Santapan Harian Keluarga, 9 – 15 Oktober 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Beritakanlah Injil

Minggu, 09 Oktober 2022                             

bacaan : Matius 28 : 16 – 20

Perintah untuk memberitakan Injil
16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Duta Kristus

Penulis injil Matius mengakhiri penulisannya dengan perintah untuk memberitakan injil. Perintah ini disebut pula  sebagai Amanat Agung. Yesus memberikan amanat agung kepada murid-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga. Tanggung jawab memberitakan injil kerajaan sorga tak boleh berhenti. Hidup sebagai murid adalah kesempatan memberitakan injil kepada semua bangsa. Hal ini berarti bahwa keselamatan yang telah dikaryakan Yesus terbuka kepada semua orang. Para murid atau orang percaya tak boleh “menahan” atau membatasi keselamatan sebagai milik sendiri. Mereka yang telah diselamatkan hidupnya terbuka sehingga orang lain menjadi percaya dan diselamatkan juga. Amanat ini menjadi tanggung jawab kita semua. Kita bertanggung jawab untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus, membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus serta mengajar sehingga semua orang melakukan perintah-Nya. Amanat ini menegaskan bahwa kita telah diberikan tiga tanggung jawab, yakni, pemuridan, pembaptisan dan pengajaran. Hidup,   hendaknya dijalani sebagai cara menjalankan amanat agung Yesus.  Cara yang pertama adalah hidup layaknya seorang murid. Seorang murid disebut demikian karena sedang belajar atau belum lulus. Teruslah belajar tentang kehendak Allah sebagaimana disaksikan dalam Alkitab serta pengalaman apa pun yang dialami. Kedua, hiduplah sebagai seorang yang sudah bertobat dan percaya. Hindari melakukan tiindakkan kejahatan dan dosa lalu hidup kudus serta menabur kebaikan. Ketiga, jadilah orang percaya yang cerdas. Janganlah hidup dalam kebodohan baik saat berpikir, merasa atau bertindak. Hanya dengan cara hidup yang demikian itu, kita telah menjadi duta Kristus.

Doa; Ya Kristus, layakkanlah kami untuk menjadi duta bagi-Mu. Amin.

Senin, 10 Oktober 2022                                    

Bacaan : Kisah Para Rasul 18 : 9 – 10

9 Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! 10 Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."

Jangan takut, Percayalah Pada Tuhan

Paulus pernah mengalami perjumpaan ilahi di Damsyik. Pengalaman ini ia alami lagi di Korintus. Tuhan berfirman dalam sebuah penglihatan kepada Paulus kata-Nya Jangan takut!, teruslah memberitakan firman dan jangan diam! sebab Aku menyertai engkau, dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau.” Perjumpaan dengan Tuhan dialaminya saat sedang melakukan tugas memberitakan injil. Tuhan bekerja bersama Paulus dan bertindak sebelum terjadi suatu keburukkan. Hari esok telah disingkapkan-Nya kepada Paulus. Keberanian Paulus diteguhkan, agar ia tak boleh berhenti memberitakan injil, sebab penyertaan dan perlindungan Tuhan akan terus dialaminya. Kuasa dan kebaikan Tuhan melampaui pengalaman hari ini dan menjadikan utusan-Nya tak takut memasuki hari esok. Kita adalah utusan, dan diingatkan bahwa bersama Tuhan, jangan pernah lalui hari hidup dengan takut, tak berbuat sesuatu atau meragukan kuasa-Nya. Beranilah untuk berubah ke arah yang lebih baik, hadapi risiko, mengambil keputusan dan maknai apapun kenyataan hidup. Dekatkanlah diri pada Sang Pengausa waktu itu dan dengarlah Ia bicara agar firman-Nya menentukan arah jalan hidup kita. Jangan diam apalagi berhenti, teruslah bergerak dan isilah hidup dengan karya. Tantangan atau masalah adalah kesempatan untuk menemukan cara baru atau mengetahui apa yang belum pernah diketahui sebelumnya.   Kita tak sendiri dalam hidup ini, tapi bersama Tuhan Sang Pengutus yang tetap mengasihi, melindungi dan melepaskan dari barbagai kemelut. Hari ini sedang kita alami dan menentukan esok, jadi jangan membiarkannya berlalu sia-sia. Esok, akan ada dan kita songsong bersama kasih Tuhan.

Doa: Ya Yesus, beranikanlah kami untuk terus berkarya. Amin.

 Selasa, 11 Oktober 2022                               

bacaan : Markus 3 : 13 – 19

Yesus memanggil kedua belas rasul
13 Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. 14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. 16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Dipanggil dan Diutus Yesus Adalah Anugerah

Bacaan injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan kembali kisah pemanggilan sebagai rasul Yesus. Yesus-lah yang berinisiatif untuk memanggil dan mengutus mereka. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya. Panggilan Yesus membutuhkan tanggapan dan mereka pun datang kepada-Nya. Mereka yang dipilih Yesus menjadi rasul-Nya sama sekali tidak memiliki kriteria yang menonjol. Ada yang bekerja sebagai nelayan, pemungut cukai, dan orang biasa. Yesus memanggil mereka untuk menjadi rasul bukan berdasarkan kekuatan, kepintaran dan kebaikan mereka. Kenyataan seperti ini membuktikan bahwa dipanggil dan diutus Yesus adalah anugerah. Panggilan dan pengutusan tak pernah berlangsung tanpa tujuan dan harapan. Karya keselamatan dan hadirnya kerajaan Allah harus terus diberitakan. Mereka yang dipanggil dan diutus Yesus  untuk memberitakan IInjil, dberi-Nya pula kuasa untuk mengusir setan. Kita diingatkan ulang akan gagasan tentang kawan sekerja Tuhan. Kita disertakan Tuhan untuk memberitakan Injil atau menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Kawan sekerja memiliki tanggung jawab untuk meneruskan rencana dan kehendak Allah atau menghadirkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Mereka yang disebut kawan sekerja Tuhan adalah orang yang berkuasa atau berdaya mengalahkan kuasa yang mengancam hidup. Kejahatan, pemberontakan dan keburukan harus dijauhkan agar kehidupan berlangsung secara berkenan pada Tuhan. Kehendak Tuhan sebagaimana tertulis dalam Taurat-Nya harus diutamakan. Akhirnya menjadi kawan sekerja Tuhan berarti hidup dalam keutuhan dan kebersamaan, bukan perpecahan serta pertikaian.

Doa: Ya Yesus, kami bersyukur, telah dijadikan kawan sekerja-Mu. Amin. 

Rabu, 12 Oktober 2022                                   

bacaan : Efesus 6 : 14 – 15

14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

Perlengkapan Rohani Orang Kristen

Rasul Paulus menggunakan gambaran baju perang sebagai ilustrasi perlengkapan rohani orang Kristen (pasal 6:10-20). Perlengkapan rohani haruslah diperhatikan dengan baik agar hidup dapat berlangsung secara bermutu. Hidup yang bermutu berlangsung dalam keseimbangan seluruh aspek baik tubuh atau fisik, rasio maupun roh. Kerohanian adalah satu di antara aspek hidup yang sangat penting, sehingga tak boleh diabaikan. Aspek kerohanian perlu dipelihara sebab menentukan relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan berlangsung dalam Roh atau batin dan terwujd melalui doa juga ibadah. Aspek kerohanian atau relasi dengan Tuhan haruslah menjadi prioritas dan menentukan baik relasi manusia dengan manusia maupun manusia dengan alam. Oleh sebab itu orang Kristen harus memelihara kerohanian dengan perlengkapan yang memadai. Perlengkapan itu adalah “berdiri tegap”, “berikatpinggangkan kebenaran”, “berbajuzirahkan keadilan”, dan “kaki berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera”. Berdiri tegap bermakna memiliki sikap siap sedia, tak ragu atau bimbang. Orang Kristen diminta untuk tidak menjalani hidup dengan keraguan tapi kepastian. Ikat pinggang melingkar pada tubuhnya, maksudnya dilindungi kebenaran Allah. Mengenakan baju zirah agar bagian tubuh yang lain juga terlndung, yakni leher, jantung, dan paru-paru. Baju zirah dipakai untuk menjelaskan betapa pentingnya keadilan bagi orang Kristen. Kita juga diminta untuk berkasutkan kerelaan memberitakan Injil. Orang Kristen yang memiliki kerohanian bermutu, menjalani hidupnya dengan pasti, benar, adil, dan rela. Kerelaan memberitakan Injil menjadi salah satu ciri kerohanian berkualitas. Kelangsungan panggilan memberitakan Injil ternyata ditentukan oleh dimilikinya kualitas kerohanian. Peliharalah perlengkapan rohanimu dengan baik dan ingatlah bahwa bila hidup dijalani dengan pasti, benar, adil, dan rela, maka sesungguhnya Injil sudah diberitakan.

Doa: Kiranya kerohanian kami layak dan berkenan pada-Mu. Amin.

 Kamis, 13 Oktober 2022                                     

bacaan : Galatia 2 : 7 – 8

7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat 8 --karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.

Diakui Sebagai Rasul  

Pemberitaan Injil yang dilakukan para rasul berlangsung baik kepada orang dengan latarbelakang Yahudi maupun yang lainnya. Orang Yahudi dikenal sebagai mereka yang “bersunat”. Sedangkan sebutan “tdak bersunat” diikenakan kepada mereka yang bukan Yahudi. Surat Galatia menyaksikan bahwa pemberitaan yang berlangsung di kalangan orang Yahudi dilaksanakan oleh Petrus dan Paulus bagi mereka yang tidak memiliki latarbelakang Yahudi. Pertumbuhan Injil di jamaat Galatia agak terhambat karena adanya sebagian orang yang berpandangan sempit. Mereka ini berpandangan bahwa yang hebat dan diakui adalah hanyalah Petrus karena ia memberitakan Injil bagi orang “bersunat”. Kerasulan Paulus tidak diakui sebab ia memberitakan Injil bagi orang “tidak bersunat”. Pandangan ini dianggap tak bermanfaat dan oleh sebab itu Paulus menentangnya. Keutuhan jemaat haruslah diselamatkan dari adanya pandangan yang menyesatkan. Pandangan ini sesat, karena yang penting bukanlah pemberita dan kepada siapa Injil diberitakan tetapi Kristus. Kristuslah yang memberi kuasa baik kepada Petrus maupun Paulus. Kerasulan seorang rasul ditentukan oleh Kristus yang memberi kuasa. Kristuslah yang penting, bukan Petrus atau Paulus. Mereka berdua telah diberikan kuasa yang sama oleh Kristus dan harus sama-sama diakui sebagai seorang rasul. Seseorang diakui sebagai rasul atau utusan Kristus karena kuasa yang dianugerahkan kepadanya. Kristus Sang Pemberi kuasa itulah yang pada-Nya disatukan semua pemberita Injil. Kesatuan dalam Kristus itulah yang mendasari keutuhan semua pemberita Injil dan jemaat atau mereka yang percaya kepada-Nya.

Doa: Ya Kristus utuhkanlah kami agar layak memberitakan Injil-Mu. Amin.

Jumat, 14 Oktober 2022                                

bacaan : 1 Korintus 1 : 17

17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Memelihara Keutuhan

Rasul Paulus menganggap bahwa keutuhan sebagai jemaat   haruslah dirawat dan dipelihara dengan baik. Jemaat sekalipun berbeda dalam banyak hal, namun menjadi satu dalam Kristus. Ia memperingatkan jemaat di Korintus bahwa kematian Kristus di salb adalah pusat Injil dan mereka harus lebih mendengar Roh Allah daripada hiikmat duniawi. Memang, manusia memiliki kelebihan tertentu dan karenanya diidolakan, namun yang utama adalah Kristus. Oleh sebab itu mengidolakan seseorang tidak lantas menyebabkan perpecahan. Manusia hidup dengan potensi yang berbeda, di antaranya tak sama dalam hal mengidolakan seseorang. Kepelbagaian yang dimiliki manusia tak boleh menjadi sumber perselisihan dan perpecahan. Jemaat Korintus terpola dan terkotak-kotak sesuai idola masing-masing. Keutuhan jemaat terpecah karena mereka hidup dalam golongan tertentu, baik Paulus, Apolos maupun Kefas. Mereka ini walaupun berbeda namun semuanya dipanggil dan diutus Kristus untuk memberitakan Injil. Rasul Paulus amat menyadari bahwa pemberitaan Injil yang dilakukannya tidak berdasar pada hikmat perkataan (manusia). Ia layak dan mampu karena kuasa yang dianugerahkan Kristus. Bila seseorang mengandalkan hikmat manusiawi, maka salib Kristus menjadi sia-sia. Prinsip ini dianut dan dipegang Paulus dalam menjalankan tanggung jawab memberitakan Injil. Marilah jalani hidup sebagai pemberita Injil. Andalkanlah kuasa Kristus jangan bersandar pada hikmat manusia. Hargailah perbedaan, hindarilah perselisihan dan perpecahan serta hiduplah dalam keutuhan. Peliharalah keutuhan baik sebagai keluarga, jemaat maupun masyarakat. Ingatlah bahwa kita semua telah dipersatukan oleh salib Kristus.

Doa: Ya Yesus layakkanlah kami untuk hidup dalam keutuhan. Amin.

Sabtu, 15 Oktober 2022.                          

bacaan : 2 Timotius 1 : 11 – 12

11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. 12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Jangan Pernah Malu Untuk Memberitakan Injil

Rasul Paulus menganggap Timotius seperti anaknya sendiri  (1Tim 1:2). Mereka telah mengadakan perjalanan bersama dan bekerja sama dengan erat (lihat. misalnya Kisah 16:1-3). Kedekatan inilah yang menyebabkan Paulus menyampaikan nasihat dan peringatan bagi Timotius. Paulus menasihati dan mengingatkan Timotius walau sedang dalam penjara (banding 2 Tim 1:8). Injil Kristus harus terus diberitakan dan karena itu Timotius harus meneladani Paulus. Paulus telah menunjukkan teladan keberanian dan kesungguhan. Ia berharap Timotius dapat melanjutkan tugas memberitakan Injil dengan tidak perlu merisaukkan dirinya. Timotius harus memberitakan Injil dengan berani dan tanpa malu. Paulus sadar bahwa Timotius masih muda dan kemudaan itu dapat menjadi hambatan bagi kelangsungan pemberitaan Injil. Oleh sebab itu ia mengingatkan Timotius bahwa sekalipun masih muda, namun pada dirinya ada potensi dan keunggulan iman serta pengalaman memberitakan Injil. Sama seperti Paulus tak pernah malu dalam pemberitaan Injil, maka demikian pula halnya ia berharap pada Timotius. Timotus diminta untuk meyakini kuasa Kristus yang akan memampukan dia sekalipun masih muda. Kristus berkuasa memelihara hidup mereka yang diutus-Nya. Penderitaan dan kemudaan bukanlah alasan untuk menjadi takut dan malu. Kita pun belajar bahwa hidup ini haruslah dijalani dengan berani sebab meyakini kuasa Kristus. Janganlah takut menghadapi kesukaran di hari ini atau hari esok yang masih menjadi rahasia. Teruslah beritakan Injil dengan tidak malu atau rendah diri, merasa diri serba kurang, jangan pula merasa diri tak bisa. Percayakanlah hidupmu kepada Kristus agar engkau menjadi manusia yang percaya diri.

Doa: Ya Kristus, tolonglah agar kami tidak malu menjadi saksi-Mu. Amin.

SUMBER : SHK Oktober 2022, LPJ_GPM

Tinggalkan komentar