Santapan Harian Keluarga, 25 Juni – 1 Juli 2023

Tema Bulanan : Tindakan Demokrasi: Persembahkan Hidup Yang Benar, Adil Dan Menjadi Berkat

Tema Mingguan : Persembahan Yang Benar

Minggu, 25 Juni 2023

bacaan : Roma 12 : 1 – 8

Persembahan yang benar 
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. 4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, 5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. 6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Persembahan Yang Berkenan Kepada Allah
Salah  satu  nasihat  Rasul  Paulus  kepada  Jemaat  di  Roma  melalui  suratnya yakni persembahan  yang  benar  kepada  Allah.  Mengawali  nasihatnya,   Rasul  Paulus menyampaikan  seruan  kepada  orang  Kristen  di  Roma  yaitu  hendaknya  mereka mempersembahkan  diri.  Paulus  memberikan  penekanan  pada  persembahan, karena mempersembahkan kurban adalah bagian penting dalam agama Yahudi maupun agama lainnya.  Persembahan  yang  benar  menurut  Paulus  yakni  melakukan  tanggungjawab sebagai orang beriman kepada Kristus sesuai dengan karunia yang diberikan. Karunia yang dimaksudkan ialah bernubuat, melayani, mengajar dan menasihati (ay. 6-8a). Ia juga menambahkan  segala  sesuatu  yang hendak  dilakukan  oleh  orang  Kristen,  sudah sepatutnya disertai dengan hati yang ikhlas dan sukacita. Nasihat Paulus bagi jemaat di Roma patutlah dilakukan juga oleh kita saat ini sebagai bukti iman kita kepada Kristus. Mempersembahkan hidup yang benar dan berkenan kepada  Tuhan, sesuai  dengan  karunia kita  masing- masing. Apapun karunia yang diberikan, hendaklah dilakukan dengan ketekunan, ikhlas dan sukacita baik dalam  lingkungan keluarga, bergereja maupun bermasyarakat. Jadilah pengikut-pengikut  Kristus yang  setia dan taat  serta senantiasa mempersembahkan diri  kita sebagai persembahan yang benar dan tentunya berkenan kepada Allah.

Doa: Tuhan, biarlah persembahan kami berkenan kepadaMu. Amin.

Senin, 26 Juni 2023

bacaan : 1 Samuel 1 : 21 – 28

21 Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada TUHAN. 22 Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: "Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya." 23 Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau menyapih dia; hanya, TUHAN kiranya menepati janji-Nya." Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya. 24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. 25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli; 26 lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. 27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. 28 Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.

Memberi Yang Berharga
Cerita Hana menyerahkan Samuel anak satu-satunya, berawal dari kisah ia dianggap mandul dan sering dibuat menangis oleh madunya (Peinina). Tidak tahan dengan perlakuan yang sering dialaminya membuatnya berdiri di depan bait suci Tuhan di Silo, menangis, berdoa dan bernazar bagi Allah. Dalam nazarnya itu, Hana memohon kepada Tuhan agar memberikan ia seorang anak laki-laki.  Jikalau Tuhan menjawabnya maka ia akan memberikan anak itu kepada Tuhan seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya (ay. 11). Nazarnya itu dijawab oleh Tuhan dan Hana pun menepati janji untuk menyerahkan anaknya (ay. 27-28). Meskipun hanya memiliki seorang anak, namun  dengan  segenap  hati  Hana memberikan  Samuel  untuk  melayani  Tuhan  dan pekerjaan-Nya seumur hidup. Tindakan Hana ini memperlihatkan bahwa ia berkomitmen dengan janjinya yakni mempersembahkan yang benar dan berharga dihadapan Allah. Apa yang dilakukan Hana, mendorong kita juga untuk memberikan yang terbaik dan berharga bagi Allah. Kita dapat memulainya dengan melakukan hal-hal sederhana antar anggota keluarga misalnya, dengan memberikan perhatian dan pelayanan yang baik. Selain itu kita dapat saja meberi diri dan terlibat untuk melayani pekerjaan Tuhan  dalam  organisasi pelayanan gereja, bahkan dengan sungguh mengabdikan diri melakukan tanggungjawab sesuai panggilan di tempat kerja masing-masing. Teruslah mempersembahkan yang berharga dalam diri kita untuk puji dan hormat bagi kemuliaan-Nya!

Doa: Ya Tuhan, kami mau memberikan yang terbaik dan berharga kepadaMu. Amin.

Selasa, 27 Juni 2023

bacaan : Roma 15 : 14 – 21

Paulus menjelaskan dasar-dasar tulisannya
14 Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. 15 Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, 16 yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. 17 Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. 18 Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, 19 oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. 20 Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, 21 tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya."

Menjadi Berkat Bagi Orang Lain
Salah satu cara mempersembahkan yang benar dihadapan Allah menurut Rasul Paulus, yakni dengan memanfaatkan kasih karunia yang dianugerahkan secara benar. Melalui surat ini, Paulus mengingatkan jemaat di Roma tentang keterpanggilannya yang juga diperuntukkan  bagi  bangsa-bangsa  bukan  Yahudi. Tujuan  Paulus  memberitakan  injil Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, agar mereka dapat diterima oleh Allah dan menjadi persembahan yang berkenan kepada-Nya (ay. 16). Artinya pelayanan yang dilakukan oleh Paulus  sedapat mungkin berdampak positif bagi orang lain, yaitu hidup benar dan tetap taat kepada Allah dalam perkataan maupun perbuatan. Tindakan pelayanan  Paulus ini  dapat  menjadi  contoh  bagi  pribadi-pribadi  kita  sebagai  orang percaya. Tentu saja dengan tujuan yang sama seperti Paulus, yaitu agar setiap orang menjalani   kehidupannya dengan hidup dalam ketaatan kepada Allah yang diwujudnyatakan lewat  perkataan  maupun  perbuatan.  Sebab  dengan  demikian maka seluruh hidup kita dapat menjadi persembahan yang benar kepada Allah. Hal ini tidak terbatas hanya pada ruang lingkup keluarga saja, tetapi dapat menjangkau orang lain melalui transformasi digital yang semakin canggih. Teruslah mempersembahkan yang benar dihadapan Allah dengan melakukan semua hal yang berkenan kepada-Nya serta jadilah berkat bagi orang lain.

Doa: Tuhan, jadikanlah hidup kamii menjadi berkat bagi orang lain.. Amin.

Rabu, 28 Juni 2023

bacaan : 1 Korintus 8 : 1 – 13

Tentang persembahan berhala
Tentang daging persembahan berhala kita tahu: "kita semua mempunyai pengetahuan." Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. 2 Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. 3 Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah. 4 Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa." 5 Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi--dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian-- 6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. 7 Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya. 8 "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan." 9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. 10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai "pengetahuan", sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? 11 Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena "pengetahuan" mu. 12 Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus. 13 Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Persembahkan Hidupmu Kepada Allah
Korintus  merupakan   kota   yang   sangat   duniawi   dan   dipengaruhi   oleh   berbagai kebudayaan. Salah satu kebiasaan buruk yang mempengaruhi orang-orang Kristen di Korintus yakni penyembahan berhala. Mereka yang masih percaya kepada berhala (dewa-dewi), seringkali membawa dan memberikan persembahan-persembahan mereka di kuil. Cara hidup seperti ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pemahaman, antara orang Kristen tentang perihal makan daging persembahan berhala. Sebab perbedaan ini dapat menjadi batu sandungan tentang persoalan iman diantara mereka. Hal penting yang hendak ditegaskan oleh Paulus kepada Jemaat Korintus yaitu bahwa persembahan yang benar bukan kepada berhala, melainkan hanya kepada Allah (ay. 4-6). Sebab segala sesuatu hanya berasal dari Allah, oleh karena itu hanya bagi Dia seluruh hidup kita. Penegasan Paulus pada bagian bacaan kita ini, mengingatkan tentang kepada siapa kita harus memberikan persembahan. Persembahan kita tentu hanya diperuntukkan kepada Allah  yang  memberi  kehidupan  ini.  Sebab  dengan demikian sesungguhnya menunjukkan iman percaya kita kepada-Nya. Pemahaman seperti ini harus terus dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap orang percaya baik didalam keluarga, bergereja maupun masyarakat. Tentu saja hal ini penting agar kita terhindar  dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah.  Tindakan  dimaksud  yakni  penyembahan kepada ilah-ilah  lain  (berhala)  yang  berakibat  fatal,  baik  kepada  pribadi,  keluarga  maupun persekutuan kita. Teruslah tingkatkan iman kita kepada Allah dan ingatlah bahwa hanya kepada-Nya seluruh persembahan hidup kita.

Doa:   Ya Allah, hanya padaMulah seluruh   persembahan   hidup kami.  Amin.

Kamis, 29 Juni 2023

bacaan : 2 Korintus 8 : 8 – 15

8 Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. 9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. 10 Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga. 11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. 12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. 13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. 14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. 15 Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."

Peduli Terhadap Sesama
Peduli merupakan suatu nilai dasar dan sikap memperhatikan atau bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar. Rasa peduli seperti inilah yang diinginkan oleh Paulus dari jemaat Kristen di Korintus kepada orang-orang seiman yang ada di Yerusalem.  Oleh  karena  itu  Paulus  terus  mendorong  Jemaat Korintus untuk  menjadi penyumbang sukarela. Paulus mengatakan hal ini bukan dalam kekosongan belaka, tetapi ia  memahami  bahwa  jemaat  di  Korintus  kaya  dalam segala  sesuatu.  Maka  dengan demikian mereka diminta agar kaya juga dalam pelayanan kasih. Paulus juga menekankan bahwa  pelayanan  kasih   yang  hendak   dilakukan,   harus  disertai   dengan   kerelaan berdasarkan yang ada pada mereka (ay. 11-12). Sebab jika pemberian-pemberian disertai dengan keikhlasan atau tanpa paksaan, sama halnya dengan suatu tindakan yang benar. Nasihat yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Korintus, mengajarkan kita untuk hidup peduli dengan sesama. Salah satu contoh bentuk kepedulian kita yaitu dengan melakukan pelayanan kasih kepada orang lain. Pelayanan kasih dimaksud tidak hanya terbatas pada keluarga kita saja  tetapi  kepada  semua  orang yang membutuhkan. Ingat dan camkanlah apa yang dipesankan Paulus bahwa setiap pemberian kita harus disertai dengan kerelaan, sebab dengan demikian kita telah melakukan apa yang berkenan di mata Tuhan.

Doa: Ajarilah kami Tuhan untuk selalu mengucap syukur sebagai persembahan yang benar.  Amin.

Jumat, 30 Juni 2023

bacaan : 2 Korintus 9 : 6 – 15

Memberi dengan sukacita membawa berkat

6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya." 10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. 13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Persembahan Sebagai Ucapan Syukur
Tidak terasa kita telah tiba di penghujung bulan Juni tahun 2023. Mengakhiri bulan ini, kita masih tetap belajar dari Rasul Paulus yang mengajarkan Jemaat Korintus untuk melakukan pelayanan kasih atau dengan kata lain memberi dengan sukacita. Pada bagian ini, Paulus mengungkapkan bahwa Allah mengasihi setiap orang yang memberi dengan sukacita (ay. 7). Artinya, setiap pemberian tidak disertai dengan sedih hati dan paksaan melainkan dengan ketulusan. Hal lain yang disampaikannya yaitu, orang yang memberi dengan sukacita dilimpahi kasih karunia dan selalu berkecukupan. Namun bagi Paulus ada hal yang tidak kalah penting yakni, setiap pemberian tidak hanya dilihat untuk mencukupi kebutuhan orang lain tetapi juga sebagai tanda pengucapan syukur kepada Allah.  Dengan  begitu,  setiap  orang  akan memiliki  kesadaran  untuk  meresponi  kasih karunia yang Allah berikan dengan melakukan apa yang benar dan berkenan kepada-Nya. Berdasarkan nasihat Paulus ini, maka sebagai orang percaya kita punya kewajiban untuk mengucap syukur kepada Allah sebagai persembahan yang benar. Kita harus bersyukur atas kekuatan, kesehatan, berkat dan setiap kemurahan Allah yang telah diberikan bagi kita. Atas semuanya  itu kita pun diajarkan  untuk  berbagi dengan sukacita. Ingatlah, memberi dengan sukacita tidak membuat kita berkekurangan melainkan selalu berkecukupan serta meperoleh kasih kemurahan Allah.

Doa:  Tuhan, ajari kami agar  rela dan peduli terhadap sesama. Amin.

Sabtu, 01 Juli 2023

bahan bacaan : Efesus 5 : 1-4

Hidup sebagai anak-anak terang
Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.

Persembahan Terbaik:Jadilah Penurut-Penurut Allah

Kita bersyukur atas kasih dan anugerah Tuhan yang masih memberikan kehidupan di bulan yang baru hari ini. Kasih dan anugerah Tuhan ini harus diresponi dengan sikap mempersembahkan hidup yang baik dan benar, yakni hidup dalam kasih dan menjadi terang. Dalam nas ini Rasul Paulus mengingatkan, “jadilah penurut-penurut Allah dan hiduplah dalam kasih. Memang, dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Jadi, di dalam terang Allah, manusia mendapatkan hidup. Terang Allah menerangi jalan manusia untuk tidak hidup dalam kegelapan. Rasul Paulus bukan hanya mengatakan bahwa “terang” itu hanyalah simbol pancaran kehadiran Allah yang menyilaukan. Tetapi “terang” itu sesungguhnya adalah kebenaran, kemurnian dan kesempurnaan moral. Jika kita hidup di dalam Kristus yang adalah Terang, kita harus meninggalkan kegelapan dan menjadi penurut-penurut Kristus yang hidup benar, murni dan menjaga etik moral. Mengekang diri dari perkataan yang kotor, kosong atau yang sembrono, karena hal-hal itu tidak pantas dan berpotensi mengganggu relasi dalam persekutuan hidup bersama. Jadilah penurut-penurut Allah yang suka  berkata benar. Hiduplah dalam kasih. Itulah cara yang pantas untuk dilakukan sebagai persembahan terbaik atas kasih Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya untuk kita.

Doa: Bapa, kami mau hidup dalam kasih, mengatakan hal benar dan yang berguna untuk membangun persekutuan, amin. 

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2023, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar