Tema Mingguan : “Hadapi Penderitaan Dengan Berani” MINGGU SENGSARA I
Minggu, 27 Februari 2022
bacaan : Matius 16 : 21 – 28
Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia
21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. 22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." 23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." 24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? 27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. 28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."
Hadapi dengan Berani
Ketika Yesus mengatakan bahwa Ia harus menghadapi berbagai macam penderitaan, bahkan siksaan, dan kematian yang mengerikan dengan cara dibunuh, Petrus kelihatannya tidak siap. Ia pun mengatakan kepada Yesus, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Bukan hanya Petrus tidak rela Gurunya, Mesiasnya, Tuhannya disiksa dan dibunuh, tapi juga kelihatannya ia tidak siap untuk ikut menderita bersama dengan penderitaan Gurunya itu. Hal ini terbukti dalam rentetan peristiwa penangkapan dan penyaliban Yesus, di mana Petrus menyangkal pengenalannya akan Kristus. Setahun yang lalu saya di vonis dokter terkena kanker payudara stadium dini yang membuat saya harus menjalani sekian banyak pengobatan mulai dari kemoterapi sampai radioterapi awalnya menjalani itu semua saya rasa sangat berat karena efek dari kemo mual-muntah badan sakit, rambut rontok dll. Awalnya saya merasa sangat menderita, tetapi apakah dalam keadaan itu saya marah pada Tuhan? Tidak, saya tetap bersyukur atas semua yang terjadi dan tetap menghadapi kenyataan itu dengan berani bersama Tuhan. Akhirnya karena kemurahan Tuhan saya diberi kesembuhan. Apapun yang terjadi, apapun pergumulan hidupmu hadapilah dengan berani bersama Tuhan, Tuhan menolongmu, Tuhan ada bersamamu dan Tuhan akan menyediakan jalan keluar. Tetap bersyukur apapun itu.
Doa: Tuhan, berikan aku kekuatan menghadapi pergumulan hidup. Amin.
Senin, 28 Februari 2022
bacaan : Mazmur 18 : 21 – 30
20 (18-21) TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, 21 (18-22) sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak berlaku fasik terhadap Allahku. 22 (18-23) Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan ketetapan-Nya tidaklah kujauhkan dari padaku; 23 (18-24) aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. 24 (18-25) Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. 25 (18-26) Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, 26 (18-27) terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit. 27 (18-28) Karena Engkaulah yang menyelamatkan bangsa yang tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak Kaurendahkan. 28 (18-29) Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku. 29 (18-30) Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dan dengan Allahku aku berani melompati tembok.
Di Balik Penderitaan Ada Kekuatan
Menjalani kehidupan yang penuh tantangan, kita berjalan bak seorang bayi yang belum memiliki cukup kekuatan untuk melangkah. Kita membutuhkan tangan Tuhan yang selalu memegang. Ketika meyakini tangan-Nya, kita akan berjalan tanpa rasa takut sebab Ia tidak akan membiarkan kita jatuh. Tuhan tidak saja mengajar kita untuk berjalan, Ia menuntun langkah demi langkah, memegang hidup, menjaga, dan membimbing agar selalu melangkah ke tempat yang aman. Raja Daud menggambarkan pemeliharaan Tuhan itu sebagai kekuatan dan tuntunan yang selalu diberikan-Nya saat ia mulai kehilangan arah tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Topangan tangan-Nya selalu menguatkan kaki-kakinya seperti kaki rusa dan melompat di tempat yang terjal. Sebagai orang beriman dalam menjalani hidup di dunia ini, kita dipanggil untuk mau menjalani hidup bersama dengan Yesus. Berani menjalani hidup dalam kesukacitaan maupun dalam penderitaan. Berani menjalani hidup dalam kegembiraan maupun dalam penderitaan dengan rendah hati, taat kepada kehendak-Nya. Kita tidak akan dibiarkan-Nya sendiri menghadapi penderitaan. Mohonlah kekuatan dan perlndungan-Nya dalam doa dengan tak berkeputusan. Tangan-Nya yang kuat akan selalu menopang kita, apapun yang terjadi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan hanya sejauh doa. Bersediakah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan menghadapi penderitaan dengan iman bukan dengan putus asa, hadapi dengan berani bukan dengan ketakutan. Tuhan besertamu selalu dalam menapaki jalan hidup yang penuh harapan.
Doa: Tuhan, Mampukan aku untuk selalu mengandalkan-Mu dalam menghadapi penderitaan.Amin.
Selasa, 01 Maret 2022
bacaan : Mazmur 56 : 1 – 5
Kepercayaan kepada Allah dalam kesusahan
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Merpati di pohon-pohon tarbantin yang jauh. Miktam dari Daud, ketika orang Filistin menangkap dia di Gat. (56-2) Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku! 2 (56-3) Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong. 3 (56-4) Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; 4 (56-5) kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?
Yakin Sekalipun Takut
Papaaa! katong satu keluarga mati di Damer! Teriak seorang ibu dengan raut wajah penuh ketakutan. Kepanikan sangat terasa oleh semua orang yang bersama-sama dengan kami di atas motor laut yang melayari tanjung Batu Kapal dan “mulut” pulau Damer. Saya baru datang untuk melayani di Klasis itu, dan mengalami ketakutan melihat ombak bergulung ombak, seperti hendak menenggelamkan kami. Keringat dingin mengucur dan jantung berdetak kencang, mata berkaca-kaca, dan meragukan keselamatan. Namun, emosi saya terkendali dan menjadi yakin ketika menatap seorang hamba-Nya yang tetap tenang dan berkata, “angkat hati untuk Tuhan”! Daud, juga mencurahkan perasaannya saat ia mengalami ketakutan karena serangan orang-orang yang seakan-akan mau mencabut nyawanya. Ia takut, namun mengaku, “Aku yakin bahwa Allah akan memihak kepadaku. Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Pemazmur datang mencari dan minta perlindungan kepada Tuhan, saat ia mengalami ketakutan. Itulah kunci kekuatan menghadapi ketakutan. Sebab itu, kepada kita diingatkan bahwa munculnya rasa takut ketika menghadapi sesuatu yang mengerikan atau membahayakan itu wajar, tetapi jangan sampai ketakutan itu begitu menguasai kita sampai tidak tahu harus melakukan apa. Kita harus sepenuhnya percaya kepada Tuhan, bahwa Ia sanggup menolong. Banyak orang sedang diliputi rasa ketakutan. Sampai kapan pandemi covid ini selesai?, Keluarga mau makan apa sementara sudah tidak lagi bekerja? Bencana alam yang terjadi di mana-mana, sakit yang tidak tersembuhkan, dan banyak hal lainnya. Bagaimanapun situasi ketakutan yang dihadapi, yakinlah! Tuhan selalu menyertai dan sedia menolong kita menghadapi berbagai ketakutan itu. Datanglah kepadaNya!
Doa: Ya Tuhan, dalam berbagai ketakutan yang kami alami, yakinkan kami bahwa Engkau ada bersama dan sedia menolong kami, Amin.
Rabu, 02 Maret 2022
bacaan : Mazmur 56 : 6 – 14
5 (56-6) Sepanjang hari mereka mengacaukan perkaraku; mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap aku. 6 (56-7) Mereka mau menyerbu, mereka mengintip, mengamat-amati langkahku, seperti orang-orang yang ingin mencabut nyawaku. 7 (56-8) Apakah mereka dapat luput dengan kejahatan mereka? Runtuhkanlah bangsa-bangsa dengan murka-Mu, ya Allah! 8 (56-9) Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? 9 (56-10) Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. 10 (56-11) Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, 11 (56-12) kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? 12 (56-13) Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu. 13 (56-14) Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.
Air Mataku Kau Taruh Dalam Kirbat-Mu
Air mataku, Kau taruh dalam kirbat-Mu.” Sepenggal nats bacaan dari pemazmur ini, telah membuat seorang ibu menangis tersedu-sedu menatap wajah anak kandungnya yang terbujur kaku. Betapa hatinya remuk melihat anak kesayangan yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang meninggalknnya karena kecelakaan. Tuhan, mengapa beta harus mengalami penderitaan seberat ini? Sejak kecil anak-anak ini saya pelihara sendiri karena suami yang telah pergi meninggalkan kami, dan sekarang Tuhan mengambilnya pulang”, ujar ibu tersebut diselingi isak tangis. Tapi saya yakin, airmata yang selalu keluar ini, akan Tuhan tampung dalam kirbat-Nya. Masa depan yang penuh harapan akan saya nikmati bersama anak-anak yang masih hidup. Daud, seorang pelarian yang dirongrong oleh musuh, menyebutkan kirbat dalam arti kiasan. Kirbat adalah wadah dari kulit binatang yang terutama digunakan oleh orang-orang pada zaman dahulu untuk tempat air, minyak, susu, anggur, mentega, dan keju, agar tetap terjaga rasanya dan tidak menjadi rusak. Daud berkata: ”Taruhlah air mataku dalam kirbat-Mu.” Ia percaya bahwa ketika kemelut hidupnya diserahkan dan disampaikan, maka sesungguhnya Allah akan mengelola semuanya dalam “wadah” yang tepat. Masalah tidak akan merusak dan menghambarkan kehidupannya, namun menjadi semakin “enak” dan “indah” karena pertolongan Tuhan. Ya, semua kesusahan, penderitaan, kekecewaan, kesulitan, tekanan hidup dan sebagainya, kadang membuat airmata tertumpah. Namun, melalui semua itu, sesungguhnya Tuhan sedang mengerjakan kebaikan dalam hidup kita. Berserahlah terus dan jalanilah hidup, Ia tahu apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Doa: Ya Tuhan, ubahlah derita kami agar menjadi bermakna. Amin.
Kamis, 03 Maret 2022
bacaan : Matius 10 : 29 – 33
29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. 30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. 31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. 32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. 33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."
Jangan Takut! Tuhan Pelihara Hidupmu
Bacaan hari ini mengisahkan tentang cara Yesus menguatkan para murid dengan jaminan pemeliharaan hidup. Yesus memberikan jaminan, sebab para murid harus melaksanakan tugas pemberitaan injil dan dimungkinkan untuk berhadapan dengan berbagai kesukaran. Penganiayaan adalah contoh dari kesukaran yang akan mereka alami dan itu berarti bahwa hidup menjadi terancam. Oleh sebab itu Yesus mengutus mereka dengan jaminan pemeliharaan hidup. Jaminan pemeliharaan hidup adalah janji yang pasti Yesus tepati. Yesus menepati semua janji-Nya, sebab Ia adalah Tuhan pencipta dan pemelihara. Semua ciptaan dipelihara Tuhan, baik manusia, maupun makhluk lain, termasuk burung pipit. Pengutusan pemberitaan injil dan jaminan pemeliharaan hidup ini juga diuntukkan bagi orang percaya dewasa ini. Kita terpanggil untuk menjalani hidup sebagai kesempatan memberitakan injil. Injil diberitakan melalui hidup, keluarga, jabatan, pekerjaan, pikiran, keputusan dan perilaku. Seluruh keberadaan kita haruslah menjadi berita sukacita, atau bermanfaat bagi kehidupan, sehingga orang lain mengakui Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Ingatlah bahwa kehidupan orang percaya kapan dan di mana pun tak akan pernah lepas dari kesukaran. Namun, bacaan hari ini menolong memberi tuntunan untuk menjalani hidup secara berarti dengan cara sebagai berikut. Yakinlah akan kepedulian dan pemeliharaan Tuhan atas hidup yang adalah ciptaan dan anugerah-Nya. Tuhan yang kita percaya adalah pencipta dan pemelihara yang baik. Ia tahu siapa dan bagaimana keadaan kita serta terus mengaktakan kehadiran juga kepedulian-Nya. Tak ada alasan untuk menjalani hidup dengan takut. Sebab hidup adalah anugerah Tuhan dan Dia pulalah yang pasti memeliharanya. Jadi selama hidup masih dijalani, akuilah Yesus sebagai Tuhan yang berkuasa memelihara hidupmu.
Doa: Ya Tuhan, peliharalah hidup kami siang dan malam. Amin.
Jumat, 04 Maret 2022
bacaan : Markus 13 : 3 – 13
Permulaan penderitaan
3 Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah, Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas bertanya sendirian kepada-Nya: 4 "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi, dan apakah tandanya, kalau semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya." 5 Maka mulailah Yesus berkata kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! 6 Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. 7 Dan apabila kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. 8 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. 9 Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. 10 Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa. 11 Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus. 12 Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. 13 Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat."
Tetap Beriman Walau Dalam Kesukaran
Perikop ini berisi khotbah Yesus tentang akhir zaman. Khotbah tersebut disampaikan-Nya di atas bukit Zaitun, tak lama setelah Ia memasuki kota Yerusalem. Hal penting yang terkandung dalam gagasan akhir zaman adalah akan tiba waktunya seluruh tatanan dunia diperbarui. Waktu itu sedang ditunggu dan tak dapat ditentukan kapan persisnya. Karena itu para murid diminta untuk mewaspadai semua peristiwa yang terjadi menjelang masa akhir itu. Peristiwa-peristiwa itu haruslah dipahami sebagai permulaan dari zaman baru yang dinanti kedatangannya. Mereka akan mengalami kejadian yang mengherankan dan mengguncang iman dengan hebatnya. Masa permulaan itu ditandai dengan tejadinya fakta penyesatan dan penganiayaan serta kebencian. Kebenaran tentang Yesus akan diputar-balikkan dengan sengaja dan para murid mengalami masa-masa hidup yang sulit. Tanda lainnya adalah terjadinya pergolakan politis yang luas, perang terjadi di mana-mana, bangsa melawan bangsa, dan kerajaan bangkit melawan kerajaan. Selain itu tanda permulaan akan dialami pula secara alami, dalam bentuk gempa bumi dan kelaparan. Keterguncangan hidup yang luar biasa oleh sebab kemelut baik keagamaan, politik maupun alam. Gambaran fakta seperti ini dibentangkan dengan maksud menjelaskan realitas hidup dan meneguhkan iman orang percaya. Cara terbaik hidup dalam kesukaran adalah tetap percaya akan kemahakuasaan Allah, bertahan dan mewaspadai segala kejadian. Kita diminta untuk bertahan dalam kesukaran dan menjalani hidup beriman dengan waspada. Pilihan cara yang tepat untuk hadapi penderitaan adalah bertahan karena iman dan waspada bukan ceroboh. Penderitaan bukanlah akhir sejarah manusia melainkan pembaruan secara menyeluruh. Karena itu disebutkan, kamu akan dibenci oleh sebab nama-Ku, tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (ay. 13).
Doa: Ya Tuhan mampukanlah kami untuk tetap beriman. Amin.
Sabtu, 05 Maret 2022
bacaan : Yesaya 50 : 8 – 11
8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku! 9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka. 10 Siapa di antaramu yang takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama TUHAN dan bersandar kepada Allahnya! 11 Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan.
Berani Hadapi Penderitaan
Isakan tangis tak henti terdengar dari kejauhan. Ita menceritakan kepedihan hatinya dengan terbata-bata, “Ibu pendeta, papa, mama dan keluarga masih dalam hutan. Dong sementara berjalan menuju hutan kampung Hulaliu. Beta takut papa pung kondisi fisik tambah lemah. Papa baru keluar rumah sakit minggu lalu karena gangguan pada ginjalnya. Papa masih ada dalam pemulihan fisik. Ibu pendeta, beta takut! Sioh e, kanapa katong musti alami kayak bagini ulang lai?”. Saya hanya terdiam mendengar luapan kesedihan hati Ita dan bisa merasakan kesedihan yang begitu dalam saat itu. Ketika tangisannya terdengar mulai mereda, saya mengajaknya berdoa melalui telepon genggam. Saya rasa hanya itu cara yang bisa dilakukan sementara untuk menolong dirinya. Kata-kata penguatan dan penghiburan memang sangatlah dibutuhkan oleh Ita dan saudara-saudara di kampung Kariu yang hari itu harus menelan pahit “terusir” dari tanah kelahiran mereka. Sebagai orang beriman, mereka harus mampu memandang kenyataan derita tersebut dengan tetap berpengharapan kepada Tuhan. Seperti spirit ketaatan seorang hamba Tuhan dalam nas bacaan hari ini yang mengatakan: “Sesungguhnya, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?” Bagi Yesaya, berani bukan hanya soal tidak takut, melainkan suatu daya tahan menghadapi kesusahan atau penderitaan dengan tetap setia dan taat pada ajaran/perintah/kehendak Tuhan. Kita membutuhkan spiritualitas keberanian dalam Tuhan dalam menapaki kehidupan yang selalu diwarnai dengan beragam persoalan bahkan penderitaan. Kita tidak boleh dilemahkan oleh bermacam-macam tantangan yang menerpa. Hidup takut Tuhan dan percaya kepada-Nya harus menjadi modal utama kita sebagai orang beriman. Tuhan akan selalu ada di pihak kita dan menolong kita.
Doa: Kuatkanlah kami Tuhan supaya tetap berani menghadapi penderitaan hidup ini. Amin.
*SUMBER : SHK BULAN FEB-MARET 2022, LPJ GPM