Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan“
Tema Minggu I : “Berjuang untuk Membela Kehidupan”
Minggu, 07 Agustus 2022
bacaan : Ester 4 : 1 – 17
Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. 2 Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorangpun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya. 4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, maka sangatlah risau hati sang ratu, lalu dikirimkannyalah pakaian, supaya dipakaikan kepada Mordekhai dan supaya ditanggalkan kain kabungnya dari padanya, tetapi tidak diterimanya. 5 Maka Ester memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan baginda melayani dia, lalu memberi perintah kepadanya menanyakan Mordekhai untuk mengetahui apa artinya dan apa sebabnya hal itu. 6 Lalu keluarlah Hatah mendapatkan Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 7 dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 8 Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda. 9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester. 10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja." 12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, 13 maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. 14 Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." 15 Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: 16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." 17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.
Perjuangan Yang Hebat
Hidup di negeri asing tidaklah mudah karena berbagai sebab termasuk ancaman pembunuhan. Bangsa Israel pernah mengalami hal tersebut di Persia yakni pada masa pemerintahan raja Ahasyweros. Nas hari ini mengisahkan perjuangan baik yang dilakukan oleh Mordekhai maupun Ester untuk menyelamatkan bangsa Israel dari ancaman tersebut. Hidup sebagaimana dikisahkan dalam tuturan ini adalah perjuangan berat agar bebas dari upaya pembunuhan. Perjuangan berat harus mereka tempuh sebagai harga atau akta membela hidup. Mordekhai dan Ester mempertaruhkan keselamatan mereka dalam perjuangan ini. Nyawa menjadi taruhan dan oleh sebab itu mereka ditantang untuk berani berkorban bagi orang lain. Semangat perjuangan Mordekhai dan Ester sama yakni membebaskan bangsa Israel di kota Susan dari ancaman pembunuhan karena siasat Haman, seorang pejabat tinggi raja. Mereka memiliki semangat perjuangan yang sama, namun berjuang dengan cara dan di tempat yang berbeda. Mordekahi berjuang di luar istana raja dengan cara berkabung sedangkan Ester dari dalam. Ester berjuang dengan caranya sendiri yang adalah seorang ratu. Cara dan tempat berjuang berbeda, namun menjadi satu dalam semangat yang sama dan keyakinan akan pertolongan Tuhan. Inspirasinya adalah hidup dan jabatan dipertaruhkan untuk keselamatan orang lain. Mordekahi dan Ester tidaklah menjadikan jabatan mereka sebagai tameng atau pelindung untuk luput dari ancaman pembunuhan. Inilah teladan perjuangan membela hidup orang lain sekalipun harus mempertaruhkan jabatan dan keselamatan sendiri. Tindakkan membela hidup seperti inilah yang layak dijadikan cara atau pilihan hidup kita sekarang ini.
Doa: tolonglah kami ya Tuhan agar berani berkorban. Amin.
Senin, 08 Agustus 2022
bacaan : 1 Samuel 7 : 10 – 14
10 Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. 11 Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar. 12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita." 13 Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel, 14 dan kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin. Antara orang Israel dan orang Amori ada damai.
Andalkanlah Tuhan Saat Perjuangkan Hidup
Eben-Haezer adalah nama yang diberikan Samuel kepada batu yang didirikannya antara Mizpa Yesana (ayat 12). Kata Eben-Haezer berarti “sampai di sini Tuhan menolong kita”. Akta mendirikan batu dan menamainya dilakukan Samuel sebagai cara mensyukuri kemurahan Tuhan yang menolongnya ketika berperang dengan bangsa Filistin. Ia memimpin bangsa Israel berjuang untuk merebut kota-kota yang direbut bangsa Filistin. Mereka tak sekadar merebut kota tapi berjuang mempertahankan tanah pemberian Tuhan. Tanah merupakan wujud pemenuhan janji berkat yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Karena itu status kepemilikannya harus terus dipertahankan atau diperjuangkan. Samuel bertindak cepat dan tepat sekalipun tidak mudah. Ia berusaha mengatasi ancaman kelanjutan keberadaan bangsa Israel. Tanah dan kota dapat direbut kembali sekaligus dimilikinya rasa aman untuk menjalani keberadaan setiap harinya. Kisah kepemimpinan Samuel ini menegaskan bahwa selama kehidupan berlangsung, ancaman selalu dijumpai. Kita diminta untuk menjadi semakin kritis dan cerdas untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Tak ada hidup dan perjuangan yang mudah. Oleh sebab itu berharaplah pada pertolongan Tuhan. Setiap perjuangan untuk membela hidup pasti dikehendaki dan diberkati Tuhan. Mari belajar pula akan spiritualitas Samuel. Ia memulai perjuangan dengan membakar korban bakaran. Hal ini berarti Samuel mengandalkan Tuhan. Selain itu ia juga meneladankan sikap mensyukuri kemurahan Tuhan. Ia berjuang dengan mengandalkan Tuhan dan tetap memuliakn-Nya saat mengalami kemenangan. Andalkanlah Tuhan dan terus berjuang membela hidup. Tuhan menolong kita.
Doa: Ya Tuhan berkatilah perjuangan hidup kami. Amin.
Selasa, 09 Agustus 2022
bacaan : 1 Samuel 12 : 1 – 5
Samuel minta diri dari bangsa itu Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: "Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu. 2 Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini. 3 Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu." 4 Jawab mereka: "Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun." 5 Lalu berkatalah ia kepada mereka: "TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nyapun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku." Jawab mereka: "Dia menjadi saksi."
Menjaga Hidup Tetap “Bersih”
Nas hari adalah sebagian ucapan yang disampaikan Samuel pada saat ia hendak berpisah dengan bangsa Israel. Ia berpisah karena telah selesai melakukan tugasnya sebagai pemimpin umat Allah. Tanggung jawab kepemimpinannya dilakukan dari sejak masih muda sampai dengan terpilihnya Saul menjadi raja Israel. Terpilihnya Saul sebagai raja merupakan tonggak atau babak baru berlangsungnya kepemimpinan. Fakta sejarah inilah yang mendasari ucapan perpisahan Samuel. Ucapan perpisahan ini sesungguhnya merupakan refleksi diri seorang hamba Tuhan yang “bersih” selama menunaikan panggilan pengutusan yang berat itu. Samuel telah dilayakkan Tuhan memimpin perjuangan bangsa Israel untuk membela hidup mereka dengan cara-cara yang berhikmat. Samuel bukanlah pemimpin yang “kotor” dan oleh sebab itu ia berani meminta Tuhan serta bangsa Israel menjadi saksi atas tanggung jawab yang telah diselesaikannya. Ia tidak pernah memeras dan memperlakukan bangsa Israel dengan kekerasan atau mengambil apa yang bukan miliknya, demikian pun dengan sogok. Ia merupakan tokoh dan pemimpin ideal yang bukan saja sukses menjalani kepemimpinan, tetapi juga menjaga hidup tetap “bersih”. Samuel terbukti hingga di batas pengabdiannya taat berjuang dengan integritas diri yang luar biasa.Teladan iman ini kiranya kita jadikan sebagai pilihan sikap dan cara hidup kristiani. Ada banyak hal yang telah, sedang dan akan terus kita perjuangkan. Masa depan gemilang bagi keturunan kita, karier, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, perkerjaan, jabatan, pencarian atau usaha apa pun. Teruslah berjuang sambil menjaga hidup tetap “bersih”. Hindari melakukan kejahatan dan dosa selama hidup ini kita perjuangkan.
Doa: Bapa layakkanlah kami terus upayakan hidup bermutu. Amin.
Rabu, 10 Agustus 2022
bacaan : 2 Tawarikh 19 : 4 – 11
Yosafat mengangkat hakim-hakim
4 Yosafat diam di Yerusalem. Ia mengadakan kunjungan pula ke daerah-daerah, dari Bersyeba sampai ke pegunungan Efraim, sambil menyuruh rakyat berbalik kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. 5 Ia mengangkat juga hakim-hakim di seluruh negeri, yakni di semua kota yang berkubu di Yehuda, di tiap-tiap kota. 6 Berpesanlah ia kepada hakim-hakim itu: "Pertimbangkanlah apa yang kamu buat, karena bukanlah untuk manusia kamu memutuskan hukum, melainkan untuk TUHAN, yang ada beserta kamu, bila kamu memutuskan hukum. 7 Sebab itu, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak ataupun menerima suap tidak ada pada TUHAN, Allah kita." 8 Juga di Yerusalem Yosafat mengangkat beberapa orang dari antara orang Lewi, dari antara para imam dan dari antara para kepala puak Israel untuk memberi keputusan dalam hal hukum TUHAN dan dalam hal perselisihan. Mereka berkedudukan di Yerusalem. 9 Ia memerintahkan mereka: "Kamu harus bertindak dengan takut akan TUHAN, dengan setia dan dengan tulus hati, demikian: 10 Dalam setiap perkara, yang disampaikan kepada kamu oleh rekan-rekanmu yang tinggal di kota-kota, yakni perkara-perkara mengenai penumpahan darah atau mengenai hukum, perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan hendaklah kamu memperingatkan mereka, supaya mereka jangan bersalah terhadap TUHAN, sehingga murka-Nya menimpa kamu dan rekan-rekanmu. Hendaklah kamu berbuat demikian, dan kamu tidak akan bersalah. 11 Dengan ini imam kepala Amarya diangkat sebagai ketuamu dalam segala perkara ketuhanan dan Zebaja bin Ismael, pemuka kaum Yehuda, dalam segala perkara kerajaan, sedang orang Lewi akan melayani kamu sebagai pengatur. Bertindaklah dengan tegas! Kiranya TUHAN menyertai orang yang tulus ikhlas."
Pemimpin dan Sang Pembaru Kehidupan
Yosafat yang namanya berarti “Tuhan menghakimi”, memperjuangkan kehidupan umat Israel agar berkenan pada Allah. Perjuangan itu dilakukannya dengan pertama-tama mengunjungi daerah-daerah yang berada di luar Yerusalem. Pengenalan potensi dan persoalan di wilayah-wilayah pemerintahan menentukan keberhasilan. Ia memerankan figur seorang pemimpin yang tidak tinggal duduk dan mendengar saja, tapi mendatangi serta melihat juga mengalami sendiri kenyataan di daerah kekuasaannya. Kedua, ia menyuruh rakyat berbalik kepada tuhan, Allah nenek moyang mereka. Seruan pertobatan disampaikan agar hidup beriman umat diselamatkan dari pengaruh kepercayaan asing. Ketiga, sang reformator Israel ini membuat pembaruan dalam sistem peradilaan, baik umum maupun keagamaan. Ia menempatkan hakim-hakim yang saleh di seluruh negeri dan mendirikan semacam peradilan tinggi di Yerusalem (ayat 8 – 11). Sistem peradilan Israel didasarkan pada perintah Allah, agar semua orang diperlakukan sama, tanpa memperhitungkan kedudukan mereka dalam masyarakat. Oleh sebab itu kepada hakim-hakim ini, Yosafat berpesan supaya mereka takut Tuhan, bertindak benar, tegas dan ikhlas. Selain itu tak boleh berlaku curang atau memihak serta tidak menerima suap. Mereka haruslah memastikan bahwa seluruh umat Tuhan mengalami rasa keadilan. Kita pun terpanggil untuk terus berjuang membela hidup agar pertobatan dialami oleh mereka yang melakukan kesalahan dan keadilan dapat dialami baik dalam lingkup keluarga, gereja maupun masyarakat bangsa dan Negara. Hindarilah hidup dengan cara “memandang muka” atau pilih kasih, sebab Tuhan itu baik kepada semua orang.
Doa: Tuhan, layakkanlah kami menjadi pembaru kehidupan. Amin.
Kamis, 11 Agustus 2022
bacaan : 2 Tawarikh 20 : 1 – 15
Kemenangan atas Moab dan Amon Akhir pemerintahan Yosafat Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. 2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. 3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. 4 Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. 5 Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru 6 dan berkata: "Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau. 7 Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? 8 Lalu mereka mendiami tanah itu, dan mendirikan bagi-Mu tempat kudus untuk nama-Mu. Kata mereka: 9 Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami. 10 Sekarang, lihatlah, bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir ini! Ketika orang Israel datang dari tanah Mesir, Engkau melarang mereka memasuki negerinya. Oleh sebab itu mereka menjauhinya dan tidak memusnahkannya. 11 Lihatlah, sebagai pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang telah Engkau wariskan kepada kami. 12 Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu." 13 Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka. 14 Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, 15 dan berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.
Takut..? No…!
“Jangan kamu takut, Aku adalah. Itu Tuhan janji, biar ingatlah…Bahkan tiada pernah.” Dua Sahabat Lama nomor 173 ini ingin berpesan kepada kita untuk selalu ingat pada janji Tuhan. Ia selalu bersama kita, tidak akan pernah meninggalkan. Oleh sebab itu, sekalipun ada banyak tantangan dan cobaan menghadang, tetaplah percaya pada-Nya dan jangan takut. Hari ini, kita belajar dari kisah Yosafat raja Yehuda beserta rakyatnya. Moab dan Amon adalah dua bangsa besar yang maju berperang melawan mereka. Kekuatan dua bangsa ini benar-benar menjadi ancaman bagi Yosafat dan rakyatnya sehingga membuat Yosafat takut. Yosafat bukanlah tipa pemimpin yang melarikan diri sekalipun sedang dilanda ketakutan. Kesadarannya sebagai pemimpin tidaklah sirnah. Ia harus bertindak melakukan sesuatu demi membela dan memperjuangkan kehidupan rakyatnya. Tindakkan membela kehidupan dilakukannya dengan mencari Tuhan, mengajak seluruh rakyatnya untuk berpuasa dan bersama rakyatnya berdoa dengan iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan sampai akhirnya Tuhan menjawab doa mereka. Dalam jawaban-Nya, Tuhan berpesan agar Yosafat tidak takut karena Tuhan-lah yang akan berperang menggantikannya.
Selagi kita masih di dunia ini, ada saja masalah menghampiri kita. Jangan takut, belajarlah dari Yosafat. Carilah Tuhan dan serahkan segala masalahmu kepada-Nya di dalam doa. Jangan andalkan kekuatan diri atau mencari pertolongan pada kekuatan lain di luar Tuhan, karena semua itu hanya sementara dan sia-sia adanya. Ajaklah keluarga dan handai taulan untuk menopangmu dalam doa. Ibarat tungku, semakin banyak kayu semakin besar nyala apinya dan masakanpun akan cepat matang. Nantikanlah jawaban-Nya dengan sabar. Ingat janji Tuhan, jangan Takut..!!!.
Doa: Kiranya kami tetap meyakini janji-Mu, ya Tuhan. Amin.
Jumat, 12 Agustus 2022
bacaan : 2 Raja-Raja 5 : 8 – 16
8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel." 9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. 10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir." 11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: "Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! 12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?" Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. 13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir." 14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. 15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!"
Tuhan Menghendaki Kerendahan Hati dan Ketaatan
Naaman, bukan saja orang penting dan terpandang karena kedudukkannya sebagai panglima raja Aram, tetapi juga karena dia merupakan orang yang mendapat tempat khusus di hati raja. Ia juga mendapat perkenaan Tuhan sehingga sering membawa kemenangan bagi Aram dalam perang. Sayangnya dia menderita penyakit kusta, yang pada waktu itu belum ada penawarnya. Kisah penyembuhannya melibatkan banyak orang, mulai dari pelayan sampai pemimpin negara.
Hampir saja tujuan Naaman ke Israel gagal total, karena dia menganggap bahwa dengan kuasa dan uang, kesembuhan dapat diperoleh. Dia sangsi dan merasa terusik dengan cara yang disampaikan Elisa melalui orang suruhannya. Dia berharap Elisa akan melakukan ritual yang spektakuler untuk kesembuhannya. Untung saja pegawai-pegawainya meyakinkan Namaan untuk ikut saja saran Elisa. Akhirnya Naaman pun sembuh.
Ketaatan Namaan melakukan kehendak Tuhan lewat hamba-Nya, Elisa, serta kerendahan hatinya untuk mendengarkan saran pelayan dan pegawainyalah yang membuatnya sembuh. Maka Naaman pun mengungkapkan pengakuan tulusnya: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel”
Dari kisah Naaman kita belajar beberapa hal:
- Hargailah pendapat orang lain, sekalipun itu seorang anak kecil, karena Tuhan dapat memakai mereka sebagai alat untuk memberitahukan kehendak-Nya.
- Ada banyak hal baik yang hendak Tuhan nyatakan dalam kehidupan, namun kita sendirilah yang terkadang membuat susah sebab lebih yakin pada kekuatan dan pikiran sendiri.
- Jangan lupa mengagungkan Tuhan dan bersyukur atas setiap kebaikan-Nya bagi kita.
Doa: Tuhan, sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah seperti Engkau, karena itu aku mau tetap taat kepada-Mu. Amin.
Sabtu, 13 Agustus 2022
bacaan : Amos 5 : 7 – 13
Melawan perkosaan keadilan
7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! 8 Dia yang telah membuat bintang kartika dan bintang belantik, yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam; Dia yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi--TUHAN itulah nama-Nya. 9 Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kuat, sehingga kebinasaan datang atas tempat yang berkubu. 10 Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas. 11 Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, --sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. 12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. 13 Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat.
Jadilah Duta Keadilan
Brandon, berceritera kepada saya tentang tetangganya Jodi, yang rumahnya persis bersebelahan dengan dia. Ia juga bercerita tentang Jona yang masih punya hubungan keluarga dengannya dan rumah mereka berjarak kurang lebih 200 meter. Suatu hari terjadi masalah antara mereka berdua hingga sampai ke tingkat pengadilan. Jodi berharap Brandon akan berpihak kepadanya karena mereka tetangga dekat. Sementara Jona berharap Brandon akan memihak dirinya karena selain tetanggaan, mereka masih punya hubungan keluarga. Kalaupun tidak berpihak setidaknya netral. Brandon agak bingung juga. Kebingungannya itu diatasi dengan membaca renungan tentang Amos 5:7-13 yang mengisyaratkan untuk berpihak kepada yang benar.
Saudaraku, banyak orang yang berpikir bahwa berlaku netral adalah sama dengan berlaku adil. Padahal berlaku adil adalah berpihak kepada yang benar. Kisah Brandon dan nas hari ini menegaskan beberapa pesan yang dapat kita jadikan pelajaran:
- Jangan mengubah keadilan menjadi ipuh (=racun) dan menghempaskan kebenaran ke tanah. Artinya bahwa keadilan dan kebenaran itu harus dihargai, dijunjung tinggi dan dilakukan.
- Kita wajib menegur mereka yang melakukan ketidakadilan, sekalipun karenanya dibenci.
- Jangan menindas yang lemah, dan membuat orang miskin semakin miskin.
- Jangan membeli keadilan atau memberi suap agar mendapat keadilan.
- Bagi yang diberi kedudukan sebagai “petinggi”, entah itu di masyarakat atau dalam kehidupan bergereja, jangan pergunakan kedudukan atau jabatan untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan mereka yang miskin.
- Jadilah Duta Keadilan di masyarakat dan dalam kehidupan bergereja. Tuhan memberkati kita untuk melakukan tugas ini.
Doa: Tuhan, mampukan kami untuk menjadi duta-duta Keadilan-Mu.. Amin.
*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2022, LPJ-GPM