Santapan Harian Keluarga, 19-25 Juni 2022

Tema Bulanan : ” Dipenuhi Roh Kudus untuk Menatalayani Ciptaan “

Tema Mingguan : ” Allah Pemilik Tanah dan Menghidupkan Manusia Dengannya “

 Minggu, 19 Juni 2022                                  

bacaan : Imamat 25 : 23 – 28

Penebusan tanah
23 "Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku. 24 Di seluruh tanah milikmu haruslah kamu memberi hak menebus tanah. 25 Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu. 26 Apabila seseorang tidak mempunyai penebus, tetapi kemudian ia mampu, sehingga didapatnya yang perlu untuk menebus miliknya itu, 27 maka ia harus memasukkan tahun-tahun sesudah penjualannya itu dalam perhitungan, dan kelebihannya haruslah dikembalikannya kepada orang yang membeli dari padanya, supaya ia boleh pulang ke tanah miliknya. 28 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk mengembalikannya kepadanya, maka yang telah dijualnya itu tetap di tangan orang yang membelinya sampai kepada tahun Yobel; dalam tahun Yobel tanah itu akan bebas, dan orang itu boleh pulang ke tanah miliknya."

Tanah Merupakan Pemberian Tuhan, Gunakan Sesuai kehendak-Nya

Fakta saat ini, tanah bukan saja menjadi tempat manusia hidup, lahan yang dapat dikelola demi pemenuhan kebutuhan hidup dan sumber kesejahteraan, tapi juga menjadi sumber sengketa yang menghancurkan hubungan keluarga, saudara, tetangga, marga, kelompok dan sebagainya. Hal ini adalah akibat dari praktek jual-beli tanah dan perebutan tanah. Masalah perebutan tanah dihadapi oleh umat Israel sampai saat ini (misalnya: Israel-Palestina). Padahal jika kita mau jujur, tanah bukan miliki siapa-siapa tapi tanah adalah milik Allah. Hal ini dijelaskan dalam perikop bacaan kita tadi, ayat 23 yang menyebutkan “ Akulah pemilik tanah itu”. Allah menyatakan diri-Nya sebagai Pemilik tanah sedangkan manusia dipercayakan untuk berdiam dan mengelola tanah bagi kehidupannya. Sejak di Kanaan, dilakukan pembagian tanah kepada suku di Israel dan sesuai jumlah keluarga secara adil (Bilangan 26:52-56; Yosua 13-21). Pembagian tanah bertujuan agar setiap keluarga didalam suku mendapatkan tanah untuk didiami. Tanah tersebut juga dapat dikelola demi pemenuhan kebutuhan hidup. Itulah sebabnya, tanah tidak boleh dijual mutlak (untuk selama-lamanya). Ada kesempatan dan peluang untuk memperolehnya kembali. Aturan ini menghindari praktek orang-orang kaya sebagai pemilik modal yang bisa mengambil tanah orang kecil yang tidak berdaya dan tidak mampu melunasi hutang. Ayat 25-28, “ Jika seseorang jatuh miskin dan menjual warisannya kepada orang lain, maka saudara terdekatnya dapat menebus tanah tersebut dan dikembalikan kepada pemiliknya. Jika seorang miskin tidak dapat menebus tanah miliknya, maka ia harus menunggu sampai tahun Yobel (tahun pembebasan). Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa Tuhan Pemilik tanah, bukan manusia. Karena itu, tanah harus dimanfaatkan dengan baik demi pemenuhan kebutuhan hidup. Hindari jual beli-tanah dan perebutan tanah yang mengakibatkan perselisihan bahkan pembunuhan.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas anugerah-Mu dalam hidup ini. Amin.

Senin, 20 Juni 2022                                   

bacaan : Yeheskiel 34 : 26 – 27

26 Aku akan menjadikan mereka dan semua yang di sekitar gunung-Ku menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat. 27 Pohon-pohon di ladang akan memberi buahnya dan tanah itu akan memberi hasilnya. Mereka akan hidup aman tenteram di tanahnya. Mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku mematahkan kayu kuk mereka dan melepaskan mereka dari tangan orang yang memperbudak mereka.

Tuhan Sumber Berkat Kehidupan

Tema utama kitab Yeheskiel pasal 34, yakni “Janji pemulihan atas Israel”. Bagian terakhir ini menandai suatu peralihan dari berita nabi Yeheskiel tentang penghakiman ke pemulihan atas Israel. Setelah Yerusalem jatuh, Yeheskiel bernubuat tentang pemulihan di masa depan, ketika Tuhan akan menjadi gembala yang sejati bagi umat-Nya dan memberi mereka “hati yang baru” dan “roh yang baru. Yeheskiel menyebutkan bahwa bangsa Israel gagal untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah karena kegagalan para gembala (penguasa, pemimpin umat) yang memimpin sebagai wakil Tuhan. Maka Tuhan sendiri yang akan memimpin bangsa Israel dan mengangkat para pemimpin sesuai kehendakNya (ayat 24). Kepemimpinan Tuhan ini membawa damai sejahtera dan berkat kehidupan. Nabi menyebutkan tentang binatang buas yang menjadi ancaman terhadap hasil panen akan dibinasakan sehingga mereka mendapatkan panen yang berlimpah-limpah. Tuhan juga akan menurunkan hujan berkat yang memberikan kehidupan  bagi bangsa Israel (ay.26). Mereka akan mempunyai cukup makanan, merasa aman dan terlindung dari para musuh. Mereka akan dibebaskan dari perbudakan dan tidak lagi akan menanggung malu (ay.27). Berkat-berkat tersebut akan menjadi tanda pemulihan hubungan Allah dengan bangsa Israel. Bangsa itu akan mengetahui bahwa Tuhan Allah menyertai mereka dan bahwa mereka adalah umat-Nya (ay.30). Kita menyadari bahwa berkat Tuhan pun senantiasa diberikan Tuhan dengan berlimpah-limpah. Udara yang masih dihirup setiap hari, hujan yang menghidupkan tanam-tanaman yang dapat dimakan, air untuk memenuhi kebutuhan hidup, sinar matahari bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup, dan sebagainya. Semua berkat itu haruslah kita terima dengan pengucapan syukur lalu bertekad untuk memanfaatkan segala berkat itu dengan baik sebagai respons kita atas kasih dan kebaikan Tuhan Sumber berkat kehidupan.

Doa: Tuhan, Engkaulah Sumber Berkat Kehidupan Kami, Amin.

Selasa, 21 Juni 2022                                          

bacaan : Ulangan 19 : 14

14 "Janganlah menggeser batas tanah sesamamu yang telah ditetapkan oleh orang-orang dahulu di dalam milik pusaka yang akan kaumiliki di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milikmu."

Menghargai Hak Milik Orang Lain

Salah seorang bapak (inisial I) sangat marah karena patok batas tanahnya sudah dipindahkan oleh tetangga sebelah rumah tanpa sepengetahuannya. Padahal bapak tersebut sudah memiliki sertifikat tanah secara resmi oleh kantor pertanahan. Ini merupakan salah satu kasus dari sekian banyak kasus tanah yang terjadi. Maraknya kasus penyerobotan tanah, penggeseran batas tanah secara licik dan tidak benar, pemalsuan sertifikat tanah dengan maksud agar memiliki tanah yang lebih luas maupun keinginan untuk memiliki tanah milik orang lain secara tidak sah, memperlihatkan bahwa tanah memiliki peran yang sangat penting  dan memiliki nilai investasi (harga jual) yang tinggi bagi manusia. Itulah sebabnya timbul banyak masalah. Hal ini bukan saja baru terjadi sekarang melainkan sudah terjadi sejak masa lampau. Dalam nas hari ini kita melihat bahwa topik mengenai tanah dituliskan secara khusus, “janganlah menggeser batas tanah sesamamu…” ini sebuah peringatan penting. Peringatan yang diberikan untuk tidak menggeser batas tanah milik seseorang dalam arti mengambil milik orang lain. Apa yang Tuhan berikan kepada manusia tentu harus dijaga. Karena itu yang sudah diberikan untuk menjadi hak seseorang sebagai warisan yang ditetapkan menjadi milik pusaka, janganlah diganggu atau diambil. Menggeser batas tanah orang lain secara hukum Israel dikenakan sanksi yang berat, yakni kutukan kepada orang-orang yang menggeser batas tanah (Ul. 27:17). Karena itu kepada kita diingatkan pula, jangan menggeser batas tanah milik sesama. Entah dengan memindahkan tanda, pohon pembatas, pagar atau patok tanah tanpa persetujuan atau sepengetahuan kedua pihak atau merebut tanah orang lain secara tidak benar. Itu perbuatan yang tidak terpuji dan melanggar hukum. Jauhkanlah diri dari sifat keserakahan. Hargailah hak milik orang lain dan jangan mengambilnya.

Doa: Tolonglah kami agar dapat menghargai hak milik orang lain ya Tuhan, Amin.

Rabu, 22 Juni 2022                                                 

bacaan : Amsal 15 : 25

25 Rumah orang congkak dirombak TUHAN, tetapi batas tanah seorang janda dijadikan-Nya tetap.

Tuhan Menentang Kesombongan dan Melindungi Hak Orang Lemah

Tayangan berita TV One beberapa waktu lalu memuat berita tentang “kisah pilu seorang janda 66 tahun yang hidup sebatang kara”. Ia menjalani hidup dalam kekurangan (miskin) di rumahnya yang sangat kecil dan tak layak untuk dihuni. Biaya hidupnya berasal dari hasil menjual rumput. Kadang ada tetangga yang berbelas kasih memberikan makanan. Nenek ini senantiasa bersyukur dan menjalani hidup dengan sabar. Namun, yang membuat hatinya terluka adalah tanah dan rumah yang ia tinggali dijual oleh keluarga suaminya dengan nilai yang sangat tinggi, setelah mereka mendapatkan surat hibah dengan cap jempol palsu. Akhirnya polisi memproses kasus tersebut dan menjebloskan pelaku ke dalam penjara lalu tanah tersebut dikembalikan kepada si janda. Ini merupakan salah satu kasus dari sekian kasus yang dialami oleh orang-orang lemah (janda). Dimana hak milik mereka (tanah) diambil dengan cara yang licik dan tidak benar. Melalui Amsal 15: 25,  Salomo menasehati orang tua dan anak-anak muda pada saat itu agar mereka menjauhkan diri dari sifat congkak (sombong/angkuh), karena kesombongan menimbulkan perbuatan jahat terhadap sesama. Dikatakan bahwa Tuhan menentang orang sombong, “rumah orang congkak di rombak Tuhan”. Kehidupan orang sombong tidak akan bahagia dan aman. Sedangkan hak hidup orang lemah (tanah milik janda) akan dilindungi oleh Tuhan sebagai Sang Pemberi berkat. Firman ini bermakna bagi kita, yaitulah jangan mengambil hak hidup orang lemah (orang miskin, janda, yatim piatu) dengan cara yang tidak benar karena Tuhan menjadi Pembela bagi mereka (Amsal 22: 22-23). Hiduplah dalam kerendahan hati, tidak sombong. Peduli dan menolong orang yang lemah dan susah. Kesombongan dan tinggi hati pada waktunya akan  membawa hidup kita menuju kejatuhan dan kehancuran. Marilah kita melindungi hak orang lemah.

Doa: Bapa, jauhkan kami dari sifat kesombongan diri dan ketidakpedulian terhadap sesama yang miskin dan lemah, Amin.

Kamis, 23 Juni 2022                                    

bacaan : Mazmur 65 : 10 – 14

9 (65-10) Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya: 10 (65-11) Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya. 11 (65-12) Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak; 12 (65-13) tanah-tanah padang gurun menitik, bukit-bukit berikatpinggangkan sorak-sorai; 13 (65-14) padang-padang rumput berpakaikan kawanan kambing domba, lembah-lembah berselimutkan gandum, semuanya bersorak-sorai dan bernyanyi-nyanyi.

Engkau Mengindahkan Tanah Itu

Secara keseluruhan Mazmur pasal 65 terbagi atas 3 bagian, yakni pertama, puji-pujian kepada Allah yang mendengar Doa (ay.1-5), kedua, pemazmur memuji Allah karena perbuatan-Nya yang   Dahsyat (ay. 6-9). Ketiga, Allah memberkati tanah dan mengaruniakan kelimpahan di ladang dan padang (ay.10-14).

Fokus bacaan kita hari ini sebagaimana digambarkan di ay. 10-14 bahwa Allah memperhatikan dan memberkati tanah. Ia mengindahkannya, seperti diindahkannya manusia. Mazmur 8:5 mengatakan:” apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”,  “membanjirinya dengan berkat, mengaruniakan “kelimpahan dan kekayaan”. Begitu besar berkat-Nya, sehingga Allah dipuji. Batang air, sudah penuh air dan mengairi, melalui hujan gandum dan tanaman lainnya tumbuh. Bukit dan padang yang tandus di musim kemarau, menghijau kembali ketika hujan turun. Kambing-domba yang berkembang biak karena tersedia rumput yang melimpah. Semua ungkapan ini mengingatkan kita, betapa besarnya berkat Tuhan dilimpahkan bagi manusia. Sebagai orang percaya, kita harus mengakui bahwa berkat bukan hanya sekedar hal-hal fisik dan materi semata. Berkat Allah harus dipahami sebagai anugerah kehidupan yang didalamnya kita bernaung dan bergumul. Salah satu berkat kehidupan yang melimpah ialah kesempatan untuk berkarya dalam juang dan gumul kita. Ladang dan ternak adalah metafor kebahagiaan, kesuksesan, sukacita yang kita alami bersama dan di dalam Tuhan. Karena itu, tetaplah bersyukur untuk setiap berkat yang kita terima dalam hidup dan manfaatkanlah itu dengan baik demi keberlanjutan kehidupan.

Doa: Kami Bersyukur Ya Allah untuk setiap Anugerah dan berkat-Mu. Amin.

Jumat, 24 Juni 2022                                        

bacaan : Mazmur 67 : 1 – 8

Nyanyian syukur karena segala berkat Allah
Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur. Nyanyian. (67-2) Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, Sela 2 (67-3) supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. 3 (67-4) Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. 4 (67-5) Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Sela 5 (67-6) Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. 6 (67-7) Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita. 7 (67-8) Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!

Kekayaan Kehidupan

Betapa kita tidak bersyukur, bertanah air kaya dan subur. Lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah”…..

Ini adalah penggalan lirik dari Nyanyian Kj. No. 337. Nyanyian ini menceritakan bahwa terkadang kita tidak bersyukur atas tanah Pemberian Tuhan Allah. Padahal tanah yang kita diami ini kaya dan penuh potensi kehidupan. Karena itu, kita harus mengelola dan merawatnya dengan baik. Kecenderungan untuk membiarkan tanah-tanah tidak digarap dan dimanfaatkan untuk kepentingan kehidupan harus kita sadari. Ayat ke 7 dari bacaan ini memberikan penegasan bahwa sesungguhnya tanah pemberian Allah akan memberikan hasilnya jika dikelola dengan baik, sebab itu merupakan wujud dari Allah mengasihi umat-Nya. Pemazmur menyuguhkan kabar sukacita itu kepada kita bahwa kemahakuasaan Allah yang memberkati tanah dengan limpahnya untuk  didiami  adalah sumber kekayaan kehidupan. Sebab itu, berilah kesempatan bagi alam ciptaan Tuhan ini menjadi ruang untuk kita menikmati kehidupan dengan tetap mensyukurinya, merawat, melestarikan dan mengelolanya dengan sebaik-baiknya. Kelestarian alam dan lingkungan adalah tanggungjawab kita. Kekayaan dan keindahan yang dimiliki bumi pertiwi ini sudah selayaknya kita rawat untuk keberlangsungan hidup anak cucu kita di masa yang akan datang. Sebab, kita yakin jika kita menjaga alam, maka alam juga akan senantiasa bersahabat dengan kita. Niscaya dengan begitu, kita dapat dijauhkan dari berbagai bencana. Mari tunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang mampu menjaga serta memelihara lingkungan sebagai wujud rasa terima kasih atas pemberian Tuhan.

Doa: Ajari kami mensyukuri berkat-Mu Tuhan dengan tetap merawat dan melestarikan Alam Ciptaan-Mu. Amin.

Sabtu, 25 Juni 2022                                           

bacaan : Ibrani 11 : 8 – 10

8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

Di Tanah Asing pun Tuhan Memberikan Kehidupan

Penulis Kitab Ibrani menekankan bahwa ketaatan iman adalah wujud dari seorang pengikut Kristus. Dalam pasal 11 : 1 dikatakan bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Tidak melihat namun percaya adalah esensi beriman kepada Yesus Kristus. Oleh sebab itu, penulis surat Ibrani meminta orang-orang percaya untuk memperhatikan anugerah iman dan hidup beriman sebagai penawar terbaik untuk melawan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ia mencontohkan beberapa tokoh perjanjian lama yang beriman dan memegang janji Allah tanpa melihat dan kepada mereka dikaruniakan kehidupan dan kesejahteraan. Salah satunya adalah Abraham. Karena ketaatan dan Iman yang sungguh kepada Allah, Abraham diberkati dengan berkat yang melimpah seperti tempat tinggal dan keturunan (ay.11). Abraham percaya tanah yang disediakan Allah kepadanya akan memberi berkat dan menjamin kehidupannya, sekalipun di tanah asing. Berkaca dari pengalaman Abraham, kita diingatkan untuk berpegang pada janji Allah sambil tetap beriman dengan sungguh kepada-Nya, bahwa berkat kehidupan telah disediakan bagi setiap orang yang menaruh pengharapan hanya kepada-Nya sekalipun ia ada di tanah asing atau tanah orang. Sebab berkat Tuhan melalui tanah dimana manusia diam dan mau berupaya untuk mengusahakan demi kesejehteraannya, itulah yang akan membuat hidupnya diberkati. Di tanah asing pun Tuhan menjamin dan memberikan berkat kehidupan.

Doa:  Ya Tuhan, karuniakanlah ketaatan iman kepada kami, bahwa di tanah asing pun Tuhan memberkati kehidupan kami . Amin.

*Sumber : SHK bulan Juni 2022, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar