Santapan Harian Keluarga, 23 – 29 Oktober 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Hindari Hidup Dalam Kesombongan

Minggu, 23 Oktober 2022                            

bacaan : 1 Korintus 4 : 6 – 21

Rendahkanlah dirimu
6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. 7 Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? 8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu. 9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. 11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, 12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; 13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. 14 Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. 15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. 16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku! 17 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat. 18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu. 19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka. 20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. 21 Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?

Hidup Dalam Kerendahan

Paulus melayani di jemaat Korintus selama satu setengah tahun. Sudah banyak yang ia ajarkan dan teladankan kepada jemaat di sana. Namun hal itu tidak cukup meyakinkan mereka, sebaliknya kerasulannya diragukan. Paulus sudah berlelah dalam pelayanan tetapi tidak dihargai. Sekalipun demiikian ia sama sekali tidak marah dan kecewa tetapi tetap mengasihi mereka. Paulus menyadari keberadaan dirinya selaku rasul Kristus. Ia sadar akan statusnya sebagai hamba Allah, pelayan yang diutus untuk menuntun orang lain kepada Kristus. Risiikonya adalah dianggap bodoh dan hina karena Kristus, melakukan pekerjaan yang berat, memberkati orang yang memaki, sabar menanggung penganiayaan. Paulus menegaskan bahwa “Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan tetapi dari kuasa”. Artinya bahwa kekuatan Allah-lah yang memampukan seseorang membangun jemaat, bukan karena kehebatan berkata-kata. Karena itu, tidak ada hal yang patut disombongkan dalam pelayanan. Semuanya karena kasih karunia Allah. Sikap hidup Paulus yang merendahkan diri   semestinya membelajarkan kita semua bahwa adalah kasih karunia jika kita dipanggil dan dipercayakan tanggungjawab pelayanan. Melayani bukanlah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan atau kepujian diri. Seorang pelayan terpanggil untuk melayani dengan kerendahan hati bagi kemuliaan-Nya. Bersyukurlah senantiasa, teruslah melayani dan hiduplah dalam kerendahan.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan. untuk selalu hidup rendah hati, Amin.

Senin, 24 Oktober 2022                                          

bacaan : Amsal 16 : 18

18 Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.

Kesombongan Awal dari Kejatuhan

Penulis kitab Amsal mengatakan, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (16:18). Nas ini menyaksikan bahwa kecongkakan akan membuat seseorang hancur dan kesombongan akan membuatnya jatuh. Sejalan dengan hal ini, tersebut pula dalam Amsal 16: 5a bahwa setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan. Ternyata, kesombongan dibenci oleh Tuhan. Kalau begitu, bagaimana supaya tidak menjadi sombong dan dengan begitu terhindar dari kejatuhan dan kehancuran? Ada tiga hal yang dapat dilakukan: pertama, akuilah Tuhan dalam segala perilaku hidup. Semua yang diterima dalam hidup ini bukan karena kita, semuanya karena anugerah Tuhan. Orang sombong menganggap semua karena usaha dan kekuatan serta kebaikan dirinya sendiri. Dia lupa bahwa semua yang didapatkannya hanya karena kasih karunia Allah. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri, “saya bukan siapa-siapa tanpa Tuhan”. Kedua, untuk menghindarkan diri dari kesombongan maka jangan pernah lupa darimana kita berasal. Kenyataannya, banyak orang menjadi lupa darimana mereka berasal, apalagi ketika telah memiliki kuasa dan jabatan.  Sepintar apapun, sekaya bagaimanapun, tetapi jika kita menjadi sombong, semua itu menjadi tidak berguna. Ketiga, belajarlah untuk menghargai semua orang. Apapun latar belakang dan status; ekonomi, sosial dan sebagainya. Hargailah semua orang, tua-muda, anak-anak, perempuan, laki-laki dan lansia.

Doa: Ya Tuhan mampukanlah kami hidup rendah hati dan tidak congkak, Amin.

Selasa, 25 Oktober 2022                                  

bacaan : Yesaya 2: 12 – 22

12 Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan; 13 untuk menghukum semua pohon aras di Libanon yang tumbuh meninggi dan tetap menjulang, dan menghukum semua pohon tarbantin di Basan; 14 untuk menghukum semua gunung yang tinggi-tinggi dan semua bukit yang menjulang ke atas; 15 untuk menghukum semua menara yang tinggi-tinggi dan semua tembok yang berkubu; 16 untuk menghukum semua kapal Tarsis dan semua kapal yang paling indah. 17 Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. 18 Sedang berhala-berhala akan hilang sama sekali. 19 Maka orang akan masuk ke dalam gua-gua di gunung batu dan ke dalam liang-liang di tanah terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya, pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi. 20 Pada hari itu berhala-berhala perak dan berhala-berhala emas yang dibuat manusia untuk sujud menyembah kepadanya akan dilemparkannya kepada tikus dan kelelawar, 21 dan ia akan masuk ke dalam lekuk-lekuk di gunung batu dan ke dalam celah-celah di bukit batu terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya, pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi. 22 Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?

Tuhanlah Sumber Segala Sesuatu, Jangan Sombong!

Siapakah yang dapat meninggikan diri di hadapan Tuhan? Seorangpun tentunya tidak, tetapi manusia seringkali meninggikan diri dengan nama, kekayaan, kuasa dan jabatan yang dimiliki. Umat Israel pun sering berbangga diri dan menjadi angkuh di hadapan Tuhan. Nas hari ini menegaskan akan hal ini.. Gambaran pohon aras di Libanon, pohon tarbantin di Basan, gunung yang tinggi-tinggi dan bukit yang menjulang ke atas, menara yang tinggi dan tembok yang berkubu, kapal Tarsis dan kapal yang paling indah. Semuanya merupakan bahasa simbolik yang memperlihatkan kebanggaan, tempat mereka menggantungkan harap, yang akhirnya membuat diri angkuh lalu melupakan Tuhan sumber segala sesuatu. Nabi Yesaya mengingatkan bahwa semua yang dimiliki itu bukan milik mereka melainkan Tuhan. Sehingga pada hari Tuhan semua itu akan dihabiskan. Mereka yang tidak menaati Tuhan akan bersembunyi. Jadi akhirnya nabi Yesaya mengingatkan, jangan berharap kepada manusia. Nubuatan Yesaya ini menandakan bahwa hanya Allah yang mahatinggi dan layak disembah. Manusia dan segala keperkasaan di dunia: kuasa, jabatan, kekuatan pohon, gunung, menara, tembok dan kapal yang paling indah (ay. 13-16), sifatnya fana dan tidak dapat diandalkan (ay. 22). Semua ini mengingatkan kita untuk tidak sombong dalam menjalani kehidupan. Apakah harta, prestasi, kuasa atau jabatan tinggi telah membuat kita sombong? Ingatlah, semuanya itu hanya pemberian Tuhan. Jika semua itu lenyap, apakah kita tetap masih dapat memandang kepada Tuhan dan memuliakan Dia?

Doa: Ya Bapa, Engkaulah sumber segala-galanya, kiranya kami tidak melupakan itu dan menjadi sombong, Amin.

Rabu, 26 Oktober 2022                             

bacaan : Yehezkiel 28 : 4 – 7

4 Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan. Emas dan perak kaukumpulkan dalam perbendaharaanmu.
5 Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong.
6 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah
7 maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja; dan semarakmu dinajiskan.

Kemakmuran: Berkat atau Petaka?

Kemakmuran pada dasarnya merupakan berkat,  keuntungan dan bukti dari sebuah prestasi atau keberhasilan yang dicapai seseorang. Selayaknya kemakmuran itu membawa damai sejahtera, memberikan sukacita dan ketenteraman. Namun faktanya kemakmuran lebih banyak membawa petaka. Saat seseorang berhasil memperoleh kemakmuran, rendah hati bukan lagi menjadi ciri khasnya melainkan keangkuhan. Keangkuhan inilah yang membuat seseorang gemar mengukur segala sesuatu termasuk pencapaian kemakmuran yang didapat berdasarkan kedudukan, jabatan, harta benda, atau bahkan status sosial. Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan seseorang bukan saja akan menjadi lupa diri, tetapi juga lupa akan Tuhan-nya. Sikap dan tingkah laku demikian bukanlah hal yang baru terjadi di dunia dewasa ini, melainkan sudah berlangsung pula di masa silam. Nas hari ini menyaksikan akan adanya kenyataan keangkuhan itu. Raja negeri Tirus menjadi angkuh dan sombong akan kerajaannya yang kuat. Namun melalui nabi Yehezkiel Allah memberi peringatan kepada raja itu bahwa keangkuhannya yang seolah-olah ingin mentuhankan diri itulah yang akan membawa ia dan kerajaannya dalam malapetaka besar. Sejatinya, kebalikkan dari sikap angkuh dan sombong adalah rendah hati, sebuah sifat yang terbentuk melalui pengenalan kita akan Allah. Kita, sebagai pribadi dan keluarga boleh meraih keberhasilan dan mendapatkan kemakmuran, tanpa harus melupakan bahwa semua itu adalah berkat Tuhan. Hiduplah dengan rendah hati dan muliakan Allah dengan semua yang dimiliki. Jadilah alat kesaksian-Nya bagi sesama dan dunia.

Doa: Tolonglah kami Tuhan agar tidak angkuh atau sombong tetapi selalu hidup rendah hati. Amin.

Kamis, 27 Oktober 2022                             

bacaan : Yeremia 48: 28 – 30

28 Tinggalkanlah kota-kota dan diamlah di bukit batu, hai penduduk Moab! Jadilah seperti burung merpati yang bersarang di dinding mulut liang. 29 Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kesombongannya, keangkuhannya dan kecongkakannya, tentang tinggi hatinya. 30 Aku ini kenal kepongahannya, demikianlah firman TUHAN, tidak benar cakapnya, dan tidak benar perilakunya.

Kesombongan Menghancurkan Hidup

Kesombongan merupakan sikap yang dibenci Allah. Orang yang sombong tidak menghargai otoritas atau kemahakuasaan Allah dan hanya membanggakan kemampuan diri sendiri. Bangsa Moab misalnya dengan sombong dan arogan mengejek umat Tuhan yakni Israel. Tuhan Allah memakai Asyur sebagai alat untuk menghukum Moab sehingga mereka mengalami kehancuran yang hebat. Bagai kebun anggur yang tidak terawat lagi, begitulah gambaran keruntuhan Moab (ayat 33). Kesombongan mereka berakhir dengan Kesia-siaan. Kota-kota ditinggalkan dan berdiam di bukit batu, mereka bagaikan burung merpati yang bersarang di dinding mulut liang (ayat 28). Moab terusir dari negeri sendiri, kediaman mereka hancur dan kehilangan harta benda. Kesombongan menghancurkan hidup, harta yang dimiliki semuanya musnah. Mari bertanya pada diri sendiri apakah kita punya alasan untuk menyombongkan diri dengan apa yang dimiliki hari ini? Semua orang berharap agar dilimpahi berkat, namun ironinya ada yang berubah menjadi sombong ketika berkat itu datang. Saat “berada di puncak”, seseorang dapat saja berubah dan mudah terjebak dalam dosa kesombongan. Bila hal itu terjadi, maka orang akan menikmati upah dari kesombongan itu sendiri, yakni kegagalan dan kehancuran. Ingatlah selalu bahwa Allah membenci kesombongan dan tinggi hati, tetapi Dia mengasihi dan suka pada hati yang tertunduk dalam kehambaan. Hiduplah sebagai keluarga Kristen yang rendah hati. Tetap setia pada Tuhan dan teruslah hidup dalam kehambaan serta mempraktekkan kasih dalam segala keberadaan. Orang rendah hati pasti diberkati.

Doa:   Tuhan Yesus, jauhkan segala kesombongan dari diri kami, tapi biarlah kami hidup rendah hati dan selalu taat pada-Mu. Amin.

Jumat, 28 Oktober 2022                                

bacaan : Mazmur 101 : 1 – 8

Seorang raja bernazar
Mazmur Daud. Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN. 2 Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. 3 Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku. 4 Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku, kejahatan aku tidak mau tahu. 5 Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya, dia akan kubinasakan. Orang yang sombong dan tinggi hati, aku tidak suka. 6 Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku. 7 Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku. 8 Setiap pagi akan kubinasakan semua orang fasik di negeri; akan kulenyapkan dari kota TUHAN, semua orang yang melakukan kejahatan.

Memelihara Hidup Yang Tidak Bercela

Sama seperti Daud, kita juga tentu memiliki kerinduan  untuk hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Daud menunjukkan kerinduannya itu dengan berkomitmen untuk menjauhkan diri dari setiap perbuatan yang tidak benar. Komitmennya yang lain adalah memelihara hidup dalam ketulusan hati baik di dalam rumah maupun kerajaanya. Rumah adalah tentang diri sendiri, keluarga, gereja atau komunitas bahkan masyarakat dimana kita berada. Karena itu, Tuhan menghendaki kita menjadi alat kesaksian di lingkungan dimanapun berada dengan menunjukkan cara hidup yang benar dan berkenan sesuai kehendak-Nya. Sebutan lainnya adalah hidup yang berintegritas. Kerinduan dan komitmen kita untuk hidup dalam kebenaran dan tidak bercela seharusnya terwujud pula dalam totalitas hidup, yakni kerja, pelayanan, serta membangun relasi dengan sesama. Bukan sekadar retorika melainkan dalam laku hidup. Perwujudan hidup yang berintegritas membutuhkan komitmen yang harus dipelihara dan dikembangkan seumur hidup. Komitmen yang dimaksud ini  bukan semata bersumber dari kebaikan atau usaha sendiri melainkan berasal dari pengenalan yang sungguh akan Allah. Maksudnya mengenal akan kehendak, perintah dan hukum-hukum-Nya. Pengenalan yang demikian membuahkan perubahan cara hidup dari yang suka kepada kejahatan dan kelaliman   menjadi takut akan Allah. Seperti Daud, mari perhatikan dan pastikan kita menjalani hidup yang benar dan tulus hati. Peliharalah komitmen untuk terus-menerus hidup dalam kebenaran di hadapan Allah serta manusia, dan jadilah berkat lewat seluruh laku hidup kita.

Doa:  Tuhan Yesus, kami mau hidup tidak bercela di hadapan-Mu. Tuntunlah kami supaya tetap hidup takut akan Engkau. Amin.

Sabtu, 29 Oktober 2022                               

bacaan : Roma 11 : 20 – 24

20 Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! 21 Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. 22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. 23 Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. 24 Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri.

Cabang – Cabang Liar

Mencangkok merupakan sebuah rekayasa genetik tanaman yang banyak dilakukan untuk tujuan memperbanyak tanaman serta mendapatkan hasil panen dengan kualitas yang lebih baik. Biasanya pencangkokan dilakukan dengan memperhatikan kualitas tanaman induk, karena itu dipilih indukan yang potensial agar hasil lebih maksimal. Bahasa metafora dipakai Paulus untuk mengingatkan orang Kristen bukan Yahudi agar tidak menyombongkan diri karena mereka diselamatkan oleh Allah. Kitapun adalah orang-orang percaya bukan Yahudi atau dalam Bahasa metforis adalah cabang-cabang dari pohon zaitun liar.  Jika Bangsa Israel yang adalah cabang utama dari zaitun yang sejati dapat ditebang dan dihancurkan akibat kesombongan, maka kita sebagai cabang-cabang liar juga akan dengan mudah ditebang dan dibakar. Bangsa Israel menjadi sombong karena keterpilihan mereka sebagai umat Allah. Sikap sombong rohani dan puas diri ini adalah hal yang tidak pantas di hadapan Allah. Karena itu Paulus mengingatkan “Janganlah sombong, tetapi takutlah.” Kita adalah cabang-cabang liar yang dicangkokkan kepada pohon keselamatan dan telah menerima anugerah besar dari Allah untuk menikmati hidup sebagai umat-Nya. Karena itu tidaklah pantas bagi kita untuk menyombongkan diri karena anugerah keselamatan yang telah diterima itu. Sebaliknya, peliharalah keselamatan yang telah dianugerahkan Allah itu. Hiduplah dengan berperilaku jujur, setia, adil dan rendah hati agar kita dapat tumbuh dan berbuah lebat sehingga dapat dinikmati oleh sesama serta dunia.

Doa:  Ya Tuhan, tuntunlah kami untuk merawat keselamatan yang Kau berikan agar berbuah dan menjadi berkat bagi dunia. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Oktober 2022, LPJ_GPM

Tinggalkan komentar