Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Februari 2023

Tema Bulanan : Gereja Kuat : Murnikan Hidup dan Maknai Derita

Tema Mingguan : Hidup yang Murni : dari Lawan jadi Kawan

Minggu, 12 Februari 2023                            

bacaan : 1 Korintus 3 : 1 – 9   

Perselisihan
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? 4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? 5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. 6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. 8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. 9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

         Hidup Yang Murni : Musuh Berubah Jadi Teman

Brandon dan Brethley teman sekelas namun mereka tak pernah akur. Sering terjadi pertengkaran di antara mereka sehingga teman-teman sekelas menjuluki keduanya “Tom dan Jerry”. Suatu hari terjadi tawuran dan kepala Brethley terkena lemparan batu hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak. Melihat hal ini, hati nurani Brandon terusik dan dia pun menolong Brethley tanpa berpikir bahwa mereka selama ini bermusuhan. Peristiwa itu mengubah permusuhan di antara keduanya menjadi pertemanan. Bacaan hari ini berkisah tentang kehidupan jemaat di Korintus yang tidak rukun pula. Paulus menyebut mereka sebagai manusia duniawi yang belum dewasa dalam Kristus. Mereka berselisih karena hal yang sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Tidak perlu ada pro kontra di antara mereka sebab baik Paulus, Apolos maupun Kefas, sama-sama rasul Tuhan. Ketiganya sama-sama memberitakan Injil Yesus Kristus. Mereka hanyalah alat  yang dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tetapi karena sifat kedagingan itu sudah tumbuh subur dalam hati jemaat maka tidak ada tempat lagi bagi Roh Kudus untuk berkarya dan memberikan pencerahan. Mereka berselisih karena kehilangan tuntunan kuasa Tuhan. Padahal orang-orang yang mereka “jagokan” ini hidupnya rukun-rukun saja karena mereka adalah kawan sekerja Allah. Kawan sekerja Allah ini bekerja sesuai peran masing-masing dan percaya bahwa Allah-lah yang akan memberkati pekerjaan mereka (baca : memberi pertumbuhan). Karena itu jemaat harus menghentikan pertikaian mereka dan kembali hidup rukun serta damai. Pertikaian dan perselisihan haruslah diubah menjadi pertemanan yang rukun. Ingatlah bahwa  di dalam hidup yang rukun tersedia berkat (band. maz. 133). Hindarilah pertengkaran baik antara suami-isteri, orang tua-anak, kakak beradik maupun hidup bertetangga dan antar rekan sekerja. Pertengkaran membuat batin tertekan dan kehilangan rasa damai.  Paulus mengingatkan kita untuk meninggalkan hidup kedagingan itu lalu mengusahakan persekutuan yang rukun dengan semua orang. Persekutuan yang rukun membuahkan sukacita, kebahagiaan dan hidup yang diberkati.

Doa:   Tuhan, tolong kami ‘tuk mengubah permusuhan jadi pertemanan. Amin.

Senin, 13 Februari 2023                              

bacaan : Kejadian 33 : 1 – 11    

Yakub berbaik kembali dengan Esau
Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. 2 Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. 3 Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. 4 Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. 5 Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: "Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?" Jawab Yakub: "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." 6 Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud. 7 Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud. 8 Berkatalah Esau: "Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?" Jawabnya: "Untuk mendapat kasih tuanku." 9 Tetapi kata Esau: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu." 10 Tetapi kata Yakub: "Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku. 11 Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya." Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya.

Hidup Yang Murni : Laeng Sayang Laeng”

Beta inga nasihat Papa deng Mama. “Ingatang, hidop orang gandong tu musti laeng sayang laeng. Beta simpang nasihat ni dalang beta pung hati. Pernyataan ini diucapkan seorang ibu saat berlangsung kebaktian pemakaman ibundanya. Praktek hidup yang saling mengasihi sudah selayaknya terjadi di antara saudara satu gandong (=kandung). Selanjutnya mari kita simak kisah hidup Esau dan Yakub. Relasi saudara sekandung ini pernah berantakan karena terjadi tindakan penipuan. Yakub akhirnya diberkati Ishak sebagai anak sulung, bukan Esau. Peristiwa ini  menimbulkan akar pahit (kebencian dan dendam) di hati Esau.  Yakub yang takut kepada Esau, kakak kembarnya harus lari meninggalkan rumah orang tuanya (bdk. Kejadian Psl. 27, 28 dan 32). Namun, seperti kata orang tatua “Busu-busu orang sudara jua. Yakub berkeinginan untuk berbaik dengan Esau, walau dalam hatinya masih ada rasa takut. Cara untuk mensiasati pertemuan damai dengan Esau ditemukan.  Ia berjalan di depan dan diikuti para gundik dan anak-anak mereka, Lea dan anak-anaknya barulah Rahel beserta Yusuf paling belakang. Pikirnya, jika Esau dan pasukan menyerang paling tidak keluarganya yang lain bisa lari menyelamatkan diri. Ternyata apa yang dikuatirkan Yakub tidak terjadi. Esau tidak melampiaskan dendamnya yang tersimpan bertahun-tahun. Ia menyongsong Yakub dengan pelukan dan ciuman kasih sayang. Berkali-kali Yakub merendah di hadapan Esau seraya mohon maaf dan belas kasihan. Esau menaggapi dengan kerelaan memaafkan kesalahan adiknya. berlangsunglah pertemuan yang mengubah permusuhan menjadi perdamaian orang saudara. Ada ungkapan: “piring jua bisa tatoki.” Relasi tak sedap di antara kita dapat saja terjadi, tapi janganlah simpan dendam dan marah sampai mati.  Mari balajar dari Esau dan Yakub. Merendah dan mintalah maaf jika karena kehilafan kita melakukan keburukan. Hidup dengan rasa bersalah dan takut tak ada faedahnya. Berilah pengampunan bagi saudara yang bersalah kepada kita. Matikanlah kemarahan, kebencian dan dendam serta hidupkanlah kasih sayang seorang akan yang lainnya. Bermohonlah agar Tuhan menolong kita untuk hidup seturut kehendak-Nya.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk saling sayang sebagai adik dan kakak. Amin.

Selasa, 14 Februari 2023                           

bacaan : Kejadian 50 : 15 – 21

Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya
15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya." 16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu." 19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Hidup Yang Murni : “Ale Rasa, Beta Rasa”

Sejak tanggal 10 Februari, silverqueen dan sejenisnya di swalayan-swalayan habis terjual. Apalagi di swalayan yang memberikan promo. Mengapa? Karena “diborong” oleh mereka yang merayakan hari kasih sayang. Pertanyaannya : Apa yang kita pahami tentang kasih sayang itu? Apakah hanya sebatas pemberian cokelat dan bunga atau ada yang lebih dari itu. Mari kita lihat makna kasih sayang yang digambarkan dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Sejak kecil Yusuf sudah dibenci suadara-saudaranya karena ia mendapat kasih sayang lebih dari ayah mereka, Yakub. Karena itu mereka merancangkan hal jahat untuk menjauhkan Yusuf dari kehidupan mereka. Akhir cerita, sampailah Yusuf di tanah Mesir dan menjadi orang penting di istana Firaun. Hal ini tidak membuat Yusuf sombong apalagi berencana membalas dendam kepada kakak-kakaknya yang telah menjahati dia. Justeru di saat mereka susah, Yusuf tampil sebagai penolong bagi mereka. Bahkan sampai saat ayah mereka mati, saudara-saudaranya masih berpikir bahwa karena Yakub sudah tiada maka pasti ini saatnya Yusuf membalas dendamnya. Karena itu mereka mengutus orang untuk menyampaikan pesan Yakub kepada Yusuf agar memaafkan saudara-saudaranya. Saudara-saudara Yusuf juga datang dan sujud memohon maaf lalu minta dijadikan budak oleh Yusuf. Namun apa yang terjadi? Yusuf tidak membalas kejahatan yang dibuat. Ia mengampuni malah menghibur dan menenangkan hati mereka. Yusuf berjanji untuk menanggung hidup saudara-saudaranya terhadapnya beserta anak-anak mereka. Itulah kasih sayang yang sesungguhnya. “Potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, ale susah beta lai rasa susah, ale sanang beta iko sanang.” Kasih sayang yang sejati adalah “sagu salempeng pata dua”. Bukan makan sandiri lupa sudara. Bukan makang sambunyi dar sudara, bukan rampas sudara pung bagiang. Kasih sayang sejati tak mengenal dendam,  dan kebencian kecuali  pengampunan. Bunga dan cokelat hanyalah simbol yang tidak akan bermakna jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Happy Valentine Day, Tuhan Yesus memberkati katong samua agar terus saling mengasihi .

Doa: Tuhan, Kami mau saling mengasihi dan menjauhkan dendam dari hati. Amin.

Rabu, 15 Februari 2023                            

bacaan : Bilangan 12 : 1 – 16

Pemberontakan Miryam dan Harun
Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. 2 Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. 3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. 4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga. 5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. 6 Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. 7 Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. 8 Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" 9 Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. 10 Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! 11 Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. 12 Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya." 13 Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia." 14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali." 15 Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali. 16 Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Hidup Yang Murni : Jangan Saling Mencela

Musa ditunjuk Tuhan untuk memimpin Israel keluar dari Mesir. Namun Musa beralasan bahwa dia tidak fasih berbicara. Lalu Tuhan menunjuk Harun, kakaknya yang fasih berbicara, untuk mendampinginya. Begitu juga dengan Miryam, kakak perempuan Musa yang punya kelebihan di bidang musik dan tari ikut membantu Musa. Awalnya mereka selalu  solid, namun saat Musa mengambil perempuan Kush menjadi isterinya, Miryam dan Harun protes. Mereka tidak setuju dengan tindakan Musa. Musa dianggap telah melakukan kawin campur, hal yang dilarang dalam aturan bangsanya. Karena itu mereka mengata-ngatai dan mencela Musa. Kemarahan Miryam dan Harun terhadap Musa   bisa jadi sudah ada sebelum itu karena rasa iri. Musa lebih muda dari mereka, tetapi memegang kendali kepemimpinan bangsa itu. Ibarat bisul, perkawinan Musa yang kedua menjadi kesempatan bagi pecahnya bisul itu. Teks hari ini menjelaskan bahwa Musa adalah orang yang sangat lembut hatinya dan di mata Tuhan, ia adalah hamba yang selalu setia, sehingga dibela oleh-Nya. Pembelaan Tuhan terlihat pada hukuman yang Ia berikan kepada Miryam dalam bentuk penyakit kusta. Sekali lagi kelembutan dan kebaikan hati Musa terbukti. Ia tidak tega melihat kondisi kakaknya yang terkena kusta sehingga Musa berseru kepada Tuhan dan mohon agar Miryam disembuhkan. Tuhan mendengar seruan Musa. Miryam hanya mengalami kusta selama tujuh hari lalu ia dipulihkan. Kita dapat belajar hal-hal berikut ini dari cerita Musa dan saudara-saudaranya. Tuhan punya kehendak bebas untuk memilih siapa yang mau dipakai-Nya. Karena itu jangan iri jika yang Tuhan pilih adalah mereka yang lebih muda dari kita. Berhati-hatilah agar tidak cepat menuding seseorang bersalah, sekalipun dia lebih muda. Sudut pandang dan pemahaman kita bukanlah yang paling benar. Karena itu mintalah petunjuk Tuhan sebelum bertindak. Belajarlah untuk terlebih dahulu memikirkan dampak dari setiap tindakan sebelum dilaksanakan. Milikilah hati yang lembut, penyabar, penyayang dan pemaaf, seperti yang ada pada Musa. Jika hal-hal tersebut kita perhatikan dan lakukan, niscaya kehidupan orang basudara akan rukun dan tidak saling mencela.

Doa: Tuhan, tolonglah agar kami hidup rukun dan tidak saling mencela. Amin.

Kamis, 16 Februari 2023                            

bacaan : 1 Samuel 24 : 11 – 23  

0 (24-11) Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. 11 (24-12) Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. 12 (24-13) TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; 13 (24-14) seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau. 14 (24-15) Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja! 15 (24-16) Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu." 16 (24-17) Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: "Suaramukah itu, ya anakku Daud?" Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul. 17 (24-18) Katanya kepada Daud: "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu. 18 (24-19) Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku. 19 (24-20) Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini. 20 (24-21) Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu. 21 (24-22) Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku." 22 (24-23) Lalu bersumpahlah Daud kepada Saul. Kemudian pulanglah Saul ke rumahnya, sedang Daud dan orang-orangnya pergi ke kubu gunung.

Hidup Yang Murni : Tidak Membalas Kejahatan Dengan Kejahatan

Rasa iri membuat Saul ingin menghabisi Daud. Saul tidak terima dengan pujian yang diberikan rakyat terhadap Daud karena berhasil mengalahkan orang Filistin (Goliat dan tentaranya). Daud menghindar dan sembunyi dalam gua yang ada pada gunung batu Kambing Hutan, di padang gurun En-Gedi. Jika Daud adalah seorang yang tidak takut Tuhan, maka dengan mudah ia sudah membunuh Saul di goa itu. Saul sama sekali tidak menyadari keberadaan Daud di situ. Tetapi yang dilakukan Daud hanyalah memotong punca jubah (ujung/ sudut kain selendang atau serbai) Saul. Setelah Saul keluar dari goa itu, Daud menyusulnya dan memanggil namanya kemudian sujud di hadapannya. Sesudah itu Daud bangun dan menunjukkan punca jubah Saul yang dipotongnya dan berkata bahwa sebetulnya itu kesempatan untuk membunuh Saul. Namun karena rasa sayang dan hormatnya kepada Saul maka ia tidak melakukan itu. Malah Saul disapanya sebagai “ayahku” (ay.12), sapaan yang menunjukan adanya hubungan kekeluargaan. Sapaan ini bisa saja terjadi karena Daud adalah menantu Saul, suami Mikhal, anak perempuan Saul, (band. 1 Sam.18), tetapi juga sebagai uangkapan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Rasa iri memang sangat berbahaya karena dapat membuat orang melakukan hal-hal jahat seperti yang dilakukan Saul terhadap Daud. Namun kasih sayang dan kerendahan hati dapat mengalahkan semua rasa yang negatif, seperti : iri hati, cemburu dendam dan sejenisnya. Teks hari ini menceritakan bahwa Daud telah memperlihatkan kebaikan. Kasih sayang dan kerendahan hati itu bisa dimilki Daud karena hanya Tuhan yang menjadi andalannya. Daud menyerahkan setiap persoalan yang dihadapinya kepada Tuhan. Karena itu Daud terhindar dari keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan. Hendaklah kita tetap berusaha untuk mengakui kelebihan orang lain sehingga tidak cemburu dan iri. Jangan menyimpan dendam, tetapi belajarlah untuk memberi pengampungan. Milikilah kasih dan kerendahan hati, yang akan menuntun kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Andalkan Tuhan, bukan kekuatan sendiri, sebab pada kta ada keterbatasan. Hidplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Doa: Tuhan, kiranya kami tidak  membalas kejahatan dengan kejahatan. Amin.

Jumat, 17 Februari 2023                                

Kejadian 31: 36-42          

36 Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: "Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu? 37 Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua. 38 Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. 39 Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. 40 Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. 41 Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku. 42 Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam."

Tuhan Selalu Memperhatikan Umat-Nya

Kita mungkin saja akan menghadapi tuduhan atau tekanan dari orang lain. Ketika tuduhan atau tekanan itu dialami, respons diberikan sebagai tanggapannya. Ada yang meresponsnya dengan menunjukkan sikap diam, ribut, atau lainnya. Teks Alkitab ini menceritakan bagaimana sikap Yakub terhadap Laban yang menuduh dirinya melakukan kecurangan. Ada tiga tuduhan Laban, yaitu: 1). Yakub melarikan diri secara diam-diam. 2). Yakub mengambil harta yang masih dianggap milik Laban. 3). Yakub mencuri sesembahannya. Semua tuduhan itu tidak benar kecuali yang ketiga, tetapi yang mencuri pun bukan Yakub melainkan Rahel. Yakub sudah meminta izin untuk kembali ke tanah leluhurnya, maka tuduhan bahwa ia lari tidak benar. Yakub memang merancang kepergian diam-diam sebab Laban menunjukkan gelagat tidak rela melepas. Menghadapi tuduhan ini Yakub  terpancing membela diri dengan nada marah (ay.36). Yakub menelanjangi ketidakadilan Laban. Melalui peristiwa ini Yakub sekali lagi mengalami bagaimana Allah memihak dia. Sebab Allah punya rencana agung melalui dia, dan Allah ingin agar Yakub masuk dalam relasi yang hidup dengan-Nya. Yakub akhirnya menyadari bahwa dalam kesengsaraan dan jerih payahnya, Allah selalu memperhatikan Yakub (ay.42) Yakub telah bekerja dengan rajin dan baik pada Laban, namun mendapat tuduhan dari Laban juga. Meskipun demikian, Yakub mengakui Tuhan selalu ada, memperhatikan dan memberkatinya. Pesan dari kisah ini kepada kita adalah bahwa yang terpenting dalam hidup ini ketika pekerjaan dan karya kita tidak dihargai, bahkan dituduh melakukan hal-hal yang tidak baik, tetaplah mengakui bahwa Tuhan itu ada dan selalu memperhatikan kita.

Doa: Tuhan, perhatikanlah kami saat mengalami kesengsaraan dan Tuduhan dari orang lain. Amin.

Sabtu, 18 Februari 2023                                  

bacaan : Kejadian 26 : 26 – 31 

26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" 28 Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN." 30 Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. 31 Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. 32 Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air."

Menghindar Bukan Berarti Kalah

Jalan keluar dari setiap masalah selalu tersedia. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Begitu juga tidak ada lawan abadi sepanjang damai bisa diupayakan jalan keluarnya. Hal yang demikian menjadi pengalaman Ishak ketika terjadi konflik atau pertengkaran antara para pekerjanya (gembala) dengan gembala Gerar dari Filistin (ay. 20). Pertengkaran tersebut menyangkut  sumur Esek yang digali oleh Ishak dan pekerjanya. Ishak dan pekerjanya berpindah tempat dan menggali sumur yang lain, yaitu Sitna, dengan maksud menghindari pertengkaran. Pertengkaran terjadi lagi di sumur Sitna. Kemudian Ishak dan pekerjanya meninggalkan sumur Sitna dan menggali sumur lain lalu diberi nama Rehobot.  Semuanya dilakukan  Ishak demi terciptanya hidup damai dan rukun dengan orang lain. Selanjutnya diceritakan bahwa Abimelek dari Gerar bersama para sahabatnya Ahuzat dan Pikhol menemui Ishak, namun kedatangan mereka dipertanyakan sebab aneh aneh. Orang yang membenci Ishak datang menemuinya. Ternyata, Abimelek dan para sahabatnya menemui Ishak karena mereka telah melihat penyertaan Tuhan. Perjumpaan itu menghasilkan adanya sumpah setia dan perjanjian bahwa tidak ada lagi perbuatan saling berbuat jahat dan saling mengganggu antara mereka. Mengakhiri atau menyelesaikan suatu pertengkaran selayaknya diupayakan dengan tujuan terciptanya kedamaian, bukan permusuhan. Masalah harus diselesaikan secara damai, mengalah dan menghindar adalah salah satu caranya. Cara tersebut efektif untuk mengantisipasi terjadinya konflik yang lebih besar dan berkepanjangan. Selain itu sekaligus menciptakan persaudaraan dan perdamaian, serta membuat lawan menjadi kawan.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu hidup berdamai. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Februari 2023, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar