farisi tentang Yesus. Sikap orang banyak adalah keheranan/ketakjuban terhadap mujizat yang dibuat oleh Yesus. Dimana Ia mengusir setan dari orang bisu dan pada saat itu juga ia dapat berbicara (ay.33). Bagi orang banyak, kejadian seperti ini belum pernah terjadi baik dalam sejarah kehidupan bangsa Israel maupun dalam pengalaman hidup mereka sendiri (band psl 8-9). Dengan kata lain, mujizat ini hanya dilakukan oleh Yesus dan tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Perikop ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk menghidupkan; menyembuhkan dan menyelamatkan mereka yang terbelenggu oleh kuasa setan. Di sisi lain, orang-orang Farisi tidak mau mengakui bahwa kuasa Yesus berasal dari Allah, malahan mereka menyatakan bahwa kuasa Yesus datang dari penghulu setan atau kepala roh-roh jahat yaitu Iblis (ay.34). Makna bagi orang beriman: Pertama, tidak ada kuasa di bawah kolong langit ini selain kuasa Yesus yang menyelamatkan dan membebaskan manusia bahkan kuasa iblis sekalipun. Untuk itu, berharap dan percaya hanya pada kuasa Tuhan Yesus. Hal ini penting, menjalani tahun 2022, dimana kita masih dihadapkan dengan banyak tantangan hidup termasuk covid 19 yang bermutasi melalui varian baru Omicron dan berdampak sangat besar bagi hidup; baik kesehatan, ekonomi, sosial dan sebagainya. Kedua, perbuatan baik cenderung ditolak dan tidak diakui karena manusia memiliki sifat iri hati, cemburu dan dengki kepada sesamanya. Tapi jangan berhenti berbuat baik karena tujuan hidup orang beriman adalah memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Doa: Semoga kami tetap berdaya memperjuangan kebaikan. Amin.

Sabtu, 19 Februari 2022                                

bacaan : Matius 4 : 23 – 25

Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang
23 Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. 24 Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. 25 Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Apa Yang Dikatakan, Itu Yang Diperbuat

Ada tiga kata yang menggambarkan pelayanan Yesus semasa hidup-Nya, yakni pengajaran (Teaching), khotbah (Preaching) dan penyembuhan (Healing). Bacaan hari ini juga menceritakan tentang Tuhan Yesus yang melakukan perjalanan ke seluruh wilayah Galilea untuk mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit juga kelemahan (ay.23). Ia memberitakan kerajaan Allah    kepada orang banyak supaya mereka memiliki pemahaman yang baik dan benar (bukan seperti yang disampaikan oleh nabi-nabi palsu yang membalikan kebenaran injil dan mencari kepentingan diri sendiri). Pengajaran atau pemberitaan yang disampaikan oleh Yesus di Galilea disertai pula dengan tindakan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Karya Yesus di Galilea itu tersiar sampai  di seluruh daerah Siria, sehingga dibawalah kepada Yesus mereka yang sakit dan sengsara, kerasukan, dan lumpuh untuk disembuhkan (ay.24). Maka makin bertambahlah orang yang mengikuti Yesus, yakni mereka yang datang dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea dan Yordan (ay.25). Mereka datang untuk melihat, mendengar Yesus mengajar serta untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari belas kasih-Nya. Keluarga Kristen juga diajak untuk datanglah kepada Tuhan Yesus mengaku segala dosa dan serahkan semua beban-beban hidup kepada-Nya. Ia akan menyembuhkan dan menyelamatkan hidup kita. Rajinlah membaca Alkitab supaya kita memahami dan hidup sesuai kehendak-Nya. Firman Tuhan adalah pelita dan terang bagi hidup kita (band. Mazmur 119:105). Ingatlah pula bahwa tugas utama orang beriman adalah memberitakan injil kepada dunia.

Doa: Tuhan, kiranya kami menjadi pemberita-pemberita Injil. Amin.

*sumber : SHK bulan Februari 2022

Tinggalkan komentar