Santapan Harian Keluarga, 27 Nov – 3 Des 2022

Tema Bulanan : Meningkatkan Dan Memelihara Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Sambutlah Tuhan Yang Peduli Kepada Orang-orang Termarginal

Minggu, 27 November 2022                            

bacaan : Maleakhi 3 : 1 – 5

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. 2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. 3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. 4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah. 5 Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam.

Murnikan Hidup dan Nantikanlah Kedatangan-Nya

Hidup telah Tuhan anugerahkan untuk kita jalani menurut kehendak-Nya. Ia berkehendak agar kita hidup sebagai orang benar. Orang benar adalah mereka yang taat kepada segala hal yang Tuhan kehendaki. Kehendak Tuhan sering bertentangan dengan kesadaran dan cara pikir masing-masing orang. Sama halnya dengan kondisi yang dialami orang Israel yang baru pulang dari pembuangan di Babel. Pengalaman penderitaan yang dialami di pembuangan menjadikan banyak dari antara mereka tidak lagi peduli terhadap kehidupan moral dan iman. Mereka merasa bukan lagi menjadi umat yang dikasihi dan dipilih Tuhan karena telah mengalami penderitaan di Babel. Sikap apatis terhadap iman dan moral inilah yang membuat mereka jauh dari hidup kudus dan murni di hadapan Tuhan. Kondisi hidup yang demikian tidak lantas membuat Tuhan hadir sebagai Penghancur. Tuhan tidak ingin menghancurkan umat-Nya yang berdosa ini. Ia ingin umat-Nya bertobat, meninggalkan ketidak-kudusan dan memurnikan hidup mereka. Itulah sebabnya kedatangan dan karya Tuhan dikisahkan seperti tukang pemurni logam dan tukang penatu (ayat 2). Tukang pemurni logam bukan menghancurkan logam, melainkan memurnikannya. Tukang penatu bukan membakar baju, melainkan mencuci yang kotor. Memasuki Minggu adven I ini kita diajak untuk lebih mengasah kemurnian hidup  agar mampu meningkatkan  dan menjaga kualitasnya. Kita diminta menyambut kelahiran Yesus dengan menyiapkan hati yang baru. Sambutlah Yesus, Tuhan dan penyelamat dunia dengan pertobatan dan hati yang murni. Jadilah hamba Allah dan tetaplah berbuat baik, kasihilah saudaramu dan hormatilah semua orang.

Doa: Tuhan, layakkanlah kami untuk menantikan kedatangan-Mu. Amin.

Senin, 28 November 2022                                     

bacaan : Amsal 14 : 31

31 Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Memanusiakan Setiap Orang Lemah

Menghina orang lain jelas sama artinya dengan kita menghina Tuhan dan karya-Nya. Bahkan dengan jelas menghina akan pribadi Tuhan sendiri. Amsal 14:31 mengingatkan bahwa kaum lemah orang-orang miskin, orang sakit, orang tertindas, orang terpinggirkan, dan lain sebagainya adalah fokus keprihatinan Tuhan, sehingga setiap sikap kita terhadap mereka Tuhan perhitungkan sebagai sikap kita kepada Tuhan sendiri (menghina Sang Pencipta, atau memuliakan-Nya). Semua bentuk penindasan terhadap kaum lemah adalah tindakan yang tidak manusiawi dan itu adalah perbuatan menghina Sang Pencipta. Memang, tidak sedikit orang yang dengan tulus mengasihi kaum lemah. Orang yang penuh kasih melihat orang lemah sebagai sesama yang rindu dikasihi, dan sungguh berupaya untuk menolong orang-orang lemah. Namun, tidak sedikit juga orang yang melihat kaum lemah sebagai bukan sesama, sebagai bukan manusia, melainkan sebagai peluang untuk dimanfaatkan atau sebagai alat untuk dikorbankan demi keinginan pribadi. Ketika orang lemah dipandang sebagai alat untuk meraih keinginan, mereka dianggap bukan manusia, diperlakukan bagai bukan manusia, hingga mereka seakan menjadi bukan manusia. Namun, ketika orang lemah dilihat sebagai sesama yang rindu dicintai, sikap kepada orang lemah menjadi manusiawi: penuh hormat dan cinta. Ketika orang lemah dimanusiakan, diperlakukan manusiawi, mereka mengalami menjadi benar-benar manusia. Amsal 14:31 mengajak kita untuk tulus menghormati dan mengasihi kaum lemah, memperlakukan mereka secara manusiawi, memanusiakan mereka, dengan demikian kita akan mampu menjaga kualitas hidup satu dengan yang lain.

Doa: Tuhan tolonglah kami, agar selalu memuliakan segala ciptaan-Mu. Amin.

Selasa, 29 November 2022                       

bacaan : Keluaran 23 : 10 – 11

10 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya, 11 tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.

Kepedulian Menjamin Kelanjutan Hidup

Manusia diciptakan dengan akal dan kemampuan untuk mengetahui berbagai macam hal. Dunia ini juga diciptakan dengan berbagai hukum serta aturan-aturan yang harus diikuti. Manusia  dituntut pula untuk secara sosial mampu bersosialisasi dan menjalin hubungan baik satu dengan yang lain. Selain itu, kita kenal juga hukum Tuhan. Ada hari yang ditetapkan untuk bekerja, ada untuk beristirahat. Adanya peraturan tentu akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Keluaran 23:10-11 mengisahkan tentang peraturan yang dikenal dengan sebutan Tahun Sabat. Peraturan tentang Tahun Sabat menegaskan maksud Tuhan untuk ditaati oleh bangsa Israel. Bangsa Israel diperintahkan untuk selama enam tahun boleh menabur di tanah mereka dan mengumpulkan hasilnya, tetapi pada tahun ketujuh, mereka harus membiarkannya begitu saja. Maksudnya adalah agar orang miskin di antara mereka dapat makan, dan yang ditinggalkan itu dibiarkan untuk dimakan juga oleh binatang hutan. Peraturan tentang Tahun Sabat menegaskan paham teologi kepedulian. Kepedulian Allah menjamin kelanjutan keberadaan atau hidup ciptaan-Nya. Orang miskin dipedulikan demkian juga tanah dan binatang hutan. Tindakkan peduli akan keberadaan dan hidup ciptaan Tuhan, amat penting dan karena itu harus diatur dalam suatu peraturan. Peraturan diberikan untuk ditaati agar keberadaan dan hidup dapat berlanjut. Kelanjutan hidup bersama sebagai ciptaan dimungkinkan dengan tindakkan peduli. Alam dilestarikan bukan dikeruk habis-habisan. Orang miskin dikasihi karena kerelaan memberi dari hasil usaha. Binatang terpelihara karena dipedulikan manusia. Kepedulian menjamin kelangsungan keberadaan dan hidup seluruh ciptaan.

Doa: Bapa, mampukan kami untuk peduli  agar hidup terus berlanjut. Amin.

Rabu, 30 November 2022                                 

bacaan : Lukas 7 : 36 – 50

Yesus diurapi oleh perempuan berdosa
36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." 40 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." 41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" 43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." 44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." 48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." 49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" 50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

Yesus Peduli dan Dipedulikan

Bulan ini kita akhiri dan syukuri sambil merayakan minggu Advent I. Masa penantian ini berlangsung sejalan dengan upaya meningkatkan penghayatan iman. Penghayatan iman kita tingkatkan dengan menyimak makna kisah Yesus diurapi oleh perempuan berdoda, sebagaimana dikisahkan dalam injil Lukas 7:36-50. Kisah ini menyajikan cerita yang bertemakan kepedulian timbal balik. Yesus peduli kepada Simon seorang Farisi dan perempuan berdosa, demikian sebaliknya dipedulikan mereka. Simon mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Peristiwa ini dapat dipahami sebagai wujud kepedulian Simon kepada Yesus. Tindakkan Yesus yang hadir di rumah Simon adalah wujud kepedulian-Nya atas hidup orang itu. Simon peduli dan kepeduliannya membuka ruang bagi berlangsungnya kepedulian Yesus. Simon belum memahami siapa Yesus sesungguhnya dan oleh sebab itu ia ditolong. Yesus menolong Simon dengan mengajaknya memahami pesan di balik kisah dua orang yang berhutang. Yesus peduli dengan hidup Simon dan mengubah pemahaman kelirunya sehingga dapat memahami bahwa Yesus berkuasa mengampuni dosa. Selain itu, sikap Yesus yang membiarkan perempuan berdosa menghampiri dan meminyaki kaki-Nya adalah ekspresi kepedulian ilahi atas hidup orang berdosa. Tindakkan kepedulian timbal balik antara Yesus, Simon dan perempuan berdosa menegaskan sikap memberi yang terbaik. Simon sudah memberi yang terbaik dan Yesus menganugerahkan pengertian yang tepat tentang karya seamat-Nya. Demikian pun perempuan berdosa ia telah memberi yang terbaik dan anugerah yang diterimanya adalah pengampunan dosa. Memberi yang terbaik adalah wujud sempurna kepedulian.

Doa: Mampukanlah kami untuk selalu tulus dalam melayani-Mu. Amin.

Kamis, 01 Desember 2022

Bacaan : Markus 1 : 40 – 45

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."
Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."
Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:
"Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."
Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Ia Mau dan Sanggup Memulihkan

Kita telah diperkenankan Tuhan menjalani hidup di hari pertama bulan terakhir tahun ini. Peluang sudah terbuka dan perlu disambut dengan kesadaran bahwa kita akan terus pula bergumul untuk mengatasi berbagai masalah, misalnya kesehatan. Kita tentu pernah mendengar berbagai kesaksian penyembuhan terhadap suatu penyakit, yang biasanya disebut mujizat. Bacaan hari ini pada hakikatnya menyaksikan tentang tindakkan Yesus yang mengadakan mujizat. Seseorang yang tubuhnya dipenuhi dengan penyakit kusta, datang kepada Yesus dan meminta untuk disembuhkan. Pandangan dan perlakukan terhadap penderita kusta telah berakar dalam budaya Yahudi. Penyakit kusta dipahami sebagai kutukan Tuhan, manusia tidak dapat menyembuhkannya, dan penderitanya dijauhi orang (Bil. 12:10-16). Penderita kusta harus memakai pakaian yang tercabik-cabik, dengan rambut terurai, menutupi wajah dan mengatakan bahwa dirinya najis. Penderita kusta menderita baik secara fisik, psikis maupun sosial. Fakta sebaliknya justeru diperlihatkan penulis Markus. Orang kusta bisa datang kepada Yesus dan meminta apabila Yesus bersedia maka ia ingin disembuhkan. Hati Yesus tegerak oleh belas kasihan dan bersedia menyembuhkannya. Hari ini merupakan hari peringatan AIDS sedunia. Penyakit dimana hingga saat ini para penderitanya masih distigma sebagai orang-orang yang mendapat kutukan. Yakinilah akan kuasa dan kepedulian Yesus yang besar itu. Ia datang untuk mengasihi dan memulihkan semua orang dalam keadaan apa pun mereka. Jalanilah hari hidup di minggu dan bulan ini sambil meyakini kuasa dan belas kasihan Yesus. Yesus pasti memberi pertolongan, menyembuhkan dan memulihkan.

Doa: ya Yesus, sembuhkan dan pulihkanlah kami. Amin.

Jumat, 02 Desember 2022

Bacaan : Amsal 31 : 8 – 9

Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana.
Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.

Adil Sekalipun Berbeda

Tahun 1960-an, seorang pemudi bernama Katherine diterima bekerja di sebuah kantor bergengsi. Ia adalah satu-satunya pemudi berkulit hitam di ruang kerjanya. Kehadirannya memang menjadi hal yang aneh di mata rekan-rekan kerjanya yang berkulit putih. Karena seharusnya orang kulit hitam tidak diperkenankan bekerja di sana. Bosnya yang berwatak keras tidak terlalu mementingkan warna kulitnya, karena kepiawaian Katheriine dalam memecahkan kasus-kasus rumit mengesankannya. Kesan baiknya ternyata di kemudian hari menjadi sirna. Sebabnya adalah ia sering menemukan Katherine tidak berada di meja kerjanya. Satu ketika, si bos sudah tidak tahan lagi lalu memanggil dan meminta penjelasan dari bawahannya itu. Ia terdiam setelah mendengar penjelasan Katherine, sebab di luar dugaannya ternyata Katherine harus berjalan hampir 1 km hanya untuk ke toilet. Situasi di Amerika pada waktu itu memang memisahkan toilet orang kulit hitam dan toilet orang kulit putih. Hanya tersedia satu toilet untuk orang kulit hitam di kantor yang begitu luas. Keesokan harinya, bos ini mengeluarkan kebijakan bahwa tidak ada lagi pemisahan antara toilet kulit hitam dan toilet kulit putih. Penghargaan dan persamaan hak di antara manusa sangat perlu agar tidak ada orang yang tertindas karena ketidakadilan. Semua orang haruslah diperlakukan sama tanpa melihat ras dan status. Kehidupan membutuhkan adanya pribadi yang berani tampil membela hak hidup, sehingga tak akan ada lagi orang yang tertindas dan mengalami ketidakadilan. Mari terus menjalani minggu Advent dengan cara mengasihi dan memperlakukan semua orang secara adil, tanpa membeda-bedakan mereka.

Doa: ya Tuhan, berilah kami kemauan untuk bisa berlaku adil kepada semua orang tanpa memandang perbedaan. Amin.

Sabtu, 03 Desember 2022

Bacaan : Lukas 14 : 15 – 24

Perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih
Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.
Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.
Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.
Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.
Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.
Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.
Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.
Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."

Undangan yang Berharga, Pelayanan yang Sungguh

suatu sore, seorang pemuda bernama York mengunjungi sebuah toko jam di pusat perbelanjaan yang bergengsi. Toko ini memiliki barang mewah yang hanya mampu dibeli oleh orang-orang kaya. Penampilannya yang sederhana menjadikan York dipandang sebelah mata oleh salah seorang pelayan. Menurut pelayan ini, ia tidak akan mampu membeli barang-barang mewah di sini. Bahkan pelayan perempuan ini hendak memanggil dua penjaga keamanan untuk mengusir York dari tokohnya. Namun seorang pelayan lain dengan segera meredakan situasi dan melayani York dengan sepenuh hati. Ia tidak memandang York sebelah mata hanya karena penampilannya yang terlalu sederhana. Menurutnya, kepuasan pelanggaan adalah yang terpenting. Terlepas pelanggan itu membeli atau tidak, pelayanan harus tetap dilakukan. Pemuda yang terlihat biasa saja itu ternyata membeli jam tangan edisi terbatas dan termahal dari semua koleksi jam tangan yang terpanjang di toko tersebut. Manusia biasanya pandai membuat perhitungan. Bila seseorang diminta masuk ke dalam kerajaan Allah, maka besar kemungkinan akan disetujui. Sebaliknya bila diminta menjadi pelayan untuk melayani banyak orang, maka besar pula kemungkinan tidak disetujui. Pasalnya hanya orang-orang dengan status tertentu yang membawa keuntungan tersendiri apabila dilayani dengan baik. Sementara orang akan mencari berbagai alasan untuk tidak melayani orang-orang yang tidak terpandang. Injil Lukas menegaskan bahwa umat manusia bisa masuk ke kerajaan Allah. Namun memasuki kerajaan Allah harus juga disertai dengan pelayanan secara sungguh-sungguh seperti yang Yesus lakukan. Ia melayani orang-orang yang tidak terpandang sama sekali. Maka, layanilah semua orang dengan penuh rasa kasih sayang.

Doa: Ajarlah kami untuk melayani semua orang dengan sepenuh hati. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN NOV-DES 2022, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar