Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu II : “Hidup sebagai Hamba Allah”

Minggu, 14 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Petrus 2 : 11 – 17

Peringatan untuk hidup sebagai hamba Allah
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Jadilah Perantau dan Pendatang Yang Dapat Diteladani

Bersyukurlah sebab kita dapat mengalami kemurahan Tuhan di hari perhentian yang kudus. Hari ini kita belajar dari surat Petrus yang berisi nasihat bagi perantau dan pendatang. Pendatang artinya orang yang datang ke suatu daerah atau negeri serta negara dan menetap sebagai orang asing di situ. Sementara rantau berarti daerah atau negeri di luar daerah/negeri sendiri atau negeri asing. Saat itu umat Israel memang banyak yang sementara hidup sebagai pendatang dan perantau di berbagai daerah. Namun jika bicara tentang perantau dan pendatang maka bukan hanya perantau dan pendatang secara harafiah, tetapi sesungguhnya semua kita adalah pendatang dan perantau di dunia ini. Petrus memberi nasihat kepada kita sebagai perantau dan pendatang agar berhati-hati dan waspada. Kita harus memperlihatkan cara hidup yang baik sehingga bisa menjadi teladan bagi orang lain terutama bagi mereka yang belum percaya kepada Yesus atau dalam konteks bacaan kita bangsa-bangsa bukan Yahudi sehingga mereka juga memuliakan Allah. Teladan itu antara lain:

  • Menjauhkan diri dari hawa nafsu kedagingan.
  • Hormati pemerintah dan mereka yang dipercayakan untuk memimpin kita.
  • Kita sudah dimerdekakan dari belenggu penjajahan bangsa asing tetapi juga belenggu dosa karena itu hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi merdeka yang bertanggung jawab, bukan yang kebablasan. Artinya bahwa kita harus mengisi hidup ini dengan hal-hal berguna bukan bebas melakukan apa saja yang kita mau tetapi tidak sepadan dengan kehendak Allah.
  • Hormati dan kasihilah sesama. Jadilah teladan bagi orang lain.

Doa:   Tuhan, tolong kami untuk hidup sebagai orang yang dapat diteladani. Amin.

Senin, 15 Agustus 2022                            

bacaan : 1 Korintus 7 : 17 – 24

Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah
17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat. 18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. 19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. 20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah. 21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu. 22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. 23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia. 24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

Hiduplah Sebagai Hamba Allah

Hari pertama di minggu ini telah kita jalani dengan selamat sambil diajak untuk hidup sebagai hamba Allah.. Apa artinya itu? Mari simak dulu cerita Sonia sebagai pengantar sekaligus pembanding. Sonia, adalah seorang ibu muda yang penampilan sehari-harinya “aduhai”. Saat dia diminta untuk menjadi pengurus unit, penampilannya  berubah. Pakaiannya tidak lagi “kekurangan kain”, makeup-nya sudah tidak menor dan dia mulai suka menyapa orang. Pertanyaannya: Apakah penampilan fisik seseorang dapat menjamin bahwa orang tersebut sudah hidup sebagai hamba Allah?  Belum tentu!! Penampilan fisik terkadang bisa menipu. Karena itu Paulus memberi ketegasan kepada jemaat Korintus dan kita bahwa memenuhi panggilan Allah dan menjadi hamba-Nya bukanlah persoalan lahiriah seperti sunat atau tidak (18), hamba atau orang merdeka (21), bukan juga soal penampilan. Seseorang menjadi hamba Allah karena ia telah dibeli dengan harga mahal oleh Allah, yaitu darah dan nyawa anakNya, Yesus Kristus (23). Seseorang menjadi hamba Allah adalah karena dia telah ditebus oleh Allah dari kuasa dosa dan maut. Karena itu menjadi hamba Allah berarti hidup menurut ketetapan, peraturan, petunjuk dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya. Paulus menekankan bahwa yang penting adalah perubahan hidup dimana seorang hamba Allah harus memperlihatkan kehidupan yang taat dan setia kepada Allah, bukan sekadar penampilan fisik. Hidup dalam panggilan sebagai Hamba Allah dapat dilakukan dengan keberadaan kita apa adanya. Penampilan sederhana namun dengan hati yang lemah lembut, rendah hati dan tidak sombong. Itulah yang dikehendaki Allah dari kita. Hiduplah sebagai hamba Allah dan lakukanlah kehendak-Nya.

Doa: Tuhan ampuni kami yang menyebut diri sebagai hamba-Mu namun tidak melakukan kewajiban kami sebagai seorang Hamba Allah.. Amin.

Selasa, 16 Agustus 2022                                   

bacaan : Daniel 3 :  24 – 27

24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" 25 Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!" 26 Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. 27 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.

Ketaatan di Tengah Ancaman

Semakin dibabat, semakin merambat. Istilah tersebut agaknya tidak terlalu berlebihan jika disematkan kepada orang Kristen. Fakta sejarah membuktikan bahwa orang Kristen dari awal kemunculannya sampai saat ini tidak lepas dari penganiayaan. Namun, semakin orang Kristen mengalami penganiayaan justru mengalami peningkatan yang sangat drastis. Penganiayaan justru membuat orang Kristen semakin kuat dan bertumbuh. Hal ini dikarenakan Tuhan melindungi dan menyelamatkan orang-orang yang percaya dan berharap kepada-Nya. Kisah penganiayaan yang dialami oleh mereka yang percaya (beriman) kepada Tuhan pun diperlihatkan oleh para tokoh Alkitab, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam kitab Daniel 3:24-27. Jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak permintaan raja Nebudkadnezar untuk menyembah patung yang didirikannya itu, mengakibatkan ketiga teman Daniel tersebut dilemparkan ke perapian yang panas luar biasa, sehingga membakar habis tentara yang melempar ketiga orang tersebut. Sedangkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego selamat.  Mereka selamat karena dilindungi dan dijaga oleh Tuhan (Ayat 17). Melihat bahwa mereka tidak terluka di dalam api besar, maka raja memanggil Sadrakh, Mesakh dan Abednego keluar dari perapian dan menghadap kepadanya. Dia menyebut mereka “Hamba-hamba Allah yang Maha Tinggi” (ayat 26). Istilah ini digunakan untuk memuji Allah yang mereka sembah adalah Allah yang kuat dan perkasa. Perikop ini memberi makna bagi kita saat ini, bahwa perapian (kobaran api) melambangkan berbagai masalah dan penderitaan yang sedang dialami oleh orang Kristen karena beriman kepada Tuhan Yesus. Kita difitnah, diberlakukan dengan tidak adil (misalnya: larangan mendirikan gereja yang dialami oleh GKI Yasmin, HKBP Bekasi, sehingga mereka beribadah di depan istana Negara). Tetaplah yakin bahwa dalam berbagai persoalan Tuhan yang kita percaya adalah Pembebas dan Penyelamat kita. Janganlah ragu teruslah mengandalkan Dia.

Doa: Tuhan, tolonglah supaya kami tidak binasa, Amin.

Rabu, 17 Agustus 2022                                    

bacaan : Yesaya 49 : 8 – 13

Sion dipulihkan
8 Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, 9 untuk mengatakan kepada orang-orang yang terkurung: Keluarlah! kepada orang-orang yang ada di dalam gelap: Tampillah! Di sepanjang jalan mereka seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput, dan di segala bukit gundulpun tersedia rumput bagi mereka. 10 Mereka tidak menjadi lapar atau haus; angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air. 11 Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan. 12 Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim." 13 Bersorak-sorailah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas.

Dimerdekakan Untuk Memerdekakan

Hari ini genaplah usia ke-77 tahun (1945-2022) Negara Indonesia yang kita cintai. Kita mensyukurinya sebagai kemurahan Tuhan Sang Pemilik Negara ini. GPM melalui LPJ menetapkan Tema HUT RI: “Mensyukuri Kebaikan Tuhan yang Membebaskan”. Tema ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang diperoleh Negara ini hanya karena kebaikan Tuhan semata. Pesan lain tema ini adalah kehidupan di Negara yang merdeka haruslah berlangsung dalam kepastian bahwa hak-hak hidup orang banyak menjadi terjamin. Hak untuk berpendapat, menerima pelayanan kesehatan yang memadai, pendidikan berkualitas, perlindungan hukum, pekerjaan, kehidupan yang layak dan sejahtera, dll. Sayangnya, di usia bangsa yang ke-77 tahun ini masih kedapatan praktek ketidakadilan, suap, korupsi, penyalagunaan kuasa, bahkan kenaikan harga-harga barang yang memberatkan kehidupan masyarakat. Karena itu, mari kita berefleksi berdasarkan Yesaya 49: 8-13. Bagian ini termasuk kitab Yesaya yang kedua (Deutero Yesaya), mengisahkan tentang kehidupan bangsa Israel di Babel sebagai tawanan. Mereka hidup tidak bebas, tertekan dan sangat menderita.  Nabi Yesaya berpesan bahwa Tuhan akan menjawab, menolong dan membebaskan bangsa Israel dari pembuangan Babel  dengan membawa mereka pulang kembali ke Yerusalem, tanah pusaka mereka (ayat 8), memberikan kebebasan dan menyedikan makanan bagi kebutuhan mereka (ayat 9), sehingga mereka tidak akan mati kelaparan melainkan berkelebihan supaya mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (ayat 10-12). Waktunya pasti tiba dan mereka akan memuji-muji Tuhan sebagai Penyelamat dan Pembebas mereka yang kekal (ayat.13).  Kemerdekaan diberikan Tuhan supaya kita menjadi orang-orang merdeka yang dapat memerdekakan orang lain dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, eksploitasi alam, dan sebagainya.

Doa: Tuhan, lindungilah segenap bangsa Indonesia, Amin.

Kamis, 18 Agustus 2022                           

bacaan : 2 Timotius 2 : 23 – 26

23 Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, 24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar 25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, 26 dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Perkuat Karakter Kristiani, Jadilah Teladan!

Perikop ini merupakan nasihat Paulus kepada Timotius. Ia   sedang berhadapan dengan para pengajar sesat yang suka bersilat lidah dan mengacaukan pelayanannya (ayat 14). Paulus menasihati Timotius agar berusaha menjadi pekerja Kristus (Hamba Tuhan) yang memiliki teladan Kristus dalam pelayanan. Bila hal tersebut dilakukan, maka para pengajar itu tidak menemukan celah untuk menjatuhkan Timotius dan mencemarkan Injil kebenaran (ayat 15). Timotius harus menunjukkan sifat-sifat yang tepat dalam hidup agar sesuai dengan peranannya sebagai pemimpin Kristen. Sifat-sifat itu adalah menghindari persoalan yang di cari-cari, bodoh dan tidak layak, karena semua itu mengarah kepada pertengkaran (ayat 23). Paulus menegaskan, adalah lebih baik menghindari pertengkaran dari pada berusaha untuk masuk dan terjun dalam arena tersebut. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapapun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut (ayat 24). Selain itu, Paulus juga mengingatkan Timotius untuk menjadikan para musuh sebagai sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus. Bagaimana caranya? Ia harus memiliki kecakapan mengajar untuk menuntun seseorang yang suka melawan agar sadar dari jalan yang salah; meninggalkan cara hidup yang jahat serta lepas dari kuasa iblis yang selama ini telah menawan mereka dan memaksa mereka mengikuti kehendaknya (ayat 25- 26). Timotius harus memberikan kesempatan setiap orang untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman. Makna bagi kita saat ini, adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain. Waktu hidup kita begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sebaiknya diisi dengan hal-hal yang baik dan berguna bagi Tuhan dan sesama, Dengan demikian kita akan menolong orang lain menyadari kesalahannya dan mengalami pertobatan.

Doa: Tuhan, pakailah kami sebagai alat keselamatan-Mu., Amin.

Jumat, 19 Agustus 2022                                

bacaan : Roma 6 : 15 – 23

Dua macam perhambaan
15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! 16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? 17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. 18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. 19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. 20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. 21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. 22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. 23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Jadilah Hamba-Hamba Kebenaran

Tema mingguan yang ditetapkan oleh Lembaga Pembinaan Jemaat (LPJ) GPM adalah “Hidup Sebagai Hamba Allah”. Dasarnya adalah Roma 6: 15-23, secara khusus ayat 18. Maksudnya merdeka dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.  Menjadi hamba kebenaran itu tidaklah muda sebab kita harus berjuang melawan dosa. Setiap orang yang mau menjadi hamba kebenaran harus memerdekakan diri dari kuasa dosa. Orang yang merdeka  di dalam Kristus, wajib mematikan segala keinginan dan hawa nafsu dunia. Pertanyaannya apakah yang harus kita lakukan agar dapat hidup sebagai hamba kebenaran? Pertama, sebagai manusia yang memiliki kelemahan, kemungkinan jatuh ke dalam dosa masih ada. Terlebih Iblis memiliki banyak cara untuk merebut kita (banding 1 Petrus 5:8) melalui orang-orang terdekat yang hidupnya belum berpusat pada Tuhan, lingkungan sekitar di mana kita bergaul, bahkan mereka yang kelihatan baik padahal penuh dengan kemunafikan, kelemahan diri, semua dapat dijadikan alat oleh iblis untuk menjerat kita (1 Korintus 15: 33; 2 Korintus 11: 14). Sebab itu, waspadalah dan jangan pernah memberi kesempatan kepada Iblis. Kedua, Hiduplah dipimpin oleh Roh. Roh Kudus yang ada dalam kita bagaikan sebuah alarm yang akan bekerja mengingatkan dan menyadarkan kita dari dosa (Yohanes 16:8). Orang yang hidup dalam roh memiliki kekuatan untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging; perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. Sebaliknya sebagai hamba kebenaran maka hidup kita menghadirkan buah-buah Roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, jangan gila hormat (Gal.5:19-26). Menurut Paulus hidup adalah pilihan; memilih hidup di dalam dosa mendatangkan penghakiman Allah (kematian) atau memilih hidup dalam kebenaran membawa kita kepada kehidupan yang kekal (ayat 21-23).

Doa: Tuhan, jadikanlah kami hamba-hamba kebenaran. Amin.

Sabtu, 20 Agustus 2022                                     

bacaan : Galatia 1 : 6 – 10

Hanya satu Injil
6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, 7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. 10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Berpegang Teguh Pada Injil Kristus

Surat Galatia merupakan salah satu surat yang ditulis oleh rasul Paulus untuk menjawab situasi yang mengancam saat itu. Situasi yang mengancam itu adalah serangan terhadap kerasulan Paulus dan Injil Kristus. Khusus nas bacaan kita tadi, berbicara tentang serangan terhadap Injil yang diberitakan Paulus. Bagi Paulus, Keselamatan merupakan karunia yang diberikan berdasarkan kemurahan, sepenuhnya bergantung pada iman kepada Yesus Kristus bukan tergantung pada sunat dan hukum taurat. Sedangkan, bagi orang-orang Yahudi keselamatan tergantung melaksanakan taurat Musa dan tradisi sunat. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi bersikeras memaksakan orang-orang Kristen non Yahudi untuk melaksanakan hukum taurat dan sunat supaya mereka diselamatkan. Menghadapi situasi tersebut, Paulus dengan tegas memperingatkan orang-orang Yahudi yang telah menerima Yesus Kristus supaya mereka berpegang pada injil yang diberitakan oleh Paulus dan jangan terpengaruh kepada injil-injil palsu yang diberitakan oleh lawan-lawan Paulus. Sebab injil yang mereka beritakan bertentangan dengan Injil Kristus (ayat 6-7). Hidup di bawah hukum taurat merupakan perhambaan sedangkan hidup dengan iman merupakan kebebasan. Orang Kristen tidak diikat dengan hukum taurat karena Kristus telah membebaskan melalui kematian-Nya. Karena itu, apabila ada orang yang menyesatkan kamu dengan injil yang berbeda dari Injil Kristus, maka terkutuklah dia (ayat 8-9). Selanjutnya, Paulus mempertegas dirinya sebagai hamba Allah dengan menyatakan bahwa apa yang dia lakukan bukan untuk menyenangkan hati manusia melainkan untuk menyengkankan hati Allah. Ia bukan mencari nama melalui kerasulannya melaiankan untuk melayani Allah yang telah memanggil dan mengutusnya. Makna bagi kita, berpeganglah pada injil Kristus dengan melakukan kehendak-Nya supaya kita memperoleh hidup yang kekal.

Doa: Kiranya kami teguh berpegang pada injil Kristus. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar