Santapan Harian Keluarga, 26 Maret – 1 April 2023

Tema Bulanan :

Tema Mingguan :

Minggu, 26 Maret 2023                                   

Bacaan: Matius 27 : 11 – 26

Yesus di hadapan Pilatus
11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 12 Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. 13 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 14 Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. 15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. 17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" 18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." 20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." 22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" 23 Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" 24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" 25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" 26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Perjuangkan Keadilan

Pengadilan merupakan salah satu lembaga tempat dimana perkara seseorang atau sekelompok orang diadili. Salah satu hal yang paling mendasar dalam proses pengadilan yakni memperjuangkan dengan seadil-adilnya dan berpegang pada kebenaran. Akan tetapi hal yang mendasar ini seringkali diabaikan karena ada kepentingan pihak-pihak tertentu. Bacaan kita hari ini merupakan kisah yang menceritakan tentang diadilinya Yesus oleh wali negeri yakni Pilatus. Dalam proses peradilan itu imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi memberikan tuduhan kepada Yesus, namun sama sekali  tidak digubris oleh-Nya dan lebih memilih untuk diam (ay. 12-14). Sikap diamnya Yesus tidak berarti menunjukkan ketidakberdayaan-Nya, tetapi memperlihatkan ketidaksukaan-Nya terhadap tuduhan palsu dan pengadilan bengkok tersebut. Sikap diamnya Yesus juga bukanlah sikap pasif yang pasrah kepada keadaan, melainkan sikap aktif memfokuskan diri-Nya kepada kehendak Allah. Ketidakadilan yang pernah dialami oleh Yesus mungkin saja dialami juga oleh kita. Ketidakadilan dapat saja terjadi dimana-mana termasuk di ruang pengadilan, dalam pelayanan masyarakat, gereja maupun keluarga. Ketika diperhadapkan dengan situasi seperti yang dialami oleh Yesus, tentunya kita akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk membela diri. Salah satu sikap atau tindakan yang dilakukan untuk membela diri, misalnya dengan membantah setiap tuduhan yang dianggap tidak benar. Namun sikap atau tindakan diamnya Yesus mengajarkan kepada kita bahwa, mengupayakan keadilan tidak harus dilakukan dengan membela diri. Karena meskipun keadilan dan kebenaran dapat diputar-balikan dihadapan manusia, namun hal itu tidak berlaku dihadapan Allah. Oleh sebab itu teruslah memperjuangkan semua yang adil dan benar dengan keyakinan bahwa Allah turut bekerja didalamnya.

Doa: Ya Tuhan, tolong kami agar mampu untuk terus memperjuangkan keadilan. Amin.

Senin, 27 Maret 2023                                    

Bacaan: Matius 27 : 27 – 31

Yesus diolok-olokkan
27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" 30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. 31 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Akibat Ketidakadilan

Ketidakadilan dapat saja terjadi dimana saja termasuk dalam ruang pengadilan sekalipun. Situasi seperti ini dapat terjadi karena mereka yang memiliki peranan penting dalam proses peradilan tidak berani mengatakan ya bagi yang benar atau tidak bagi yang salah. Ketidakadilan yang terjadi dapat berdampak buruk bagi pihak yang diadili yakni penghukuman. Hal seperti inilah yang terjadi dan dialami langsung oleh Yesus, meskipun penderitaan-Nya merupakan rencana Allah demi karya penyelamatan manusia. Ia harus menjalani penderitaan atas kesalahan yang sama sekali tidak diperbuatnya. Ia diolok-olok, diludahi, dipukul kepala-Nya tanpa ada rasa prikemanusiaan sedikitpun (ay. 29-30). Tindakan penganiayaan yang dilakukan kepada Yesus sesungguhnya menunjukkan kebengisan orang-orang yang tidak berpihak kepada kebenaran. Ketidakadilan yang terjadi pada Yesus dapat juga dialami pada diri kita baik di lingkungan masyarakat, gereja dan ruang lingkup terkecil sekalipun seperti keluarga. Misalnya orang tua yang menghukum anaknya tanpa mendengar dan mempertimbangkan dengan baik duduk persoalannya. Namun berdasarkan kisah penganiayaan Yesus dalam bacaan kita hari ini, hendak mengajarkan bahwa memperjuangkan keadilan merupakan hal yang paling penting. Karena dengan memperjuangkan keadilan, sama halnya berpegang kepada kebenaran dan tidak semena-mena terhadap orang lain. Karakter seperti inilah yang harus dihidupi oleh setiap orang percaya serta dipertahankan dalam menjalani kehidupan. Oleh sebab itu tetaplah hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, sehingga memberikan keadilan bagi siapa saja yang ada di sekitar kita. Ingatlah dan camkanlah, katakan ya bagi semua hal yang benar dan tidak bagi semua hal yang salah, agar tidak ada yang menderita karena kesalahan kita.

Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah kami sebagai pelaku-pelaku kebenaran dan keadilan. Amin.

Selasa, 28 Maret 2023                               

Bacaan: Yohanes 18 : 28 – 32

Yesus di hadapan Pilatus
28 Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah. 29 Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata: "Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?" 30 Jawab mereka kepadanya: "Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!" 31 Kata Pilatus kepada mereka: "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Kata orang-orang Yahudi itu: "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang." 32 Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

Keputusan Sepihak

Lasimnya suatu keputusan yang ditetapkan oleh seorang pemimpin dalam lembaga peradilan berdasarkan pertimbangan atas keterangan-keterangan yang diberikan, baik dari pihak saksi maupun terdakwa.  Akan tetapi hal ini berbeda dengan tindakan Pilatus sebagai seorang pemimpin, ketika orang-orang Yahudi membawa Yesus kepadanya. Pasalnya ia hanya bertanya kepada salah satu pihak yakni orang-orang Yahudi yang menginginkan kematian Yesus. Namun mereka tidak dapat memberikan alasan yang jelas kepadanya terkait dengan kesalahan Yesus sehingga Ia di cap sebagai seorang penjahat (ay. 30). Tanpa ada pertimbangan yang matang, Pilatus pun membuat keputusan secara sepihak yakni menyuruh orang-orang Yahudi untuk menghakimi Yesus sesuai hukum taurat mereka (ay. 31a). Meskipun pada akhirnya pihak orang Yahudi menolak untuk menghakimi Yesus, karena didasari pada ajaran hukum taurat mereka yang melarang membunuh (ay. 31b). Tindakan Pilatus yang mengambil keputusan secara sepihak menunjukkan terjadinya krisis kepemimpinan. Sebab krisis kepemimpinan akan berakibat fatal karena tidak dapat bertindak sesuai dengan yang semestinya yakni mengutamakan keadilan. Dikatakan demikian karena tindakan yang dilakukannya hanya atas keterangan salah satu pihak tanpa mengetahui kebenaran secara pasti. Tindakan yang dilakukan Pilatus tidaklah patut untuk dicontohi oleh kita, ketika dipercayakan sebagai seorang pemimpin. Sebab dalam pengambilan keputusan, seorang pemimpin dituntut untuk mengutamakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta tidak timbang sebelah dan berpihak pada yang salah. Jadilah pribadi yang selalu memperjuangkan keadilan dimanapun kita berada baik dalam ruang lingkup pekerjaan (masyarakat), kehidupan bergereja maupun di dalam keluarga. 

Doa:   Tuhan Yesus, mampukanlah kami menjadi pemimpin yang adil. Amin.

Rabu, 29 Maret 2023                               

Bacaan: Yohanes 18 : 33 – 38a

33 Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?" 34 Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?" 35 Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?" 36 Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." 37 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." 38a Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?"

Berani Menyampaikan Kebenaran

Salah satu sikap atau tindakan memperjuangkan keadilan yakni dengan berani mengutarakan fakta yang sebenarnya. Akan tetapi tidak semua orang mampu mengambil sikap dan tindakan seperti ini. Hal ini disebabkan karena tidak berani, adanya tekanan atau ancaman dari pihak lain dan sebagainya. Akan tetapi berbanding terbalik dengan sikap dan tindakan yang ditunjukkan oleh Yesus dalam bacaan kita. Terlihat jelas bahwa dalam proses peradilan yang dihadapi Yesus, Ia meresponi setiap pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya oleh Pilatus (ay. 34, 36-37). Sikap dan tindakan yang dilakukan oleh Yesus, memperlihatkan keberanian-Nya bersuara untuk menyatakan pendapat. Tanpa gentar sedikitpun, Yesus membenarkan perkataan Pilatus tentang status yang dimilikinya sebagai seorang raja (ay. 37). Tindakan berani tanpa takut yang dilakukan oleh Yesus sudah sepatutnya diteladani oleh kita. Karena ada saat dimana kita hanya perlu diam dan mendengar saja, tetapi ada saat dimana kita juga harus secara tegas bersuara. Sebab semua orang memiliki hak untuk berpendapat bahkan membela diri sekalipun. Sikap takut dan tidak berani akan cenderung membuat kita seperti seorang pengecut dan tidak mampu mengungkapkan kebenaran. Padahal ketika kita menyampaikan pendapat bahkan mengungkapkan kebenaran, menunjukkan karakter dan ciri khas kekristenan yang meneladani Yesus. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mengungkapkan kebenaran, kita dapat saja diperhadapkan dengan berbagai tantangan seperti tekanan,  ancaman, status sosial yang rendah dll. Jangan biarkan hal-hal tersebut membungkam mulut kita untuk memperkatakan kebenaran, karena dengan demikian menunjukkan keberpihakkan kita dalam memperjuangkan keadilan. Tetaplah berani mengupayakan dan memperjuangkan kebenaran juga keadilan.

Doa:  Bapa di Sorga, tolonglah kami untuk memperkatakan yang benar meski ada dalam derita. Amin.

Kamis, 30 Maret 2023                              

Bacaan: Yohanes 18 : 38b – 40

(18-38b) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. 39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?" 40 Mereka berteriak pula: "Jangan Dia, melainkan Barabas!" Barabas adalah seorang penyamun.

Diburu Tanpa Bersalah

Kisah Yesus dihukum mati yang digambarkan Yohanes, merupakan kelanjutan dari kisah dimana Ia diadili oleh Pilatus. Sesuai pemeriksaan yang dilakukan terhadap Yesus, Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun pada diri-Nya. Anehnya, Pilatus tidak dengan tegas memutuskan kebebasan pada Yesus tetapi justru mengajukan pertanyaan tentang kebebasan-Nya kepada orang Yahudi. Tindakan Pilatus menunjukkan kepribadiannya yang tidak berani membela apa yang benar sesuai dengan hati nuraninya. Tindakan Pilatus ini juga dinilai sebagai suatu tindakan yang keliru, ragu-ragu (skeptis), labil dan cari aman karena tidak dapat mengambil keputusan sesuai kewenangannya. Hal ini disebabkan karena ketakutannya kepada orang banyak itu. Yesus harus mendapatkan ketidakadilan dan diburu tanpa bersalah. Situasi ini nampak ketika orang-orang Yahudi lebih memilih untuk mebebaskan Barabas sang penyamun ketimbang Yesus. Tindakan mereka seperti itu memperlihatkan sikap dan karakter manusia yang tidak dapat memperjuangkan keadilan. Bagian bacaan kita ini hendak mengajarkan bahwa  tindakan Pilatus dan orang-orang Yahudi tidaklah patut untuk dicontohi. Di satu sisi kita harus menentukan keputusan yang sesuai dan tidak bertolak belakang dengan kebenaran. Di sisi lainnya juga kita tidak dapat seenaknya menuduh serta menghakimi orang lain tanpa ada bukti yang pasti. Meskipun demikian, tanpa disadari seringkali kita menjadi pelaku ketidakadilan dalam kehidupan seperti yang dilakukan oleh Pilatus dan orang-orang Yahudi. Jadilah pribadi-pribadi yang selalu memperjuangkan keadilan bagi diri, keluarga bahkan juga orang lain. Sebab dengan begitu  menunjukkan kepribadian kita yang baik dan benar di hadapan Allah Sang hakim yang adil.

Doa: Tuhan, pimpin kami agar memahami bahwa setiap orang ingin diperlakukan dengan seadil-adilnya. Amin.

Jumat, 31 Maret 2023                                   

Bacaan: Yohanes 19 : 1 – 12

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. 2 Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, 3 dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya. 4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." 5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" 6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." 7 Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." 8 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia, 9 lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. 10 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" 11 Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." 12 Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar."

Tetap Teguh Dalam Derita

Pada prinsipnya setiap orang yang melakukan pelanggaran atau kejahatan, harus menerima hukuman sesuai perbuatannya. Namun ada juga orang-orang yang dengan terpaksa menjalani hukuman akibat perbuatan orang lain (mis: dijebak, difitnah, dll). Situasi seperti inilah yang dialami oleh Yesus dalam bacaan kita. Akibat fitnahan yang disampaikan oleh orang-orang Yahudi, membuat Yesus harus menanggung penderitaan karena disesah, diolok bahkan ditampar (ay. 1-3). Meskipun Pilatus telah mengatakan tidak mendapati kesalahan pada Yesus, tetapi imam-imam kepala dan para penjaga bersikeras untuk menyalibkan-Nya (ay. 4, 6). Hukuman mati yang diinginkan orang Yahudi kepada Yesus didasari alasan karena Yesus manganggap diri-Nya sebagai anak Allah (ay. 7). Untuk meyakinkan dirinya, Pilatus mengajukan pertanyaan lagi kepada Yesus tentang siapa diri-Nya (ay. 9). Akan tetapi atas pertanyaan itu Yesus memilih untuk diam. Pilatus melanjutkannya dengan pernyataan terkait jabatannya, tapi dengan tegas Yesus membantahnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Yesus tetap berpegang teguh pada pendirian-Nya meski harus menderita. Berpegang teguh artinya sikap yang tetap pada pendirian dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi apapun. Sikap Yesus memperlihatkan ketaatan-Nya yang berpegang teguh terhadap semua rencana Allah. Oleh karena itu Ia rela dihukum meski tanpa bersalah. Keteguhan yang diperlihatkan oleh Yesus haruslah juga menjadi sikap dan kepribadian kita. Keteguhan dimaksud tentu saja tidak terlepas dari kehendak Allah. Sikap seperti ini akan menolong kita agar tidak mudah goyah dan terpengaruh meski diperhadapkan dengan penderitaan. Selamat mengakhiri bulan ini dan masukilah bulan yang baru dengan tetap berpegang teguh pada Yesus. 

Doa: Ajari kami ya Tuhan untuk tetap  teguh beriman kepada-Mu, walaupun ada dalam penderitaan. Amin.

*SUMBER SHK Bulan Maret-April 2023, LPJ GPM

Tinggalkan komentar