Santapan Harian Keluarga, 31 Juli – 6 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu I : “Aku Berubah dan sesuai dengan kehendak Allah”

Senin, 01 Agustus 2022                             

bacaan : 2 Samuel 12 : 18 – 23

18 Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!" 19 Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab mereka: "Sudah." 20 Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 21 Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!" 22 Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. 23 Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."

Perubahan Total

Kematian merupakan realitas yang membawa kesedihan dan duka bagi setiap orang yang mengalaminya. Para pegawai  menyangka bahwa Daud akan mengalami hal tersebut ketika ia mengetahui anaknya meninggal. Respon yang diberikan Daud ternyata sebaliknya dan sangat jauh berbeda ketika anaknya sakit. Selama 7 hari Daud meratap dan berpuasa. Namun setelah anak itu meninggal, Daud tidak lagi menangis. Ia bangun dari lantai, mandi, berurap dan makan. Apakah Daud tidak berduka? Mungkinkah ia senang dengan kematian anaknya? Perubahan pada sikap Daud menunjukkan bahwa ia sementara membentuk frame (bingkai atau cara) berpikirnya secara baru tentang kematian dan tidak bisa dilepaskan dari penderitaan sakit yang sebelumnya telah di alami oleh anak tersebut. Kematian dipahami Daud bukan sebagai suatu keadaan penderitaan yang paling sulit atau sebagai puncak penderitaan. Kematian merupakan suatu keadaan baru atau kemenangan bagi anaknya dari penderitaan. Anak Daud tidak lagi hidup dalam kesakitan yang membelenggu dan membawanya pada penderitaan. Realitas kematian diresponi Daud dengan sikap mengucap syukur kepada Tuhan Allah. Ia masuk ke dalam rumah Tuhan dan menyembah-Nya. Pengucapan syukur Daud disertai dengan pengakuan imannya kepada Allah yang memiliki otoritas penuh terhadap kehidupan manusia. Daud tidak membantah kenyataan atau apa yang dilakukan oleh Allah. Ia tetap taat dan hidup mengikuti kehendak Tuhan. Perubahan cara berpikir memang seharusnya terjadi searah juga pada perubahan sikap. Kita adalah orang beriman, karena itu tidak bisa hanya mengalami perubahan pada  satu dimensi saja. Keutuhan kita sebagai manusia menuntut terjadinya perubahan secara menyeluruh. Perubahan yang menyeluruh menjadikan kita hidup sebagai umat kepunyaan Tuhan yang hidup dalam kelimpahan dan  kehendak-Nya 

Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk sungguh-sungguh mau berubah. Amin.

Selasa, 02 Agustus 2022                                  

bacaan : Lukas 5 : 27 – 32

Lewi pemungut cukai mengikut Yesus
27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Dukunglah Perubahan!

Seperti biasanya pelayanan perkunjungan itu berlangsung dari satu rumah ke rumah jemaat yang lain. Tak terkecuali, rumah bapak Agus yang berada di ujung jalan itu. Sekelompok pelayan masuk ke rumahnya dan diterima dengan tawa ringan. Selesai berdoa, salah satu ibu mulai berbicara dan menyampaikan hal-hal tentang kebutuhan pelayanan gereja. Tiba-tiba pa Agus memberi respon dengan mengatakan: “bapak  dan ibu pelayan, jika tidak berkeberatan, saya ingin mengajukan diri menjadi pengasuh SMTPI jemaat ini.” Para pelayan yang mendengar jawabannya menjadi kaget sekaligus tersenyum bahagia, karena maksud pastoral yang disampaikan oleh mereka mendapat sambutan baik dari pak Agus. Perilaku pak Agus di lingkungannya dikenal suka miras namun ramah. Ia adalah seorang yang berlatar belakang pendidikan tinggi teologi dan memiliki karakter yang baik dalam membina anak-anak. Beberapa pengasuh yang lain saat mengetahui pak Agus hendak menjadi pengasuh segera menyampaikan ketidaksetujuan mereka. Alasannya bahwa Pak Agus adalah seorang pemabuk. Pemikiran yang sifatnya sangat subjektif ini sama dengan yang dimiliki oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka begitu mudah menilai dan menghakimi seseorang. Padahal setiap orang memiliki hak untuk memutuskan jalan hidupnya, termasuk perubahan hidup yang harus dilakukan. Ketika orang Lewi memutuskan meninggalkan sesuatu dan mengikuti Yesus, maka saat itu menjadi langkah awal baginya untuk berubah dan hidup taat mengikuti kehendak Tuhan. Siapapun seharusnya dapat menerima dan memberi dukungan bagi suatu perubahan hidup yang hendak terjadi sama seperti orang Lewi. Sebab, baik atau tidaknya seseorang bukan hanya bergantung pada keinginan orang tersebut untuk berubah, melainkan juga pada diri kita yang berada di sekitarnya. 

Doa: Ajarlah kami untuk menjadi orang-orang beriman yang mendukung  terjadinya perubahan hidup orang lain. Amin.

Rabu, 03 Agustus 2022                           

bacaan : 2 Tawarikh 13 : 1 – 12

Raja Abia
Dalam tahun kedelapan belas zaman raja Yerobeam menjadi rajalah Abia atas Yehuda. 2 Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Mikhaya, anak Uriel dari Gibea. Dan ada perang antara Abia dan Yerobeam. 3 Abia memulai perang dengan pasukan pahlawan-pahlawan perang, yang jumlahnya empat ratus ribu orang pilihan, sedangkan Yerobeam mengatur barisan perangnya melawan dia dengan delapan ratus ribu orang pilihan, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. 4 Lalu Abia berdiri di atas gunung Zemaraim, yang termasuk pegunungan Efraim, dan berkata: "Dengarlah kepadaku, Yerobeam dan seluruh Israel! 5 Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? 6 Tetapi Yerobeam bin Nebat, hamba Salomo bin Daud, telah bangkit memberontak melawan tuannya. 7 Petualang-petualang, orang-orang dursila, berhimpun padanya; mereka terlalu kuat bagi Rehabeam bin Salomo, yang masih muda dan belum teguh hati, dan yang tidak dapat mempertahankan diri terhadap mereka. 8 Tentu kamu menyangka, bahwa kamu dapat mempertahankan diri terhadap kerajaan TUHAN, yang dipegang keturunan Daud, karena jumlah kamu besar dan karena pada kamu ada anak lembu emas yang dibuat Yerobeam untuk kamu menjadi allah. 9 Bukankah kamu telah menyingkirkan imam-imam TUHAN, anak-anak Harun itu, dan orang-orang Lewi, lalu mengangkat imam-imam menurut kebiasaan bangsa-bangsa negeri-negeri lain, sehingga setiap orang yang datang untuk ditahbiskan dengan seekor lembu jantan muda dan tujuh ekor domba jantan, dijadikan imam untuk sesuatu yang bukan Allah. 10 Tetapi kami ini, Tuhanlah Allah kami, dan kami tidak meninggalkan-Nya. Dan anak-anak Harunlah yang melayani TUHAN sebagai imam, sedang orang Lewi menunaikan tugasnya, 11 yakni setiap pagi dan setiap petang mereka membakar bagi TUHAN korban bakaran dan ukupan dari wangi-wangian, menyusun roti sajian di atas meja yang tahir, dan mengatur kandil emas dengan pelita-pelitanya untuk dinyalakan setiap petang, karena kamilah yang memelihara kewajiban kami terhadap TUHAN, Allah kami, tetapi kamulah yang meninggalkan-Nya. 12 Lihatlah, pada pihak kami Allah yang memimpin, sedang imam-imam-Nya siap meniup tanda serangan terhadap kamu dengan nafiri isyarat-isyarat. Hai orang Israel, jangan kamu berperang melawan TUHAN, Allah nenek moyangmu, karena kamu tidak akan beruntung!"

Lain Dulu, Lain Sekarang

Seorang pendeta dan beberapa temannya semasa SMA bercakap-cakap di suatu rumah kopi.

Pendeta :  Sudah lama kita tidak bertemu. Saya terakhir bertemu dengan anis sekitar 2 tahun lalu di Jogja, saat baru menyelesaikan studi S2

Anis       :  Iya benar. Saya juga kaget waktu itu, sebab kita tak pernah bertemu sebelumnya selama di Ambon.

Bobby    :  eh, tapi bagaimana sehingga kamu sekarang menjadi pendeta? Padahal diantara kita bertiga, kamu yang paling suka bolos sekolah dan malas masuk pelajaran agama. Apakah supaya mudah dapat pekerjaan?

Pendeta :   bukan begitu. Setelah SMA, saya menderita sakit yang lama. Saya terus bergumul mohon kesembuhan dan berjanji jika saya sembuh maka saya akan memberi hidup untuk melayani Tuhan.

Situasi hidup sang pendeta ternyata sangat mempengaruhi terjadinya perubahan. Begitu pula yang terjadi pada raja Abia, ketika ia harus berperang melawan Yerobeam. Peperangan itu telah menimbulkan kesadaran diri untuk bergantung hanya pada Allah pemberi keselamatan. Kita perlu membandingkan kisah Abia menurut Tawarikh ini dengan 1 Raja-raja 15:1-8 (bertutur tentang raja Abia atau Abiam sebagai raja yang hidup dalam dosa). Ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan Allah. Namun pada saat terjadinya perang antara dirinya dengan Yerobeam, seluruh gaya hidup yang lama itu pun berubah total. Perubahan itu tidak hanya terjadi pada dirinya sendiri, namun ia juga melakukan perubahan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan kepemimpinannya sebagai raja saat itu. Hidup orang beriman memang harus selalu mengalami perubahan. Situasi apapun yang kita alami, menjadi kesempatan membangun refleksi dalam pengenalan yang sungguh kepada Allah dan mengubah hidup seturut kehendak-Nya.

Doa: Ubahlah kami Tuhan dalam setiap jalan hidup yang  ditapaki. Amin. 

Kamis, 04 Agustus 2022                                  

bacaan : Lukas 15 : 11 – 32

Perumpamaan tentang anak yang hilang
11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Rumahku Adalah Keluargaku

Seorang anak korban pelecehan seksual meminta perlindungan dari lembaga pemerhati anak. Ia berharap bisa kembali ke keluarganya dan tetap memiliki rasa aman. Kasus pelecehan seksual yang dialami anak tersebut telah dilakukan oleh seorang anggota keluarga yang hidup. Akibatnya ia kehilangan rasa percaya pada keluarganya sendiri. Keluarga merupakan ruang penting yang tidak hanya menentukan kejelasan identitas seseorang. Namun sebagai tempat yang menjamin keberlangsungan hak-hak hidup individu di dalamnya, termasuk bertumbuh dan terbentuknya nilai-nilai spiritualitas. Keluarga dalam pengertian yang benar ditunjukkan oleh Lukas melalui cerita tentang perumpamaan anak yang hilang. Anak sulung dan bungsu memiliki keputusan yang berbeda untuk masa depan mereka. Sikap mereka terhadap keputusan itu kemudian berdampak pada diri mereka sendiri. Suatu ketika saat hidup yang dijalani mulai dirasakan sangat susah dan menderita, si bungsu pun mengambil keputusan untuk kembali kepada keluarganya. Ia menyadari telah melakukan kesalahan dengan memilih hidup mandiri dan tak mampu menjalaninya secara bertanggung jawab. Satu-satunya tempat yang dapat memahami kelemahannya dan menerimanya kembali yakni keluarganya. Si bungsu kembali kepada ayahnya dan meminta maaf dengan penuh penyesalan. Hidup si bungsu berubah dan turut mempengaruhi terjadinya perubahan hidup juga pada kakaknya. Rasa iri dan ketidaksukaan dari si sulung kepada adiknya dikoreksi oleh ayahnya dengan nasihat yang menegaskan peran dan pengaruh keluarga pada setiap anggota keluarga tanpa membeda-bedakan. Setiap anggota keluarga memang seharusnya bertanggung jawab menjaga keutuhan keluarganya. Untuk itu, setiap anggota keluarga seharusnya mengedepankan sikap mau menerima dalam berbagai keadaan supaya persekutuan keluarga dapat tetap terpelihara dengan baik.

Doa: Tuntunlah kami dengan Roh dan Hikmat-Mu untuk hidup dalam keluarga   yang saling menerima. Amin.

Jumat, 05 Agustus 2022                                     

bacaan : Yunus 2 : 1 – 10

Doa ucapan syukur Yunus
Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. 4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? 5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku. 7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!" 10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Jiwaku Lesu di “Titik Terjauh”

Nabi Yunus berkata dalam doanya “ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan…”

Perkataan Nabi Yunus ini serupa dengan sepenggal lirik lagu KJ. 237, yakni: “…jiwa yang letih lesu mendengar panggilan-Mu…”.

Kedua kalimat ini menggambarkan suatu situasi hidup yang paling melemahkan dan membawa pada ketidakberdayaan bagi seseorang. Hal ini tidak hanya menunjuk pada tubuh orang tersebut secara fisik. Kata “jiwa” dipakai oleh Yunus untuk menunjuk pada seluruh eksistensi kehidupannya sebagai manusia yang tidak mampu diatasi sendiri atau juga dengan pertolongan manusia yang lain. Ia mengakui kebersalahannya dengan mengingkari panggilan Tuhan. Yunus tidak pergi ke Niniwe sesuai perintah Tuhan, namun melarikan diri ke Tarsis. Akibatnya, Tuhan mendatangkan badai yang besar dan Yunus harus dibuang ke laut untuk menyelamatkan kapal dan para penumpang yang lain. Yunus mengingat Tuhan, ketika sudah berada dalam perut ikan. Ia berdoa dengan iman yang sungguh dan meyakini bahwa Tuhan Allah tidak jauh sekalipun Yunus berada di titik terjauh. Tuhan Allah pun pasti bisa mendengar sekalipun ia berada di dalam “dunia orang mati”, sebagai tempat yang jauh, sunyi dan tak bisa diketahui oleh siapapun. Doa Yunus ini merupakan sebuah reflkesi iman yang mendorong terjadinya perubahan hidup Yunus. Sebagai orang beriman, kita membutuhkan suatu situasi terendah dalam kehidupan yang kita jalani guna memantik kesadaran diri sebagai murid Tuhan atau saksi-Nya. Evaluasi dan transformasi hidup secara radikal pun akan terjadi akibat situasi yang paling gelap itu. Untuk itu, sebaiknya kita menyikapi kondisi hidup yang tak menyenangkan hingga yang dianggap paling menyusahkan dengan iman yang sungguh kepada Tuhan. Sebab kita pasti dapat menghitung berkat Tuhan yang tak terkira di balik seluruh peristiwa hidup.

Doa:  Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memaknai seluruh keadaan hidup dengan iman yang sungguh. Amin.  

Sabtu, 06 Agustus 2022                                   

bacaan : Daniel 4 : 28 – 37

28 Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar; 29 sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, 30 berkatalah raja: "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" 31 Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: "Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; 32 engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!" 33 Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung. 34 Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. 35 Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: "Apa yang Kaubuat?" 36 Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku. 37 Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.

Pindah Keyakinan Karena Otoritas Tuhan

Sekarang ini banyak sekali dijumpai dalam berbagai bentuk media pemberitaan tentang berpindahnya seseorang dari agama A ke agama B. Isi pemberitaan ini disampaikan dengan kisah-kisah yang menarik dan sangat memancing emosi pembaca atau penontonnya. Suatu ketika seorang bapak yang cukup fanatik dalam menjalani kehidupan beragamanya mempertanyakan kebenaran berita tersebut, katanya : apakah berpindah agama semudah seseorang hendak melakukan perjalanan dari kota A ke kota B dan ia hanya perlu membeli tiket atau membayar ongkos transportnya saja? Sikap mempertanyakan perubahan yang terjadi pada diri seseorang apalagi berkaitan dengan hal yang sifatnya prinsip yakni tentang keyakinannya memang merupakan suatu kewajaran. Hal ini pun menolong setiap orang untuk menganalisa benar tidaknya perubahan tersebut sambil memberi catatan evaluatif yang memberi makna bagi diri sendiri. Kisah perubahan hidup Raja Nebukadnezar dalam nas bacaan hari ini mungkin pula membuat kita bertanya, mengapa sang raja berubah kepercayaannya? Alangkah baiknya kita membaca keseluruhan cerita tentang Raja Nebukadnezar. Otoritas Tuhan merupakan kekuasaan yang paling tinggi dan harus diakui serta diterima oleh siapapun termasuk Raja Nebukadnezar. Itulah pesan utama dari cerita tentang perubahan hidup Raja Nebukadnezar. Ketika sang raja mengalami hal yang sama dengan mimpinya, ia sadar bahwa Tuhan berdaulat atas dirinya. Otoritas Tuhan kemudian meruntuhkan seluruh keegoisan sang raja. Ia harus mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang terbatas sekalipun memiliki kekuasaan yang luas dan posisi yang paling tinggi dari antara manusia lainnya. Sebab ketika Tuhan berkehendak, maka jadilah seperti yang dikehendaki-Nya. Hidup di dalam otoritas Tuhan merupakan cara kita yang adalah orang beriman untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya

Doa: Kami ingin hidup dalam otoritas-Mu ya Tuhan. Amin.

*SUMBER : SHK AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar