Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 Maret 2022

Tema Mingguan : “

Minggu, 13 Maret 2022                                     

bacaan : Mazmur 27 : 1 – 14

Aman dalam perlindungan Allah
Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? 2 Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. 3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya. 4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. 5 Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. 6 Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN. 7 Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! 8 Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. 9 Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku! 10 Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. 11 Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku. 12 Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku, sebab telah bangkit menyerang aku saksi-saksi dusta, dan orang-orang yang bernafaskan kelaliman. 13 Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! 14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

Tuhan itu Terang dan Keselamatan Dalam Penderitaan

Apa yang kita lakukan ketika kita mengalami penderitaan karena perbuatan jahat dari orang lain terhadap kita? Pemazmur Daud, dalam bacaan Maz. 27:1-14, ketika mengalami perbuatan jahat dari orang lain, melakukan empat hal, yaitu: pertama, Daud membuat pengakuan bahwa apapun keadaan yang ia alami, baginya Tuhan tetap menjadi terang dan keselamatannya, bahkan Tuhan merupakan benteng hidupnya (ay.1-3). Dalam pengakuan ini, Daud memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya sehingga ia tetap merasakan perlindungan Tuhan. Kedua, Daud berdiam diri sambil menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan (ay.4-6), tidak panik, tidak mempersalahkan orang lain yang melakukan kejahatan kepada dirinya, dan tidak ingin bertindak membalas kejahatan orang tersebut kepada dirinya. Daud melakukannya karena yakin Tuhan akan melindungi dirinya. Ketiga, Daud berdoa, memohon belas kasihan dan pertolongan Tuhan atas apa yang ia alami (ay.7-10). Daud meminta Tuhan tidak menyembunyikan wajahNya, tidak membuang Daud, dan tidak meninggalkan Daud, sebab dirinya sangat yakin bahwa Tuhan itu penyelamat bagi dirinya. Keempat, Daud meminta Tuhan menunjukkan jalanNya, agar dapat menuntun dalam menghadapi dan menjalani hidup di tengah situasi penderitaan (ay.11-14). Karena itu, Daud menyatakan ia akan selalu menanti Tuhan yang akan menunjukkan kuasa dan kebesaranNya bagi hidup yang dialaminya. Mari teladani Daud, meyakini Tuhan sebagai terang dan keselamatan, berdiam diri sambil bernyanyi dan bermazmur, berdoa memohon belaskasihan dan tolongan-Nya serta meminta petunjuk-Nya.

Doa:  Ya Tuhan keselamatanku, tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku dalam penderitaan ini. Amin.

Senin, 14 Maret 2022                                          

bacaan: 2 Tawarikh 15 : 7

7 Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"

Ada Upah Bila Menghadapi Kesesakan Dengan Menguatkan Hati

Segala sesuatu yang kita kerjakan di dalam hidup ini selalu ada upahnya. Perbuatan atau pekerjaan baik selalu memperoleh upah yang baik pula. Sebaliknya, perbuatan atau pekerjaan yang tidak baik akan memperoleh upah yang tidak baik. Pertanyaannya, upah seperti apa yang ingin kita dapatkan jika melakukan atau berbuat sesuatu yang baik dalam kesesakan? Bagian bacaan Alkitab ini hendak mengungkapkan respons seseorang ketika mengalami kesesakan atau penderitaan. Dalam situasi kekacauan, kesesakan, atau penderitaan yang terjadi pada wilayah dimana kita ada, sebagai umat Tuhan haruslah tetap menguatkan hati dan memiliki semangat. Sebab ketika kita bersikap demikian, Tuhan-lah yang akan menunjukkan kebesaran kuasa-Nya. Bersikap tetap menguatkan hati, dan tidak lemah semangat pasti ada upahnya, yakni penjagaan, perlindungan, dan keselamatan. Banyak orang, ketika mengalami kesesakan atau penderitaan mengambil jalan sendiri menurut keinginannya. Ada banyak orang yang merasa harga dirinya direndahkan oleh perbuatan jahat orang lain lalu melakukan sesuatu yang sifatnya membalas perbuatan orang yang melakukan kejahatan tersebut. Melaui Firman Tuhan ini kita mendapat pelajaran bahwa dalam kesesakan dan penderitaan, kita harus tetap menguatkan hati dan memelihara semangat. Jangan balan jahat dengan jahat, melainkan mengampuni dan mendoakan. Teguhkanlah hati dan semangat dan nantikanlah upah dari Tuhan. ia akan selalu menjaga, melindungi dan menyelamatkan kita terutama ketika sedang berada dalam kesesakan.

Doa: Ya Tuhan, kuatkanlah hati kami, semangatilah kami dengan RohMu, agar kami mampu menghadapi kesesakan… Amin.

Selasa, 15 Maret 2022                               

bacaan : 1 Korintus 16 : 13 – 14

13 Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! 14 Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!

Kas Kuat Hati Hadapi Hidup

Kas kuat hati tuang…, hadapi semua situasi hidup ini dengan selalu berpengharapan voor Tuhan. Yakin! Tuhan seng akan kas tinggal ale….., pencobaan yang ale alami, seng melebihi ale pung kekuatan. Tetap beriman dengan sungguh…. kuat dan teguhkan hati ee….  

Itulah sepenggal kalimat penguatan yang beta dengar dari alm. Em. Pdt. Sammy Titaley ketika beta menghadapi goncangan badai hidup rumah tangga yang nyaris membuat beta hancur saat itu.

Yaahh… beta memang bukan laki-laki yang kuat dan mampu berdiri tegap. Namun beta mesti kuat dan bersikap seperti laki-laki sehingga mampu hadapi kenyataan hidup tersebut. Dan kalimat penguatan tersebut, justru membuat beta merasa hati kuat dan bertekad untuk bangkit, berhenti menangis dan mulai menata hidup demi dua anak laki-laki yang sedang bertumbuh menjadi remaja. Dan puji Tuhan, beta mampu karena kasih Tuhan melalui hamba-Nya.

Dalam bacaan hari ini, Rasul Paulus menyerukan agar setiap orang percaya bersikap sebagai laki-laki. Seruan Paulus ini juga tidak ditujukan kepada jemaat di Korintus saja, tetapi kepada semua orang percaya.

Ada hal-hal positif yang bisa kita pelajari dari sikap seorang laki-laki yang layak untuk diterapkan dalam kehidupan rohani.  Salah satunya adalah hal keberanian.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata berani memiliki arti sikap hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan dan sebagainya;  berani juga berarti tidak takut, tidak gentar dan tidak kecut hati. Maka marilah kita berani menantang kenyataan hidup yang ada sambil tetap kuat dan teguhkan hati sebab Tuhan tidak biarkan kita menghadapinya sendiri.

Doa: Ya Tuhan… tetaplah bersama kami hadapi situasi hidup yang ada. Amin.

Rabu, 16 Maret 2022                                              

bacaan : Hagai 2 : 1 – 9

Kemegahan Bait Suci yang baru
(2-1a) pada hari yang kedua puluh empat dalam bulan yang keenam. (2-1b) Pada tahun yang kedua zaman raja Darius,(2-2) dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal dua puluh satu bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: 2 (2-3) "Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian: 3 (2-4) Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? 4 (2-5) Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 5 (2-6) sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! 6 (2-7) Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 7 (2-8) Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. 8 (2-9) Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.

Kesempurnaan Penyertaan Tuhan

Tidak pernah terlambat dan tidak terlalu cepat jawaban Tuhan untuk setiap gumulan kita”. Ini adalah sepenggal kalimat yang seringkali disampaikan dan diyakini oleh orang-orang beriman ketika menghadapi pergumulan hidup. Contohnya pergumulan untuk memiliki anak oleh sepasang suami istri yang telah lama menikah, katakanlah 6 tahun pernikahan.  Hingga pada fase Berserah dan Melepaskan semua kekuatan serta perjuangan hanya kepada Tuhan dan oleh kendali Tuhan, pasangan ini tetap meyakini bahwa Rencana Tuhan pasti mendatangkan kebaikan dan Damai Sejahtera. Di tengah-tengah penantian dan perjuangan mereka, Tuhan tetap menyertai.

Penyertaan Tuhan pun dirasakan oleh Zerubabel, Yosua dan semua rakyat ketika mereka membangun kembali Bait Allah. Hagai mengatakan, “Kuatkanlah Hatimu”. Walaupun Bait Allah yang dibangun tak seindah Bait Allah yang dibangun Salomo, namun Hagai meyakinkan bahwa Anugerah Allah dan Roh Allah akan tetap tinggal diantara mereka, sebab itu Janganlah Takut! Ayat 6-9 menyatakan bahwa Tuhan akan memenuhi Rumah/Bait Allah ini dengan kemegahan sebab IAlah yang Empunya segalanya. Hagai lewat bacaan hari ini, mengajarkan kita untuk tetap Percaya dan bersandar pada rencana Tuhan, Jangan pernah takut dan khawatir. Mungkin nampak biasa saja di awalnya, namun dari yang biasa itu Tuhan akan membuat menjadi Luar Biasa. Untuk setiap pergumulan yang sementara kita bangun bersama Tuhan, apapun itu, Tetaplah percaya pada Janji dan penyertaan-Nya, sebab Tuhan tahu kapan waktu yang terbaik untuk kita menerima Anugerah dan Damai Sejahtera-Nya.

Doa: Tetaplah sertai kami Ya Tuhan, dalam setiap Gumulan kami. Amin.

Kamis, 17 Maret 2022                                 

bacaan : 2 Tesalonika 3 : 3 – 5

3 Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat. 4 Dan kami percaya dalam Tuhan, bahwa apa yang kami pesankan kepadamu, kamu lakukan dan akan kamu lakukan. 5 Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.

Ora Et Labora

Tragedi kemanusiaan yang terjadi pada Januari lalu di Pulau Haruku, yakni Ori-Kariu masih membekas dalam ingatan kita. Terlepas dari akar permasalahannya, yang menjadi fokus kita ialah kondisi saudara-saudara kita di Kariu. Kondisi yang memprihatinkan karena mereka kehilangan harta benda, tempat berteduh mereka akibat dilalap si jago merah. Sebagai orang basudara, banyak hati tergerak untuk memberikan bantuan secara material maupun spiritual kepada mereka.

Firman Tuhan oleh Rasul Paulus saat ini mengajak kita untuk tetap meyakini Kesetiaan Tuhan yang akan selalu menolong kita. Tuhan akan menguatkan kita dan memelihara kita terhadap yang jahat. Oleh sebab itu, marilah kita saling menguatkan dan mendoakan. Mendoakan mereka yang ada dalam kesesakan, penderitaan dan pergumulan hidup. Teriaklah nama Tuhan dalam setiap Doa kita. Memberikan motivasi dan spirit bagi mereka yang butuh dorongan kemanusiaan kita. Benar bahwa kebutuhan pangan, sandang dan papan itu penting namun harus diseimbangkan dengan Healing/penyembuhan atau pemulihan diri. Percayalah bahwa setiap kita yang selalu memberi hati ini kepada Tuhan, Tuhan pasti akan menggenggam tangan kita dan menuntun kita melalui jalan-jalan kehidupan yang sulit dengan Kasih-Nya.

Doa: Ajarkan kami ya Tuhan, untuk selalu Berserah kepadaMu. Amin.

Jumat, 18  Maret 2022                                       

bacaan : Ibrani 10 : 19 – 23

Ketekunan
19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, 20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, 21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. 22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. 23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Buah Dari Ketekunan

Orang tatua salalu kas pasang voor anana cucu bagini : “kalo mo dapa hidop, mo jadi ‘orang’, mo biking sesuatu tuh akang berhasil, katong musti karja deng sungguh-sungguh, seng boleh pamalas, lalu musti tekun”. Ketekunan selalu memberikan hasil yang memuaskan. Seseorang yang tekun dalam pekerjaannya, pendidikannya bahkan pelayanannya akan disuguhi dengan kepuasan dan kebahagiaan. Ketekunan memerlukan komitmen dan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan, oleh karenanya seseorang yang tekun akan selalu berpegang teguh pada pendirian dan komitmennya serta tekad yang sungguh untuk menggapai sesuatu yang sudah ditargetkannya.

Ibrani pasal 10:19-23 mengarahkan pandangan kita untuk memiliki ketekunan dalam beriman kepada Allah. Disampaikan oleh penulis pada ayat ke 22-23 bahwa karena kita telah dibersihkan dan dibasuh dengan air yang murni untuk terbebas dari hal-hal yang jahat, maka sudah seharusnya kita berpegang teguh pada pengharapan kita kepada Allah. Artinya bahwa ketika kita telah diberikan kesempatan untuk ada dalam hidup yang baru, hidup bersama dan di dalam Tuhan, baiknya kita tetap bertekun dalam Doa dan Pengharapan hanya kepada-Nya. Tidak lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri atau kekuatan lain yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita sungguh akan berwarna dan dipenuhi dengan sukacita. Bertekunlah dan Berpeganglah selalu pada janji Kesetiaan Tuhan.

Doa: Perteguhkanlah komitmen kami Tuhan, untuk selalu berpengharapan dan bertekun di Dalam-Mu. Amin.

Sabtu, 19 Maret 2022                                         

bacaan : Yesaya 50 : 4 – 7

Ketaatan hamba TUHAN
4 Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. 5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. 6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. 7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

Lidah Tak Bertulang

Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan Broery Marantika berbunyi seperti ini “Memang lidah tak bertulang, Tak berbekas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati”. Secara sederhana makna lirik ini ialah komitmen terhadap setiap perkataan yang disampaikan, dan berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Bacaan kita hari ini merupakan nubuatan nabi yesaya tentang kedatangan Mesias yang akan menyelamatkan bangsa Israel. Ayat 4 menekankan tentang ketaatan yang harus dimiliki oleh seorang Hamba Tuhan. Seberat apapun pergumulan yang dihadapinya, ia harus tetap melaksanakan tugasnya menjadi seorang murid yang dapat memberikan semangat kepada mereka yang letih lesu. Lidah seorang murid adalah gambaran tentang pengajaran dan nasihat yang harus terus diwartakan oleh seorang Hamba Tuhan sebagai komitmennya untuk menjadi Pelayan Tuhan. Ia pula harus peka dan mendengar setiap permohonan umat dan menjadi sahabat yang setia mendengarkan keluh kesah mereka. Setiap orang percaya adalah sahabat bagi sesamanya. Sahabat dikala suka maupun susah, sahabat yang selalu memberikan motivasi dan semangat, sahabat yang bersedia menolong dengan setiap kelemahan dan keterbatasannya. Menjadi seorang sahabat yang baik bukan soal menjadi Pelayan atau hamba Tuhan, melainkan setiap kita yang dianugerahkan keselamatan dari Allah memiliki tugas yang sama untuk menjadi sahabat bagi sesamanya. Oleh sebab itu, pakailah lidah, telinga, punggung, pipi dan seluruh hidup kita untuk menolong sesama bukan saling menjatuhkan. Hal ini kita lakukan karena kita percaya Tuhan telah terlebih dahulu menolong kita.

Doa: Pakailah hidupku Tuhan, tuk menjadi Berkat bagi sesama. Amin.

*sumber : SHK BUlan Maret 2022

Tinggalkan komentar