Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu III : ” Bertekun dalam doa karena meyakini janji Tuhan.

Minggu, 18 September 2022                    

bacaan : 1 Tawarikh 17 : 16 – 27

Doa syukur Daud
16 Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? 17 Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Allah; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya TUHAN Allah. 18 Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud kepada-Mu dalam hal Engkau memuliakan hamba-Mu ini? Bukankah Engkau yang mengenal hamba-Mu ini? 19 Ya TUHAN, oleh karena hamba-Mu ini dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukan segala perkara yang besar itu. 20 Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. 21 Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dari Mesir? 22 Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. 23 Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. 24 Maka nama-Mu akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam, Allah Israel adalah Allah bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu. 25 Sebab Engkau, ya Allahku, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. 26 Oleh sebab itu, ya TUHAN, Engkaulah Allah dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. 27 Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya."

Serahkanlah Segala Rencana dan Hidupmu Kepada Tuhan

Umumnya kita lebih condong berdoa jika mengalami masalah dalam hidup ini. Hal itu pertanda ketika belum mengalami masalah kita tidak mengandalkan Tuhan. Berbeda dengan raja Daud yang berencana untuk membangun Bait Allah dan menyerahkannya dalam doa kepada Tuhan. Daud sangat meyakini bahwa apapun yang ia rencanakan dan lakukan harus diletakkan dalam campur tangan dan kekuatan Tuhan. Alasannya, manusia memiliki keterbatasan tapi Tuhan tidak terbatas dalam hal apapun. Karena itu, Daud berdoa kepada Tuhan. Ia berdoa dengan kerendahan hatinya dan karena itu nyatalah bahwa sebagai seorang raja, Daud tidak menyombongkan dirinya di hadapan Tuhan. Daud juga mengucap syukur kepada Tuhan sebab keluarganya dipercayai (ayat 17-19). Selain itu, Daud meninggikan dan mengagungkan Tuhan Allah. Hal ini terungkap dalam isi doa Daud yang mengatakan bahwa tidak ada Allah lain seperti Engkau yang kami sembah. Dia-lah Allah yang membebaskan umat-Nya dengan perbuatan-perbuatan  besar dan dahsyat. Tuhan-lah penyelamat dan pembebas yang menyelamatkan umat-Nya dari Mesir (ay. 20-22). Akhirnya Daud menyadari bahwa segala tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja, pemimpin, dan pelayan tidak terlepas dari dukungan keluarga. Karena itu dalam segala kelemahan, kekurangan, dan dengan kerendahan hati Daud berdoa memohon Tuhan memberkati keluarganya. Sikap beriman seperti ini layak diteladani. Keberhasilan seseorang tidak semata terletak pada dukungan dan topangan doa keluarga. Sebaliknya, keluarga perlu pula didoakan. Kiranya menjadi nyata bahwa kita adalah keluarga yang didoakan dan mendoakan satu akan yang lainnya.

Doa: Kiranya rencana dan hidup kami berkenan pada-Mu. Amin.

Senin, 19 September 2022                         

bacaan : Yeremia 29 : 10 – 14

10 Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. 11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. 12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; 13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu. --

Cari, Temui, dan berserulah Kepada Tuhan

Kebebasan, biasanya dirindukan oleh orang-orang yang berada dalam kesesakan atau penderitaan. Penderitaan mengakibatkan orang merindukan hidup seperti sedia kala atau menjalani keberadaan dalam suasana bebas. Namun, sering kali karena keterbatasan, kita menjadi tak berdaya menemukan jalan keluar. Kadangkala kondisi ini membuat kita kecewa dan putus asa, sehingga ingin melakukan hal-hal di luar batas kewajaran. Lewat teks  Yeremia 29:10-14, kita dipertemukan dengan nubuatan tentang jalan keluar yang dialamatkan bagi umat Israel saat mengalami pembuangan di Babel. Jalan keluar tersebut adalah berdoa menyerahkan segala kerinduan untuk mengalami hidup yang baik. Umat diminta agar berserah dan menyerahkan hidup diatur oleh Tuhan. Manusia memang punya rencana, namun terbatas karena itu harus berserah pada Tuhan. Rencana dan rancangan Tuhan untuk hidup ini jauh lebih baik, sempurna dan sejahtera. Atas dasar itu, sebagai umat Tuhan, taatlah berseru dan berdoa kepada Tuhan, sebab Ia pasti mendengarkan kita (ay. 12). Sekali lagi, bersungguh-sungguhlah mencari dan menemukan Tuhan lewat doa (ay. 13), karena Ia memberikan diri-Nya untuk kita temui. Bawalah seluruh gumulan hidup yang menekan pada-Nya. Berseru dan bermohonlah agar Ia menuntun engkau keluar dari deritamu. Dia-lah Tuhan pembebas yang maha mendengar dan melepaskan umat-Nya dari keluh kesah hidup ini. Ia berkuasa membebaskan dan menganugerahkan kelegaan. Tuhan pernah berjanji kepada umat-Nya Israel dan Ia menepatinya. Yakinlah akan janji kelepasan Tuhan, berdoalah senantiasa dan jalanilah hidup dengan lega.

Doa: Ya Tuhan, inilah kami yang datang kepadaMu sambil berseru dan berdoa. Dengar dan jawablah doa kami. Amin.

Selasa, 20 september 2022                    

bacaan : 1 Raja-raja 8 : 22 – 30    

Doa Salomo
22 Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, 23 lalu berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; 24 Engkau yang tetap berpegang pada janji-Mu terhadap hamba-Mu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kaufirmankan dengan mulut-Mu, seperti yang terjadi pada hari ini. 25 Maka sekarang, ya TUHAN, Allah Israel, peliharalah apa yang Kaujanjikan kepada hamba-Mu Daud, ayahku, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus di hadapan-Ku dan tetap akan duduk di atas takhta kerajaan Israel, asal anak-anakmu tetap hidup di hadapan-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku. 26 Maka sekarang, ya Allah Israel, biarlah kiranya menjadi nyata keteguhan janji yang telah Kauucapkan kepada hamba-Mu Daud, ayahku. 27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. 28 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini! 29 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. 30 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.

                          Berdoa dan Meyakini Janji Tuhan 

Keberhasilan seringkali membuat kita menjadi orang-orang yang lupa diri. Kita menganggap bahwa pencapaian yang didapati semata-mata karena cara berpikir atau kerja keras diri sendiri. Anggapan seperti ini dapat membuat kita menjadi sombong dan angkuh bahkan melupakan Tuhan. Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki sifat seperti itu. Misalnya saja raja Salomo, sebagaimana dikisahkan dalam perikop bacaan kita hari ini. Keberhasilan dimaksud tentu saja berkaitan dengan telah diselesaikannya rumah Allah oleh Salomo sesuai janji Tuhan kepada Daud (ay. 19). keberhasilan tidak membuat Salomo merasa hebat melainkan meyakini bahwa sukses yang diraihnya semata-mata penggenapan janji Tuhan. Isi doa yang Salomo naikkan dengan sungguh di hadapan Tuhan, mengandung pengakuan atas kedaulatan Allah serta keyakinan pada janji-Nya. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini…..(ay. 28), menunjukan kepribadian Salomo yang juga percaya dan bergantung pada ketetapan serta kehendak Allah. Ia yakin bahwa Allah yang sama jugalah yang akan menjawab doa dan permohonannya. Sebagaimana Salomo yang meyakini janji Allah dalam ungkapan doanya, kita pun diajarkan demikian. Karena hanya Allah satu-satunya tempat kita berseru dan memohon. Menjumpai Allah di dalam doa sudah seharusnya menjadi gaya hidup kita sebagai orang percaya. Berdoa adalah bukti iman dan pengakuan serta kebergantungan kita kepada-Nya. Percayalah kepada Tuhan dan hiduplah benar di hadapan-Nya. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah tidak pernah mengingkari janji. Oleh sebab itu Yakinlah pada Allah, nyatakan permohonan kita di dalam doa dengan sungguh sambil tetap percaya bahwa Ia akan senantiasa menjawab.

Doa:  Ya Tuhan, ajarilah kami agar terus berdoa sambil meyakini janji-Mu. Amin.

Rabu, 21 September 2022                                       

bacaan : Roma 12 : 12

12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Bertekunlah Dalam Doa

Doa adalah nafas hidup orang percaya, merupakan kalimat yang sudah sangat sering kita dengar. Kalimat ini menegaskan bahwa doa mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjalani kehidupan. Sebab dengan berdoa secara langsung memperlihatkan kepercayaan bahkan kebergantungan kita kepada Allah. Oleh karena itu salah satu pokok teologi yang penting dari nasihat rasul Paulus untuk hidup dalam kasih, adalah bertekunlah dalam doa. Kita tidak dapat menghindari berbagai dinamika  dalam menjalani kehidupan. Terkadang kita berada pada situasi kebahagiaan, tetapi dapat pula mengalami hal atau peristiwa yang mengecewakan. Realita seperti ini dapat saja membuat kita cenderung hidup di luar kasih karena iman menjadi terguncang. Ungkapan Bertekunlah dalam doa, menegaskan nilai ketaatan dan kesetiaan serta keterbukaan di hadapan Allah. Manusia pada hakikatnya tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Oleh sebab itu, kita membutuhkan campur tangan dan kuasa Allah. Kuasa dan campur tangan Allah yang menolong hanya dapat dialami melalui akta berdoa yang dilakukan dengan tekun. Tekun berdoa merupakan pilihan sikap dan cara beriman untuk memperoleh kekuatan ilahi menghadapi dan mengatasi apapun situsi hidup. Teruslah bersukacita karena Allah akan selalu memberikan harapan baru  bagi kita dan tetaplah tabah meskipun berbagai kesulitan hidup, kesesakan serta cobaan datang silih berganti. Jadikan doa sebagai kebutuhan kita untuk terus membangun relasi dengan Allah dan harapan dalam menjalani hubungan yang penuh kasih dengan sesama. Teruslah mendoakan pribadi masing-masing, sesama manusia dan dunia ini agar kehidupan yang penuh kedamaian kita alami. Percayalah pada Allah, dengan kasih-Nya yang begitu besar Ia akan mendengar dan menyahuti pinta doa kita.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami agar tekun berdoa kepada-Mu sebagai bukti    iman dan percaya kami. Amin.

Kamis, 22 September 2022                           

bacaan : Bilangan 11 : 1 – 3

Api TUHAN
Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu. 3 Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.

Jangan Mengeluh, Berdoalah!

Hidup yang bahagia menjadi harapan atau dambaan setiap insan manusia. Namun ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan atau dambaan itu, muncullah berbagai reaksi dengan corak yang berbeda. Ada yang menanggapi dengan bersyukur dan lapang dada, tetapi lainnya bersungut-sungut sambil menyalahkan diri sendiri atau orang lain bahkan Tuhan. Tanggapan bersungut-sungut dan menyalahkan inilah yang dilakukan bangsa Israel sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini. Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel bersungut-sungut di hadapan Tuhan karena kenyataan yang mereka alami. Mereka beranggapan bahwa kehidupan yang dialami dan dijalani saat itu jauh berbeda dengan saat berada di tanah Mesir. Tentu saja hal ini berkaitan dengan kebutuhan jasmani yakni makan dan minum. Meskipun tidak sama seperti di Mesir, tetapi Allah tidak pernah membiarkan bangsa itu kelaparan. Persungutan mereka berakibat pada dialaminya murka Allah. Api Tuhan menyala di sekitar perkemahan. Kenyataan tersebut membuat bangsa Israel berteriak kepada Musa agar ia  menjadi perantara untuk memohon pengampunan dan pembebasan Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak sungguh-sungguh meyakini dan memercayai Tuhan Allah yang membawa mereka keluar dari tanah perbudakan  (Mesir). Tindakan Musa untuk berdoa kepada Allah, sudah sepatutnya diteladani oleh kita sebagai orang percaya. Benar adanya, dalam setiap proses kehidupan ini kita akan menemukan berbagai macam tantangan dan persoalan. Akan tetapi haruslah tetap yakin bahwa di balik penderitaan, ada maksud Tuhan yang baik bagi hidup kita. Oleh karenanya hindarilah sikap atau perilaku yang bersungut-sungut dan saling menyalahkan serta hiduplah dalam ungkapan syukur yang tulus kepada Allah.  Percayalah, dalam doa yang penuh iman, ada kuasa Allah. 

Doa:  Tuhan Yesus, ajarilah kami mensyukuri setiap rencana Tuhan serta percaya pada kuasa-Mu.  Amin.

Jumat, 23 September 2022                                

bacaan : Matius 7 : 7 – 11

Hal yang kudus dan berharga Hal pengabulan doa
7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji

Setiap orang memiliki pergumulan hidup yang berbeda-beda. Pergumulan dihadapi baik sebagai pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Mungkin saja dapat berkaitan dengan beberapa aspek seperti iman, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial dan lain sebagainya. Terkait hal itu, pernahkah kita merasa bahwa doa dan gumulan kita seolah-olah tidak didengar dan dijawab oleh Tuhan? Bagian bacaan kita hari ini merupakan pengajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus berkaitan dengan hal pengabulan doa. Mintalah…carilah…ketoklah…(ay. 7), kata-kata ini bersifat imperatif (perintah) dan ditujukan kepada setiap orang untuk membangun relasi dengan Allah. Hal ini penting diperhatikan karena berdoa sama halnya dengan percaya dan mengakui kuasa Allah. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan (ay. 8), mengandung janji dan dialamatkan bagi setiap kita yang dengan sungguh serta tulus berdoa kepada Allah. Orang percaya diminta untuk tetap meyakini janji dan kuasa Allah. Berusahalah untuk tidak meragukan-Nya. Dia yang mengucapkan janji itu adalah Allah yang baik dan berkuasa mengabulkan permohonan kita. Ketika perasaan kita digoncang dengan kebimbangan, keraguan, kecemasan karena dibebani dengan berbagai persoalan hidup, janganlah berputus asa dan hilang harapan. Teruslah berdoa dan berusaha sambil tetap berharap kepada-Nya, karena Allah itu hanya sejauh doa. Mungkin saja tidak terlalu cepat Ia mengabulkan, tetapi bukan pula berarti terlambat, karena jawaban-Nya selalu tepat pada waktunya. Ketahuilah, bahwa setiap kebaikan menurut anggapan manusia, belum tentu baik pada pandangan Allah. Oleh karenanya, berdoalah dengan sungguh, sabarlah menanti jawaban Allah dan yakinlah Ia akan memberikan yang terbaik.

Doa: Tuhan, kami percaya, jawaban doa dari-Mu itulah yang terbaik. Amin.

Sabtu, 24 September 2022                            

bacaan : Nehemia 2 : 1 – 10

Nehemia diutus ke Yerusalem
Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" 4 Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. 9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.

Jadikan Allah Sebagai Yang Utama

Ketika kita diperhadapkan dengan bermacam-macam persoalan hidup, siapakah yang menjadi prioritas kita? Sebagai orang percaya tentu saja kita akan mendahulukan Tuhan bukan! Tindakan seperti inilah yang dilakukan oleh Nehemia, sebelum menyampaikan maksud kepada raja Artahsasta terkait keinginannya untuk kembali ke Yehuda. Hal ini tentu saja berhubungan dengan kabar atau berita yang diterimanya bahwa orang-orang sebangsanya yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan tercela. Selain itu tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar (Neh. 1: 3). Kedekatan Nehemia dengan Artahsasta tercipta karena ia adalah juru minuman raja. Sekalipun demikian, namun Tuhan tetap diutamakannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan setiap doa dan permohonan yang disampaikan kepada Allah (Neh. 1:11; 2:4). Menariknya semua hal yang disampaikan oleh Nehemia kepada Artahsasta dikabulkan. Nehemia meyakini sungguh bahwa semua yang terjadi semata-mata hanya karena tangan Allah yang melindunginya (ay. 8b). Kisah ini memberikan inspirasi bahwa dalam kondisi apapun yang membuat kita ada dalam ketakutan, kebimbangan bahkan keterpurukan, tetaplah mengandalkan Allah.  Bukan berarti kita hanya mendahulukan Allah pada saat ada dalam kesulitan atau masalah hidup saja, tetapi dalam kondisi baik sekalipun. Bahkan di setiap keinginan atau kerinduan kita, sertakan dan utamakanlah Ia di dalamnya. Kita memang belum dapat  memastikan hasil akhir dari segala sesuatu yang direncanakan dan diusahakan. Namun, bila kita mengutamakan Allah, maka percayalah bahwa Ia pasti memberikan yang terbaik. Ingatlah, Allah berkuasa menjawab doa, oleh karena itu jadikanlah Ia yang paling utama selama kehidupan ini kita jalani. Jalanilah hidup ini seturut teladan Nehemia seorang yang tekun berdoa dan bersyukurlah bersama wadah laki-laki GPM di usianya yang ke-34.

Doa:  Tuhan Yesus, ajari kami untuk selalu mengutamakan Engkau dalam      mengawali setiap langkah hidup kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Tinggalkan komentar