Tema Bulanan : Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan
Tema Mingguan : Gereja Yang Setia, Menjadi Kuat
Minggu, 15 Januari 2023
bacaan : Yosua 24 : 1 -28
Pembaruan perjanjian di Sikhem Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. 2 Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. 3 Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya. 4 Kepada Ishak Kuberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedang Yakub serta anak-anaknya pergi ke Mesir. 5 Lalu Aku mengutus Musa serta Harun dan menulahi Mesir, seperti yang Kulakukan di tengah-tengah mereka, kemudian Aku membawa kamu keluar. 6 Setelah Aku membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dan kamu sampai ke laut, lalu orang Mesir mengejar nenek moyangmu dengan kereta dan orang berkuda ke Laut Teberau. 7 Sebab itu berteriak-teriaklah mereka kepada TUHAN, maka diadakan-Nya gelap antara kamu dan orang Mesir itu dan didatangkan-Nya air laut atas mereka, sehingga mereka diliputi. Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang Kulakukan terhadap Mesir. Sesudah itu lama kamu diam di padang gurun. 8 Aku membawa kamu ke negeri orang Amori yang diam di seberang sungai Yordan, dan ketika mereka berperang melawan kamu, mereka Kuserahkan ke dalam tanganmu, sehingga kamu menduduki negerinya, sedang mereka Kupunahkan dari depan kamu. 9 Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan orang Israel. Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu. 10 Tetapi Aku tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga iapun memberkati kamu. Demikianlah Aku melepaskan kamu dari tangannya. 11 Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. 12 Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu. 13 Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. 14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. 15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" 16 Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! 17 Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui, 18 TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita." 19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: "Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu. 20 Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu." 21 Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: "Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah." 22 Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya." Jawab mereka: "Kamilah saksi!" 23 Ia berkata: "Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel." 24 Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: "Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan." 25 Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem. 26 Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN. 27 Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu." 28 Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya.
Beribadah Dengan Tulus Ikhlas dan Setia
Yosua berpidato kepada suku-suku Israel untuk terakhir kalinya di Sikhem. Pidato ini merupakan pidato perpisahan sebab ia sudah tua dan perlu mengingatkan kembali perjanjian yang dibuat Allah dengan bangsa Israel. Kita tahu bahwa sejarah umat Allah dimulai dengan peristiwa pemanggilan Abraham. Kisah ini berlangsung di seberang sungai Efrat dan pada waktu itu Terah, ayah Abraham beribadah kepada allah lain. Abraham dipanggil keluar dari situ dan disuruh ke Kanaan. Tuhan memberkati dan menyertai keturunan Abraham. Bangsa ini Tuhan bebaskan juga dari perbudakan di Mesir, memelihara mereka di padang gurun dan hentar masuk tanah Kanaan. Oleh sebab itu, Yosua meminta bangsa Israel untuk takut akan Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Kesetiaan mereka kepada Tuhan tidak boleh berubah dan harus dibuktikan melalui akta pembaruan janji. Janji bahwa Tuhan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat Tuhan, tidak boleh berubah. Kesetiaan sangat penting dalam suatu ikatan perjanjian. Kita pun hidup dengan berbagai perjanjian. Janji sebagai suami-isteri, orang tua dan saksi baptis, pelayan, aparatur negara, melunasi hutang, bekerja keras menghidupi rumahtangga, belajar dengan rajin, bahkan antara dua orang yang saling mencintai dll. Berusahalah untuk tidak melupakan janji dan tetaplah setia. Janji tidak bisa diwakili, harus diaktakan sendiri oleh pihak yang bersepakat dan harus dilakukan dalam kesadaran serta kebebasan, tanpa paksaan. Sebaiknya setiap orang menjadi saksi bagi dirinya sendiri. Selain janji-janji tadi, yang paling utama adalah janji untuk beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan setia. Hindarilah untuk percaya dan mengandalkan kuasa lain. Bila kita berubah setia, maka risiko tak mungkin dihindari. Setialah dalam segala hal sebab itulah yang Tuhan kehendaki. Kehidupan orang yang setia selalu berkenan, baik di hadapan manusia maupun Tuhan serta diberkati.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menjadi umat-Mu yang setia. Amin
Senin, 16 Januari 2023
bacaan : 2 Tawarikh 31 : 11 – 21
11 Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya. 12 Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana. Konanya, seorang Lewi, mengawasi semuanya, dan Simei, saudaranya, adalah orang kedua, 13 sedang Yehiel, Azazya, Nahat, Asael, Yerimot, Yozabad, Eliel, Yismakhya, Mahat dan Benanya adalah penilik di bawah Konanya dan Simei, saudaranya itu, sesuai dengan petunjuk raja Hizkia dan Azarya, kepala rumah Allah. 14 Dan Kore bin Yimna, seorang Lewi, penunggu pintu gerbang di sebelah timur, mengawasi pemberian-pemberian sukarela untuk Allah, serta membagi-bagikan persembahan khusus yang untuk TUHAN dan persembahan-persembahan maha kudus. 15 Di kota-kota imam ia dibantu dengan setia oleh Eden, Minyamin, Yesua, Semaya, Amarya dan Sekhanya dalam pembagian itu kepada saudara-saudara mereka menurut rombongan, kepada orang dewasa dan anak-anak, 16 kecuali kepada setiap orang yang masuk ke rumah TUHAN, menurut hari-hari yang ditetapkan, menurut tugas jabatan yang ditugaskan kepadanya, dan menurut rombongannya, yakni mereka yang tercatat dalam daftar sebagai laki-laki yang berumur tiga tahun ke atas. 17 Para imam dicatat dalam daftar menurut puak-puak mereka, sedang orang-orang Lewi yang berumur dua puluh tahun ke atas dicatat menurut tugas dan rombongan mereka. 18 Para imam terdaftar dengan seluruh keluarga mereka, yakni isteri, anak laki-laki dan perempuan, seluruh kaum itu, karena dengan setia mereka menguduskan diri untuk persembahan kudus. 19 Bagi keturunan Harun, yakni imam-imam, yang tinggal di padang-padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka, di setiap kota ada orang-orang yang ditunjuk dengan disebut namanya, untuk mengadakan pembagian kepada setiap orang laki-laki dari keluarga imam dan kepada setiap orang Lewi yang terdaftar. 20 Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. 21 Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.
Setia Memberi dan Melayani
Raja Hizkia melaksanakan reformasi keagamaan di Israel dan sasarannya adalah peningkatan kualitas pelayanan di Bait Suci. Konkritnya, ia mengatur sumbangan untuk para imam dan orang Lewi. Umat diminta memberi persembahan dan mereka membawanya langsung ke Bait Suci. Tindakan Hizkia ini berdampak positif dalam bidang peribadatan atau pelayanan. Peningkatan kualitas pelayanan ditentukan oleh peran serta atau keterlibatan umat dan pelayan. Semakin besar partisipasi semua komponen, semakin besar pula kualitas pelayanan. Umat memberi dari apa yang ada pada mereka dan pelayan melayani dengan tekun, tulus, setia dan rendah hati. Sesungguhnya pelayanan para pelayan juga bermakna memberi. Jadi rahasia keberhasilan pelayanan adalah semuanya memberi dengan setia. Memberi pada prinsipnya berdasar pada apa yang ada, rela, langsung dan dimanfaatkan bagi peningkatan kualitas pelayanan. Kita memiliki bukan saja materi tapi juga hal lain. Bila yang ada pada kita adalah materi, maka berikanlah materi. Jika tidak tersedia materi berikanlah yang lain. Peningkatan kualitas pelayanan ditentukan oleh kesetiaan dan kerelaan kita semua memberi doa, masukan, pertimbangan dan kritik. Bahkan akta memberi harus pula berlangsung baik dalam keluarga maupun jemaat dan masyarakat. Mari saling beri senyum tulus agar kita tidak hidup dalam relasi, kedekatan dan kebersamaan yang tegang serta saling curiga. Bila itu tergantung pada kita, berilah maaf dan pengampunan. Janganlah menahan maaf dan pengampunan, sebab tak ada seorang pun dari kita yang tidak ada salahnya. Hiduplah dalam pengampunan karena kita pun telah diampuni Allah. Demkianlah hidup ini dijalani sebagai kesempatan untuk memberi atas dasar apa yang ada pada kita. Kita memberi dan melayani dengan setia, baik dalam keluarga, gereja maupun masyarakat. Kesetiaan memberi dan melayani adalah pilihan cerdas menguatakan gereja.
Doa: layakanlah kami Bapa untuk tetap setia memberi dan melayani. Amin
Selasa, 17 Januari 2022
bacaan : 2 Raja-raja 2:1-18
Elia naik ke sorga Menjelang saatnya TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal. 2 Berkatalah Elia kepada Elisa: "Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Betel." Tetapi Elisa menjawab: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu pergilah mereka ke Betel. 3 Pada waktu itu keluarlah rombongan nabi yang ada di Betel mendapatkan Elisa, lalu berkatalah mereka kepadanya: "Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?" Jawabnya: "Aku juga tahu, diamlah!" 4 Berkatalah Elia kepadanya: "Hai Elisa, baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Yerikho." Tetapi jawabnya: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu sampailah mereka di Yerikho. 5 Pada waktu itu mendekatlah rombongan nabi yang ada di Yerikho kepada Elisa serta berkata kepadanya: "Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?" Jawabnya: "Aku juga tahu, diamlah!" 6 Berkatalah Elia kepadanya: "Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan." Jawabnya: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu berjalanlah keduanya. 7 Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungai Yordan. 8 Lalu Elia mengambil jubahnya, digulungnya, dipukulkannya ke atas air itu, maka terbagilah air itu ke sebelah sini dan ke sebelah sana, sehingga menyeberanglah keduanya dengan berjalan di tanah yang kering. 9 Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu." 10 Berkatalah Elia: "Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi." 11 Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. 12 Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan. 13 Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan. 14 Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: "Di manakah TUHAN, Allah Elia?" Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa. 15 Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: "Roh Elia telah hinggap pada Elisa." Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah. 16 Mereka berkata: "Coba lihat! Di antara hamba-hambamu ini ada lima puluh orang laki-laki, orang-orang tangkas. Biarlah mereka itu pergi mencari tuanmu, jangan-jangan ia diangkat oleh Roh TUHAN dan dilemparkan-Nya ke atas salah satu gunung atau ke dalam salah satu lembah." Elisa menjawab: "Janganlah suruh pergi!" 17 Tetapi ketika mereka mendesak-desak dia sampai memalukan, maka berkatalah ia: "Suruhlah pergi!" Mereka menyuruh lima puluh orang. Orang-orang ini mencari tiga hari lamanya, tetapi tidak bertemu dengan Elia. 18 Ketika mereka kembali kepada Elisa yang masih tinggal di kota Yerikho, berkatalah ia kepada mereka: "Bukankah telah kukatakan kepadamu: Jangan pergi?"
Setia Menjaga Soliditas
Albert Camus, Filsuf asal Prancis mengatakan : “jangan berjalan di belakangku, aku tak akan memimpin. Jangan berjalan di depanku, aku tak akan mengikutimu. Cukup berjalan di sampingku dan jadilah sahabat.” Kalimat berhikmat ini seperti hendak menceritakan pula kebersamaan Elia dan Elisa. Berkali-kali dalam cerita ini dikisahkan perjalanan bersama yang mereka tempuh. Elia tahu bahwa waktunya untuk pergi ke dalam keabadian sudah dekat. Berulang-kali Elia meminta kepada Elisa untuk tetap tinggal, namun Elisa tidak bersedia. Elisa terus mengikuti Elia dengan setia atas dasas kesadaran dan keyakinan bahwa kebersamaan mereka merupakan kekuatan bagi pekerjaan pelayanan ke depan. Mereka adalah partner yang harus selalu solid. Soliditas mereka nampak pada sikap saling mengerti kebutuhan yang diperlukan untuk pelayanan. Karena itu atas perkenaan Tuhan, Elia membagikan kuasa yang ada padanya untuk Elisa. Hasilnya Elisa dapat melakukan hal yang sama dengan Elia yakni membelah sungai Yordan. Hal ini berarti bahwa kesetiaan tidak hanya nampak pada tindakan berjalan bersama-sama, namun juga harus terjadi pada sharing atau berbagi kekuatan/potensi yang berguna bagi pelayanan. Kita adalah gereja oleh sebab itu sebagai umat dan pelayan hendaknya tetap setia melakukan panggilan pelayanan. Seiring dengan kesetiaan itu, kita bertanggung jawab pula untuk setia menjaga relasi sebagai kawan sekerja. Keterlibatan kita dalam pelayanan sebagai tim, panitia atau pengurus tidak hanya membutuhkan kerelaan kita untuk melayani tapi juga kesediaan kita untuk tetap solid melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Kita diminta untuk menjalani panggilan pelayanan dalam keutuhan dan kesetiaan seumur hidup.
Doa : Berkatilah kami Tuhan untuk tetap solid dalam kerja-kerja pelayanan. Amin
Rabu, 18 Januari 2023
bacaan : Rut 1 : 15 – 22
15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu." 16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 17 di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" 18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya. 19 Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: "Naomikah itu?" 20 Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. 21 Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku." 22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.
Rut, Perempuan Moab Yang Setia
Inilah kisah tentang relasi kesetiaan antara mertua dan menantu, yakni Naomi dan Rut. Mereka berdua tetap setia saat hidup di tempat asing dan mengalami kehilangan orang terkasih. Naomi seorang perempuan Betlehem yang mengikuti Elimelekh suaminya ke Moab. Sedangkan Rut perempuan yang berasal dari Moab, mengikuti Naomi mertuanya pulang ke Betlehem. Latar kehidupan mereka berdua adalah kesusahan. Naomi pergi bersama Elimelekh ke Moab karena kelaparan di Betlehem kemudian ditinggal mati oleh suami dan anak-anak mereka, yakni Mahlon dan Kilyon. Pengalaman penderitaanlah yang menjadi alasan ia menggantikan namanya dari Naomi menjadi Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit. Fakta serupa dialami juga oleh Rut, suaminya meninggal dan rela mengikuti Naomi pulang ke Betlehem, suatu negeri yang asing baginya. Naomi pernah menjadi orang asing di Moab dan Rut karena kesetiaanya, datang sebagai orang asing di Betlehem. Naomi mengalami kehilangan suami dan anak-anak di negeri asing dan Rut dalam kehilangan suami menjadi orang asing di Betlehem. Rut adalah perempuan yang setia terhadap mertuanya Naomi, seorang janda Israel. Kesetiaan dalam penderitaan bukanlah tindakan tanpa makna. Perempuan Moab ini mengaktakan “kesetiaan walaupun bukan karena”. Ia tetap setiap walaupun telah kehilangan suaminya dan harus pergi ke negeri asing. Rut bukanlah perempuan yang setia karena ada apa-apa. Sekalipun ia mengalami kehilangan dan ketiadaan, namun tetap setia. Demikianlah nantinya Tuhan berkenan menjadikan perempuan setia ini sebagai nenek raja Daud dan dari keturunan mereka terlahir Yesus Sang Juruselamat.
Doa: Tuhan, tolomglah kami untuk menjadi gereja yang setia dan kuat. Amin.
Kamis, 19 Januari 2023
bacaan : Matius 24 : 45 – 51
Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat
45 "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? 46 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. 48 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: 49 Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, 50 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, 51 dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."
Hamba Yang Setia Dan Bijaksana
Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan. Ajaran tentang Kerajaan Allah yang sedang datang diumpamakan dengan hamba yang setia dan hamba yang jahat. Ingatlah bahwa baik atau buruknya seseorang terlihat pada tindakannya. Pesan perumpamaan ini merupakan panggilan agar kita selayaknya menjalani hidup seperti hamba yang setia dan bijaksana. Hendaklah kiranya ciri hamba yang setia dan bijaksana dijadikan pedoman hidup. Ciri hamba itu adalah bertanggung jawab melaksanakan semua peran atau tugas, sabar, tekun, tahu membedakan baik-buruk serta memilih yang baik, komitmen tidak berubah dan pada akhirnya mendapat hadiah bukan hukuman. Jadilah setia dan bijak karena kita adalah anak-anak kerajaan Allah. Orang percaya harus menjalani hidup sehari-hari dengan prinsip kebaikan bukanlah kejahatan. Peran atau tugas adalah pemberian Tuhan yang harus dilaksanakan dengan setia dan bijaksana. Yesus berkehendak agar semua orang percaya berhasil melaksanakan apa pun peran atau tugas selama ia hidup. Kita memiliki peran dan tanggung jawab baik selaku pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Kesetiaan dan kebijaksanaan menjadikan kita kuat dalam hidup ini. Mohonlah Roh Kudus agar berdaya menjadi setia dan bijaksana dalam menunaikan semua peran dan tanggung jawab sampai pada akhirnya. Ingatlah bahwa awal yang baik itu baik, tapi jauh lebih baik bila dapat berlangsung sampai akhir. Peran dan tanggun jawab adalah pergumulan yang dinilai secara keseluruhan di akhir setiap proses. Jadilah setia dan bijaksana agar awal yang baik dapat dipertahankan sampai pada kesudahannya. Yesus berkehendak agar kita hidup dengan inspirasi mengalami akhir yang baik, berhasil atau sukses.
Doa: Tuhan mampukan kami untuk hidup dengan setia dan bijaksana. Amin
Jumat, 20 Januari 2023
bacaan : 1 Timotius 1 : 12 – 17
Ucapan syukur atas kasih karunia Allah
12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku-- 13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. 14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. 15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. 17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.
Paulus, Utusan Kristus Yang Setia.
Kehendak, rencana dan kemurahan Allah tersedia bagi semua orang. Kebenarannya dapat ditemui pada diri Saulus yang diubah menjadi Paulus dan dipakai Allah sebagai pemberita injil. Paulus, bukan lagi Saulus karena pertobatan telah terjadi dalam dirinya. Allah berkehendak, berkuasa dan berkasih karunia mengubah dan menguatkan bahkan menganggap Paulus setia dalam pelayanan. Semua pengalaman yang dialaminya disyukurkan. Akta ungkapan syukur dari utusan Allah yang setia ini layak untuk dijadikan teladan bergereja. Bergereja berarti beriman dan dengan demikian bersyukur. Bersyukur adalah wujud kesetiaan gereja kepada Allah yang telah berkasih karunia. Hendaklah kita tetap bersyukur dalam segala hal dan keadaan, baik atau pun tidak. Bersykurlah karena Tuhan tetap menganugerahkan hidup, keluarga, pekerjaan, jabatan, alam yang berkelimpahan dengan sumber hayati, baik di darat, laut, hutan, sungai, kebun, dusun dan yang lainnya kepada kita. Teruslah menjadi orang percaya yang setia dengan cara bersykur tetapi juga belajar dari masa lampau. Ujilah pengalaman hidup, ambil yang baik dan perbaiki kesalahan. Peliharalah pengalaman yang baik sebagai harta iman dan pelajaran hidup serta bertobatlah dari yang salah. Orang percaya yang setia adalah mereka yang terus belajar memperbaiki atau meninggalkan perilaku yang berisiko. Gereja bahkan peradaban dan kehidupan menjadi lemah kalau pelayan dan umat masih malas, masa bodoh, memfitnah, mabuk, dusta, korupsi, selingkuh, menjadi pengerdar atau pemakai narkoba, serta yang lainnya. Ingatlah bahwa sebagai orang percaya kita sungguh berharga serta berkenan pada Tuhan dan karena itu Ia pasti menganugerahkan kasih karunia-Nya. Tak ada waktu terlambat, mohonlah hikmat dan pengertian dari Tuhan dan mulailah berusaha memperbaiki yang salah. Kehidupan, keluarga atau orang-orang yang disayangi dan menyayangi, berharap kita tetap ada dan berarti. Hormat dan kemuliaan bagi Raja segala zaman.
Doa: Tuhan mampukanlah kami menjadi orang percaya yang setia. Amin.
Sabtu, 21 Januari 2023
bacaan : Wahyu 2 : 8 – 11
Kepada jemaat di Smirna
8 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali: 9 Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya--dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis. 10 Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. 11 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua."
Setia Sampai Mati
Kita hendaknya belajar dari jemaat Smirna, sebab dalam penderitaan mereka tetap setia bahkan sampai mati. Jemaat Kristen di Smirna terdiri dari banyak pendatang miskin yang berasal dari Galilea dan Yudea. Mereka melarikan diri dari sana selama meletusnya pemberontakan orang Yahudi tahun 66-74. Hidup di Smirna bukanlah jaminan terbebas dari kesukaran. Masalah muncul lagi karena difitnah oleh suatu kelompok yang menyebut dirinya orang Yahudi. Kelompok ini menuduh orang Kristen sebagai sumber segala masalah dan persekutuan yang tidak setia kepada pemerintah Romawi. Hidup memang tidak mudah untuk dipahami, silih berganti penderitaan dialami dan agaknya tak ada tempat yang bebas dari kesukaran. Bila demikian halnya, maka yang diperlukan dalam hidup beriman adalah kesetiaan percaya kepada Yang Awal dan Yang Akhir. Kita mungkin saja miskin materi dan menderita secara badani, tapi bila kesetiaan percaya dimiliki, maka melimpahlah harta rohani. Hal ini tidaklah berarti bahwa kita harus mempertahankan apalagi menyuburkan kemiskinan dan penderitaan. Justeru karena kesetiaan percaya, kita menjadi berdaya untuk menghadapi situasi hidup yang sulit. Kemiskinan dan penderitaan tak bisa diatasi dengan kekuatiran, kebimbangan, keputusasaan, keraguan, menghindar dan mempersalahkan. Selain itu, kesetiaan percaya juga tetap diperlukan orang Kristen walau tidak miskin materi dan menderita badani. Apa pun kondisi hidup ini, tetaplah miliki kesetian percaya kepada Sang Alfa dan Omega itu. Yakinlah bahwa baik sekarang atau pun nanti Dia pasti memelihara hidup kita. Kiranya kita tetap miliki kesetiaan percaya supaya tidak terpisahkan dari kasih Tuhan kini dan selamanya.
Doa: Tuhan yang dapat memberikan kita jalan kebenaran dan hidup. Amin.
*SUMBER : SHK BUlan Januari 2023, LPJ-GPM