Tema Bulanan : Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan
Tema Mingguan : Gereja Yang Bersaksi, Menjadi Kuat
Minggu, 22 Januari 2022
bacaan : Yohanes 1:29-34
Yohanes menunjuk kepada Yesus
29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. 30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. 31 Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." 32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. 33 Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. 34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."
Yohanes Pembaptis Bersaksi Tentang Yesus
Sebutan “Anak Domba Allah” dipakai oleh Yohanes untuk menyebutkan diri Yesus. Ia disebut sebagai Anak Domba yang akan dibawa untuk disembelih supaya umat ditebus. Sedangkan ungkapan “Anak Allah” menunjuk pada pengertian bahwa Yesus adalah pilihan Allah untuk memerintah Israel. Kesaksian Yohanes berdasar pada apa yang dilihat, dialami dan dipahami. Penyaksi mata ini menyaksikan bahwa sekalipun dia mendahului Yesus, tapi sesungguhnya Yesus telah ada sebelumnya. Mari cermati dengan baik makna di balik kesaksian Yohanes pembaptis. Ia bersaksi tentang siapa Yesus, hubungan-Nya dengan Bapa dan apa yang dilakukan-Nya. Yesus adalah pencipta dan pemelihara. Ia memelihara semua ciptaan dengan cara menebus dan memerintah. Ada dua pelajaran yang dapat disimak dari kesaksian Yohanes pembaptis ini. Pertama, berusahalah menjadi manusia yang jujur atau tidak berbohong saat berbicara. Perkataan yang keluar adalah ekspresi iman dan oleh sebab itu seharusnya adalah suatu kebenaran. Kebenaran tak bisa dikarang atau diada-adakan dan direkayasa tanpa bukti karena harus berdasar pada apa yang dilihat, dialami serta dipahami. Baik dan bijak adanya kalau hidup ini dijalani sebagai manusia yang berkata jujur bukan pembohong. Kedua, pada dasarnya setiap perkataan adalah kesaksian tentang Tuhan kita di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Perkataan adalah kesaksian tentang Tuhan, bukanlah sarana mencari popularitas dan kepentingan diri. Memang tak ada salahnya untuk berbicara tentang kepentingan diri, hanya saja jangan sampai lupa untuk memuliakan Tuhan. Biarlah dengan semua perkataan yang kita ucapkan Tuhan dikenal, dipercaya dan dimuliakan oleh semua orang yang mendengarnya. Kiranya tidaklah terjadi, karena perkataan kita, Tuhan dipermalukan. Perkataan adalah kesaksian sehingga haruslah berarti bagi sesama dan membuat Tuhan dimuliakan.
Doa : Kami hendak menyaksikan Engkau Yesus dalam kehidupan kami setiap waktu. Amin
Senin, 23 Januari 2022
bacaan : 2 Petrus 1:16-21
Nubuat tentang kemuliaan Kristus telah digenapi
16 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. 17 Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." 18 Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. 19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. 20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, 21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.
Bersaksi Bukan Dengan Isapan Jempol
Seorang pelayan menceritakan pengalaman melayani di pulau-pulau terpencil yang jauh. Ia harus menempuh perjalanan yang panjang di laut dengan menggunakan perahu motor kecil selama berjam-jam. Sesekali ia harus menghadapi gelombang besar serta angin yang kencang. Hingga suatu ketika perahu motor yang ditumpanginya dihempaskan oleh angin kencang juga ombak dan gelombang yang besar. Ia tak berhenti berdoa dan tetap meyakini adanya pertolongan Allah saat mengalami situasi yang menakutkan itu. Ketika ia membuka mata dan melihat sekelilingnya, terbitlah dalam hati dan pikiran kesadaran bahwa Tuhan telah menyelamatkan mereka. Cerita ini menjadi kesaksian imannya yang diberitakan kepada orang lain. Ia merasa Tuhan sangat baik dan selalu dekat pada orang-orang yang tetap berharap pada-Nya. Katanya : “saya ingin orang lain bisa mengalami Tuhan dalam hidupnya sama seperti yang saya alami. Sebab setiap orang pasti punya perjalanan hidup yang sulit. Pada kondisi tersulit seperti itu, tangan kasih Tuhan pasti juga dapat dirasakan.” Ini kisah nyata bukan isapan jempol atau cerita dongeng. Petrus menegaskan pentingnya bersaksi tentang Yesus berdasarkan pengalaman bersama Yesus. Mengetahui kasih dan kuasa Yesus itu baik tapi belumlah cukup, sebab jauh lebih baik, bila kita mengalaminya dalam perintiwa nyata yang sementara digumuli. Ada banyak pengajaran tentang Kristus yang telah diperoleh orang Kristen. Namun ia hanya dapat memahami pesan pengajaran itu jika berdialektika (dialami melalui kenyataan konkrit) dengan konteks hidup dimana orang Kristen berada. Karena itu, bersaksi tidaklah cukup dengan kata-kata saja, melainkan juga melalui seluruh hidup. Bersaksilah tentang kemuliaan dan kebaikan Tuhan sebagaimana dialami dalam pengalaman beriman sehari-hari. Roh Kudus berperan untuk menuntun orang Kristen menyaksikan Tuhan yang dikenal dan dialaminya. Berserahlah pada pimpinan dan kuasa Roh Kudus.
Doa : Tuntunlah kami ya Yesus untuk menceritakan kebaikan-Mu. Amin
Selasa, 24 Januari 2023
bacaan : 2 Korintus 4:1-12
Harta rohani dalam bejana tanah Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. 2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah. 3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, 4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. 5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. 6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.
“Hidupmu Adalah Bejana Tanah Liat”
Bejana tanah liat adalah wadah yang digunakan untuk menyimpan. Paulus menggunakannya untuk menjelaskan tentang kehidupan orang Kristen. Rasul ini memahami penindasan, penganiyaan dan penderitaan lainnya sebagai fakta kehidupan orang Kristen yang karenanya kekuatan Allah dinyatakan. Selanjutnya ia katakan: “kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Pernyataan Paulus ini sekaligus menunjukkan peranan kehidupan orang Kristen untuk menyaksikan Kristus. Kesaksian tidak selamanya dilakukan dalam bentuk khotbah, pengajaran dan pendidikan, melainkan juga melalui keberadaan hidup, apa yang terjadi dan sementara dialami oleh orang Kristen. Kita tidak perlu tawar hati atau berkecil hati, patah semangat dan apatis dengan kehidupan yang berat. Sebab melalui setiap keadaan hidup, Tuhan tetap bekerja untuk menyatakan kasih dan pertolongan-Nya. Seseorang yang lemah karena penderitaan diubah menjadi kuat dan bertahan. Kuat dan bertahan serta berani untuk menghadapi penderitaan adalah berita kesaksian yang hidup tentang Kristus. Hidup yang demikian merupakan cahaya yang bersinar di tengah kegelapan manusia. Sebab menyingkapkan dan menunjukkan bahwa kehidupan seharusnya berlangsung dalam campur tangan-Nya. Paulus menyebutkan hal tersebut sebagai kebenaran yang harus disaksikan. Simaklah kisah hidup berikut ini dengan harapan kita lebih memahami ungkapan: harta dalam benjana tanah liat. Seorang ibu dengan muka yang tersenyum bercerita : “saya sudah berusia 76 tahun dan opa (suami) sudah hampir 80 tahun. Opa sakit dan harus dibantu jika ingin ke toilet. Saya juga sakit jantung dan kadang merasa lemas. Ketika anak kami pergi bekerja, saya harus mejaga opa dan memapahnya ketika ia tak dapat berjalan dengan baik. Saya bersyukur, kami masih baik-baik saja hingga saat ini. Tuhan tetap menyertai dan menolong kami. Jika bukan karena Tuhan, kami tak ada sampai saat ini.” Cerita perempuan lanjut usia ini adalah contoh kesaksian orang Kristen.
Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk memahami setiap jalan hidup kami dan menjadikannya untuk menyaksikan kemurahan-Mu. Amin
Rabu, 25 Januari 2023
bacaan : Yohanes 7:1-13
Yesus pergi ke Yerusalem untuk hari raya Pondok Daun Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. 2 Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. 3 Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: "Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. 4 Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia." 5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya. 6 Maka jawab Yesus kepada mereka: "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu. 7 Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat. 8 Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." 9 Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea. 10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. 11 Orang-orang Yahudi mencari Dia di pesta itu dan berkata: "Di manakah Ia?" 12 Dan banyak terdengar bisikan di antara orang banyak tentang Dia. Ada yang berkata: "Ia orang baik." Ada pula yang berkata: "Tidak, Ia menyesatkan rakyat." 13 Tetapi tidak seorangpun yang berani berkata terang-terangan tentang Dia karena takut terhadap orang-orang Yahudi.
Kebenaran Disembunyikan
Apakah sikap Yesus yang tidak terang-terangan (ay.10) sama dengan sikap saudara-saudara-Nya yang juga disebutkan tidak terang-terangan (ay.13)? Tentu saja tidak. Cara Yesus yang tidak terang-terangan merupakan sikap bijaksana-Nya terkait dengan situasi saat itu. Orang-orang Yahudi ingin membunuh Yesus dan bagi-Nya waktu kematian itu belum tiba. Hal demikian berbeda dengan saudara-saudara-Nya yang tak mampu berkata terang-terangan tentang Yesus. Ketidakmampuan mereka disebabkan bukan karena takut terhadap orang Yahudi namun terletak pada hal ketidakmengertian tentang siapa Yesus sesungguhnya. Mereka tidak memahami bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyaksikan kebaikan Allah melalui kehidupan-Nya. Sikap saudara-saudara Yesus yang demikian sesungguhnya menunjukkan kemiripan mereka dengan orang Yahudi dalam hal ketidakmengertian tentang Yesus. Ketidakmengertian saudara-saudara Yesus telah mengakibatkan mereka tidak berani berkata yang benar tentang Yesus di depan orang banyak. Akibat ketidakmenegrtian orang Yahudi, maka Yesus dipahami sebagai saingan yang akan mempengaruhi posisi mereka di depan umum. Ketidakmengertian memang merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi seseorang sehingga tidak mampu mengatakan atau menyaksikan kebenaran. Ketidakmengertian dalam cerita Injil-injil menunjukkan ketidakberdayaan berpikir dan memahami dengan iman tentang Yesus sebagai Raja yang datang untuk menyelamatkan. Sikap ketidakmengertian seperti ini tanpa disadari sering menjadi karakter orang Kristen. Karena itu masih ada orang Kristen yang tidak mampu menyaksikan Yesus dengan menyatakan kebenaran. Bahkan jika ada ancaman bagi dirinya, maka yang benar itu ditutupi atau dikatakan namun secara sembunyi-sembunyi. Kondisi seperti ini sangat melemahkan peran gereja (umat) untuk mengarahkan kehidupan ini menjadi baik.
Doa: Kami ingin menjadi saksi-Mu secara terang-terangan. Amin
Kamis, 26 Januari 2023
bacaan : Yohanes 8 : 12-20
Yesus adalah terang dunia
12 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." 13 Kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar." 14 Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Tetapi kamu tidak tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. 15 Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun, 16 dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku. 17 Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah; 18 Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku." 19 Maka kata mereka kepada-Nya: "Di manakah Bapa-Mu?" Jawab Yesus: "Baik Aku, maupun Bapa-Ku tidak kamu kenal. Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku." 20 Kata-kata itu dikatakan Yesus dekat perbendaharaan, waktu Ia mengajar di dalam Bait Allah. Dan tidak seorangpun yang menangkap Dia, karena saat-Nya belum tiba.
Bersaksi itu Jangan Menghakimi!
Ada ungkapan pepatah tentang menilai orang yang begini bunyinya: “jangan menilai saya dari masa lalu saya, saya tidak hidup di sana lagi”. Sebagian orang agaknya masih suka melakukan seperti yang dikatakan pepatah ini. Kesukaan untuk melihat dan membicarakan kekurangan atau keterbatasan orang lain dan hal yang berhubungan dengan masa lalu mereka, lumrah terjadi. Tapi apakah perilaku ini memberi manfaat? Tentunya tidak. Implikasi dari sikap menilai orang lain dengan masa lalunya sama dengan sikap suka menghakimi. Kedua-duanya memberi dampak negatif terhadap cara pandang bagi orang lain dan dapat mengakibatkan relasi yang kurang harmonis. Penulis Injil Yohanes mengatakan : “kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun”. Artinya bahwa tindakan menghakimi merupakan tindakan yang berdasar pada pikiran manusia yang bisa saja mengikuti keinginan, kepentingan atau tujuannya. Menghakimi orang lain merupakan sikap yang sangat dipengaruhi oleh subjektivitas seseorang. Tidak dapat dianggap benar dan baik tentang hal-hal yang dipakai oleh seseorang sebagai alasannya untuk menghakimi atau menilai seseorang. Berbeda dengan Tuhan sebagai Pencipta dan Penyelamat. Ia adalah kebenaran dan Ia yang layak menghakimi setiap orang sesuai perbuatannya. Sebab Ia tidak melakukannya sendiri, tapi bersama dengan Allah yang mengutus-Nya. Kesaksian Gereja adalah kesaksian tentang Kristus dan Bapa-Nya yang menyelamatkan setiap orang bukan kesaksian yang menghakimi karena kelemahan dan keberdosaan seeorang. Karena itu sebagai orang Kristen, kita bertanggung jawab menyaksikan kehidupan yang menerima orang lain dengan seluruh keberadaannya. Selanjutnya mendukung orang tersebut untuk lebih mengenal Allah dan membarui hidupnya. Kita dapat memulainya dari keluarga. Seorang istri tidak menghakimi suami karena kekurangannya dan kesalahannya, namun menerima dan mendukung perubahan hidup suaminya, demikian pun sebaliknya. Hal tidak menghakimi haruslah terjadi juga dalam relasi antara orang tua dan anak. Tidak saling menghakimi adalah cara bersaksi dan menjadikan gereja kuat.
Doa: Ajarkan kami Tuhan untuk tidak menghakimi. Amin
Jumat, 27 Januari 2022
bacaan : Kisah Para Rasul 8 : 14-25
14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. 18 Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, 19 serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus." 20 Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. 21 Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. 22 Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; 23 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan." 24 Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu." 25 Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.
Berdoalah Sebelum Bersaksi
Seorang pendeta senior mendapatkan pujian dari jemaat karena khotbahnya yang sangat menyentuh kehidupan jemaat. Katanya kepada mereka : “saya merasa khotbah yang saya sampaikan biasa saja, sama seperti saya menasihati jemaat yang datang dan meminta saya mendampingi mereka. Semua pekerjaan pelayanan itu dapat saya lakukan dengan baik karena saya selalu menyiapkan diri terlebih dulu sebelum melakukannya. Saya berdoa dan membaca berulang-ulang bagian Alkitab yang akan saya berikan kepada jemaat”. Doa menjadi kekuatan utama bagi sang pendeta sama seperti yang telah dilakukan oleh Petrus dan Yohanes. Mereka adalah rasul yang diutus untuk bersaksi dan memberitakan injil, namun mereka tidak melakukannya dengan menggunakan kekuatan akal budi dan kuasa manusia yang ada pada mereka, melainkan mengandalkan kuasa Tuhan. Kuasa Tuhan memampukan mereka untuk menumpangkan tangan dan Roh Kudus turun atas orang-orang Samaria. Pemahaman yang benar dari Petrus dan Yohanes tentang pelayanan yang mereka lakukan telah membuat mereka dengan tegas menolak permintaan Simon, si penyihir. Uang bukanlah tujuan pelayanan, sebab kasih karunia Allah tidak dapat dibeli oleh siapapun. Kesaksian dan pelayanan orang Kristen harus dilakukan dengan setia, bertujuan supaya orang lain lebih mengenal Allah serta memuliakan-Nya. Bukan hanya dalam gereja atau tempat-tempat ibadah, tanggung jawab kesaksian itu dilakukan oleh orang Kristen, namun dalam setiap ruang hidup dimana ia berada. Seorang yang percaya kepada Kristus tahu bersikap di tengah-tengah tawaran uang atau materi dan jabatan juga kekuasaan yang ingin membeli kebenaran. Ia tidak mudah dipengaruhi, menolak berpihak pada hal-hal yang mengorbankan hak orang lain karena ada kekayaan yang ditawarkan padanya. Seorang Kristen dapat menjaga hidupnya untuk tetap setia pada kehendak Tuhan. Karena itu, mengawali hidupnya setiap hari dengan berdoa.
Doa: Tuhan, mampukan kami untuk andalkan doa saat bersaksi. Amin
Sabtu, 28 Januari 2022
bacaan : Keluaran 20 : 16
16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Bersaksi Dusta Menghancurkan Relasi
Sejumlah masalah di pengadilan menjadi sangat lama penyelesaiannya. Salah satu faktor penyebabnya yakni kebutuhan terhadap kesaksian yang benar dari para saksi. Pentingnya kesaksian yang benar nampak pada hukum di Indonesia pada pasal 174 KUHAP yang menyatakan bahwa apabila keterangan saksi di sidang disangka palsu, hakim ketua sidang memperingatkannya dengan sungguh-sungguh…dan mengemukakan ancaman pidana yang dapat dikenakan kepadanya apabila ia tetap memberikan keterangan palsu. Keterangan palsu atau saksi dusta merupakan perbuatan yang tidak bermoral. Sejarah perjalanan bangsa Israel, juga berlangsung dengan berdasar pada prinsip dan mekanisme hukum. Larangan jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu merupakan salah satu perintah yang ada dalam 10 Hukum Taurat. Perintah yang ke-9 ini ikut menegaskan hubungan antara Tuhan Allah dan bangsa Israel sebagai hubungan yang sakral. Bangsa Israel telah dipilih oleh Allah, karena itu mereka harus setia kepada-Nya. Kesetiaan itu berwujud pula dalam relasi di antara umat yang satu dengan yang lainnya. Jika perintah atau larangan ini tidak dipatuhi, maka kekacauan hidup dan penderitaan akan dialami. Bersaksi dusta tentunya akan menimbulkan kesusahan bagi orang, kelompok atau pihak lain. Orang yang mengucapkan saksi dusta tidak peduli pada kehidupan orang lain, mereka hanya memikirkan uang, materi dan kekayaan yang bisa diperoleh atau keinginan-keinginan diri lainnya. Seorang warga bina di rutan mengatakan : “saya tidak tahu berapa lama saya di sini dan apakah saya akan mendapatkan masa hukuman bertambah ataukah saya sudah bisa bebas. Sebab mereka berusaha untuk menyusahkan diriku dengan menyampaikan hal-hal yang tidak benar di pengadilan”. Hal seperti ini sebenarnya tidak boleh terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bersaksi dusta menunjukkan kelemahan iman dan hidup dikuasai oleh roh-roh duniawi. Hidup bersesama juga mestinya berlangsung dalam keadaan yang saling menopang dan menghidupkan.
Doa : Tolonglah kami Tuhan dengan kuasa Roh-Mu, supaya kami tidak bersaksi dusta. Amin
*SUMBER : SHK Bulan Januari 2023, LPJ-GPM