Tema Bulanan :
Tema Mingguan :
Minggu, 12 Maret 2023
Bacaan: Matius 26 : 47 – 56
Yesus ditangkap
47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. 48 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." 49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia. 50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. 51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. 52 Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. 53 Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? 54 Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?" 55 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. 56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.
Serukan Perdamaian, Hentikan Kekerasan!
Kisah pengangkapan Tuhan Yesus merupakan awal penderitaan yang akan dialami oleh-Nya. Menarik, bahwa Tuhan Yesus ditangkap justru karena petunjuk dari salah seorang Murid-Nya. Pada akhirnya, penangkapan itu terjadi. Tuhan Yesus sama sekali tidak mengelak atau menghindar, Ia justru mengakui peristiwa ini harus terjadi agar genaplah semua yang tertulis dalam kitab nabi-nabi (ay.56).
Memasuki minggu sengsara keempat ini, pandangan kita diarahkan kepada awal kesengsaraan Tuhan Yesus yang dipenuhi dengan tindakan kekerasan. Dalam bacaan kita, ada kekerasan yang terjadi yakni perlawanan para murid dengan segerombolan orang yang akan menangkap Yesus dan salah seorang dari mereka yakni Hamba Imam Besar mendapatkan perlakuan kekerasan dari salah satu murid Yesus. Hal ini membuat Tuhan Yesus marah dan mengatakan: barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang, artinya kekerasan yang dibalas dengan kekerasan hanya akan berujung pada kesengsaraan dan penderitaan. Setiap manusia siapapun dia pasti tidak ingin diperlakukan kasar oleh sesamanya, baik secara psikis maupun fisik, verbal maupun non verbal. Tindakan kekerasan hanya menyisakan traumatic, kesedihan dan penderitaan tetapi juga rusaknya relasi dalam kehidupan. Jadi, mari berusahalah hidup damai dan menjauhi kekerasan. Ini harus menjadi gaya hidup kita, sebab hidup dalam kedamaian pasti membawa ketentraman dan kenyamanan. Lawanlah kejahatan, jangan balas kekerasan dengan kekerasan dan jadilah agen-agen perdamaian di dalam keluarga, dunia kerja, lingkup pelayanan dan masyarakat.
Doa: Roh Kudus penuhilah hati kami agar tetap hidup dalam kasih dan perdamaian. Amin.
Senin, 13 Maret 2023
Bacaan: Mazmur 11 : 1 – 7
TUHAN, tempat perlindungan Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Pada TUHAN aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku: "Terbanglah ke gunung seperti burung!" 2 Sebab, lihat orang fasik melentur busurnya, mereka memasang anak panahnya pada tali busur, untuk memanah orang yang tulus hati di tempat gelap. 3 Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu? 4 TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia. 5 TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan. 6 Ia menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan, itulah isi piala mereka. 7 Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.
Perlindungan Sejati hanya Bersama Tuhan
Pengalaman menjadi seorang Voluntier/relawan pada satu Yayasan penanganan kekerasan anak dan perempuan di Maluku, memberi kesan berbeda bagi Sarah (nama samaran) terhadap perlakuan kekerasan yang dialami anak dan perempuan, baik kekerasan seksual maupun KDRT. Dampak yang sangat besar dialami oleh para korban kekerasan yaitu hilang kepercayaan diri dan hilang percaya pada orang lain. Dalam konteks ini, sebagai relawan bahkan konselor, sarah berupaya menciptakan suasana aman bagi korban kekerasan yang didampinginya agar mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Selain pemulihan diri dan batin, Sarah mengarahkan pandangan orangyang didampinginya itu kepada Tuhan sebagai tempat perlidungan baginya. Tuhan adalah Allah yang peduli dan selalu menolong orang-orang lemah. Tuhan tidak suka akan perilaku kekerasan. Pada ayat yang ke-5 dan 6 dari bacaan ini, pemazmur menegaskan hal penting itu kepada kita bahwa Tuhan membenci kekerasan, Ia menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan.
Penderitaan karena kekerasan sering mengakibatkan ketidakberdayaan. Manusia dalam keterbatasannya tidak memiliki kekuatan apapun ketika ada dalam situasi yang demikian. Oleh karenanya, berharap pada keadilan Tuhan menjadi kekuatan setiap jiwa yang berjuang serta menjadikan kita sebagai orang-orang yang sadar bahwa hanya Tuhanlah tempat perlindungan dan sumber kedamaian. Jadikanlah Tuhan sebagai penopang dalam kehidupan. Percayalah semualLuka dalam hidup, hati dan batin kita akan terobati di dalam Kasih dan Penyertaan-Nya.
Doa: Kami sungguh Meyakini Tuhan, hanya Bersama-Mu segala kesesakan hidup berubah menjadi kelegaan. Amin.
Selasa, 14 Maret 2023
Bacaan: Kolose 3 : 18 – 21
Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Menenun Cinta Kasih Tuhan dalam Keluarga
Nas hari ini berbicara tentang hubungan antar angota-anggota keluarga. Laki-laki yang juga adalah suami dan bapa berperan penting menciptakan serta memelihara hubungan hidup yang harmonis di antara semua anggota keluarga. Hubungan hidup yang harmonis itu harus tetap dijaga baik saat senang maupun susah. Memang pada saat menghadapi dan menjalani kesusahan atau penderitaan, kita cenderung emosional dan bertindak kasar. Sehingga hubungan hidup yang harmonis dalam keluarga menjadi terganggu. Rasul Paulus secara khusus memberikan peringatan kepada suami-suami agar tidak berlaku kasar kepada istrinya. Hal ini menandakan bahwa hubungan antar anggota keluarga, yakni suami-istri harus tercipta keharmonisan. Oleh karenanya, dalam setiap penggembalaan pra nikah para pendeta selalu mengingatkan tentang peran suami-istri sebagai partner yang sama-sama bertanggungjawab menjaga keharmonisan dalam keluarga. Membangun keharmonisan hidup rumah tangga berarti harus menumbuhkan sikap saling menghargai, memahami, mencintai, dan mengayomi. Benar, bahwa dalam setiap rumah tangga pasti ada masalah yang dihadapi namun janganlah masalah-masalah itu menjadi cikal bakal keretakan dalam rumah tangga apalagi jika ada kekerasan yang terjadi di dalamnya. Kekerasan verbal maupun non verbal akan menyisakan rasa sakit baik psikis maupun fisik. Oleh sebab itu, hiduplah saling menghormati dan memahami. Jadikan Kristus sebagai nahkoda dalam rumah tangga agar kehidupan keluarga tetap diberkati dan menjadi saluran berkat bagi sesama.
Doa: Tuhan, Ajarkan kami untuk hidup saling mengasihi di dalam keluarga. Amin.
Rabu, 15 Maret 2023
Bacaan: Amsal 16 : 29
29 Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik.
Allah menghendaki Hidup yang Penuh Kasih
Kata bang Napi: “kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tetapi karena ada kesempatan, waspadalah!”. Pernyataan ini menegaskan bahwa kejahatan terjadi bukan hanya soal ada rencana dan niat dari pelaku, tetapi juga ketika ada kesempatan. Terhadap mereka yang melakukan kejahatan dan kekerasan itu ditegaskan dalam bacaan kita hari ini bahwa mereka sedang berjalan ke arah yang tidak baik. Kehidupan yang dikuasai oleh pikiran yang jahat, kebusukan hati dan keegoisan pada akhirnya tidak akan membuahkan hasil yang baik. Oleh sebab itu jika kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sudah diselamatkan maka respon atas keselamatan itu ialah melakukan perbuatan baik yang dikehendaki Tuhan dan membawa sukacita bagi sesama. Ciptakan relasi yang baik dengan sesama dengan tidak merancang kejahatan, iri hati, dendam bahkan melakukan kekerasan bagi sesama. Tindakan kekerasan merupakan tindakan yang tidak beriman. Sebab akibat dari tindakan ini menimbulkan hidup yang jahat, sesat atau lalim bagi orang lain. Tuhan Allah melalui pengorbanan Yesus Anak-Nya, menyatakan kasih-Nya agar kita tidak lagi hidup serupa dengan dunia yang hanya memikirkan kesenangan sesaat, kepuasan semata untuk menyakiti hati sesama. Marilah, dengan kerendahan hati miliki sikap yang mengutamakan hidup dalam kedamaian dengan sesama serta menjunjung tinggi kasih Tuhan yang rela berkorban itu, agar kita semakin dimampukan untuk hidup dalam kasih dan menjadi agen-agen perdamaian dalam kehidupan setiap hari.
Doa: Roh Kudus, penuhilah hati kami dengan Kasih-Mu agar hidup penuh kasih dengan sesama. Amin.
Kamis, 16 Maret 2023
Bacaan: Amsal 20 : 20 – 22
20 Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap. 21 Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati. 22 Janganlah engkau berkata: "Aku akan membalas kejahatan," nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau.
Kejahatan Dibalas Dengan Kebaikan
Prinsip mata ganti mata dan gigi ganti gigi (Kel 21:24), dalam tradisi Israel adalah hukum pencegahan yang bertujuan untuk memastikan ada hukuman yang sesuai diberikan kepada pelaku pelanggaran. Hal ini baik agar tidak terjadi lagi pelanggaran-pelanggaran yang lain serta memberi efek jera bagi para pelaku. Di luar hukum yang berlaku itu, sebagai orang percaya kita meyakini sungguh bahwa pembalasan adalah Hak Tuhan. Oleh sebab itu Amsal 20:22 mengajak kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan menyerahkan sepenuhnya persoalan hidup kita kepada Tuhan. Menantikan kuasa-Nya bekerja dalam setiap pergumulan hidup adalah cara tepat untuk tetap mempercayakan kehidupan kita kepada-Nya. Jangan mengambil hak Tuhan untuk membalas. Melainkan dengan terus mendoakan mereka yang berlaku tidak adil, kita yakin kelak kehidupan mereka diperbarui dan tidak mengulang pelanggaran atau kejahatan yang sama. Memperingati minggu sengsara Tuhan Yesus ke empat ini, pandangan kita harus tertuju pada sikap Yesus yang tetap merendah walaupun difitnah, disiksa, dihujat dan dihukum sekalipun. Sikap yang ditunjukkan oleh Tuhan ini bukan karena ketidakberdayaan atau ketidakmampuan-Nya, melainkan karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa di Sorga. Kita diberikan kesempatan untuk menyatakan ketaatan kepada Allah dengan membawa semua gumulan hanya kepada-Nya. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan membalas kejahatan dengan kebaikan.
Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, Amin.
Jumat, 17 Maret 2023
Bacaan: Matius 5 : 38 – 39
38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
Bersikap Sopan dan Menjauhi Kekerasan
Hukum dalam teks ini dimaksudkan untuk mencegah kejahatan yang satu karena bila dilakukan maka akan ada balasan yang sepadan. Pada waktu itu seseorang yang menampar pipi kanan orang lain, pasti menggunakan sebelah luar tangan kanan. Sebenarnya yang dimaksudkan ialah bahwa menampar pipi kanan seseorang dengan sebelah luar tangan kanan menandakan penghinaan terhadap orang yang ditampar, Tekanannya bukan pada rasa sakit, tetapi pada penghinaan terhadap orang yang ditampar. Yesus mengajar agar kejahatan yang berupa penghinaan itu tidak perlu dibalas dengan kejahatan pula. Sebaliknya, Yesus mengajarkan agar selalu murah hati. Orang yang murah hati tidak akan membalas kejahatan yang ia terima. Pada saat di sekolah dulu saya sering dibuly oleh teman-teman, mulai dari kekerasan verbal sampai kekerasan fisik. Saya tidak tahu mengapa saat itu mereka suka sekali melakukan hal itu terhadap saya, tetapi semua itu tidak pernah saya ambil dihati. Saya memandang mereka sebagai teman-teman yang harus selalu dikasihi, saya hanya mengatakan kepada Tuhan saat itu untuk selalu memberikan kekuatan dan kesabaran. Kita tentu tidak suka apabila diperlakukan dengan kasar atau jahat oleh orang lain. Kita menginginkan supaya orang lain bersikap sopan, baik dan tidak kurang ajar. Maka mulailah dari diri sendiri untuk selalu bersikap sopan, baik dan menjauhi kekerasan, baik verbal maupun fisik. Jadikanlah diri sebagai contoh terlebih dahulu untuk melakukan yang benar, maka orang lain bahkan lingkungan sekitar akan mengikuti apa yang kita praktekkan.
Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami untuk menjadi contoh yang benar, bersikap sopan dan menjauhi kekerasan. Amin.
Sabtu, 18 Maret 2023
Bacaan: Matius 5 : 43 – 48
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
Berdoa untuk Mereka
Kata-kata Tuhan Yesus dalam bacaan hari ini merupakan pengajaran yang amat dikagumi namun juga tidak disukai oleh kebanyakan orang. Kata-kata ini bertentangan dengan apa yang biasanya orang dunia lakukan kepada musuh-musuhnya. Kristus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama dengan sungguh. Saat kebanyakan orang di dunia ini lebih bersikap menuntut balas ketika disakiti, dicurangi atau dirugikan, Kristus mengajak kita untuk mengasihi dan bahkan mendoakan mereka yang telah membuat sakit dan menderita (ay. 44). Pada saat lulus kuliah dan memutuskan untuk test vikaris sebelum melayani di GPM, saya pernah mendaftar di suatu lembaga dan mengikuti sebagaimana prosedur yang ada dengan semua tahapannya. Tiba saat pengumuman hasil ternyata saya dinyatakan tidak lulus karena alasan keterbatasan fisik. Kaki saya yang cacat seperti ini, mereka anggap tidak bisa melayani di pedalaman. Saya lahir sebagai bayi prematur yakni usia 6 bulan, jadi ada di bagian kaki yang masih belum terbentuk sempurna dan mempengaruhi cara berjalan. Ketika saya mendengar itu saya sedih dan menangis, lalu mengatakan kepada Tuhan: “Tuhan, apa yang mereka katakan saya tidak dapat merubahnya, saya serahkan kepada-Mu”. Akhirnya setelah satu tahun berselang, Tuhan punya rencana yang lebih indah. Saya dipakai-Nya sebagai pelayan di GPM. Dalam penderitaan, berserulah kepada Tuhan dan Ia akan memberikan apa yang terbaik. Jangan membalas dalam bentuk apapun ketika kita disakiti, sebaliknya serahkan semuanya dalam doa karena Tuhan yang lebih tahu apa yang baik bagi kehidupan setiap orang.
Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami berdoa bagi mereka yang menyakiti kami. Amin.
*SUMBER : SHK Bulan Maret 2023, LPJ-DPM