Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu III : “Tetap Setia melakukan Usaha Pembebasan”

Minggu, 21 Agustus 2022                               

bacaan : Yeremia 34 : 8 – 22

Janji kepada budak-budak Ibrani tidak ditepati
8 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan, 9 supaya setiap orang melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya. 10 Maka semua pemuka dan segenap rakyat yang ikut serta dalam perjanjian itu menyetujui, bahwa setiap orang akan melepaskan budaknya laki-laki dan budaknya perempuan sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada lagi yang memperbudak mereka. Orang-orang itu menyetujuinya, lalu melepaskan mereka. 11 Tetapi sesudah itu mereka berbalik pikiran, lalu mengambil kembali budak-budak lelaki dan perempuan yang telah mereka lepaskan sebagai orang merdeka itu dan menundukkan mereka menjadi budak laki-laki dan budak perempuan lagi. 12 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: 13 "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku sendiri telah mengikat perjanjian dengan nenek moyangmu pada waktu Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, isinya: 14 Pada akhir tujuh tahun haruslah kamu masing-masing melepaskan saudaranya bangsa Ibrani yang sudah menjual dirinya kepadamu; ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, kemudian haruslah engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka. Tetapi nenek moyangmu tidak mendengarkan Aku dan tidak memperhatikan Aku. 15 Hari ini kamu telah bertobat dan melakukan apa yang benar di mata-Ku karena setiap orang memaklumkan pembebasan kepada saudaranya, dan kamu telah mengikat perjanjian di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan. 16 Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku; kamu masing-masing telah mengambil kembali budaknya laki-laki dan budaknya perempuan, yang telah kamu lepaskan sebagai orang merdeka menurut keinginannya, dan telah menundukkan mereka, supaya mereka menjadi budakmu laki-laki dan budakmu perempuan lagi. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. 18 Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya; 19 pemuka-pemuka Yehuda, pemuka-pemuka Yerusalem, pegawai-pegawai istana, imam-imam dan segenap rakyat negeri yang telah berjalan di antara belahan-belahan anak lembu jantan itu, 20 mereka akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka, sehingga mayat mereka menjadi makanan burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi. 21 Juga Zedekia, raja Yehuda, beserta para pemukanya akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka dan ke dalam tangan tentara raja Babel yang sekarang telah berangkat dari pada kamu. 22 Sesungguhnya, demikianlah firman TUHAN, Aku memberi perintah dan membawa mereka kembali ke kota ini untuk memeranginya, merebutnya dan menghanguskannya dengan api. Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi ketandusan tanpa penduduk."

Selaraskan Perkataan dan Perbuatan

Janji tinggal janji, parlente jalan tarus, ungkapan ini berarti mengingkari janji atau perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Perbuatan mengingkari janji inilah yang dilakukan oleh para pejabat, pemimpin umat dan masyarakat yang ada di Yerusalem. Mereka mengumumkan pembebasan kepada budak laki-laki dan perempuan dan membebaskan mereka sebagai orang-orang merdeka sesuai dengan perintah Tuhan Allah (peraturan tahun sabat dalam Kel.21:1-6: Ul.15:1-11) bahkan perjanjian tersebut diikat dengan sumpah dihadapan Tuhan Allah (ayat 8-15). Namun, karena kedegilan hati,  mereka menarik kembali perkataan atau membatalkan perjanjian pembebasan budak. Budak yang telah dibebaskan diperbudak lagi (ayat 16). Akibat dari tindakan yang tidak taat dan setia  itu, maka Tuhan Allah mendatangkan murka-Nya atas mereka (ayat 17). Murka Tuhan meliputi; kematian, penyakit sampar (penyakit menular), kelaparan, hancurnya kota Yerusalem, umat di bawa ke pembuangan (ayat 17-22). Gambaran malapetaka yang dasyat adalah akibat ketidaktaatan bangsa Israel akan janji mereka kepada Tuhan. Kisah ini menyuguhkan makna untuk dijadikan sebagai pedoman iman.  Jika kita berjanji di hadapan Tuhan dan manusia, hendaknya ditepati (jangan berbohong). Misalnya: sebagai pemimpin setia melaksanakan sumpah jabatan, berjanji kepada istri atau suami untuk tetap setia, berjanji untuk melayani keluarga dengan baik (jangan mengkhianati), berjanji melaksanakan tugas pelayanan gereja dengan setia, lakukanlah dengan taat. Karena jika kita tidak memenuhi janji tersebut, maka kita  akan mendapatkan penghukuman Allah. Ingatlah perkataan Mahatma Gandhi: “Selaraskan kata dan tindakan”

Doa: Tuhan, kiranya kata dan tindakan kami selaras. Amin.

Senin, 22 Agustus 2022                                 

bacaan : Imamat 25 : 8 – 13

8 Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. 9 Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. 10 Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. 11 Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. 12 Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. 13 Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.

Kita, Mahkluk Yang Merdeka

Waktu 24 jam yang tersedia, terasa kurang bagi kita. Bekerja dengan tak hentinya untuk mengejar segala keberhasilan. Mengeksplorasi dan mengeksploitasi segalanya tanpa melihat dan memperhatikan keseimbangan diri sendiri maupun sesama ciptaan. Kita terus mengusahakan segala sesuatunya tanpa mempertimbangkan keberadaan, kekuatan diri sendiri serta kelangsungan hidup semua ciptaan di semesta ini. Kita, dengan berbagai upaya berusaha keras, dan secepat mungkin serta modal yang sedikit-dikitnya, berharap memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Kita dengan penuh kesadaran, terus mengikat diri dan mengikuti pola kehidupan yang tak seimbang serta mengembangkan prinsip ekonomi tidak berkeadilan yang dibangun oleh masyarakat umum. Hal itu membuat kita menjadi hamba, bahkan budak, yang tidak bebas merdeka.

Padahal Allah telah mengajarkan kepada kita, bahwa ada batasan dari segala sesuatu yang harus dijalani dan dikerjakan. Allah memberikan tuntunan, agar kita menjadi manusia yang bebas merdeka bagi diri sendiri dan sesama ciptaan. Allah menghendaki agar kita dapat berlaku adil bagi diri sendiri dan sesama ciptaan-Nya. Seperti Allah, yang beristirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya, waktu melakukan penciptaan, maka Dia pun mengajarkan kepada kita untuk juga melakukannya. Tahun Yobel bukan merupakan waktunya Allah datang untuk membebaskan manusia, melainkan masa yang Dia berikan kepada tiap orang guna membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat.  Aturan tentang tahun Yobel dibuat dengan maksud mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bagi diri sendiri juga sesama ciptaan. Tujuannya adalah agar kita dan sesama ciptaan, dapat memberikan kesempatan kepada diri untuk mengarahkan hati kepada Allah guna menghormati, memuji dan bersyukur kepada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, terima kasih untuk anugerah-Mu di tahun Yobel ini. Amin.

Selasa, 23 Agustus 2022                              

bacaan : Keluaran 21 : 1 – 11

Tentang hak budak Ibrani
"Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka. 2 Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa. 3 Jika ia datang seorang diri saja, maka keluarpun ia seorang diri; jika ia mempunyai isteri, maka isterinya itu diizinkan keluar bersama-sama dengan dia. 4 Jika tuannya memberikan kepadanya seorang isteri dan perempuan itu melahirkan anak-anak lelaki atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar seorang diri. 5 Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka, 6 maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup. 7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar. 8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu. 9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan. 10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia. 11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa."

Landasan Hak Asasi Manusia & Prinsip Kemanusiaan Dalam Perbudakan

Alkitab begitu serius memperlakukan hamba secara manusiawi. Perlakuan tersebut bukan untuk menyatakan setuju dengan perbudakan, tetapi untuk mengajarkan prinsip-prinsip yang lebih manusiawi, serta arah perbaikan sistem yang dilakukan, dapat melihat bahwa Allah memandang penting kebebasan orang. Kebebasan adalah dasar dari semua hak asasi manusia, untuk memastikan bahwa setiap orang berhak untuk mengejar kesetaraan dan kebahagiaan. Allah menebus dan menyelamatkan Israel menjadi dasar dari semua ketentuan hukum Allah dan perbudakan jelas melanggar prinsip kesetaraan dan hak asasi manusia. Nas hari ini mengkritisi bagaimana hidup sebagai umat Allah dalam budaya yang menerima perbudakan sebagai kelaziman. Prinsip kemanusiaan yang berbelas kasih diterapkan dalam kasus perbudakan ini.

Menjual diri sebagai budak dalam kehidupan bangsa Ibrani kuno adalah cara bertahan hidup agar mendapat makanan dan perlindungan dari tuannya. Tuannya bisa memperkerjakan budak hanya enam tahun dan tahun ketujuh (tahun Sabat), budak tersebut akan menjadi orang bebas. Tuhan menuntut kepatutan dan belas kasih dalam hidup bangsa Israel dan itu menjadi pelajaran penting bagi kita dalam hidup bersama dengan orang lain. Namun, di zaman modern ini kita sering kali mendapati perbudakan terjadi di mana-mana. “Orang kuat” mengeksploitasi pihak yang lemah, baik secara ekonomi maupun politik. Banyak orang miskin diculasi dan dijebak sebagai buruh murah di negeri lain dalam industri prostitusi. Bahkan sikap memperbudak masih terlihat dari cara seseorang mempekerjakan dan membayar gaji orang yang bekerja padanya. Sikap-sikap tidak manusiawi ini tidak boleh dilakukan. Tuhan Allah menghendaki kita untuk menghargai sesama tanpa memandang latar belakang hidup mereka.

Doa: Ya Tuhan, terangilah hati kami agar menghargai sesama secara manusiawi tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Amin.

Rabu, 24 Agustus 2022                                

bacaan : Yeremia 39 : 11 – 14

Perintah Nebukadnezar untuk melindungi Yeremia
11 Mengenai Yeremia, Nebukadnezar, raja Babel, telah memberi perintah dengan perantaraan Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, bunyinya: 12 "Bawalah dan perhatikanlah dia, janganlah apa-apakan dia, melainkan haruslah kaulakukan kepadanya sesuai dengan permintaannya kepadamu!" 13 Maka Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, beserta Nebusyazban, kepala istana, dan Nergal-Sarezer, panglima, dan semua perwira tinggi raja Babel, mengutus orang-- 14 mereka menyuruh mengambil Yeremia dari pelataran penjagaan, lalu menyerahkannya kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan untuk membebaskannya, supaya pulang ke rumah. Demikianlah Yeremia tinggal di tengah-tengah rakyat.

Ketaatan Mendatangkan Pemeliharaan Tuhan

Taktik pengepungan dan pemutusan, lazim dipakai dalam peperangan yang berlangsung di daerah Timur Dekat Kuno. Pasukan perang mengepung kota lawan, selanjutnya dilangsungkan taktik memotong pasokan makanan dan air, sambil berusaha membobol tembok. Mereka menanti sampai penduduk kota yang terkepung itu kelaparan, lemah, dan mudah dikalahkan. Cara seperti inilah yang dilakukan oleh tentara Babel saat mengepung kota Yerusalem sampai akhirnya mereka berhasil membobol tembok dan merebut kota. Kisah ini mencatat bahwa setelah Yerusalem direbut, nasib raja Zedekia dan nabi Yeremia,  berkaitan dengan sikap mereka terhadap firman Tuhan. Raja Zedekia yang melarikan diri ke padang gurun mengalami nasib yang benar-benar mengerikan. Dia ditangkap, dibawa kepada raja Nebukadnezar, dipaksa menyaksikan anak-anaknya dihukum mati, dibutakan matanya, lalu dibelenggu dan dibuang ke negeri Babel. Tidak ada berita lagi tentang raja Zedekia, tetapi mungkin ia bertobat di pembuangan, sehingga ia ditangisi rakyat saat meninggal. Nabi Yeremia diperlakukan berbeda dengan orang-orang Yehuda yang lain. Raja Nebukadnezar memerintahkan agar nabi Yeremia dibebaskan dari penjara dan diberi kebebasan untuk tetap tinggal di negeri itu. Berbeda dengan nasib banyak orang di Yehuda, nabi Yeremia tidak mengalami kekerasan.

Kisah kehancuran kota Yerusalem mengajarkan kita tentang adanya berkat karena ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan serta hukuman karena menolak untuk mendengarkan firman Tuhan. Nabi Yeremia mewakili orang yang taat sekaligus teladan  memercayai Tuhan. Sedangkan raja Zedekia mewakili orang yang tidak mau melakukan firman Tuhan.

Kadang-kadang, Alkitab mengingatkan kita tentang sesuatu yang telah diketahui tetapi kemudian dilupakan atau tidak dilakukan. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita sanggup melakukan firman Tuhan!

Doa: Tuhan, bentuklah hati kami agar selalu taat kepada-Mu. Amin.

Kamis, 25 Agustus 2022                          

bacaan : Yeremia 39 : 15 – 18

Janji kepada Ebed-Melekh bahwa ia akan dilepaskan
15 Selagi Yeremia masih terkurung di pelataran penjagaan, firman TUHAN datang kepadanya, bunyinya: 16 "Pergilah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, firman-Ku terhadap kota ini akan Kulaksanakan untuk kemalangan dan bukan untuk kebaikannya, dan semuanya itu akan terjadi di depan matamu pada waktu itu juga. 17 Pada waktu itu juga, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melepaskan engkau, dan engkau tidak akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang kautakuti, 18 tetapi dengan pasti Aku akan meluputkan engkau: engkau tidak akan rebah oleh pedang; nyawamu akan menjadi jarahan bagimu, sebab engkau percaya kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN."

Perbuatan Baik Yang Dilakukan, Pasti Akan Kembali Dengan Sendirinya

Kisah tentang Ebed-Melekh mulai disaksikan di pasal 38:1-13. Ia berkebangsaan Etiopia, seorang sida-sida yang tinggal di istana raja Zedekia. Hari ini kita akan melihat buah dari perbuatan baiknya kepada Yeremia. Pada masa pemerintahan raja Zedekia itu, Yeremia dipenjarakan karena perkataannya yang dianggap sesat oleh para pemuka agama yang menentang ajarannya. Saat mendengar kabar tersebut, Ebed-Melekh, seorang pembantu raja menghadap raja untuk kemudian membebaskan Yeremia. Ia, dengan kebaikan hatinya, menolong dan mengeluarkan Yeremia dari dalam sumur. Kebaikan hati Ebed-Melekh tak langsung mendapatkan balasannya. Cerita seolah berhenti sampai di situ. Namun, saat kota itu akan dihancurkan, Tuhan berfirman bahwa Ebed-Melekh pasti akan luput dan diselamatkan. Ia diselamatkan bukan hanya karena perbuatan baiknya, melainkan karena apa yang mendorongnya untuk berbuat baik, yaitu iman dan kepercayaannya kepada Tuhan semesta alam. Setiap kebaikan yang kita lakukan dengan penuh ketulusan tak hanya membekas di hati si penerima, tetapi juga akan menarik perhatian Tuhan. Setialah dalam melakukan kebaikan kecil; Dia yang memperhitungkannya akan melimpahkan berkat yang lebih besar.

Janganlah takut untuk memberi kepada yang membutuhkan. Jangan takut untuk menolong dan membebaskan orang yang sedang dalam kesusahan. Lakukanlah semua itu tanpa membeda-bedakan siapa yang kita bantu. Tak perlu membuat kebaikan besar yang menghebohkan, cukup kebaikan-kebaikan kecil yang ditabur kepada mereka yang berada di sekitar kita. Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan yang telah kita alami. Kita tidak berbuat baik untuk memperoleh keselamatan. Yakinlah bahwa semua perbuatan baik pasti diberkati Tuhan dan buahnya akan kita alami pula.

Doa:  Mampukanlah kami untuk melakukan yang terbaik bagi kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan. Amin.

Jumat, 26 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 14 : 40 – 46

40 Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: "Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain." Lalu jawab rakyat kepada Saul: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik." 41 Lalu berkatalah Saul: "Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim." Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput. 42 Kata Saul: "Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan." Lalu didapati Yonatan. 43 Kata Saul kepada Yonatan: "Beritahukanlah kepadaku apa yang telah kauperbuat." Lalu Yonatan memberitahukan kepadanya, katanya: "Memang, aku telah merasai sedikit madu dengan ujung tongkat yang ada di tanganku. Aku bersedia untuk mati." 44 Kata Saul: "Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu. Sesungguhnya, Yonatan, engkau harus mati." 45 Tetapi rakyat berkata kepada Saul: "Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan yang besar ini di Israel? Jauhlah yang demikian! Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini." Demikianlah rakyat membebaskan Yonatan, sehingga ia tidak harus mati. 46 Maka pulanglah Saul setelah mengejar orang Filistin, dan orang Filistin itupun kembali ke tempat kediamannya.

Bersikaplah Bijak Sehingga Tidak Mengorbankan Orang Lain

Ketika kesombongan menguasai hati dan pikiran kita, keputusan yang diambil pada akhirnya membuahkan suatu yang tidak bijak. Keangkuhan dapat menjerumuskan kita, menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan banyak orang. Nas hari ini menyaksikan bahwa Saul sedang menghadapi situasi yang terdesak. Ia kemudian menyuruh bangsa Israel untuk mengambil sumpah yang berisi kutukan dan konsekuensinya  orang Israel tidak boleh makan apa pun. Perang menjadi semakin sulit karena Saul menambahkan beban yang tidak perlu bagi orang Israel. Akibatnya mereka menjadi letih lesu. Saul telah mencelakakan rakyatnya sendiri, seperti yang diutarakan Yonatan, anaknya. Akibat yang lebih besar adalah orang Israel pada akhirnya berbuat dosa dalam memakan hasil rampasan. Allah juga tidak menjawab doa Saul. Kemudian, Saul mencari tahu penyebab dari semua ini. Akhirnya, ia menemukan bahwa Yonatan telah merasai sedikit madu. Kematian adalah konsekuensi yang harus ditanggung semua pelanggar ketentuan, sekalipun itu anak sendiri. Namun, Yonatan dapat bebas dari hukuman mati karena permohonan orang-orang Israel kepada Saul. Kesombongan yang ada pada Saul menyebabkannya melakukan hal yang bukan kehendak Allah. Saul hanya berfokus pada dirinya sendiri, ia tidak menghiraukan Allah. Kesombongan ini menempatkannya pada posisi seolah dia lebih besar daripada Allah. Itulah awal kehancurannya. Keputusan yang diambil berikutnya memberikan dampak negatif yang meluas. Ketika kesombongan melingkupi hati dan pikiran, kita dapat jatuh untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Saul. Kesombongan lain mengatakan: diriku tidak bersalah, yang salah adalah orang lain. Kesombongan memisahkan relasi manusia. Hidup tidak sombong adalah buah Roh Kudus yang bekerja karena orang percaya memprioritaskan kehendak Allah bekerja dalam dirinya.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk mengatasi kesombongan. Amin.

Sabtu, 27 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 30 : 11 – 20

11 Kemudian mereka menemui seorang Mesir di padang lalu membawanya kepada Daud. Mereka memberi dia roti, lalu makanlah ia, kemudian mereka memberi dia minum air, 12 dan memberikan kepadanya sepotong kue ara dan dua buah kue kismis, dan setelah dimakannya, ia segar kembali, sebab ia tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam. 13 Kemudian bertanyalah Daud kepadanya: "Budak siapakah engkau dan dari manakah engkau?" Jawabnya: "Aku ini seorang pemuda Mesir, budak kepunyaan seorang Amalek. Tuanku meninggalkan aku, karena tiga hari yang lalu aku jatuh sakit. 14 Kami telah menyerbu Tanah Negeb orang Kreti dan daerah Yehuda dan Tanah Negeb Kaleb, dan Ziklag telah kami bakar habis." 15 Daud bertanya kepadanya: "Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?" Katanya: "Bersumpahlah kepadaku demi Allah, bahwa engkau tidak akan membunuh aku, dan tidak akan menyerahkan aku ke dalam tangan tuanku itu, maka aku akan menunjuk jalan kepadamu ke gerombolan itu." 16 Ia menunjuk jalan kepada Daud ke sana, dan tampaklah orang-orang itu berpencar-pencar di atas seluruh daerah itu, sambil makan, minum dan mengadakan perayaan karena jarahan yang besar, yang telah dirampas mereka dari tanah orang Filistin dan dari tanah Yehuda. 17 Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorangpun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. 18 Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. 19 Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. 20 Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: "Inilah jarahan Daud."

Mengandalkan Tuhan Ada Pemulihan dan Pembebasan

Tindakan pembebasan yang Allah karyakan terkadang tidak dapat terselami oleh akal manusia yang terbatas. Karya pembebasan itu berada di luar jangkaun akal manusia. Daud pernah mengalami pengalaman demikian. Batinnya terguncang hebat, akibat peristiwa besar yang terjadi di ziklag. Tekanan batinnya bertambah karena rakyat beranggapan bahwa Daudlah yang bertanggung jawab atas seluruh petaka yang sedang mereka alami. Daud tidak putus asa apalagi kecewa terhadap Tuhan.  Kepercayaannya tetap teguh, ia mengandalkan TUHAN sepenuhnya. Catatan reflektif bagi kita ialah bahwa ; sesungguhnya peristiwa ziklag memiliki urutan seperti ini : kehilangan segala sesuatu (ay. 1 – 5), penolakan (ay. 6), kemenangan (ay. 17 – 18), pemulihan (ay. 19). Dari peristiwa siklag mengingatkan kita bahwa mengimani ALLAH itu bukan berarti seluruh perjalanan hidup ini akan mulus dan aman-aman saja, sebaliknya ada waktu Ketika TUHAN mengizinkan ketidaknyamanan kita di porak-porandakan. Ada waktu saat kita ditolak, dipersalahkan dan disudutkan oleh orang- orang di sekitar kita.

Dari Daud kita belajar untuk tetap menguatkan kepercayaan kepada Tuhan dan tetap bergantung kepada-Nya. Ingat bahwa   kekecewaan tidak akan menyelesaikan masalah. Kepercayaan yang sungguh kepada Tuhan, menyanggupkan kita memperoleh jalan keluar, mengalami pemulihan, pembebasan dan akan tampil sebagai pemenang.

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar senantiasa bergantung dan menaruh percaya hanya kepada Dikau, sehingga kami bisa melihat jalan-jalan-Mu untuk pemulihan persoalan-persoalan hidup ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULN AGUSTUS 2022, LJP – GPM

Tinggalkan komentar