Tema Bulanan :
Tema Mingguan :
Minggu, 05 Maret 2023
Bacaan: Yohanes 3 : 1 – 21
Percakapan dengan Nikodemus Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." 9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" 10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? 11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. 12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? 13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. 19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."
Kasih Yang Menyelamatkan
Film “The Passion Of the Christ” yang disutradarai oleh aktor Mel Gibson, menggambarkan penderitaan hebat yang dialami Yesus menjelang kematian-Nya. Bagaimana Yesus dihina, diolok-olok, dicaci maki, diludahi, dipukuli bahkan sampai mati sebagai penjahat di kayu salib. Yesus menempuh jalan “Via Dolorosa” yaitu jalan penderitaan. Penderitaan-Nya menjadi bukti betapa besar kasih Allah bagi dunia ini, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (ayat 16). Ayat ini menerangkan bahwa pekerjaan Kristus dan keselamatan yang ditawarkan-Nya bersumber pada kehendak dan tindakan Allah sendiri. Karya keselamatan yang dikerjakan Allah didalam Yesus kristus karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini. Kita telah berdosa karena itu, melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib supaya kita memperoleh keselamatan Allah. Dengan demikian, setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan beroleh hidup yang kekal, sedangkan bagi mereka yang tidak percaya pasti akan memperoleh kebinasaan/penghakiman. Makna bagi kita yang merayakan Minggu Sengsara Tuhan Yesus, yakni: Pertama, kita telah menerima kasih setia Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Maka cinta kasih Allah yang sejati ini dapat kita teruskan dalam membangun hubungan antara suami-isteri, orang tua-anak, saudara dengan saudara baik sedarah maupun tidak sedarah (Misalnya:Kampung, negeri), rekan kerja, pelayan dengan umat, dan sebagainya. Kedua, Tuhan Yesus telah mengalami penderitaan dan kematian karena misi yang diberikan Bapa kepada-Nya, mengingatkan kita sebagai pengikut Kristus pun akan menderita, karena itu tetaplah setia dan percaya kepada Tuhan. Ada harga yang harus kita bayar sebagai bukti ketaatan kita kepada Tuhan. Bagi mereka yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal (keselamatan), sebaliknya yang tidak percaya akan mendapatkan kebinasaan.
Doa: Terima kasih atas kasih-Mu yang menyelamatkan kami,amin.
Senin, 06 Maret 2023
Bacaan: Ratapan 3 : 19 – 24
Ratapan 3:19-24 (TB) "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu."
Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
"TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
Berharap Pada Kasih Setia Tuhan
Setiap orang memiliki memori (ingatan masa lalu), entah itu yang baik maupun buruk. Keduanya melekat erat, bahkan kadang kembali terlintas. Saat ingatan yang baik muncul kita mungkin akan tersenyum bahagia. Sebaliknya, kenangan buruk justru bisa menyebabkan guncangan jiwa (trauma). Ingatan negatif tersebut tentu ingin dilupakan. Namun, bagaimana cara menghilangkan ingatan atau melupakan sesuatu yang buruk?. Nabi Yeremia pernah memiliki pengalaman yang sama. Ia sulit untuk melupakan peristiwa kelam yang dialami oleh bangsa Yehuda, yakni kehancuran kota Yerusalem, runtuhnya Bait Allah, dan umat dibuang ke Babel. Sebagai seorang nabi,Yeremia merasa sangat menyesal dan gagal karena ia menyaksikan penderitaan yang dialami oleh bangsanya sendiri. Hal ini membawa kesedihan yang mendalam bagi Yeremia, sehingga dia katakan: “jiwaku selalu teringat hal itu, dan tertekan dalam diriku (ayat 21). Namun dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam itu, ia masih tetap berharap pada Tuhan. Yeremia percaya bahwa Allah yang penuh kasih setia dan rahmat (ayat 22) adalah Allah yang akan menyelamatkan dan memberikan pemulihan kepada Yehuda, dimana mereka akan memiliki masa depan yang baru. Makna bagi kita, ada banyak masalah yang kita hadapi yang dapat menyebabkan trauma. Misalnya: kekerasan, perceraian, bencana alam, dan sebagainya. Nabi Yeremia memberikan teladan yang baik bagi kita, tentang bagaimana sikap kita menghadapi masalah, yakni percaya dan berharap kepada Tuhan. Janganah membiarkan hidup dibelenggu oleh pengalaman hidup yang kelam dan membuat kita hanya bisa meratapi kehidupan ini. Manfaatkanlah kesempatan hidup untuk melakukan sesuatu yang lebih berkualitas. Kecenderungan berbuat dosa, tinggalkanlah!. Sebaliknya, dengan berharap dan percaya kepada Tuhan, teruslah bersemangat menjalani kehidupan ini.
Doa: Tuntunlah kami untuk tetap berharap pada kasih setia-Mu, amin.
Selasa, 07 Maret 2023
Bacaan: Ratapan 3 : 25 – 33
25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. 27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. 28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. 29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. 30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan. 31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. 32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya. 33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.
Teguran Tuhan Membawa Pada Jalan Kehidupan
Kitab Ratapan merupakan lanjutan dari kitab Yeremia. Berisikan puisi yang mengisahkan tragedi besar dalam sejarah bangsa Yahudi, yakni kehancuran Bait Allah di Yerusalem dan pembuangan bangsa Yehuda ke Babel. Kenyataan pahit ini, membuat Yeremia mengalami kesedihan yang mendalam bukan hanya bagi dirinya, namun juga bagi para tawanan dan mereka yang tertinggal hidup dalam kemiskinan (band. Ratapan 2:11). Dalam situasi penderitaan tersebut, Yeremia menasehati Yehuda untuk Percaya dan berharap hanya kepada Tuhan, sebab Ia baik kepada orang yang berharap dan mencari Dia (ayat 25). Yeremia mengingatkan mereka agar tidak mencari pertolongan kepada bangsa-bangsa asing, tapi menanti dengan diam pertolongan Tuhan (ayat 26). Mereka tidak boleh menyesal, bersungut-sungut tentang apa yang dialami, sebab penderitaan yang mereka alami adalah justeru karena dosa mereka sendiri. Karena itu, mereka harus menyesali diri dan bertobat, supaya Tuhan memulihkan dan menyelamatkan kehidupan mereka kembali. Pesan firman ini adalah penderitaan yang terjadi dalam hidup adalah cara untuk menolong kita bertobat dan membarui hidup. Sebab kadangkala penderitaan yang kita alami adalah teguran akibat dari kesalahan atau dosa. Karena itu, ketika mengalami masalah dan penderitaan dalam hidup, mari sadari keberadaan diri, akuilah kesalahan dan mohon pengampunan. Jika kita mau bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan kembali menyayangi dengan kasih setia-Nya (ay.33). Anugerah pengampunan yang telah diterima itu mesti ditindaklanjuti dengan meninggalkan hidup yang lama dan berbalik kepada Tuhan dan mentaati perintah-Nya. Selain itu, penderitaan tidak boleh membuat jadi lemah, kuatir, cemas. takut dan hilang harapan, melainkan terus bertumbuh menjadi kuat dalam iman dan pengharapan kepada Yesus Kristus, Juruselamat!
Doa: Tuhan, teguran-Mu selalu membawa pada jalan kehidupan. Amin.
Rabu, 08 Maret 2023
Bacaan: Mazmur 69 : 14 – 19
13 (69-14) Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia! 14 (69-15) Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan dari air yang dalam! 15 (69-16) Janganlah gelombang air menghanyutkan aku, atau tubir menelan aku, atau sumur menutup mulutnya di atasku. 16 (69-17) Jawablah aku, ya TUHAN, sebab kasih setia-Mu baik, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar! 17 (69-18) Janganlah sembunyikan wajah-Mu kepada hamba-Mu, sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku! 18 (69-19) Datanglah kepadaku, tebuslah aku, bebaskanlah aku oleh karena musuh-musuhku.
Pertolongan Tuhan Yang Menyelamatkan
Masih ingatkah kita tentang musibah gempa bumi yang terjadi di Cianjur, Jawa Barat pada bulan November 2022 yang lalu. Peristiwa tersebut telah memakan korban yang banyak, namun ada keajaiban ditengah-tengah bencana tersebut. Azka, bocah 6 tahun ditemukan selamat setelah terkurung hampir 48 jam di bawah reruntuhan rumahnya. Menurut ayahnya, “ia tetap berharap Tuhan menyelamatkan anaknya”. Memang akhirnya terjadi keajaiban, anaknya ditemukan selamat oleh tim evakuasi. Setiap manusia yang beragama pasti memiliki pengharapan kepada Tuhan Sang Pencipta pada saat mengalami masalah dan penderitaan. Demikian pun dengan Pemazmur, saat ia mengalami situasi yang sulit. Maka ia mohon perlindungan dan jalan keluar dari Allah. Ia mohon agar Allah berkenan menyelamatkan dia karena kasih setia-Nya (ayat 14). Ia berharap agar Allah segera membebaskan dari lumpur yang menenggelamkan, gelombang air yang menghanyutkan, tubir yang menelan (ayat 15-16) sebagai kiasan yang menggambarkan penderitaan dan kesengsaraan yang disebabkan oleh para musuh. Karena itu, pemazmur berharap agar Allah kiranya menjawab doanya. Ia sangat berharap pada kasih setia Allah. Ia berharap agar Allah tidak menyembunyikan wajah-Nya, melainkan segera datang untuk menyelamatkan hidupnya. Makna firman ini bagi kita adalah sebagai orang percaya, kita yakin mujizat Tuhan nyata. Artinya, di tengah berbagai masalah, seperti: bencana alam, dimusuhi orang, mengalami praktek ketidakadilan, difitnah, gagal dalam usaha, dan sebagainya, janganlah membuat kita putus asa, kecewa dan hilang harapan. Sebaliknya, berbagai masalah itu dihadapi dengan sikap berani. Iman yang teguh kepada Tuhan melalui doa, akan membuat mata kita melihat, Tuhan yang penuh kasih setia itu menolong dan menyelamatkan tepat pada waktu-Nya.
Doa: Tuhan, berilah kami keberanian untuk menghadapi masalah. Amin.
Kamis, 09 Maret 2023
Bacaan: Galatia 6 : 11 – 16
Peringatan dan salam
11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri. 12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. 13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. 14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. 16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.
Merasakan Kasih Setia Tuhan
“Kunyanyikan kasih setia Tuhan, selamanya” adalah penggalan lirik dari pujian Pelengkap Kidung Jemaat no 14 yang biasa dikidungkan dalam kebaktian-kebaktian. Pujian ini memberi penekanan akan kasih setia Tuhan yang selalu dialami oleh orang-orang percaya dalam seluruh pergumulan kehidupan. Kasih setia Tuhan nampak dalam keberadaan manusia yang hidupnya selalu mengandalkan Tuhan bahkan ketika manusia itu lupa mensyukuri Kasih-Nya. Rasul Paulus menyampaikan peringatan kepada jemaat di Galatia berkaitan dengan menjadi ciptaan baru. Baginya, bukanlah soal sudah disunat atau belum, setia menjalankan hukum taurat dan sebagainya, tetapi yang paling penting ialah menjadi orang-orang yang hidup dalam pembaruan. Pembaruan telah dikerjakan melalui anugerah dan kasih setia Tuhan yang menderita dan berkorban. Oleh sebab itu, mengalami pembaruan dalam diri berarti selalu mau berjalan dalam kehendak Tuhan. Meninggalkan hal lama yang tidak berkenan kepada Tuhan dan memulai hidup baru yang lebih berkenan kepada-Nya. Jadi, penyertaan Tuhan melalui kasih-Nya itu akan terus menuntun kehidupan kita agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sebaliknya, orang-orang yang hidup bermegah dengan kekuatan sendiri kehilangan hidup dalam kasih setia Tuhan. Syukurilah bahwa dalam keadaan apapun kasih-Nya tidak pernah berubah, yang menghalangi kita merasakan kasih setia-Nya ialah kemegahan diri sendiri dan ketidaktaatan akan Firman-Nya. Marilah maknai kasih setia Tuhan sekalipun ada dalam penderitaan.
Doa: Mampukanlah kami Tuhan memaknai Kasih Setia-Mu, Amin
Jumat, 10 Maret 2023
Bacaan: Mazmur 119 : 81 – 88
81 Habis jiwaku merindukan keselamatan dari pada-Mu, aku berharap kepada firman-Mu. 82 Habis mataku merindukan janji-Mu; aku berkata: "Bilakah Engkau akan menghiburkan aku?" 83 Sebab aku telah menjadi seperti kirbat yang diasapi; namun ketetapan-ketetapan-Mu tidak kulupakan. 84 Berapa lagi hari-hari hamba-Mu ini? Bilakah Engkau menghukum orang-orang yang mengejar aku? 85 Orang-orang yang kurang ajar telah menggali lobang bagiku, orang-orang yang tidak menuruti Taurat-Mu. 86 Segala perintah-Mu dapat dipercaya; mereka mengejar aku tanpa alasan--tolonglah aku! 87 Hampir saja mereka menghabisi aku di bumi, tetapi aku tidak meninggalkan titah-titah-Mu. 88 Hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya aku berpegang pada peringatan yang Kauberikan.
Kasih Setia Tuhan, Menghidupkan!
Kehidupan di dunia memang tidak dapat dilepaskan dari penderitaan, permasalahaan hidup, kesengsaraan, kekecewaan, dan berbagai macam beban dalam hidup. Tetapi menjadi perenungan penting dalam hidup kita adalah, pada saat mengalami penderitaan, permasalahaan hidup, kesengsaraan, kekecewaan, dan berbagai beban kehidupan, apakah yang dapat kita lihat dan ingat? Kebanyakan orang hanya melihat pada penderitaan, permasalahan hidup, kesengsaraan, kekecewaan, dan berbagai macam beban yang dialami. Kesemuanya itu menjadi penghalang untuk melihat Tuhan dengan kuasa dan kasih yang dimiliki-Nya. Oleh karena itu banyak yang mengeluh, protes atau bahkan meninggalkan Tuhan di dalam hidupnya. Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kita mempunyai Tuhan yang kekal kasih setia-Nya.
Mazmur 119:81-88 mengisahkan tentang kesengsaraan pemazmur berhadapan dengan orang-orang yang ingin menghancurkannya bahkan membinasakannya. Terlihat jelas pemazmur menggambarkan kesengsaraannya dan karena itu, ia bermohon dengan sungguh kepada Allah agar menyelamatkannya. Sikap pemazmur ini mencerminkan sikap kita sebagai orang-orang yang juga berharap dengan sungguh kepada Allah ketika kita diperhadapan dengan kesengsaraan, penderitaan dan masalah. Namun ada satu sikap yang ditunjukkan pemazmur bahwa dalam keadaan apapun ia tidak akan pernah berpaling dari Kasih dan pertolongan Allah. Sikap ini haruslah kita miliki juga supaya kita tetap kedapatan tegar dan teguh berharap kepada Allah dalam setiap keadaan, sakit-sehat, suka-duka, gagal-berhasil. Tanamkan pada diri dan hati, bahwa kuasa Allah dan Kasih-Nya lebih besar dari semua pergumulan kehidupan kita.
Doa: Ya Tuhan, nyatakanlah kuasa kasih-Mu bagi kehidupan kami, Amin.
Sabtu, 11 Maret 2023
Bacaan: Mazmur 119 : 153 – 160
153 Lihatlah sengsaraku dan luputkanlah aku, sebab Taurat-Mu tidak kulupakan. 154 Perjuangkanlah perkaraku dan tebuslah aku, hidupkanlah aku sesuai dengan janji-Mu. 155 Keselamatan menjauh dari orang-orang fasik, sebab ketetapan-ketetapan-M tidaklah mereka cari. 156 Rahmat-Mu berlimpah, ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan hukum-hukum-Mu. 157 Pengejar dan lawanku banyak, tetapi aku tidak menyimpang dari peringatan-peringatan-Mu. 158 Melihat pengkhianat-pengkhianat, aku merasa jemu, karena mereka tidak berpegang pada janji-Mu. 159 Lihatlah, betapa aku mencintai titah-titah-Mu! Ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu. 160 Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya.
A G A P E
Agape adalah kata yang paling umum yang diartikan sebagai Kasih. Dalam PB Agape berarti kasih yang paling tinggi dan paling mulia. Kasih ini menggambarkan Kasih Allah kepada manusia yang tidak terhingga dan tanpa pamrih. Pemazmur mengungkapkan pergumulannya kepada Allah yang Maha Kasih itu lewat bacaan saat ini. Pemazmur menyadari bahwa hanya oleh Karena Kasih-Nya ia dapat diselamatkan. Oleh sebab itu ia menyampaikan permohonannya kepada Allah tentang keadaan yang dialaminya; sengsaranya, perjuangannya, lawan-lawannya, para pengkhianat yang mengkhianantinya, dll. Dalam kondisi seperti ini ia merasa tidak berdaya, namun pemazmur teguh dalam ketaatannya kepada Allah sehingga ia meyakini Kasih Allah itu tidak akan berpaling darinya (ay.159). Seperti pemazmur, terkadang kehidupan yang kita jalani juga dipenuhi dengan berbagai pergumulan yang berat. Persoalan rumah tangga, pekerjaan, ekonomi, relasi dengan sesama, dsb. Berhadapan dengan pergumulan yang demikian seakan-akan kita merasa Kasih Allah jauh dari kehidupan ini. Kita berteriak memanggil dan mencari Allah untuk menolong dan menyelamatkan. Pada titik ini, kita lupa bahwa di dalam pergumulan yang berat sekalipun Allah sesungguhnya tetap mendengarkan dan mau menyatakan kasih-Nya. Kita hanya perlu terus mendekatkan diri kepada-Nya. Kita melakukan kehendak-Nya. Dengan demikian, pergumulan berat itu pasti dapat kita lalui bersama Kasih-Nya yang selalu menyertai.
Doa: Anugerahkanlah Kasih-Mu, Ya Allah, agar kami tetap teguh dalam setiap pergumulan hidup, Amin.
*SUMBER : SHK BUlan Maret 2023, LPJ-GPM