Tema Bulanan : Meningkatkan Dan Memelihara Kualitas Hidup
Tema Mingguan : ” Hidup Saling Melayani “
Minggu, 06 November 2022
bacaan : Matius 25 : 31 – 46
Penghakiman terakhir
31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."
Layanilah Seorang Akan yang Lain
Melayani, melayani lebih sungguh. melayani, melayani lebih sungguh. Tuhan lebih dulu melayani kepadaku, melayani, melayani lebih sungguh. Sepenggal bait lagu melayani ini mengingatkan bahwa Tuhan sendiri telah melayani kita dengan memberi diri-Nya disalibkan dan mati untuk menebus dosa manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita melayani Tuhan dan membalas segala kebaikann-Nya bagi kita sebagai orang-orang yang di kasihi-Nya? Serta mampukah kita melakukannya lewat tingkahlaku dan perbuatan? Bacaan kita Matius 25:31-46 mengatakan bahwa pada saatnya, Ketika Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya maka, semua bangsa akan dikumpulkan dan mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang dilakukan selama berada di dunia ini. Siapa yang berbuat baik ia akan disebut anak-anak domba dan yang tidak melakukan kebaikan akan dikelompokkan sebagai anak-anak kambing Keduanya akan dipisahkan satu dari yang lainnya. Domba akan menjadi kesayangan dan diberi tempat yang layak bersama dengan gembala-Nya. Sedangkan kambing akan dibinasakan karena perbuatan-perbuatan yang tidak benar. Hal ini berkaitan dengan sepenggal bait melayani tadi, bahwa Tuhan sendiri mengatakan perbuatan-perbuatan baik yang kamu lakukan dengan melayani sesamamu itu berarti kamu telah melakukannya bagi-Ku. Maka melayanilah seorang akan yang lain, melalui perbuatan-perbuatan baik, kapan dimana saja serta dalam keadaan bagaimanapun. Memperlakukan orang lain dengan kasih, saling berbagi dan menolong sebagai sesama. Semua hal yang dilakukan kepada sesama memiliki kesamaan arti dengan melakukan bagi Tuhan. Yakinlah bahwa ketika hari penghakiman tiba, kita akan menjadi domba-domba yang dipisahkan dari kambing dan akan bersama-sama dengan Tuhan di dalam tempat yang telah disediakan-Nya.
Doa: Tuhan mampukan kami untuk saling melayani sebagai sesama. Amin.
Senin, 07 November 2022
bacaan : Roma 14 : 17 – 18
17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. 18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.
Mewujudkan Sikap dan Perilaku yang Benar
Hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Sebuah pilihan yang yang mudah untuk diucapkan namun tidak demikian dalam pelaksanaannya. Semoga tak berkelebihan bila dikatakan bahwa ada sebagian orang yang agaknya memilih hidup untuk makan dan bukannya makan untuk hidup. Mereka yang memilih hidup untuk makan dapat saja disebabkan baik oleh kemalasan, masa bodoh ataupun karena kelebihan materi. Sedangkan orang yang makan untuk hidup adalah mereka yang hidupnya digerakkan oleh prinsip kecukupan, perjuangan dan kemanfaatan. Mereka yang berkekurangan ada pula yang memiliki prinsip makan untuk hidup, sehingga harus bekerja keras agar bisa makan dan minum. Makanan diperlukan agar tetap bertahan hidup dan berjuang. Jangankan makanan enak makan apa adanya saja sudah bersyukur. Bacaan kita hari ini Roma 14:17-18, mengatakan bahwa perihal kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minum melainkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Sebab barang siapa yang melayani Kristus dengan cara ini ia berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia. Bagian Firman ini mengingatkan kita bahwa persoalan masuk ke dalam kerajaan Allah adalah bukan persoalan siapa yang dapat makan dan minum atau tidak mendapatkannya. Namun persoalannya adalah bagaimana kita mewujudkan sikap dan perilaku yang benar, yang menghadirkan damai sejahtera bagi orang lain melalui tuntunan Roh Kudus. Dengan demikian kita telah melayani Kristus sendiri dengan segala perbuatan baik yang dilakukan untuk sesama. Perbuatan-perbuatan baik itulah yang akan membawa kita kepada hidup yang kekal bersama Kristus dalam kerajaan-Nya yang kekal. Makanan dan minuman diperlukan manusia dan oleh sebab itu haruslah diusahakan dan dimanfaatkan dengan kebenaran. Usahakanlah hal apapun dan memanfaatkannya dengan cara yang benar agar damai sejahtera serta sukacita dialami serta dihormati manusia juga berkenan pada Allah.
Doa: Tuhan tolonglah kami untuk mewujudkan hidup yang benar. Amin.
Selasa, 08 November 2022
bacaan : 1 Raja-Raja 17 : 7 – 16
Elia dan janda di Sarfat
7 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. 8 Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: 9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." 10 Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." 11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." 12 Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." 13 Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. 14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." 15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.
Memberi Dari Kekurangan
Memberi dari kekurangan adalah tindakkan iman yang tidak banyak dari kita sebagai orang percaya mampu melakukannya. Keadaanlah yang membentuk seseorang berpikir dua kali untuk memberi dari kekurangannya bagi orang lain.”Kalo beta kasih par dia lalu nanti beta deng beta ana-ana makang apa?”. Hal ini berbeda dengan cerita seorang janda di Sarfat. Ia mampu memberi dari kekurangan kepada orang asing yang baru saja ditemuinya. Janda ini berani mengambil risiko dengan memberi makan kepada Elia karena ia mempercayai perkataan sang nabi. Sedikit tepung dan minyak yang masih dimilikinya tidak akan habis. Ketersediaan tepung dan minyak yang tinggal sedikit menjadi permulaan baru. Tuhan menjamin kelangsungan hidup mereka. Tak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Segenggam tepung dan sedikit minyak di buli-buli yang hanya dapat menjamin hidup mereka sampai besok saja ternyata rela dibagikannya. Janda ini memberi dari kekurangan karena ia percaya pada perkataan Tuhan. Memberi tak akan berakibat pada habisnya sedikit yang masih tersisa, justeru sebaliknya. Memberi mengubah yang sedikit menjadi tak kehabisan. Janda ini percaya bahwa hidup mereka tidaklah ditentukan oleh tepung dan minyak yang masih tersisa sedikit atau harta benda yang dimiliki. Kemurahan Tuhan-lah yang menentukan kelanngsungan hidup di dunia ini. Mereka yang bergantung pada kemurahan Tuhan tak pernah enggan memberi walau ajal sudah menjelang. Memberi dari kekurangan mengubah ancaman kematian menjadi peluang kehidupan. Tak berkesudahan kemurahan Tuhan bagi semua orang yang rela memberi dari apa adanya. Berusahalah untuk memberi dari apa adanya, saat “banyak” ataupun “sedikit”.
Doa: Tuhan mempukan kami memberi dari kekurangan. Amin.
Rabu, 09 November 2022
bacaan : 1 Raja – Raja 17 : 17 – 24
Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi.
Kata perempuan itu kepada Elia: "Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?"
Kata Elia kepadanya: "Berikanlah anakmu itu kepadaku." Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya.
Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?"
Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya."
TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.
Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: "Ini anakmu, ia sudah hidup!"
Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: "Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar."
Tak Berkesudahan Kuasa dan Kemurahan Tuhan
Cerita tentang janda di Sarfat terus berlanjut. Kuasa dan kemurahan Tuhan dinyatakan bukan saja melalui kisah ketersediaan makanan yang tidak habis, tetapi juga saat Elia menghidupkan anak janda Sarfat yang telah meninggal. Masalah kekurangan makanan yang digumuli janda ini sudah teratasi tetapi ia harus berhadapan lagi dengan kenyataan anaknya sakit bahkan meninggal. Silih berganti masalah hadir dan mengguncang hidup perempuan janda ini dengan hebatnya. Kelaparan sudah diatasi tetapi kematian anaknya tak mampu dihindari. Ia mengeluh dan bertanya serta mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya, tapi tak berdaya mengatasi kemelut hidup. Kematian sudah merenggut hidup anak satu-satunya. Saat hidupnya berguncang, Allah hadir untuk menyatakan kuasa dan kemurahan-Nya. Kelaparan, penyakit bahkan kematian tidaklah membuat berakhir kuasa dan kemurahan Tuhan. Elia mengambil anak yang telah meninggal itu dari pangkuan ibunya. Tindakkan kenabian ini melambangkan kepedulian dan kerelaan Allah untuk mengambil alih derita dan gumulan dari manusia yang sudah tak berdaya lagi. Dia-lah Tuhan Allah kita yang berkuasa atas hidup dan mati. Ia senantiasa bekerja menyatakan kuasa dan kemurahan-Nya dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan-lah pemilik hidup yang berkuasa menghidupkan walau sudah mati. Percaya dan berharaplah pada Dia, Tuhan yang berkuasa mengatasi kelaparan, menyembuhkan penyakit bahkan menghidupkan walau sudah mati. Bergantunglah pada-Nya sebab orang mati saja dapat hidup kembali apalagi yang masih hidup. Kuasa dan kemurahan-Nya tak berkesudahan bagi mereka yang percaya dan hidup saling memberi.
Doa: Kiranya kuasa dan kemurahan-Mu selalu menghidupi kami. Amin.
Kamis, 10 November 2022
bacaan : 2 Raja – Raja 5 : 1 – 7
Naaman disembuhkan Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta. 2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. 3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya." 4 Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: "Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu." 5 Maka jawab raja Aram: "Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel." Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. 6 Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: "Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya." 7 Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: "Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku."
Alat Kecil di Tangan Tuhan
Kita sering menilai orang dari pekerjaan yang mereka lakukan entah itu sebagai tukang ojek, penyapu jalan, tukang becak, pembantu rumah tangga, pelayan restoran dan masih banyak lagi. Seolah-oleh mereka adalah orang-orang kecil yang tidak perlu kita hargai. Padahal pekerjaan yang mereka kerjakan adalah pekerjaan mulia yang berdampak bagi kehidupan kita. Kisah Naaman seorang panglima perang yang sangat dipercaya oleh tuannya mengalami sakit kusta yang sangat parah. Istri Naaman memiliki seorang pelayan wanita yang merupakan tawanan dari Israel. Pelayan wanita ini berkata kepada nyonyanya agar membawa Naaman menghadap seorang nabi di Samaria untuk disembuhkan. Saran dari pelayan kecil ini ditanggapi oleh nyonyanya dengan memberi tahu kepada Naaman suaminya. Naaman menghadap raja dan memberi tahu apa yang disampaikan pelayannya itu. Raja menyetujui hal tersebut dan menyuruh Naaman segera pergi ke sana. Apa yang mau kita pelajari dari kisah ini adalah bukan pada Naaman dan raja Aram, tetapi pada pelayan perempuan dari istri Naaman yang ditawan itu. Meskipun dalam penderitaannya ditawan dan dijadikan sebagai pelayan, ia tetap melayani tuannya dengan hati yang bersih. Begitulah sebaiknya hidup ini, dalam kesesakan kita tidak boleh putus asa apalagi membalas kejahatan dengan kejahatan, Jika tetap setia dan percaya kepada Tuhan maka Ia akan memakai kita sebagai alat-Nya untuk mengerjakan kebaikan. Semua orang berharga dan berkenan pada Tuhan sebab Ia tak pernah pilih kasih. Ia terus berkarya untuk mendatangkan kebaikan dan memakai kita sebagai alat di tangan-Nya. Bersyukurlah dan jadilah berarti bagi orang lain.
Doa: Pakailah kami menjadi alat kecil di tangan-Mu Tuhan. Amin.
Jumat, 11 November 2022
bacaan : 2 Raja – Raja 4 : 42 – 44
Memberi makan seratus orang
42 Datanglah seseorang dari Baal-Salisa dengan membawa bagi abdi Allah roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Lalu berkatalah Elisa: "Berilah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan." 43 Tetapi pelayannya itu berkata: "Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?" Jawabnya: "Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya." 44 Lalu dihidangkannyalah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman TUHAN.
Bagi Tuhan Tak Ada yang Mustahil
Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan pasti tidak asing dalam ingatan kita. Nas hari ini juga mengisahkan cerita yang mirip dengannya. Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul memberi makan seratus orang untuk menyebut kisah ini. Dua puluh roti jelai serta gandum baru cukup untuk memberi makan seratus orang bahkan ada sisanya. Ketika itu bangsa Israel sedang mengalami kesulitan seperti penyakit, kelaparan, dan kematian. Allah menunjukkan kuasa dan kasih-Nya bagi bangsa Israel yang sedang mengalami keterguncangan hidup melalui nabi Elisa. Kebutuhan makanan yang sebelumnya tidak mencukupi menjadi tercukupi bahkan lebih atau ada sisanya. Dua puluh banding seratus menurut pandangan manusia adalah kekurangan. Namun, dua puluh banding seratus dalam karya Allah adalah lebih dari cukup bahkan berlimpah limpah. Keyakinan Elisa terhadap kemahakuasaan Tuhan layak diteladani, Terkadang saat berhadapan dengan kesulitan, kita menjadi orang percaya yang meragukan kemahakuasaan Allah. Melayani orang lain dengan cara memenuhi kebutuhan makan mereka merupakan tindakkan kenabian. Masa hidup yang sulit menyediakan peluang bagi orang untuk mengalami rahmat Allah. Rahmat Allah terkadang tak dapat dialami karena terhalang keraguan dan oleh sebab itu kita perlu menumbuhkan kepercayaan. Percayalah bahwa pertolongan Tuhan pasti dialami saat kita berada di batas kemampuan. Kita terbatas dalam kemampuan, sehingga hanya kepada Allah pengharapan dan permohonan ditujukan. Jalanilah hidup dengan keteguhan percaya dan hadapilah apa pun kenyataannya. Kita dapat saja hidup dengan kekurangan materi namun janganlah kehingan percaya kepada Allah sumber berkat.
Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk yakin akan kuasa kasih-Mu. Amin.
Sabtu, 12 November 2022
bacaan : 1 Petrus 4 : 7 – 11
Hidup orang Kristen
7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. 8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. 9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. 10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. 11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.
Melayani Sampai Akhir
Melayani dipahami dan disebut penulis surat 1 Petrus sebagai tindakkan yang mencirikan hidup orang Kristen. Orang Kristen terpanggil untuk melayani sampai akhir hidupnya (ay.7). Tindakkan melayani dilakukan sebagai suatu keutamaan Kekristenan dalam kaitannya dengan hal menguasai diri, menjadi tenang dan berdoa. Hidup orang Kristen tak boleh dikuasai oleh keinginan yang berlebihan atau “liar”, nafsu, amarah, dan kejahatan. Mohonlah Roh Kudus untuk memberdayakan kita menguasai diri. Biarlah Roh Kudus yang menguasai dan mengatur seluruh keberadaan kita. Tanpa kuasa Roh Kudus, hidup akan diombang-ambingkan saat mengalami berbagai tantangan dan cobaan. Peliharalah ketenangan hidup terutama batin supaya karena hal itu kita dapat terus berdoa. Hidup orang Kristen menjadi utuh dan berkenan pada Tuhan bila dijalani dengan penguasaan diri, tenang, berdoa dan melayani karena kasih. Akta melayani dalam hidup Kekristenan berdasar pada kasih Kristus. Kasih Kristus-lah yang menggerakkan Kekristenan dan karenanya kita menjadi bersungguh-sungguh melayani seorang akan yang lain. Kita tidak melayani agar dilayani atau mencari nama dan memperoleh untung. Akta melayani adalah panggilan yang tidak dibatasi kepentingan, waktu dan tempat atau keadaan karena berlangsung selama kita masih menjalani hidup. Melayani karena mengasihi menutupi banyak sekali dosa dan harus diwujudkan secara konkrit. Memberi tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut dan berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah. Buanglah dusta dan berkatalah dengan jujur serta benar. Jalanilah hidup sebagai kesempatan melayani dan bagi Dia-lah kemuliaan selama-lamanya.
Doa: Tuhan, mampukanlah kami menjadi pelayan-Mu yang setia, Amin.
*SUMBER : SHK BULAN NOV 2022, LPJ-GPM