Santapan Harian Keluarga, 20 – 26 November 2022

Tema Bulanan : Meningkatkan Dan Memelihara Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Bersyukurlah! Keselamatan Sudah Dekat

Minggu, 20 November 2022                              

bacaan : Mazmur 98 : 1 – 9

Saat penyelamatan sudah dekat
Mazmur. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. 2 TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. 3 Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. 4 Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! 5 Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, 6 dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN! 7 Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! 8 Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama 9 di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Mensyukuri Karya Penyelamatan Tuhan

Mazmur ini diawali dengan seruan: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan. Bernyanyi merupakan salah satu ungkapan syukur yang diaktakan bagi Tuhan karena kasih-Nya besar. “Kasih Tuhan yang besar” terwujud dalam “perbuatan-Nya yang besar” pula. Pemazmur mengajak umat untuk mensyukuri kebaikan Tuhan di sepanjang sejarah beriman mereka. Ungkapan “perbuatan-perbuatan ajaib” disebut pemazmur untuk mengingat kembali apa yang telah dilakukan Tuhan. Tuhan sudah menciptakan langit dan bumi dengan seluruh isinya, memanggil umat Israel dan menetapkan mereka sebagai bangsa pilihan. “Perbuatan ajaib” Tuhan telah pula mereka alami saat dibebaskan dari perbudakkan di Mesir dan dipulangankan dari Babel. Tuhan diyakini sebagai Pencipta dan Pembebas yang terus berkarya mendatangkan keselamatan bagi umat-Nya dan dunia. Karya keselamatan Tuhan diyakini berlangsung sepanjang masa, baik kemarin, hari ini maupun besok. Tuhan-lah Pencipta dan Pemelihara yang berkuasa sejak masa lampau, kini dan yang akan datang. Karya selamat-Nya tak pernah berakhir, selalu berlangsung dan oleh sebab itu harus disambut pula dengan nyanyian baru. Ia terus menerus membarui kehidupan dengan karya selamat-Nya. Orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan dengan sorak-sorai dan bergembira. Hidup mereka diliputi sukacita dan menjadi sumber kegirangan bagi sesama bahkan semua ciptaan. Meyakini kasih Tuhan, menjalani hidup dengan ringan hati dan menuju hari esok dengan tidak kuatir, ragu serta bimbang. Orang yang bersyukur menghadirkan kegirangan bagi dunia di sekitarnya. Mereka tidak hidup untuk diri sendiri tapi bagi orang lain serta dunia karena membagi harta bernilai besar yakni kegirangan. Hidup yang bersyukur akan membuat terbebas dari sakit hati, galau, pesimis, cemas dan lesu. Bersyukurlah senantiasa karena kasih-Nya besar.

Doa:  Bapa, terima kasih buat karya keselamatan yang telah kami terima. Amin.

Senin, 21 November 2022                              

bacaan : Mazmur 79 : 8 – 13

8 Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. 9 Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! 10 Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: "Di mana Allah mereka?" Biarlah di hadapan kami bangsa-bangsa lain mengetahui pembalasan atas darah yang tertumpah dari hamba-hamba-Mu. 11 Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh! 12 Dan balikkanlah ke atas pangkuan tetangga kami tujuh kali lipat cela yang telah didatangkan kepada-Mu, ya Tuhan! 13 Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.

Allah Penyelamat, Pulihkanlah Kami

Pemulihan selalu diharapkan oleh mereka yang sedang mengalami masalah atau pergumulan dalam hidup. Harapan akan pemuiihan itu kita jumpai juga dalam nas hari ini. Bani Asaf mengharapkan terjadinya pemulihan dalam kehidupan mereka. Ayat 9 teks ini menyaksikan permohonan mereka: tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami demi kemuliaan nama-Mu!  Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! Bani Asaf menyadari bahwa Yerusalem dihancurkan dan diinjak-injak oleh bangsa asing serta penduduknya ditawan oleh karena nenek moyang mereka telah berdosa kepada Tuhan. Karena itu saat menjalani hukuman di negeri asing, mereka bertobat dan mengharapkan adanya pemulihan. Pemulihan tak akan dialami bila pengakuan tidak dilangsungkan. Diakuilah bahwa mereka pun banyak dosa dan dihukum Tuhan karena  bersalah. Pengakuan merupakan kelanjutan dari adanya kesadaran atas kesalahan yang sudah dilakukan. Sadar melakukan kesalahan, mengakui dosa, bertobat, mohon pengampunan dan akhirnya minta Tuhan pulihkan. Setiap orang dapat bersalah, namun tetap terbuka kemungkinan baginya untuk mengalami keselamatan. Keselamatan akan terus Tuhan karyakan bagi umat atau kawanan domba gembalaan-Nya. Tetaplah senantiasa bersyukur dan pujilah nama-Nya yang kudus sebab Ia baik. Berkat Tuhan tersedia bagi semua orang yang mengharapkan pemulihan-Nya.

Doa: Terpujilah Tuhan Penyelamat yang memulihkan kami. Amin

Selasa, 22 November 2022                            

bacaan : Mazmur 40 : 5 – 11 

4 (40-5) Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! 5 (40-6) Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung. 6 (40-7) Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. 7 (40-8) Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; 8 (40-9) aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." 9 (40-10) Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN. 10 (40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Kita Sudah Diselamatkan Tuhan

Kita yang sudah diselamatkan Tuhan, terpanggil untuk hidup dengan cara yang unik. Pertama-tama cara yang unik itu adalah hidup dalam kebahagiaan. Kebahagiaan ditandai dengan diletakkannya kepercayaan kepada Tuhan, tidak berpaling kepada orang angkuh dan mereka yang hidup dalam kesombongan. Kebahagiaan atau berkat diberikan kepada mereka yang percaya kepada Tuhan dan tidak angkuh atau sombong. Nas ini menjelaskan ukuran kebahagiaan yang unik dan  sederhana sekali. Kebahagiaan ternyata adalah urusan percaya Tuhan dan hidup dengan rendah hati. Inilah yang menjadi keutamaan bagi kita yang sudah diselamatkan Tuhan. Hal lain seperti harta, kecantikan, jabatan, nama besar dan yang lainnya adalah unsur tambahan saja. Kita dimiinta untuk percaya kepada Tuhan, bukan yang lain dan hidup dengan rendah hati. Kedua, menjalani hidup dengan berpegang teguh pada prinsip ketaatan sejati. Mari kita perhatikan dengan cermat ayat 7 nas hari ini. Walaupun kurban adalah bagian yang tetap dalam ibadat di Bait Allah, namun maknanya tidaklah lebih penting dari ketaatan sejati. Ketaatan sejati bukan sekadar upacara keagamaan. Ketaatan sejati adalah perihal hanya percaya kepada Tuhan, menyesali dosa dengan sungguh, dan hidup sesuai kehendak Tuhan. Tanda ketiga orang yang sudah diselamatkan adalah menyaksikan kebesaran Tuhan dalam hidup-Nya. Kiranya kita dilayakkan untuk terus hidup sebagai orang-orang yang telah Tuhan selamatkan.

Doa: Ya Tuhan tolonglah kami agar mampu hidup sesuai kehendak-Mu. Amin  

Rabu, 23 November 2022                             

bacaan : Mazmur 40 : 12 – 18

11 (40-12) Engkau, TUHAN, janganlah menahan rahmat-Mu dari padaku, kasih-Mu dan kebenaran-Mu kiranya menjaga aku selalu! 12 (40-13) Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah. 13 (40-14) Berkenanlah kiranya Engkau, ya TUHAN, untuk melepaskan aku; TUHAN, segeralah menolong aku! 14 (40-15) Biarlah mendapat malu dan tersipu-sipu mereka semua yang ingin mencabut nyawaku; biarlah mundur dan kena noda mereka yang mengingini kecelakaanku! 15 (40-16) Biarlah terdiam karena malu mereka yang mengatai aku: "Syukur, syukur!" 16 (40-17) Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: "TUHAN itu besar!" 17 (40-18) Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku. Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku, ya Allahku, janganlah berlambat!

Tuhan itu Besar

Mazmur 40 memberitakan tentang pengalaman pemazmur yang mengalami kebesaran Tuhan saat hidupnya dirundung berbagai masalah. Kebesaran Tuhan justeru dirasakan pemazmur selama menjalani masa hidup yang sulit. Hidup pemazmur tidaklah mudah karena yang pertama dikepung malapetaka dan dikejar kesalahan. Kebesaran Tuhan diyakininya dan ia bermohon: janganlah menahan rahmat-Mu dari padaku, kasih-Mu dan kebenaran-Mu kiranya menjaga aku selalu! Malapetaka dan kesalahan dihadapi dan diatasinya dengan memohon rahmat, kasih, dan kebenaran Tuhan. Ia tidak bersungut, tawar hati, membantah atau mempersalahkan apa-apa serta siapa-siapa. Situasi sulitnya diatasi dengan mengandalkan kebesaran Tuhan. Rahmat, kasih, dan kebenaran Tuhan meluputkan pemazmur dari malapetaka dan kesalahan. Kedua, hidup pemazmur menjadi sukar karena perbuatan orang lain. orang lain merancang kecelakan bagi diri pemazmur, namun tak berhasil. Ia mengalami hidup yang sulit karena perbuatan orang lain. Tuhan itu besar dan mendengar permohonan pemazmur untuk membuat semua orang yang jahat kepadanya malu mundur dan kena noda. Ketiga, pemazmur mengalami hidup yang sengsara dan miskin. Walau demikian hidupnya, pemazmur meyakini bahwa Tuhan pasti memperhatikan, menolong, dan meluputkan dirinya dengan segera. Kita belajar tentang adanya fakta hidup mengguncang. Banyak hal buruk dapat hadir dan mengguncang hidup silih berganti. Masa hidup yang sulit tak mudah dijalani tapi dapat teratasi karena Tuhan mendekat dengan kasih-Nya. Ia menjaga, melepaskan, menolong, memulihkan, dan memperhatikan.

Doa: Ya Tuhan anugerahkanlah selalu kebesaran-Mu bagi kami. Amin.

Kamis, 24 November 2022                         

bacaan : Mazmur 50 : 22 – 23

22 Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan. 23 Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya."

Hati yang Setia, Bersyukur dan Jujur

Bacaan hari ini berisi catatan pembetulan terhadap salah paham umat Tuhan saat mereka mempersembahkan kurban. Mereka berpikir bahwa Allah memerlukan kurban untuk mendapatkan makanan (lihat pasal 50:8-13). Pandangan ini keliru dan perlu diperbaiki. Tuhan menghendaki hati yang setia, bersyukur dan jujur. Mempersembahkan kurban memang merupakan salah satu ketantuan dalam peribadatan dan karena itu harus dipenuhi. Namun, makna kurban tak boleh dibatasi secara material semata. Kurban yang dipersembahkan itu justeru bermakna bila hati orang yang mempersembahkannya “bersih”. Hati yang “bersih” berdampak positif bagi dimilikinya cara hidup yang benar. Kurban yang dipersembahkan kepada Tuhan haruslah berasal dari kehidupan yang berkenan pada Tuhan. Kurban tak boleh dipisahkan dari hidup orang yang mempersembahkannya. Bila kurban dipersembahkan oleh orang yang hidupnya berkenan pada Tuhan, maka terpenuhilah maksud ungkapan: ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati bersumber dari hati yang setia, bersyukur dan jujur. Oleh sebab itu hidup yang benar ditandai dengan perilaku setia, bersyukur dan jujur. Kesetiaan harus diaktakan dalam hidup ini agar kita terluput dari ancaman atau mengalami penghukuman. Orang yang mempersembahkan syukur sebagai kurban, memuliakan Tuhan. Muliakanlah Tuhan dengan hidupmu dan bersyukurlah senantiasa. Ingatlah siapa yang jujur jalannya, akan melihat keselamatan dari Tuhan. Kita memang harus mengupayakan pemenuhan kebutuhan fisik selama hidup di dunia ini. Karena itu peliharalah hati agar tetap bersih sehingga hidup kita berkenan pada Tuhan.

Doa: Bapa, berilah kepada kami hati yang setia, bersyukur, dan jujur. Amin.

Jumat, 25 November 2022                               

bacaan : Mazmur 18 : 4 – 20

3 (18-4) Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku. 4 (18-5) Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, 5 (18-6) tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. 6 (18-7) Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. 7 (18-8) Lalu goyang dan goncanglah bumi, dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh karena menyala-nyala murka-Nya. 8 (18-9) Asap membubung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya. 9 (18-10) Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya. 10 (18-11) Ia mengendarai kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin. 11 (18-12) Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya, ya, menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal. 12 (18-13) Karena sinar di hadapan-Nya hilanglah awan-awan-Nya bersama hujan es dan bara api. 13 (18-14) Maka TUHAN mengguntur di langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya. 14 (18-15) Dilepaskan-Nya panah-panah-Nya, sehingga diserakkan-Nya mereka, kilat bertubi-tubi, sehingga dikacaukan-Nya mereka. 15 (18-16) Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan, dan tersingkaplah alas-alas dunia karena hardik-Mu, ya TUHAN, karena hembusan nafas dari hidung-Mu. 16 (18-17) Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir. 17 (18-18) Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah dan dari orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku. 18 (18-19) Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN menjadi sandaran bagiku; 19 (18-20) Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku. 20

Selamat Melewati Kerasnya Hidup

Hidup yang keras pernah dialami Daud, yakni saat ia dicengkeram semua musuhnya dan dikejar Saul. Hidupnya nyaris binasa, tapi Tuhan mendekat, menolong dan menyelamatkannya. Daud menggambarkan kerasnya hidup yang menimpanya dengan ungkapan-ungkapan simbolis. Ia “dililit tali-tali maut”, “ditimpa banjir-banjir jahanam”, “dibelit tali-tali dunia orang mati”, dan terperangkap dalam “perangkap-perangkap maut”. Masalah memberatkan dan membuat hidupnya sesak. Daud tidak menyangkali atau menghindar serta melarikan diri dari masalah tapi mengakui dan menghadapinya dengan cara berseru kepada Tuhan. Ungkapan berseru kepada Tuhan menegaskan makna yang inspiratif. Pertama, akta berseru kepada Tuhan mengandung pengertian meyakini dan mengandalkan kuasa Tuhan. Kedua, berseru berarti pula melepaskan beban yang menekan dari batin agar kelegaan dimiliki. Masalah atau hidup yang keras bukanlah akhir keberadaan kita karena kasih Tuhan melebihinya. Kasih-Nya lebih kuat dari kerasnya hidup. Masalah apa pun dapat dihadapi dan diatasi bila kita meyakini pertolongan Tuhan. Tuhan akan menolong memberi kekuatan, hikmat dan jalan keluar. Ia mendengar teriak minta tolong yang disampaikan kepada-Nya. Pemazmur berkata: Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku. Pengalaman iman pemazmur ini kiranya meneguhkan kita saat menghadapi kerasnya hidup. Tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai hari penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Perempuan, banyak juga mengalami kekerasan, baik fisik, kata, ekonomi maupun seks. Tuhan tak pernah menghendaki kekerasan, maka kita pun terpanggil untuk menghentikannya.

Doa: Bapa, kiranya kami selamat melewati kerasnya hidup ini. Amin.

Sabtu, 26 November 2022                            

bacaan : Mazmur 18 : 31 – 36

30 (18-31) Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. 31 (18-32) Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita? 32 (18-33) Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; 33 (18-34) yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; 34 (18-35) yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga. 35 (18-36) Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku, kemurahan-Mu membuat aku besar.

“Berhentilah” Sejenak, Renungkan Penyertaan Tuhan

Tak dapat dipungkiri bahwa pencobaan sering datang silih berganti dalam kehidupan. Kasih dan pemeliharaan Tuhan dipertanyakan tanpa menghitung betapa banyaknya kemurahan yang tercurah dalam hidup. Mari kita simak nas hari ini yang adalah Mazmur perenungan diri. Daud melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Ia menyaksikan dan mengakui bukti penyertaan serta kehadiran Tuhan di sepanjang hidupnya. Ada baiknya bila kita meneladani sikap iman Daud. Kita telah sampai di penghujung usbuh ini bahkan bulan November hampir selesai dijalani. Mari “berhenti” sejenak, merenung dan menghitung hari-hari hidup yang telah dilalui. Ujilah apakah kita berjalan melewati jalan Tuhan yang sempurna adanya. Berjalan pada jalan Tuhan berarti hidup dengan mengasihi, rendah hati, sabar, setia, adil, jujur, benar dan bersyukur. Bila kita masih hidup sampai hari ini, maka sesungguhnya semua itu hanya karena penyertaan Tuhan. Ia menyertai kita dengan kuasa, penghiburan, kasih, perlindungan dan berkat-Nya. Sampai sudah sedemikian jauh kita menjalani keberadaan dalam kesementaraan ini, benarkah janji Tuhan yang murni itu teguh dipegang? Ia berjanji menyertai dan meluputkan serta melindungi kita. Kesusahan atau tantangan adalah kesempatan menunbuhkan dan memperteguh iman. Teruslah berharap pada-Nya sambil mengisi hari-hari hidup dengan karya dan prestasi. Tuhanlah perisai yang menganugerahkan keperkasaan sehingga kita menang dalam peperangan melawan, kebodohan, kemiskinan, tipu muslihat, dusta dan kedagingan. Teruslah jalani tanggung jawabmu dan hadapilah semua kenyataan dengan pertolongan dan penyertaan Tuhan. Jadilah kuat dan berpengharapan menuju hari esok yang gemilang.

Doa: Tuhan, kami bersyukur karena Engkau menyertai hidup ini. Amin.

*SUMBER ; SHK BULAN NOV 2022, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar