Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 Juni 2023

Tema Bulanan : Tindakan Demokrasi: Persembahkan Hidup Yang Benar, Adil dan Menjadi Berkat

Tema Mingguan : Usahakanlah Keadilan Maka Engkau Hidup

Minggu, 11 Juni 2023

bacaan : Yehezkiel 18 : 1 – 22

Setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya
Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 "Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? 3 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel. 4 Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. 5 Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, 6 dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, 7 tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, 8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, 9 hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia--ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 10 Tetapi kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok, dan yang suka menumpahkan darah atau melakukan salah satu dari hal-hal itu 11 --walaupun ayah tidak melakukan satupun--juga makan daging persembahan di atas gunung dan mencemari isteri sesamanya, 12 menindas orang sengsara dan miskin, merampas, tidak mengembalikan gadaian orang, melihat kepada berhala-berhala dan melakukan kekejian, 13 memungut bunga uang dan mengambil riba, orang yang demikian tidak akan hidup. Segala kekejian ini dilakukannya, ia harus mati; darahnya tertimpa kepadanya sendiri. 14 Sesungguhnya, kalau ia melahirkan seorang anak dan anak ini melihat segala dosa yang dilakukan ayahnya, tetapi menginsafi hal itu, sehingga tidak melakukan seperti itu: 15 ia tidak makan daging persembahan di atas gunung dan tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya, 16 tidak menindas orang lain, tidak mau meminta gadai, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, 17 menjauhkan diri dari kecurangan, tidak mengambil bunga uang atau riba, melakukan peraturan-Ku dan hidup menurut ketetapan-Ku--orang yang demikian tidak akan mati karena kesalahan ayahnya, ia pasti hidup. 18 Ayahnya, yang melakukan pemerasan, yang merampas sesuatu, dan yang melakukan hal-hal yang tidak baik di tengah-tengah bangsanya, sungguh, ia akan mati karena kesalahannya. 19 Tetapi kamu berkata: Mengapa anak tidak turut menanggung kesalahan ayahnya? --Karena anak itu melakukan keadilan dan kebenaran, melakukan semua ketetapan-Ku dengan setia, maka ia pasti hidup. 20 Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. 21 Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. 22 Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya.

Upah Dosa ialah Maut

Nilai suatu kekerabatan atau kekeluargaan terletak pada keharmonisan dan hidup saling mengasihi. Keharmonisan itu akan hilang jika terjadi kesalahpahaman antar satu anggota keluarga dengan anggota lainnya. Dalam tradisi orang Maluku, ada yang dikenal dengan krois/silang kaki. Krois/silang kaki pada halaman rumah adalah salah satu tindakan yang disebabkan karena hubungan kekeluargaan terganggu sehingga timbul rasa marah dan menciptakan ketidakharmonisan. Dalam kondisi demikian, orang bisa melakukan segala sesuatu yang tidak menyenangkan dan berpotensi melakukan dosa. Bacaan hari ini, oleh nabi Yehezkiel menggelisahkan dan mengingatkan kita untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan apalagi melakukan dosa. Sebab,  ketika  kita melakukan dosa maka kita pasti akan mati. Melakukan dosa disini berkaitan dengan diri sendiri tetapi juga relasi dengan sesama. Oleh karenanya, pada ayat 30-32 ditegaskan untuk marilah kita bertobat,  menjauhkan diri dari dosa dan kecemaran. Hidup saling berdampingan dengan yang lain, hidup saling mengasihi dan pelihara hidup agar tidak tercemar lewat tutur kata dan perilaku kita. Peliharalah kerukunan dan ciptakan kedamaian bagi sesama, maka hidup kita pasti bermakna serta menjadi berkat.

Doa: Roh Kudus, Peliharalah hidup kami, tolong kami untuk tidak melakukan Dosa.  Amin.

Senin, 12 Juni 2023

bacaan : Yeremia 21 : 11 – 14

Nubuat melawan raja Yehuda
11 Kepada keluarga raja Yehuda. Dengarlah firman TUHAN: 12 "Beginilah firman TUHAN, hai keturunan Daud: Jatuhkanlah hukum yang adil setiap pagi dan lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, supaya kehangatan murka-Ku jangan menyambar seperti api dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkannya, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat! 13 Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawanmu, hai kota yang di atas lembah, gunung batu di dataran, demikianlah firman TUHAN, hai kamu yang berkata: Siapakah yang berani turun kepada kami dan siapakah yang berani masuk ke tempat perteduhan kami? 14 Aku akan melakukan pembalasan kepadamu sesuai dengan hasil perbuatanmu, demikianlah firman TUHAN. Aku akan menyalakan api di hutannya yang akan memakan habis segala sesuatu yang di sekitarnya."

Berlakukan Keadilan
Nabi Yeremia memperingatkan Raja Zedekia dan keluarganya melalui nubuatan ini agar segera bertobat sebab jika tidak maka hukuman Allah akan menimpa mereka. Praktek ketidakadilan  yang  dilakukan  keluarga  Raja  Yehuda  pada  akhirnya membawa  mereka untuk berhadapan dengan murka Allah. Disampaikan dalam ayat 12-14 tentang hukuman yang akan diterima keluarga Raja Yehuda tersebut dan kemurkaan Allah. Bertindak adil dan benar adalah esensi dari melayani. Siapapun kita yang dipercayakan untuk menjadi seorang pemimpin baiknya kita tidak semena-mena dan tidak menindas orang yang kita pimpin. Kepemimpinan adalah anugerah yang Allah percayakan kepada kita. Oleh sebab itu, kepemimpinan yang benar dan adil akan berujung pada kelimpahan  berkat.  Namun menyalahgunakan kepemimpinan maka kesengsaraan yang akan kita dapatkan. Untuk itu, baik sebagai pemimpin keluarga, pemimpin jemaat bahkan  masyarakat,  hendaknya  kita memimpin dengan adil  dan benar. Hindari kekuasaan yang semena-mena,  yang hanya  mementingkan  diri sendiri. Peliharalah relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama yang diwujudkan dalam perilaku kepemimpinan yang adil, benar dan mulia!

Doa: Jadikan kami pribadi yang selalu memprioritaskan  Engkau, Ya Tuhan. Amin.

Selasa, 13 Juni 2023

bacaan : Yeremia 22 : 1 – 9

Beginilah firman TUHAN: "Pergilah ke istana raja Yehuda dan sampaikanlah di sana firman ini! 2 Katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai raja Yehuda yang duduk di atas takhta Daud, engkau, pegawai-pegawaimu dan rakyatmu yang masuk melalui pintu-pintu gerbang ini! 3 Beginilah firman TUHAN: Lakukanlah keadilan dan kebenaran, lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, janganlah engkau menindas dan janganlah engkau memperlakukan orang asing, yatim dan janda dengan keras, dan janganlah engkau menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini! 4 Sebab jika kamu sungguh-sungguh melakukan semuanya itu, maka melalui pintu-pintu gerbang istana ini akan berarak masuk raja-raja yang akan duduk di atas takhta Daud dengan mengendarai kereta dan kuda: mereka itu, pegawai-pegawainya dan rakyatnya. 5 Tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan-perkataan ini, maka Aku sudah bersumpah demi diri-Ku, demikianlah firman TUHAN, bahwa istana ini akan menjadi reruntuhan. 6 Sebab beginilah firman TUHAN mengenai keluarga raja Yehuda: Engkau seperti Gilead bagi-Ku, seperti puncak gunung Libanon! Namun pastilah Aku akan membuat engkau menjadi padang gurun, menjadi kota yang tidak didiami orang. 7 Aku akan menetapkan pemusnah-pemusnah terhadap engkau, masing-masing dengan senjatanya; mereka akan menebang pohon aras pilihanmu dan mencampakkannya ke dalam api. 8 Dan apabila banyak bangsa melewati kota ini, maka mereka akan berkata seorang kepada yang lain: Mengapakah TUHAN melakukan seperti itu kepada kota yang besar ini? 9 Orang akan menjawab: Oleh karena mereka telah melupakan perjanjian TUHAN, Allah mereka, dan telah sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya."

Keutamaan Pemimpin yang Takut Tuhan

Yeremia menegaskan dalam bacaan hari ini tentang tanggung jawab pemimpin Israel yang harus dilakukan dengan adil dan benar. Sebab jika seorang Raja Yehuda menyengsarakan rakyatnya, menindas orang asing, merampas hak rakyat, berlaku kasar untuk  janda  dan  anak  yatim  bahkan  membunuh  orang  yang  tidak bersalah,  maka kemurkaan Allah akan menimpa dirinya. Ia bersama para pegawainya akan dimusnahkan, istana-istana akan runtuh, keluarga raja akan mengalami kesengsaraan dan hidup dalam ketidaknyamanan  bahkan  akan  ada pemusnah-pemusnah  yang  akan  memusnahkan semua yang mereka miliki. Peringatan keras dari Yeremia ini dikarenakan raja Yehuda mulai menunjukkan sikapnya yang melupakan perjanjian mereka dengan Allah serta sujud menyembah kepada allah lain. Hal ini menunjukkan pula bahwa kepemimpinan yang berlangsung merupakan kepemimpinan yang hanya memikirkan diri sendiri dan kelompok. Kehidupan Raja Yehuda dan keluarganya adalah cermin kehidupan kita saat ini yang kadang mementingkan kepentingan pribadi, apalagi ketika menjadi seorang  pemimpin. Lebih fatal lagi jika kita terlena dengan  semua yang  kita  miliki sehingga melupakan Tuhan dan mendewakan atau menghambakan diri untuk hal-hal duniawi yang kita miliki. Jabatan, kedudukan, kekayaan, popularitas, kemewahan dan sebagainya jika disalahpahami  dalam  iman  maka  bisa  menjadi „tuhan‟ bagi  kita.  Untuk  itu,  mari  kita memprioritaskan Tuhan dalam hidup dan juang kita serta menjadi sumber Berkat bagi sesama.

Doa:  Curahkan Roh Keadilan kepada  setiap  pemimpin  kami, Tuhan.   Amin.

Rabu, 14 Juni 2023

bacaan : Amos 5 : 21 – 24

Ibadah Israel dibenci TUHAN
21 "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. 22 Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. 23 Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. 24 Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Ibadah Sejati: Keadilan Bagi Sesama
Ibadah sejati  jadikanlah  persembahan,  Ibadah  sejati  kasihilah  sesamamu” adalah penggalan lirik pujian PKJ 264. Pujian ini memperlihatkan kepada kita bahwa Ibadah bukan  sekedar  sebuah  perayaan  keagamaan  semata,  namun  ibadah sesungguhnya berkaitan dengan tindakan saling mengasihi sesama. Nas bacaan hari ini memperlihatkan kehidupan bangsa Israel yang masih melakukan penyembahan berhala, tidak adil kepada sesama dan menindas sesama yang lemah. Perbuatan mereka ini tidak sesuai dengan kehidupan peribadahan serta persembahan yang mereka berikan kepada Tuhan. Karena itu Tuhan menolak ibadah ritual yang mereka lakukan. Bagi Tuhan yang terpenting ialah mengasihi sesama dan berlaku adil (ay.24). Dewasa ini, fokus peribadahan kita cenderung mengarah pada hal-hal yang bersifat selebrasi/perayaan. Kita kurang memaknai bahwa ibadah itu adalah perjumpaan dengan Tuhan dan membangun persekutuan dengan sesama. Bacaan ini sungguh mengingatkan kita untuk melayani lebih dulu seorang akan yang lain sebagai wujud ketaatan kita kepada Tuhan.

Doa: Ajari Kami Bapa, untuk melakukan   Ibadah   yang   Sejati. Amin.

Kamis, 15 Juni 2023

bacaan : Amsal 21 : 15

15 Melakukan keadilan adalah kesukaan bagi orang benar, tetapi menakutkan orang yang berbuat jahat.

Nyalakanlah Cahaya Keadilan itu!
Salah satu ketakutan terbesar yang dimiliki manusia ialah perbuatan jahatnya diketahui orang. Demi menutupi setiap kejahatannya, manusia bisa saja melakukan hal-hal diluar kehendaknya bahkan sampai pada tindakan yang tidak manusiawi; seperti, membunuh. Entah  membunuh  secara  langsung  ataupun  „membunuh‟ dengan  bertindak  tidak  adil, memfitnah, menjatuhkan, menutup jalan bagi   keberhasilan orang lain serta memutarbalikan fakta. Amsal 21 : 15 menyuguhkan suatu pernyataan yang sangat tegas kepada kita saat ini tentang hidup orang benar pada keadilan dan ketakutan orang yang melakukan kejahatan. Perlu diingat, bahwa keadilan yang diperjuangkan akan berakhir pada   suatu kemenangan. Sesulit apapun orang benar bertindak adil dan memperjuangkannya pasti akan meraih kemenangan. Pada saat yang sama orang yang terus   menyembunyikan   keadilan, memutarbalikan fakta bahkan merancang  suatu kejahatan akan hidup dalam ketakutan. Sebagai orang-orang percaya, kita diajak untuk tidak sekedar menjadi orang yang percaya saja tetapi haruslah juga menjadi orang yang benar. Mengatakan dan menyuarakan kebenaran, keadilan dan kebaikan bagi sesama Walaupun untuk semua kebenaran dan keadilan yang kita perjuangkan itu ada yang menaruh benci, dendam dan kemarahan. Belajarlah untuk percaya pada keadilan dan kebenaran yang kita suarakan, laksana cahaya lilin di  tengah-tengah  kegelapan,  bahwa  selalu  ada  jalan yang menuntun kita keluar dari kegelapan itu.

Doa:  Tuntun  Kami  dengan Terang  Keadilan-Mu,  Tuhan. Amin.

Jumat, 16 Juni 2023

bacaan : Ulangan 16 : 18 – 20

Pengadilan yang adil
18 "Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kauangkat di segala tempat yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu; mereka harus menghakimi bangsa itu dengan pengadilan yang adil. 19 Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. 20 Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu."

Menjadi Pelaku Keadilan

“Kalau  uang sudah menjadi raja, Keadilan pun menjadi sangat murah”. Ungkapan ini sering kita dengar ketika berjumpa dan menyaksikan kasus-kasus yang kebenarannya tidak diperjuangkan dan justru kesalahan yang diagungkan. Hakim, yang notabenenya adalah pengambil keputusan terhadap suatu kebenaran pun terkadang tidak berlaku adil ketika  diperhadapkan  dengan  berbagai  tawaran  yang  menggiurkan.  Nas  bacaan  kita menegaskan pada ayat ke 18 bahwa Hakim yang diangkat oleh Allah harus melaksanakan tugasnya dengan adil. Tidak  memutarbalikkan  keadilan, tidak  memandang  bulu, tidak boleh menerima suap dan berdiri pada kebenaran. Sebab, mereka yang hidup dipenuhi keadilan dan melakukan kebenaran akan merasakan penyertaan dan Berkat Tuhan. Untuk itu, belajarlah menjadi pribadi yang jujur dan adil. Jangan mudah dimanfaatkan, jangan mudah   diperdayai. Tugas sebagai pemimpin keluarga hendaknya berlaku adil kepada anak- anak. Usahakan semua perhatian diberikan merata  kepada anak-anak  kita.  Tugas sebagai pemimpin baik dalam jemaat  maupun masyarakat, hendaknya  menjadi  pemimpin  yang berhikmat, mengutamakan kepentingan jemaat dan masyarakat. Tidak mudah tergiur oleh berbagai kenyamanan sehingga mengorbankan keadilan dan kebenaran.

Doa: Dalam Tuntunan Tuhan, Jadikanlah kami pelaku Keadilan. Amin.

Sabtu, 17 Juni 2023

bacaan : Daniel 4 : 19 – 27

19 Lalu berdirilah Daniel yang namanya Beltsazar, tercengang beberapa saat, pikiran-pikirannya menggelisahkan dia. Berkatalah raja: "Beltsazar, janganlah mimpi dan maknanya itu menggelisahkan engkau!" Beltsazar menjawab: "Tuanku, biarlah mimpi itu tertimpa atas musuh tuanku dan maknanya atas seteru tuanku! 20 Pohon yang tuanku lihat itu, yang bertambah besar dan kuat, yang tingginya sampai ke langit dan yang terlihat sampai ke seluruh bumi, 21 yang daun-daunnya indah dan buahnya berlimpah-limpah dan padanya ada makanan bagi semua yang hidup, yang di bawahnya ada binatang-binatang di padang dan di dahan-dahannya bersarang burung-burung di udara-- 22 tuankulah itu, ya raja, tuanku yang telah bertambah besar dan kuat, yang kebesarannya bertambah sampai ke langit, dan yang kekuasaannya sampai ke ujung bumi! 23 Tentang yang tuanku raja lihat, yakni seorang penjaga, seorang kudus, yang turun dari langit, sambil berkata: Tebanglah pohon ini dan binasakanlah dia, tetapi biarkanlah tunggulnya ada di dalam tanah, terikat dengan rantai dari besi dan tembaga, di rumput muda di padang, dan biarlah ia dibasahi dengan embun dari langit dan mendapat bagiannya bersama-sama dengan binatang-binatang di padang, hingga sudah berlaku yang demikian atasnya sampai tujuh masa berlalu-- 24 inilah maknanya, ya raja, dan inilah putusan Yang Mahatinggi mengenai tuanku raja: 25 tuanku akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggal tuanku akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepada tuanku akan diberikan makanan rumput, seperti kepada lembu, dan tuanku akan dibasahi dengan embun dari langit; dan demikianlah akan berlaku atas tuanku sampai tujuh masa berlalu, hingga tuanku mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. 26 Yang dikatakan tentang membiarkan tunggul pohon itu, berarti: kerajaan tuanku akan kembali tuanku pegang segera sesudah tuanku mengakui, bahwa Sorgalah yang mempunyai kekuasaan. 27 Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku: lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!"

Berani Bertindak Benar dan Adil

Daniel tahu resiko mengabarkan kebenaran Tuhan  melalui jawabannya terhadap mimpi Raja Nebukadnezar,  namun  ia  tetap melakukan hal  itu  dengan  keyakinan bahwa Tuhan besertanya. Seperti Daniel, demikian juga kita harus berani untuk mengambil setiap keputusan. Kadang keputusan itu baik dan menyenangkan, tetapi juga sering tidak menyenangkan  orang  lain.  Suara  kebenaran  yang  disampaikan  oleh  Daniel  memang membuat sang raja sedih karena yang didengarnya bukan berita baik. Sang raja akan mengalami kesusahan selama tujuh tahun, namun ketika pertobatan dan pengakuan akan Tuhan yang maha tinggi dilakukan serta melakukan keadilan pada mereka yang tertindas, maka semua kebahagiaan dan kemuliaan akan dikembalikan kepada sang raja. Bertobat dan melakukan keadilan kepada sesama merupakan perintah yang harus kita laksanakan sebagai Orang Kristen.   Kita harus berani untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran melalui seluruh keradaan kita atau tugas dan peran kita. Untuk itu, sebaiknya kita mulai membiasakannya dengan melakukannya dari dalam keluarga kita lebih dulu. Kita juga harus membiasakan diri untuk mengajarkan kepada anak-anak dan mencontohkan kehidupan yang mendukung atau peduli pada mereka yang lemah.

Doa:   Kiranya   kami   terus   bertidak benar   dan  adil  sesuai   perintah-Mu Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2023, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar