Tema Bulan Mei : “Membangun ketahanan keluarga, gereja dan masyarakat”
Tema Mingguan : “Menatalayani ekonomi keluarga dengan hikmat Allah.“
Minggu, 01 Mei 2022
bacaan : Kejadian 41 : 1 – 36
Mimpi Firaun Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil. 2 Tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput yang di tepi sungai itu. 3 Kemudian tampaklah juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lembu yang tadi, di tepi sungai itu. 4 Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun. 5 Setelah itu tertidur pulalah ia dan bermimpi kedua kalinya: Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. 6 Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. 7 Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi. Lalu terjagalah Firaun. Agaknya ia bermimpi! 8 Pada waktu pagi gelisahlah hatinya, lalu disuruhnyalah memanggil semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir. Firaun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya kepadanya. 9 Lalu berkatalah kepala juru minuman kepada Firaun: "Hari ini aku merasa perlu menyebutkan kesalahanku yang dahulu. 10 Waktu itu tuanku Firaun murka kepada pegawai-pegawainya, dan menahan aku dalam rumah pengawal istana, beserta dengan kepala juru roti. 11 Pada satu malam juga kami bermimpi, aku dan kepala juru roti itu; masing-masing mempunyai mimpi dengan artinya sendiri. 12 Bersama-sama dengan kami ada di sana seorang muda Ibrani, hamba kepala pengawal istana itu; kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu diartikannya kepada kami mimpi kami masing-masing. 13 Dan seperti yang diartikannya itu kepada kami, demikianlah pula terjadi: aku dikembalikan ke dalam pangkatku, dan kepala juru roti itu digantung." 14 Kemudian Firaun menyuruh memanggil Yusuf. Segeralah ia dikeluarkan dari tutupan; ia bercukur dan berganti pakaian, lalu pergi menghadap Firaun. 15 Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya." 16 Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." 17 Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Dalam mimpiku itu, aku berdiri di tepi sungai Nil; 18 lalu tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang gemuk badannya dan indah bentuknya, dan makan rumput yang di tepi sungai itu. 19 Tetapi kemudian tampaklah juga keluar tujuh ekor lembu yang lain, kulit pemalut tulang, sangat buruk bangunnya dan kurus badannya; tidak pernah kulihat yang seburuk itu di seluruh tanah Mesir. 20 Lembu yang kurus dan buruk itu memakan ketujuh ekor lembu gemuk yang mula-mula. 21 Lembu-lembu ini masuk ke dalam perutnya, tetapi walaupun telah masuk ke dalam perutnya, tidaklah kelihatan sedikitpun tandanya: bangunnya tetap sama buruknya seperti semula. Lalu terjagalah aku. 22 Selanjutnya dalam mimpiku itu kulihat timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang berisi dan baik. 23 Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir yang kering, kurus dan layu oleh angin timur. 24 Bulir yang kurus itu memakan ketujuh bulir yang baik tadi. Telah kuceritakan hal ini kepada semua ahli, tetapi seorangpun tidak ada yang dapat menerangkannya kepadaku." 25 Lalu kata Yusuf kepada Firaun: "Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. 26 Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama. 27 Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan. 28 Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. 29 Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir. 30 Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini. 31 Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu. 32 Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya. 33 Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. 34 Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. 35 Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. 36 Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu."
Bijak Pada Masa Kelimpahan, Berjaya Mengatasi Kekurangan
Teks bacaan hari ini mengisahkan pengalaman raja Firaun yang bermimpi sebanyak dua kali dalam satu malam. Pertama ia bermipi dari sungai Nil keluar tujuh ekor lembu yang gemuk badan dan indah bentuknya. Tampak pula keluar tujuh ekor lembu yang kurus dan buruk badannya. Lembu kurus menelan lembu yang gemuk, namun tetap kurus. Mimpi kedua adalah tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. Tampak pula olehnya tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. Bulir kurus itu menelan bulir yang bernas dan berisi. Para ahli dan semua orang berilmu di Mesir dipanggil untuk mengartikan mimpi tersebut namun tidak berhasil. Juru minum kemudian menceritakan tentang kemampuan Yusuf dan Firaun menyuruh memanggilnya. Yusuf dapat mengartikan mimpi Firaun itu karena pertolongan Allah. Ia menerangkan kepada Firaun bahwa mimpinya berarti tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun kekurangan atau kelaparan. Yusuf selanjutnya mengusulkan jalan keluar agar Firaun mengangkat orang yang berakal budi dan bijaksana sebagai kuasa atas tanah Mesir untuk melaksanakan tugas menyimpan pada tahun-tahun kelimpahan. Pikiran Yusuf bermakna ekonomis, maksudnya menegaskan gagasan menatalayani ekonomi dengan bijak. Kita diingatkan bahwa ada masa di mana hidup berlangsung dalam kelimpahan berkat. Namun selain itu tidak dapat dipungkiri bahwa kekurangan atau kelaparan adalah juga kenyataan hidup yang selalu dijumpai. Kiranya hikmat Yusuf memberi inspirasi menatalayani ekomomi secara bijak sehingga kehidupan yang layak atau tercukupkan dapat dialami. Hidup harus ditata, terutama berkat Tuhan yang sedang dimiliki, agar menjadi simpanan atau bekal mengantisipasi kekurangan di hari esok. Hiduplah dengan prinsip berhemat bukan boros atau berfoya-foya serta menghamburkan harta.
Doa: Ya Tuhan, berilah hikmat-Mu agar kami layak menata berkat yang tersedia dengan bijaksana . Amin.
Senin, 02 Mei 2022
bacaan : 2 Raja – Raja 19 : 29
29 Dan inilah yang akan menjadi tanda bagimu, hai Hizkia: Dalam tahun ini orang makan apa yang tumbuh sendiri, dan dalam tahun yang kedua, apa yang tumbuh dari tanaman yang pertama, tetapi dalam tahun yang ketiga, menaburlah kamu, menuai, membuat kebun anggur dan memakan buahnya.
Terluput Dari Bahaya, Ekonomi Ditata
Raja Hizkia pernah mengalami tekanan batin yang hebat sebagai akibat ancaman pemusnahan Yehuda dan kota Yerusalem oleh Sanherib raja Asyur. Ancaman pemusnahan yang menguras energi batin itu dihadapi raja Hizkia dengan bersegera berserah pada Tuhan. Ia melibatkan petinggi kerajaan dan tua-tua Israel dalam perkabungan serta mendatangi nabi Yesaya. Tindakkan iman demikian diaktakan agar mereka mendapat belas kasihan Tuhan. Tuhan mendengar keluhan juga seruan raja Hizkia minta tolong lalu bertindak menyelamatkan Yehuda dan Yerusalem. Tindakkan penyelamatan Tuhan disertai juga dengan akta pemulihan, termasuk situasi ekonomi. Akta pemulihan itu disampaikan oleh nabi Yesaya sebagai orang yang berbicara atas nama Tuhan. Ayat 29 yang adalah bacaan hari ini berisi ucapan pemulihan atas hidup Yahuda dan Yerusalem. Yesaya menyerukan bahwa raja Hizkia akan diberikan tanda tentang tindakkan pemulihan ekonomi yang berasal dari Tuhan. Tanda itu adalah …”orang akan makan apa yang tumbuh sendiri, dan dalam tahun yang kedua, apa yang tumbuh dari tanaman yang pertama, tetapi dalam tahun yang ketiga, menaburlah kamu, menuai, membuat kebun anggur dan memakan buahnya.” Arti perkataan nabi Yesaya ini adalah bahwa orang Yehuda menderita kelaparan selama perang dua tahun melawan Sanherib raja Asyur. Allah menjamin pada tahun yang ketiga, mereka akan menanam dan menuai kembali serta mendapat makanan yang melimpah. Jaminan pemulihan yang berasal dari Tuhan memungkinkan Yehuda menata kembali ekonomi mereka. Tanah yang merupakan anugerah Tuhan dikelola sehingga terpulih dari keterpurukkan karena perang. Kesusahan bukanlah akhir keberadaan dan hidup, sebab jalan dan kemungkinan baru pasti selalu disediakan Tuhan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Berharaplah pada-Nya, sebab Dia adalah sumber berkat.
Doa: Kiranya kami senantiasa dilayakkan untuk menata kebaikan-Mu. Amin.
Selasa, 03 Mei 2022
bacaan : Kejadian 30 : 37 – 43
37 Lalu Yakub mengambil dahan hijau dari pohon hawar, pohon badam dan pohon berangan, dikupasnyalah dahan-dahan itu sehingga berbelang-belang, sampai yang putihnya kelihatan. 38 Ia meletakkan dahan-dahan yang dikupasnya itu dalam palungan, dalam tempat minum, ke mana kambing domba itu datang minum, sehingga tepat di depan kambing domba itu. Adapun kambing domba itu suka berkelamin pada waktu datang minum. 39 Jika kambing domba itu berkelamin dekat dahan-dahan itu, maka anaknya bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang. 40 Kemudian Yakub memisahkan domba-domba itu, dihadapkannya kepala-kepala kambing domba itu kepada yang bercoreng-coreng dan kepada segala yang hitam di antara kambing domba Laban. Demikianlah ia beroleh kumpulan-kumpulan hewan baginya sendiri, dan tidak ditempatkannya pada kambing domba Laban. 41 Dan setiap kali, apabila berkelamin kambing domba yang kuat, maka Yakub meletakkan dahan-dahan itu ke dalam palungan di depan mata kambing domba itu, supaya berkelamin dekat dahan-dahan itu. 42 Tetapi apabila datang kambing domba yang lemah, ia tidak meletakkan dahan-dahan itu ke dalamnya. Jadi hewan yang lemah untuk Laban dan yang kuat untuk Yakub. 43 Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan ia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai.
Memperoleh Harta Karena Bekerja Keras
Kisah Yakub di rumah Laban mertuanya merupakan contoh mengupayakan kehidupan yang lebih baik atau sejahtera. Harta adalah bagian dari kehidupan yang layak dimiliki oleh semua orang yang bekerja bersungguh-sungguh. Apa pun yang Yakub miliki diperolehnya dengan berjuang atau kerja keras. Ia awalnya datang dan tinggal di rumah Laban seorang diri tanpa isteri dan kambing domba. Semua orang memiliki kebutuhan dan karena itu harta bukanlah hal yang dilarang untuk diperoleh. Kehidupan Yakub mengekspresikan pesan ini. Harta itu wajar untuk diupayakan dan diperoleh dengan cara bekerja keras. Ia bekerja untuk waktu yang lama agar dapat memperoleh baik isteri maupun kambing domba. Apa yang dimilikinya diperoleh sebagai buah dari kerja keras bertahun-tahun. Nas hari ini secara khusus berbicara tentang upaya Yakub untuk memperoleh kambing domba dari Laban. Ia bukanlah orang yang harap gampang, tetapi pejuang kehidupan yang pantas dijadikan teladan. Ayat 37 dan 38 mengisahkan bagaimana Yakub melakukan kiat khusus agar berhasil memperoleh harta berupa kambing domba yang didambakannya. Ia mengambil dahan hijau, mengupasnya sehingga kelihatan berbelang-belang serta meletakkannya di palungan tempat minum. Tindakkan ini berdasar pada kepercayaan bahwa apa yang dilihat kambing domba saat berkembang biak atau berkelamin, akan menentukan warna anak-anaknya. Jadi cara yang dipakai Yakub bukan tanpa alasan. Kita belajar bahwa bekerja keras haruslah didasarkan bukan saja pada kepercayaan tetapi juga kesungguhan berpikir. Buah dari kepercayaan, berpikir dan bertindak atau kerja keras tidak akan mengecewakan. Setiap orang memiliki pengetahuan karena itu harus diwujudkan dengan cara khusus disertai kerja keras. Akhirnya mohonlah agar Allah sumber berkat dan pengetahuan memberkati usaha kita.
Doa: Ya Tuhan, kiranya kebutuhan hidup kami tercukupkan. Amin.
Rabu, 04 Mei 2022
bacaan : Amsal 31 : 13 – 18
13 Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. 14 Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya. 15 Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. 16 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. 17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. 18 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.
Perempuan Yang Cakap Dan Bijak
Perempuan yang dimaksud penulis kitab Amsal adalah isteri dan ibu yang cakap melakukan banyak hal berkaitan dengan hikmat dalam kehidupan. Lakon atau peran hidup perempuan dijalani agar keberadaan dan kelangsungan keluarga dapat terjamin. Hal ini berarti bahwa kualitas keluarga ditentukan pula oleh tindakkan berhikmat atau bijak seorang perempuan. Laki-laki tidak mungkin bertindak sendiri melangsungkan akta hidupnya tanpa dukungan dan kebersamaan perempuan. Tindakan seorang isteri dan atau ibu menjadi berkualitas apabila dilangsungkan dengan cakap dan bijak. Kecakapan dan kebijaksanaan menjadikan perempuan bermakna bukan saja bagi keluarganya tapi juga demi kehidupan. Ciri perempuan cakap dan bijak adalah berpikir cerdas dan bekerja keras serta menggunakan setiap kesempatan mengusahakan juga menata pemenuhan kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya. Kebutuhan sehari-hari yang dimaksud yakni makan dan minum, pakaian dan tempat kediaman atau rumah yang layak serta menabung untuk masa depan. Penulis Amsal ini bukan sekadar menghargai tetapi mengagungkan perempuan dengan sangat hebat. Peran atau lakon perempuan bukanlah tambahan tapi penentu dalam setiap keluarga. Ia mengajarkan dan meneladankan nilai kehidupan bagi keluarganya. Keluarga yang memiliki perempuan mulia, dari dalamnya akan terlahir generasi baru berkualitas. Maksudnya keturunan yang menghargai berkat Tuhan, bermartabat, bermoral, unggul, pekerja keras, dan menuju masa depan gemilang. Sesungguhnya keluarga yang berkenan pada Tuhan, keturunan yang diberkati serta kehidupan bermutu tercipta karena akta hidup perempuan cakap dan bijak. Hendaklah dihayati bahwa menjadi perempuan adalah berkat, sebab melaluinya, karya selamat Tuhan dinyatakan bagi keluarga dan kehidupan di semesta ini. Semoga kehidupan perempuan tetap berlangsung dengan cakap dan bijak.
Doa: Ya Tuhan layakkanlah kami menjalani hidup dengan bermakna. Amin.
Kamis, 05 Mei 2022
bacaan : Kisah Para Rasul 16 : 13 – 18
Paulus di Filipi
13 Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ. 14 Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. 15 Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: "Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku." Ia mendesak sampai kami menerimanya. 16 Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. 17 Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: "Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan." 18 Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: "Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini." Seketika itu juga keluarlah roh itu.
Bersyukur Bersama Wadah Perempuan GPM
Hari ini, Wadah Pelayanan Perepuan GPM bersyukur atas bertambah panggilan pengutusan menjadi 54 tahun. Bersyukur bersama Wadah Pelayanan Perempuan GPM hendaklah diaktakan dengan cara memberdayakan seluruh potensi. Perempuan GPM diajak untuk terus memberdayakan potensi terutama ekonomi dan untuk maksud itu belajarlah pula dari Lidia. Lidia seorang perempuan yang ditemui Paulus di Filipi ketika sedang melangsungkan perjalanan pemberitaan injil. Ia adalah seorang perempuan dari kota Tiatira, provinsi Asia. Kisah tentang Lidia menegaskan bahwa perempuan mendapat tempat dan peran positif dalam pemberitaan injil. Pelajaran ini penting bagi perempuan GPM yang bersyukur dengan bertambah tahun pelayanan. Tempat dan peran aktif perempuan dalam pemberitaan kabar baik tentang Yesus harus terus dilakoni. Nas hari ini juga memberi inspirasi tentang tindakkan bermakna secara ekonomi. Penyebutan kota Tiatira memberi kesan kuat bahwa penulis hendak menceritakan seorang perempuan dengan latar belakang ekonomi. Tiatira adalah kota yang terkenal dengan kain ungu karena warnanya merupakan hasil celupan dari sejenis siput laut. Pemberitaan injil terbuka bagi perempuan yang berwawasan pengusaha, memiliki kerendahan hati dan bersedia percaya Yesus. Kisah Lidia menegaskan paran aktif perempuan baik sebagai pemberita injil maupun pelaku usaha di bidang ekonomi. Perempuan lain yang dikisahkan dalam teks kita adalah seseorang yang dibebaskan dari roh tenung. Kiranya hari ini dijadikan kesempatan membarui hidup, baik perasaan, pikiran, sikap maupun tindakkan. Semua yang tak berkenan pada Yesus haruslah diubah agar menjadi berkenan pada-Nya.
Doa: Ya Bapa, terimalah syukur perempuan GPM. Amin.
Jumat, 06 Mei 2022
bacaan : Amsal 6 : 6 – 11
6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. 9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? 10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" -- 11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.
Orang Malas Hidupnya Melarat
Orang malas atau pemalas menjalani hidupnya dengan tidak bertanggung jawab. Mereka biasanya sedikit bekerja atau bahkan tidak bekerja sama sekali serta suka “berlipat tangan”. Tingkat kualitas hidup orang-orang ini menurun dengan hebat, sehingga semut pun lebih unggul dari mereka. Manusia makhluk mulia kalah bermutu dari semut dan situasi demikian merupakan sebuah pengecualian hidup bahkan ironi. Semut bekerja keras secara bersama-sama, tapi ada manusia yang malas dan banyak tidur. Semut mengumpulkan makanan dan tidak kelaparan, tetapi ada manusia yang melarat karena kemalasannya. Semut memiliki persediaan makanan melimpah, tapi ada manusia yang berkekurangan bahkan miskin karena kecorobohannya. Kondisi seperti inilah yang mendasari penulis Amsal mengajukan nasihat hikmatnya. Hiduplah dengan berhikmat agar terhindar dari kemiskinan dan kemelaratan. Ia sedang berbicara tentang kemiskinan sebagai akibat dari kemalasan dan kecerobohan diri sendiri dalam pekerjaan. Peringatan ini keras dan serius, sehingga tidak boleh diabaikan. Bermohonlah agar Tuhan memberi hikmat agar hidup dijalani dengan bertanggung jawab. Orang yang bertanggung jawab menjalani hidup dengan optimis, terus belajar dari pengalaman, bekerja keras dan bersama-sama. Inilah rahasia mengalami hidup sejahtera, bekerja dengan prinsip keras, bersama-sama dan bersama Tuhan. Mari periksa hidup, jangan sampai selama ini kita berkerja, tapi tidak keras. Amatilah keberadaan kalau-kalau kita sudah bekerja keras, tapi seorang diri tanpa kebersamaan. Ujilah pula mungkin kita sudah bekerja keras dan bersama-sama, tapi belum bersama Tuhan. Hidup dianugerahkan agar dialami dalam kelimpahan bukan kemelaratan. Ingatlah bahwa orang berhikmat belajar dari pengalaman, mengoreksi diri sendiri, bekerja keras dan bersama-sama serta mengharapkan pertolongan Tuhan.
Doa: Ya Bapa kuatkan kami untuk bekerja keras agar dapat mengalami hidup yang sejahtera karena berkat-Mu. Amin.
Sabtu, 07 Mei 2022
bacaan : Amsal 10 : 4 – 5
4 Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. 5 Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu.
Tangan Yang Lamban Membuat Miskin
Sumber daya manusia perlu digerakan dalam mengembangkan ekonomi keluarga. Seorang mahasiswa dapat menarik beca untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya. Dia terdorong memberdayakan dirinya tidak saja mendapat uang untuk membayar uang kuliah saja, tetapi terpikir melihat sebuah keberhasilan ke masa depan yang menanti. Penulis Amsal menyatakan “tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan yang rajin menjadikan kaya. Landasan kuat mendorong seseorang mau mempergunakan waktu dan kesempatan. Waktu digunakan sebaik mungkin, sebab waktu adalah anugrah Allah, yang mesti dioptimalkan secara baik dengan bekerja keras. Apa yang dapat diharapkan dari kebiasaan bermalas-malasan, minum dan mabuk. Budaya serta kebiasaan anak-anak yang kurang menghargai waktu sebagai anugerah Allah, mengakibatkan mereka kehilangan masa depan. Kerja keras adalah faktor penting penentu keberhasilan, kemalasan dan kelambanan hanya akan membawa kita kepada kegagalan. Amsal 18:9 “orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara perusak. Pergilah kepada semut, perhatikan lakunya dan jadilah bijak. Sekalipun semut seekor binatang kecil, ia menyediakan roti pada musim panas dan mengumpulkan makananya pada waktu panen. Seandainya kita rajin, alam yang kaya ini dapat dikelola, menjadi sumber pendapatan atau kekayaan yang membawa keberuntungan dan kebahagian bagi hidup kita serta generasi anak cucu kita. Cipatkan kerja dan menyediakan lapangan kerja untuk membangun ketahanan ekonomi keluarga adalah hal yang penting dan menjadi perhatian kita. Setiap orang secara kreatif dapat mengubah kondisi ancaman virus Covid-19 dengan menciptakan sumber pendapatan baru. Cara yang cukup menarik dengan adakan gerakan menanam bermacam sayuran untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Berdayakan setiap lahan tidur yang ada disekitar kita. Jauhkan sikap bermalas-malasan dan belajarlah dari keberhasilan orang yang rajin agar kita termotivasi juga untuk berhasil.
Doa: Tuhan berikan kami motivasi untuk mengembangkan pontensi diri. Amin.
*SUMBER : SHK bulan Mei 2022, LPJ-GPM